Medacium
Cast:
Byun Baekhyun –GS
Park Chanyeol
Jung Daehyun
.
.
.
Mencintai dalam kepalsuan adalah suatu hal paling menyakitkan dan Baekhyun hidup dalam itu semua. Tapi akankah semua akan baik-baik saja ketika Baekhyun berusaha melampaui batas yang tak kasat mata?.
.
.
"Apa kau akan ke rumah sakit hari ini?" Sebuah pertanyaan dilayangkan oleh pemilik suara berat yang baru saja menginjakkan kaki di ruang makan.
"Sepertinya begitu, mereka membutuhkanku dalam proyek pengadaan kali ini, mereka tidak benar-benar bisa diandalkan!" ucap sang wanita yang tengah menata jamuan sarapan di hadapan suaminya itu.
"Jangan terlalu memaksakan diri!" Kata yang sebenarnya sarat akan sebuah perhatian itu sepertinya sama sekali tidak mengusik sang wanita.
"Usia kandunganmu sudah lima bulan, kita perlu pindah ke tempat yang lebih luas dan kau butuh adanya penjagaan ekstra, apa kau mau?" Itu bukan sebuah pertanyaan tetapi lebih tepat di sebut pernyataan karena hanya dapat dijawab anggukan kecil tanpa penolakan.
"Apakah kau akan lembur lagi kali ini?"
"Ah, sepertinya begitu, aku harus segera bersiap, jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu lelah Baekhyun-ah, aku pergi dulu." Chanyeol mengecup pelan pucuk kepala wanitanya, ya mungkin lebih tepat disebut wanita yang sah di mata Tuhan dan publik untuknya.
Jika sekarang ini Baekhyun masih menjadi gadis naif percaya segala hal itu indah maka mungkin ia akan tersipu melihat bagaimana perhatiannya sang suami. Namun itu dulu, sebelum wanita naif dengan berbagai pikiran positif itu terganti dengan wanita penuh dengan topeng kepura-puraan.
Jika boleh jujur Baekhyun telah muak. Muak akan segala kepalsuan yang tersaji di depan matanya. Muak karena harus menutup rapat-rapat mata dan telinganya, muak karena harus memakai topeng kepura-puraan demi nama baik Hanshim Group dengan dirinya sebagai pewaris, muak akan cinta sepihak yang telah bertahun-tahun dirasakannya. Muak akan dirinya sendiri.
Sembari menyesap kopi pagi itu ia mencoba mengingat kembali kenapa ia harus terjebak dalam kehidupan seperti ini. Dan rasa pahit yang melewati kerongkongannya itu sungguh membawa kembali berbagai kenangan yang membawanya sampai titik ini. Hanya ada satu nama. Park Chanyeol.
Namanya Park Chanyeol, begitu kata Kyungsoo saat usia mereka delapan atau sembilan tahun.
Sebelumnya Baekhyun beberapa kali pernah mendengar nama itu di sebutkan oleh orangtuanya. Seorang pewaris dari sebuah perusahaan bergambar burung besar, hanya itu yang diketahuinya kala itu.
"Kyungie-ya apa kau tahu laki-laki bertelinga besar itu?" Baekhyun berucap tanpa memandang putri pengacara ayahnya itu, ia hanya menatap lurus kearah salah satu tamu undangan pesta kolega ayahnya."Ah dia Park Chanyeol, dia pewaris perusahaan bergambar burung besar." Jawaban Kyungsoo hanya diberi apresiasi dengan anggukan kecil.
Entah apa yang dirasakan Baekhyun kala itu, dirinya tidak begitu yakin tapi ia menyukai sensasi perasaan bagaimana pandangan mata lelaki itu menatap tepat kearah matanya.
000
Seperti perkataannya pagi tadi, sekarang Baekhyun telah sampai di Rumah sakit yang letakknya tidak begitu jauh dari apartemenya. Hanshim Hospital, begitulah nama dari salah satu bisnis Hanshim Group yang sebentar lagi akan jatuhu ke tangan Byun Baekhyun sebagai pewaris mutlak dari salah satu bisnis terbesar di Korea.
"Nona Byun, selamat datang."
Baekhyun mengedarkan pandangan malas kepada seluruh petinggi rumah sakit yang sekarang ini sedang mennyambutnya tepat setelah ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Apakah mereka masih berpikir untuk menjilat seorang Byun Baekhyun?
Tanpa basa basi Baekhyun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit. Wanita hamil itu benar-benar memiliki aura mengintimidasi yang tidak main-main. Seluruh perawat dan juga dokter menunduk penuh hormat kepadanya saat melewati lorong rumah sakit hingga ia berdiri tepat berada di depan lift.
"N-Nona, sebaiknya Anda memakai lift khusus supaya tidak perlu menunggu." Suara direktur rumah sakit mengintrupsi kegiatan Baekhyun yang sedang melihat tanda panah turun di samping pintu lift.
"Kalian kembalilah bekerja, masih ada tiga jam sebelum rapat, dan jangan berani mengikutiku!" Ucapnya final sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.
Lantai delapan adalah tujuan Baekhyun, lantai yang dikhususkan untuk perawataan anak-anak. Baekhyun memang mempunyai aura mengintimidasi yang tidak bisa diragukan tapi entah mengapa itu semua menguap begitu saja ketika ia melihat wajah polos anak-anak.
"Ah selamat datang nona ketua."
"Aku belum menjadi ketua Seulgi-ssi, aku membawa coklat untuk mereka." Baekhyun menyerahkan paper bag yang sedari tadi dibawanya itu kepada perawat yang telah lama di kenalnya itu.
"Woahh, lihat Noona datang kemari !" Teriak salah satu anak lelaki kepada teman-temannya yang sedang sibuk dengan permainan mereka.
Bermain dengan anak-anak sembari menunggu waktu rapat bukanlah ide buruk, begitulah yang dipikirkan Baekhyun saat ini. Ah, dan apakah Baekhyun pernah bilang dia lebih mencintai anak-anak daripada gedung pencakar langit miliknya?
000
Jika boleh dikatakan rapat bukanlah hal yang menguras energi maupun emosi Baekhyun namun lebih membuat bosan wanita itu. Berhadapan dengan orang-orang dengan dasi terikat dan sepatu mengkilat yang siap menjilat kapan saja jika dibutuhkan untuk memuluskan beberapa tipu muslihat yang diperbuat untuk membuat pundi-pundi won di rekening mereka meningkat bukanlah sesuatu yang menarik minat Baekhyun.
Wanita itu bisa menjadi belut dengan berbagai cara untuk meloloskan diri ketika terdesak dan dapat menjadi anjing gila ketika ia melihat mangsa, itu bukan rahasia lagi. Nama Byun Baekhyun sudah begitu di perhitungkan secara nyata setelah ia benar-benar memegang kewanangan bisnis dari Hanshim atau bisa dibilang setelah pengumuman pernikahannya tiga tahun lalu.
Pernikahan dengan pewaris Bonghwa Group merupakan salah satu berita paling menggemparkan korea, bersatunya dua group besar membuat laju saham berubah setiap waktunya dan mungkin imbas yang sama ketika mereka berpisah.
Dan kali ini ia berubah menjadi koala pemalas. Ia telah melihat keseluruhan pengajuan pengadaan dan itu semua hanya sampah omong kosong, ia hanya menunggu para pembual ini selesai berbicara lalu ia akan mencoret keseluruhan pengadaan dan meminta revisi untuk minggu depan. Jika tidak mungkin ia akan bertindak di luar nalar. Ingat, wanita itu adalah anjing gila.
"Revisi semua, banyak pengadaan yang tidak perlu, membuang uang perusahaan dan pencairan uang terlampau banyak. Apa kalian ingin membuat Hanshim bangkrut? Kita adakan rapat minggu depan dan kuharap aku tidak mendengar bualan lagi." Ucap Baekhyun final sebelum melangkahkan kakinya keluar ruang rapat.
000
Bila boleh jujur ia sangat tidak suka tindakan tidak profesional namun sekarang ia telah melakukannya. Memikirkan menu makan siang dari pada bagaimana pengadaan sepanjang rapat berlangsung kali ini sebenarnya membuat ia mengutuk dirinya sendiri bagaimana ia yang membentengi diri dengan sikap profesional harus kalah dengan aroma muffin di kafe seberang rumah sakit.
Salahkan saja bayinya yang menginginkan makanan itu sehingga ia kini berada di kafe sendirian, ya sendirian. Ia telah mengirim supirnya untuk pulang dengan alasan ia akan menelpon saat urusannya telah selesai meskipun ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk menghubungi pria empat puluh tahun itu.
Menyesap cokelat panas lebih dipilihnya mengingat musim gugur telah tiba apalagi ia tidak disarankan meminum banyak kafein.
Entah mengapa ia merindukan saat-saat seperti ini. Saat dimana ia berbagi dengan dirinya sendiri. Sekarang ia merasa poros hidupnya telah berubah.
Diusap perlahan perutnya yang sekarang terlihat membuncit, ia merasakan sedikit gerakan meskipun tidak terlalu ketara. Hanya bayi inilah yang mampu membuatnya bertahan di titik ini meskipun ia ingin setidaknya sekali ia bisa membebaskan dirinya.
"Ketua Byun,"
Sapaan seseorang membuyarkan lamunan Baekhyun tentang bagaimana bayi ini nanti kedepannya dan langkah apa untuk menyelamatkan buah hatinya tersebut.
"Ah dokter Jung." Baekhyun hanya memanandang sekilas dokter muda di depannya sebelum kembali menyesap cokelatnya.
Ia banyak mendengar tentang dokter muda ini. Sangat berbakat, paras memikat dan jika di telisik lebih lanjut ia adalah sang kakak tingkat. Satu tahun lebih tua dari Baekhyun yang bersekolah di tempat yang sama dengannya dan Chanyeol.
Jika lebih jauh ditelusuri hubungan Baekhyun dengan lelaki bermarga Jung ini seharusnya tidak secanggung ini, bukan sebatas pemilik rumah sakit dan dokter karena nyatanya di masa sekolah dulu lelaki dengan senyum mematikan ini sering mengiriminya surat, bukan surat tanah apalagi surat hutang tetapi surat cinta dengan penuh kata romantika. Namun Baekhyun menolak dengan terang-terangan saat itu. Karena dirinya saat itu masih seorang gadis naif yang memuja dan mendamba suaminya kini.
Baekhyun menolak lelaki ini tapi bukan secara langsung mengatakan jika ia sama sekali tidak tertarik hanya saja ia mengatakan jika menjadi sahabat lebih baik. Dan kini mereka ada dalam lingkaran persahabatan yang mereka buat.
"Ketua anda sendirian?" lelaki itu mencoba memecah keheningan.
"Berhenti memanggilku Ketua, Jung Daehyun. Aku belum menjadi ketua." Baekhyun menyelipkan nada merajuk dalam kalimatnya yang membuat Daehyun terkekeh pelan.
"Jadi ingin kupanggil apa? Baby Byun?"
"Dan kau tidak akan pernah lagi muncul di muka bumi!"
"Ah aku lupa jika sekarang kau adalah Nyonya Park yang terhormat, maafkan aku Nyonya."
Baekhyun mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat itu.
"Candaanmu kurang berbobot, Daehyun." Dan membuat lawan bicaranya kembali terkekeh.
"Apa kau bahagia?"
Pertanyaan singkat dari lelaki didepannya ini tepat mengenai sasaran. Ia pernah membaca jika bahagia itu adalah saat kita melihat suatu hal sesuai keinginan kita, dan itu sama sekali bukan keadaan Baekhyun saat ini. Baekhyun memang cantik, kaya dengan suami yang tidak diragukan ketampanan dan kekuasaannya.
Baekhyun bahagia tentu saja meskipun semu.
"Di suatu waktu aku bahagia, tapi di saat lain aku begitu menderita." Ucapnya lirih.
"Kau bukan Baekhyun si gadis lugu yang kukejar dulu, kau telah bermetamorfosa."
"Apakah menjadi kupu-kupu cantik atau nyamuk penghisap darah?" Daehyun hanya mengendikkan bahunya perlahan.
"Entahlah, aku belum melihat keseluruhannya."
Dan disaat mendengar jawaban Daehyun ekor mata Baekhyun menangkap sesosok postur tubuh yang sangat Baekhyun kenal dengan pasti.
"Daehyun, mau bermain drama denganku?"
TBC
Aaa... akhirnya bisa up, pendek emang maaf ㅠㅠ
Makasih yang udah mau meluangkan waktu untuk review
Makasih juga buat kakak mecum park ayoung senpainim yg mau meluangkan waktunya yg super duper sibuk untuk mengoreksi
Aaa makasih semuanya
Salam cinta
Newtsand
RnR?
