Aku memandangi kalender yang terletak di dekat pintu. Tinggal dua hari lagi.

Dan dalam dua hari kemarin—entah kenapa aku sudah merasa dekat dengannya. Begitu saja.

Ini adalah pertama kalinya aku menerima pemberian dari seseorang, semenjak beberapa bulan belakangan ini. Tak banyak yang mengenalku secara dekat—rekan kerjaku di kafe paling hanya mengobrol hal-hal yang ringan saja, tanpa membicarakan topik-topik yang mendalam mengenai diri masing-masing.

Setelah sekian lama ini—aku merasa diperhatikan. Ada secercah rasa hangat di hatiku, yang perlahan mulai muncul.

Aku menjatuhkan diriku ke sofa, dan bersandar di sandaran empuk itu. Ketika aku meletakkan tanganku ke dahi, ternyata wajahku basah.

'TES.'

Saat itulah aku menyadari kalau—aku tengah menangis.


Revolver Terakhir

Genre: Crime/Romance

Rate: T

.

Vocaloid © Yamaha Corp.& Crypton Future Media

Warning: Crime theme. Kutipan lirik diambil dari lagu Gumi – Saigo no Revolver, © mothy


.

Pagi itu berlalu seperti biasa. Aku membuat okonomiyaki dengan taburan daun bawang sebagai sarapan, dan memakannya dengan perlahan. Setelah menghabiskan jus jerukku, aku bergegas ke ruang depan.

Semalam radio mengumumkan, kalau di kotaku akan diadakan festival Natal malam lusa. Sepertinya menarik.

Aku menjatuhkan diri di sofa, dan menatap ke kalender sekali lagi. Tinggal satu hari. Besok adalah batas waktunya.

Aku menghela nafas.

Mungkin, jika aku tak bertemu dengannya di toko buku seperti itu, aku tak akan menjadi bimbang seperti ini. Tapi, lagipula..

Aku mengambil bantal berbentuk tomat hijau yang lucu di sebelahku, dan menenggelamkan wajahku disana.

Sebenarnya, aku sangat membenci misi ini..

Tapi apa boleh buat. Ini jalan yang sudah terlanjur kuambil, dan tak ada lagi waktu untuk mundur.

Setidaknya, untuk saat ini.

'Ting tong.'

Suara bel dari pintu mengagetkanku dari lamunanku. Aku segera bangkit, dan membukanya.

Ternyata Jun Akanishi.

"Uhm, selamat pagi Gumi-san. Ini komik yang kemarin ingin kau beli, kau bisa meminjamnya dariku," katanya seraya menyerahkan komik di tangannya padaku. Aku terdiam sesaat.

"Hm? Wah, kau kan baru membelinya.." kataku, merasa sedikit tak enak.

Ia mengibaskan tangannya santai. "Tenang saja, aku sudah selesai membacanya kok," katanya meyakinkanku.

Setelah terdiam selama beberapa menit, akhirnya aku mengambil komik itu. Ia kelihatan senang.

"Terima kasih, Akanishi-san," kataku sembari tersenyum. Ia membalas senyumku sambil tertawa kecil. Sejurus kemudian, ia terdiam.

"Uhm, Gumi-san.." katanya sedikit ragu.

"Apa?" tanyaku, menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Uhm, apakah kau datang ke festival besok?" tanyanya sambil tersenyum tipis. Aku terdiam sejenak, sebelum kemudian mengangguk.

"Ya. Akanishi-san datang juga?" tanyaku. Ia mengangguk dengan sedikit antusias.

"Kalau begitu, kita bareng ya perginya? Bagaimana?" tawarnya ramah. Tanpa sadar, aku langsung mengangguk pada ajakannya itu.

"Oke. Kutunggu kau jam delapan malam besok, dilantai bawah ya!"


Aku mengambil jaket dengan hoodie-ku yang berwarna putih dengan list hitam di beberapa bagiannya, dan mengenakannya. Sebagai bawahan, aku mengenakan celana jeans panjang berwarna biru tua. Setelah merapikan rambutku di cermin, aku segera bergegas keluar—ketika kemudian aku menyadari akan sesuatu yang tertinggal.

Revolver itu masih terdiam di atas meja, tersimpan rapi di dalam kotaknya.

Aku menghentikan langkahku.

'Sanggupkah?'

Aku menghela nafas panjang, dan akhirnya membuka kotak itu—dan mengambil revolver dari dalamnya. Senjata dari logam itu terasa dingin.

Sedingin hatiku saat ini.

Setelah menghela nafas pendek beberapa kali, aku pun menyimpan revolver itu di dalam saku jaketku.

.

.

Benda itu terasa dingin disana.


.

"Mau beli dango disana, Gumi-san?" tawar Jun Akanishi ketika kami sampai di tempat festival itu. Aku mengangguk—karena saat ini aku juga merasa lumayan lapar.

Kami pun bergegas menghampiri stan dango itu. Ia memesan dua tusuk, sementara aku satu saja.

"Terima kasih."

Dan kami pun segera mencari tempat duduk untuk menghabiskan dango itu. Akhirnya aku menemukan sebuah kursi taman kosong di bawah pohon sakura, dan mengajak Jun Akanishi kesana.

Kami menghabiskan dango itu dalam hening. Jun Akanishi menghabiskan dango-nya lebih dulu, dan ia menatap ke langit sembari menungguku menghabiskan dango-ku.

"Ada Polaris disana, Gumi-san," gumamnya pelan, sembari menunjuk ke langit. Aku menengadah, berusaha mengikuti arah telunjuknya.

"Hm? Bintang yang kelihatan lebih terang dari yang lain, yang di sebelah sana itu?" tanyaku tak yakin. Ia mengangguk.

"Bintang itu digunakan sebagai penunjuk arah, Gumi-san. Biasanya digunakan oleh para pengembara yang tersesat," jelasnya sembari memainkan stik dango-nya. Aku diam mendengarkan, sebelum kemudian mengangguk.

'Aku telah tersesat selama ini, Akanishi-san—dan kau muncul begitu saja, seperti cahaya mentari yang sinarnya mencairkan salju..'

Aku terdiam, sebelum kemudian jariku merangkak, menggenggam benda logam yang terdapat di dalam saku jaketku.

Aku menghela nafas pendek, dan membuang stik dango di tangan kananku.

"Ayo kita lihat-lihat stan yang lain, Akinishi-san," ajakku, sembari bangkit dari kursi taman itu. Ia tersenyum riang.

"Ayo."


Under the sakura tree, "evil" I met you
Who is on the side of "justice"
Even so, I fell for you


.

Kami telah berjalan-jalan selama hampir satu jam. Jun Akinishi membeli dua buah doujinshi shounen, sementara aku membeli pita rambut baru serta satu boneka beruang.

"Hmm, festival yang menyenangkan ya," gumamnya sembari menyeruput minuman kaleng di tangannya. Aku tersenyum.

"Ya. Mungkin tahun depan akan ada lagi festival seperti ini saat Natal," balasku sembari mengaitkan kantong tempat menyimpan boneka beruangku.

"Kau akan datang lagi kah, tahun depan?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.

Aku terdiam.

"Hmm..sepertinya aku tidak bisa, Akinishi-san," desahku pelan. Mataku terasa menghangat.

"Oh..begitu ya," balasnya ringan. Aku tersenyum tipis.

"Akinishi-san, kita cari tempat duduk yuk," ajakku. Aku menunjuk ke arah kursi taman di bawah pohon sakura tadi.

"Oke." Ia pun segera bergegas ke tempat itu. Aku duduk lebih dulu disana.

"Dingin. Mungkin tengah malam nanti akan turun hujan salju ya," katanya sembari memandangi langit. Aku terdiam, jemari tanganku merogoh ke dalam saku, dan menggenggam benda dingin itu.

Jun Akinishi masih terdiam dengan tenang—memandangi langit yang cerah.

"Maaf, Akinishi-san.."

.

.


It's all my fault, so please
Don't give me a gentle look


"Maaf, Akinishi-san.."

Aku meraih revolver itu, dan menahannya di dalam saku. Tidak banyak orang di tempat ini—selain kami berdua.

Ia sepertinya tidak mendengar gumamanku tadi. Jun Akinishi kembali menyesap minuman kalengnya, dan memandangi langit sekali lagi..

.

.

.

DOR.

Sebuah peluru meluncur dengan suara letusan pelan, dan melaju dengan kecepatan tinggi. Mengenai pelipis Jun Akinishi.

Ia kelihatan tersentak sesaat, sebelum menoleh dengan susah payah ke arahku.

"G-Gumi-san.."

Aku menundukkan pandanganku, jemariku masih tertahan di pelatuk dengan gemetaran.

"M-maaf, Akinishi-san.."

'Terima kasih telah menjadi Polaris untuk hidupku beberapa hari ini.'

Ketika kusadari, ternyata aku tengah menangis. Kuangkat pandanganku—dan mendapati dirinya yang tengah tertunduk tak bernafas, darah menetes perlahan dari luka di pelipisnya.

'BRUK'.

Sesuatu yang kelihatan seperti sebuah buku terjatuh dari genggamannya. Aku segera tersadar, dan melihat benda apa itu.

Sebuah komik. Edisi kedua dari seri yang kemarin tak jadi kubeli edisi pertamanya karena keduluan.

Aku menahan nafas.

.

.

Kuambil komik yang masih baru itu dengan tangan gemetaran, dan membuka cover-nya. Tampak sebuah tulisan serupa grafiti yang dicoret-coret dengan menggunakan krayon hijau.

"Untuk Gumi-san. Semoga kita bisa berteman dekat."

Jun Akinishi.

Aku tercekat. Kupegang komik di genggamanku itu erat, sampai tanganku berkeringat. Badanku terasa gemetaran.

"Akinishi-san.."

.

.

Aku terdiam, sementara pandanganku mulai memburam oleh air yang perlahan menetes satu-satu..

.

Kupeluk komik yang terkena tetesan darah itu di dadaku erat-erat, dan mulai menangis. Revolver itu tergeletak disana, terdiam di atas tumpukan salju.

Tetesan dingin yang membeku turun satu-satu mengenai tanganku. Aku menggenggam komik itu erat, sementara hatiku menangis tanpa suara.

.

Aku telah kehilangan penunjuk arahku.


If we could start all over again,
I'd love to go to the summer festival to see fireworks with you again...
Don't worry
We'll meet again pretty soon


.

.

Tamat

.

Notes: Fanfiksi Vocaloid pertamaku. Semoga cocok dengan lagunya, ya. ^^

Disarankan untuk membaca fanfiksi ini sambil mendengarkan lagu Gumi – Saigo no Revolver. Musiknya lumayan enak. :3

.

Terima kasih sudah membaca. Komentar, jika berkenan? :)