What is love?

I think I don't believe in some phrase like 'Loving you forever' or 'Happilly ever after'

It's such a drama, huh.

I, Shim Changmin, doesn't believe in love

.

.

Ela-ShimSparCloud a.k.a Ela Ela Changminnie presents

An Alternate Universe fanfiction

HoMinLand

Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : T

Length : Oneshot/chapter

Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK

Warn : TYPO's, Full of HoMin couple.

.

.oOHoMinOo.

.

"Believe in Love"

.

.

"Pelacur! Bagaimana bisa kau baru pulang setelah tengah malam seperti ini?!"

Tubuh mungil Changmin tersentak ketika ia mendengar seruan marah Appanya yang menggelegar hingga sampai ke kamarnya. Tidur pulasnya pun kini terhenti, dan tubuh kecil itu beringsut turun dari tempat tidurnya.

"Kalau aku pelacur,kau juga sama rendahnya denganku! Kau pikir aku tak tahu kalau kau sering keluar bersama sekretaris barumu itu ke hotel-hotel, dan tidak pulang semalaman?!"

PLAKK!

Kedua mata coklat itu membulat sempurna saat ia melihat betapa kerasnya sang Appa menampar sang Umma.

"Kau... sekarang kau sudah berani menamparku, hah?! Apa sebegitu berharganya pelacur barumu itu, sampai kau berani menampar istri sahmu?!"

"Kalau kau benar punya harga diri sebagai istri sah, kau tak akan pulang selarut ini karena berkencan dengan para priamu itu!"

Changmin kecil menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sedih. Selalu seperti ini. Semenjak perusahaan mereka menjadi besar dan terkenal, Appanya mulai pulang malam, atau bahkan sampai tidak pulang ke rumah. Semakin berlalunya waktu, Ummanya pun mengikuti jejak sang Appa, hingga hampir setiap hari Changmin kecil selalu berada di rumah sendirian.

Dan setiap malam, selalu seperti ini. Umma atau Appanya akan pulangtengah malam, dan keduanya akan mulai berteriak dan saling memaki.

Namun kali ini berbeda... Changmin merasa kalau hari ini... akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.

"Kalau terus seperti ini lebih baik kita bercerai!"

Tubuh mungil Changmin membeku mendengar ucapan Ummanya. Meskipun ia masih berusia 10tahun, Changmin kecil adalah anak yang cerdas. Ia tahu arti dari kata-kata yang sulit seperti itu. Dan bercerai... berarti Umma dan Appanya tak akan lagi tinggal bersama dalam satu rumah lagi. Mereka... akan berpisah.

Tidak! Tidak boleh!

"Umma... Appa... ." panggil Changmin yang kini menatap kedua orang tuanya dengan tatapan memohon.

Kedua orang dewasa di tempat itu sontak menoleh ke arah asal suara.

"Baik! Kita bercerai, tapi bawa Changmin bersamamu. Aku tak mau ia menjadi pengganggu di hidupku ke depannya."

Tubuh Changmin membeku tak percaya mendengar ucapan Appanya itu.

"Jangan egois! Kau Appanya, kau harus bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidiknya! Sudah cukup aku mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan susah payah! Sekarang giliranmu untuk mengurusnya!"

"Apa kau bilang?! Umma macam apa kau ini? Dia kan anakmu, jadi kau yang harus mengurusinya!"

"Enak saja! Kalau aku membawanya, kekasihku tak akan mau menikahiku! Jadi kau saja yang membawanya! Aku tak mau membawanya bersamaku!"

"Aku juga tak mau! Pokoknya kau sebagai Ummanya yang harus membawanya!"

Air mata mulai mengalir dari kedua manik coklat Changmin saat ia merasakan sakit dan sesak di dadanya. Apakah ini berarti... Umma dan Appanya... tak menginginkannya?

.

.oOHoMinOo.

.

Love is suck. Itu adalah hal yang di percayai Changmin selama 23 tahun hidupnya. Hal itu adalah hal pertama yang langsung mengendap di pikiran Changmin ketika kedua orang tuanya bercerai, dan ia akhirnya hidup bersama Haraboji dan Halmoninya karena kedua orang tuanya sendiripun bahkan tak menginginkannya.

Kalau dua orang yang berbagi darah untuknya, yang seharusnya mencintainya tanpa syarat saja tak mencintainya, lalu mana mungkin akan ada cinta di antara dua orang asing yang bahkan tak memiliki ikatan apapun?

Dan ia tak akan pernah mau lagi merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Ia bukan orang bodoh yang akan jatuh ke dalam lubang yang sama lagi. Ia tak akan merasakan sakit itu lagi, kalau ia tak pernah membuka hatinya. Ya, ia akan menutup dan mengunci pintu hatinya serapat mungkin, hingga tak akan ada lagi yang sanggup melukainya.

.

.oOHoMinOo.

.

"Changminnie~"

Changmin membuka matanya dengan cepat ketika suara itu memasuki telinganya. Ia menegakkan badannya saat ia tak melihat sosok itu.

"Yun?" panggil Changmin tanpa bisa ia tahan.

Dan saat ia tak melihat sosok itu di sekelilingnya, air mata turun dari kedua sudut matanya tanpa bisa ia tahan. Yunho... tak ada lagi disampingnya. Namja itu... tak lagi miliknya.

Tapi, bagaimana bisa ia begitu kehilangan namja itu? Ia yakin kalau ia tak pernah mencintai namja itu. Ia yakin ia tak pernah merasakan lagi yang namanya cinta, karena ia sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk siapapun juga. Tak terkecuali untuk Jung Yunho. Mantan kekasihnya.

Lalu, bagaimana ia bisa menjelaskan rasa sakit yang kini ia rasakan saat namja itu tak lagi ada disampingnya? Bagaimana hatinya terasa sangat hampa dan tertekan dalam kekosongan ketika sosoknya tak lagi hadir dalam kesehariannya? Bagaimana matanya memanas sebegitu rupa dan air mata terus mengalir kala ia mengingat kalau Yunho bukan miliknya lagi?

Apa yang terjadi dengannya? Kemana perginya seorang Shim Changmin yang dingin dan tak punya hati? Kemana perginya Shim Changmin yang selalu merasa sangat tak senang dengan keberadaan Yunho sebagai kekasihnya?

Bukan. Orang yang menangis saat mengingat Jung Yunho bukanlah dirinya. Ia bukanlah orang yang seperti itu. Ia tak akan menjadi seseorang yang akan menangisi seorang namja yang sudah berselingkuh di belakangnya. Tidak akan!

Dengan berbekal semangat seperti itu, Changmin segera menghapus air matanya yang masih mengalir itu. Ia berusaha bangkit dan langsung bergegas ke kamar mandi, mengingat ia masih harus bekerja pagi ini.

.

.oOHoMinOo.

.

"Aish! Yunho, kau taruh dimana pasta gigi yang baru itu?"

Pintu kamar mandi terbuka dengan tiba-tiba, dan tubuh Changmin yang masih basah dan hanya berbalutkan handuk pinggang itu kembali membeku saat ia melihat keadaan kamarnya.

Namja itu tak ada.

Changmin merasakan matanya kembali memanas saat ia merasakan remasan kuat di hatinya saat kenyataan bahwa Yunho tak lagi bersamanya menghantamnya dengan kuat. Membuatnya merasakan rasa sakit dan marah yang begitu meluap.

Bagaimana bisa ia menjadi seperti ini hanya karena seorang Jung Yunho? Ia bukan namja lemah yang akan merasa sakit saat kehilangan orang lain. Ia sudah sering memutuskan hubungannya dengan orang lain sebelum ini, karena memang ia tak merasakan perasaan apapun pada mereka. Bukankah ia memang sudah menutup hatinya untuk orang lain?

Selama ini, setiap kali ia menjalin hubungan dengan orang lain, mereka lah yang meminta Changmin menjadi kekasihnya. Changmin sendiri, ia tak pernah peduli dengan hal itu. Selama mereka tak membuatnya marah dan merasa repot, ia tak peduli. Ia pun juga merasa sangat santai saat meminta untuk mengakhiri hubungan saat ia merasa sudah bosan dengan mereka.

Namun, bagaimana bisa ia menjadi seorang yang cengeng hanya karena Jung Yunho?

Mungkin memang ia paling lama menjalin hubungan dengan namja itu. Namun bukan berarti namja itu bisa membuatnya merasa seperti ini. Harusnya namja itu tak memiliki pengaruh apapun padanya. Harusnya namja itu tak akan bisa membuat hatinya terasa begini sakit saat mengingatnya. Harusnya semuanya tak menjadi seperti ini...

.

.oOHoMinOo.

.

Semuanya berawal sari kejadian satu minggu yang lalu.

Changmin dan Yunho sudah menjadi sepasang kekasih semenjak dua tahun lalu Yunho memintanya. Waktu itu Changmin hanya berpikir 'tak masalah, toh aku juga sedang kosong,' dan menerima Yunho menjadi kekasihnya. Satu minggu kemudian, Yunho tinggal bersamanya karena Changmin tak mau pindah dari tempat tinggalnya yang sekarang ini.

Satu bulan berjalan, dan Changmin perlahan merasa muak dengan Yunho. Namja itu... begitu baik. Begitu baik, pengertian dan sangat toleran terhadap semua sikapnya, dan itu semua membuatnya muak. Namja itu... berbeda. Ia tak seperti orang lain yang pernah singgah di hatinya. Namja itu selalu mendahulukan dirinya di atas semuanya, dan itu membuatnya seperti... benar-benar dicintai.

Dan itu yang membuatnya membenci Yunho.

Ia benci bagaimana namja itu selalu menyambutnya pulang dengan senyuman. Ia benci bagaimana namja itu selalu membuatnya nyaman dengan membuatkannya makanan kesukaannya, membuatkannya susu saat ia tengah kesal, bahkan menyiapkannya air hangat saat ia benar-benar merasa kelelahan. Ia benci saat namja itu selalu menampakkan wajah pengertian saat ia ulang diantarkan oleh yeoja atau namja asing yang tak ia kenal. Ia benci saat namja itu menatapnya dengan penuh cinta.

Ia sudah berkali-kali akan memutuskan namja itu, namun ia tak bisa. Kalimat itu selalu tersendat sakit di tenggorokannya saat ia menatap Yunho, dan namja itu membalasnya dengan tatapan hangat penuh cintanya.

Merasa ia tak bisa memutuskan Yunho dengan keinginannya sendiri, ia akhirnya memilih jalan lain. Ia akan membuat Yunho marah padanya, sampai akhirnya namja itu yang akan meminta putus dengannya.

Dengan pemikiran yang terbentuk dalam benaknya, Changmin mulai bersikap keterlaluan. Ia sering marah-marah tak jelas pada Yunho, Ia hampir selalu pulang malam dalam keadaan mabuk dengan orang yang berbeda-beda(tapi yakinlah, Changmin tak pernah berani untuk berciuman atau sampai melakukan seks dengan orang lain selain Yunho).

Tapi itu semua tak berhasil. Namja itu tetap tak pernah meminta putus dengannya. Dan Changmn sudah benar-benar putus asa, sampai ia melihat itu semua.

.

Pagi itu Yunho bersikap biasa. Sangat perhatian padanya, dan menanyakan kapan ia akan pulang. Namun Changmin tak menggubrisnya, dan ia langsung keluar dari rumah sambil berkata ia akan pulang malam, meski ia sayup-sayup bisa mendengar kalau namja yang lebih tua itu memintanya untuk pulang cepat. Tapi, siapa yang peduli? Pokoknya ia akan pulang tengah malam dan membuat Yunho kesal!

Namun seperti Tuhan berkehendak lain, pekerjaan hari itu berjalan lancar. Tak ada masalah ataupun rapat yang harus di jalani. Ia tak bisa lembur karena memang semua pekerjaannya sudah selesai dengan rapih. Dan seolah semua orang tengah bersekongkol, saat Changmin mengajak rekan kerjanya keluar, mereka semua sudah memliki acara masing-masing hingga Changmin hanya bisa pulang ke rumah.

Karena ingin berlama-lama diluar rumah, namja berusia 23 tahun itu memutuskan untuk berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Dan saat berjalan-jalan santai itulah... Changmin melihatnya.

Ia melihat Yunho tengah berduaan dengan seorang yeoja yang tidak ia kenal.

Yunho... mengkhianatinya.

Changmin tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun saat itu ia benar-benar merasa kalau ia marah. Benar-benar marah sampai ia tak sanggup mengeluarkannya dalam kata-kata. Benar-benar marah sampai ia merasa kedua matanya memanas dan ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan dirinya untuk tak menangis.

Namja muda itu menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Ia menatap ke depan, dan ia merasakan hatinya serasa remuk saat ia melihat Yunho tengah mencium pipi yeoja itu. Matanya menatap nanar pemandangan dimana yeoja itu tersenyum dan memukul dada Yunho dengan pelan, dan namja yang saat itu masih berstatus kekasihnya itu tertawa dengan sangat bahagia.

Tawa yang bahkan tak pernah ia lihat.

Changmin tak tahu apa yang membuatnya bisa terus bertahan. Ia juga tak mengerti bagaimana tubuhnya bergerak untuk terus membuntuti kedua insan yang tengah saling memamerkan kemesraan itu. Sepanjang jalan Changmin harus melihat Yunho menggandeng tangan mungil yeoja itu. Berhenti di kedai es krim dan membelikan yeoja itu es krim sambil tertawa bersama. Ia juga harus melihat kalau mereka memasuki toko boneka dan ia berusaha sekuat hati menahan emosinya saat melihat kalau Yunho membeli sebuah boneka teddy bear yang memegang tanda love dengan tulisan 'I Love You Forever' dan memberikannya pada yeoja itu.

Dan Changmin merasa ia sudah tak sanggup lagi saat ia melihat kedua sejoli itu berjalan memasuki toko cincin. Pertahanan hatinya hancur sudah. Namja berkaki panjang itu berlari menjauh dari tempat itu.

Semuanya terasa kabur saat itu. Changmin tak ingat bagaimana ia berakhir di bar, dengan seorang namja asing yang tak ia kenal tengah menggerayangi tubuhnya yang lemas karena meminum alkohol melebihi batas toleransinya.

.

.oOHoMinOo.

.

Cahaya matahari pagi yang memasuki kamar itu membangunkan Changmin dari tidurnya. Ia hampir saja membangunkan Yunho saat ia sadar kalau ia tak berada di kamarnya.

"Shit!"

Changmin memaki keras saat ia melihat ada namja asing yang tak ia kenal terbaring damai di sampingnya, sedangkan dirinya sendiri kini dalam keadaan topless.

Merasakan Changmin sudah sadar, namja di sampingnya itupun perlahan mulai bangun. Changmin menatap horor saat namja itu melihatnya dan tersenyum lembut padanya.

"Hai. Akhirnya kau banguun juga." ucap namja itu sambil berusaha untuk duduk.

Changmin diam tak menjawab.

"Ah, kurasa kau salah paham. Tak terjadi apa-apa tadi malam." lanjut namja itu sambil tersenyum gugup. "Tadi malam aku melihatmu yang akan di perkosa ahjussi tua, dan aku berpura-pura menjadi kekasihmu. Namun setelah itu kau malah pingsan. Karena tak tahu harus kubawa kemana, akhirnya kau kubawa ke tempatku."

Changmin terdiam sejenak mencerna kata-kata namja asing di depannya itu dan akhirnay ia menghembuskan nafas lega-ia benar-benar tak sadar kalau sedari tadi ia menahan nafas.

"Lalu... bajuku?" tanya Changmin saat ia kembali sadar kalau ia tak memakai baju atasan.

"Aku mencucinya. Habis tadi malam kau muntah-muntah dan mengotori bajumu. Jadi aku mencucinya. Kurasa sekarang baju itu sudah kering." Namja asing itu akhirnya bangkit, menghilang di balik sebuah pintu dan kembali dengan membawa bajunya.

Changmin menerimanya tanpa kata, dan langsung memakainya secepat mungkin. Setelah mengucapkan 'gomawo,' Changmin segera melesat pergi dan pulang kerumahnya.

.

"Kau dari mana saja semalam?"

Namja yang lebih tua itu menyambut kedatangan Changmin dengan raut wajah khawatir. Dan itu membuat Changmin kembali marah karena hal yang ia lihat kemarin itu kembali melintas di benaknya.

"Itu bukan urusanmu!" sentaknya kasar.

Namun seperti tak menyerah, Yunho mengejar Changmin ke dapur dan kembali menanyainya. "Tapi apa kau tak tahu kalau aku begitu khawatir? Ponselmu tak bisa kuhubungi Dan saat aku menghubungi semua temanmu, mereka semua tak ada yang tahu kberadaanmu. Tak tahukan kau kalau aku tak tidur semalaman karena mengkhawatirkanmu? Dan bukankah kemarin aku memintamu untuk pulang cepat? Kau kemana saja?"

Semua pertanyaan Yunho benar-benar membuat Changmin sampai pada batasnya. Ia menatap Yunho, dan semua gambaran mengenai Yunho yang mengkhianatinya langsung melintas jelas di benaknya. Membuatnya semakin tak dapat menahan semua emosinya lagi.

"Itu semua urusanku! Dan tak ada hubungannya denganmu, Jung Yunho! Aku muak denganmu. Aku muak dengan semua tingkahmu yang bersikap sok perhatian padaku. Aku muak! Asal kau tahu saja, selama ini sikapku yang begitu keras dan seenaknya adalah karena aku ingin membuatmu kesal padaku dan cepat-cepat memutuskanku! Aku membencimu, dan aku tak pernah sekalipun mencintaimu!" teriak Changmin penuh kekesalan di depan Yunho.

Ia merasakan sedikit perasaan bersalah saat ia melihat sebersit rasa sakit dan sedih yang melintas pada sepasang iris milik kekasihnya itu. Namun sekali lagi, ia terlalu marah untuk peduli dengan itu semua. Ia terlalu marah saat mengingat kalau Yunho telah mengkhianatinya.

"...begitukah?" tanya Yunho lirih dan dengan suara yang tercekat.

"Ya. Aku membencimu dan aku muak dengan hubungan kita! Kau tak tahu betapa aku berusaha keras untuk membuatmu kesal dan akhirnya memutuskanku! Kalau kau masih ingin tahu, semalam aku pergi dengan namja lain. Aku bermalam di tempatnya, dan menghabiska waktu dengan bersenang-senang bersamanya. Apa kau puas?! Kalau kau puas, sekarang biarkan aku tidur. Aku lelah!" lanjutnya sambil berjalan dengan langkah lebar ke dalam kamarnya.

"Changminnie.."

"Terserah padamu lagi! Aku tak peduli! Kalau kau masih tetap ingin bertahan, terserah padamu. Aku tak pedulu. Tapi kalau kau juga sama-sama sudah muak dengan ini semua, kita putus saja, dan jangan menampakkan wajah menyebalkanmu itu lagi di hadapanku!"

BRAKK!

Changmin membanting pintu kamarnya dengan keras dan langsung menghempasan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kepalanya yang berdenyut-denyut sakit membuatnya bisa masuk ke dalam tidur lelapnya dengan cepat.

Tak mempedulikan dengan keadaan Yunho di depan sana.

.

Beberapa jam kemudian Changmin terbangun dengan tenggorokan yang sangat kering.

"Nghh... Yunho... air..." ucapnya dengan suara yang sangat serak.

"..."

Hening.

Changmin yang tak mendapat jawaban apapun, akhirnya langsung berusaha bangkit dan berjalan keluar kamarnya.

Gelap.

Itu yang pertama terlintas dalam benak Changmin saat ia keluar dari kamarnya. Mungkin memang di luar sudah gelap, namun biasanya Yunho selalu menghidupkan lampu saat sudah sore hari.

Dengan langah linglung, Changmin berjalan menuju ke dapur, dan benaknya yang masih belum loading sepenuhnya menanyakan keberadan Yunho, dan semakin bingung saat tak menemukan Yunho di manapun juga.

Menyerah, akhirnya Changmin berhenti di dapur dan langsung membuka kulkas. Namun gerakannya terhenti saat ia menatap memo yang tertempel di depan pintu kulkas kesayangannya.

'Dear, my Changminnie,

Mungkin aku sudah tak berhak memanggilmu seperti itu lagi ya.

Aku minta maaf. Sangat, sangat meminta maaf kalau selama ini aku sudah membuatmu tak nyaman dengan keberadaanku.

Aku sangat meminta maaf karena aku tak menyadari kalau aku sudah membuatmu muak selama ini.

Aku benar-benar meminta maaf karena selama ini sudah membuatmu harus bersusah payah berusaha bersikap menyebalkan di depanku.

Aku benar-benar menyesal karena selama ini membuatmu bersikap begitu karena ingin mengakhiri hubungan kita.

Maafkan aku...

Aku benar-benar menyesal, Changminnie...

Mungkin memang hanya aku yang benar-benar mencintaimu dalam hubungan kita...

Namun aku meminta maaf kalau ini semua membuatmu tak nyaman..

Maafkan aku..

Mungkin aku tak akan bisa kau maafkan, karena sudah membuatmu tersiksa dua tahun ini, tapi aku benar-benar meminta maaf..

Kalau memang kepergianku adalah satu-satunya hal yang bisa membuatmu senang, aku akan mengabulkannya..

Aku pergi Changminnie..dan aku tak akan pernah muncul lagi di hadapanmu..

Maafkan aku..

Dan mungkin ini keegoisanku yan terakhir, aku tadi mencuri pelukan erat dan satu kecupan kecil di bibirmu saat kau tertidur..

Mungkin aku memang membuatmu muak, tapi aku benar-benar berharap kalau kau akan selalu mengingatku sebagai seseorang yang sangat dan akan selalu mencintaimu.

Bahkan meskipun aku tak lagi bersamamu, yakinlah kalau aku akan tetap mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Hanya kau satu-satunya orang yang akan aku cintai.

Salam penuh cinta dan maaf

Jung Yunho'

Tangan Changmin bergetar saat ia meraba kertas itu. Ia bisa melihat kalau kertas itu agak mengeriting di beberapa tempat, dan masih terlihat kalau ada jejak tetesan-tetesan air mata di banyak tempat di kertas itu.

Apa ini? Kenapa begini? Mana mungkin namja itu menangis. Namja itu yang lebih dulu mengkhianatinya. Namja itu yang lebih dulu tak menginginkannya dalam kehidupannya. Bukankah harusnya namja itu senang karena ia tak lagi terikat dengannya?

Changmin menutup mulutnya dengan tangan, dan berusaha untuk menahan air mata yang entah bagaimana sudah mulai terbentuk di sudut matanya. Ia bermaksud membuka kulkas untuk mencari air putih agar ia bisa menenangkan dirinya, namun saat melihat isi kulkas itu, air mata Changmin langsung mengalir tanpa bisa ia bendung lagi.

Disana, di dalam kulkas kesayangannya, ada sebuah kue tart yang bertuliskan 'Happy Birthday Changminnie' -yang bahkan ia sendiri tak mengingat kalau kemarin adalah hari ulang tahunnya-, dengan lilin merah yang Changmin tahu awalnya berbentuk angka, namun tak lagi bisa terbaca karena lilin itu sudah meleleh habis.

Apa... apa namja itu menungguinya dengan kue tart dan lilin yang terus menyala?

Berapa lama namja itu menungguinya sampai lilin itu meleleh habis seperti ini?

Ya tuhan, dan tadi ia berkata kalau ia menghabiskan malam dengan bersenang-senang dengan namja lain.. Ya Tuhan...

"Y-yun... hiks... Yun..."

Changmin menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sementara air mata terus membanjir keluar dari matanya. Dan sedetik kemudian, namja itu cepat-cepat berlari keluar rumah dan berusaha mencari keberadaan Yunho. Namun nihil. Yunho benar-benar sudah tak ada lagi di sekitarnya. Dan air matanya mengalir lebih, dan lebih keras lagi.

.

.oOHoMinOo.

.

Hari ini ia memutuskan kalau ia tak akan bekerja. Ia sudah menelepon bosnya dan bilang kalau ia tengah sakit. Dan dengan suaranya yang terdengar serak karena habis menangis dua kali di pagi yang sama, ia langsung diijinkan oleh bosnya.

Ia memutuskan kalau ini smeua sudah cukup. Sudah cukup ia terus menangisi kepergian Yunho selama satu minggu bukan namja lemah yang akan terus-terusan bersikap cengeng.

Dengan tekad bulat, Changmin mulai memberesi setiap sudut rumahnya. Ia berniat untuk memindah perabotannya agar ia merasa semuanya terasa baru. Ia akan membuang smeua benda yang mengingatkannya pada Jung Yunho. Ia akan berusaha melupakan Yunho, meskipun ia tak yakin ia bisa... karena bagaimanapun, akhirnya ia sadar dan mengakui kalau ia mencintai namja itu. Mencintai seorang Jung Yunho yang sudah pergi dari hidupnya.

Namun tekad itu langsung terhempas jauh saat ia membuka laci meja kerja di ruang kerja mereka berdua.

Disana, di laci besar milik Yunho, Changmin menemukan sebuah boneka teddy bear yang sama dengan yang ia lihat waktu ia memergoki Yunho tengah berkencan dengan yeoja yang tak ia kenal. Changmin meraih boneka itu dan menemukan adanya sebuah kartu yang terselip di belakang bentuk love itu.

'Happy Birthday saranghanun Changminnie~

Like what this teddy say, I Love You Forever, and I will do too

I will always love you...forever and ever'

.

..

...Ya Tuhan... jadi boneka ini... untukku..?

.

Melihat ke sebelah boneka ini, Changmin kembali merasa tubuhnya gemetar saat ia melihat sebuah kotak berbentuk hati dan berwarna merah hati, dengan sebuah kartu yang kembali terlampir di bawah kotak ini.

Dengan tangan gemetar, Changmin meraih kartu itu.

'Dua tahun kita bersama, kurasa ini tak akan terkesan terburu-buru untuk kita,

nungkin terdengar sangat gombal karena kita bahkan sudah tinggal bersama dan hidup seperti sepasang suami-istri,

namun aku benar-benar merasa ingin memilikimu secara sah, hingga tak akan ada orang yang bisa merebutmu dari sisiku, mengklain dirimu sebagai milik mereka,

karena itu, maukah kau menikah denganku, Shim Changmin?

maukah kau menerimaku dan mengganti namamu menjadi Jung Changmin?

maukah kau menghabiskan sisa hidupmu dengan selalu bersamaku?

Ya Tuhan, saat ini aku benar-benar gemetaran. Kuharap kau menemukan ini saat kau bangun tidur, dan aku menunggu jawabanmu dengan hati yang khawatir, cemas dan penuh harap.

I Love You, dan aku menantikan jawabanmu,

Sign, Jung Yunho'

Kartu itu terjatuh ke lantai, bersamaan dengan merosotnya tubuh Changmin ke lantai. Dadanya terasa sesak, dan nafasnya tercekat di tenggorokan. Nafasya putus-putus karena kini suara isakan mulai terdengar dari bibirnya yang terus bergetar. Bergetar dan terus menggumamkan sebuah nama. Yunho.

"...hiks... Yunho... Yunho.. hiks... Ya Tuhan... ukh... Ya Tuhan... apa-hiks... apa yang sudah... hiks... kulakukan... hiks... Yunho... Yunho... hi-hiks... huwaaaaaa...!"

.

.oOHoMinOo.

.

Dan disinal ia sekarang. Di depan sebuah rumah besar dengan nama Jung tertera besar di depannya. Akhirnya, akhirnya ia mngetahui dimana Yunho berada. Setelah bingung mencari keberadaan Yunho, akhirnya Changmin melacaknya melalui tempat kerja lamanya. Namun sayang sekali karena ternyata Yunho sudah keluar dari tempat itu, dan Changmin kembali kehilangan jejaknya.

Namun untunglah ia ingat dengan Jaejoong dan Heechul. Sahabat dekat Yunho yang-setelah Changmin menceritakan semuanya, tak lupa dengan airmata yang mengalir-akhirnya memberi tahu keberadaan Yunho.

Namja itu kembali ke Gwangju, kembali ke tempat asalnya, karena ia memang harus mengambil alih perusahaan besar milik keluarganya yang hampir menguasai seluruh kota Gwangju itu. Dan Changmin menangis lebih keras di hadapan Jaejoong dan Heechul karena sebenarnya sudah satu tahun Yunho berhenti bekeja disana, karena harus mengurusi semua tetek bengek mengenai pengalih-tanganan tampuk kepemimpinan di perusahaan itu. Satu tahun Yunho bolka-balik anatar Seoul-Gwangju karena namja itu bertekad kalau ia akan melamar Changmin setelah semua urusan ini beres, dan ia memiliki hal yang bisa dibanggakan di depan kekasihnya itu.

Ya Tuhan... kebaikan apa yang sudah ia lakukan di kehidupan yang lampau, sampai ia mendapatkan orang seperti Yunho?

Dan sekarang ini, Changmin berdiri dengan gugup di depan pintu besar milik keluarga Jung. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, Changmin mengangkat tangan untuk mulai memencet bel rumah pintu itu.

"Ya? Anda mencari siapa?"

Sapaan manis dari seraut wajah yang tak asing menyambut kedatangan Changmin. Tubuh Changmin membeku saat ia mengenali kalau yeoja itu adalah yeoja yang sama, dengan yeoja yang ia lihat waktu itu.

"Jiji, siapa yang datang?"

Suara yang sayup-sayup masuk ke telinga Changmin itu membuat tubuh Changmin tersentak penuh antisipasi. Ya Tuhan... sudah berapa lama ia tak lagi mendengar suara itu..

"Oppa! Jangan memanggilku seperti itu! Adikmu yang manis ini punya nama Jung Jihye! Bukan Jiji, ok?Dan aku tak tahu siapa, tapi ada namja tinggi yang tampan bertamu, kurasa aku tertarik padanya, oppa~"

Changmin yang sudah akan berucap sesuatu merasa tenggorokannya tercekat. Ia menundukkan kepalanya saat otaknya mencerna semuanya.

Oppa?

Adik?

Jung Jihye?

Oh my god...

"...Changmin?"

Kepala Changmin tersentak ke atas dengan cepat. Ya Tuhan... betapa ia benar-benar merindukan suara itu menyebutkan namanya lagi... betapa ia merindukan wajah tampan itu lagi...

"Kau mengenalnya, Oppa? Ukh, kalau kau mengenalnya, bisakah kau mengenalkan aku-Omo! Kenapa ia menangis begitu Oppa?!" seru Jihye panik saat melihat air mata mengalir di pipi namja yang tak ia kenal itu.

.

.oOHoMinOo.

.

"Kau sudah tenang?"

Changmin yang akhirnya sudah bisa mengendalikan dirinya menerim sodoran susu hangat dari Yunho.

"Mianhae," ucap Changmin saat ia sudah menyesap susu hangat itu.

"Gwaenchana."

Keheningan yang terasa canggung itu memenuhi kamar Yunho-tempat mereka berada saat ini.

"Uh.. umm... yeoja itu... siapa?" tanya Changmin pada akhirnya.

"Eh? Yeoja centil dan manja itu? Dia adikku. Jung Jihye."

Changmin tak tahu ia harus merasa lega atau merasa marah pada kebodohan dirinya sendiri.

"Yunho, maukah... maukah kau mendengarkanku?" tanya Changmin ragu setelah keheningan kembali menyeruak di antara mereka.

"Bicaralah." sahut Yunho singkat.

Changmin memegang cangkir susunya dengan erat. Ia tak pernah menceritakan ini pada siapapun. Ia tak pernah membuka dirinya seperti yang akan ia lakukan pada Yunho sekarang ini. Dan itu membuatnya sedikit gugup.

"Aku... kedua orang tuaku bercerai saat aku berusia 10tahun." mulai Changmin dengan suara yang cukup bergetar. Mungkin memang ia sudah dewasa, mungkin memang itu sudah lama berlalu, namun rasa sakit yang ia rasakan, tetap saja sama. Rasa sakit seorang anak yang tak diinginkan oleh kedua orang tuanya. "Mereka berdua... saling berselingkuh, dan akhirnya memutuskan untuk bercerai. Tapi apa kau tahu Yun, mereka sama sekali tak menginginkan keberadaanku. Mereka... mereka bertengkar mengenai siapa yang akan mengasuhku. Saling melemparkan kata-kata kasar karena mereka sama-sama tak ingin membawa anak ke kehidupan baru meereka setelah perceraian itu. Dan aku berakhir dengan diasuh oleh halmoniku."

Changmin menarik nafas panjang.

"Semenjak itu, aku menutup hatiku. Sudah cukup satu kali saja aku ditinggalkan dan tak diinginkan oleh orang yang kusayangi. Sakit. Rasanya sangat sakit, dan aku tak ingin mengulanginya lagi. Karena itu, aku benar-benar mengunci rapat pintu hatiku."

Changmin tersenyum lemah sambil menatap ke arah Yunho.

"Bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan berdasarkan sikap main-main. Aku tak pernah merasakan lagi yang namanya emosi. Aku mungkin agak temperamental, namun aku tak pernah merasakan apa-apa terhadap semua orang. Aku tak pernah menyukai mereka, dan aku juga tak pernah merasa membenci mereka. Semuanya terasa sangat datar dan damai, sampai kau datang."

Changmin menunduk karena tak sanggup menatap Yunho lebih lama. Ia menatap cangkirnya sambil merenung.

"Aku... tak tahu apa yang lain padamu. Tapi kau memang berbeda. Sikapmu baik, sangat penyabar, namun yang membuatku merasa kalau aku muak padamu adalah karena caramu menatapku. Caramu menatapku, hampir sama dengan cara halmoniku menatapku-yang seolah berkata kalau kau menyayangiku tanpa syarat-, namun lebih kuat dan intens. Dan aku takut. Aku tahu kalau aku takut padamu Yun."

Ya, ia menyadari kalau semua perasaan muak dan benci yang ia rasakan itu sebenarnya tidak nyata. Ia hanya berusaha menutupi semuanya dengan perasaan benci itu.

"Aku takut kalau nantinya aku akan membuka hati padamu. Aku takut merasakan rasa sakit itu lagi Yun. Aku tak mau lagi ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi. Dan semuanya meledak hari itu. Hari saat kau memintaku untuk pulang cepat, aku melihatmu berjalan berdua dengan seorang yeoja. Aku tak mengenalnya, dan pikiran buruk langsung menguasai benakku. Apalagi saat kau mengecup pipinya, menggandeng tangannya, membelikanya es krim, dan boneka... dan aku hampir menangis saat melihat kalian berdua masuk ke toko cincin. Aku merasakan rasa sakit itu lagi..."

Changmin memberanikan diri menatap Yunho.

"Dan baru saat ini aku sadar kalau yeoja itu adalah adikmu. Kurasa aku benar-benar bodoh." tawa kecil yang sarat akan rasa pahit itu meluncur dari bibir penuh Changmin.

"Aku... aku minta maaf sudah mengeluarkan kata-kata kasar itu padamu. Dan aku... aku tak melakukan apa-apa malam itu. A-aku memang mabuk, tapi aku tak melakukan apa-apa... bahkan meskipun saat itu aku berpikir kalau aku muak dan membencimu... aku tak pernah bisa untuk benar-benar berselingkuh darimu... a-aku..hiks..."

Changmin tak lagi sanggup melanjutka kata-katanya saat isak tangis mulai mengalir keluar. Dan isak tangis itu berganti menjadi tangisan keras saat ia merasakan sepasang tangan kekar itu memeluk tubuhnya yang bergetar.

"..Yun... Yunho... hiks... kumohon... hiks.. kumohon.. maafkan aku... hiks...Y un..." mohon Changmin diantara isak tangisnya itu. Ia tak peduli lagi...yang ia tahu, ia tak bisa hidup tanpa Yunho disisinya. Ia tak bisa...

"Sshhh... uljimma... Changmin... uljimma.."

Tangis Changmin semakin keras saat ia mendengar Yunho memanggilnya seperti itu. Ia terlalu terbiasa mendengar suara itu memanggilnya 'Changminnie' dan bukannya 'Changmin' saja.

Tubuh Changmin langsung menegang saat ia merasakan sebuah kecupan pada puncak kepalanya.

"Changminnie.."

Tangan Yunho yang tadi memeluknya,kini berpindah. Kedua telapak tangan besar itu menangkup kedua pipinya, membuatnya menatap langsung menatap pada sepasang mata berbentuk almond itu.

"Katakan...katakan padaku apa yang kau rasakan.." ucap Yunho sambil ibu jarinya menghapus air mata yang terkadang masih menetes di pipi Changmin.

"Aku... aku mencintaimu... Saat kau pergi dari rumah, semuanya berantakan... Setiap hari.. hiks.. setiap hari aku terbangun mendengar suaramu, tapi saat aku mencarimu, kau tak ada... Aku.. aku memanggil namamu terus dan terus setiap malam.. berharap kau bisa mucul kembali di hadapanku... Aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu... dan aku tak lagi sanggup hidup tanpamu, Yun.." Changmin menarik nafas panjang sebelum ia kembali melanjutkan.

"Maaf... maaf karena aku menyakitimu selama ini... maaf karena kau terus berusaha menutup diriku.. maaf karena aku tak berani mempercayaimu... maafkan aku... tapi kumohon... kembalila-hmmfff"

Changmin tak sanggup meneruskan ucapannya lagi karena tiba-tiba saja bibir Yunho sudah berada di atas bibirnya. Melumatnya dengan ketidaksabaran yang selama ini tak pernah ditunjukkannya.

Changmin sendiri merespon ciuman itu dengan sama antusiasnya. Ia sangat merindukan namja didepannya ini. Merindukan keberadaannya, merindukan sosoknya, merindukan suaranya, merindukan sentuhannya... hanya satu minggu ia tak bertemu, namun ia sudah segila ini merindukan segala hal yang ada dalam diri seorang Jung Yunho.

"Cukup." ucap Yunho saat akhirnya bibir mereka terlepas. "Aku tahu kau ini orang seperti apa, Changminnie. Saat itupun aku minta maaf karena tak berpikir dengan kepala dingin. Aku sangat tahu kalau kau tak mungkin benar-benar melakukan hal yang diluar batas selama kau masih menjadi kekasihku. Hanya saja, saat itu aku benar-benar lelah dan tak bisa mengendalikan diri juga. Maafkan aku juga ya."

Air mata Changmin kembali mengalir saat mendengar ucapan Yunho, dan ia langsung memeluk namja yang lebih tua dua tahun itu dengan erat.

"So, we're Ok now?"

"Dengan satu syarat." ucap Yunho.

"Apapun itu." sahut Changmin dengan cepat.

Yunho tertawa kecil, dan Ya Tuhan, Changmin benar-benar merindukan tawa kecil itu dan wajah Yunho yang akan terlihat berkali-kali lipat lebih tampan saat ada senyuman tersemat di wajah tampannya itu.

"Aku ingin kau mulai membuka dirimu padaku. Setiap kali kau merasakan atau memikirkan sesuatu,katakan langsung padaku. Biarkan kita menyelesaikan semua masalah yang ada bersama-sama, Ok?"

"Ne!" Changmin mengangguk dengan cepat dan langsung menerjang Yunho dengan pelukannya.

"Saranghae, Yunho."

"Na do Saranghae, Changminnie."

.

.oOHoMinOo.

.

"Hey, lalu, kau sudah melihat cincin itu? Apa jawabanmu?"

"..."

"Changminnie?"

"...apa kau ini bodoh, Jung Yunho? Cepat ganti namaku menjadi Jung Changmin!"

"Hahahahaha..!"

.

.

.

~END~

Annyeeongg~!

Ini Fic yang udah lama kependam di lepi, tapi masih dalam bentuk plot.

Sebenernya mau bikin oneshoot bukan dengan cerita yang ini, tapi pazt author kebangun jam 12 malem, dan buka lepi, ketemu fic ini, da jadilah author seleseiin dulu..

Ini jam setengah lima pagi, dan author ngantuk banget..

jadi mianhae kalo banyak typo-yang author yakin pasti buanyak banget-, nggak sempet ngecek ulang.. mianhae.. #bow.

Oh, ya, dan FF ini tadinya kan judulnya 'Fallin love again', tapi author rombak jadi judulnya 'HoMinLand' karena memang mau author bikin jadi FF yang berkonsep kumpulan FF HoMin yang oneshot, gitu..

Maksudnya ya, biar FFnya nggak nyebar kesana kemari gitu..

hehehehe..

Oke, dan terakhir, author menagih review buat yang udah baca dan memang menghargai author~