Kaisoo
.
.
The story is mine. Only mine. And forever will be mine.
But,
The casts are not belong to me. They have their own life.
.
Lady Wu's Present
Amaranthine
.
.
Bunga mawar pun memiliki duri untuk menjaganya. Pengharapan agar ia tak mudah mati karena dipetik oleh jemari-jemari setan pembunuh bernama manusia. Harum mawar semerbak selalu hilang terbang dibawa angin oleh bantuan batang berduri yang terus bergoyang kesana-kemari agar keharumannya tak tercium oleh penghirup-penghirup ulung berwajah malaikat. Kecantikkan serta kerapuhannya berdiri kokoh diatas lingkup batang berduri yang menjadikan ia sebagai Ratu diantara bunga-bunga lainnya.
Dan, jikapun sebatang mawar mampu mempunyai penjagaan seperti itu demi kelopak rapuh nan cantik berharum magis, maka tak heran jika Kyungsoo memiliki hal yang serupa— bahkan lebih dari yang selama ini Jongin kira.
Yifan Wu.
Lelaki bangsawan tampan, mempunyai daya pikat menawan yang sangat tinggi serta paras yang kata mereka merupakan paras jelmaan Dewa Zeus, di mitologi Yunani Kuno. Rahang keras dan mata elang tajamnya saling berpadu, menyebarkan tantangan nyata sampai mati— pertaruhan harga diri. Bidang dada kokohnya terpeta jelas dibalik kemeja abu-abu yang dibalutkan oleh jas berwarna hitam pekat. Daya pertarungan —meski ilusi- menerjang Jongin telak ketika ia mendudukkan diri didepannya.
Tak ada yang berbicara. Tidak. Jongin enggan memulai cerita jika pada akhirnya ia akan berakhir terbujur kaku didalam peti mati. Desas-desus mengerikan tentang Yifan telah mengalir ke telinganya sejak ia menerima pesan singkat melalui sebuah surat yang menyatakan bahwa seorang bangsawan kelas atas dari China ingin bertemu dengannya— Yifan.
Bertemu dengan kolega sesama bangsawan bukan hal aneh bagi Jongin. Menjadi pengusaha muda yang suka menimbun harta setiap hari telah menyebar keseluruh pelosok dunia. Beberapa majalah bisnis ternama telah menjual paras tampannya demi menaikkan popularitas rating perusahaan periklanan. Jongin tak mempermasalahkannya, toh selama ini seluruh dunia pun tahu jika harta yang ia punya nyaris sama dengan harta kekayaan zaman Joseon terdahulu. Maka semuanya berjalan baik-baik saja. Beberapa kolega terkadang menunduk enggan jika mereka bersitatap lama, terlalu malu menunjukkan diri dihadapan sang penguasa harta dari seluruh dunia. Dan, semuanya masih baik-baik saja— sebelum undangan pertemuan antara dirinya dan Yifan sampai didepan meja kerja ketika ia baru saja ingin memulai rapat seminggu yang lalu.
Yifan seseorang berlidah tajam dan bermata pembunuh. Aura mengerikan selalu menguar disisi-sisi tubuhnya. Tak pelak membuatnya selalu memenangkan pertarungan harga saham hingga menjatuhkan perusahaan lain yang berani bertarung padanya. Yifan seseorang kejam yang tak mempunyai perasaan. Ia begitu tegas meski terlihat enggan berbicara lama-lama. Didikan kuat didalam kehidupan bangsawan telah menjadikan sorotan matanya terhadap dunia telah berubah.
Dan, Jongin pun pernah mendengar bahwa kehidupan Yifan telah diatur oleh seorang penguasa lainnya. Sang Mama— seorang wanita tua yang haus akan harta.
"Mama mengatakan ada seseorang yang berani melamar malaikatku." Yifan membuka suara tanpa ada pergerakan nada. "Maka aku bertanya pada diriku sendiri, lelaki hina mana yang berani melakukan itu semua?" Ia berhenti sejenak, menatap Jongin tajam, "Kau?"
Jongin mencoba menenangkan detakan jantungnya yang menggila, "Ya."
Aliran darah bangsawan Wu merupakan perpaduan antara aliran dari keturunan asli kerajaan kuno Korea serta keturunan Kerajaan China. Tak pelak aura bangsawan terasa kental menghinggap di indera penciuman Jongin— membuatnya takut menghadapi Yifan. Padahal menghadapi Mama dua minggu yang lalu tak separah ini.
"Kau tak ada harganya." Yifan kembali membuka suara. "Kau tahu dimana status harga dirimu?"
Jongin kelu, tak tahu harus berkata apa.
"Status harga dirimu sepuluh kali lipat dibawah kakiku" Ia melanjutkan.
Banyak yang berkata jika Yifan merupakan seseorang posesif yang akan menjaga miliknya sampai ia mati. Sedikitpun tak akan ia biarkan miliknya tersentuh oleh dunia luar bahkan matahari tak berhak untuk melirik apa yang telah menjadi miliknya. Maka dari itu, alasan mengapa Kyungsoo selalu bersembunyi dibalik jendela mawar berduri— kerena Yifan yang memberi ultimatum begitu.
Kyungsoo —adik bungsu dari seorang bangsawan kejam, -Yifan- yang harus terjebak didalam kukungan penjara saudaranya sendiri.
"Apa kau bangga karena Mama menyutujui lamaranmu?" Yifan bertopang dagu malas, "Aku bahkan bisa menghancurkan hartamu sedetik setelah kau beranjak dari kursimu."
Jemari Jongin berkeringat dingin.
"Jika kau melamar malaikatku atas harta yang selalu kau puja, maka itu tak akan berpengaruh bagiku." Katanya. "Aku tak akan membiarkan malaikatku hidup didalam genggaman jemarimu yang kotor. Harga dirimu yang hina tak sebanding untuk menjadikan malaikatku menjadi milikmu."
Debaran jantung Jongin semakin menggila.
"Aku tak suka berbasa-basi." Yifan bersandar angkuh pada kursi yang ia duduki, "Jauhi malaikatku atau kau akan datang kepadaku bertekuk lutut demi hartamu yang hilang dalam sekejap mata?"
Jongin tak bisa berbicara. Sorotan matanya mulai berubah— liar mencari pandangan selain hunusan tajam Yifan padanya. Kata-kata yang tersusun dalam otaknya menghilang berbaur bersama udara. Terawang-awang tanpa bisa ia mengerti apa yang harus ia kata. Perlahan keringat dingin mulai melingkupi seluruh telapak tangannya.
Hening. Lama.
"Aku sangat tak menyukai manusia hina sepertimu." Yifan bergerak dari duduknya. Bergeser membawa kursi kebelakang agar ia mendapati cukup ruang untuk beranjak. Dan, sedetik setelah Yifan merapikan letak jas yang ia kenakan, Jongin membuka suara yang membuatnya terpaku.
"Adikmu seperti hawa surga. Seberapapun aku menolak kehadirannya, aku tetap tak akan bisa." Jongin melupakan detakan jantungnya yang semakin bertalu kencang. "Jikapun aku berkata bahwa aku telah terjerat oleh pesona adikmu, aku tahu kau tak akan pernah percaya."
Yifan memandangnya dalam keheningan.
"Benar. Aku hanya mengandalkan harta yang tak mempunyai arti apa-apa dihadapanmu." Pandangan Jongin berubah angkuh diantara keringat dingin yang masih menyerangnya. "Tapi, jika kau lupa, aku akan mengingatkanmu bahwa sekalipun aku tak pernah membandingkan adikmu dengan harta yang kumiliki."
Jeda— sejenak.
"Jikapun aku sanggup membeli seluruh dunia, itu pun tak sebanding. Kyungsoo adalah surga." Jongin tersenyum, tipis. "Kau tak akan tahu betapa aku begitu memujanya disetiap nafas yang ku hela."
Yifan menatapnya tanpa sahutan kata. Lama ia terdiam, hingga pada akhirnya berbalik meninggalkan Jongin dengan langkahan kaki tegas bak penguasa. Membiarkan Jongin terduduk sendiri diantara sepi yang seakan-akan bisa membunuh dirinya sendiri karena berhasil mengeluarkan kalimat yang tak bisa Yifan balas sama sekali.
Tanpa sadar, ia menghela keras. Menghembuskan nafas yang sempat ia tahan—Jongin tak tahu sejak kapan ia menahan nafas seperti itu, yang ia tahu menghadapi Yifan sama saja menyerahkan dirimu sebagai makanan mentah untuk sang raja hutan. Tubuh kakunya mencair bersamaan usapan pelan didahi. Butir-butir keringat membasahi dahinya tanpa ia sadari.
Setidaknya, Jongin telah ada pada tahap dimana Yifan tak bisa membalas kata-katanya. Hanya saja, apakah Yifan akan diam begitu saja?
—Untuk saat ini, Jongin tak ingin membayangkannya.
"Kau melakukannya dengan baik."
Halus, seperti sutera.
"Yohanes Jongin Kim—"
Jongin mendongak, lalu— terpana.
"Itu namamu, bukan?"
Sang Dewi Bulan purnama.
"Ya."
Jongin tak tahu mengapa ia sulit menemukan suaranya sendiri. Hanya saja ia tak bisa menahan diri untuk bersikap berpura-pura biasa ketika membalas tatapan mata indahnya. Kedipan bulu mata halusnya membuat Jongin terhipnotis lama.
Ada cerita yang berbeda. Tentangnya yang selalu bisa mengalahkan sinar bulan pada malam hari. Wajah putihnya bersinar cerah terkena matahari, membuat Jongin harus mengedip beberapa kali jika tak ingin terperangkap dalam jeratan ilusi.
"Senang bertemu denganmu." Suara lembutnya mengalun merdu. Ia menundukkan kepala anggun— menunjukkan sikap santun bangsawan yang ia miliki.
Luhan Wu.
Jelmaan indah sang Dewi bulan purnama kini berada tepat dihadapannya. Menggenakan hanbok berwarna biru dengan sentuhan ranting-ranting pohon yang sedang berbunga. Rambut hitamnya diikat sedemikian rupa diatas kepala, ada beberapa hiasan rambut mempercantik dirinya sebagai wanita bangsawan kelas dunia —khas kerajaan Joseon dizaman dahulu. Ia tersenyum lembut, menambah sinar wajahnya yang kian bercahaya.
"Aku melihatmu dan Yifan hyung ditaman." Suara halusnya bagai siraman air sejuk di gurun tandus. "Maaf jika aku lancang mendengar pembicaraan kalian." Ia menunduk kepala anggun, lagi.
Jongin terpaku, sejenak saja hingga ia berdiri membalas Luhan dengan gerakan kepala yang sama. "Tak apa." Katanya. "Kami berbicara diruang terbuka, jadi bisa saja ada orang lain mendengarnya tanpa sengaja."
Bibir merahnya tersenyum— "Kau lelaki yang baik."
—tanpa sadar Jongin menahan nafas karena terpana.
"Kau ingin bertemu Kyungsoo?" Suaranya masih terdengar lembut mengalun diindera pendengar Jongin.
Sebuah nama yang memberi impuls di otaknya untuk mengingat sang Amaranthine yang selalu terbawa didalam mimpi. Ahh, entah berapa lama ia tak bertemu dengan gadis itu.
"Ya."
Raut wajah Luhan bersinar cerah, ia tersenyum, "Kyungsoo tak bisa keluar dari ruangannya." Hanbok birunya bergerak ketika Luhan berbalik, "Ikuti aku dan aku akan mengantarmu padanya."
Seperti sihir, Jongin hanya mengikuti. Langkah kaki anggun yang bergerak lembut didepannya seperti ajakan untuk menari klasik. Terlihat jelas betapa Luhan sangat memperhitungkan langkah kakinya untuk berjalan. Berirama ketukan senada membuat Jongin patuh mengikuti tanpa banyak bertanya.
Tangga berlapis karpet merah terbentang luas. Pegangan tangga berwarna emas seperti liukan ular yang tengah menari. Nuansa klasik serta betapa kentalnya aroma kerajaan Josean menyapa indera penglihatan Jongin tanpa terkecuali. Hawa yang begitu kontras dengan ruang lingkup rumahnya yang penuh dengan gaya kemewahan dizaman besi.
Langkah Jongin berhenti sedetik setelah Luhan menghentikan langkahnya pula. Kepalanya bergerak pelan memberi isyarat untuk dua pelayan yang berjaga didepan pintu untuk membuka— memperlihatkan secara nyata ruang yang selalu Jongin lihat dari jendela kamarnya sendiri. Aroma bunga mawar manis menyapa indera penciuman telak. Tanpa ia tahu bahwa ia telah berjalan seolah menemukan langkah kakinya sendiri— meninggalkan Luhan yang hanya tersenyum tipis menatapnya.
Dan ia disana. Duduk sendiri didepan jendala menatap jauh melewati matahari yang kini melihat para cantiknya secara sembunyi-sembunyi. Rambut panjangnya terurai panjang menyentuh lantai— sebuah rangkaian bunga Amaranthine menghias kepalanya seperti peri. Ia berbalik, berkedip lembut memperlihatnya betapa jernih mata biru yang ia miliki. Mata yang selalu masuk kealam mimpi lalu membiarkan Jongin terkurung dalam lautan emosi.
Oh, betapa Jongin merindu hingga ingin memeluknya erat saat ini.
"Kau datang?"
Jongin berlutut diatas lantai dingin. Kepalanya mendongak, melihat secara nyata paras yang selama ini selalu ia puja disetiap hela nafasnya. "Aku merindukanmu." Jemari Jongin terulur menyentuh pipinya, merasakan betapa lembut pipi yang kini bersemu malu.
"Kau sangat lama." Ia mengeluarkan kata yang membuat Jongin terpaku. "Aku menunggumu."
Jongin tak pernah merasakan bahwa bias matahari akan mematikannya seperti ini. Tak pernah tahu bahwa harum mawar akan membuatnya nyaris kehilangan udara. Ia tak pernah tahu. Tidak— tak pernah tahu sebelum ia bertemu Kyungsoo lalu menyerahkan seluruh hidup serta jiwanya tanpa meminta bayaran yang sama.
"Jika begitu jangan pernah lagi menghitung waktu." Jongin berdiri, mengecup lembut dahi Kyungsoo penuh kasih. "Karena aku ingin kau tahu bahwa waktu tak ada diantara aku dan dirimu." Bisiknya. "Kau mengerti?"
Bibir merah Kyungsoo tersenyum manis. Matanya tertutup— mencoba merasakan keberadaan Jongin sebanyak yang ia bisa. "Ya"
.
.
.
It's 6th November
My beloved Yifan Wu's bornday!
I always hope all the best for you dear,
God, I really miss you so much,
.
.
If there are any questions or other things you want to know, you can leave it in a review.
Last, mind to review?
Love ya,
A fanfiction by Me,
Lady Wu
