CLINGG–

Terdengar suara bel yang menandakan ada pengunjung yang datang, Seonho segera merapikan rambutnya dan tersenyum ramah bersiap menyambut pengunjung itu.

"Selamat datang di–"

Ucapannya seketika terhenti ketika melihat pengunjung yang baru saja masuk, orang itu menatap tepat ke arahnya yang berada di meja kasir.

'G- Guanlin?!'

.

.

.

Critical Beauty

Chapter 2

.

.

Produce 101/Wanna One Fanfiction

Romance, Humor, High School!AU, Yaoi

Main!Byeongari couple

(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)

Rating: T (M for future chapter)

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.

Lagi-lagi hanya terdengar suara jarum jam di dalam bangunan berukuran sedang yang dipenuhi buku itu. Dua orang pria yang ada disana sama-sama mematung di posisi awal mereka dengan mata yang saling menatap.

'Pure, innocent, pretty'

Kata-kata itu terus berputar memenuhi seluruh jaringan-jaringan di otak Guanlin. Seluruh atensinya mengarah kepada pemuda manis yang saat itu berdiri di meja kasir. Dia segera memasukkan gambaran sosok sempurna itu ke dalam slot memori otaknya.

Sementara Seonho yang baru pertama kali ditatap dengan intens oleh Guanlin yang tidak lain adalah orang yang selama ini dia suka merasa jantungnya berhenti memompa darah. Tubuhnya gemetar, suhu panasnya meningkat, dan dia yakin wajahnya sudah merah padam seperti sosis sapi siap makan.

"Se– selamat datang d–di Paperplanes."

Sungguh Seonho harus meneguk ludahnya berkali-kali hanya untuk mengucapkan satu kalimat sederhana itu. Dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang seakan-akan memberontak ingin keluar dari tempatnya.

Guanlin terkesiap mendengar suara Seonho, dia segera beranjak masuk ke dalam toko setelah sadar bahwa sedari tadi dia sudah berdiri menghalangi pintu.

Sebenarnya Guanlin juga merasa gugup sama seperti Seonho, namun ia menyembunyikan rasa gugup itu dengan ekspresi stoic andalannya. Man, seorang laki-laki sejati tidak boleh terlihat salah tingkah di depan orang yang dia sukai kan?

Tangan Seonho meremat-remat half apron yang ia kenakan ketika melihat Guanlin yang saat ini sudah ada tepat di depannya. "A– ada yang bisa kubantu?"

"Seminggu yang lalu aku memesan novel yang berjudul Inferno karya Dan Brown, Minki hyung bilang novelnya datang hari ini."

Suara berat itu lagi-lagi memasuki gendang telinga Seonho. Dirinya seakan-akan terhipnotis oleh suara Guanlin yang terdengar sangat dalam, sehingga membuatnya kehilangan konsentrasi untuk kesekian kalinya.

Merasa hanya ditatap, Guanlin mengibaskan telapak tangannya ke depan wajah Seonho. "Hey, kau masih disana?"

Mata Seonho mengerjap, dia baru menyadari jika sedari tadi dia hanya memperhatikan Guanlin tanpa menjawab ucapannya.

'Aigoo... Kendalikan dirimu bodoh.' Seonho merutuk dalam hati.

"M– maaf aku kehilangan konsentrasi. Um, buku apa tadi?"

Guanlin tidak bisa menahan senyumnya melihat pria menggemaskan yang berdiri di depannya ini.

"Inferno karya Dan Brown."

Seonho segera mengecek buku yang diminta Guanlin lewat komputer di sampingnya. "Ah, buku itu baru saja datang, jadi belum diletakkan di rak display. Tapi aku bisa mengambilnya untukmu"

"Syukurlah, aku sangat menunggu buku itu." Guanlin tersenyum lagi.

"Kalau begitu tolong tunggu sebentar, aku akan mengambilnya di belakang." Seonho tersenyum kemudian berlari menuju ruangan lain yang ada di bagian belakang.

Setelah kepergian Seonho, Guanlin menghela napas seraya memegang dada kirinya. Sungguh, ini pertama kalinya jantung Guanlin berdetak begitu kencang saat melihat orang lain. Wajah innocent Seonho yang menyunggingkan senyum terekam jelas di dalam kepalanya, ia ingin melihat senyuman manis pria itu lagi.

Seketika sekelebat memori melintas di kepala Guanlin, ia merasa pernah melihat pemuda itu di suatu tempat, namun ia tidak ingat kapan dan dimana.

"Kurasa aku harus bertanya siapa namanya." Gumamnya.

Tak lama kemudian Seonho kembali ke meja kasir dengan sebuah buku di tangannya. "Maaf membuatmu menunggu."

"Tak apa. Maaf, apa kau karyawan baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu bekerja sebelumnya."

"Aku adik dari pemilik toko ini, kebetulan hari ini hyung sedang ada urusan, jadi aku yang menggantikan." Jawab Seonho seraya memproses buku yang Guanlin beli.

Guanlin memperhatikan Seonho yang sedang bekerja di depannya. "Jadi kau adik Minki hyung?"

Seonho mengangguk-anggukkan kepalanya. "Semuanya 8000 won."

Guanlin menyodorkan card miliknya di atas meja dan langsung diterima oleh Seonho. Setelah semuanya selesai Seonho kembali menyerahkan card dan kantong plastik berisi buku.

"Terima–"

"Aku boleh tau siapa namamu?"

Kata-kata Guanlin sukses membuat Seonho kembali terkejut. Entah sudah berapa kali hari ini dia sport jantung karena kejadian-kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

'D– dia bertanya siapa namaku?'

"N– nama?" Ia menjawab dengan suara yang bergetar.

Pria berwajah tampan itu mengangguk. "Nama"

"S– Seonho"

"Terimakasih Seonho-ssi." Guanlin tersenyum kemudian berjalan keluar dari toko dengan membawa kantong berisi buku yang dibelinya.

Setelah memastikan Guanlin sudah benar-benar pergi, Seonho menjatuhkan tubuhnya yang terasa seperti jelly. Dia meraba-raba pipinya yang kembali merona.

"Guanlin... Dia bertanya siapa namaku, lalu tersenyum, padaku?!"

Seperti ada banyak sekali kembang api yang meledak di sekitar tubuh Seonho. Ia memekik senang seraya memegang dada kirinya. Tubuhnya benar-benar terasa ringan karena perasaan senangnya itu.

Tidak pernah sekalipun ia membayangkan bisa berbicara secara langsung dengan Guanlin, alasannya karena Seonho sadar bahwa dia adalah seorang nerdy dengan penampilan yang tidak menarik. Jika teman sekelasnya saja malas untuk berbicara dengannya, apalagi dengan orang seperti Guanlin.

Namun kejadian hari ini mampu mematahkan pemikirannya itu. Seorang Lai Guanlin, sosok yang digilai oleh siswa-siswa di sekolahnya, akhinya bicara dengannya.

Seonho segera berdiri setelah kekuatan kakinya kembali, kemudian mengambil ponsel yang berada di sakunya dan menghubungi seseorang.

"Halo? Seongwoo-ya! Temui aku di kafe milik Jonghyun hyung besok siang!"

.

.

.

~Buttermints~

.

.

.

Paman Park terheran-heran dengan tingkah tuan mudanya yang senyum-senyum sendiri seraya memandang keluar jendela.

Biasanya tuan mudanya itu selalu menghabiskan perjalanannya dengan membaca buku, jarang sekali ia berbicara ataupun melakukan hal lain meskipun ada orang lain selain supir di mobil yang sedang ia tumpangi.

Namun kali ini berbeda, tuan mudanya itu sedang melamun. Entah apa yang telah terjadi selama di toko buku tadi, yang jelas ia jadi seperti itu setelah keluar dari toko buku.

Pria paruh baya itu memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah dengan gaya minimalis dengan halaman yang tidak terlalu luas, namun tidak terlalu sempit.

"Tuan Guanlin, kita sudah sampai."

Pria tampan yang tengah asik melamun terkejut dan menoleh ke arah suara yang menginterupsinya.

"Kita sudah sampai?"

Paman Kim mengangguk.

"Apakah anda ingin saya bukakan pintu? Saya lihat anda sedikit tidak konsentrasi tuan"

Guanlin menggeleng cepat seraya memakai tas dan membawa bukunya. "Aku sudah pernah bilang tidak perlu membukakan pintu untukku paman."

"Baiklah, saya mengerti tuan." Paman Kim tersenyum seraya memperhatikan Guanlin yang turun dari mobil itu.

"Terimakasih karena sudah menjemputku hari ini, hati-hati di jalan Paman Kim!"

Pria paruh baya itu tersenyum lalu mengangguk. Kemudian mobil hitam itu kembali meluncur meninggalkan halaman rumah Guanlin.

Setelah mobil itu menghilang dari pandangan matanya, Guanlin melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah bergaya minimalis itu.

.

.

.

~Buttermints~

.

.

.

Sepi menyambut Guanlin ketika dirinya memasuki rumah. Hal itu sudah biasa dirasakan olehnya, maklum saja, Guanlin hanya tinggal berdua dengan sepupunya. Kedua orangtua Guanlin tinggal di Cina, sementara dirinya memutuskan untuk pindah ke Korea. Alasannya sederhana saja, dia ingin hidup normal seperti anak seusianya tanpa perlu pelayanan yang berlebihan.

Keputusan Guanlin untuk pindah ke Korea pada usia 14 tahun tentunya tidak langsung disetujui oleh orangtuanya, terutama sang ibu, namun dengan bantuan sepupu yang tinggal dengannya saat ini, ia akhirnya bisa pindah ke Korea.

"Hyung aku pulang." Ucapnya seraya melepas blazer sekolahnya dan duduk di sofa ruang keluarga.

Sesosok pria bertubuh tinggi dan bermata sipit muncul dari arah dapur dengan membawa dua gelas jus di tangannya. Wajahnya tidak kalah tampan dengan Guanlin. Ya, dia adalah sepupu yang tinggal dengan Guanlin di rumah ini.

"Kau pulang sedikit terlambat hari ini, apa ada kegiatan tambahan di sekolah?"

"Aku mampir sebentar ke toko buku." Jawab Guanlin seraya menoleh ke arah hyungnya. "Apa jus itu untukku?"

Pria sipit yang baru saja duduk di sebelah Guanlin itu tertawa, kemudian menyodorkan segelas jus padanya.

"Minumlah"

"Thankyou." Guanlin menerima gelas itu kemudian segera meminum isinya. Cuaca hari ini sangat panas, ia butuh sesuatu untuk mendinginkan tubuhnya.

"Woah, pelan-pelan." Pria itu kembali tertawa.

Gelas yang awalnya berisi cairan berwarna oranye itu sekarang sudah kosong. Guanlin mendesah lega karena tubuhnya menjadi sedikit lebih segar setelah meminum jus dingin buatan hyungnya. Ia menyandarkan punggungnya seraya melihat ke arah hyungnya yang tengah menonton televisi.

"Minhyun hyung"

Pria yang dipanggil Minhyun itu menoleh. "Hum?"

"Apa yang kau rasakan ketika pertama kali kau bertemu dengan kekasihmu?"

Seketika Minhyun menghentikan kegiatan makan chipsnya. Ia memandang Guanlin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau sedang jatuh cinta?"

Pertanyaan Minhyun sukses membuat Guanlin kembali diam dan berpikir. 'Apa aku jatuh cinta?' Dia bertanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya dia tidak yakin jika perasaan yang baru saja muncul itu disebut dengan yang namanya 'jatuh cinta'. Lagipula dia baru sekali bertemu dengan pria manis itu. Tapi, bagaimana dengan love at first sight?

Guanlin mulai sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Minhyun.

Merasa diabaikan, Minhyun menjentikkan jari di depan wajah adik sepupunya itu.

"Minhyun to Guanlin, kau masih disana?"

Guanlin mengerjapkan matanya dan kembali menghadap hyungnya.

"Entahlah, aku tidak yakin. Maka dari itu aku bertanya padamu, kau kan lebih berpengalaman. Meskipun sampai sekarang kau tidak memberitahukan siapa kekasihmu."

Minhyun tertawa mendengar jawaban Guanlin yang menurutnya menggemaskan.

"Hahahaha... Ya tuhan, kau sungguh membuatku terhibur Guanlin"

Guanlin hanya memperhatikan Minhyun seraya memperbaiki posisi duduknya. "Jawab saja hyung."

"Baiklah.. Baiklah.. Pertama kali aku bertemu dengan kekasihku, seluruh atensiku terarah padanya. Jantungku mulai berdetak dengan irama yang tidak normal dan pandanganku tidak bisa lepas darinya." Jawab Minhyun seraya menghapus air mata yang menggenang di ujung matanya akibat tertawa tadi.

"Apakah seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan satu kali pertemuan dan bertatapan mata?"

Pria bermata sipit itu kembali mengembangkan senyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan Guanlin.

"Siapa orang beruntung itu Guanlin, katakan padaku"

Guanlin kembali menatap Minhyun. "Jawab dulu pertanyaanku."

"Baiklah tuan muda Guanlin." Minhyun menyamankan posisi duduknya. "Jika sebelumnya kau tidak percaya dengan love at first sight, sekarang kau harus bisa mempercayainya. Karena apa yang kau alami sekarang adalah tanda-tanda bahwa kau sedang jatuh cinta."

"Darimana hyung tau?" Guanlin berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya dengan kembali memunculkan ekspresi stoic di wajahnya.

"Aku bisa melihatnya dari wajahmu Guanlin, nada bicaramu, juga tatapan matamu." Minhyun kembali tersenyum.

"Kau sedang jatuh cinta kepada seseorang"

.

.

.

TBC

.

.

.

Nggak nyangka respon dari chapter pertama kemarin banyak banget, Hueee~ aku sampai terharu liatnya :". Terimakasih buat yang udah review, follow, dan favorite FF ini, kehadiran kalian semua bikin aku semangat buat update chapter baru lagi.
Semoga chapter ini bisa memuaskan kalian seperti chapter sebelumnya ya..

Yang minta buat munculin minhyun, udah aku munculin ya di chapter ini. Kalau kepingin tau siapa pacarnya Minhyun stay aja di ff ini, hehe.
Atau barangkali udah ada yang tau? :D
Yang belum author kabulin permintaannya jangan khawatir, di chapter-chapter berikutnya akan muncul beberapa tokoh-tokoh baru.

Akhir kata, aku tunggu review dan masukan kalian yaa~

Love

~Buttermints~