eL-Ree Aquafanz ‒PRESENT‒
Disclaimer :
BLEACH © TITE KUBO
Warning : OOC (of course), AT, AU, alur terlalu cepat, and NO FLAME please...
Genre : Romance, Friendship
Pair : Ichi-Ruki
Rated : T
Please enjoy the fic!
Don't Like, Don't Read
Misty Mystery
Chapter 2
By : eL-Ree Aquafanz
Entah ini sudah yang keberapa kalinya Ichigo melakukan serve dengan tembok sebagai lawan mainnya. Tanpa memedulikan sekelilingnya yang mulai sepi, Ichigo terus saja melakukan serve ke arah tembok. Entah mengapa hari ini perasaannya sama sekali tidak mengenakan. Padahal biasanya, begitu memasuki lapangan tenis ini, segala hal yang mengganggu pikirannya akan hilang, terbawa oleh angin yang berhembus pelan di sekelilingnya.
Sekali lagi Ichigo melakukan serve. Tetapi sepertinya serve-nya kali ini terlalu keras. Alhasil bola berwarna kuning itu meluncur cepat ke arahnya. Refleks Ichigo pun mengangkat raket tenisnya, menggunakannya sebagai tameng. Dan detik selanjutnya rasa nyeri itu menghampirinya, bersamaan dengan bola tenis yang menggelinding di dekat kakinya.
Dengan segera Ichigo memegangi tangan kanannya, meringis menahan sakit. Membiarkan raket merah kesayangannya tergeletak begitu saja di dekat bola tenis. Rasa nyeri di bahu kanannya semakin menjadi. "Argh!" rintih Ichigo, menggigit bibir bawahnya.
Tidak pernah disangkanya, bahu kanan yang sudah tiga tahun mengalami cedera, ternyata sampai saat ini masih terasa sakit. Padahal kemarin ketika sedang berlatih, tidak sampai terasa nyeri. Mungkin karena efek menahan serve yang tiba-tiba.
Tidak kuat menahan rasa sakit, Ichigo lalu merebahkan tubuhnya. Dan saat itulah sebuah handuk basah menutupi mukanya. Ichigo lalu menyingkirkan handuk basah itu dengan tangan kirinya, menatap lekat-lekat gadis berambut hitam yang sedang tersenyum ke arahnya. Saat Ichigo hendak menegakkan tubuhnya kembali, gadis bermarga Kuchiki itu menahannya. Malah dengan tenangnya duduk di sebelah kirinya. Alhasil Ichigo kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan handuk basah.
"Sankyuu, Kuchiki. Ini sangat membantu," ucap Ichigo, jujur.
Rukia tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari Ichigo. Bahkan mukanya sedikit bersemu merah. Rukia lalu menatap langit sore ini yang terlihat lebih cerah dari biasanya. "Ah iya Ichigo, boleh aku bertanya?"
"Silakan saja," jawab Ichigo datar.
"Kau ini sebenarnya kidal atau bukan?"
DEG
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" jawab Ichigo, kembali datar. Padahal dalam hati, dia sangat berharap kalau bukan pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Rukia.
Seketika Rukia langsung kikuk mendengar jawaban Ichigo, yang seolah-olah menyuruhnya untuk tidak bertanya hal seperti itu. "Go-gomen, aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa. Suatu hari nanti pasti juga akan ketahuan. Apa boleh buat, aku akan mengatakannya padamu."
"Eh?" Rukia membelalakkan kedua matanya mendengar jawaban Ichigo. Diliriknya Ichigo yang berbaring di sebelahnya. Entah mengapa dia merasa ada kesedihan di dalam jawaban yang diberikan Ichigo tadi. "Ti-tidak usah tidak apa-apa. Go-gomen—"
Tanpa mempedulikan penolakan Rukia, Ichigo mulai membuka ceritanya. "Sebenarnya aku tidak kidal. Tetapi, sejak kecil aku sudah terbiasa menggunakan tangan kiriku untuk bermain tenis. Hal itu karena Nii-san seorang kidal. Tetapi, tiga tahun lalu semuanya berubah."
x x x
"Ichigo, permainanmu tadi sudah semakin bagus. Kalau seperti ini terus, Nii-san yakin, saat kau masuk SMA, kau sudah bisa memperoleh beberapa gelar grand slam," celetuk Kaien sambil menepuk puncak kepala otoutonya itu.
"Tentu saja. Aku akan buktikan kalau aku bisa lebih hebat dibandingkan Nii-san," ucap Ichigo berapi-api, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Kaien tersenyum kecil melihat semangat Ichigo yang membara. Tetapi mendadak dia menghentikan langkahnya. Ichigo yang berjalan di sampingnya ikut menghentikan langkah kakinya. "Ada apa, Nii-san?" tanyanya.
Kaien menunjuk pada seekor kucing yang berada di tengah jalan raya, beberapa meter di bawah mereka. "Bukankah itu Karupin*?"
Seketika Ichigo langsung mengikuti ujung jari telunjuk Kaien. Betapa terkejutnya dia, melihat kucing Himalaya kesayangannya berada di tengah jalan raya. Terlebih lagi, dari kejauhan Ichigo melihat sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arah Karupin. Tanpa pikir panjang, Ichigo langsung berlari menapaki anak tangga jembatan penyeberangan.
Tepat saat Ichigo berhasil merengkuh Karupin dalam pelukannya, mobil berkecepatan tinggi itu menabrak Ichigo, menyebabkannya terpental beberapa puluh meter sebelum tubuh Ichigo membentur trotoar dengan keras. Darah segar pun mengucur dari tangan dan kepala Ichigo, mengenai bulu putih Karupin yang masih berada dalam pelukan tangan kanannya.
"Meow meow meow..."
. . .
Tiga minggu telah berlalu dari kecelakaan itu. Tetapi sampai detik ini Ichigo sama sekali belum membuka matanya kembali. Kaien yang melihatnya menjadi semakin tidak tega melihat otouto tersayangnya harus menyambung hidup dengan peralatan yang dipasang di tubuhnya itu. Diusapnya pelan rambut jeruk Ichigo. "Sampai kapan kau akan tertidur, Chibisuke?"
"Meow..."
"Ka-Karupin? Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah tadi kau sedang tidur di ruang tamu? Kenapa kau— Ah, begitu ya. Ternyata kau pun ingin menunggui Ichigo ya? Kau memang kucing yang baik." Kaien lalu menggendong Karupin, mengarahkan wajahnya ke arah wajah Ichigo.
"Meow..."
Kaien tersenyum melihat tingkah Karupin. "Tenang saja, Chibisuke pasti akan baik-baik saja. Arigatou, Karupin," ucap Kaien, dielusnya bulu putih Karupin. Seolah mengerti, Karupin memejamkan kedua matanya dan tersenyum.
"Meow..."
Elektrokardiografi yang terpasang di tubuh Ichigo mendadak grafiknya berubah menjadi lebih rapat. Tidak seperti sebelumnya yang hampir 'datar'. Karupin yang melihatnya langsung mengeong dengan keras.
"Meow meow meow..."
Kaien yang tidak mengerti maksud dari eongan Karupin, langsung berusaha untuk menenangkan Karupin. "Ssst, Karupin, jangan berisik. Nanti dokter dan suster bisa ke sini. Ssst, diam ya. Pasti Chibisuke sebentar lagi juga akan bangun kok," ujar Kaien sambil mengalihkan pandangannya pada Ichigo. Seketika kedua matanya langsung membesar melihat Ichigo menggerakkan jemari tangan kirinya.
"Chi-Chibisuke?"
Kaien membekap mulutnya sendiri, melihat otoutonya perlahan membuka kedua matanya. Sementara Karupin yang terlepas dari gendongan Kaien, langsung meloncat ke atas tempat tidur Ichigo.
"Meow..."
Ichigo yang mendengar eongan Karupin, langsung menolehkan kepalanya ke arah kanan. Seulas senyum langsung terkembang di bibirnya melihat kucing kesayangannya itu selamat dari kecelakaan. "Tadaima, Karupin."
"Meow..."
BRUK
"Nii-san?"
"Hiks, yokatta (1). Aku kira kau tidak akan pernah membuka matamu lagi, Chibisuke. Aku benar-benar khawatir padamu. Hiks..." Kaien langsung menumpahkan air matanya di bahu Ichigo, melupakan kenyataan bahwa Ichigo baru tersadar dari tidur panjangnya.
Ichigo lalu mengelus punggung Kaien menggunakan tangan kirinya. "Gomen, Nii-san, karena telah membuatmu khawatir. Senang bisa melihatmu lagi, Nii-san."
"Chibisuke~"
x x x
"Kemudian aku kembali menjalani kehidupanku seperti sebelumnya, satu bulan setelah aku tersadar dari koma. Tetapi mulai saat itu juga, aku harus menggunakan tangan kiriku untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dikarenakan patah tulang di bahu kananku cukup parah. Sebenarnya dokter menyarankanku untuk tidak bermain tenis lagi, tetapi aku sudah berjanji pada Nii-san, kalau aku akan lebih hebat dari dia," ucap Ichigo, mengakhiri ceritanya.
Rukia terhenyak mendengar cerita Ichigo. Tidak disangkanya, ternyata Ichigo mempunyai masa lalu yang kelam. Tetapi hebatnya, masa lalunya justru menjadikannya semangat untuk kehidupannya sekarang.
"Arigatou Ichigo, telah berbagi lukamu denganku. Ah, sudah sore ternyata. Kalau begitu, aku pulang dulu ya? Ja mata," ucap Rukia sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Ichigo yang masih terbaring. Baru beberapa langkah berjalan, Rukia langsung menghentikan langkahnya. Bukan apa-apa. Hanya saja saat ini jantungnya berdetak dengan keras. Rukia tidak tahu apa sebabnya. Dia lalu menolehkan kepalanya ke belakang, sementara tangan kanannya memegangi dada kirinya.
"Kenapa di sini rasanya sesak?" gumam Rukia, menatap Ichigo yang masih berbaring di lapangan tenis. Tanpa dia sadari, air mata sudah menetes dari kedua matanya.
Sore ini, entah mengapa rasanya Ichigo sangat malas untuk latihan tenis. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore, tetapi Ichigo sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya. Diliriknya hp touchscreen blue gradient miliknya yang kembali bergetar. Merasa jenuh, Ichigo lalu berdiri di depan jendela kelasnya. Mengamati lapangan sepakbola yang terhampar di bawah sana.
Disentuhnya bahu kanannya. Sekelebat ingatan itu kembali menghampirinya. Tubuhnya melorot, hingga harus bersandar pada kaca jendela. Kalau boleh jujur, sebenarnya Ichigo sama sekali tidak kuat kalau harus kembali mengingat tragedi itu. Tetapi karena Rukia yang meminta, dia sama sekali tidak bisa untuk menolaknya. Karena kemarin sore baru Ichigo sadari, kalau dia telah jatuh hati pada putri bungsu keluarga Kuchiki itu.
Dia lalu tertawa kecil, menyadari kebodohannya. Padahal dia sempat berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan jatuh cinta pada siapapun sebelum dia bisa menjuarai semua turnamen tenis tingkat dunia, seperti All England, US Open, Wimbledon, dan lainnya. Karena title juara yang dipegangnya saat ini adalah juara dunia tenis tingkat junior.
Sekali lagi Ichigo melihat hp-nya kembali bergetar. Dengan malas, dia lalu kembali duduk di kursinya, meraih hp-nya dan segera meng-unlock-nya. Seketika kedua matanya menyipit. 13 panggilan tak dijawab dan 7 e-mail baru? Segera saja Ichigo melihat log panggilan. Dari 13 panggilan tak dijawab, 11 diantaranya dari Rukia. Lalu untuk yang lainnya dari—
"Riruka? Masaka (2)—"
Segera dibukanya e-mail yang masuk. Benar dugaannya, dari ketujuh e-mail yang masuk, salah satunya berasal dari Riruka. Was-was, Ichigo membuka e-mail yang bersubject "ohisashiburi desu (3), Ichigo-kun" itu.
From : Dokugamine Riruka
Yo, ohisashiburi desu, Ichigo-kun. Yokatta, aku senang sekali bisa mengirim e-mail padamu. Mungkin kau bertanya-tanya, darimana aku memperoleh alamat e-mail-mu kan? Kurasa hal itu tidak perlu aku jawab, karena aku yakin kau pasti sudah mengetahui jawabannya.
Ah iya, aku sampai lupa. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau lusa aku akan pindah ke Karakura. Dan kau jangan khawatir, aku tidak akan merepotkanmu kok. Karena itu, mohon bantuannya ya? ^^
P.S
Aku merindukanmu ^^
Oh tidak! Dengan segera Ichigo membenturkan kepalanya ke meja. Terbayang sudah kehidupannya ketika pewaris Dokugamine Corp. itu akan menghancurkan hari-harinya yang tenang ini. Dan sebenarnya ini adalah salah satu alasan Ichigo kembali tinggal di Karakura, setelah sepuluh tahun lalu tinggal di Barcelona, Spanyol. Dia muak dengan tingkah laku Riruka yang sangat mengekangnya itu, meskipun sebenarnya mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Ichigo tahu kalau Riruka menyukainya, oleh karena itu Ichigo lebih memilih untuk meneruskan sekolahnya di Karakura saja. Dia tidak ingin diganggu lagi oleh putri tunggal keluarga Dokugamine itu. Karena Riruka selalu menghalanginya melakukan hal yang disukainya, seperti bermain tenis. Terlebih lagi setelah bahu kanan Ichigo cedera parah. Riruka mati-matian menentang niatnya untuk kembali bermain tenis.
Tetapi hal itu berhasil dibuktikan oleh Ichigo, kalau pilihannya memang tidaklah salah. Dalam waktu tiga tahun berikutnya, Ichigo berhasil meraih beberapa title juara dunia tenis tingkat junior di berbagai turnamen dunia. Dan sebenarnya Ichigo juga tahu kalau Riruka sudah dijodohkan dengan Yukio, cucu walikota Barcelona saat ini, Jordi Hereu i Boher.
Getaran dari hp-nya kembali mengalihkan pikiran Ichigo. Diliriknya sekilas layar hp-nya. Ada panggilan masuk lagi. Kali ini dari—
"—Byakuya-buchou (4)?" Tanpa pikir panjang Ichigo langsung meng-unlock hp-nya. "Moshi-moshi, Byakuya-buchou."
"Kau mau latihan apa tidak?"
GLEK
"Ha-hai. Gomen nasai." Segera Ichigo membereskan buku pelajaran dan alat tulisnya, memasukkannya ke dalam tas tenisnya. Dalam hati, Ichigo menggerutu tidak jelas. Seandainya tadi bukan Byakuya yang menelepon, pasti saat ini dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Setelah semuanya beres, Ichigo lalu berlari keluar kelasnya dan langsung menuruni tangga menuju lapangan tenis di belakang sekolah.
To be continued...
*Karupin = nama kucing kesayangan Echizen Ryoma (Prince of Tennis)
Note :
syukurlah
mungkinkah
lama tidak berjumpa
ketua klub, dalam hal ini klub tenis
A/N : Yosh, ohisashiburi desu, minna-san~ O genki desu ka? Hounto ni gomen nasai, Ree baru bisa update sekarang. *digebukin rame-rame* Well, Ree kemarin lagi-lagi mengalami WB parah. Dan, hasilnya terlihat kan di dalam chap 2 ini? Ree jadi bingung sendiri deh, kenapa di sini Ichigo jadi amat sangat OOC ya? *ditendang sampe bulan*
Ya sudahlah, silakan tuangkan semua uneg-uneg kalian lewat review (PM boleh kok ^_^), asalkan jangan flame loh yaa, Ree trauma soalnya (-_-)V . Buat yang sudah me-review chap sebelumnya, arigatou gozaimasu *bungkuk 90°*. Tanpa kalian, chap 2 ini tidak akan ada *hug*. InsyaAllah kita ketemu di chap selanjutnya yaa ^^
~ eL-Ree Aquafanz ~
