Who Am I ?

.

"friends, i'll always remember that moment when we first met"

.

Welcome To My Story Line Area

Presented by ©Yeoristaa00

Disclaimer : Casts belong to god and the story belongs only to me.

.

.

Do Kyungsoo and All member of EXO-K

.

Genre : Live, Hurt-Comfort, Family, Tragedi

.

A/N : I Just wanna say.. Guys, i'm comeback.. in this Chapter, i'll inform about the disease pathway by kyungsoo.. untuk pertanyaan mengapa si kyung berpisah sama ortunya.. eum.. masih rahasia ^^ v.(^_^)

Tapi, akan aku jelaskan di Chapter berikutnya..

Oke..

.

.

HAPPY READING !

.

AND.. ENJOYING..

.

Chapter 1st : The new round of life

.

.

Yeorista00

.


.

"Izinkan aku merasakan hal yang belum pernah ku rasakan..."

.

.

D.O berjalan menyusuri jalan setapak penghubung desa dengan kota. Di bekali sebuah tas besar berisi pakaian, D.O terus melangkah menuju tempat baru yang akan membawanya ke dalam hidup yang keras dan dipenuhi dengan masalah. Terlintas dalam benaknya, betapa malang nasibnya saat ini. Hidup sebatang kara meski pada kodratnya ia masih mempunyai orang tua. Walaupun ia harus menerima kenyataan bahwa ia memiliki orang tua yang tak punya tanggung jawab terhadap apa yang mereka miliki. Kenyataan pahit yang selalu membuat hatinya terasa tercabik jika mengingatnya.

Hari itu langit amat cerah, berbeda dengan hati D.O yang dipenuhi oleh kabut kesepian yang selalu menjadi teman akrabnya. Itulah yang ia rasakan selama ini.

Langkah demi langkah, menghantar D.O kepada sebuah taman yang tampak sesak dengan anak –anak. Senyum tulus, tawa riang , rasa bahagia begitu terlihat dari raut wajah anak – anak itu. Seketika, syaraf - syaraf kerja dalam tubuh D.O terhenti dari aktifitasnya. Tubuh itu kini terlihat seperti patung yang bernyawa. Hanya saja nyawa itu ikut mematung saat melihat pemandangan yang amat memilukan hati, sewaktu D.O melihat taman itu. Tanpa disadari, kaki D.O melangkah perlahan, mendekati sebuah kebahagiaan yang ada di depan matanya. Dan...

Satu langkah...

'Dimana letak kebahagianku ?'

Dua langkah...

'Mengapa, rasanya aku jauh dari itu ?'

Tiga langkah...

'Bahkan, untuk merasakannya... Aku butuh waktu !'

Empat... Tap..

'Dan kini aku sadar, bahwa aku memang jauh dari kata... Bahagia...'

Mata D.O tersungkur pada sudut – sudut taman. Jari jemari D.O menggenggam pagar besi pembatas jalan dengan taman, yang menjadi satu – satunya penghalang untuk D.O mendekati titik kebahagian itu.

Senyuman manis tersembul dari bibir pria yang saat ini masih tersudut diluar taman. Melihat dari jauh senyum dan tawa mereka, yang lebih tepatnya adalah –Sebuah keluarga-. Entah kapan D.O pernah merasakan yang namanya memiliki keluarga ? bahkan ia tak mengingat bahwa ia pernah merasakan memiliki keluarga. Yang ia ingat hanyalah saat – saat terakhir kedua orang tuanya meninggalkan dirinya sendiri di tempat yang sangat asing baginya. Itulah segelintir memori yang selalu menjadi bayang – bayang yang amat menyesakkan bila diingat oleh D.O.

Tak terasa sudah hampir setengah jam ia berdiri dan terpaku di luar taman. Mata D.O menyeruak keseluruh sudut taman. Hilang... sosok – sosok indah itu menghilang dari pandangannya. Lebih tepatnya, mereka telah pulang ke rumah mereka masing – masing.

"Keluarga bahagia !" Lirih D.O seiring mata, lengan, tubuh dan kaki D.O kembali terfokus pada jalan.

.

.

Ini adalah malam pertama D.O tanpa seorang TaeYeon, wanita yang sudah ia anggap sebagai Noona-nya itu. Ia berjalan gontai di bawah kerlap- kerlip lampu jalan kota seoul. Terlihat orang – orang lalu lalang disekitarnya. Begitu pula kendaraan yang melaju berlawanan arah dengan kendaraan lainnya. Kesibukan begitu terlihat saat orang – orang itu berjalan dengan cepatnya, begitu juga dengan kendaraan yang melaju begitu cepatnya.

Mata D.O berselancar, seakan ia sedang mencari sesuatu. Ia melirik kekanan, dilihatnya sebuah rumah makan khas korea, bibir D.O sedikit tergigit. Ia ingin sekali makan. Sedari tadi perutnya serasa tergelitik, bagaimana tidak ? cacing – cacing di perutnya sudah memberontak meminta makan. Ia merogoh saku celananya, berharap ada selembar uang untuk sekedar makan malam. Namun, nihil.. ia lupa bahwa ia tak memiliki tabungan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membeli makan malam. Ia kembali terfokus pada jalan.

Ia tak tahu kemana ia akan berlabuh. Tujuannya saat ini hanyalah mengikuti langkah kakinya. Ya ! langkah kaki.

"Cepat lari !"

"Hahaha.. payah kau !"

Tepat dari arah belakang, segerombol pria berlarian menghampiri D.O. Oh tidak, bukan D.O, lebih tepatnya mereka di kejar oleh...

"Manusia bodoh !" teriak seorang pria yang lebih dulu berlari melewati D.O .Ia nampak bingung melihat para pria mengejar pria lainnya. Tapi, mereka tak terlihat cemas, ataupun mereka terlihat sangat bahagia. Begitulah yang difikirkan D.O.

"Lari !" seseorang menarik lengan D.O secara paksa. Sontak, tanpa sempat bertanya, D.O langsung berlari dengan keadaan tangan masih tertarik seseorang.

Dalam hentakan kaki yang cepat melaju. Raut wajah D.O nampak menyerah, menunggu sampai pria yang menarik tangannya melepaskannya. Namun, dalam sorot matanya, seperti ada yang berbeda pada diri D.O. Ya ! Ia baru merasakan kembali kebahagiaan. Entah dari segi mana ? D.O terlihat bahagia berlari bersama.. satu.. dua.. ah.. 5 orang pria yang nampaknya mereka juga mereka juga merasakan hal yang sama seperti D.O.

.

.

.

"Kebahagiaanku tercipta dalam satu malam"

.

.

Dengan nafas yang masih tersenggal, D.O duduk di sudut gedung pencakar langit di kota Seoul bersama ke 5 pria tadi. D.O menatap ke 5 pria itu. Satu pria ikut menatapnya. Sorot matanya begitu tajam, dia menyeringai di sudut bibirnya. Tentu, dengan nafas yang masih tersenggal.

"Apa tadi ? Kenapa kau membawaku kesini ? Siapa kalian ?" D.O mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di benaknya. Kepada pria yang ada menatapnya. Ia tak menjawab.

"Kami ? kau sungguh ingin tahu siapa kami ?" ucap pria yang duduk bersebelahan dengan D.O dan dijawab melalui anggukan.

"Banyak orang bilang, bahwa kami adalah sekelompok berandal. Tapi kami tak pernah menyebut diri kami sebagai berandal, lebih tepatnya kami adalah seorang individual yang mencari keadilan." Ujar pria yang lainnya. D.O tersenyum puas, deretan gigi terlihat seiring tawa D.O terdengar. Ternyata ada juga yang sama seperti dirinya.

"Hey, bodoh.. mungkin dia bingung mengenali kita semua. Karena ia anak baru, Perkenalkanlah diri kita masing - masing. Aku Suho !" Ucap pria bernama suho, wajahnya tampan seperti malaikat. "Aku Chanyeol" Ucap pria yang berada di samping kanan D.O.

"Aku Baekhyun." Pria ini memiliki manik mata yang meneduhkan hati.

"Aku Sehun." Bibir mungilnya melebar seiring senyum tulus yang ia berikan untuk D.O.

Dan yang terakhir. "Kau tak akan susah mengenaliku. Aku Kai. Aku adalah otak dari semua ini." Pria itu bernama Kai ? Ya.. pria yang tadi menarik lengan D.O. Dan dengan sombongnya ia mengaku bahwa ialah otak dari semua ini ? Hebat sekali dia. Pikir D.O. Pria – pria disana tertawa seiring pria bernama Kai itu berbicara.D.O menatap mereka tajam. Berbagai macam pertanyaan sudah berkerumun di otak D.O.

"emmm~ Kau pasti bingung kan mengapa Kai menarikmu dan membawamu kesini ?" Ucap pria bersurai coklat dengan tatapan sendu yang meneduhkan hati. Ya, dia Baekhyun. Ia berbicara diiringi tawa kecil. D.O diam.

"Kau sama seperti Baekhyun." Sambar Suho secara tiba – tiba.

"Itulah kebiasaan seorang pemimpin kami. Dia akan menarik siapa saja yang menurutnya sama dengan kami, dalam artian, sama – sama mencari letak kebahagiaannya. Banyak yang sudah bergabung dengan kami. Namun tak ada dari mereka yang bisa menghargai kami. Tidak ada sama sekali, akhirnya kami tak pernah menggap mereka ada." Lanjutnya.

D.O melirik kearah Kai. Pria itu benar – benar membuat D.O tercengang. Bagaimana ia bisa tahu bahwa D.O sedang mencari letak kebahagiannya ? Apa ia mempunyai kemampuan membaca pikiran seseorang ? Entahlah, mungkin semua itu terlihat dari raut wajah D.O yang begitu muram.

"Kami harap, kau dapat menghargai kami seperti kami menghargai kehadiranmu disini !" Tukas Chanyeol. D.O merilik Chanyeol sekilas, lantas mengangguk mengiyakan perkataan Chanyeol.

"Siapa namamu ?" Tanya Kai tiba – tiba.

Kepala D.O terangkat saat Kai menanyakan namanya. Tatapan matanya tertuju pada sosok Kai yang ada dihadapannya. Mata mereka bertemu.

"Aku.. D.O, begitulah TaeYeon memanggilku." D.O menjawab dengan nada sendu. Kai masih menatap D.O.

"Lalu, darimana kau berasal ? Siapa TaeYeon itu ? Apa ia kerabatmu ?" Tanya Kai tanpa jeda. D.O sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang ke-2 dan ke-3, namun ia sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang pertama.

"Ya ! Dia adalah noona-ku." Ucap D.O diiringi senyuman tulus. Mengingat hal itu, D.O merasa rindu terhadap TaeYeon. Baru beberapa jam ia meninggalkan TaeYeon, rasa rindu sudah menghantuinya. Apa yang sedang TaeYeon lakukan sekarang ? Apa ia sudah makan ?Apa ia juga rindu terhadap D.O ? Itulah yang di tanyakan D.O dalam otaknya.

"Darimana asalmu ?" Kai sedikit membentak. Raut wajahnya begitu memancarkan keseriusan. Suasana terasa tegang. Suho dan yang lain hanya bisa diam jika sudah melihat Kai seperti itu. Hening.

D.O masih diam, gurat wajahnya nampak lebih sendu dari sebelumnya. Tatapan matanya tertuju pada remang – remang lampu yang berkedip di sekelilingnya.

"Aku tidak tahu" Seketika suasana mencair. Tapi, tak lebih baik dari sebelumnya. D.O dihujam oleh tatapan – tatapan aneh. Terlebih Kai. Ia nampak tak puas dengan jawaban D.O barusan.

"Aku akan mencari makanan bersama Baekhyun." Ucap Chanyeol tiba – tiba. Ia lalu berdiri dan langsung menarik lengan Baekhyun. Kai tak bergeming. Ia masih terpaku pada sosok D.O yang membingungkannya. Begitupun D.O.

Tak lama, Suho dan Sehun ikut meninggalkan D.O dan Kai dengan alasan mereka lelah dan ingin segera berbaring.

Berdua !

Sosok misterius, dengan sosok dingin menyatu di bawah hamparan langit malam di hiasi terang rembulan.

Belum berubah !

Kai masih menatap D.O dingin. Begitupun D.O, tatapan mata mereka bagai aliran magnet yang takkan menyatu apabila kutub positif bertemu dengan sejenisnya. Kai beranjak dari posisinya, menghampiri D.O yang masih termangu dan terpaku.

Masih diam !

Mereka masih membungkam mulut mereka dengan keegoisan dari masing – masing mereka. Hanya saja kali ini D.O mendongakan kepalanya untuk melirik Kai yang saat ini telah berada tepat beberapa senti darinya.

"Kau sungguh membingungkan." Kai menyamakan posisi D.O. Pria itu menyeringai. Tatapan matanya setajam mata elang. D.O terhenyak.

"Seharusnya aku disuguhkan oleh jawaban yang tepat. Tapi dalam sekejap, kau telah membuatku kecewa" Ucap Kai tanpa melihat D.O.

Entah apa yang tengah di fikirkan oleh pria di hadapan Kai itu. Setelah mendapati pertanyaan dari Kai, mulutnya seperti terisolasi. Berkali – kali ia melirik Kai, berkali – kali pula ia kehabisan kalimat untuk membalas perkataan Kai. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus menjawab apa ? Karena tujuannya adalah untuk mencari darimana ia berasal ? Dan siapa ia sebenarnya ? Padahal ia bisa saja menjawab bahwa ia berasal dari pedesaan. Namun, ia tak ingin berkata seperti itu karena itu hanya akan menambah pikiran saja untuknya, dan kembali mengingat bahwa ia telah dibuang orang tuanya di sebuah desa kecil.

Kai menyerah, tampaknya ia telah lelah menunggu D.O berbicara. Tak pernah sebelumnya Kai menemukan orang seperti D.O. Pria itu berdiri lalu perlahan berjalan meninggalkan D.O.

"Aku tidak tahu..." D.O mulai angkat bicara. Kai berhenti untuk mendengarkan kelanjutannya. "Darimana aku berasal ?" D.O menyapu pandangannya pada langit malam. Kai menoleh dan menatap D.O sendu. "Terkadang aku berfikir, bahwa... hidupku tak ada artinya. Aku pun tak tahu dimanakah letak kebahagianku ?Aku rasa, hidupku sangatlah datar. Dan berdasarkan perkataan teman – temanmu tadi, aku sama seperti kau, yang mencoba mencari keadilan. Adil dalam mendapatkan kasih sayang orang tua." D.O mulai menitikan air mata. Tak disangka – sangka, Kai tercengang dan terbawa oleh kata – kata D.O itu. Ia menghampiri D.O dan dan duduk di sebelahnya.

"Sudah kuduga, kau akan mengatakan itu." D.O menoleh, senyum tulus tentu menyertai.

"Kau bagian dari kami." Kai menepuk pundak D.O. Kini suasana tegang, telah mencair seperti semula. Senyum hangat tak pernah hengkang dari bibir D.O. Kai pun mengajak D.O ketempat peristirahatannya dan yang lain.

Setelah lama berjalan, jejak D.O terhenti pada sebuah tempat yang sangatlah asing baginya. Tempat sederhana yang lebih terlihat sebagai bangunan rapuh. Tak ada sorot cahaya dimana – mana. Hanya saja terlihat remang – remang lilin kecil dari dalam. D.O menaiki tangga kayu yang tiang penyangganya telah goyang dan tak kokoh. Syukurlah, hanya ada 5 buah anak tangga, sehingga D.O tak usah menahan rasa takut untuk menaiki tangga itu.

"Ayolah, masuk ! Jangan malu – malu. Maaf jika tempat kami tak nyaman untukmu." Ucap Kai di ambang pintu. Mata D.O menyapu seisi ruangan. Ia nampak tak percaya bahwa masih ada kehidupan di dalam bangunan tua yang tak layak huni ini. Ia pun masih tak mengerti mengapa ia bisa berada disini, ditempat yang tak terbayangkan olehnya. D.O berjalan menyusul Kai yang sudah masuk terlebih dahulu. Di dalam , sudah ada Suho, Sehun, Chanyeol dan Baekhyun. Mereka terlihat sedang memakan sesuatu. Chanyeol mendongak dan melihat D.O, terlihat Chanyeol memegang sebuah roti di tanganya.

"Hey kau, makan ini ! Aku tahu kau belum makan, jadi cepatlah duduk dan makan roti ini." Chanyeol memberikan kode kepada D.O agar ia segera duduk di sebelah Chanyeol, dan memakan roti yang di berikannya kepada D.O. Dalam sekejap, D.O sudah berada di samping Chanyeol, dan melahap sepotong roti yang yang ada di hadapannya. Chanyeol dan yang lain menatap D.O dengan tatapan aneh. D.O yang menyadari itu langsung menatap balik mereka.

"Hey, ayo makan ! kenapa kalian diam ? Ayolah kita makan. Mmm~ Roti ini sangat lezat.. Mmmm..." Ucap D.O dan kembali melahap roti itu. Ia nampak sangat menikmati apa yang di berikan oleh Chanyeol. Tak lama setelah D.O berbicara, desisan terdengar dari salah satu mereka. Dan, tawa pun terdengar. Mereka saling tertawa, entahlah.. mungkin mereka merasa terhibur dengan tingkah D.O yang sangat mengejutkan. Tadi bersikap dingin, dan sekarang bersikap seperti orang yang kelaparan.

"Kau sungguh membuatku tergelitik D.O." ucap Suho diiringi tawa. D.O melirik sejenak, lalu kembali melahap makanannya. Senyuman terpancar dari wajah mereka masing – masing. Tak terkecuali D.O. Ia merasa, bahwa dia baru saja menemukan setitik kebahagian yang baru hadir kembali sejak sekian lama kebahagian itu menghilang tanpa jejak yang berarti.

Setelah makan malam selesai. Mereka laarut dalam pembicaraan yang membuat perut mereka sakit. Tertawa dalam sunyinya malam, menghadirkan segelintir keakraban yang terjalin dalam kurun waktu yang tak lama. D.O tak perduli dengan suasana sekitar yang tak mendukung kenyamanannya. Lantai kayu yang berdecit, atau jendela yang tak berkaca membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Baginya itu semua hanyalah potongan kecil dari rasa bahagianya saat itu.

waktu demi waktu telah terlewati. Chanyeol dan yang lain sudah tidur dan mengampiri mimpi mereka masing – masing. Namun, tidak untuk D.O. Tubuhnya masih terjaga di tengah deru nafas kawan – kawan barunya yang telah terlelap. Matanya memandang seluruh sudut ruangan yang tak jelas bentuknya., karena cahaya lilin tak dapat menjangkau permukaan lain, selain dirinya dan tempat chanyeol tertidur. terlihat sekali tembok yang bercat putih nan kusam juga retak , atap yang bolong, D.O berfikir bagaimana bila hujan nanti ? Pasti mereka akan sibuk menempatkan wadah untuk menampung air hujan yang masuk melalui atap yang bolong itu. Memikirkan hal itu, D.O terkikik. Ia kembali mengingat saat – saat dimana ia dan TaeYeon merasa kesulitan saat hujan turun dan atap ruang dapur bocor.

"Cepat semua tolong aku, carikan wadah yang besar untuk menampung air hujan ini." Ucap TaeYeon sedikit berteriak. Semua berlarian mencari wadah penampung air hujan yang di perintahkan oleh TaeYeon. D.O berlari menghampiri TaeYeon yang berdiri tepat didepan tetesan air hujan yang masuk melalui celah atap yang bolong.

"Noona.. atapnya bocor lagi ?Bukankah aku sudah memperbaikinya 2 hari yang lalu ?" D.O terlihat malu saat apa yang ia kerjakan tak membuahkan hasil. TaeYeon masih menatap atap rumahnya.

"Aku pun tak tahu D.O. Mungkin saja ini dari celah yang lain." TaeYeon menoleh saat ada seorang anak memberikan wadah yang dipintanya. Ia tersenyum lalu meraih wadah itu. "Ah~ Kamsahamida..." Ia langsung menaruh wadah itu di bawah atap yang bocor.

D.O merasa bersalah karena telah mengecewakan Noona-nya itu. "Maafkan aku Noona, aku tak bisa membuatmu senang dengan apa yang aku kerjakan. Sekali lagi maaf kan aku. " D.O membungkukan badan secara formal sebagai simbol permintaan maafnya.

TaeYeon terkekeh melihat D.O sedemikian rupa melakukan hal itu. "Hey, kau ini kenapa D.O ? aku tak menyalahkanmu. Lagi pula, kau tahu sendiri kan keadaan rumah kita seperti apa ? Setiap hujan turun pasti ada saja ruangan yang penuh dengan air akibat celah yang bocor. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu." TaeYeon Tersenyum kepada D.O. Apapun yang dikatakan oleh TaeYeon pasti bisa membuatnya terenyuh. Ia tersenyum simpul, lalu ia berjalan mengelilingi ruangan untuk mencari celah yang bocor.

D.O tertawa seiring ingatannya berlarian di otaknya. Ia takan melupakan apapun yang di katakan oleh TaeYeon. D.O menghembuskan nafas berat. Nampaknya ia telah lelah menunggu sampai bulan berganti jadi matahari.D.O mengembungkan pipinya, lalu mengempis lagi, mengembungkan lagi dan mengempis lagi. Begitu seterusnya, hingga tulang pipinya terasa pegal. Ada alasan tertentu mengapa D.O tak mau tertidur seperti yang lainnya. Ia ingin tidur seperti yang lainnya, namun rasanya sulit untuk melakukan hal itu. Ia takut tak bisa mengingat lagi saat – saat ini. Ia terlanjur bahagia dan jatuh cinta pada suasana yang ia dapat malam ini. Ia mendongak, lalu mencari keberadaan tas yang sedari tadi tak ia periksa. Ia berdiri untuk meraih tasnya yang berada di samping meja kecil yang dekat dengan tempat Chanyeol tertidur. Ia berjalan perlahan mendekati Chanyeol, sangat perlahan hingga tak terdengar sama sekali langkah kakinya. Berusaha untuk tidak membangunkan yang lainnya. Namun, usahanya tak membuahkan hasil.

"Kau belum tidur D.O ?" Tanya Chanyeol secara tiba – tiba. D.O terperanjat saat tiba – tiba Chanyeol terbangun dari tidurnya. D.O tergagap. Ia bingung harus menjawab apa, tangannya tak henti menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. "Hmmm~ aku.." menggantung. D.O menggantungkan perkatannya. Chanyeol beralih posisi menjadi duduk menghadap D.O yang tengah berlutut untuk mengambil sesuatu dalam tasnya.

"Tempat tidurnya tak cukup nyaman untukmu ya ? Ah~ maaf, kami tak punya tempat lain untuk tidur, satu satunya tempat yang nyaman bagi kami untuk berisitirahat hanya disini. jadi tolong dimaklumi" Chanyeol tersenyum tipis. Terlihat samar karena suasananya memang tak memungkinkan untuk melihat dengan jelas. D.O mendelik mendengar perkataan Chanyeol barusan. "Hah~ anio.. bukan itu permasalahannya. Hanya saja.. aku.. hmmm~ aku terkena penyakit Insomnia. ya .. Insomnia" Bodohnya kau D.O.. Batin D.O memaki dirinya.

Mata Chanyeol membola. Mencoba meyakini perkataan D.O. "Insomnia ? Sejak kapan ?" Tanya Chanyeol antusias.

jackpot, D.O tak mampu menjawabnya.

.

.

"Hidup itu akan selalu dilingkupi oleh masalah yang beragam di setiap waktunya. tak akan ada yang bisa menghentikannya, sebelum kita menghadapi semua itu dengan semampu kita"

.

.

Chanyeol menatap D.O dalam. Setelah mendengar pernyataan D.O yang tak dapat secara langsung ia pahami. Ia berfikir keras untuk bisa memahami apa yang baru dikatakan oleh D.O. "Benarkah itu ?... D.O.~" Chanyeol sedikit menelan cairan yang ada di dalam mulutnya itu. D.O diam. Ia panik. Namun, ia tetap terlihat tenang. Ia panik karena sesungguhnya ia tak ingin ada orang selain Taeyeon , yang tahu tentang penyakitnya. Penyakit yang selama ini berhasil membuat D.O makin tenggelam dalam lautan kesedihan dan perasaan kesal terhadap hidupnya. Miris memang, awalnya ia yakin bahwa ia dapat tenang karena mungkin penyakitnya tak dapat mengganggu rencananya untuk mencari kedua orangtuanya. Namun kenyataannya berbeda. Syaraf kerja pada otak D.O tak dapat bekerja dengan baik seperti dulu. Dan kini, ia harus menerima kenyataan bahwa sulit untuk mengingat kembali kejadian yang terjadi di waktu yang lampau saat tubuhnya terbangun dari tidurnya.

"Ya ! terkadang, akupun tak percaya bahwa aku memiliki penyakit seperti itu. Aneh bukan ? Kau takan bisa mengingat hal hal yang terjadi di hari kemarin sebelum ada seseorang yang memberitahumu secara detail apa saja yang kau alami di hari kemarin. Baru lah kau bisa mengingat semuanya.." D.O tersenyum miris. menyampaikan suatu rahasia besar tentang dirinya kepada orang yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu. Chanyeol tertegun, dia tersentak, dan dia tak percaya.

"Lalu, bagaimana bisa kau mengingat siapa namamu, latar belakangmu, tujuanmu, bila saja kau tak bertemu dengan kami dan tanpa diduga kau merasa lelah lalu tertidur begitu saja. Apa kau akan melupakan semuanya ?" Tanya Chanyeol dan masih dengan intonasi yang menggambarkan ketidak percayaannya pada apa yang dialami oleh D.O. dengan senyuman, D.O beranjak. menarik tasnya yang berada tak jauh darinya, membuka resleting tasnya, dan lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. "Dengan ini," sebuah buku tebal berwarna abu abu dengan tali berwarna hitam sudah terambang di lengan D.O. memamerkan barang miliknya kepada Chanyeol. Barang yang bila diibaratkan adalah satu satunya obat yang dapat menenangkannya dari rasa panik saat dia benar benar kehilangan nalarnya. Chanyeol menyorotkan matanya pada sebuah benda yang ditunjukan oleh D.O. Lalu beralih menatap D.O dengan mimik sangsi. "Maksudnya ? kau mencatat setiap kejadian yang kau anggap penting di buku itu ? agar kau dapat mengingat kejadian dimasa lampau tanpa meminta pertolongan orang lain.. iya ? seperti itukah ?" Tanyanya. tak perlu menunggu lama, anggukan telah mengujam kepala D.O, di sertai senyuman. "Dan dari sinilah aku dapat mengingat segala hal yang dikatakan Taeyeon noona kepadaku." tukas D.O diiringi senyum ringan. Menghasilkan getaran lembut dihatinya kala mengingat kenangan manisnya bersama noona~nya itu.

Chanyeol mengangguk disertai deham-an kecil. Kini ia mengerti akan kekurangan yang dimiliki oleh orang baru dihadapannya. Meskipun terkenal baru, namun nampaknya Chanyeol sudah dapat mengerti perangai dari seorang D.O.

Dia pantas dikasihani, namun hanya orang bodoh yang berani mengasihani orang setegar dia.

Chanyeol menepuk pundak D.O, tersenyum padanya, sebelum akhirnya ia memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya diatas karpet tipis dan gundukan bantal usang. tertidur di samping pria kecil yang masih terlelap dalam tidurnya. "Baiknya kau tidur D.O, perihal penyakitmu.. tidakkah kau menulis kejadian hari ini ? pertemuan pertama dirimu dengan kami ber-lima.. apa kau tak ingin mengingatnya ?" gumam Chanyeol diselingi argumen kecil. D.O menilik ke arah Chanyeol, memperhatikan ketampanan yang dimiliki pria tinggi itu. beberapa detik berlalu, D.O tersenyum simpul. "Benar juga, kenapa tak terfikirkan olehku , ya ?" D.O beralih pandang, memicing kearah tas hitam besar miliknya, lalu meraihnya dalam hitungan detik, mencari benda panjang berisi tinta hitam yang seharusnya berada tak jauh dari sisi buku sakralnya. setelah cukup lama tangannya melesat mencari benda panjangnya itu. Akhirnya ia menemukan pasangan dari buku itu.

Chanyeol tersenyum melihat polah santai D.O dalam menanggapi hal yang seharusnya ditakutinya.

Kehilangan ingatan saat tubuh terlelap. Rotasi kerja otak terhenti, memicu rangkaian memori dalam saraf terkunci. Dan menyebabkan hilangnya ingatan akan siapa ? dan kenapa? siapa ? dan dimana ? kapan ? dan bagaimana ? dirinya.

Jari jemari D.O bersiap menuliskan apa-apa yang harus ia goreskan di kertas putih yang biasa menemani harinya. -bisa disebut sebagai buku harian-

10 - februari - 2014

Hari dimana aku, D.O, pergi dari tempat persinggahanku. Melangkah jauh tanpa bayang-bayang Taeyeon~noona. Wanita tegar yang telah berjasa dalam merawatku selama belasan tahun lamanya. Dan dengan setianya ia menunggu hingga orang asing yang aku yakini pernah masuk kedalam kehidupanku kembali datang untuk menjemputku. Tapi, mereka tak datang. Mereka tak datang dan tak akan pernah melakukannya. Untukku ?

Dan aku putuskan untuk mencari mereka. Biar aku yang mencari mereka. Bisa saja aku putus asa dan memilih untuk tinggal bersama noona di panti asuhan, juga bersama adik-adik kecilku disana. Hanya saja, aku amat terobsesi untuk mencari perawakan dari sosok mereka yang katanya mampu memberikan kasih sayang lebih terhadap anak-anaknya. Sosok yang katanya akan menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Tetapi, mengapa aku tak seberunntung yang orang katakan ? Entah harus darimana aku memulai mengenali wajah mereka sehingga aku dapat mengetahui wujud asli mereka ?! ataukah mungkin dari sosok diriku dan wajah sepertiku ? ya~ Mungkin dari situlah aku dapat mengenali wajah mereka.

Hari ini, pun menjadi hari dimana aku menemukan sosok-sosok sepejuang sepertiku. Bedanya, mereka lengkap. Hidup mereka terpenuhi. Sosok-sosok yang orang bilang adalah sosok penyayang sekaligus pelindung bagi anaknya, berada dekat dengan diri mereka. Meskipun, keberadaan sosok-sosok itu tak membuat mereka -baik-baik saja-. Tapi, setidaknya mereka pernah merasakan rasa sayang itu. mereka pernah merasakan rasanya dilindungi. Meskipun, itu tak berjalan lama. Menurut penjelasan singkat mereka, keberadaan mereka disini karena mereka mencari letak kebahagiaannya, mencari keadilan diatas ketidakadilan dari sosok yang mereka sebut sebagai orang tua.

Chanyeol. pria tinggi yang pertama kali mengetahui penyakitku selain Taeyeon noona. Teman baru yang pertama kali dapat memahami keadaanku, memahami tentang diriku. Pria tampan yang baik. Pria yang memiliki tinggi badan sekitar lebih dari 180 cm.

Baekhyun. Pria kecil yang baik dan menggemaskan. Ia mempunya tatapan mata yang meneduhkan hati. Tatapan mata yang melengkapi raut wajahnya yang sendu. Ia sama sepertiku. Entah terlihat dari sisi mana ? namun, menurut penjelasan yang lain, aku dan dia sama-sama dibawa oleh pria bernama Kai. Ya ! Kai..

Kai.. pria bersurai hitam dan memiliki kulit tan, adalah pria yang membawaku kedalam kelompok ini. sekelompok individual yang mencari letak kebahagiaannya. Entah kenapa, dia membawaku, menarik tanganku dan mengajakku berlari bersamanya menuju tempat asing yang kini aku pijaki. sebuah bangunan tua. tapi dia terlihat nyaman menempati tempat seperti ini. Dia terlihat dingin. Tapi, aku yakin, dibalik sifat dinginnya yang begitu memikat selama aku berada di dekatnya, tersirat sifat manis yang mungkin akan ditunjukannya kepadaku suatu hari nanti.

Suho. Pria yang memiliki warna kulit lebih putih dari yang lain. Tubuh pria ini tak besar, sama seperti Baekhyun. Berdasarkan wacana yang aku bicarakan dengannya saat makan malam tadi, sepertinya dia adalah sosok yang bertanggung jawab, dan dapat memahami kekurangan dari masing masing kami.

Sehun. Pria tampan yang memiliki raut wajah datar, tatapan datar, dan sorotan mata yang datar. Mungkin ia mempunyai satu kisah yang sulit ia terima sehingga terpengaruh kedalam setiap hal yang ia lihat. Tapi, bisa saja tidak. Ia baik. Semua yang ada pada dirinya terlihat sempurna.

Mereka berlimalah yang akan menemaniku di kemudian hari, menemaniku menemukan letak kebahagiaanku yang dirampas oleh sosok yang disebut, orangtua..

Aku harap, Chanyeol dan yang lain dapat membantuku menemukan sosok itu. Membantuku dalam setiap hal yang aku butuhkan. membantuku dan menemamiku melewati kerasnya hidup ini.. Semoga..

D.O tersenyum setelah mendapati tulisannya mencapai epilog. Lantas menutup buku itu dan mengikatnya pada tali hitam yang terdapat di balik buku. Lalu menaruhnya kembali ke dalam tas yang masih dalam keadaan terbuka. Ia menilik kearah Chanyeol, ia sudah terlelap. Mungkin saat D.O tengah sibuk dengan tulisannya. Lalu mengalihkannya ke Pria kecil yang berada disampingnya, ya, dia Baekhyun. Ia pun masih terlelap. Begitupun yang lainnya. Untunglah percakapan dirinya dengan Chanyeol tadi tak mengusik tidur Baekhyun. D.O menghela nafas, menaruh lagi tasnya di samping Meja kayu kecil yang terletak persis di samping Chanyeol. Setelah itu, ia pun memilih untuk merehatkan tubuhnya di tempat yang sudah disediakan oleh Chanyeol. Di dalam bangunan ini terdapat Lima ruangan yang dimana 3 ruangan adalah tempat untuk beristirahat. dan satu ruangan lagi tepatnya di ruangan yang langsung terhubung dengan halaman depan, digunakan untuk berkumpul dan saling melepas kelelahan mereka dengan bergurau bersama, dan satu ruangan lagi adalah dapur dan sebuah kamar mandi. Cukup lengkap, namun kesan pertama yang didapat dari banguna ini adalah, sanagt tua dan tak layak huni. Namun, entah kenapa Chanyeol dan kawan-kawan memilih untuk tinggal diaini ketimbang tinggal di rumah orang tua mereka masing-masing. Mungkin saja kediaman mereka yang lama lebih nyaman dari sekarang. Entahlah.. itu masih menjadi tanda tanya di benak D.O

D.O sendiri memilih untuk tidur bersama Chanyeol dan Baekhyun disatu ruangan yang sama. Ia merasa lebih nyaman bila tidur dengan banyak orang. Seperti kebiasaannya dulu saat masih tinggal dengan Taeyeon di panti asuhan milik mendiang Ibunya.

Jam menunjukan pukul 02.45 KST, waktu yang tak banyak untuk ia terlelap. Tapi, setidaknya tubuhnya bisa beristirahat walau beberapa jam saja. Namun, bagaimana dengan otaknya ? Bisakah bekerja secara normal ? Bisakah ia mengingat hal ini di saat tubuhnya terjaga ?

Kini. Mata D.O sudah tertutup rapat. Mencoba untuk menyusul yang lain dalam mencapai mimpi mereka. D.O sendirupun tak tahu, apa ia bisa bermimpi ? Atau sebaliknya ? yang mana opsinya saat ini adalah tertidur, dan mengistirahatkan tubuhnya setelah lama berjalan jauh menuju kota. Senyapnya malam, menjadi saksi bisu akan argumen kecil antara Chanyeol dengan D.O tadi, dan menjadi saksi bisu kembalinya D.O dalam melelapkan dirinya dalam tidur.

"Akankah aku mengingat kalian ?"

Makin tinggi hari, makin susut embun pagi yang lekat di daun-daun, habis tak ketahuan perginya, tak pula meninggalkan jejak. Lama lama hilang lenyap tak berbekas. Tersenyum merekah sang mentari menyambut para manusia yang tengah tiba di perbatasan pagi dan siang. Lain halnya dengan pria yang satu ini. Ia masih berlindung dibalik tidurnya yang takut hilang akibat gangguan secercah cahaya yang masuk melalui jendela tak berkaca. Padahal, yang lain sudah mulai sibuk dengan aktifitasnya pagi itu.

Baekhyun yang sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan musik di mp3 player, duduk di atas tempat yang tadi malam berhasil membuatnya tidur dengan nyenyak tampa hambatan. Memejamkan mata, sambil sesekali mengangguk anggukan kepalanya memberi tanda bahwa ia tengah asyik mengikuti alunan melodi yang terdengar dari earphone yang ia kenakan. Karena terlalu nikmat melakukannya, pria kecil itu kembali terlelap memasuki alam bawah sadarnya.

Di luar, Sehun dan Kai tengah asyik mengobrol di ruang tengah sambil bersenandung kecil, mengalahkan kicauan burung yang tengah riang bersiul dan saling bersahutan. Sementara Chanyeol baru saja tiba dari supermarket untuk membeli beberapa mie instan yang akan menemani mereka sarapan pagi itu. Yang mana barang bawaannya langsung ia letakkan di dapur dan mulai memasaknya.

Suho yang baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan handuk yang melingkar dilehernya, berjalan kearah kamar Chanyeol, Baekhyun, dan juga D.O yang masih tertidur pulas, untuk mencari barangnya yang tertinggal disana. Ia masuk kedalam sana sambil bernyanyi ria tanpa menghiraukan Baekhyun dan juga D.O yang masih terlelap. Suaranya mengalahkan dentuman lagu di telinga Baekhyun. Akibatnya, tidur Baekhyun terusik dan iapun terbangun dan langsung mencari-cari siapa yang berani mengacaukan mimpi indahnya berciuman dengan idolanya.

"Hyung, bisakah kau kecilkan volume suaramu. Aku tidak bisa tidur jika kau bernyanyi." Baekhyun langsung bersuara saat mengetahui siapa yang sudah membuatnya kesal. Suho mengernyit menanggapi teguran dari Baekhyun. Ia melirik kearah aerphone yang melingkar dileher Baekhyun, dan menjawab, "Huh~ Kau saja menggunakan aerphone, bagaimana bisa kau terganggu dengan suaraku. Bahkan Kai, Sehun, Chanyeol, bahkan D.O yang masih tidurpun tak terganggu dengan suaraku." Tukasnya seraya berkacak pinggang. Tak lama, terdengar teguran lain dari Sehun.

"Benar apa kata Baekhyun hyung, kami terganggu dengan suaramu, Suho hyung." Teriak Sehun yang lebih terdengar seperti sindiran untuk Suho sekaligus pembelaan untuk Baekhyun. Suho yang menyadarinya langsung terkekeh dan mengelus tengkuknya gugup. "Hehe~ baiklah, lebih baik aku tidak menyanyi lagi." Ucapnya pelan karena menahan malu. Baekhyun yang mendengarnya langsung melipat kedua tangannya diatas dada, dan kembali memejamkan matanya. Suho pun kembali bergulat pada setumpuk buku dan barang-barang lain milik Chanyeol yang ia letakan di dalam lemari kayu berukuran sedang.

Tak lama, Baekhyun kembali mengeluarkan suaranya, "Hyung, tadi kau menyebut - nyebut nama Chanyeol. Apakah ia sudah kembali ?" Tanyanya antusias. Suho hanya berdeham dan kembali pada kesibukannya, sebelum akhirnya kembali berbicara, "Dia sedang berada didapur, membuatkan kita sarapan. Mungkin dia membutuhkan bantuanmu Baek."

Ekspresi wajah Baekhyun langsung berubah drastis. Senyum lebar telah terpasang diwajah imutnya. Apa yang ia tunggu telah datang, setelah mengetahui kehadiran Chanyeol, ia pun langsung berlari kedapur setelah mendengar jawaban dari Suho. "Yeollie-ah.. Kau masak apa ?" terdengar teriakan Baekhyun saat ia berlari dan sampai keruang tengah yang langsung mengarah kedapur. Suho yang melihat tingkahnya itu hanya dapat menggelengkan kepala.

Setelah lama tangannya bertarung dengan tumpukan barang, Suho berdecak sebal saat apa yang ia cari tak kunjung ia temukan, "Aissh~ dimana jam tanganku ? Chanyeol, kau taruh dimana jam tanganku, hey ?" Teriak Suho kepada Chanyeol. Alhasil, teriakannya mampu mengusik tidur pria yang berada di ruangan itu juga. Tepatnya di pojok kamar.

D.O menggeliat malas. Lalu perlahan membuka matanya. Ia sedikit menyipitkan matanya karena cahaya matahari langsung menabrak matanya yang belum sempurna terjaga. Suho menoleh kearah D.O karena merasa ada kegiatan lain selain dirinya didalam sana. Ia melihat D.O sudah duduk dengan sorotan mata yang sibuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan itu, termasuk melihat Suho yang tengah bingung memperhatikan sikapnya. Lantas Suho tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata D.O, "Kau sudah bangun ?" Tanya Suho.

D.O yang merasa diajak bicara, memasang wajah bingung, sebelum menjawab, "Aku, dimana ?"

.

.

~Who Am I ?~

.

.

"Aku dimana ?"

Jawaban yang mengandung pertanyaan. Suho terkejut mendapati jawaban sekaligus pertanyaan dari D.O. Dia bertanya, dia dimana ? Dia amnesia atau apa ? Sepertinya baru semalam kami menemuinya. Atau mungkin, aku kelamaan tertidur hingga ketinggalan sesuatu. Pikiran aneh Suho berkecamuk ria di benaknya. Bagaimana bisa ? Suho berjalan mendekati D.O yang masih duduk dalam diam.

Ketika itu pula Chanyeol masuk, sambil berbicara, "Kau sudah menemukannya hyung ?" Tanyanya kepada Suho yang tengah sibuk mencerna keadaan. Dirasa tak ada yang salah, ia langsung menoleh kearah Chanyeol. Keadaan semakin membingungkan saat terlihat Chanyeol diam sambil menyorotkan matanya pada sosok D.O yang belum bergerak barang secenti-pun.

Apa ia masih ingat semuanya ?

Chanyeol segera menghambur kehadapan D.O yang sepertinya iapun bingung dengan keadaan disini. Wajahnya seketika pucat, sama halnya dengan D.O. Melihat mimik Chanyeol yang tak meyakinkan akan keadaan disekitarnya kini, Suho memutar bola matanya, lalu menajamkan matanya. Ada yang tidak beres disini. Hati dan akalnya pun tergerak untuk menanyakan semuanya kepada Chanyeol. Ia mencurigai Chanyeol tahu semuanya dibalik kebingunan yang tercipta diruangan ini. Ia pun mendekati Chanyeol dan duduk disisi D.O. Dengan ragu-ragu, ia menatap mata Chanyeol lamat-lamat.

"Dia kenapa, Chanyeol ?" Tanya Suho panik. Chanyeol memejamkan matanya. Lalu kemudian mengulum bibirnya. Ya tuhan, dia terlihat sangat buruk, bahkan lebih buruk dari keadaannya dulu saat tiba-tiba Baekhyun tertimpa kecelakaan dan dinyatakan mengalami koma selama seminggu. Suho semakn khawatir pada keadaan Chanyeol, juga D.O yang tak kunjung berbicara. Ia geram, "Park Chanyeol !"

hening.. Mata Chanyeol berair..

"Penyakitnya, kambuh.."

.

.


Halooo guyss.. ^^

Gimana dengan chapter ini ? Dirasa ada yang kurang ? Atau apa ? Kalo banyak typo, maafkan saya.. ^^ oh ya, ni fanfic TBC ? Or end ? Up to your opinions guys..

I hope you leave a critics, suggestions, and whatever it is that support this fanfic up to next chapter.. :)

Oke.. please review in the review box guyss..

Thank you very much :*