Hi, everybody! Maaf Anne baru update sekarang. Kemarin Jumat perut sakit banget sampai nggak bisa berdiri. Selalu begini tiap bulannya *yang cewek pasti paham* Tapi, kali ini chapter 2nya sudah siap. Untuk giliran pertama langsung aja ke anak tertua, ya. Alias si James Sirius Potter. Kelakuan apa lagi dari James sampai Ginny ikut turun tangan?

Buat yag review thanks banget..!

Langsung aja cari tahu, ya!

Happy reading!


Hari pertama di tinggal Harry menciptakan suasana baru di rumah. Terutama pada Ginny. Meski di hari-hari biasa suaminya itu memang tak ada sepanjang siang, Ginny cukup terhibur dengan adanya Harry di rumah dari sore sampai pagi hari sebelum berangkat bekerja.

Malam tadi ia tidur sendiri. Dan malam ini... dipastikan tak akan ada lagi yang menamaninya di tempat tidur. "Cieee Mom kangen Dad, ya?" seru Lily tiba-tiba. Ginny tak sadar kalau putri bungsunya itu masuk ke dapur. Ginny sedang mencuci piring setelah acara makan malam selesai beberapa menit lalu.

Lily tampak mengambil cemilan di lemari es. "Ahh sejak kapan kau di situ, sayang?" kata Ginny menutupi rasa gugupnya. Wajahnya langsung merah tak tertahan. Ya, Ginny rindu Harry.

"Dua menit lalu. Mom, sih, yang melamun sendiri, sampai tak sadar Lily masuk," seru Lily menggoda.

"Ya iya, lah.. namanya juga saling mencintai, pasti merasa kehilangan, Lily. Walaupun baru sehari," Al rupanya ikut masuk dan mengambil segelas air putih. Ia ikut bermain mata dengan Ginny. Ikut-ikutan menggoda ibunya dengan meniru kebiasaan Harry saat menggoda Ginny. "Iya, iya. Mom kangen Dad kalian. Dan kau Al, jangan makin membuat Mom kangen dengan Dadmu,"

"Salah sendiri kenapa aku bisa mirip sekali dengan Dad," balas Al tak mau kalah.

"Mana Mom dan Dad tahu kau bisa mirip sekali dengan Dadmu, eh.. tapi kenapa kalian bisa cepat tahu kalau Mom sedang merindukan Dad hanya melihat ekspresi Mom?" tanya Ginny.

Ginny melanjutkan pekerjaan mencuci piring kotor dan membereskan beberapa sisa makanan yang tak habis. "Karena James juga seperti itu," jawab Al dan Lily bersamaan.

"James?" ulang Ginny tak percaya.

"Iya, lihat saja sendiri, Mom. Dia sedang..," Lily mendekat dang meminta Ginny merendahkan kepalanya, Lily berbisik, "jatuh cinta," katanya pelan.

Al tertawa melihat tingkah adiknya tampak antusias dengan perubahan dari kakak pertama mereka. "Mom harus lihat sendiri bagaimana James, apakah ia benar-benar sedang jatuh cinta atau kami saja yang salah melihatnya. Kau kan lebih pengalaman, Mom."

"Tapi aku rasa James benar-benar sedang jatuh cinta dengan gadis Hufflepuff itu," Al pergi berlalu sambil berguman tak jelas. Tapi.. Ginny mendengarnya.


Jam ruang tengah menunjukkan pukul 11 malam. Ginny melirik kembali lembaran naskah Daily Prophet yang masih harus ia sunting sekali lagi. Tahap final edit dari naskah rekannya tinggal sedikit lagi selesai.

Ruang tengah tampak sepi sekali. Biasanya Harry masih bangun dan menemaninya di sana. Kadang Harry ikut membawa berkas-berkasnya untuk bersama di kerjakan di ruang tengah. Tempat favorit Harry adalah sofa depan perapian. Kata Harry tempat itu nyaman sekali jika malam hari. Mengurus pekerjaan sekaligus menghangatkan diri.

Kebiasaan Ginny jika sudah melihat Harry terlalu serius, ia akan coba mendatanginya dan memeluknya dari belakang sambil bergelayut manja.

Dan sayangnya Ginny tak melihat pria berkacamata itu di sana sekarang, "Harry, kenapa kau begitu membuatku gila!" gerutu Ginny benar-benar merindukan suaminya.

"Apa mereka sudah tidur, ya?"

Ginny bangkit dari tempatnya menuju lantai dua, "saatnya inspeksi kamar,"

Mulai dari kamar paling dekat dengan tangga. Kamar Al. Ginny membuka kamar sang anak tengah dan melihat Al sudah terlelap. Tidurnya tenang di balik selimut yang menutupi sampai leher. Kamarnya tertata rapi.

Ginny membenahi rambut Al yang menutupi dahi dan menyingkirkannya. Ia juga menyingkirkan buku bacaan yang dipeluk Al. Anaknya itu sering sekali membaca sebelum tidur.

Tak tanggung-tanggung, bukunya setebal 500 halaman lebih. Harry sering marah karena kebiasaan Al yang suka membaca di tempat gelap dan posisi buku yang terlalu dekat dengan mata. Harry takut kalau anaknya bisa memakai kacamata seperti dirinya.

Bicara soal mata, Ginny melihat kelopak mata Al yang tertutup rapat dengan mulut sedikit terbuka. Mirip sekali dengan Harry saat tidur. Ginny jadi tersenyum sendiri dibuatnya.

Putra keduanya itu memang jiplakan sang ayah. Ginny tak sengaja melihat foto ditembok kamar Al yang menunjukkan dirinya berangkulan dengan sang ayah. "Kalian mirip sekali," batin Ginny. Tangannya sampai tergerak mengelus foto itu.

Tidur Al nyenyak kehadiran Ginny di sana sama sekali tak mengusik tidurnya. "Mimpi indah, nak!" Ginny mengecup dahi Al lantas pergi.

Di kamar selanjutnya adalah kamar Lily. Kamar dengan warna putih dan pink yang mendominasi dinding dan perabotannya itu sunyi seiring sang penghuni kamar tertidur pulas. Seperti biasa, Lily tidur dengan memeluk boneka kelinci kesukaannya. Namun di sampingnya terdapat boneka gadis berkuncir dua yang Ginny belikan ketika di Dublin saat bertugas liputan.

Malam ini Lily tidur tanpa mendapatkan cerita sebelum tidur. Malam ini giliran Harry yang bercerita, tapi apa daya. Harry tak ada di rumah. Ginny sempat menawari Lily untuk Ginny saja yang bercerita malam ini. Tapi Lily menolak.

Toh, Lily juga sudah tidur.

"Terakhir, kamar James," seru Ginny sembari menutup kamar Lily. Kamar James terletak tepat di depan kamar Lily serta di samping kamar Ginny dan Harry. Kamar James paling dekat dengan kamar orang tuanya karena James sendiri anak pertama di keluarga itu. Jadi saat James sudah cukup besar, Harry memberikan James kamar dekat dengan orang tuanya agar saat James menangis atau rewel, Ginny atau Harry bisa dengan cepat melihatnya.

Saat Ginny berbalik, ia melihat kamar James sedikit terbuka. "Apa dia lupa menutup pintu?"

Rupanya, saat Ginny akan menutup pintu kamar, ia melihat putranya itu masih duduk bersandar di ranjangnya. James seperti memikirkan sesuatu sambil tersenyum-senyum sendiri dan tangannya itu.. memeluk guling dengan sangat erat.

"Apa benar James sedang jatuh cinta?" Ginny kembali mengingat perkataan Al dan Lily saat di dapur. Mereka mengatakan tingkah laku James berbeda dari biasanya. Sedang jatuh cinta. Dan Ginny juga mendengar, Al tahu James sedang dekat dengan gadis Hufflepuff.

"James?"

"M-Mom?! Kenapa Mom belum tidur?" Tanya James salah tingkah.

Ginny melangkah masuk ke kamar putranya. Kamar itu kembali berantakan tiap kali James pulang liburan Hogwarts. "Selalu begini," batinnya.

Meski James anak yang sembrono, kamarnya selalu berantakan, tapi James memiliki penampilan yang tak seberantakan kamarnya. Bisa dibilang, James memiliki pesona ketampanan dari ayah dan kakeknya sekaligus. Ginny mengakui benar ketampanan putra pertamanya itu. Ditambah cerita Neville yang mengatakan James sudah mendapat banyak fans wanita sejak ia dipanggil maju untuk mengikuti seleksi asrama. Selain nama Potter yang tersemat dinamanya, James terkenal karena pesona ketampanannya.

"Seharusnya Mom yang tanya begitu. Kau sendiri kenapa belum tidur?" Ginny terlalu bijaksana untuk tidak langsung bertanya pada James tentang kecurigaannya. "Kalau Dadmu yang tahu, entah disihir jadi apa kamu nanti,"

"Malah lebih aman kalau Dad yang tahu," seloroh James santai, "upss!" James menutup mulutnya cepat-cepat.

Ginny melotot. Ia malah lebih ditakuti oleh anak-anaknya daripada Harry. Bahkan Harry sendiri kadang takut dengannya. "Terkadang kau bisa lebih menakutkan dari Voldemort, sayang!" kata Harry pada suatu malam.

"Aku belum ngantuk, Mom," kata James.

"Lalu kenapa kalau belum ngantuk tidak coba cara lain agar bisa tidur?"

James mengernyit, "contohnya?"

"Seperti membaca buku, bukan memeluk guling seperti sedang memeluk gadis!" tunjuk Ginny pada tangan James yang sedari tadi memeluk guling. "Hah?" James langsung melepaskan guling dari pelukannya.

Diam. James hanya bisa menunduk menyembunyikan malu. Ginny menatap tajam putranya itu tanpa berkedip. "Siapa gadis itu?" tanya Ginny tiba-tiba.

"APA? Gadis? Gadis mana? Siapa, Mom? Ahh Mom bercanda, ya?" kata James gugup.

"Ehhh kenapa jadi gugup begitu?" Ginny duduk di pinggir ranjang James.

"Apanya yang gugup? Enggak kok!"

"Katakan saja, James!" Ginny kembali memaksa dengan nada menggoda.

"Katakan apa, Mom? Tidak ada apa-apa!"

"Gadis itu,"

"Gadis apa?"

"Anak itu!"

"Anak apa?"

"Anak Ravenclaw yang manis itu, James!"

"Hufflepuff, Mom! Upss!"

Duarr! James langsung mengatupkan mulutnya rapat. Mukanya memerah. "Jebakanku berhasil," batin Ginny girang.

"Hufflepuff, iya Hufflepuff. Siapa namanya, James?"

Diam. James sulit mengeluarkan kata-kata. Baru kali ini James merasa kalah dikerjai orang lain. "Aku.. aaaagghhhh.. Mom! Aku baru mengenalnya—"

"Dan kau suka?" potong Ginny tiba-tiba.

"Iya," jawab James lemas. Ia menyerah juga. "Dia anak kelas 2. Aku melihatnya pertama saat seleksi asrama. Tapi aku belum ada perasaan padanya, Mom,"

Ginny manggut-manggut mendengar cerita James tentang cinta pertamanya itu. Mengingatkan dirinya dengan cinta pertamanya, Harry Potter, suaminya kini.

"Aku baru merasakan apa itu cinta pertama, Mom. Dan rasanya.. Wow! Ahh bukankah cinta pertama Mom adalah Dad sendiri? Iya, kan?"

Ginny mengangguk membenarkan, "iya kau benar. Dan rasanya.. kau sendiri tahukan rasanya. Apalagi saat cinta pertamamu jadi pendamping hidupmu. Sehari berpisah dengannya, rasanya seperti bertahun-tahun lamanya," cerita Ginny membuatnya sedih.

"Mom rindu Dad, ya?" tanya James. Ia ikut kasihan dengan ibunya itu.

"Semua pasangan yang saling mencintai namun tiba-tiba berjauhan akan merasakan rasa yang sama seperti Mom, James. Suatu saat nanti kau akan paham bagaimana. Cukup cinta monyet ini dulu. Kau jatuh cinta kepada gadis.. lebih cepat satu tahun dari Dadmu, James. Ayahmu jatuh cinta pertama saat di tahun ke 4nya," Ginny kembali mengingatnya dengan sebal. Pasalnya, cinta pertama Harry bukanlah dengan dirinya. Melainkan dengan Cho Chang. Toh Ginny tetap bahagia, karena kini Harry menjadi miliknya.

"Sedangkan aku di tahun ke 3. Aku menang!" kata James bersorak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Eitss.. tunggu dulu. Mom jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Dadmu saat usia Mom bahkan lebih muda dari usia Lily sekarang. So, Mom-lah pemenangnya! Selamat malam, James!" Ginny keluar dan menutup pintu kamar James rapat.

Meninggalkan James yang terdiam dengan tangan masih terangkat ke udara.

"Aku kalah lagi dari Mom."

- tbc -


Wehehe.. cerita James ini muncul setelah Anne nggak sengaja dengar lagunya Justin Bieber yang Baby. Dengan ngebayangin si Bieber yang masih unyu...

when I was 13, I had my first love.. lirik itu tiba-tiba terbayang si James. Huaaa :D

Bagaimana, teman-teman? Nungguin kisah selanjutnya dari si anak tengah alias si Albus? Tunggu chapter selanjutnya!

Jangan lupa review! Anne sayang kalian! ^_^

Thanks,

Anne x