Previous...

Kuanlin berjalan mendekati jihoon dan berhenti tepat di depan jihoon "kau tau apa kesalahan mu hari ini?" jihoon mengedipkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Jihoon meneguk air liurnya karna tak menyangka kuanlin akan tau bahwa ia tadi terlambat, padahal ia hanya terlambat 5 menit. Ia menggigit bibirnya. Shit! Jihoon-ah berhenti! Jangan menggoda ku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jihoon berhenti menggigit bibirnya, ia menatap kuanlin. Dan yang terakhir dapat jihoon dengar dari mulut kuanlin adalah "i can't!" sampai ia merasakan bibir tebal kuanlin yang menyesap bibirnya terburu-buru. Kuanlin mengecup bibir atas dan bawahnya bergantian dengan tempo cepat, seakan-akan takut bibir itu tidak akan bisa ia rasakan lagi. Bibir jihoon yang membuatnya ketagihan dan selalu membuatnya menahan diri. Jihoon sampai kesulitan untuk mengimbangi kecupan-kecupan yang diberikan kuanlin. Kuanlin memasukkan lidahnya ke dalam mulut jihoon dan mengabsen seluruh isi yang ada di dalam mulut jihoon. Jihoon pun membalas apa yang dilakukan kuanlin, bahkan ia sudah mengalungkan tangannya di leher kuanlin.

Kuanlin melepas ciumannya dan membiarkan jihoon mengambil napas karna terlihat jihoon memang terengah-engah akibat ciumannya "saranghae, i want you marry me.." setelah mengucapkan kalimat itu kuanlin kembali mengecap bibir jihoon. Jihoon yang mendengar ucapan tersebut, tersenyum dibalik ciuman mereka. Yay finally!

.

.

.

.

Ciuman mereka semakin panas. Kuanlin mulai meraba-raba punggung jihoon. Jihoon melenguh. Entah ia sadar atau tidak lenguhannya tersebut sudah membuat kekasihnya tersebut semakin tidak tahan. Ya kuanlin horny. Tapi kuanlin langsung menghentikan ciumannya, ia menatap jihoon yang juga sudah terbawa suasana panas mereka. Kuanlin melepaskan pelukan jihoon pada lehernya, lalu berjalan menuju pintu ruangannya. Klik!

Setelah mengunci pintu, kuanlin kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah remote dan mematikan kamera pengintai atau cctv yang terdapat di ruangannya. Jihoon hanya menatap bingung.

"jihoon-ah.." kuanlin kembali mendekati jihoon dan langsung mendekap tubuh jihoon.

"n..ne?" jihoon mengedip-ngedipkan matanya. Jihoon merasa gugup sekali. Karna kuanlin mendekapnya sangat erat bahkan sampai membuatnya berjinjit. Dadanya terangkat karna terhimpit oleh tubuh kuanlin. Tatapan kuanlin saat ini seperti..? Entahlah ia tidak tau.

Kuanlin langsung mengecup bibir jihoon. Kali ini sangat lembut. Ciuman yang sangat memabukkan, saliva mereka saling bercampur. Lembut, namun sensual. Tangan kuanlin kembali meraba punggung jihoon dan jihoon pun melenguh. Kuanlin menurunkan ciumannya menuju leher jihoon "eunghh.." jihoon semakin melenguh merasakan bibir kuanlin yang mengecap lehernya. Mendengar lenguhan jihoon, tangan kuanlin sedikit turun dari punggung jihoon dan meraba pengait pakaian dalam yang digunakan jihoon untuk melindungi dua buah benda kenyal berisi miliknya. Ya jihoon tidak memakai jas nya lagi, karna jas nya ia lepas saat datang dan duduk di kursinya sebelum woojin masuk ke ruangan yang ia tempati bersama woojin.

Tanpa bersusah payah, kuanlin berhasil membuka pengait bra jihoon. Bibir kuanlin masih sibuk menciumi leher jihoon yang sudah penuh tanda merah kepemilikannya Lai Kuanlin dan bahkan jihoon belum sadar bahwa pengait bra yang ia kenakan terbuka sampai saat tangan kuanlin menarik bra yang memang tidak bertali itu ke bawah. Jihoon tersentak. Kuanlin tau jihoon pasti akan terkejut. Lalu bibirnya kembali naik dan mengecup bibir jihoon "i want you, jihoon-ah.." jihoon hanya diam dengan napas yang tidak teratur karna perbuatan kuanlin pada lehernya. Ia tidak tau apa yang akan dilakukan kuanlin.

Kuanlin mendudukkan jihoon di sofa panjang yang ada diruangannya. Kuanlin menatap mata jihoon, lalu matanya turun melihat pada dua buah payudara jihoon yang saat ini hanya dilapisi kain baju yang ia kenakan. Meskipun baju yang jihoon kenakan tidak terbilang tipis, namun kuanlin dapat melihat dengan jelas dua buah bukit kecil yang mencuat disana. Ya itu puting susu jihoon. Kuanlin menelan salivanya. Ia mendekatkan mulutnya tepat di depan salah satu puting susu jihoon. Jihoon melihat kepala kuanlin yang semakin mendekati dadanya. Jihoon akan memanggil nama kuanlin untuk bertanya apa yang sedang dilakukan kuanlin, namun belum sempat ia memanggil ia melenguh panjang "eeuunngghh.." kuanlin memasukkan puting susu jihoon ke dalam mulutnya dan menghisapnya. Mengecap dan menggigit-gigit kecil beberapa kali. Jihoon terus mendesah, ini enak! Ini pertama kalinya ia merasakan nikmat seperti ini dan ia menyukainya.

Kuanlin mencicipi kedua puting susu jihoon bergantian. Lama ia bermain dengan kedua puting susu jihoon sampai kain baju yang melapisinya basah karna salivanya, kuanlin berhenti. Ia tersenyum saat melihat jihoon yang seperti kehilangan karna kenikmatan yang ia rasakan harus terhenti. Jihoon sudah terangsang. Jihoon merasakan ada sedikit cairan yang keluar dibagian bawahnya. Napasnya terengah-engah dan pipinya memerah.

Kuanlin membelai pipi jihoon "sampai disini saja.. Aku tidak akan melanjutkannya sebelum kau sah menjadi istri ku"

Blush

Jihoon benar-benar malu dan mungkin saat ini pipinya sudah sangat merah. Ia semakin merona karna ucapan kuanlin yang mengatakan sah menjadi istri. Istri? Ia akan menjadi istri Lai Kuanlin! Sebenarnya jihoon tidak terlalu mengerti apa maksud kuanlin tidak akan melanjutkannya. Melanjutkan apa? Ah ia tidak peduli, ia malas memikirkan maksud perkataan kuanlin itu karna saat ini ia sangat senang.

Kuanlin mencoba menaikkan bra jihoon di balik baju yang jihoon kenakan. Namun tidak lama ia terhenti "jihoon-ah.. pergilah ke kamar mandi untuk memperbaiki penampilan mu" jihoon melihat ke sebuah pintu yang kuanlin tunjuk. Kamar mandi. Dengan malu-malu jihoon segera pergi menuju kamar mandi tersebut.

Kuanlin menanti jihoon keluar dari kamar mandi sambil tersenyum dengan sebuah kotak merah yang sebelumnya ia letakkan di meja kerjanya.

Klik! Pintu kamar mandi terbuka. Jihoon keluar dengan penampilan yang sudah kembali rapi "kemarilah" kuanlin menepuk sofa yang ia duduki, jihoon segera berjalan mendekati kuanlin dan duduk disampingnya.

"aku ingin memberi mu ini" kuanlin menyerahkan kotak merah tadi pada jihoon. Jihoon bingung. Kuanlin menunjukkan ekspresi yang mengatakan bukalah, lalu jihoon pun membukanya.

"kalung?"

"ya.. sebenarnya aku ingin memberi mu cincin. Tapi karna kita akan menikah ku rasa cincin lebih baik diberikan dan dipakaikan saat pernikahan" kuanlin menggenggam tangan jihoon.

"sekarang kembalilah.. Woojin mungkin akan khawatir karna kau belum juga kembali" kuanlin membelai kepalanya dan mengecup puncak kepalanya. Sebenarnya jihoon masih ingin berlama-lama dengan kuanlin, ya meskipun pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ia harus menceritakan kebahagiannya ini pada woojin!

.

.

.

.

Jihoon kembali ke ruang kerja nya. Senyum kebahagiaan tidak lepas dari raut wajahnya, ia terus memegangi pipinya yang memerah dan terasa hangat. Ia bahkan tidak sadar woojin berdiri di depan meja kerjanya dan melihat kedatangannya.

Ia baru sadar saat woojin menegurnya "kau kenapa?" jihoon mendongakkan kepalanya untuk melihat woojin. Jihoon tersenyum. Melihat pipi jihoon yang memerah membuat woojin khawatir.

"jihoon-ah.. apa ka-" ucapan woojin terhenti karna jihoon memeluknya erat.

"kuanlin melamar ku" jihoon melepaskan pelukannya pada woojin. Ia benar-benar sangat bahagia saat ini dan ia ingin membagikan kebahagiannya ini pada woojin. Ia ingin woojin mengucapkan selamat padanya.

Namun yang jihoon dapatkan adalah hanya ekspresi datar woojin "ya! Kau tidak ikut merasa bahagia karna aku dilamar kuanlin?" jihoon bertanya karna woojin hanya diam saja. Jihoon yang bingung apa yang sedang dipikirkan woojin memegang lengan woojin.

"a..aahh chukkae jihoon-ah.." woojin menatap mata jihoon dan langsung menunjukkan ekspresi bahagianya pada jihoon. Entah ia benar-benar ikut bahagia atau hanya? Yang pasti saat ini ia dan jihoon saling tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

.

17.15 KST

Klik! Pintu apartemen terbuka. Jihoon masuk dengan disusul woojin di belakangnya. Ya woojin di paksa jihoon untuk masuk ke apartemennya karna ia ingin bercerita. Saat di kantor jihoon sudah sangat antusias ingin menceritakan semuanya pada woojin. Namun ia ingat, jika di kantor ia harus bekerja dan jangan melalaikan tugas dengan bercerita pada woojin apalagi menceritakan seluruh kejadian yang terjadi padanya saat di ruangan kuanlin. Pasti akan butuh waktu yang lama.

Jihoon masuk ke kamarnya dan langsung mengganti pakaiannya dengan rok pink pendek bermotif bunga-bunga dan atasan berwarna putih lengan pendek, tidak ketat namun tidak juga longgar hanya saja sedikit tipis? Karna bra yang ia kenakan bisa terlihat dengan jelas berwarna pink. Setelah mengganti pakaiannya ia memanggil woojin yang saat ini sedang duduk di mini bar dapur jihoon sedang memakan cemilan.

"woojin-ah.." jihoon memanggil woojin lagi dan kali ini dengan suara yang lebih keras dibandingkan sebelumnya. Woojin menyudahi acara memakan cemilannya. Ia masuk ke kamar jihoon dan langsung menuju sofa yang terletak di kamar jihoon. Sedangkan jihoon sendiri duduk di tempat tidur.

"woojin-ah.." panggil jihoon lagi. Kali ini panggilannya sangat lembut. Woojin hanya mendengung menanggapi panggilan jihoon, ia sedang memainkan ponselnya mengirimi hyeongseob pesan, kekasih woojin.

"saat diruangan kuanlin.. kau tau apa yang dilakukan kuanlin pada ku?"

"melamar mu?" woojin menjawab pertanyaan jihoon malas-malasan. Sebenarnya ia sedikit malas mendengar cerita jihoon, apalagi terkadang jihoon sangat membangga-banggakan kekasih tiang listriknya itu.

"ne.. dia memang melamar ku.. tapiiii ada hal yang ia lakukan pada ku.. daann rasanya itu enak" woojin langsung menghentikan permainan pada ponselnya. Matanya sekarang ia tujukan pada jihoon yang berada disebrangnya. Apa yang dilakukan kuanlin?

"apa yang dia lakukan pada mu?"

Jihoon menggigit bibirnya "e..eemm..dia..aa menghisap puting susu ku" woojin terdiam. Namun terlihat dari matanya menunjukkan bahwa ia sangat terkejut.

"apa kau juga pernah melakukan itu pada seobie?" woojin yang mendapatkan pertanyaan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari mulut jihoon itu hanya menelan salivanya. Jihoon bahkan menanyakan jika pernah, apakah hyeongseob juga merasakan enak sama seperti yang ia rasakan. Woojin hanya menggeram pelan. Jihoon-ah bagaimana kau- ah sial!

Lama jihoon menantikan jawaban dari woojin, woojin pun menjawab "ne! Hyeongseob merasa sangat enak.. bahkan dia bilang mulut ku sangat lihai bermain disana. Ia sangat menyukainya dan ketagihan. Setiap kali kami bertemu dia meminta ku untuk menghisap puting susunya" oh shit! Apa yang sudah kau katakan park woojin! Kau bahkan belum pernah melihat payudara hyeongseob.

Jihoon menjadi sangat antusias, matanya berbinar-binar "benarkah? Apa seenak itu hingga seobie ketagihan dan meminta mu melakukannya setiap kali bertemu?" woojin menganggukkan kepalanya. Mianhae hyeongseob-ah

"bukankah kau juga sudah merasakannya.. dan kau bilang enak" jihoon membenarkan ucapan woojin dengan menganggukkan kepalanya. Tapi ia menjadi penasaran, seberapa enaknya hisapan woojin dibandingkan hisapan kuanlin. Apa ada perbedaan? Bahkan kekasih woojin sangat ketagihan. Jujur saja, karna yang dilakukan kuanlin saat dikantor tadi adalah pertama kalinya untuknya ia memang merasa itu enak. Tapi ia tidak sampai menginginkan jika setiap bertemu kuanlin akan meminta melakukan itu. Ia menjadi benar-benar penasaran seperti apa rasanya hisapan woojin. Apakah ia juga akan merasa seperti apa yang dirasakan hyeongseob? Atau jangan-jangan biasa saja? Dan ternyata lebih enak kuanlin?

"memang benar enak.. dan kuanlin menghisapnya dibalik baju yang aku kenakan"

"jadi, dia tidak langsung menghisapnya?" jihoon menggelengkan kepalanya. Woojin menyunggingkan senyumnya sekilas.

"woojin-ah.."

"kau bilangkan seobie ketagihan sampai-sampai meminta mu melakukannya setiap kalian bertemu.. a..aku ingin merasakannya juga. Aku hanya ingin tau, seberapa enak jika kau yang melakukannya. Bisa saja kau hanya melebih-lebihkan" woojin terkejut mendengar permintaan jihoon. Melakukannya pada jihoon? Menghisap puting susunya? Ini gila.

"aku tidak melebih-lebihkan.."

"kalau begitu.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kalau begitu apa jihoon-ah?

Andwae jihoon-ah! Andwae!

Woojin membohongi mu! *author nya stress dengan ff buatannya sendiri #plakk*

Huhu~~ ternyata menulis tidak semudah khayalan..

Previous...

Kuanlin berjalan mendekati jihoon dan berhenti tepat di depan jihoon "kau tau apa kesalahan mu hari ini?" jihoon mengedipkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Jihoon meneguk air liurnya karna tak menyangka kuanlin akan tau bahwa ia tadi terlambat, padahal ia hanya terlambat 5 menit. Ia menggigit bibirnya. Shit! Jihoon-ah berhenti! Jangan menggoda ku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jihoon berhenti menggigit bibirnya, ia menatap kuanlin. Dan yang terakhir dapat jihoon dengar dari mulut kuanlin adalah "i can't!" sampai ia merasakan bibir tebal kuanlin yang menyesap bibirnya terburu-buru. Kuanlin mengecup bibir atas dan bawahnya bergantian dengan tempo cepat, seakan-akan takut bibir itu tidak akan bisa ia rasakan lagi. Bibir jihoon yang membuatnya ketagihan dan selalu membuatnya menahan diri. Jihoon sampai kesulitan untuk mengimbangi kecupan-kecupan yang diberikan kuanlin. Kuanlin memasukkan lidahnya ke dalam mulut jihoon dan mengabsen seluruh isi yang ada di dalam mulut jihoon. Jihoon pun membalas apa yang dilakukan kuanlin, bahkan ia sudah mengalungkan tangannya di leher kuanlin.

Kuanlin melepas ciumannya dan membiarkan jihoon mengambil napas karna terlihat jihoon memang terengah-engah akibat ciumannya "saranghae, i want you marry me.." setelah mengucapkan kalimat itu kuanlin kembali mengecap bibir jihoon. Jihoon yang mendengar ucapan tersebut, tersenyum dibalik ciuman mereka. Yay finally!

.

.

.

.

Ciuman mereka semakin panas. Kuanlin mulai meraba-raba punggung jihoon. Jihoon melenguh. Entah ia sadar atau tidak lenguhannya tersebut sudah membuat kekasihnya tersebut semakin tidak tahan. Ya kuanlin horny. Tapi kuanlin langsung menghentikan ciumannya, ia menatap jihoon yang juga sudah terbawa suasana panas mereka. Kuanlin melepaskan pelukan jihoon pada lehernya, lalu berjalan menuju pintu ruangannya. Klik!

Setelah mengunci pintu, kuanlin kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah remote dan mematikan kamera pengintai atau cctv yang terdapat di ruangannya. Jihoon hanya menatap bingung.

"jihoon-ah.." kuanlin kembali mendekati jihoon dan langsung mendekap tubuh jihoon.

"n..ne?" jihoon mengedip-ngedipkan matanya. Jihoon merasa gugup sekali. Karna kuanlin mendekapnya sangat erat bahkan sampai membuatnya berjinjit. Dadanya terangkat karna terhimpit oleh tubuh kuanlin. Tatapan kuanlin saat ini seperti..? Entahlah ia tidak tau.

Kuanlin langsung mengecup bibir jihoon. Kali ini sangat lembut. Ciuman yang sangat memabukkan, saliva mereka saling bercampur. Lembut, namun sensual. Tangan kuanlin kembali meraba punggung jihoon dan jihoon pun melenguh. Kuanlin menurunkan ciumannya menuju leher jihoon "eunghh.." jihoon semakin melenguh merasakan bibir kuanlin yang mengecap lehernya. Mendengar lenguhan jihoon, tangan kuanlin sedikit turun dari punggung jihoon dan meraba pengait pakaian dalam yang digunakan jihoon untuk melindungi dua buah benda kenyal berisi miliknya. Ya jihoon tidak memakai jas nya lagi, karna jas nya ia lepas saat datang dan duduk di kursinya sebelum woojin masuk ke ruangan yang ia tempati bersama woojin.

Tanpa bersusah payah, kuanlin berhasil membuka pengait bra jihoon. Bibir kuanlin masih sibuk menciumi leher jihoon yang sudah penuh tanda merah kepemilikannya Lai Kuanlin dan bahkan jihoon belum sadar bahwa pengait bra yang ia kenakan terbuka sampai saat tangan kuanlin menarik bra yang memang tidak bertali itu ke bawah. Jihoon tersentak. Kuanlin tau jihoon pasti akan terkejut. Lalu bibirnya kembali naik dan mengecup bibir jihoon "i want you, jihoon-ah.." jihoon hanya diam dengan napas yang tidak teratur karna perbuatan kuanlin pada lehernya. Ia tidak tau apa yang akan dilakukan kuanlin.

Kuanlin mendudukkan jihoon di sofa panjang yang ada diruangannya. Kuanlin menatap mata jihoon, lalu matanya turun melihat pada dua buah payudara jihoon yang saat ini hanya dilapisi kain baju yang ia kenakan. Meskipun baju yang jihoon kenakan tidak terbilang tipis, namun kuanlin dapat melihat dengan jelas dua buah bukit kecil yang mencuat disana. Ya itu puting susu jihoon. Kuanlin menelan salivanya. Ia mendekatkan mulutnya tepat di depan salah satu puting susu jihoon. Jihoon melihat kepala kuanlin yang semakin mendekati dadanya. Jihoon akan memanggil nama kuanlin untuk bertanya apa yang sedang dilakukan kuanlin, namun belum sempat ia memanggil ia melenguh panjang "eeuunngghh.." kuanlin memasukkan puting susu jihoon ke dalam mulutnya dan menghisapnya. Mengecap dan menggigit-gigit kecil beberapa kali. Jihoon terus mendesah, ini enak! Ini pertama kalinya ia merasakan nikmat seperti ini dan ia menyukainya.

Kuanlin mencicipi kedua puting susu jihoon bergantian. Lama ia bermain dengan kedua puting susu jihoon sampai kain baju yang melapisinya basah karna salivanya, kuanlin berhenti. Ia tersenyum saat melihat jihoon yang seperti kehilangan karna kenikmatan yang ia rasakan harus terhenti. Jihoon sudah terangsang. Jihoon merasakan ada sedikit cairan yang keluar dibagian bawahnya. Napasnya terengah-engah dan pipinya memerah.

Kuanlin membelai pipi jihoon "sampai disini saja.. Aku tidak akan melanjutkannya sebelum kau sah menjadi istri ku"

Blush

Jihoon benar-benar malu dan mungkin saat ini pipinya sudah sangat merah. Ia semakin merona karna ucapan kuanlin yang mengatakan sah menjadi istri. Istri? Ia akan menjadi istri Lai Kuanlin! Sebenarnya jihoon tidak terlalu mengerti apa maksud kuanlin tidak akan melanjutkannya. Melanjutkan apa? Ah ia tidak peduli, ia malas memikirkan maksud perkataan kuanlin itu karna saat ini ia sangat senang.

Kuanlin mencoba menaikkan bra jihoon di balik baju yang jihoon kenakan. Namun tidak lama ia terhenti "jihoon-ah.. pergilah ke kamar mandi untuk memperbaiki penampilan mu" jihoon melihat ke sebuah pintu yang kuanlin tunjuk. Kamar mandi. Dengan malu-malu jihoon segera pergi menuju kamar mandi tersebut.

Kuanlin menanti jihoon keluar dari kamar mandi sambil tersenyum dengan sebuah kotak merah yang sebelumnya ia letakkan di meja kerjanya.

Klik! Pintu kamar mandi terbuka. Jihoon keluar dengan penampilan yang sudah kembali rapi "kemarilah" kuanlin menepuk sofa yang ia duduki, jihoon segera berjalan mendekati kuanlin dan duduk disampingnya.

"aku ingin memberi mu ini" kuanlin menyerahkan kotak merah tadi pada jihoon. Jihoon bingung. Kuanlin menunjukkan ekspresi yang mengatakan bukalah, lalu jihoon pun membukanya.

"kalung?"

"ya.. sebenarnya aku ingin memberi mu cincin. Tapi karna kita akan menikah ku rasa cincin lebih baik diberikan dan dipakaikan saat pernikahan" kuanlin menggenggam tangan jihoon.

"sekarang kembalilah.. Woojin mungkin akan khawatir karna kau belum juga kembali" kuanlin membelai kepalanya dan mengecup puncak kepalanya. Sebenarnya jihoon masih ingin berlama-lama dengan kuanlin, ya meskipun pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ia harus menceritakan kebahagiannya ini pada woojin!

.

.

.

.

Jihoon kembali ke ruang kerja nya. Senyum kebahagiaan tidak lepas dari raut wajahnya, ia terus memegangi pipinya yang memerah dan terasa hangat. Ia bahkan tidak sadar woojin berdiri di depan meja kerjanya dan melihat kedatangannya.

Ia baru sadar saat woojin menegurnya "kau kenapa?" jihoon mendongakkan kepalanya untuk melihat woojin. Jihoon tersenyum. Melihat pipi jihoon yang memerah membuat woojin khawatir.

"jihoon-ah.. apa ka-" ucapan woojin terhenti karna jihoon memeluknya erat.

"kuanlin melamar ku" jihoon melepaskan pelukannya pada woojin. Ia benar-benar sangat bahagia saat ini dan ia ingin membagikan kebahagiannya ini pada woojin. Ia ingin woojin mengucapkan selamat padanya.

Namun yang jihoon dapatkan adalah hanya ekspresi datar woojin "ya! Kau tidak ikut merasa bahagia karna aku dilamar kuanlin?" jihoon bertanya karna woojin hanya diam saja. Jihoon yang bingung apa yang sedang dipikirkan woojin memegang lengan woojin.

"a..aahh chukkae jihoon-ah.." woojin menatap mata jihoon dan langsung menunjukkan ekspresi bahagianya pada jihoon. Entah ia benar-benar ikut bahagia atau hanya? Yang pasti saat ini ia dan jihoon saling tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

.

17.15 KST

Klik! Pintu apartemen terbuka. Jihoon masuk dengan disusul woojin di belakangnya. Ya woojin di paksa jihoon untuk masuk ke apartemennya karna ia ingin bercerita. Saat di kantor jihoon sudah sangat antusias ingin menceritakan semuanya pada woojin. Namun ia ingat, jika di kantor ia harus bekerja dan jangan melalaikan tugas dengan bercerita pada woojin apalagi menceritakan seluruh kejadian yang terjadi padanya saat di ruangan kuanlin. Pasti akan butuh waktu yang lama.

Jihoon masuk ke kamarnya dan langsung mengganti pakaiannya dengan rok pink pendek bermotif bunga-bunga dan atasan berwarna putih lengan pendek, tidak ketat namun tidak juga longgar hanya saja sedikit tipis? Karna bra yang ia kenakan bisa terlihat dengan jelas berwarna pink. Setelah mengganti pakaiannya ia memanggil woojin yang saat ini sedang duduk di mini bar dapur jihoon sedang memakan cemilan.

"woojin-ah.." jihoon memanggil woojin lagi dan kali ini dengan suara yang lebih keras dibandingkan sebelumnya. Woojin menyudahi acara memakan cemilannya. Ia masuk ke kamar jihoon dan langsung menuju sofa yang terletak di kamar jihoon. Sedangkan jihoon sendiri duduk di tempat tidur.

"woojin-ah.." panggil jihoon lagi. Kali ini panggilannya sangat lembut. Woojin hanya mendengung menanggapi panggilan jihoon, ia sedang memainkan ponselnya mengirimi hyeongseob pesan, kekasih woojin.

"saat diruangan kuanlin.. kau tau apa yang dilakukan kuanlin pada ku?"

"melamar mu?" woojin menjawab pertanyaan jihoon malas-malasan. Sebenarnya ia sedikit malas mendengar cerita jihoon, apalagi terkadang jihoon sangat membangga-banggakan kekasih tiang listriknya itu.

"ne.. dia memang melamar ku.. tapiiii ada hal yang ia lakukan pada ku.. daann rasanya itu enak" woojin langsung menghentikan permainan pada ponselnya. Matanya sekarang ia tujukan pada jihoon yang berada disebrangnya. Apa yang dilakukan kuanlin?

"apa yang dia lakukan pada mu?"

Jihoon menggigit bibirnya "e..eemm..dia..aa menghisap puting susu ku" woojin terdiam. Namun terlihat dari matanya menunjukkan bahwa ia sangat terkejut.

"apa kau juga pernah melakukan itu pada seobie?" woojin yang mendapatkan pertanyaan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari mulut jihoon itu hanya menelan salivanya. Jihoon bahkan menanyakan jika pernah, apakah hyeongseob juga merasakan enak sama seperti yang ia rasakan. Woojin hanya menggeram pelan. Jihoon-ah bagaimana kau- ah sial!

Lama jihoon menantikan jawaban dari woojin, woojin pun menjawab "ne! Hyeongseob merasa sangat enak.. bahkan dia bilang mulut ku sangat lihai bermain disana. Ia sangat menyukainya dan ketagihan. Setiap kali kami bertemu dia meminta ku untuk menghisap puting susunya" oh shit! Apa yang sudah kau katakan park woojin! Kau bahkan belum pernah melihat payudara hyeongseob.

Jihoon menjadi sangat antusias, matanya berbinar-binar "benarkah? Apa seenak itu hingga seobie ketagihan dan meminta mu melakukannya setiap kali bertemu?" woojin menganggukkan kepalanya. Mianhae hyeongseob-ah

"bukankah kau juga sudah merasakannya.. dan kau bilang enak" jihoon membenarkan ucapan woojin dengan menganggukkan kepalanya. Tapi ia menjadi penasaran, seberapa enaknya hisapan woojin dibandingkan hisapan kuanlin. Apa ada perbedaan? Bahkan kekasih woojin sangat ketagihan. Jujur saja, karna yang dilakukan kuanlin saat dikantor tadi adalah pertama kalinya untuknya ia memang merasa itu enak. Tapi ia tidak sampai menginginkan jika setiap bertemu kuanlin akan meminta melakukan itu. Ia menjadi benar-benar penasaran seperti apa rasanya hisapan woojin. Apakah ia juga akan merasa seperti apa yang dirasakan hyeongseob? Atau jangan-jangan biasa saja? Dan ternyata lebih enak kuanlin?

"memang benar enak.. dan kuanlin menghisapnya dibalik baju yang aku kenakan"

"jadi, dia tidak langsung menghisapnya?" jihoon menggelengkan kepalanya. Woojin menyunggingkan senyumnya sekilas.

"woojin-ah.."

"kau bilangkan seobie ketagihan sampai-sampai meminta mu melakukannya setiap kalian bertemu.. a..aku ingin merasakannya juga. Aku hanya ingin tau, seberapa enak jika kau yang melakukannya. Bisa saja kau hanya melebih-lebihkan" woojin terkejut mendengar permintaan jihoon. Melakukannya pada jihoon? Menghisap puting susunya? Ini gila.

"aku tidak melebih-lebihkan.."

"kalau begitu.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kalau begitu apa jihoon-ah?

Andwae jihoon-ah! Andwae!

Woojin membohongi mu! *author nya stress dengan ff buatannya sendiri #plakk*

Huhu~~ ternyata menulis tidak semudah khayalan..

Apalagi menulis adegan rated-M huwwaa susah sekaliiii..

Padahal itu masih setengah rated-M aja, belum full hahahah *ketawa sambil nangis T_T memikirkan bagaimana dengan chapter depan? bakal lebih susah bikin kata-katanya untuk full rated-M*

Oiyaa makasih yaa buat readers yang udah mau reviews ^^ ketcup manjah dari akuh *readers kabur*