My Destiny
By
Sukoshi Yukki
.
Disclaimer
Reiko Yoshida and Junichi Sato
.
Pairing
SoraxKen
.
Warning
Abal, Gaje, OOC, Typo, alur kecepatan, dll
.
Chapter- 2
Dua bulan kemudian.
"Ohayou gozaimasu Midori-baa san." Sapaan yang telah akrab oleh wanita paruh baya ini, mengundangnya untuk memalingkan wajah ke sumber suara. Senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya ini pun semakin mengembang begitu melihat pemilik suara yang telah menyapanya dengan hangat.
"Ohayou Ken. Pagi sekali kau datang hari ini. Tak sabar bertemu Sora-chan hm?" goda Midori dan seperti dugaannya, wajah manis Ken langsung dihiasi dengan semburat merah yang memang tak jarang tampak ketika Midori menggoda pemuda itu.
Tentu saja, walaupun sudah sering digoda demikian, Ken selalu saja menjadi salah tingkah. Wah, wah. "E-eh, i-iya Midori-baa san. E-em, maksudku, apa saya mengganggu?" ucapnya tergagap.
"Hahaha, tentu saja tidak Ken. Ayo masuk, jangan malu-malu. Sora-chan akan selesai sebentar lagi. Sora, apakah kamu sudah siap? Ken sudah menunggumu." Midori memanggil putri tunggalnya itu. Walaupun sudah hampir setiap pagi Ken dan Sora pergi ke sekolah bersama, tak pernah sekalipun putrinya telah siap ketika di jemput Ken. Ken sendiri, tak pernah telat menjemput Sora, ia selalu datang pagi-pagi, dan menyapa Midori dengan sopan.
Tak lama, Sora sudah muncul di depan rumahnya. Ia tersenyum manis, menciptakan mood baik bagi siapapun yang melihatnya.
"Sarapannya sudah selesai?" tanya Midori, memastikan. Sora hanya mengangguk, senyumnya masih belum lepas dari wajahnya. "Baiklah, sebaiknya kalian pergi ke sekolah sekarang, jangan sampai terlambat." Midori berkata lagi dengan lembut, memberikan senyum keibuan yang sangat khas.
Kedua anak itu segera memberi salam kepada Midori, kemudian pergi ke sekolah bersama. Ya, meskipun mereka tidak satu sekolah, ternyata arah sekolah mereka sama, dan hanya berbeda 1 halte. Tentu saja, Ken senang dengan hal ini, ditambah lagi, kesehatannya juga sangat baik akhir-akhir ini, sehingga orang tuanya tidak memaksanya untuk pergi ke sekolah dengan Yuri.
"Hei, Ken, dapatkah kau mengajariku soal trigonometri ini?" tanya Sora sedikit frustasi. Semenjak sekolah dasar, matematika tak pernah menjadi pelajaran favorit Sora, entah mengapa, ia tak pernah akrab dengan angka-angka itu. Untuk mengerjakan hal yang berhubungan dengan matematika, Sora harus berusaha dua kali lebih keras daripada teman-temannya yang lain.
"Tentu saja, begini, untuk soal ini, kau harus menggunakan rumus yang ini. Lalu, dilanjutkan dengan rumus yang dibawahnya." Ujar Ken, berusaha menjelaskan soal itu. Lain dengan Sora, ia tak memiliki masalah untuk akademisnya, dapat dikatakan, ia adalah yang terbaik. Hanya saja, kondisi jantungnya yang lemah, membuatnya tak dapat merebut posisi juara umum. Ia dikalahkan telak dalam bidang olahraga.
"Sou ka. Jadi, umm, setelah aku menggunakan rumus yang pertama... apa yang dapat aku lakukan dengan rumus yang kedua?" Tanya Sora, lagi. Ugh, kalau tidak ada Ken, ia sudah pasti akan menyerah untuk mengerjakan PR matematikanya. Ia tak menyangka, standar sekolah di New York begitu tinggi.
Bukannya menawab, Ken malahan tertawa. Tentu saja wajah Sora memerah, ia malu. Malu karena ia menyangka kalau soal yang 'mudah' itu tak dapat di kerjakannya. Sedikit menundukkan kepalanya, karena ia tak berani menatap Ken. Untunglah, Ken menangkap pikiran Sora, ia segera berusaha untuk menghentikan tawanya.
"Maaf Sora, maaf, aku tak bermaksud menertawaimu. Kau... terlihat imut saat sedang berfikir tadi, jadi menggemaskan sekali~" ucap Ken, jujur. Namun, tawa yang ia coba tahan sejak tadi, tak dapat terbendung lagi, jadi ia hanya tertawa kecil, sambil melihat wajah Sora yang melongo mendengar kalimatnya barusan.
Perlahan, semburat merah kembali mewarnai kedua pipi Sora, begitu otaknya selesai mencerna perkataan Ken barusan. "Uugh! Ken jahaaaat." Ucapnya seraya memukuli punggung Ken, pelan, untuk menyembunyikan kegugupannya.
Dari balik pintu, Midori hanya mengamati dua anak itu dengan tersenyum. Ia dapat melihat bahwa ada ikatan yang menghubungkan keduanya, yang sangat kuat, mereka akrab laksana saudara kandung yang tumbuh bersama selama bertahun-tahun, padahal, kalau diingat, mereka baru kenal satu sama lain sekitar 2 bulan yang lalu.
"Aa, Yuri, ingin menjemput Ken?" ucap Midori dengan ramah. Ia tersenyum melihat anak sulung dari sahabatnya ini, namun matanya dengan awas menilai pemuda yang kini berada di sebelahnya. Midori cukup yakin, Yuri datang dengan diam-diam. Ia yakin sekali kalau pemuda itu tidak mengetuk pintu atau permisi sama sekali untuk masuk ke rumahnya.
Yuri hanya tersenyum mengangguk. 'Senyum yang ganjil' lagi-lagi Midori berpendapat negatif tentang anak itu. Midori sebenarnya tak mau untuk berpikiran negatif tentang anak sahabatnya, tapi, sebagai seorang lulusan fakultas psikologi dari universitas ternama, ia cukup terlatih untuk mengenal karakter seseorang.
"Hari sudah cukup sore, bibi. Ken butuh istirahat." Ucap pemuda itu. Midori hanya mengangguk, tanda ia paham.
Tak lama, setelah mengucapkan salam, Yuri segera membawa adiknya pulang. Tak ada yang berbicara selama perjalanan, Yuri sibuk dengan pikirannya, sementara Ken, ragu untuk mengajak kakaknya tersebut untuk berbicara.
"Kak?" akhirnya Ken memutuskan untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"Hm?"
"Setelah lulus, kakak ingin ingin ke mana?" tanya anak itu. Ia tahu, ayah mereka ingin kakaknya itu belajar di sebuah sekolah bisnis elit, agar ia dapat melanjutkan bisnis keluarganya. Namun, ken juga tahu, bahwa kakaknya itu tidak tertarik dengan segala macam yang berbau bisnis. "Bisnis itu kejam." Ucapnya dulu, sekali ia ditanya mengapa ia tak suka dengan ekonomi.
Yuri menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah penuh rasa ingin tahu adiknya itu. "Entahlah Ken, kau tahu sendiri kondisinya. Apakah aku diizinkan untuk memilih? Andai kesempatan itu ada." Pandangan mata Yuri melembut, itu sekali-kalinya Ken melihat pandangan yang selembut itu dari kakaknya. Sulit untuk Yuri menjelaskan keinginannya kepada orang tuanya, Ken sadar akan hal itu.
"Ada kakak, kesempatan itu selalu ada." Ucap Ken, yakin. Ia menatap lurus kakaknya, memberikan senyum polosnya.
Melihat optimisme adiknya, tak kuasa, Yuri tersenyum. "Kau tak tau apa-apa. Tapi, mungkin juga, apa yang kau katakan itu benar." Kalimat terakhir Yuri itu diucapkannya sembari menatap langit senja yang menaungi mereka.
"Ayo pulang." Ucapnya lagi, menggandeng tangan adiknya.
.
.
~open my mind, and tell me, there always be a chance for anyone~
.
TBC
Author's area:
Huaaaaa, gomen ne, minna... Saya baru sadar kalau fic ini sudah saya telantarkan lebih dari setahun! Semoga saya mendapat maaf dari reader sekalian.. (_ _)
Mendadak saya kehilangan mood untuk menulis, dan baru akhir-akhir ini saya sedikit bersemangat untuk menulis lagi. Untuk chap depan, akan saya usahakan selesai secepatnya~
Anoo, ada hal-hal yang sengaja saya buat kabur dulu di awal, dan akan semakin jelas seiring jalannya cerita, jadi ikuti terus ya... XD
Jadi, bagaimana pendapat anda mengenai chapter 2 ini? Tuangkan segala bentuk pendapat anda melalui kotak review. Kritik dan saran sangat saya terima
Thanks to:
Chisami Fuka, freaking, leon de yuri, Liya Heartless, dan Koyuki Uzumaki yang sudah mereview fic ini,
Dan kepada silent reader yang telah meluangkan waktunya untuk membaca chap 1 dari fic ini. ^_^
Sign,
Sukoshi Yukki
