DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Ocs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 1

.

.

Happy reading..

.

.

Lima belas menit sebelum jam pertama di mulai, Suho melangkah masuk dengan tenang. Namun langkah tenangnya itu segera menjadi tergopoh-gopoh saat dilihatnya Kris sedang menunduk dengan muka serius.

"Emang hari ini ada PR, ya? Perasaan nggak ada deh," tanyanya panik.

"Emang nggak," jawab Kris santai.

"Trus, lo ngerjain apaan tuh?" tunjuk Suho dengan dagu ke arah coretan-coretan angka yang dibuat Kris di atas lembaran bukunya.

"Oh, ini…," Kris menyeringai, agak mencurigakan. Ditariknya Suho sampai terduduk, lalu dirangkulnya bahu sahabatnya. "Mulai hari ini jajanin gue ya, Dik. Soalnya gue mau nabung nih. Buat beli kaus sama jins baru. Sebentar lagi kan Baekhyun lulus SMP. Berarti gue udah bisa nemuin dia," ucap Kris dengan mata berbinar.

"Waaah…," Suho geleng-geleng kepala. "Kayaknya nggak asyik nih."

"Buat sementara doang. Ortu gue lagi bokek, soalnya adik gue, Chanyeol, mau masuk SMA. Gue nggak tega minta duit buat beli kaus sama celana baru. Buat PDKT sama cewek, lagi. Ya? Please dong. Kita kan cs-an. Selama ini kalo lo nggak bisa ulangan matematika atau fisika, kan selalu gue bantuin. Sekarang gantian dong. Okeee?"

Suho mati kutu. Di dua mata pelajaran itu hidup-matinya memang tergantung pada Kris.

"Ngancemnya pas banget lo, ya? Mentang-mentang gue bolot matematika sama fisika."

"Lo nggak bolot kok," jawab Kris kalem. "Cuma rada bego aja. Diterangin berkali-kali nggak ngerti-ngerti juga. Bikin orang emosi. Jujur aja, tiap abis nerangin matematika ato fisika ke elo, gue bawaannya selalu pengen cekek elo sampe mati."

Suho ternganga, membuat Kris seketika tertawa terbahak-bahak.

"Maaf. Maaf. Bercanda. Oke? Traktir gue, ya?" Kris mengetatkan rangkulannya.

Suho berdecak. Dilematis. Nggak di tolong, sudah lama mereka berdua sahabatan. Sejak SMP. Ini bukan sama sekali masalah kebegoannya di bidang matematika atau fisika. Kalau ikut bimbel sampai overdosis, bisa dipastikan

dirinya akan berubah bisa cinta banget sama dua pelajaran biadab itu, gara-gara sakaw.

Tapi kalau ia menolong Kris, dirinya bakalan bangkrut nih. Uang sakunya tidak mungkin cukup untuk sebulan. Soalnya Kris makannya kuat banget. Pengalaman kemarin-kemarin kalau makan berdua, Kris selalu nambah.

"Ya nggak tiap harilah gue minta traktirnya. Kejam banget." Kris seperti bisa membaca isi kepala Suho. Suho langsung lega.

"Oooh, kalau nggak setiap hari sih nggak apa-apa." Suho tersenyum lebar dan balas merangkul Kris. "Oke!"

.

.

.

.

.

.

Piringnya sudah hampir kosong saat mendadak muncul ide yang menurut Kris sangat brilian. Mulutnya sontak berhenti mengunyah, otaknya berputar cepat.

"Ide T-O-P!" serunya kemudian dengan riang. Cepat-cepat dihabiskannya nasi dipiringnya. Dengan pipi yang masih menggembung, cowok itu menyendokkan lagi nasi penuh-penuh ke piringnya. Empat orang yang selalu sarapan bersamanya, kedua orangtua dan kedua adiknya, menatap ternganga.

"Nambah?" tanya Chanyeol takjub. "Tadi aja udah sepiring penuh."

"Sekalian makan siang," jawab Kris sambil mengunyah penuh semangat. Terdorong rasa gembira karena telah menemukan satu cara lagi untuk berhemat. Dengan sarapan banyak-banyak, berarti di sekolah ia tidak perlu jajan. Dan yang paling penting, tidak perlu mengancam Suho untuk mentraktirnya.

Selesai sarapan plus makan siang, Kris pamit pada orangtua dan kedua adiknya, lalu berjalan ke halte bus tidak jauh dari rumah. Masih semangat dengan ide barunya yang -kalau sukses selama dua minggu- bisa membeli kaus keren yang diincernya waktu itu.

Bus yang ditunggunya datang. Kris melompat naik dan segera menuju salah satu bangku kosong di deret paling belakang. Dengan nyaman disandarkannya punggung. Tak lama ia mulai merasakan dampak makan siangnya yang dirangkep bareng sarapan tadi… dan sepertinya sama sekali tidak T-O-P. Ia jadi ngantuk banget!

Tidak seperti biasanya, udara pagi Jakarta yang masih sejuk, yang mengalir lewat jendela-jendela bus yang terbuka, memperparah kantuk Kris. Posisinya di bangku kosong di deret paling belakang, paling kanan dekat jendela, membuatnya tidak merasakan desakan para penumpang yang berdiri di lorong bus. Kantuknya jadi semakin parah. Akhirnya Kris menyerah. Ia tertidur pulas, dan baru tersadar tiap kali keningnya nyaris terbentur bangku di depannya.

Cowok itu tidak kebablasan, karena sang kondektur sudah hafal dengan salah satu penumpang langganannya itu. Jadi dengan ikhlas dia tidak berteriak di pintu, tapi langsung di dekat kuping Kris. Kris terlonjak bangun. Kepalanya sampai kejedot jendela.

"Udah sampe," kata si kondektur kalem.

Kris menatap keluar jendela sesaat, lalu buru-buru berdiri, sambil mengusap-usap keningnya yang sedang dalam proses benjol.

"Makasih, Bang. Makasih."

"Iye. Tapi ongkosnya bayar dulu dong."

"Emang belom?" Langkah buru-buru Kris kontan terhenti.

"Ya, belomlah. Orang begitu naik lo langsung tidur."

Sambil mengernyitkan kening karena tidak yakin belum bayar ongkos, Kris merogoh saku dan mengeluarkan selembar seribuan. Kemudian dia melompat turun sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih.

Dalam perjalanan dari halte ke sekolah yang berjarak kira-kira 200 meter, Kris tidak henti-hentinya menguap. Sampai cowok itu jadi jengkel sendiri. Sampai di kelas, Suho kaget melihat penampilannya.

"Gila, lecek amat lo?"

"Semalem gue begadang. Belajar buat ujian kenaikan kelas."

"Masih lama, juga."

"Justru karena masih lama. Kalau belajarnya udah deket-deket, pinter kagak, yang ada malah panik. Lo tau nggak? Semalem gue belajar sampe subuh!" Kris bercerita dengan nada pongah.

"Ck… ck… ck… kereeen," Suho berdecak. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan terkagum-kagum. Namun sedetik kemudian ekspresi kagum itu lenyap. "Bo'ong. Kayak gue nggak tau lo aja. Lo mana pernah begadang kalo besoknya nggak ada ulangan ato ujian."

"Hehehe…" Kris meringis lebar. "Iya ding, bo'ong. Gue sarapan dua piring. Di bus jadi ngantuk banget. Trus ketiduran sampe halte. Untung dibangunin kondektur. "

"Gila! Ngapain juga lo sarapan sampe kalap gitu?"

"Ya biar kenyangnya bisa sampe sore. Jadi gue kan nggak perlu jajan, ato ngancem lo buat jajanin gue."

"Lo dapet teori dari mana kalo sarapan dua piring kenyangnya bisa sampe sore?"

"Beruang. Kan kalo mau musim dingin, beruang makannya gila-gilaan. Trus abis itu mereka nggak makan-makan sampe berbulan-bulan."

"Beruang tuh abis makan molor, bukan belajar!"

"Itu dia. Makanya gue sekarang juga mau molor, sumpah ngantuk banget, Dik! Gue mau numpang tidur di markas PMR. Satu jam pelajaran doang. Kalo ada yang tanya, tolong bilang gue sakit. Oke?"

"Jelas nggak okelah!"

"Tolong dooong. Sumpah, gue ngantuk banget. Di kelas juga percuma. Gue nggak bakalan bisa konsen."

Kris menepuk-nepuk bahu sahabatnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menutupi mulutnya yang menguap lebar-lebar. Begitu kuapnya selesai, cowok itu berdiri dan berjalan keluar kelas sambil mengusap matanya yang berair.

Terpaksa Suho menuruti permintaan itu. Namun ia tahu, akan cukup sulit meyakinkan teman-teman sekelas, apa lagi guru, bahwa Kris sakit. Karena selama ini cowok itu selalu terlihat sehat dan kelebihan energi.

.

.

.

.

Setelah lewat dari seminggu, urusan traktir- mentraktir itu mulai tidak oke lagi. Suho terancam bangkrut. Uang saku bulanannya menipis dengan cepat. Akhir bulan masih sepuluh hari lagi, tapi sisa uang sakunya mungkin hanya bisa untuk bertahan dua atau tiga hari lagi.

Kris ngomongnya nggak tiap hari minta traktir, tapi langsung jadi tiap hari begitu tahu harga kaus dan jins yang diincernya ternyata lumayan mahal. Ia sama sekali tidak mau memilih yang lain. Katanya kaus sama jins itu udah "gue banget".

Suatu siang, saat jam istirahat pertama, Suho terpaksa mengumumkan kebangkrutannya, tentu saja kepada satu-satunya penyebab dirinya sampai hafiz bangkrut begitu.

"Gue udah nggak punya duit lagi nih, Kris. Tinggal buat tiga hari doang, kali. Gue bangkrut gara-gara elo makannya kayak tukang becak. Emangnya nggak bisa ya, makan lo dikurangi dikit?"

Kris sama sekali tidak nampak kaget. Ia sudah menduga, dan sebenarnya sejak awal ia sudah merasa tak enak dan tak tega. Tapi benar-benar baru kemarin dia mendapatkan solusi. Melihat tampang Suho yang keruh karena terancam bakalan berada di bawah garis kemiskinan, sifat jail Kris langsung kumat.

"Wah, nggak bisa, Ho," jawabnya enteng. "Makanya bodi gue tinggi dan atletis, kan? Dan selalu sehat. Soalnya makan gue banyak," sambungnya dengan memasang ekspresi tidak bersalah. Suho mendesah kesal.

"Yah… kalo lo makannya emang kudu banyak, lauknya jangan pake ayam atau ikan dong. Tempe sama tahu aja, gitu."

"Tapi gue kan milih ayamnya yang paling kecil. Ikannya juga kecil."

"Biar kecil tetep aja judulnya ayam dan ikan. Dan semurah-murahnya ayam dan ikan, tetap aja mahal, tau! Nggak bakalan seharga tempe atau tahu. Jadi sekarang yang mesti lo latih adalah, gimana caranya dengan tempe atau tahu satu biji, plus sayur sama sambel, lo bisa ngabisin nasi sepiring."

"Jelas nggak mungkinlah. Itu sih gila. Komposisi menu kayak gitu nggak memenuhi standar kesehatan banget. Kurang bergizi!"

"Ngomong gizi jangan sama gue. Sama emak lo sana!" seru Suho dongkol banget. Saking dongkolnya, ia sampai tidak sadar bahwa Kris sedang setengah mati menahan seringai geli yang hampir saja tercetak di bibirnya.

"Iya sih, emang." Kris memunculkan tampang bersalah. Suho yang tidak tahu bahwa itu ekspresi yang sudah di atur, langsung merasa dirinya jahat. Kesannya, sama sobat sendiri kok segitu itung-itungannya.

"Jadi gimana dong?" tanya Suho dengan suara melunak.

Kris tidak menjawab. Cowok itu pura-pura berpikir keras, seakan-akan mengatakan dalam bahasa hening bahwa di mana pun di seluruh dunia, kelaparan adalah satu masalah yang sangat serius.

Dan kelaparan di sekolah jelas merupakan masalah yang jauh lebih serius, karena dapat berakibat fatal. Pertama, jelas jadi nggak bisa konsentrasi penuh ke pelajaran. Akibat yang kedua malah lebih gawat. Nggak bisa konsentrasi ke cewek, karena gimana mau traktir cewek, kalau traktir perut sendiri aja nggak mampu.

"Gimana kalo mulai besok kita makan sepiring berdua? Biar hemat."

"Idiiih! Nggak! Nggak!" Suho langsung menolak mentah-mentah usul Kris yang hina banget itu. "Elo sih enak. Gebetan lo, si Baekhyun itu, nggak satu sekolah. Jadi dia nggak bakal tau kalo lo lagi miskin. Nah kalo gue gimana? Gue lagi ngincer anak kelas satu nih. Kalo dia tau gue melarat, belom sempat PDKT pasti tu cewek udah keburu kabur."

"Makan sepiring berdua di kantin kesannya emang keliatannya mengenaskan banget sih. Bisa-bisa bakalan jadi jomblo sampe lulus-lulusan." ucap Kris, masih dengan tampang belagak mikir, padahal itu sudah kenyataan yang sangat jelas. Suho jadi ingin sekali menjitaki kepala sobatnya itu.

"Nah, itu lo tau! Kenapa juga lo ngusulin yang kayak gitu?"

"Namanya juga usul. Nggak kudu setuju, lagi."

"Jadi sekarang gimana niiih?" Suho memandang Kris dengan tatapan yang membuat Kris jadi tidak tega untuk meneruskan godaannya. Cowok itu menyeringai.

"Sori banget gue udah nyusahin elo, Dik." Ia merangkul Suho. "Oke deh. Hari ini terakhir gue minta traktir. Mulai besok nggak lagi."

"Bukan. Bukan gitu." Suho langsung merasa tidak enak. "Maksud gue, jangan tiap hari nraktirnya. Trus, lauknya juga jangan yang mahal-mahal. Mahal boleh, tapi jangan tiap hari. Gitu loh."

"Nggak. Hari ini terakhir. Mulai besok lo nggak perlu keluar duit buat makan lagi. Gue yang tanggung."

"Maksud lo?" Suho tidak mengerti.

"Gue dapet ide baru. Lo liat aja besok. Yuk, kita ke kantin. Gue laper banget nih. Lauknya kalo nggak tempe, tahu ya? Oke. No problem!"

Masih sambil merangkul erat bahu Suho, Kris membawa sahabatnya yang kelihatan sangat bingung itu ke kantin.

.

.

.

.

Besoknya Suho menunggu kedatangan Kris dengan tidak sabar. Ia penasaran, seperti apa ide Kris itu. Apakah benar-benar bisa menyelamatkan mereka berdua dari ancaman penurunan kasta.

Bukan apa-apa. Ini masalah serius. Tidak ada bencana yang lebih besar bagi kaum cowok selain dijadikan pilihan terakhir oleh para cewek karena terjadi bencana berskala besar. Misalnya, pemanasan global yang menenggelamkan benua dan pulau-pulau, berikut cowok-cowok oke penghuninya. Atau senjata nuklir milik negara anu meledak, menyebabkan semua cowok-cowok potensial lenyap, dan yang tersisa tinggal cowok-cowok yang nggak menjanjikan tapi yah, apa boleh buat. Daripada nggak ada.

Kris muncul saat Suho sudah nyaris senewen. Soalnya sebentar lagi bel masuk dan bangku di sebelahnya masih juga kosong. Begitu melihat raut cemas Suho, Kris langsung menghampiri dengan langkah panjang.

"Sori, Ho. Ada masalah sedikit di rumah. Tapi akhirnya semua lancar. Sesuai rencana."

"Ya udah. Cepet ceritain kayak gimana tu rencana."

"Nggak bisa sekarang. Udah mau bel nih. Ntar aja jam istirahat."

Jam istirahat pertama, Kris mengajak Suho ke area sekolah yang sepi. Area itu adalah gedung lama yang udah dikosongkan, yang sebentar lagi akan dirobohkan dan sebagai gantinya akan didirikan bangunan baru. Kris memakai tas pinggang, tidak biasa-biasanya.

"Gue bawa bekal dari rumah. Lontong." katanya, setelah mereka menemukan tempat untuk duduk. Dikeluarkannya sebuah tas kresek hitam berisi lontong dari tas pinggangnya, lalu diberikannya pada Suho. Cowok itu mengambil satu lalu membuka daun pisang pembungkusnya.

"Kok nggak ada isinya?" tanya Suho setelah merasakan satu gigitan.

"Kan gue bilang lontong. Bukan arem-arem. Ya nggak ada isinyalah."

"Mana enak, lagi? Makan nasi doang gini. Emang agak-agak gurih sih, Tapu tetep aja judulnya makan nasi doang."

"Sebentar. Sabar dikit kenapa?" Kris kembali merogoh tas pinggangnya lalu mengeluarkan satu lagi tas kresek hitam. Isinya beberapa potong bakwan.

"Tu lontong dimakannya pake ini. Enak nih. Ada udangnya. Coba deh. Bahkan yang di kantin mah lewat!"

"Makan beginian doang, ngapain sih mesti ke tempat sepi begini?"

"Gue bawanya pas, bego. Cuma buat elo sama gue. Ntar kalo ada yang minta trus nggak kita kasih, pasti kita dibilang pelit. Kalo dikasih, perut nggak kenyang. Buntutnya, cari makan lagi di kantin. Lo masih punya duit nggak, buat traktir gue?"

"Nggak," jawab Suho cepat.

"Makanya nih bekal cuma buat kita sendiri. Nggak bisa dibagi-bagi."

"Iya deh. Apa kata elo lah," kata Suho. "Mana bakwannya? Bagi dong."

Sambil mengobrol, keduanya lalu menikmati jatah masing-masing.

"Gimana? Enak, kan? Kenyang, lagi." kata Kris. Setelah semua lontong dan bakwan jatah istirahat pertama habis, dikumpulkannya daun-daun pisang pembungkus lontong, lalu ia masukkan ke kantong kresek kosong.

"Iya, enak." Suho mengangguk. "Besok bawa lagi, ya?"

"Ya iyalah. Mau nggak mau. Emang ada pilihan lain selain bawa bekal dari rumah?"

Suho menyeringai.

"Jadi ini yang lo maksud 'rencana'? Bawa bekal dari rumah, gitu?"

"Yo'i! Berhubung ini hari pertama, jadi tadi persiapannya masih kacau."

Selesai makan, kedua anak itu duduk-duduk sejenak, baru kemudian kembali ke kelas. Suho harus mengakui, ide Kris kali ini oke juga. Mereka bisa makan kenyang tanpa harus keluar duit. Besoknya mereka mencari tempat yang agak sepi lagi, dan melahap bekal mereka yang -maaf saja- tidak bisa dibagi-bagi itu.

Pak Siwon, salah seorang guru, ternyata memergoki keduanya tanpa sengaja. Beliau langsung curiga melihat dua anak didiknya berada di area sekolah yang agak sunyi. Salah satu anak selalu membawa tas pinggang, dan apabila temannya datang, anak tersebut mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya dengan hati-hati.

Bermula dari ketidaksengajaan itu, Pak Siwon jadi curiga dan berniat mengintai keduanya. Karena judulnya saja "mengintai" -berarti dilakukan dari jarak jauh- tentu saja Pak Siwon tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang sebenernya terjadi.

Setelah pengintaian yang keempat, Pak Siwon dengan yakin menyimpulkan kedua muridnya itu telah melakukan transaksi barang haram alias narkoba! Memang, yang dilihatnya kemudian kedua anak itu memakan sesuatu dengan lahap, sambil ngobrol dan tertawa-tawa, tapi Pak Siwon yakin itu cuma kamuflase. Agar orang tidak curiga, tentu saja mereka harus menutupinya dengan aktivitas yang wajar.

Suatu siang, saat istirahat pertama, Kris dan Suho kembali menempati salah satu pos mereka di area sekolah yang lumayan sunyi. Keduanya sedang membicarakan rencana penggantian menu dengan sangat serius. Setelah empat hari berturut-turut makan lontong sama bakwan udang, keduanya mulai bosan.

Kris baru saja menceritakan bahwa Bi Minah, pembantunya itu, jago bikin pizza mie dan tahu isi. Kedua menu itu sama-sama bisa bikin perut kenyang. Sekarang Kris dan Suho sedang mendiskusikan enaknya besok makan pizza mie atau tahu isi. Tidak lama kemudian, keduanya mencapai kata sepakat.

"Oke, mulai besok, tahu isi. Tahunya yang putih gede, biar kenyang." Kris membuka tas pinggangnya. Diambilnya lontong dan bakwan udang dari dalam plastik, lalu diberikannya pada Suho. "Ini hari terakhir kita makan lontong pake bahwan."

Namun baru dua kunyahan, Pak Siwon mendadak muncul di hadapan mereka dengan tampang garang.

"Kalian berdua ikut saya ke kantor kepala sekolah!" katanya galak. Kris dan Suho melongo bingung. Mulut mereka berhenti mengunyah.

"Ayo, cepat!" bentak Pak Siwon.

"Sekarang, Pak?" tanya Kris.

"Iya, sekarang!" jawab Pak Siwon dengan bentakan yang semakin keras, karena marah melihat sikap santai kedua anak itu.

Kris dan Suho saling pandang sesaat. Keduanya lalu bangkit berdiri dan dengan tampang bingung mengikuti langkah Pak Siwon. Mulut mereka masih mengunyah lontong, tangan mereka masih memegang bakwan.

Sampai ditujuan, Pak Donghae -sang kepala sekolah- menyambut kedatangan Kris dan Suho dengan wajah dingin. Rupanya beliau telah diberitahu perihal dugaan transaksi narkoba yang dilakukan kedua anak muridnya itu. Setelah menanyakan nama dan kelas, Pak Donghae langsung ke persoalan.

"Apa yang kalian komsumsi atau perjual-belikan?" tanyanya tajam.

"Lontong, Pak," jawab Kris polos. "Sama bakwan udang."

Wajah dingin Pak Donghae langsung terlihat marah.

"Kalian denger ya!" ucapnya penuh tekanan. "Lebih baik kalian bicara terus terang. Sekarang! Sebelum berita ini tersebar dan membuat malu sekolah!"

Kening Kris sontak berkerut rapat. Ia tampak tersinggung.

"Emangnya kami berdua kenapa sih, Pak? Mentang-mentang tampang kami pas-pasan, nggak ganteng, trus dibilang bikin malu sekolah. Itukan nggak adil. Orang dari sana dikasihnya udah begini kok."

Salah satu yang membuat Suho salut sama Kris, ya ini nih. Kalau merasa tidak bersalah, Kris tidak peduli siapa yang ada di depan mukanya.

"Saya tidak bercanda!" bentak Pak Kepsek sambil memukul meja. Suho sedikit memucat, namun Kris tetap tenang.

"Sama, Pak. Kami juga nggak bercanda. Kami nggak tau nih kenapa kita di panggil ke sini."

Melihat ketenangan Kris, kemarahan Pak Kepsek sedikit mereda.

"Apa itu di dalam tas kamu?" tanyanya.

"Lontong, Pak. Sama dengan yang saya makan bareng teman saya tadi."

"Lontong apa? Lontong ganja? Lontong shabu-shabu? Putaw? Inex?"

Kris dan Suho ternganga. Sesaat keduanya saling pandang.

"Kok bapak kejem banget sih, nuduh kami transaksi narkoba. Di sekolah pula, pak?" ucap Kris, dengan nada tersinggung yang tidak disembunyikan.

"Kalu kenapa kalian berdua senang menyendiri begitu?"

"Ya makan, Pak. Namanya juga jam istirahat. Lontong sama bakwan udang. Itu bekal yang saya bawa dari rumah. Sumpah, pak! Lontongnya dibikin dari beras. Bukan dari ganja, sabhu-shabu, atau saudara-saudaranya itu. Boro-boro buat beli narkoba, buat jajan di kantin aja kami nggak mampu."

"Kalau cuma untuk makan, kenapa harus di tempat tersembunyi kayak begitu?"

"Ya kan malu, Pak. Masa bawa bekal dari rumah? Kayak anak TK aja. Apalagi kalau sampai ketahuan cewek-cewek. Bisa nggak bakalan laku nih kami berdua. Lagian kalo makannya nggak ngumpet atau di tempat yang sepi, nanti pasti dimintain temen-temen. Kan mau nggak mau kami terpaksa bagi-bagi. Masa mau dimakan sendiri? Dan kalo dibagi-bagi, mana bisa kenyang?"

Kris mengeluarkan kedua jenis makanan itu dari dalam tas pinggangnya, lalu meletakkan di meja pak Donghae. Kepala sekolah itu tampak terkejut, apalagi Pak Siwon.

"Bapak mau? Enak deh. Coba aja. Pasti bapak setuju kalo saya bilang lontong bikinan pembantu saya ini enak banget. Standar hotel berbintang. Kalo bapak mau pesan juga bisa. Buat di bawa pulang. Misalnya buat arisan istri bapak, gitu?"

Kris jadi berpromosi. Sama sekali tidak ia pedulikan isyarat yang di lemparkan Suho dengan kesal. Malu-maluin aja, dagang lontong sama bakwan di kantor Kepsek!

Kris tidak peduli. Ia lagi butuh banget duit. Jadi, peluang bisnis sekecil apa pun akan dimanfaatkannya semaksimal mungkin. Pak kepsek memang memesan lontong dan bakwan udang, untuk dimakan bersama para guru besok. Pasti karena rasa bersalah. Pak Siwon juga ikut memesan, untuk dibawa pulang. Kalau yang ini jelas lebih dari merasa bersalah. Merasa berdosa!

Kedua lelaki dewasa itu kemudian meminta maaf, dan masalah itu clear. Kris dan Suho mohon diri. Kris tak lupa meninggalkan dua buah lontong dan dua potong bakwan. Buat tester, katanya.

Pak Donghae dan Pak Siwon melepaskan kepergian kedua anak itu dengan senyum. Senyum geli sekaligus salut.

.

.

.

TBC

.

.

.

Anyeong..

Aku bawa chapter 2 nih.. fast update kan..?tadinya mau up malem sabtu, tapi tangan udah gatel pengen cepet-cepet update hehe. Aku mau bales review dari para reader-nim sekalian nih..

SexYeol suho cowok ya.. bukan cewek hehe.

yyunikeaKim ini udah next ya..

rorororonoaa sama. Aku juga suka banget sama karakter kris di sini hehe. Kangen juga sama KrisHo.. miss OT12 :'( [baper deh jadinya, hiks]

wandapcy614 yup, betul..! kris emang kakak-nya Chanyeol.. lihat aja ya kelanjutannya hehe

Bxoel46 sama. Aku juga suka banget sama karakter kris-nya. Serasa pengen juga punya cowok yang semanis dia. Kebayang kerasa banget cinta yang dia punya (abaikan curhatan jomblo ini). Ini udah next ya.. tetep tunggu aja kelanjutannya hehe

Gudetachan iya. Di sini kris nya emang pecicilan banget,, tapi romantis juga..

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

Follow ig aku ya.. baekhill_byun

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

_Hill_ 100118