Harry potter bukan milik saya, karena kalau milik saya maka james tidak akan pernah mati dan akan menjadi pasangan severus

Harry potter milik J. K. Rowling

Summary: Apa yang terjadi jika sebenarnya harry memiliki 'saudara' kembar, dan mereka bukanlah anak dari pasangan James-Lily tetapi anak dari pasangan James-Severus, dan bagaimana jika ketika penyerangan voldemort hanya lily yang tewas? OOC garis keras!, OC!, typo, BxB! Slash!JamSev, DraRry, SBRl, m-preg, bad!manipulator!dumbledore, semi-cannon...

DLDR!

*

Mereka berenam pun memulai pencarian barang-barang untuk perlengkapan sekolah bersama-sama. Alex merasa beruntung karena ia bisa belanja bersama sang Daddy. Daddy yang selalu diceritakan papa sebagai sosok yang hebat. Dan memang benar, daddy adalah sosok ayah yang di idolai setiap anak. Sama seperti Alex mengidolai sang papa

.

-Harry Potter and The Secret Twin-

Mereka berenam memulai acara shopping dengan mengunjungi Madam Malkin's. Membeli tiga set robes yang diwajibkan serta beberapa robes sehari-hari. Lalu dilanjutkan ke flourish and blotts. Membeli beberapa buku tambahan seperti Hogwarts: A History, History of Magic, Hogwarts: the four Founders, Introduce to Potion (saran Alex) dan Most Potentee Potion (Hanya Alex). Melanjutkan ke Apothecary, mereka meminta Alex untuk memilih bahan-bahan yang segar. Lalu dilanjutkan membeli cauldron, tinta, pena, perkamen, lalu James, Sirius, dan Remus mengecilkan belanjaan mereka dan menyuruh Alex, Harry dan Damien menyimpan barang mereka di saku jubah masing-masing. Di Eeylops Owl Emporium, Harry jatuh cinta pada snowy owl dengan mata kuning yang indah. Ia menamainya Hedwig. Damien pada Tawny owl yang diberi nama Hermes dan Alex seekor eagle owl berwarna cokelat tua yang dinamai Salazar.

Toko terakhir mereka adalah Ollivander. Toko itu terlihat tua dan... Berdebu. Seorang kakek tua tampak sudah menunggu mereka didalam toko.

"Ah, mr. Potter, mr. Black aku hampir bertanya-tanya kapan kau akan kemari. Lord Potter, Mahogany, unicorn hair, dua puluh tujuh centi, cocok untuk transfigurasi. Lord Black, oak, thestral hair dua belas inchi, cocok untuk defense dan consort Black, Maple, dragon heartstring, tiga belas inchi cocok untuk charm. Dan kau young mister?" Tanya Ollivander saat matanya menyapu Alex.

"Lucas, Lucas Prince" balas Alex.

"Ah, mr. Prince. Terakhir kali aku mendengar nama Prince itu hampir lima puluh tahun yang lalu. Eileen Prince, kalau tidak salah dia menikah dengan pureblood asal Amerika, Snape. Yayaya, lalu anak mereka Severus Snape. Dua belas inchi Ebony dengan inti Thunderbird feather. Inti yang sangat langka, mengingat disini jarang dijumpai seekor Thunderbird. Sangat cocok untuk ramuan dan pertahanan. Wand yang setia" jelas Ollivander.

"Baiklah siapa yang mau duluan?" Tanya Ollivander setelah hening beberapa menit.

"Aku" jawab Damien. Setelah sepuluh kali percobaan barulah Damien mendapatkan wand miliknya. Dua belas inchi, Mahogany, griffin feather.

Lalu dilanjutkan oleh Alex, jika Damien hanya sepuluh kali percobaan maka Alex sampai tiga puluh percobaan. Dia mendapatkan sebelas inchi Holly, Thunderbird feather dan basilisk fang. Dan terakhir Harry, sama seperti Alex dia harus mencoba sampai tiga puluh kali percobaan samapai akhirnya Ollivander memberi Harry wand sama seperti Alex. Holly sebelas inchi dengan core Thunderbird feather dan Phoenix feather.

"Curious.. Very curious" ucap Ollivander.

"Apa yang aneh sir?" Tanya Harry penasaran.

"Aku ingat semua wand yang aku jual young Potter. Phoenix yang memberi bulu untuk core milikmu hanya memberi satu bulu lagi. Ya, hanya satu bulu, kepada wand yang sama yang telah memberimu luka ini" ucap Ollivander sambil mengusap bekas luka Harry.

"Maksudmu wand putraku adalah kembaran wand Voldemort?" Tanya James tak terima.

"Indeed Lord Potter. Indeed" ucap Ollivander lalu hening lagi selama beberapa saat.

"Tapi, ada yang lebih aneh dan menakjubkan. Wand milik young Potter dan young Prince disini memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dari you-know-who" ucap Ollivander lagi.

"Apa maksudmu?" Tanya Alex heran.

"Begini young mr. Prince, kayu yang dipakai untuk membuat wand mu dan wand mr. Potter berasal dari pohon yang sama dan kebetulan atau tidak dari satu cabang yang sama. Lalu core Thunderbird feather di wand milik kalian berdua berasal dari burung yang sama. Biasanya wand yang seperti ini hanya akan terpilih oleh sepasang magical twins. Magical twins yang benar-benar spesial" jelas Ollivander.

"Kenapa harus yang spesial? Kenapa bukan magical twins biasa?" Tanya Sirius.

"Karena Lord Black, kedua magical twins ini bisa merasakan emosi kembarannya dan juga bisa mengakses ke core milik kembarannya. Dan jika mereka berdua menyatukan kekuatan bahkan Merlin pun tak bisa mengalahkan keduanya" jawab Ollivander.

"Jadi, kau ingin mengatakan bahwa Lucas dan Harry adalah magical twins?" Tanya Remus.

"Seharusnya, consort Black. Tapi melihat ciri fisik dan nama belakang mereka sepertinya ini hanya sebuah mitos. Tapi jika mereka memang benar twins sedarah, young Potter disini adalah light twin dan young Prince adalah dark twin. Core mereka yang lain yang menjelaskan hal itu. Phoenix lambang light wizard dan basilisk lambang dark wizard" jelas Ollivander.

"Baiklah karena ini sudah lewat jam makan siang sebaiknya kita segera pulang. Jadi, mr. Ollivander berapa semuanya? Dan aku juga pesan tiga wand holster" Tanya James.

"Untuk young Black 7 galleon dan untuk kedua young mister ini masing-masing 10 galleon mengingat Thunderbird bukanlah hewan yang sering kau temui ditambah dengan wand holster tiga jadi totalnya semua tiga puluh galleon Lord Potter" jawab Ollivander.

"Baiklah ini, terimakasih Ollivander" ucap James lalu mereka berenam pun keluar dari toko berdebu itu dan menuju Florean Fortescue's ice cream Parlour.

"Lord Potter ini ganti uangmu" ucap Alex sambil menyerahkan sebelas galleon kepada James.

"Tidak usah Luke, kau simpan saja untuk membeli makanan milik nyonya trolley di Hogwarts express nanti. Dan jangan panggil aku Lord Potter Luke, James saja" balas James sambil tersenyum manis kepada Alex.

"Thanks, James" ucap Alex sambil tersenyum manis juga. James yang gemas hanya mengacak rambut strawberry blond milik glamour Alex.

"Yak! Jangan di acak!! Aku butuh dua jam untuk mengatur rambut ini!" Seru Alex yang disambut tawa oleh yang lain.

"Hahaha dua jam Luke? Kau bahkan lebih parah dari Harry" ucap Damien disela-sela tawanya.

"Jangan salahkan aku! Salahkan rambutku yang tidak bisa diatur!" Jawab Alex kesal.

"Tapi Luke, rambutmu biasa-biasa saja. Tidak seberantakan Harry atau James dan tidak serapi Malfoy" ucap Sirius dengan nada matter of fact yang saaaangat jarang digunakan.

"Eh.. Iya kah?" Tanya Alex bingung. 'Merlin! aku lupa kalau aku pakai glamour' lanjut batin Alex.

"Dasar kau ini" ucap Remus geli.

"Luke, kau ingin ikut kami atau pulang?" Tanya James setelah bisa mengontrol tawanya.

"Sepertinya aku pulang saja. Papa pasti sudah dirumah. Aku duluan ya! Bye James, Siri, Remus, Harry, Damien!! Sampai jumpa di Hogwarts!" Seru Alex sambil berlari menuju salah satu jaringan floo, tanpa menyadari selip yang dia ucapkan tadi menimbulkan tanda tanya di kepala James, Sirius dan Remus.

-Harry Potter and The Secret Twin-

James, Sirius, dan Remus duduk di ruang tamu Potter Manor. Mengistirahatkan diri setelah acara belanja yang cukup memakan energi. Harry dan Demian ada di kamar mereka tidur siang. Siapa yang bisa menyangka kalau acara belanja bisa semelelahkan ini? Bagaimana cara perempuan-perempuan bisa tahan berbelanja? Jalan dari toko satu ke toko lain tanpa merasa lelah. Sungguh misteri yang sulit dipecahkan.

"Kalian dengar dengan jelaskan?" Tanya James memecah keheningan.

"Ya, dia menyebut Papa" balas Sirius.

"Mungkin, karena terlalu lama bersama Severus, Lucas jadi menganggap Severus sebagai Papanya" terang Remus.

"Mungkin" jawab James dan Sirius bersamaan.

"Dan kata-kata Ollivander tadi masih menghantuiku" ucap James lagi.

"Ya, magical twins katanya. Harry saja anak tunggal" sambung Sirius.

"Tapi Siri, aku mencium aroma cub dari tubuh Lucas. Moony mengenalinya sebagai salah satu member pack miliknya" sahut Remus.

"Kau yakin Remmy?" Tanya Sirius.

"Ya, aku yakin. Aroma Lucas mirip dengan aroma Harry. Hanya saja lebih gelap dan liar" jawab Remus.

"Hah... Anak bernama Lucas ini membuatku penasaran" ucap James sambil mengacak rambutnya.

"Dan lagi komentar Lucas saat kau mengacak rambutnya. Sama seperti Harry saat aku mengacak rambutnya" ucap Sirius sambil menatap sahabatnya itu.

"Ya, dan saat aku mengacak rambutnya akun merasakan glamour. Sepertinya Lucas menutupi penampilan aslinya dengan glamour" sahut James sambil memandangi langit-langit rumahnya.

"Aku semakin penasaran!!!" Raung James. "Apa yang salah dengan penampilan aslinya? Kenapa dia harus menutupi penampilannya?" tanya James entah pada siapa.

"Atau bahkan Lucas itu bukan nama aslinya?" Ucap Remus menyuarakan pikirannya.

"Itu juga mungkin" jawab Sirius.

-Harry Potter and the Secret Twin-

1st September 1991, Prince Cottage.

"Pa, siswa Hogwarts tidak ada yang bernama Lucas kan?" Tanya Alex sambil menikmati sarapannya. Hari ini ia akan ke Hogwarts dan bertemu dengan saudara kembarnya lagi.

"Unfortunately son, no" jawab Severus.

"Berarti aku harus kesana sebagai diriku kan Pa? Baguslah. Aku tidak bisa merecast galamourku sejak kembali dari Diagon Alley" jujur Alex.

"Apa maksudmu son? Kau tidak bisa merecast glamour mu? Bagaimana bisa?" Tanya Severus heran.

"Ya, setelah dari Ollivander aku merasakan bahwa galmourku akan hilang. Jadi, saat mereka menawariku untuk ikut aku menolaknya" jawab Alex. Dia sudah menceritakan semua kejadian saat berbelanja dengan Potter-Black pada sang Papa.

"Kau bilang wand mu itu kembarannya wand milik Harry kan?" Tanya Severus yang dibalas anggukan sang putra. "Berarti kau hanya bisa menggunakan glamour jika Harry mengizinkanmu untuk menggunKannya, dan lagi kalian bisa saling mengakses ke core masing-masing bukan? Jadi itu adalah alasan yang menyebabkan kau tidak bisa merecast glamourmu lagi" terang Severus.

"Okey. Well, Alex welcome to Hogwarts" ucap Alex pada dirinya sendiri.

"Be careful okey?" Ucap Severus sambil mengecup kening Alex dan mengacak rambut hitam Alex.

"Papa! Jangan di acak!!" Seru Alex kesal.

King cross station, peron 9

Alex duduk di compartment akhir sambil membaca buku ramuan. Menyenderkan kepalanya ke jendela compartment. Sesekali iris hijaunya memandangi keluar melihat para keluarga yang melepas anaknya pergi ke Hogwarts. Sayang papanya tidak bisa mengantarnya. Jadinya Alex pergi bersama paman Reggy nya dan juga Aries. Hah.. Dia pasti akan merindukan Aries. Tapi tak apalah, toh tahun depan Aries akan ke Hogwarts juga. Alex mengalihkan pandangannya ke pintu saat telinganya mendengar suara ketukan.

"Boleh kami masuk? Compartment yang lain sepertinya tidak ya kau tahu lah" ucap seorang anak laki-laki dengan rambut hitam dan iris amber yang Alex kenal sebagai Damien dan duplikat Alex yang bernama Harry disebelahnya.

"Tentu, toh aku juga sendiri disini" jawab Alex sambil tersenyum manis dan entah Alex hanya berhalusinasi atau apa ia melihat Damien blushing.

"Thanks" ucap Harry sambil menaikkan barang-barangnya.

"Oh ya, aku Damien Black dan ini Harry Potter" ucap Damien setelah duduk di bangku didepan Alex.

"Harry Potter? Pantas kalian mencari compartment yang lain. Btw, aku Alex" ucap Alex sambil menutup buku ramuannya.

"Ramuan eh?" Tanya Harry.

"Yep! Oh ya, sebentar biar aku tutupi luka mu. Biar tak ada yang mengganggumu lagi. Ya, paling tidak ini bisa bertahan selama seminggu lah" ucap Alex lalu mulai merapal beberapa mantra untuk menutupi luka fenomenal Harry.

"Thanks Alex" ucap Harry saat Alex selesai merapal mantra.

"No Prob!" Balas Alex santai.

"Hey, kalau dilihat-lihat lagi, kalian berdua mirip loh! Seperti saudara kembar! Hanya saja warna mata Alex jauh lebih gelap" ucap Damien sambil tersenyum.

"Eh, kau memperhatikan warna mataku Damien? Uh.. Romantisnya~" goda Alex sambil menyeringai jahil. Tawa Alex dan Harry pecah saat melihat Damien blushing.

"Stop it!!!" Ucap Damien dengan wajah merona sempurna. Gelak tawa Harry dan Alex justru semakin pecah. Tawa mereka terhenti ketika seseorang mengetuk pintu compartment mereka.

"Kalian tunggu disini saja biar aku yang urus" ucap Alex lalu beranjak dari tempatnya.

"Ya, ada apa?" Tanya Alex sambil menatap sosok rambut merah yang menginterupsi kegiatan menggoda Damiennya.

"Compartment lain penuh. Bisakah aku duduk disini?" Tanya si read head.

"Tolong ya Weasley-yang-mana-satu aku tidak percaya kalau compartment di Hogwarts express itu penuh. Dan lagi kalaupun penuh, Hogwarts express secara otomatis menambah compartment baru. Kau harusnya membaca Hogwarts: A history sebelum mulai berbicara padaku" ucap Alex dengan nada monoton.

"K-kau Harry Potter kan? Kau seharusnya menjadi best mate ku! Bukannya malah mengusirku" ucap Weasley dengan wajah memerah.

"Hah? Aku saja tidak mengenal siapa kau. Dan lagi siapa juga mau jadi best mate seorang idiot sepertimu. Aku sudah punya sahabat disini. Damien Black" terang Alex dengan sebuah smirk diwajahnya.

"Black? Kau berteman dengan Black! Kai tidak boleh!! Mereka itu pendukung you-know-who! Kau seharusnya berteman denganku keluarga light sepertiku!" Ucap Weasley ngotot.

"Sudahlah tak ada gunanya untuk berbicara dengan orang idiot seperti mu" ucap Alex lalu menutup pintu compartment nya keras. Merapalkan beberapa locking spell, dan juga silencing charm Alex pun menghempaskan dirinya di antara Harry dan Damien.

"Siapa Al?" Tanya Harry.

"Weasel menyebalkan yang mengaku-ngaku jadi best mate nya Harry Potter" balas Alex sambil menyandarkan kepalanya kebahu Damien.

"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Damien sambil mengelus rambut berantakan Alex.

"Kukatakan saja dia idiot dan kututup pintunya tepat didepan hidungnya. Hah.. Siapa suruh bermain-main denganku" ucap Alex dengan nada sombong yang entah mengapa terdengar mirip seorang James Potter di telinga Damien dan Harry.

"Ya, terserah kau lah Al" ucap Harry ikut menyandarkan kepalanya ke paha Alex. Damien pun menyandarkan kepalanya di atas kepala Alex. Dan perlahan mata mereka pun menutup mengantar mereka menuju alam mimpi.

-Harry Potter and the Secret Twin-

Damien membuka matanya saat merasakan pergerakan dibahunya. Langit sudah mulai berwarna jingga tanda mereka sudah akan sampai dan mereka belum mengganti pakaian mereka. Dengan perlahan Damien membangunkan Alex dan Harry. Mereka pun mengganti jubah mereka menjadi jubah resmi Hogwarts. Tepat saat Alex membuka locking charm compartment mereka sosok blonde memenuhi penglihatan Alex.

"Hey" sapa Alex.

"Potter. Cukup bagus juga caramu mengatasi si weasel tadi" balas si blonde dengan smirk dibibirnya.

"Terkesan eh, Malfoy?" Balas Alex dengan smirk yang sama.

"Well, aku Draco, Draco Malfoy" ucap Draco sambil mengulurkan tangannya.

"Alex, Alex Potter" balas Alex masih dengan smirk yang bertengger di bibirnya.

"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Draco. Pasalnya hia hanya tahu satu Potter boy yang akan menjadi school matenya dan tiu adalah Harry Potter.

"Ayo masuk" ajak Alex. Alex dan Draco pun memasuki compartment Alex dkk.

"K-kenapa ada dua Potter disini?" Tanya Draco saat melihat Harry ada didalam compartment itu juga.

"Apa maksudmu dua Potter Draco?" Tanya Damien pada sepupunya itu.

"Kau tidak tahu Damien? Dia -menunjuk Alex- adalah seorang Potter dan dia -menunjuk Harry- sudah jelas seorang Potter" jawab Draco.

"Kau seorang Potter Alex? Kenapa tidak memberitahu kami?" Tanya Damien.

"Kalian tidak ada yang bertanya padaku" jawab Alex simple.

"Jadi, namamu sebenarnya siapa?" Tanya Harry penasaran. Well, dia tidak tahu Potter lain selaij dirinya, sang daddy dan mommy nya yanh sudah meninggal.

"Alexander Potter at your service young masters" ucap Alex dengan sedikit membungkuk. Dan disambut tawa ketiganya

"Hahahaha kau ini Alex" ucap Draco disela-sela tawanya.

"Oh ya, kalian mau masuk asrama mana?" Tanya Damien setelah berhasil meredakan tawanya.

"Slytherin" jawab Alex dan Draco bersamaan.

"Why Slytherin?" Tanya Harry.

"Ramuan" jawab Alex dan Draco bersamaan (lagi).

"Dasar Slytherin" balas Damien dan Harry bersamaan.

"Kalau kalian jangan bilang Gryffindor" ucap Draco.

"Yups" balas Harry dengan cengiran lebarnya.

"Tetap berteman?" Tanya Damien.

"Tentu saja! Kita akan jadi yang pertama!" Seru Alex semangat.

Sesampainya di Hogwarts, Alex, Harry, Damien dan Draco naik di satu boat bersama. Mereka diajak oleh makhluk half-giant bernama Hagrid. Diseberang danau tampak sebuah kastil indah, berdiri tegak dan tampak sangat megah. Lebih indah dari apa yang mereka dengar dari kisah orangtua mereka. Dua pasang manik hijau saling tatap lalu tersenyum lebar. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu. Hanya mereka dan tuhanlah yang tahu. Sesampainya di entrance Hall, mereka disambut oleh seorang witch dengan jubah hijau zamrud indah.

"Selamat datang di Hogwarts," kata Profesor McGonagall.

"Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian mengambil tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah asrama mana. Seleksi ini upacara yang sangat penting karena, selama kalian berada di sini, asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi kalian di Hogwarts. Kalian akan belajar dalam satu kelas dengan teman-teman seasrama kalian, tidur di asrama kalian, dan melewatkan waktu luang di ruang rekreasi asrama kalian."Ada empat asrama di sini, Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan, Slytherin. Masing-masing asrama punya sejarah luhur dan masing-masing telah menghasilkan penyihir hebat. Selama kalian di Hogwarts, prestasi dan kemenangan kalian akan menambah angka bagi asrama kalian, sementara pelanggaran peraturan akan membuat angka asrama kalian dikurangi. Pada akhir tahun, asrama yang berhasil mengumpulkan angka paling banyak akan dianugerahi Piala Asrama, suatu kehormatan besar. Kuharap kalian semua akan membawa kebanggaan bagi asrama mana pun yang akan kalian tempati."Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di hadapan seluruh penghuni sekolah. Kusarankan kalian merapikan diri sebisa mungkin selama menunggu." "Aku akan kembali kalau kami sudah siap menerima kalian," kata Profesor McGonagall. "Tunggu di sini dan jangan ribut"(HP and the philosopher stone by J.K)

"Well, kita harus bertanding untuk mendapatkan piala asrama itu" bisik Draco pada ketiga teman barunya.

"Okey! Kami pasti akan mendapatkan piala itu!" Tegas Harry.

"Kami juga tidak akan kalah! Oh ya, dengar-dengar Slytherin sudah memenangkan piala asrama selama enam kali berturut-turut loh" ucap Alex sedikit memprovokasi.

"Dan kalau begitu tahun ini kami yang akan memenangkan piala asrama" tekat Damien.

"Kita buktikan nanti" ucap mereka berempat bersamaan.

Dan tepat pada saat itu, Professor McGonagall datang dan menyuruh mereka membentuk barisan. Alex berada paling depan, disebelahnya Harry. Di belakang Alex, Damien berjalan sambil memegangi ujung jubah Alex nervous. Dan disebelah Damien, Draco memandang atap Hogwarts takjub. Mereka mengalihkan pandangam mereka menuju Professor McGonagall, disana terdapat sebuah bangku dan topi butut tua diatasnya. Dan seketika koyakan di topi butut itu mulai mengeluarkan sebuah suara- nyanyian.

"Oh, you may not think I'm pretty,But don't judge on what you see,I'll eat myself if you can findA smarter hat than me.You can keep your bowlers black,Your top hats sleek and tall,For I'm the Hogwarts Sorting HatAnd I can cap them all.There's nothing hidden in your headThe Sorting Hat can't see,So try me on and I will tell youWhere you ought to be.You might belong in Gryffindor,Where dwell the brave at heart,Their daring, nerve, and chivalrySet Gryffindors apart;You might belong in Hufflepuff,Where they are just and loyal,Those patient Hufflepuffs are trueAnd unafraid of toil;Or yet in wise old Ravenclaw,If you've a ready mind,Where those of wit and learning,Will always find their kind;Or perhaps in SlytherinYou'll make your real friends,Those cunning folk use any meansTo achieve their ends.So put me on! Don't be afraid!And don't get in a flap!You're in safe hands (though I have none)For I'm a Thinking Cap!" (HP and the philosopher stone)

"Maju kedepan saat aku panggil nama kalian" Ucap McGonagall sambil membuka gulungan perkamen.

"Abbot, Hannah"

"HUFFLEPUFF!"

"Black, Damien"

Damien yang mendengar namanya dipanggil sedikit terdiam. Ia bisa merasakan tubuhnya menegang karena nervous.

"Kau pasti bisa Dami.. Good Luck!" Ucap Alex sambil mengecup pipi kiri Damien. Dan dengan tremor yang masih ada Damien pun maju.

"GRYFFINDOR!" Terdengar tepukan keras dari barisan anak tahun pertama, diikuti olehyang lain. Alex, Harry dan Draco adalah sumbernya. Damien menghembuskan nafasnya lega dan berlari menuju meja singa emas.

"Bones, Susan"

"Hufflepuff"

"Boot, Tery"

"RAVENCLAW"

B.. C.. D.. E.. F.. G.. H.. I.. J.. K.. L.. M..

"Malfoy, Draco"

"Good luck!" Bisik Harry dan Alex.

"SLYTHERIN"

N.. O.. P..

"Patil, Padma"

"RAVENCLAW"

"Patil, Parvati"

"GRYFFINDOR"

"Potter, Alexander"

Suasana great hall menjadi hening. Terdengar banyak bisikan dari keempat asrama. 'Potter? Kukira Potter hanya ada satu!' 'Apa kau yakin dia Potter bukan Peter? Atau mungkin Parker?' Dan Alex hanya melangkahkan kakinya santai dengan sebuah smirk di paras tampannya.

'Hmm.. Very brave indeed.. Kau pasti akan sangat cocok di asrama Singa'

'Hm.. Bisakah kau masukkan aku ke Slytherin?' Batin Alex, he.. Dia itu seorang Slytherin bukan Gryffindor.

'Tapi, kau akan sangat hebat di Gryffindor'

'Masukkan saja aku ke Slytherin dan Harry Potter ke Gryffindor. Siap kan!' Batin Alex ngotot.

'Harry Potter, dia saudara kembarmu bukan?'

'Ya, tapi jangan beritahu dia dulu! Pokoknya sekaramg masukkan aku ke Slytherin!'

'Baiklah baiklah.. "Better be.. SLYTHERIN!" Tepuk tangan meriah datang dari arah meja Slytherin, di ikuti oleh Ravenclaw dan Hufflepuff. Dari Gryffindor tamoak hanya beberapa yang ikut bertepuk tangan.

"Potter, Harry"

Lagi, bisik-bisikan itu terdengar. 'Harry Potter? Astaga itu dia!' 'Apakah aku bisa mengencaninya?' Dan lain sebagainya. Harry menghembuskan nafas panjang lalu maju kedepan.

"GRYFFINDOR!" Suara tepuk tangan menggema dari meja Gryffindor, terdengar sahut-sahutan 'We got Potter! We got Potter' dari sepasang kembar redhead. Lalu peyeleksian asrama pun dilanjutkan, Ronald Weasley seperti yang sudah bisa ditebak, Gryffindor dan di tutup oleh Blaise Zabini yang masuk ke Slytherin.

Dan petualangan mereka baru saja dimulai.

-TBC-

Haeyo?

Eh.. Shie lucu baca review nya...

Okey ini REMAKE dari Twins Potter..

Dan NO! ini BUKAN incest!!

Alex with glamour : Strawberry Blonde, heart shape face, pointed nose, forest green eye.

Alex without glamour : jet black wild hair, aristocrat face, high cheekbone, small nose, forest green eyes.

Part kali ini cukup panjang kan?

RnR please!!!

Love you!!!

Sorry with typos!!!