A/N : Cerita ini mulai berlangsung AR setelah pembicaraan Sasuke dengan Itachi, yaitu chap 590. Jadi ceritanya Sasuke gak ketemu Orochimaru

.

Kebahagiaan yang kupikirkan sedikit lagi teraih, ternyata masih terlalu jauh. Bahkan mustahil—

.

"Hantamkan kebencianmu padaku. Aku akan menanggung kebencianmu dan mati bersama. Sehingga kita akan saling memahami dan pergi ke dunia sana tanpa menanggung beban apapun."

Kau mengernyit tidak suka. Kata-kata itu begitu menyengatmu. Mengobrak-abrik hatimu untuk menarik kembali sebongkah harapan yang sudah lama membusuk, terkubur, dan kau penjarakan jauh di relung kalbu.

"Kau saja yang akan mati," ucapmu dengan seringai kejam. Kau memandang pemuda itu dengan tatapan merendahkan. Mengerti apa Naruto itu tentang penderitaanmu?

Dulu sekali sebelum tidur, Ibumu senang menceritakan kisah ksatria yang gagah berani, berkuda menuju peperangan untuk menyelamatkan orang-orang yang berharga baginya. Tiap kali sesuai dongeng selesai dilantunkan, berkali pula ibumu menemukan matamu yang sudah setengah terpejam.

Lembut sentuhan wanita itu, dapat kau rasakan ketika dia menyelimutimu, membelai pucuk kepalamu. Sebelum kau benar-benar tersedot oleh kegelapan pekat, Ibumu memberikan sebongkah cahaya untuk dibawa dalam mimpi—sebuah kecupan ringan di dahi.

Kau pun selalu berangan untuk menjadi seorang ksatria seperti dongeng itu. Tidak mau kau terus melakoni peran orang yang ditolong. Sementara Kakakmu selalu jadi pahlawannya.

Kakakmu adalah dinding yang harus kau lampaui.

Beruntung, sikap gigih dan keras kepala Ayahmu menular padamu. Kau pun latihan dengan keras, ingin bergegas melampaui Kakakmu. Acapkali, kau terluka sehabis latihan, pasti Kakakmu akan datang menolong.

Dalam duniamu, Kakakmu adalah pusat eksistensi. Dia selalu menepuk pundakmu kala pikiranmu kalut—saat Ayahmu selalu membandingkanmu dengannya.

Dia mengerti, bahwa kau adalah kau.

Itachi itu pahlawanmu—meski kau tak pernah mengucapkannya.

Hidupmu makin terasa lengkap, ketika kau berhasil menguasai jurus bola api dan kata-kata itu, pengakuan yang sedari dulu kau idamkan, akhirnya terwujud ketika Ayahmu berkata :

"Hebat. Itu baru anak Ayah."

Kau tersenyum.

Sedikit lagi—kau membatin.

Sedikit lagi hidupmu akan sempurna ketika kau akan memperlihatkan hasil nilai akademikmu yang melampaui rata-rata, ketika kau akan melihat wajah Ayahmu tersenyum, Ibumu memelukmu dan Kakakmu mau menghabiskan waktu denganmu.

Tapi … kesedihan menikammu begitu dalam. Hanyalah tubuh tak bernyawa dan bersimbah darah yang kau temukan. Bukan senyuman ataupun pelukan.

Pondasi hidupmu semakin hancur, ketika tahu bahwa penyebab tubuh kedua orang tuamu tak bernyawa adalah pahlawanmu—Itachi.

Semenjak saat itu, takkan ada lagi pahlawan untukmu.

Hidupmu dipenuhi untuk keinginan balas dendam. Orang-orang hanya bisa menjatuhkan vonis jahat padamu. Tapi pernahkah mereka benar-benar mau memahami dirimu?

Dalam hati kecilmu, kau juga tidak pernah menginginkan hal ini terjadi padamu. Kau tidak pernah menemukan kedamaian dalam hatimu. Nuranimu terlalu lemah untuk menanggung kebencian, rasa sakit dan kekecewaan. Kau ingin bebas.

Membalas semua rasa sakit ini kepada pembuatnya, akan membuatku puas—pikirmu.

Karena itu, kau membuang desa serta teman-teman. Berharap setelah balas dendam, kau akan menemukan kedamaian—meskipun dalam hati, kau sadar ada obat yang lebih ampuh daripada balas dendam : berbagi beban dengan temanmu.

Akan tetapi, setelah membunuh Itachi, sebuah kenyataan baru benar-benar menghantammu—lebih menyayat daripada mengetahui orang tuamu meninggal.

Kakakmu membunuh orangtuamu karena misi dari Konoha.

Semua teman-temanmu hidup kerena pengorbanan Kakakmu. Mereka tertawa diatas penderitaan Itachi.

Kau benci. Benci. Bagimu, semuanya pengkhianat

Menangis keras.

Kau takkan pernah percaya lagi pada kata "harapan". Bagimu, Ibumu adalah seorang pembual ; selalu menceritakan dongeng yang acapkali membuatmu percaya, bahwa sesuatu itu berakhir dengan bahagia.

Kala hati mencoba untuk berharap, hanyalah kekecewaan yang diterima.

Maka dari itu, kau berusaha keras untuk menghancurkan Naruto dengan kekuatan penuh. Lalu, menolak keberadaannya .

Kau ingin mengajarkan dan membuktikan kepadanya, bahwa hidup itu bukanlah dongeng sim salabim abra kedabra.

Kau transplantasikan mata Itachi untuk menambah kekuatanmu. Mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa klan Uchiha itu bukanlah klan yang bisa diinjak-injak seenaknya oleh semua orang.

Kau putuskan untuk menutup matamu untuk sesuatu yang penuh delusi—harapan, mimpi, keyakinan. Yang awalnya kau pikir takkan pernah terbuka lagi. Tapi ternyata salah.

Sebuah cahaya membuatmu untuk membuka mata. Sentuhan itu membuatmu linglung akan rasa haus sebuah belaian sayang. Suara maupun kata itu yang mampu membuat duniamu berputar.

"Apapun atau bagaimana pun kau nanti, aku akan selalu menyayangimu(1)"

Senyuman itu menyingkirkan katup hatimu agar terbuka lebar untuk sebuah penerimaan.

Rasa sayang untukmu.

Setelahnya, kau lihat sosok Itachi perlahan samar—karena jurus edotensei itu sudah hampir sampai pada batasnya—dan Itachi pun pergi bersama cahaya.

Kau menekur. Yang tersisa di benakmu saat ini hanyalah lembar-lembar masa lampau, torehan rasa.

Apa yang aku inginkan sebenarnya?

Kau mengepalkan tangan. Terpaan angin mengurai kekusutan benakmu. Kau ingin menyucikan Uchiha dengan memutuskan sebuah ikatan, bukan? Ya. Ya. Ya. Kau memantapkan hatimu.

Kau menegapkan badan. Melangkah menuju kancah pertempuran untuk menemukan Naruto dan berusaha menemukan sebuah jawaban.

Kau ingin membunuh Naruto serta orang-orang desa Konoha karena nama Uchiha dihapuskan dari ingatan mereka, bukan?

Kau terus memutar-mutar ulang pernyataan itu dalam pikiranmu. Kau merasakan telapak tanganmu sedikit basah dan dingin. Kau mengernyitkan dahi. Tidak biasanya begini—kau sendiri pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Rasa itu menggerogotimu dan menganggumu. Gugup? Takut? Gelisah? Kau pun tak tahu pasti apa itu.

"Kau datang, Sasuke." Naruto berkata dengan nada tenang. Kau tersadar, bahwa Naruto yang dihadapanmu sekarang ini begitu berbeda dengan Naruto yang dulu kau ingat—berisik, impulsif, dan ceroboh.

Kau tersenyum miring menanggapi perkataan Naruto. Kaulihat dirinya yang agak kelelahan. Kemudian kau menilik pada sekelilingmu. Tanah-tanah melembek, tulang belulang berserakan. Ribuan nyawa telah melayang demi mimpi serta tekad yang akan diwariskan.

Kau melihat di antara bebatuan, Kakashi serta Guy terbaring tidak berdaya. Semua tim seangkatanmu sepertinya belum sampai untuk membantu Naruto melawan Madara—ah, kau sadar bahwa ada Madara juga disini. Tidak hanya Naruto.

Tak lama kemudian, kau melesat berlari menuju Naruto. Darah akan tumpah ruah disini. Madara tersenyum melihatmu, karena kau membantunya untuk melawan Naruto.

BLAAARR!

RASENGAAAAN!

CHIDORIII!

Berbagai ninjutsu mengerikan sudah kau kerahkan kepada Naruto. Namun, yang kau herankan adalah serangan itu tidak berhasil. Lagi, Naruto tersenyum melihatmu seolah ada yang lucu. Saat kau bertarung dengannya menggunakan taijutsu, senyumnya makin melebar.

"Sasuke, apa kau serius ingin membunuhku?"

"Apa maksudmu, Naruto?"

"Kau seperti tidak sungguh-sungguh ingin membunuhku. Apa yang ada dalam pikiranmu?"

BUGH!

"Ukh!" erangmu kita pukulan Naruto separuhnya berhasil mengenai lenganmu. Kau dan dia berhenti untuk menenangkan diri.

"Pukulan ringan saja kau tidak bisa mengelak," ujar Naruto lagi. "Apa kau bertemu Itachi? Apa yang kau inginkan sebenarnya?"

Kau mengatur napasmu yang sedikit memburu. Otakmu berusaha meresapi kata-kata Naruto. Entah kenapa, kekuatanmu terasa menghilang saat menghadapi Naruto.

Apa yang aku inginkan sebenarnya?

Bukankah tadi sudah memantapkan hati untuk memutuskan semua ikatan untuk memurnikan Uchiha?

Tapi, kenapa kau meragu?

.

.

"Apapun atau bagaimana pun kau nanti, aku akan selalu menyayangimu(1)"

.

"Temeaku ingin bertarung denganmu!"

.

"Sasuke-kun! Apa kau tidak apa-apa?"

.

"Apapun yang terjadi, kita semua adalah kelompok tujuh, jadi kalian harus kompak. Mengerti Sasuke, Naruto, Sakura?"

"Ya! Guru Kakashi!"

.

.

Potongan memori itulah yang menguar dari pikiranmu. Sekejap saja, kau menemukan jawaban yang kau cari selama ini—yang sudah berkali kau tepis, tapi benar nyatanya.

Kau ingin sebentuk kebahagiaan kecil, bersama teman tim tujuhmu.

Akhirnya, kau berbalik menyerang Madara dan Naruto pun membantumu. Kalian berdua mati-matian melawan Madara yang sangat tangguh itu. Tapi napas, irama jantung kalian telah melebur jadi satu. Torehan angan yang melekat dalam dada membuat kalian terus berjuang.

Pertempuran mengerikan itu berlangsung beberapa menit. Berkali-kali Madara melesatkan anak panah dari jurus susano'o-nya dan berkali pula kau berusaha menghindarinya dengan jurusmu. Sedangkan Naruto, dia menyerang Madara dengan kau sebagai tamengnya.

Menuju final, kau merasakan sekujur tubuhmu sakit. Cakramu hampir mendekati titik nol. Begitu juga Naruto dan Madara. Kau mengamati sekelilingmu.

Bantuan belum juga datang, cih—makimu dalam hati.

Matamu yang tajam melihat kejanggalan pada kondisi Madara. Debu-debu dan kerikil yang berterbangan tidak menembus tubuhnya! Ini kesempatan.

Brugh!

Lututmu membentur tanah ketika kau mencoba untuk berdiri. Kau memang hampir pada batasnya. Tapi semuanya dipertaruhkan di sini.

Kau membulatkan tekad. Kau mengalirkan cakra petir pada pedangmu. Mungkin ini cakra terakhirmu. Kesempatan hanya sekali, tidak boleh disia-siakan. Kau menerjang maju menuju Madara yang saat itu juga menyadari seranganmu.

Tapi, dia tidak sempat menghindar dan kau berhasil menusuknya. Kau tersenyum senang karena sebentar lagi Madara akan mati. Kau pun akhirnya sampai pada batasnya—lututmu hampir menghilang tenaganya. Penglihatanmu mulai memburam.

"Uhuk!"

Kau tersentak. Suara itu … kenapa suara itu familiar? Kenapa suara itu sangat menohokmu?

Tanpa spekulasi lebih lanjut, kau menengadahkan kepalamu. Lalu matamu bersibobrok dengan sepasang kilau safir biru. Kau merasa sekujur tubuhmu membeku.

Apa yang terjadi?

Kau lemparkan pandang pada sosok—tergolek lemah— yang cukup jauh jaraknya dari tempatmu berdiri. Sesosok itu mengulas senyum miring—kemenangan. Kau langsung mengerti apa arti senyuman itu.

Genjutsu—sial! Mengapa kau lengah di saat terakhir?

Kau baru saja tersadar dari jurus ilusi tersebut ; kau berilusi bahwa kau menusuk Madara—tapi bukan. Kau menusuk Naruto.

Kemudian, suara langkah yang begitu ramai mulai menjadi melodi yang mengisi daerah pertempuranmu. Diantara suara langkah itu kau mampu menangkap jeritan yang menyerukan nama Naruto.

Jeritan itu … suara itu … Sakura kah?

Kau pandangi Naruto di depanmu. Dia memuntahkan darah, tapi tersenyum penuh pengertian padamu. Seolah bisa membaca kalut pada wajahmu.

Jeritan serta umpatan.

Orang-orang berbondong-bondong mengelilingimu.

Pedangmu berada di jantung Naruto.

Kau … telah membunuh Naruto.

Kau membunuhnya..

Membunuhnya.

Duniamu berputar begitu cepat. Begitu cepat sampai pada akhirnya semua menjadi gelap.


...

Gelap.

Aku….

Aku….

Seseorang … ada yang bisa mendengarku?

Ayah? Ibu? Kakak? Kaliankah yang di ujung sana? Kumohon … berhenti, jangan tinggalkan aku.

Aku ingin bersama dengan kalian lebih lama.

Kau berlari mengejar mereka. Tapi jarak mereka begitu jauh, hingga kau pun terjatuh. Sendirian. Kau menangis—memohon sangat. Tidak ada seorang pun yang menjawabmu. Hanya sunyi yang begitu mencekam.

Kau mendapatkan spekulasi yang menyakitkan ; tak ada yang menginginkanmu sekarang. Mereka meninggalkanmu. Orang-orang yang menyayangimu … telah pergi.

Kau yang membunuhnya. Kau yang membunuhnya.

Tidak. Tidak. Tidak. TIDAK!

Kumohon, tolong aku. Keluarkan aku dari siksaan ini. Adakah seseorang yang dapat mendengarku?

Tuhan, cabut saja nyawaku. Aku … aku tidak kuat menanggung pedih ini. Aku tidak kuat lagi membuka mata untuk menghadapi dunia fana.

Adakah seseorang yang menungguku? Adakah seseorang yang … menyayangiku?

.


Kau membuka mata dengan perlahan. Mimpi itu masih sangat jelas dipikiranmu. Sangat jelas—membuat napasmu sesak dan jantungmu berdenyut pedih.

Adakah seseorang yang menungguku?

Untaian frasa yang kau pinta dalam mimpimu masih bergaung—bahkan ketika kau sudah sadar. Lalu, kau menilik ke arah kanan dan hatimu tercubit, tatakala mata kelammu mendapati sepasang mata keperakan sedang menatapmu.

Kau tidak tahu apakah ini sebuah jawaban atau hanya kebetulan. Kau juga tidak tahu, untuk apa kristal bening itu keluar dari sudut matamu.

.

.

.

To Be Continue

.

Curcolan Author

Oke, aku tahu chapter ini datar banget aka boring. Konfliknya masih belum kelihatan. Porsi SH nya juga belum memadai. Jika sempat, aku akan memperbaiki ulang chapter-chapternya.

Maaf ya lama update nya, soalnya kertas coret-coret yang aku buat hilang di sekolah, huhuhuhu/gelundungan

Dan terimakasih banyaaaak yaaa semuanya, penpik SH pertamaku dapat sambutan hangat dari kalian semuaaa T.T /terharu

Woke, chapter depan aja deh Caca bales ripiuw kalian semua. Mata udah lima watt ini.

Oke, Caca mau tanya satu hal nih. Menurut kalian, enaknya baca pake POV nya Hinata (orang pertama) atau POV nya Sasuke (orang kedua) atau pake POV orang ketiga? /author bingung.

Dan terakhir, terimakasih sudah mau membaca. Review?