Boboiboy bangun dengan rasa sakit di kepalanya, dia menyadari bahwa dirinya sedang berada di lapangan tempat tadi dia bermain bola.
'Bukannya tadi aku terjatuh ke sebuah lubang besar, ya?' Batinnya
Namun lapangan tempat itu masih terlihat utuh tanpa ada lubang atau tanda-tanda bahwa gempa bumi habis terjadi.
'Aneh.. Apa aku tadi bermimpi...'
Boboiboy kembali melihat sekitarnya, ia memang sedang berada di lapangan tetapi entah kenapa ada perasaan bahwa tempat itu adalah tempat yang tidak pernah ia kunjungi. Walaupun pemandangannya masih sama tetapi ada perasaan yang berbeda.
"GEMPA!"
Boboiboy menoleh ke sumber suara dan melihat ada seseorang yang sepertinya dari sekolahnya, berlari ke arahnya sambil berteriak 'Gempa'.
'Ternyata tadi gempa bumi memang sudah terjadi ya? Tetapi gempanyakan udah reda kenapa dia masih terlihat panik seperti itu? Lagipula tidak terlihat ada kerusakan dimanapun..'
Orang itu datang, "Gempa! Kenapa kau ada disini?! Bukannya harusnya kau sedang rapat OSIS!?"
Boboiboy bingung, 'Lah, rapat OSIS? Dan kok aku dipanggil dengan nama Gempa?' Boboiboy langsung teringat nama dari salah satu pecahan elementalnya yang memiliki kuasa mengendalikan tanah yaitu Gempa. 'Tapi gak mungkin, kan?'
Orang didepannya menatap Boboiboy sebentar, "Kenapa kamu memakai baju seperti itu? Tumben kamu tidak memakai bajumu yang biasanya memiliki warna sebagian besar hitam lalu beberapa warna kuning! Ganti style, ya?"
Boboiboy lalu berkata, "Aku bukan Gempa, lah! Aku Boboiboy!"
Orang itu diam sejenak, "Boboiboy? Eh? Kamu bukan Gempa, ya?"
Boboiboy menghela nafas, "Iya aku bukan Gempa, lagipula kenapa kau mengira aku Gempa?"
Orang itu tidak menjawab pertanyaannya yang itu, justru ia berbalik tanya, "Tapi setahuku dari kalian gak ada yang namanya Boboiboykan?"
"Eh?"
"Bukannya kalian hanya ada Halilintar, Taufan, Gempa, Api lalu Air, ya? Atau mungkin kau memiliki kasus yang sama dengan Api dan Air?"
Boboiboy bingung sekaligus kaget karena nama-nama yang orang didepannya sebutkan itu adalah nama-nama dari pecahan-pecahan elementalnya, "Kasus yang sama?"
Orang itu mengangguk, "Iya! Kau tidak tahu ceritanya, ya? Kan, dulu pernah di sekitar perumahan sini ada seorang pengganggu yang suka merusak fasilitas-fasilitas sekitaran sini dan para saksi mata yang telah melihat sang pengganggu mengaku bahwa mereka melihat bahwa pengganggu itu memiliki wajah yang sama dengan para Elemental Bersaudara-"
"Elemental bersaudara?"
"Iya, elemental bersaudara. Kami memanggil mereka seperti itu karena nama mereka yang unik seperti elemen-elemen di bumi!" Lalu ia melanjutkan ceritanya, "Akhirnya pada saat itu adalah salah satu saat yang paling krisis bagi para Elemental Bersaudara karena mereka adalah orang-orang yang dituduh, tetapi suatu hari sang pengganggu, pun ditangkap oleh salah satu warga dari sini lalu ia dibawa ke polisi. Saat ditanya oleh polisi siapakah namanya ternyata namanya adalah Api-"
Boboiboy kaget, 'Api!?'
"-Ya, aku tidak tahu cerita sepenuhnya tetapi yang aku tahu bahwa Tok Aba membiarkan Api tinggal di rumah mereka, dan mengganti rugi semua kerusakan fasilitas yang dibuat oleh Api, walaupun para Elemental bersaudara protes terutama Halilintar yang mengamuk tetapi kalau tidak salah alasannya adalah karena ternyata orang tua mereka memiliki anak yang lain, yang karena beberapa permasalahan mereka harus berpisah."
Boboiboy mengangguk, "Lalu, bagaimana dengan.. Air?"
"Oh! Kalau Air itu beda ceritanya! Kalau Air dia datang pada saat keluarga Elemental Bersaudara sedang menghadapi krisis lain! Entah, aku tidak terlalu cerita lengkapnya juga, tetapi kalau gak salah, saat itu pernah ada seseorang yang menyamar menjadi salah satu dari Elemental bersaudara lalu mencoba untuk menyakiti orang lain dengan penyamaran itu! Ya, kasusnya memang lumayan mirip dengan kasus Api tetapi bedanya bukan Air pelakunya bahkan justru Air yang menangkap pelakunya! Di luar dugaan ya, padahal dia kerjanya banyaknya tidur."
Boboiboy kembali bertanya, "Kalau begitu bagaimana para, ehem.. 'Elemental Bersaudara' menerima Air sebagai saudara mereka juga? Dan memangnya mereka tidak punya orang yang menjaga Api dan Air sebelum mereka diterima, gitu?"
"Kalau soal orang yang menjaga Api dan Air sih.. Saat mereka ditanya mereka bilang bahwa mereka tidak terlalu ingin menceritakannya dan kalau soal bagaimana Air diterima sih.. ya.. ceritanya sama kayak Api sih.. Itu karena Tok Aba yang menerimanya di rumahnya dan menjelaskan lagi apa yang terjadi seperti Api. Mungkin saja kalau kamu datang ke rumah mereka kamu akan diterima juga! Siapa tahu kamu kembaran mereka yang hilang juga!"
Boboiboy mengangguk, "Dan aku punya satu pertanyaan terakhir lagi.."
"Ya?"
"Bagaimana kamu bisa tahu informasi sebanyak ini tentang Elemental Bersaudara?"
Orang itu tersentak mendengarkannya, "Eh! Lihat jam! Ternyata sudah selama ini kita berbicara! Aku harus pergi ya, Boboiboy!" Orang itu melambaikan tangannya, "Daaa!"
"Eh tunggu-" Tetapi orang itu sudah pergi.
"Aku belum tahu namamu.."
Boboiboy berpikir apa yang akan dia lakukan dan ia juga berpikir baik-baik kata-kata orang tadi, 'Apa maksudnya ini, ya? Ya sudah! Aku coba ke kedai Tok Aba, dulu!' Batinnya.
Walaupun ia masih meragukan cerita orang tadi tetapi memang sejak awal Boboiboy sudah memiliki perasaan asing dengan daerah itu.
Di perjalanan ia mendengar ada suara 2 orang yang terdengar familiar di telinganya, karena suara itu sangat mirip dengan suaranya atau bahkan sama tetapi dengan gaya bicara yang berbeda. Boboiboy bersembunyi dibalik sebuah tiang listrik, ia mengintip dari balik tiang listrik dan apa yang ia lihat membuat matanya melebar, kaget.
"Kak Taufan! Hari ini ada ide apa buat ngejahilin Kak Halilin?"
"Hehe.. Pertanyaan yang bagus Api... Bagaimana kalau hari ini kita.."
Boboiboy menatap mereka berdua dengan tatapan kaget dan kagum. Baru pertama kali ia melihat kedua pecahan elementalnya itu saat ia tidak berpecah.
Tiba-tiba Api menoleh ke arah tiang listrik dimana Boboiboy bersembunyi.
"Ada apa Api?"
"Nggak.. Aku cuma ngerasa kayak ada seseorang atau sesuatu yang bersembunyi disitu.."
"Eh?"
Taufan juga ikut menatap tiang listrik itu, Taufan dan Api saling berpandangan lalu mengangguk seperti mereka habis bertelepati lalu mereka berjalan mendekati tiang listrik itu.
Boboiboy yang bersembunyi disitu merasa jantungnya berdebar-debar karena ia lumayan gelisah dan takut dengan pikiran, 'Nanti bagaimana reaksi mereka!? Kalau mereka melihat aku nanti bagaimana!?'
Taufan dan Api melihat ke balik tiang itu dan mata mereka berdua melebar saat melihat Boboiboy. Boboiboy tersenyum dengan penuh kegelisahan, "Hai...?"
"EEEHHH!?"
Semua Elemental bersaudara berkumpul di ruang tamu dengan Tok Aba yang tersenyum, "Perkenalkan, dia saudara baru kalian, Boboiboy!"
Mereka semua hening menatap Boboiboy lalu Taufan, Gempa dan Api tersenyum dengan ramah,
"Wah! Sebenarnya orang tua kita sehebat apa sih? Bisa ngelahirin anak kembar 6!"
"Iya tuh! Identik semua, pula!"
"Tapi kenapa topinya gak ada yang dimiringin kayak aku? Akukan sedih!"
"Berarti kamu gak normal!"
"Kak Hali jahat!"
"Sudah, sudah! Jangan berantem!"
"Iya tuh~ Kan lebih enak tidur-tiduran daripada berantem..."
"Kamu itu mikirnya tidur mulu!"
Tok Aba menghela nafas, "Ya sudah! Semoga saja kamu bisa akrab dengan mereka ya, Boboiboy!"
Boboiboy tersenyum, "Baik, Tok!"
Sebenarnya Boboiboy pun kaget bagaimana ia bisa diterima di keluarga mereka semudah itu. Sebenarnya saat Taufan dan Api menemukannya mereka langsung bertanya-tanya ke Boboiboy lalu membawanya ke Tok Aba.
Gempa menghampiri Boboiboy, "Kamu tidak apa-apa tidur di sofa ruang tamu? Kalau mau di kamarku aja-"
Boboiboy menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa! Aku tidak ingin merepotkan kalian!"
Gempa sedikit meragukan perkataannya, "Benarkah?"
"Iya!"
Pertemuan mereka berjalan dengan lancar, dan sepertinya semua Elemental Bersaudara menerima Boboiboy sebagai saudara mereka, bahkan Halilintarpun juga menerimanya.
Setelah mereka semua masuk ke kamar mereka, Boboiboy duduk di sofa ruang tamu dengan selimut dan bantal yang diberikan. Ia menatap jam kuasanya, 'Sepertinya mereka tidak memiliki kuasa, ya...' Boboiboy mengetahui hal itu karena ia melihat Halilintar menjitak Taufan karena telah mengejeknya dan bukan menggunakan kuasanya dan juga Api tidak menggunakan kuasanya sama sekali.
Boboiboy mencoba sedikit kuasanya untuk mengecek apakah ia masih bisa memakai kuasanya atau tidak, ia mencoba berubah menjadi Halilintar, "Boboiboy Halilintar...!" Ia menggunakan suara yang kecil untuk berubah dan sepertinya ia masih bisa menggunakan kuasanya.
Ia pergi keluar untuk mengetes kuasanya sekali lagi, kali ini ia mencoba untuk berpecah lima, "Boboiboy Kuasa Lima...!" Dan iapun berpecah menjadi lima.
Disitu ada Boboiboy Halilintar dengan tatapan dinginnya, Boboiboy Taufan dengan senyuman khasnya, Boboiboy Gempa dengan wajahnya yang ramah, Boboiboy Api dengan sifat kekanak-kanakannya dan Boboiboy Air dengan wajah orang yang sedang mengantuk.
Mereka segera mencoba sedikit kuasa mereka masing-masing walaupun lumayan susah karena Boboiboy Api 'tidak sengaja' membuat api yang lumayan besar yang akhirnya dipadamkan oleh Boboiboy Air.
Boboiboy kembali menyatu dan merasa lumayan lega karena ia sepertinya masih bisa menggunakan kuasanya, 'Syukurlah...' Batinnya
Humikmika : Halo~! Ini chapter kedua! Maaf kalau banyak kekurangan dan kurang accurate ceritanya! Maklum saya masih lumayan baru! Yaa kalau kalian masih belum tahu 'Orang itu' adalah perempuan atau laki-laki, coba aja tebak sendiri :v
Terima kasih telah membaca!
