Author Note : Karena beberapa reader pengennya dilanjut, lanjut aja deh. mungkin 3 atau 4 chapter. hehe... Makasih buat dukungan semuanya ;) bikin semangat banget lanjutin ffc :)

asucaga lovers (Guest) : Hehe... Maaf kebagian peran gini Cagallinya. hehe... selamat menikmati, ini udah lanjut ;)

pandamwuchan : Nih error kali :( padahal Kira udah dihapus kemarin :( jadinya lanjut nih. hehe... makasih udah sempet mampir Nee-chan. Muachhhh.. :* hihi

ichirukilover30 : Maaf nih malah dilanjut :( ffc yang lain lagi diketik, sulit banget buat rangkai kata buat ren yang payah gini. hurf...

Fivani-chan (Guest) : Nih udah lanjut ;) Gimana ya kalau ditinggal? kita liat deh gimana kedepannya. hehe semoga g kecewa dengan kelanjutannya.

NaPpy (Guest) : Ini tuh siapa ya? Wolfy-senpai kah? maaf kalau salah. hehe

Neko-chan : Kenapa ganti nama? udah bikin nasi tumpeng belum? kan musti bikin tuh kalau ganti nama :D . makasih reviewnya panjang banget. jadi seneng bacanya ;) Kritik n saran nya sangat membantu ;)

popcaga : G ngerti ah maksudnya apa :D semoga g berbunga? aduduh... sampe guling-guling deh karna g ngerti. hehe

OrenoExia : Sama nih, kemarin-kemarin seneng banget pasangin Kira-Cagalli. sekarang pindah ke asucaga lagi :D. #toss

Asuka Mayu: IDK yang sabar ya.. hehe... maaf g jadi one-shot nih :(

Lennethia : OMG, nih lanjut, nih lanjut! hihi... seneng ada pe-review yang semangat ;)


Secercah cahaya menerobos masuk menyinari wajahku, memaksaku, untuk membuka mata. Aku begitu linglung, merasa pusing karena kurangnya waktuku untuk tidur semalam. Aku diam, menatap jendela di mana cahaya itu berhasil masuk ke ruangan ini. Entah kenapa, aku begitu malas untuk bangun, saat aku merasa nyaman bersandar di dada bidang telanjangnya.

Aku mengingat kembali kejadian semalam, sebuah kegiatan yang kadang kami lakukan untuk beberapa waktu.

"Meskipun kau tak mencintaiku, meskipun aku hanya pemuas nafsumu. Meskipun aku seperti wanita simpananmu… aku rela. Karena aku mencintaimu."

.

.

.


Desclaimer : GS/GSD not Mine.

Rate : T semi M (?) maybe

Genre(s) : Drama, Hurt, Family

Warning : GaJe, Abal-abal


Athrun pov

Namaku Athrun Zala, putra tunggal dari pasangan Patrick Zala dan Leonore Zala. Aku berusia 26 tahun, dan aku berstatus menikah. Aku memiliki istri yang tentu akan membuat siapapun pria di dunia ini akan iri. Dia cantik, pintar, berbudipekerti yang baik. Aku juga telah memiliki seorang putra berusia 5 tahun yang bernama Tooru.

Dulu aku seorang pilot Mobile Suit, namun sekarang aku adalah seorang duta perwakilan PLANTS. Aku bekerja untuk negaraku, untuk diriku, dan untuk orang yang aku sayang.

Aku memiki seorang sahabat, dia juga teman seperjuanganku, Kira Yamato. Namun kami sudah jarang bertemu, dia sibuk dengan karirnya di negeri sebrang. Sahabat lainku, Dearka, Nicol, dan Yzak. Mereka satu angkatan denganku, namun akulah satu-satunya yang sudah naik ke pelaminan.

Kehidupanku di PLANTS sangatlah nyaman, orang-orang menghormatiku. Di PLANTS, istri, anak dan orangtuaku tinggal. PLANTS adalah tanah airku, PLANTS adalah tempat dimana aku dibesarkan. PLANTS adalah negara dimana aku membangun sebuah rumah mewah untuk istri dan anakku. Namun aku merasa itu bukan rumahku, itu bukan tempat untukku kembali. Bukan aku membenci PLANTS, aku senang karena banyak orang yang aku kasihi di PLANTS. Tapi rumahku, adalah di ORB.

Itu tempat tinggal yang begitu sederhana, jauh berbeda dengan rumahku di PLANTS. Namun di situlah aku merasa nyaman, di sana aku merasa bahwa aku menjadi diriku yang sebenarnya. Di sana tempatku tersenyum, melepas semua lelah yang ada. Dan di sana juga, tempat tinggal orang yang begitu berharga bagiku.

Seminggu aku di PLANTS, seminggu aku di ORB. Aku seperti pria hidung belang yang tinggal satu atap dengan seorang wanita tanpa status pernikahan. Tapi, tidak ada yang keberatan dengan hal itu. Atau mungkin aku hanya tidak tahu saja tentang siapa yang menerima, siapa yang menolak. Aku hanya menjalaninya, tanpa berusaha mengetahui tentang semua itu.

Selama aku bisa bersamanya, aku merasa cukup.

Xxxxxx

"Athrun, ini kopi untukmu."

Aku tersenyum padanya dan mengucapkan terimakasih. Dia selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Setiap malam saat aku hanyut dalam pekerjaanku, dia selalu menyiapkan segelas kopi hangat. Dia duduk di sampingku, menemaniku hingga aku selesai dengan tumpukan tugasku. Dia tidak pernah mengeluh, hanya beberapa kali saja ia marah, itupun jika aku bekerja lewat dari pukul 12 malam.

Dia memberikan aku seluruh perhatiannya. Dia tahu apa yang aku suka, apa yang aku benci. Dia tahu apa makanan favoriteku, ataupun makanan yang membuatku alergi. Dia tahu kapan aku harus memulai, kapan aku harus berhenti. Karenanya aku begitu nyaman hidup dengannya. Karenanya aku selalu menuruti apa yang ia katakan. Karenanya aku dengan senang hati memenuhi segala kebutuhannya.

"Athrun, ini sudah pukul 12 malam. Ayo kita tidur… kau bisa melanjutkannya besok, bukan?"

"Apakah itu undangan tak langsung untukku?" Aku menyimpan document yang aku buat dan mematikan laptopku.

"Maksudmu?" Tanyanya dengan wajah polos.

"Benarkah kau tidak mengerti?" Aku duduk lebih dekat dengannya dan mengusap pipinya. Wajahnya memerah, sepertinya kini ia mengerti.

"Ta-tapi…" dia memalingkan wajahnya. Ah, aku sangat menyukai ekspresinya itu.

"Aku akan melanjutkan pekerjaanku jika kau tidak ingin memberikannya." Ucapku seraya mulai membuka laptop yang telah kututup tadi. Aku senang bisa selalu menggodanya.

"Baik, baik! Asal kau janji untuk tidur sebelum pukul 1."

"Jadi hanya satu jam?"

"Akan percuma jika aku tidak memberi batas waktu. Ka-kau mungkin akan melakukannya sampai pagi." Dia memerah lagi, membuatku gemas padanya.

"Kita, bukan hanya aku." Ucapku seraya mulai membawanya menuju kamar dengan bridal style.

Aku tahu apa yang kami lakukan bukan hal yang bisa dibenarkan. Aku tahu bahwa aku mendapatkan kebahagiaanku dengan cara yang salah. Aku tahu, ini tidak mungkin berlangsung selamanya.

Tapi aku tidak bisa berhenti untuk saat ini. Aku tidak bisa jauh darinya. Aku tidak bisa menahan hormonku untuk tidak menjamahnya. Aku tidak bisa, aku tidak bisa.

Aku tidak bisa jika itu tentang wanita yang ada di bawahku ini. Namanya Cagalli, wanita yang beberapa tahun ini menemaniku. Saat pertama bertemu dengannya, dia berniat untuk membunuhku. Namun aku tak yakin dengan itu, aku tidak percaya wajah polosnya menyembunyikan motif yang jahat. Aku tak percaya tangannya yang gemetar bisa ternodai cairan merah kental. Yang aku percaya saat itu, aku perlu menyelamatkannya dari situasi yang memojokkannya.

Kami berlari, menghindari dalang dari luka di perutku. Dia benar-benar gadis yang baik, dia menarikku masuk ke gua, tempat yang menurutnya aman. Dia bersikap sopan padaku, dia juga menyembuhkan luka di perutku.

Aku bertanya, kenapa dia mau melakukan hal yang sebenarnya tak ia ingin? Dia bilang, dia perlu uang untuk kelangsungan hidup anak-anak di panti asuhan tempatnya tinggal. Hanya dengan menerima tawaran dari pria yang kebetulan bertemu dengannya, ia bisa mendapatkan uang dengan cepat.

Ia menceritakan sedikit tentang hidupnya yang menurutku sangat tak beruntung dengan tatapan tegas dan nada yang tegar. Namun kemudian, dia menangis saat ingat tentang anak-anak panti yang kurang makan untuk beberapa hari. Dia berkata bahwa dia tak peduli dengan keselamatannya jika itu bisa memberi kehidupan untuk orang yang ia sayangi. Tapi setelah menyadari aku orang yang menurutnya baik, dia sangat menyesal akan apa yang ia putuskan.

Aku tersenyum padanya saat itu. Aku senang bisa bertemu dengannya dan berbagi cerita dengannya. Aku senang dapat mengenal gadis yang menakjubkan sepertinya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, namun kondisi saat itu tidaklah memungkinkan.

Aku kembali ke PLANTS, aku kembali pada rutinitasku sebagai seorang tentara dan berusaha melupakan gadis yang ku ketahui bernama Cagalli itu. Itu hanya pertemuan yang kebetulan saja, aku berusaha berfikir demikian. Aku tidak mungkin dapat bertemu dengannya lagi.

Namun dalam misi di bulan april, aku terkejut saat tahu daerah yang akan menjadi medan perang selanjutnya adalah ORB selatan, tempat tinggalnya. Aku maju ke depan, menerima tugas untuk menjadi ketua pada misi itu. Dengan itu, aku harap dapat melindunginya dari jauh dan melindungi orang-orang yang ia sayang.

Aku terjun ke medan perang dengan Mobile Suit merahku. Menyerang, bertahan, berusaha sebisa mungkin untuk mengalahkan lawan dan tak memberi kerusakan parah untuk tanah di bawahku, tempat ia berada. Namun salah satu mobile suit meluncurkan tembakan pada sebuah bangunan tak jauh dari gua tempat aku dan dia bersembunyi. Ledakan terjadi, api berkobar, bangunan itu dengan cepat dimakan si jago merah. Aku akan mengabaikannya, musuhku masihlah banyak. Tapi di bawah sana, sekilas kulihat orang berambut pirang berlari mengarah pada bangunan tadi. Aku melakukan zoom, mataku membulat saat sadar itu Cagalli, berteriak dan menangis di sana.

Aku tak peduli dengan musuh yang harus aku lumpuhkan. Segeralah aku melakukan transmisi dengan Kira dan memohon bantuannya untuk menangani bagianku. Kira mengiyakan, akupun menarik tuas dan membuat Justice mendarat tepat di depan gadis pirang.

Aku turun, berteriak padanya tentang apa hal bodoh yang ia lakukan. Harusnya ia pergi ke arah berlawanan untuk menyelamatkan diri, bukannya malah berbalik dan menghampiri kobaran api mengerikan itu. Dia menangis, berteriak padaku bahwa bangunan itu adalah panti asuhannya, tempatnya di besarkan, tempat anak-anak yang ia perjuangkan berada. Ia ingin menyelamatkan meraka, aku bilang tak mungkin, bangunan itu sudah habis termakan si jago merah. Lalu ia berteriak lagi, kalau demikian, biarkanlah dia mati dengan orang yang ia anggap keluarga, tidak mungkin ia bisa bertahan tanpa mereka… tidak ada artinya untuk ia hidup tanpa mereka.

Aku merasa frustasi, marah akan sikapnya. Apa yang ia pikir? Ia tidak boleh begitu saja menyerah. Aku tidak mungkin membiarkan ia mati begitu saja. Ia… entah sejak kapan menjadi berarti bagiku. Ku katakan padanya tentang bagaimana ia menurutku, aku katakan padanya bahwa aku ingin ia tetap hidup, aku membutuhkannya.

Aku memeluknya, mengajaknya untuk pergi bersamaku. Saat itu aku tak berpikir panjang akan apa yang aku putuskan. Aku membawanya pergi bersamaku. Yang terpenting, ia bisa tetap hidup.

Satu bulan setelah itu, aku menikah dengan putri dari salah satu anggota dewan PLANTS. Pernikahan itu bukan suatu paksaan, itu baik pula untuk karir ayahku dan diriku. Lagipula, aku menikah bukan dengan orang yang tak kukenal, aku cukup tau tentang dirinya, dia teman kecilku.

Aku menyembunyikan Cagalli, membuatnya jauh dari keramaian. Bagaimana jika ada yang tahu bahwa aku berhubungan dengan gadis lain saat aku sendiri telah beristri? Aku tidak mungkin membiarkan itu menjadi topik utama dalam berita. Aku tidak mungkin mencoreng nama baik keluargaku. Aku tidak mungkin merusak karir ayahku dan diriku sendiri. Aku tidak mungkin mengecewakan ibuku. Aku tidak mungkin menghancurkan rumah tanggaku. Namun, akupun tak mungkin meninggalkannya.

Aku tak pernah menceritakan kehidupan pribadiku padanya, aku tidak pernah membawa topik tentang istriku padanya, aku tidak pernah berkata padanya tentang perasaanku. Aku membisu tentang semua itu, diapun tak pernah membawa topik seperti itu ke dalam percakapan kami. Walau aku yakini, dia tahu tentang semua itu. Bahkan tentang kelahiran Tooru, aku yakin dia tahu.

Kami berpura-pura, seakan aku adalah orang yang tak memiliki semua itu.

XXXXXXX

Drrtttt… drrttt…

Getar handphone berhasil membangunkanku dari tidur nyamanku. Aku meraba-raba, kuyakini handphone yang bergetar itu terletak di atas laci kecil yang terletak di samping tempat tidur ini.

'ck, siapa orang yang berani-beraninya mengangguku di pagi ini? Awas saja jika itu Dearka atau Yzak.'

Akhirnya, aku dapat meraih handphone berwarna hitam milikku. Kuperhatikan lekat-lekat layar ponsel ini, di sana muncul sebuah nomor yang tidak aku kenal. Siapa? Itu pertanyaan yang aku rasa akan terjawab jika aku menyentuh perintah 'jawab', maka aku melakukannya.

"Halo… siapa ini?" Tanyaku dengan malas.

"Ayah!" Aku menangkap suara kecil di jalur lain.

'Heh? Ayah? Mungkinkah?' aku segera bangun, berusaha menemukan posisi yang nyaman dan bersandar pada tempat tidur ini.

"Tooru?" Aku mencoba memastikan siapa orang yang menelponku.

"100 untuk ayah! Ini Tooru! Ayah tahu? Ibu membelikan handphone untuk Tooru. Tooru hebat bukan sudah bisa memakainya!"

Aku tersenyum, Tooru benar-benar anak yang ceria. Jangan lupa, dia juga anak yang sangat pintar. Baru lima tahun, dia sudah pandai mengoperasikan komputer. Bakat bawaan dari ayah dan ibunya? Mungkin.

"Jadi, Tooru sudah mengatakan terimakasih pada ibu?"

"Tentu saja! Tooru kan anak baik, ayah!"

Aku semakin tersenyum lebar, dia benar-benar anak yang sangat pintar. Namun, senyumku sempat hilang saat seseorang masuk ke dalam kamar. Aku terdiam sejenak, entah kenapa syaraf di otakku tiba-tiba berhenti. Dia tersenyum ke arahku, dengan pakaian yang semalam ia pakai, ia berjalan begitu saja tanpa mengucapkan kalimat apapun sebagaimana biasanya ia menyapa pagiku. Mungkin karena ia tahu aku sedang bertelepon? Terlebih… anakku?

"Ayah?"

'Aku melamun? Terimakasih karena telah membangunkanku, Tooru.'

"Ya?"

"Ayah sedang apa?"

"Ayah sedang duduk saja."

Kulirik, dia sempat terdiam sejenak dari kegiatannya, mengumpulkan pakaianku yang tergeletak di lantai. Aku sedikit menunduk, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia telah selesai, bangun dan tersenyum lagi padaku. Apa yang kau rasa? Apa yang aku rasa? Kenapa suasananya menjadi canggung seperti ini?

''Gomen…" bisikku. Aku yakin dia tidak menangkap kata yang keluar pelan di bibirku.

"Ayah?"

"Ah, ya? Apa sayang?"

"Jangan mengabaikan aku, ayah!"

"Hai', ha'i. Gomen Tooru."

"Ayah tidak lari pagi? Biasanya jam segini ayah sudah tidak ada di rumah. Aku sangat senang saat ayah ternyata mengangkat telponku. Ibu sih bilang ayah mungkin sedang lari pagi."

Benar juga, jika di PLANTS, mungkin saat ini aku sedang mengahabiskan waktu dengan berlari pagi. Tapi kenapa di ORB tidak? Karena ini tempatku beristirahat. Menjadi beruang malas mungkin itulah diriku di ORB. Lucu, tidak akan ada yang percaya jika Athrun Zala si workaholic bisa begitu santai di rumah kecil ini.

"Ayah sedang tidak ingin saja, Tooru."

"Oh… ngomong-ngomong, kapan ayah pulang?"

"Tiga hari lagi, sayang…"

"Baiklah, Tooru tunggu ayah ya! Kalau begitu, dadah ayah… Tooru ingin siap-siap untuk sekolah."

"Ya, jadilah anak yang pintar."

"Sudah pasti!"

Aku tersenyum, memperhatikan layar ponsel ketika panggilan ditutup. Lalu aku terdiam. Apa ini? Kenapa aku jadi bingung bagaimana caranya menghadapi Cagalli? Apa dia akan marah? Apa dia akan sedih? Bukankah kami sebenarnya tidak memiliki ikatan apapun? Kenapa aku seakan bertanggung jawab akan apa yang ia rasa?

Damn! Menyebalkan.

XXXXXXX

Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamarku dan berusaha bersikap biasa. Kulihat, dia di halaman belakang sedang menjemur pakaian. Aku berjalan ke sana, duduk di kursi yang yang biasa kami pakai untuk bersantai. Di mejanya, ternyata sudah terdapat sebuah surat kabar harian ORB. Aku meraih surat kabar itu dan mulai membacanya. Sesekali, aku memperhatikan Cagalli yang membelakangiku. Rambutnya ia ikat, itu menampilakan leher jenjangnya yang nampak berkeringat, mungkin karena pekerjaan rumah yang ia lakukan.

Dia berbalik, tepat saat aku masih memperhatikannya.

"Eh? Sejak kapan kau di sini? Aku tidak menyadarinya." Dia tersenyum canggung padaku, apa yang harus aku lakukan?

"Mungkin kemampuanmu menurun? Bagaimana jika aku musuh? Kau sudah mati sekarang." Itu responku, berusaha mencairkan suasana. Ia cemberut, syukurlah.

"Kau itu mahluk gaib, jelas saja aku tidak menyadari kehadiranmu." Ucapnya seraya membawa ember dan kembali masuk ke dalam.

"Jadi, kau tinggal dengan hantu?" Tanyaku dengan sedikit tawa. Dia berhenti, namun tak berbalik atau membalas ledekanku.

"Ya… mungkin." Hanya itu yang ia katakan sebelum ia menghilang masuk ke ruang dapur. Aku meremas surat kabar, dia bukan aktor yang baik saat ia tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kesedihannya.

Tak lama, ia kembali dengan secangkir teh manis dan menghampiriku. Dia tersenyum padaku, seolah aku tak tahu hal yang ia sembunyikan.

"Aku mandi dulu, setelah itu, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." Lagi-lagi, ia tersenyum padaku.

'Kenapa kau tak pernah jujur padaku?'

XXXXXXX

Terik matahari membuatku malas menyelesaikan dokumenku hari ini. Ada apa dengan ORB? Kenapa panas sekali? Aku hanya duduk bermalas-malasan di sofa sambil menonton TV.

"Hari ini tidak ada acara?" Cagalli datang dari arah dapur dengan membawa dua gelas jus jeruk yang nampak sangat segar.

"Hari ini tidak ada pertemuan." Jawabku.

Dia duduk di sampingku, akupun bersandar di bahunya setelah meneguk setengah dari jus yang ia buat.

"Apa kau suka semangka?" Tanyanya padaku seraya memainkan handphone putihnya.

"Ya, aku menyukainya. Ada apa?"

"Temanku akan berkunjung ke sini. Aku akan menyuruhnya membelikanku semangka jika kau mau."

"Temanmu?"

"Hu'um. Seminggu yang lalu aku melamar pekerjaan di sebuah minimarket. Oh iya, Athrun…" dia menatapku dan memegang tanganku lalu tersenyum. "Mulai sekarang, kau tidak perlu memberikanku uang tunai lagi. Aku sudah bekerja, aku akan membiayai hidupku sendiri. Arigatou, Athrun. Terimakasih selama ini sudah bersedia menanggung biaa hidupku."

Aku tercengang, bagiku, ini bukanlah berita baik. Cagalli bekerja? Ingin membiayai hidupnya sendiri? Lalu… bagaimana? Dia sudah tak membutuhkanku lagi?

Aku berdiri, berbalik membelakanginya.

"Souka. Jadi… kau sudah tidak membutuhkanku lagi?"

Suasana menjadi sunyi, Cagalli tidak menjawab pertanyaanku dengan cepat.

"Apa yang kau katakan, Athrun?"

"Bukan apa-apa."

Athrun pov end


Cagalli pov :

Suasana ini, kenapa bisa terjadi? Ada apa dengan Athrun? Kenapa dia tiba-tiba menjadi dingin padaku? Apa aku melakukan suatu kesalahan? Apa aku membuatnya marah?

Ting Tong…

Ah, bel! Pasti itu Ahmed. Aku tahu bahwa aku tidak boleh meninggalkan percakapan ini. Tapi, aku juga tidak boleh membuat tamu menunggu. Apa boleh buat, aku akan minta maaf pada Athrun nanti.

Aku segera bangun dan menghampiri pintu depan. Kubuka, ternyata benar itu Ahmed dengan membawa semangka yang nampak sangat segar.

"Wah, kau benar-benar membelinya. Terimakasih Ahmed… aku akan membayarnya nanti." Ucapku seraya mengambil semangka dari tangan Ahmed.

"Tidak usah, Cagalli. Anggap saja ini hadiah untukmu."

"Hadiah? Tapi ini bukan hari ulangtahunku." Aku hanya menampilkan wajah bingung padanya. Dia tertawa kecil.

"Haha… hadiah tidak harus selalu pada hari ulangtahun, bukan? Ini ucapan selamat saja karena kau diterima bekerja di tempatku."

"Terimakasih, Ahmed. Kau sangat baik. Kau mau masuk?"

"Tidak usah, aku sedang terburu-buru. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja karena tidak masuk kerja."

"Aku baik-baik saja."

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya…"

"Ya, hati-hati di jalan." Aku melambai padanya dan tersenyum lebar. Aku bersyukur, kini aku memiliki teman selain dari tetangga-tetanggaku.

Aku menutup pintu, berbalik dan terkejut saat Athrun berdiri tak jauh dari tempatku menatapku dengan dingin.

"Ah, kau mengagetkanku, Athrun." Aku melangkah mendekat padanya. "Tolong pegang semangka ini, ya… aku akan ke dapur mengambil pisau. Kita makan bersama semangkanya" aku tersenyum dan melangkah melewatinya. Satu langkah lagi, aku akan memasuki dapur kecil ini. Tapi itu tak terjadi, saat aku terdiam ketika ia memanggil namaku dengan dingin.

"Cagalli…"

"Ya?" Tanyaku seramah mungkin.

"Tadi itu siapa?"

"Dia Ahmed, temanku di tempat kerja."

"Teman?"

"Hu'um." Aku mengangguk dengan tak melepaskan senyumanku. Namun senyumku tak bertahan lama, aku tak bisa tersenyum saat Athrun menjatuhkan semangka yang ia pegang hingga terbelah. Aku menatapnya, tapi aku tak bisa bertemu dengan matanya ketika ia menunduk hingga rambutnya menutupi matanya. Ada apa ini? Aku… belum pernah melihat Athrun yang seperti ini.

"Sekarang, kau tidak membutuhkanku lagi, Cagalli?"

"Apa sih maksudmu, Athrun?"

"Sekarang kau ingin aku berhenti membiayai hidupmu? Sekarang kau menunjukan padaku bahwa kau telah memiliki teman? Seorang pria? Apa artinya ini?"

"Aku tidak mengerti apa maksudmu…"

"Jangan berpura-pura bodoh!"

Aku tercengang, tiba-tiba Athrun membentakku dan membuatku gemetar.

"Kau melakukan semua ini untuk mengusirku dari hidupmu, bukan?! Kau sudah tidak tahan denganku?!" Dia kembali berteriak padaku.

"Tidak, bukan itu Athrun." Aku mendekat padanya, menangkup pipinya dan membuat ia menatap mataku. "bukan begitu."

"Lepaskan!" Dia melepaskan tanganku dari pipinya dan mundur menjauh dariku. Aku mencoba meraihnya kembali, namun ia menepis tanganku.

"Kau akan meninggalkanku, kau sudah tidak membutuhkanku lagi. kau sudah menemukan hidupmu. Aku, aku sudah tak berarti bagimu! Apa gunanya aku bagimu?! Kau sudah tak ada di medan perang lagi, yang kau butuhkan hanya pria normal yang dapat menemanimu, menjadi satu-satunya milikmu. Tidak sepertiku, bukan?! Aku hanya singgah di rumah ini, aku tak bisa selalu menemani dirimu. Aku tak bisa membuatmu bahagia!"

Aku hanya terdiam, mencerna semua perkataannya dan arti dari air mata yang keluar di sudut matanya. Ini terlalu tiba-tiba, aku… aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu.

"Tidak, tidak." Aku hanya menggeleng, tak tahu apa yang seharusnya aku katakana.

"Lalu bagaimana? Katakan, apa kau masih membutuhkanku? Berikan aku alasan mengapa aku masih diperlukan di hidupmu?"

'Aku mencintaimu',aku ingin mengatakan itu, tapi aku… aku tidak mungkin memperumit keadaan ini. Bagaimana dengan istrinya? Bagaimana dengan anaknya? Bagaimana dengan karirnya?

"Kau tidak bisa menjawab, bukan?" Dia menatapku tajam, lalu berjalan melewatiku. Aku masih diam terpaku. Tidak, aku tidak boleh membiarkannya seperti ini.

Aku berbalik, berjalan menuju kamar dimana ia berada. Saat aku tiba di sana, aku terkejut saat melihatnya yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.

"Kau mau kemana, Athrun?" Tanyaku.

"Aku akan pergi."

"Ke-kemana?" Tanyaku dengan ketakutan. Dia menatapku, lalu berjalan melewatiku lagi. Aku mengejarnya, menggenggam tangannya.

"Kau mau kemana? Kau ada pekerjaan? Kau akan kembali secepatnya?"

"Lepaskan." Dia menepis tanganku.

"Tunggu, tunggu Athrun." Aku mengejarnya, dia tidak lari, namun entah kenapa aku begitu susah untuk bisa menyusulnya. Kakiku gemetar, air mata entah sejak kapan mengalir begitu saja.

"Athrun, kau akan kembali, bukan? Aku, aku akan menunggu kepulanganmu. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Jika kau akan ke PLANTS, aku akan menunggumu minggu nanti. Aku akan selalu menunggumu. Ada hal yang ingin aku beri tahu padamu, Athrun. Athrun.. Kau mendengarkanku, bukan?" Aku memukul-mukul kaca taxi yang ia tumpangi.

"Kau dengar aku, kan? Aku akan menunggumu, aku akan menunggumu. Aku…."

Aku terdiam, tak lagi mengatakan kalimat apapun saat aku rasa semua itu akan percuma. Dia sudah pergi, dia sudah pergi dengan taxi biru itu. Dia sudah pergi… untuk selamanya.

Karna sebulan setelah itu, dia tak kembali. Dia tak datang ke rumah ini. Dia tak lagi mengirimi aku sebuah kabar lewat pesan atau yang lainnya. Setiap aku coba menghubunginya, hasilnya nihil. Aku tetap menunggunya selama ini... Aku tetap membuatkan makan malam kesukaannya. Aku tetap menghangatkan air untuk ia mandi. Dia selalu datang malam, jadi, aku menyiapkannya. Siapa tau, dia tak sibuk dan berkenan mengunjungiku.

Tapi… selama ini aku makan sendiri. Selama ini air hangat itu kembali dingin lagi. Selama ini, aku sendiri di sini. Hingga aku putuskan, untuk pergi dari rumah ini. Mungkin dia menbenciku, mungkin dia takkan kembali. Untuk apa aku masih ada di sini? Ini bukan rumahku.

Satu kemungkinan selalu membuatku bertahan di sini. Mungkin, dia sedang dalam masalah atau sakit hingga tak mungkin datang ke sini walau ia sedang sakit. Tapi pada sore kemarin, aku melihanya di televisi yang ditayangkan secara live. Dia ada di acara itu… duduk dengan senyuman bersama istri dan anaknya. Dia nampak sehat, dia nampak bahagia.

Mungkin, baginya aku hanya angin lalu di hidupnya. Baginya, aku hanya sandaran saat ia lelah. Baginya, aku hanyalah wanita simpanan. Jika aku wanita simpananmu, bukankah kau pria hidung belangnya? Tidak, kau sama sekali tak salah bagiku. Akulah yang datang begitu saja di hidupmu dan tak mampu pergi darimu.

Maka hari ini, aku benar-benar akan pergi dari rumah ini. Setelah kusiapkan pakaianku pada sebuah koper hitam, aku berjalan meninggalkan kamar yang biasa kami tempati. Menutup pintunya, membawa pergi segala kenangan yang ada. Dia selalu bangun telat saat tak ada pertemuan atau rapat yang perlu ia hadiri. Dia selalu memintaku untuk dekat dengannya dengan alasan kamar ini dingin karena tidak ada penghangat ruangan. Dia selalu membuatku menyerah di ronde pertama. Konyol, kenapa aku sampai ingat kenangan itu? Itu adalah hal yang membuat aku seperti wanita murahan. Tapi… aku tidak menyesali itu semua, bahkan saat benihnya menjadi kehidupan baru.

"Papa tak akan kembali, sayang. Dan kita harus pergi dari tempat ini."

.

.

.

Banyak kenangan indah yang kita lalui di rumah ini. Saat-saat itu, kini aku simpan dalam hati kecilku. Aku tak bisa berhenti berharap kau dapat kembali padaku. Namun di sisi lain, akupun ingin mengakhiri ikatan semu diantara kita ini. Sebelum dunia tahu, sebelum orangtuamu tahu, sebelum istrimu tahu.

Aku akan tinggal di sudut kenanganmu, sosok yang mencintaimu tanpa dapat mengatakannya. Seberapa besar aku ingin kau tahu, aku takut akan dampak yang mungkin terjadi. Aku takut, perasaan ini menjadi beban bagimu. Namun sungguh, itu menjadi kalimat terakhir yang akan aku ucapkan sebelum meninggalkan rumah ini. Kubiarkan dinding-dinding ini menjadi saksi bisu pengakuanku.

"Aku mencintaimu, Athrun."


End or TBC again?


Thank You So Much : OrenoExia, PopCaga, Nemui Neko-san, IchiRukilovers30,Pandamwuchan, Asuka Mayu, Lennethia, Asucaga Lovers, NaPpy, Fivani-chan, and All Silent Readers. :)