UPDATED MINNA~~!
SLAMAT HARI LIBURAN SODARA-SODARA~~!
Buat readers sekalean, Katy mo kasih sdikit tontonan nih. Cari 'The Faster the Treadmill' di Utube deh!
Please enjoy the story~
.
Me and My Ghost Brother's Mystery Adventures
.
.
Chapter Two
First Project : Murder
.
"Penyebab kematian adalah keracunan mezerein," Jelas Liam singkat, membenah letak kacamatanya. Dilihat dari hasil tes mendadak setelah kematian Pak Isla Yura. (Sebenernya ogah juga panggil 'Pak', tapi demi cerita sih….) Polisi dan detektif sesekolah berbondong-bondong datang, dan anak-anak dipulangkan.
Tidak semua anak-anak sih.
Sharon melewati pita-pita 'DO NOT CROSS, POLICE LINE' yang dipasang dimana-mana. Kakak albinonya melayang di sampingnya, diikuti Oz, Alice, dan Gilbert. Liam menoleh ke arah kelima (ehm…. Keempat) sahabat itu.
"Hei, kalian seharusnya pulang! Kalian nggak tahu ada kasus pembunuhan di sini?" Kata Liam panik, takut-takut kepala sekolah, Rufus Barma, menyangka dia tidak melaksanakan tugas dengan baik.
"Aku mau ikut memecahkan kasus ini!" Ujar Sharon antusias. Liam langsung tercekat.
"Jangan main-main! Kalian kan masih-"
"Muda? Jangan bikin ketawa, Liam," Ejek Break.
Liam tidak menjawab. Ya jelas, Break kan hantu.
"Ka-kami mau belajar! Lumayan lah mungkin bisa membantu…. Ehehe…" Kata Oz, dengan wajah memelas. Liam langsung keringat digin. Anak seperti Oz, kalau mukanya sudah manis….
….sebentar lagi bakal jadi setan.
"Ah, terserah kalian! Tapi jangan sentuh apa-apa!" Dengus Liam. Oz tersenyum licik dan masuk ke kamar, disertai teman-temannya.
Kamar itu berbau aneh, bau manis yang bercampur dengan hawa yang tidak enak. Mata mereka tertuju pada mayat yang tergeletak di atas meja, tidak bernyawa. Break melayang ke arah laki-laki yang sudah tidak bernyawa itu. Break mendecak dengan muka jijik.
"Sampai mati, muka juga sama minta digamparnya…."
Sementara Sharon dan yang lainnya melihat-lihat kantor Pak Yura, Break berkali-kali memeriksa area sekitar tubuh itu.
"Seorang pro selalu mencari bukti di sekitar korban~" Senandung Break seraya menembus-nembus meja untuk mencari file-file yang penting. Dia melongok keluar dengan muka kerus setelah hanya menemukan file-file kerja dan ratusan foto Jack.
"Semua staff dan guru nggak pulang?" Tanya Oz pada Liam, melihat Pak Glen dan Pak Jack di dekat pintu, dan Nyonya Besar Cheryl bersama Kepala Sekolah Rufus di dekat lemari, mencoba mencari racun yang tersembunyi. Gilbert dan Alice sibuk bertengkar tentang siapa yang membunuh Yura. Liam mendesah.
"Tidak bisa. Ini penting."
"Lalu, kasus ini termasuk …?" Lanjut Sharon.
"Bunuh diri. Sepertinya ia minum racun." Jawaban Liam.
Sharon melihat ke arah kakaknya yag masih mengitari meja itu dengan seksama. Kakak memang selalu sibuk, pikirnya. Oz berjalan ke arah Break, pelan-pelan waktu mencoba komunikasi dengan hantu satu ini, sebelum dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap gila.
"Eh, em…. Ketemu apa Break?" Tanya Oz. Break menoleh sebentar pada Oz, membiarkan konsentrasinya buyar sejenak, lalu kembali menatap TKP di depannya.
"Sejauh ini ada beberapa hal yang mencurigakan," Gumam Break. "Ada cangkir berisi teh tumpah di karpetnya. Tidak ada tanda-tanda racun di dalamnya."
"Hee? Bagaiman lo tau kalau ada racun ato nggak?" Ucap Oz, jongkok di depan cangkir yang tumpah tersebut. Dilihat dekatpun, tidak terlihat kalau teh itu beracun atau tidak. Break menolah pada bocah pirang itu, tersenyum misterius.
"Aku tahu bau teh yang tidak diracuni." Jawabnya dengan senyum. Oz hanya mengangguk. Break punya terlalu banyak rahasia, sampai matinyapun tidak ada yang bisa membongkarnya satu-satu. Pria yang misterius.
"Ada teko di atas meja, tidak ada racun. Bunga dahlia bertebaran dimana-mana, dan sepertinya…. Yura mati sekitar 10 jam lalu." Break geleng-geleng kepala.
Break mulai berpikir. Aneh, teh ini tidak diracuni, padahal dia mati karena keracunan. Ia menoleh lagi ke arah TKP, melihat foto Jack yang ada di tangan Yura yang lemas.
Dasar fan nggak beradab. Pikir Break jijik.
Sharon mendekati Break yang sibuk berpikir.
"Kak,"
Tidak ada respons.
"Kakak?"
Tetap tidak dijawab.
Break yang sedang seriusnya berpikir tiba-tiba terhempas di lantai. Dia mengerang dan menoleh, mengusap-usap kepalanya.
"Kenapa Sharon?" Tanya Break kesal.
"Sharon panggil kakak nggak dijawab-jawab sih!" Kata Sharon sebal sambil menyimpan harisen dalam lipatan rok panjangnya. Ia agak berbisik supaya tidak dianggap gila.
"Orang sibuk mikir masa nggak kelihatan? Peka dikit Sharon!" Bantah Break.
SLAP!
Sekali lagi, Break terkapar di lantai. Oz mendesah dan mengoyang-goyangkan hantu malang tersebut.
Setelah pulih, Break langsung mundur ke pojokan sambil menyambungkan segala logikanya. (Cih, mirip Miles Edgeworth. Bagi yang main Ace Attorney Investigations, the power of LOGIC BUTTON~)
Bunga dahlia…. Mezerein yang sangat beracun….. Teh tanpa racun…
Tiba-tiba Break tersentak.
Ini pembunuhan!
Dia segera menoleh pada Sharon.
"Sharon! Ini bukan bunuh diri, ini-"
"Pembunuhan!"
Break dan Sharon menoleh pada arah suara itu. Break mengernyit.
Mantan rivalnya yang sok tahu dan sok benar, Claude Nightray.
"Ini jelas-jelas pembunuhan!" Decaknya sombong. Ia menunjuk Pak Jack di sebelah Pak Glen.
"Kau pembunuhnya!"
"H-Hee?" Respon Jack sambil menunjuk dirinya.
"GOBLOK!" Semprot Break tanpa malu-malu.
"TKP menjelaskan semuanya," Kata Ernest. "Dilihat dari tangan Pak Yura yang memegang fotomu, itu menunjukkan bahwa ia ingin memberitahu kita bahwa kau pembunuhnya!"
"A-Aku punya alibi! Aku membereskan basement OR dan-"
"Tepat!" Potong Claude. Jack tersentak.
"Kapan kau membereskan basement OR?" Tanya Claude.
"Ehm…. Sekitar jam 5 pagi-"
"Pembunuhan terjadi jam 10 jam lalu! Semua sudah jelas!" Claude tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan bercanda Nightray!" Ujar Pak Glen. "Jack tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Walau dia memang muak pada Pak Yura-"
"Itulah motifnya!" Sela Claude lagi. Jack menoleh sendu pada Glen.
"Makasih, Glen." Ujarnya sarkastik. Glen hanya menunduk.
"Ma-masa Jack sih?" Oz menganga tak percaya.
"Keterlaluan!" Ujar Gilbert. Alice hanya menatap Claude marah.
"Sial… kalau begini…!" Break menatap Sharon tajam. Sharon menatap kakanya bingung.
"Eh?"
"Maaf ya Sharon!"
Jack diringkus dan diborgol oleh polisi. Mukanya menandakan keputus asaan. Habis sudah. Dia tidak punya alasan lagi. Semua bukti menuju pada dirinya.
"Dengan begini, kasus terpecahkan!" Ujar Claude sombong.
"Dasar detektif murahan? Ah, salah, malahan detektif gadungan."
Semua menoleh pada sumber suara yang mengejek tersebut. Sharon sedang duduk di atas meja Pak Yura, menunduk ke bawah. Seyuman sinis melebar di bibirnya, tertawa pelan.
"Heh! Brani ya kamu! Kau hanya junior yang tidak mengerti apa-apa!" ejek Claude balik. "Ini terlalu-"
"Terlalu… awal? Khukhukhu, kau sama sombongnya dengan dulu, Claude Nightray,"
Claude tercekat. Begitu juga semua guru.
"Oh, jangan mengejek Sharon juga. Yaa, dia memang masih pemula, tapi semangatnya besar," 'Sharon' mengambil sebuah permen lollipop dari tempat permen di atas meja Yura. Ia mengangkat wajahnya dan menggigit permen itu.
Poni Sharon memang panjang, tapi terlihat jelas warna mata kanannya yang berwarna merah darah.
"Ka-kamu….!" Bisik Jack tidak percaya.
"Yep~" 'Sharon menunduk member hormat.
"Detektif kelas A Pandora University, Xerxes Break, siap melayani kasus ini dengan senang hati." Senyumnya melebar.
Yak, dan itulaah Chapter dua!
Chapter tiga mungkin besok, saudara-saudara.
Dan bagi kalian yang penasaran tentang kasus tsb, bisa cari di Google. Ingat, yang enteng-enteng itu harus diperhatiin juga, itulah detektif handal~!
Yak, Katy pamit dulu ay! Mau bikin Pop Mie, hehehe~~!
~Kate
