=L.O.V.E=
Bin menatap pintu perpustakaan dengan terengah-engah. Ia menatap Lee saengnim yang sudah selesai mengunci ruang perpustakaan dengan senyum tak berdosa. Ia hampir lupa dengan tugasnya hari ini. Dan, beruntungnya Chanwoo mengingatkan kalimat yang diucapkannya kemarin yang membuat Bin sadar dan langsung berlari tanpa peduli dengan bel masuk yang berdering.
"Aku memerlukan beberapa buku untuk tugasku. Bolehkah aku membukanya kembali? Kumohon"
"Kalau begitu kau yang menguncinya kembali. Aku harus segera pergi dan jangan katakan hal ini pada kepala sekolah"
Bin yang semula menangkup kedua tangannya dengan tampang memelas pun langsung menegapkan tubuhnya dan memberikan hormat layaknya ia seorang prajurit perang.
"Ayay kapten"
Bin merasakan jika keberuntungan menghinggapinya kali ini. karena, ia mendapatkan sebuah keberuntungan saat Lee saengnim yang menjaga perpustakaan. Lee saengnim adalah orang yang baik hati dan patut ditiru oleh semua guru. Itu yang ada di benak sembilan puluh persen siswa dan siswi di sekolah ini.
Setelah kepergian Lee saengnim. Bin memasuki kawasan mengerikan dan sepi menurut Bin. Ia tidak pernah menyukai tumpukan buku yang banyak. Tapi, ia menyukai semua buku baru. Wanginya berbeda dengan buku yang lama.
Bin mengambil beberapa buku yang menurutnya mengulas topik yang ia cari. Sudah enam buku yang ia ambil. Beberapa dari buku itu adalah novel remaja yang bergenre romantis.
Beruntung setiap tahunnya ada perintah untuk membawa satu buku sumbangan ke sekolah. Jadi, kemungkinan ia mendapatkan novel di perpustakaan sekolahnya bukan hal yang mustahil.
Brukk.
"Omo"
Bin reflek menjatuhkan semua buku yang ada di tangannya saat melihat sosok Eunwoo tengah bersandar di dinding dengan sebuah buku di tangannya.
"Kau lagi!"
"Ya, mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu setiap harinya"
Bin menggeram kesal sebelum ia memungut kembali buku-buku yang sempat terjun bebas dari tangannya.
"Aku tidak menyangka kau membaca buku seperti ini"
Bin menatap salah satu bukunya yang mengulas tentang percintaan itu di tangan Eunwoo. Dengan gerakan cepat ia mengambil alih buku itu dari tangan Eunwoo.
"Ku rasa kisah percintaanmu cukup tragis"
Bin menatap Eunwoo dengan tatapan tajam. Ia berusaha tidak mempedulikan Eunwoo dengan melalui sosok sempurna itu tanpa menatapnya.
"Kenapa kau bisa masuk?"
"Aku bertemu dengan Lee saengnim dan dia mengatakan jika perpustakaan belum ditutup"
Bin menggigit bibirnya. Matanya bergerak tak tenang. Haruskah ia pergi dan mengunci mahluk menyebalkan ini di dalam perpustakaan? Seharusnya Lee saengnim tidak perlu mengatakannya.
"Jadi, se-tragis apa percintaanmu? Tidak pernah mendapatkan teman kencan?"
Bin menggeram, kedua tangannya mencengkram erat buku yang dipegangnya. Ingin rasanya ia berbalik dan melempar semua buku yang ada di tangannya tepat ke wajah tampan Eunwoo.
"Atau jangan-jangan kau belum pernah berciuman" Eunwoo menutup mulutnya menampilkan ekspresi kaget. "Aku tidak percaya itu"
Sebagai seorang pria yang sudah berumur tujuh belas tahun, kalimat Eunwoo membuatnya merasa seperti orang yang tidak dapat menjalin hubungan dengan seorang wanita. Walaupun benar adanya ia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita dan berciuman. Tapi, ia sudah tujuh belas dan mengalami mimpi indah pada umumnya.
"Sebenarnya apa maumu?"
"Kau membawa buku matematika yang ku baca tadi. Aku membutuhkannya untuk olimpiade-ku besok"
E-eh?
Eunwoo mendekat ke arah Bin dan mengambil buku yang tertumpuk dengan beberapa buku konyol milik Bin. Entahlah, ia merasa jika kejadian hari ini harus dilupakan secepat mungkin. Ini kejadian yang sangat memalukan.
"Jadi, kau benar belum pernah mencium seorang gadis?"
Lagi-lagi kedutan di kening Bin tercipta hanya karena omongan Eunwoo yang menghina harga dirinya sebagai seorang pria. Walaupun hanya dalam mimpi indah setidaknya ia pernah mencium seorang gadis yang entah siapa itu. Wajahnya samar.
"Tidak masalah. Aku juga belum pernah mendapatkan teman kencan yang cocok"
"Setidaknya, sekalipun aku belum pernah melakukan itu aku tahu caranya"
Eunwoo yang semula membuka buku mencari halaman yang terakhir ia bacapun menyeringai. Ia menutup bukunya dan menaruhnya asal di rak buku.
Ia mendapatkan moment menarik.
"Benarkah? Kalau begitu maukah kau mengajariku? Aku terlalu sibuk dengan buku-buku dan tidak sempat untuk mempelajari hal seperti itu"
Bin memeluk ke enam bukunya erat saat jarak antara Eunwoo dan dirinya mulai menipis. Kali ini Bin berpikir jika memang seharusnya ia segera pergi dan mengunci pemuda aneh ini di dalam perpustakaan sendirian.
"Aku hanya ingin memberitahumu. Di belakangmu itu dinding"
Bin tersentak saat sadar jika ia benar-benar sudah terjebak oleh dinding putih. Ia merutuk terus-menurus berharap jika dinding itu akan mundur secara perlahan dan membuatnya dapat pergi sejauh mungkin dari hadapan Eunwoo.
"Jadi? Kau benar-benar belum pernah-"
Brukk.
Eunwoo terkekeh kecil menatap keenam buku yang terlepas dari pelukan Bin. Reaksi Bin benar-benar membuatnya tertawa.
"Tidak baik membuang buku seperti itu"
Eunwoo mengelus permukaan wajah Bin pelan mengabaikan buku yang berserakan di sekeliling kakinya. Ia suka sekali menggoda Bin dan melihat wajah Bin yang ketakutan. Entah sejak kapan ia menyukai kegiatan aneh seperti itu.
"Menjauhlah"
Mendengar kalimat seperti itu Eunwoo bukannya menjauh, ia malah makin mempersempit jarak antara mereka berdua.
"Aku hanya mau mencoba" Eunwoo memutuskan ucapannya. "Kau bilang kau tahu caranya bukan? Jadi, tunjukkan padaku"
Bin berkedip beberapa kali. Ia mengunci bibir tipisnya saat melihat Eunwoo sudah memejamkan kedua matanya. Ia melirik kesekelilingnya mencoba mencari celah untuk kabur. Namun, sangat disayangkan kedua tangan Eunwoo mengunci pergerakannya.
"Apa saat aku melakukannya kau akan menjauh dariku?"
"Untuk saat ini tentu saja"
Bola mata Bin meneliti seluruh wajah Eunwoo hingga bola matanya itu berhenti di bibir Eunwoo. Ia menggeleng kecil untuk menghentikan pikiran aneh yang akan berlangsung jika ia benar-benar mencium Eunwoo.
"Kurasa kau tidak bisa. Kalau begitu akan aku ajarkan"
E-eh/?
Bin mencengkram kerah kemeja Eunwoo saat bibirnya merasakan sesuatu yang lembab dan kenyal.
Bin masih terdiam dengan mata terpejam. Disatu sisi ia menikmati permainan Eunwoo, namun disisi lain ia ingat jika Eunwoo adalah musuhnya.
Tapi, bolehkah ia menikmati ciuman pertamanya walaupun bersama musuhnya sendiri?
"Kurasa kau benar-benar harus private denganku"
Eunwoo melepaskan tautannya. Jemarinya mulai melepaskan kancing kemeja Bin dengan mata yang masih menatap Bin yang terus mengunci bibirnya.
"Haj-"
Saat Bin hendak menghentikan tangan Eunwoo. Sang ketua OSIS itu dengan cepat memanfaatkan kesempatan untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Bin.
Bin merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia terus mengunci bibirnya. Jika saja ia terus mengunci bibirnya ia tidak akan menikmati lidah Eunwoo yang menjelahi rongga mulutnya.
Tunggu, menikmati? Apa yang kau pikirkan Moon Bin.
Tapi,
Ia ingin mengikuti permainan Eunwoo namun disisi lain ia ingin membiarkan Eunwoo bermain sendiri dengan menggunakan bibirnya.
Tapi,
Baiklah, Bin harus membuat ciuman pertama ini menjadi sesuatu yang berharga. Walaupun, ia melakukannya dengan musuhnya sendiri. Yang bahkan seorang pria juga.
Eunwoo tersenyum kecil saat lidah Bin mulai bergerak menyapanya. Ia tahu jika Bin akan luluh dan mengikuti permainannya.
'Ia benar-benar sangat polos'
=3=
"Oppa"
Bin yang semula sedang membaca novel itu tersentak kaget. Matanya menatap adik satu tahunnya itu dengan tatapan kesal.
"Pinjam ponselmu. Aku ingin membalas line temanku"
Bin memutar bola matanya kesal. Sudah tidak heran jika adiknya itu selalu masuk ke kamarnya dan meminta hotspot. Rumah Bin memang luas dengan pekarangan yang indah yang dirawat oleh umma-nya. Keluarga Bin juga termasuk dalam golongan berkecukupan. Hanya saja, pendidikan yang diajarkan orang tua mereka membuat mereka berdua bukan menjadi orang yang manja seperti pada umumnya.
"Mintalah appa untuk memasang wifi"
"Akan ku usahakan nanti"
Soo Ah terdiam sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya membalas line temannya itu. Sesekali ia melirik ke arah kakaknya yang masih sibuk dengan novel romansa.
Soo Ah menggeleng pelan mengusir pikiran aneh yang sempat datang di kepalanya. Lagi-lagi ia melirik ke arah kakaknya. Kali ini dengan mata menyipit.
Ada sesuatu yang perlu diselidiki.
"Kau habis berciuman?"
Bin menatap adiknya kaget sebelum ia mengulum bibirnya sendiri menutupi ke anehan yang terlihat jelas di mata adiknya itu.
"Siapa yang menciummu?"
Bin terdiam mencari alasan. Ia teringat akan sesuatu yang dibacanya yang mengulas tentang apa yang terjadi setelah kau berciuman dengan seseorang. Lebih tepatnya kalimat itu ada di internet. Ia menyempatkan diri untuk membaca agar ia tidak diam menghadapi pertanyaan seperti ini.
"Apa dia cantik?"
"Lebah"
Soo Ah mendekati kakaknya yang sedang berbohong itu. Soo Ah memang berumur di bawah kakaknya, hanya saja Soo Ah tahu perbedaan dicium lebah atau dicium manusia.
"Kau tidak bisa berbohong dariku, oppa"
Soo Ah mendekati kakaknya itu perlahan. Sedangkan, Bin mulai mundur hingga ia kepalanya jatuh di kasurnya. Dengan gerakan cepat Soo Ah menindih tubuh kakaknya itu dan menurunkan sedikit kaus yang dipakai kakaknya. Ia sedikit kaget melihat tanda kemerahan di perpatahan leher kakaknya. Tadinya ia berfikir salah lihat. Namun, ia benar-benar melihatnya dengan jelas.
Dan ini masih baru.
=3=
"Enghh"
Bin menggigit bibirnya menahan suara aneh yang hampir keluar dari bibirnya saat permukaan bibir Eunwoo menyapa kulit lehernya. Tanpa sadar tangannya menepak kepala Eunwoo mencoba menjauhkan diri dari sosok berbahaya ini.
"Kenapa kau melakukannya?"
Eunwoo mengancingkan kemeja Bin seperti semula. Tak ada penolakan dari Bin saat ia melakukan itu. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mengacak rambut kecoklatan Bin.
"Aku hanya mengikuti kata hatiku"
=3=
Bin mengacak rambut dengan frustasi. Bahkan, sesekali ia membenturkan kepalanya ke meja membuat seluruh penghuni yang berkeliaran di kantin menatapnya heran.
"Dia kenapa?"
"Ia kehilangan keperawanannya"
Chanwoo menatap Soo Ah dengan tatapan kaget. Bahkan sumpitnya melakukan terjun bebas dari tangannya. Pemuda itu menepuk pipinya sendiri mencoba memastikan jika apa yang didengarnya tadi bukanlah sebuah mimpi.
Apa ia tidak salah dengar?
"Kau serius? Lalu kenapa ia tidak bahagia? Sebagai seorang pria bu-"
"Maksudku, ia kehilangan ciuman pertamanya" Soo Ah mendekatkan diri ke telinga Chanwoo. "Kau tahu tidak siapa yang melakukan itu pada kakakku?"
Pletakkk.
Pletakkk.
"Jangan menggosip tentang Moon Bin di hadapanku"
Bin berteriak kesal menatap teman dan adiknya bergantian. Saat ini kepalanya sedang kacau dan dua orang terdekatnya malah mentertawakannya. Bukankah itu menyebalkan.
"Oke, kami akan menggosipkan Moon Bin di tempat lain"
"Aku tidak menyangka kalian seperti itu padaku"
Bin menelungkup menyembunyikan wajahnya yang masih memerah karena mengingat kejadian kemarin. Chanwoo dan Soo ah tertawa kecil melihat tingkah Bin.
Manis.
"Hai"
Chanwoo dan Soo Ah terdiam melihat sosok yang duduk tepat disebelah Bin. Kedua orang itu saling bertatapan dengan wajah bingung seolah kedua pasang mata itu mengatakan "bagaimana bisa?"
"Pergilah, kalian mengganggu acara berfikirku"
Chanwoo dan Soo Ah mundur perlahan meninggalkan Bin bersama dengan seseorang yang membuat semua gadis yang ada di kantin menjerit.
Namun, bukan Soo Ah namanya jika ia meninggalkan kakaknya begitu saja. Gadis cantik itu bersembunyi di tempat yang cukup untuk memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya itu.
"Apa kemarin aku menyakitimu?"
Bin masih dalam posisinya, pemuda manis itu tidak mempedulikan suara yang menyapanya.
"Earth calling Moon Bin"
Bin dengan cepat menepis tangan yang mengenai pucuk kepalanya. Ia masih dalam posisinya. Tak ada minat sedikitpun untuk mendongak ataupun memunculkan kepalanya.
"Mianhae"
"Untuk apa kau menemuiku?"
Bin akhirnya bersuara. Ia mengintip sedikit dari celah yang terbentuk oleh tangannya. Gerakan kecil yang dilakukan Bin membuat Eunwoo tersenyum tipis.
"Hatiku yang mencarimu"
Teng teng teng.
Bin masih diam tidak peduli dengan suara bel masuk. Begitu pula pemuda yang duduk di sampingnya. Tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari bangkunya.
"Hei, mau keluar bersamaku?"
Bin tersentak kecil saat sebuah tangan mengelus kepalanya perlahan. Ia menuntup kedua matanya menikmati sentuhan lembut itu. Biasanya, ia akan mudah tertidur jika seseorang melakukan hal seperti ini. Dan, memang benar Bin mulai menutup matanya perlahan.
Tunggu.
Apa?
"Bisakah kau tidak sembarangan menyentuhku?!"
=3=
Setelah perjanjian singkat saat jam istirahat akhirnya Bin menuruti kemauan si pangeran sekolah itu. Kemauan yang membuat kepala Bin benar-benar sakit. Pemuda manis itu butuh istirahat otak dan jantung yang cukup.
Ini bukan sedang berkencan.
Bin terus mengulangi kalimat itu dalam kepalanya. Ia takut jika jantung dan otaknya mulai tidak waras. Sejujurnya, Bin masih tidak mengerti kenapa otak dan jantungnya seolah tidak normal jika sedang bersama Eunwoo. Sedikit membingungkan memang tapi, Bin berharap apa yang terjadi padanya tidak seperti di novel romansa yang ia baca.
Kembali ke acara menyebalkan yang tak terduga bagi Bin. Mereka memulai kencan mereka. Bukan kencan. Mereka memulai perjalan mereka menggunakan bus.
Cukup padat dikarenakan mereka memulai disaat jam sekolah berakhir. Padahal Eunwoo ingin mengajak Bin membolos namun Bin dengan cepat menolak.
"Kau itu pintar, membolos pun tak masalah. Tapi, jangan samakan aku denganmu!"
Setelah ucapan Bin yang seperti itu. Akhirnya, Eunwoo berjanji tidak akan mengajak Bin membolos lagi. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali mengajak Bin membolos dan pergi ke suatu tempat.
Ckitt.
Bin merutuk ribuan kali pada sang supir yang membuatnya jatuh dalam pelukan Eunwoo. Dan, lebih parahnya Bin juga merutuk pada Eunwoo yang tidak melepaskan tangannya dari pinggang Bin.
Ini memang kesalahannya. Tidak. Ini kesalahan Eunwoo yang mengajaknya pergi di jam pulang sekolah. Jika saja Eunwoo mengajaknya menggunakan mobil pribadi ia tidak perlu berdesakan seperti ini.
"Jika saja tadi kita menggunakan mobilku. Mungkin aku akan melakukan lebih dari ini"
Bin terdiam. Ia menghela napas kecil saat mengingat menit lalu. Eunwoo memang membawa mobil. Dan pemuda tampan itu ingin membawa Bin menggunakan mobilnya. Hanya saja, Bin memikirkan hal yang tidak baik jika nanti hanya ada mereka berdua.
Dasar Bin bodoh.
"Aku baru ingat"
Bin menjauhkan diri untuk mengambil ponsel di saku celananya. Eunwoo yang melihat tingkah Bin langsung mendekatkan diri mencoba untuk melirik apa yang membuat pemuda manis itu sibuk dan mengabaikannya.
"Kita turun di halte depan"
Eunwoo merangkul pundak Bin dengan sebelah tangannya yang bebas. Dahinya berkerut bingung melihat ponsel Bin.
"Kita mau kemana?"
"Ke karnaval"
Eunwoo mengangguk kecil menyetujui. Ia sedikit bingung karena seingatnya di daerahnya tidak ada karnaval apapun.
"Baru dibuka hari ini. Dan lagi, tempat itu dekat rumah ku"
=3=
"Woahh ramainya"
Eunwoo berdecak kagum saat mereka sampai di tempat yang Bin maksud. Benar-benar sebuah karnaval. Tempat menarik untuk kencan pertama mereka. Tunggu, bukan kencan.
Grep.
Bin yang semula melamun itu pun tersentak kecil mendapati tangannya sudah bertaut dengan tangan Eunwoo.
"Aku hanya tidak ingin kau hilang dikeramaian. Jangan salah paham"
"Aku ingin main tembak-tembakan itu. Kajja"
Bin yang semula sedikit canggung itu mulai membiasakan diri. Ia sedikit aneh pada tubuhnya yang tiba-tiba kaku itu. Namun, ia mencoba untuk tidak peduli dan menyingkirkan hal-hal aneh yang mulai mengotori pikirannya.
"Apa kau merasakan getaran cinta itu, oppa?"
Heol. Disaat seperti ini kenapa ucapan Soo Ah tiba-tiba berputar di kepalanya?!
"Kau tidak main?"
Eunwoo tersenyum kecil menanggapi ucapan Bin. Kekasihnya. Tunggu. Bukan kekasih. Bin yang semula memegang pistol pun menodongkan pistolnya di kepala Eunwoo.
"Jika aku ikut main aku akan menghabiskan semua hadiah yang ada"
Bin berdecak kecil. Ia menarik tangannya kembali dan mulai memposisikan pistol layaknya seorang sniper handal.
Satu kali gagal.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Bin menatap peluru terakhirnya dengan pucat. Ia tidak membawa cukup uang untuk menambah permainan. Ini saja ia ada orang berbaik hati mentraktirnya.
Bin menatap Eunwoo yang balik menatapnya dengan tatapan mengejek. Bin yang semula ingin minta tambah pun akhirnya ia kembali berharap jika kali ini ia berhasil.
Grep.
Tubuh Bin lagi-lagi kaku saat tangannya bersentuhan dengan tangan Eunwoo. Ia memejamkan matanya kuat berharap ini hanya sebuah fantasi gila kepalanya.
Namun, saat ia melirik ke belakang pemuda manis itu terus menerus merutuk.
"Aku tahu aku tampan. Tapi, kurasa aku bukan targetnya"
Bin yang sadar jika ia menatap Eunwoo pun akhirnya mengalihkan pandangannya. Ia masih mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya yang tak karuan itu. Lagi-lagi jantungnya bermasalah di saat seperti ini.
Apa ini yang namanya getaran cinta?
Bunyi berdering dari kaleng kosong menyadarkan Bin dari lamunannya. Perlahan tangan Eunwoo mulai menjauh.
Pukk.
"Kau sudah berusaha dengan baik. Hanya saja, aku lebih baik darimu"
Bin terdiam sesaat mencerna kalimat Eunwoo. Dengan cepat Bin menepak kepala Eunwoo.
"Ahjussi, aku ingin boneka beruang itu"
Bin yang tahu Eunwoo memilih boneka yang ia incar dari awal pun hanya merengut kesal. Tangannya lagi-lagi menepak kepala Eunwoo yang langsung ditahan oleh Eunwoo.
"Seharusnya, dari awal kekasihmu saja yang memegang kendali"
E-eh/?
"Dia bukan kekasihku, ahjussi!"
Bin berteriak kesal mendengar ucapan ahjussi yang memberikan boneka beruang pada Eunwoo. Memangnya, ia pantas bersanding dengan Eunwoo yang perfect itu.
"Ini untukmu" Eunwoo meraih tangan Bin membuat kedua tangan Bin memeluk boneka beruang berukuran cukup besar itu.
"Gomawo, ahjussi"
"Gamsahamnida"
Bin menunjukkan cengirannya dan menunduk kepada ahjussi atas tingkahnya yang kurang sopan. Setelah itu Bin buru-buru menarik tangan Eunwoo menjauh dari tempat itu.
"Bagaimana jika kita tanding memancing?"
Eunwoo menatap Bin dengan tatapan penuh curiga. Ia menduga-duga apa yang akan keluar dari belah bibir Bin saat ini.
"Rewardnya.."
Bin mengetuk dagunya berpikir. Ia menatap Eunwoo lalu melihat ke sekeliling berharap dapat sesuatu yang dapat dijadikan hadiah.
Tidak ada.
Bin hanya dapat melihat orang banyak dan penjual gulali serta penjual es krim. Jika, ia mengatakan hadiahnya es krim, ataupun gulali sudah pasti Eunwoo tidak akan tertarik.
"Kau mau hadiahnya apa?"
"Kau"
Bin terdiam sesaat sebelum ia memukul Eunwoo menggunakan boneka yang ia pegang.
Bin mendecih kecil setelahnya. Ia menatap Eunwoo dengan kepala yang terus menerus memikirkan hal yang tidak baik untuk tidurnya nanti malam.
"Aku akan menciummu, jika kau menang" Bin tersenyum kecil. "Not just a kiss, it's french kiss. Atau mungkin lebih"
Bin menarik tangan Eunwoo yang masih membeku di tempat setelah mendengar kalimat terakhir Bin. Otaknya yang jenius itu memutar kembali kalimat Bin seolah itu adalah memori usang yang sudah rusak.
Atau mungkin lebih?
Terdengar sangat ambigu.
Bukankah itu hadiah yang menarik bagi seorang Cha Eunwoo.
"Binnie. Itu permainan anak-anak. Bisakah kita mencari permainan yang lain?"
"Tidak! Aku ingin menang kali ini. Saat aku menang kau harus menuruti permintaanku!"
Eunwoo mendapati jemari telunjuk Bin berada di dahinya. Jarak mereka yang cukup dekat itu membuat Eunwoo sedikit tersenyum saat melihat kilat ambisi di mata Bin.
"Pegang"
Bin memberikan boneka beruang yang langsung diterima oleh Eunwoo. Pemuda manis itu membuat kontak dengan gadis dengan sesekali melirik ke arah Eunwoo.
"Uang" Sebelum Eunwoo sempat protes Bin melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak punya uang"
Eunwoo yang sudah malas meladeni tingkah Bin pun langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikannya pada Bin.
"Aku percaya padamu"
Eunwoo yang mendapati tatapan bingung Bin pun langsung menjawab tanpa menunggu pertanyaan dari bibir mungil Bin.
Setelah mendapatkan alat pancing mainan dan ember kecil. Bin dan Eunwoo pun duduk bersebelahan. Tidak benar-benar sebelahan karena di antara mereka ada boneka beruang besar.
"Hana, dul, set"
Eunwoo masih terdiam dalam posisinya. Ia melirik Bin yang sibuk memainkan pancingnya seolah ia pemancing handal.
Eunwoo diam-diam tersenyum melihat Bin. Ia mulai melirik ke arah gadis yang terus-menerus memperhatikan mereka berdua. Sedikit risih memang saat gadis itu menatapnya namun, entah kenapa Eunwoo mendapatkan sebuah ide.
Jemari panjang Eunwoo ditaruh di depan bibirnya seolah menyuruh gadis itu untuk pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Diam-diam Eunwoo mengambil ikan yang ada di ember Bin dengan gerakan yang sangat halus. Beruntung jika ember Bin hanya berbatasan dengan boneka saja.
"Aku tidak melihatmu memancing"
Eunwoo yang memang sudah menyiapkan ikan di kail magnetnya pun mulai menggoyangkan kailnya disertai dengan kedipan sebelah mata.
"Waktu habis"
Bin menoleh menatap gadis yang sudah mengambil ember kecil miliknya bersamaan dengan ember kecil milik Eunwoo.
Bin mengambil bonekanya dan berdiri mencoba mengintip dan mengira hasil yang diperoleh Eunwoo.
Bin terdiam saat gadis itu mulai menurunkan kedua ember miliknya dan Eunwoo. Pemuda manis itu menelan ludah dan melihat sekeliling mencari celah untuk kabur.
Tanpa perlu menunggu perhitungan dari gadis itu Bin langsung melesat menerobos kerumunan.
Eunwoo yang melihat Bin melarikan diri dari pandangannya pun ikut menerobos kerumunan dengan sebelumnya ia mengucapkan terimakasih pada gadis itu.
Benar-benar pasangan licik.
Grep.
Eunwoo menahan tangan Bin dan membalik tubuh Bin menghadapnya. Eunwoo mempertemukan kedua bibir mereka.
Hanya sebuah kecupan untuk mengetahui apakah Bin akan menolak atau malah dengan senang hati menerimanya.
"Tunggu"
Eunwoo menjauhkan diri dari Bin. Kedua matanya menatap Bin dengan tatapan bertanya. Mungkinkah hadiah yang dikatakan Bin tadi hanya sebuah khayalan Eunwoo semata?
Keduanya saling menatap satu sama lain sampai Bin mempertemukan kedua bibir mereka kembali.
Kali ini Bin mengecup bibir Eunwoo, menghisap bibir pink itu sebagai permulaan. Pemuda manis itu mengikuti cara bermain Eunwoo saat mereka bertemu di perpustakaan.
Dan sialnya, Bin mendesah kecil disaat pagutan bibir Eunwoo menerobos rongga mulutnya dengan sangat lihai.
=3=
"Mimpi buruk"
Soo Ah yang semula asik dengan ponselnya pun melirik ke arah kakaknya yang berteriak. Bahkan, pemuda berambut kecoklatan itu melempar buku dengan sembarang.
"Jika perlu ku ingatkan. Kau belum tertidur, oppa"
Bin menatap Soo Ah dengan wajah yang memerah. Ia buru-buru menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Pasti Soo Ah akan berpikir jika kakaknya itu gila sekarang.
"Masih ada yang namanya "
Bin langsung menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimutnya. Ini benar-benar memalukan. Ia bahkan membayangkan semua adegan gila bersama pemuda itu. Bin sudah gila saat ini.
"Apa efeknya separah itu?" Soo Ah tiba-tiba merasa iba pada kakaknya itu. "Hei, kau hanya kehilangan ciuman pertamamu. Tidak usah berlebihan"
Bin tetap tak bergeming. Membuat Soo Ah yang sedari tadi membujuk kakaknya untuk tidak terlalu murung itupun kesal. Setelah Bin mengaku pada Soo Ah apa yang terjadi padanya, saat itu juga Soo Ah tidak begitu peduli lagi. Toh, kakaknya itu sudah cukup umur untuk kehilangan ciuman pertamanya.
"Kau tidak tahu rasanya setelah itu terjadi aku selalu membayangkan jika aku menjadi kekasihnya. Itu sungguh menggelikan. Dan lagi, di sana kau menyebut ciuman pertama itu sebagai hilangnya keperawanan"
Soo Ah menatap kakaknya tak percaya. Ia bahkan tidak mengatakan hal seperti itu. Ia hanya memastikan jika yang ia lihat itu benar adanya. Hanya itu saja tidak lebih. Setelah ia memastikan itu ia hanya mengangguk mengerti.
Tapi, melihat respon kakaknya yang berlebihan itu membuatnya benar-benar tertawa. Bin terlihat seperti seorang perawan yang baru merasakan yang namanya ciuman pertama.
"Masa remaja yang menyedihkan. Kurasa, kau juga belum mimpi basah"
Gue balik dengan lanjutan yang bikin gue ketawa sendirian. Kalo ada yang gak ngerti jadi tuh pas flashback si Binnie tuh langsung mikir kemana-mana. Namanya juga kehilangan harta berharga ya otomatis Binnie setiap mengingatnya tuh ke bawa sampe kemana-mana XDDDan, efek sebelumnya Binnie baca novel romansa ya makin menjadi deh khayalan liar ala Moon Bin XDDBtw, gue ngerasa si Moon Bin di sini unyu banget ehhhh.Hope u like it arohadeul
