I was already overdose to you
Deep Breath Sequel
Hun Han
Genre :
Romance Drama
Rate T
Summary :
.
.
Selamat Membaca
.
.
Dalam ruang gelap yang sepi juga sunyi.
Sehun duduk pada sudut ruangan sempit bernuansa putih yang hanya tersedia satu ranjang, satu lemari nakas, dan satu lemari pakaian. Oh ada juga satu buah dispenser dan kursi plastic tapi nyaman untuk diduduki. Bau obat – obatan menyengat hampir disegala penjuru ruangan. Sehun mengumpat kesal karena ruangan ini amat lebih buruk dari rumahnya sendiri.
"Fvck!"
Kedua tangannya memeluk sepasang kaki yang biasa ia gunakan untuk berjalan selama ia hidup. Rasa takut imajiner tiba – tiba melingkupi pikirannya. Teriakan – teriakan samar, kilas peristiwa tidak menyenangkan berkelebat dan tawa – tawa ceria berputar seolah mengejeknya. Sehun lekas menutup telinganya rapat – rapat. Bibirnya mulai menggumam kosakata acak.
"Pergi.."
Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Pakaian seperti pasien rumah sakit yang ia kenakan sudah basah dibagian dada dan punggung. Sehun terlihat sangat kurus dilihat bagaimana tulang selangkanya lebih menonjol.
"Kka!"
Sehun menggeram. Tubuhnya menggigil dan ia merasa dingin. Gigi gingsulnya menggigiti kulit tangannya sendiri.
"Hh.. akuh butuhh hh.."
Tangan Sehun mengepal erat. Entah kenapa ia mulai menyukai rasa kulitnya yang sedikit anyir karena ada bagian yang terkoyak akibat gigitannya.
"Umh~"
Rasa nikmat yang tidak seberapa tercecap dari lidahnya. Sehun lantas kembali mengisap bagian terkoyak itu lupa diri. Rasa ingin dan butuh membuncah dari dadanya. Tapi sayang. Seiring liquid anyir itu menjadi tidak menyenangkan di beberapa tetes terakhir jilatannya.
"AAARRRGGGHHH! Berikan aku benda itu!"
BRAK! BRAK!
Sehun menggedor pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar kesetanan. Kepalanya berat sekarang, ia kedinginan dan Sehun meyakini hanya benda itu satu – satunya yang mampu menghilangkan ketidaknyamanannya ini. Bagaimanapun Sehun harus mendapatkannya!
BRAK! BRAK! BRAK!
"Ya! KAU! Berikan aku benda itu. BERIKAN!"
Jemarinya meremas teralis jendela pintu sembari berteriak pada salah satu manusia yang kebetulan melintas didepan kamar yang ia diami. Orang itu tampak ketakutan dan langsung menjauh.
"YA! YA! BERIKAN AKU DULU BENDA ITU!"
Geraham Sehun bergemelatuk menahan amarah. Kembali ia menendang pintu itu keras – keras. Ia sudah tidak tahan lagi. Sehun tidak mau mati sekarang. Benda itu harus ia temukan sekarang!
Sepuluh menit berlalu dan Sehun terduduk memunggungi pintu tak berdosa yang baru saja menjadi saksi bisu tindak kekerasanya pada benda mati. Sehun menjambak rambutnya kuat – kuat sampai berantakan. Wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat frustasi. Bibirnya terus menyeracau tidak jelas. Perlahan Sehun kembali meringkuk sembari menarik pakaian yang ia kenakan lebih rapat guna mneghalau rasa dingin pada tubuhnya.
"Lu~"
.
.
Sepasang kaki berlari tergesa menyusuri lorong dengan banyak tiang di sisi kanan dan kiri. Diikuti dengan dua orang laki – laki yang sama tergesanya.
Namja itu amat sangat cantik dengan rambut yang sedikit panjang berwarna cokelat.
"Kris. Apakah seburuk itu?"
"Aku tidak bisa memastikan, Luhan. Salah satu pekerjaku yang melaporkannya. Setelah tahu itu aku langsung menghubungimu seperti yang pernah kau pesankan."
Luhan kembali mempercepat langkah kakinya saat melihat sebuah pintu bercat biru terlihat olehnya.
BRUAK!
PRANG!
"Oh tidak.."
Kris lekas mengintip dari jendela pintu ke dalam. Dimana Sehun membanting semua benda yang ada didalam kamar itu. Tapi yang membuat Kris lebih terkejut adalah ketika Sehun memegang serpihan kaca bening ditangannya.
"Cepat buka pintunya!"
Satu pekerjanya langsung membuka pintu itu. Sedangkan Luhan menatap Kris dengan pandangan bertanya.
"Sehun berulah kembali."
BRAK!
Luhan menganga saat Sehun sudah siap menggores lengannya dengan serpihan kaca. Lekas Luhan berlari dan memegang pergelangan tangan Sehun kuat.
"SEHUN ANDWAE!"
Grep!
"LEPASKAN AKU!"
Luhan tidak melepas pegangannya dan langsung memeluk Sehun kuat – kuat. Sehun memberontak sembari menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan Luhan.
"Luhan! Awas!"
Crash!
"Akh.."
Kris menarik Luhan menjauh dari Sehun. Bagian perutnya tergores cukup dalam oleh serpihan kaca yang Sehun pegang. Ia lantas meminta pekerjanya untuk membekap Sehun. Namja itu masih diambang kesadaran sehingga tidak menyadari ia telah membahayakan orang sekitarnya.
"Bawa pemuda itu ke kamar mandi."
Didalam kamar mandi, Sehun lantas bergidik melihat air dalam bak. Sekelebat peristiwa belakangan ini terlintas dalam ingatannya. Ia meronta dalm kungkungan namja yang membekapnya.
"LEPASKAN AKU!"
Kris sudah berdiri dibelakang Sehun. tangan besarnya meraih kepala pemuda itu lalu menyelupkannya kasar hingga tenggelam sebatas leher.
"Kau masih bersikeras tidak berubah Oh Sehun?"
"Lepaskan aku brengsek! Hmp.."
Kris kembali menyelupkan kepala Sehun sama seperti barusan sampai – sampai tangan Sehum mencakari lengannya.
"Hentikan Kris! Sudah!"
"Um phuahh.. hh.."
Sehun terdongak dengan rambut yang basah sebagian. Kepalanya terkulai kebelakang kehabisan tenaga. Bibirnya terbuka guna meraup udara sebanyak – banyaknya. Luhan entah sejak kapan mendorong namja pekerja Kris tadi dan langsung meraih tubuh basah Sehun kepangkuannya.
"Hiks.. Sehun~"
Sambil mengatur nafasnya, Sehun mencoba membuka tirai kelopak matanya yang berat. Mutiara kecokelatan beningnya menemukan tatapan khawatir dari seseorang familiar yang ia rindukan setiap saatnya. Sehun tersenyum lemah.
"Lu~ akhirnya kau datang jug—ah."
"Sehun!"
Selesai mengatakan sepatah kalimat, Sehun tidak sadarkan diri.
"Papah pemuda ini ke kasurnya. Kajja Lu. Kita pindahkan Sehun."
"Kris kenapa dengan Sehun?"
"Dia hanya pingsan. Percayalah padaku."
.
.
Luhan memandang sedih pemuda yang terbaring nyaman dalam balutan selimut. Irisnya berkaca – kaca mengingat kejadian barusan.
"Lukamu sudah tidak apa – apa, Luhan?"
"Tidak apa – apa Kris. Lagipula hanya tergores sedikit. Kau tenang saja."
"Yah goresan dengan tambahan lima jahitan," cibir Kris kesal.
"Jangan terlalu berlebihan, Kris. Aku ini namja."
Kris menghela nafas kasar. Urat – urat didahinya timbul mengingat kelalaian salah satu pekerjanya yang membawakan Sehun gelas kaca saat mengantarkan makanan. Untung saja tadi mereka masih sempat menghentikan Sehun.
"Kris.."
"Hum?"
Luhan berdiri didepan jendela disamping ranjang sembari menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Entah kapan terakhir kali Luhan melihat hiasan malam itu bersinar, tapi kali ini Luhan tiba – tiba merindukan kerlap – kerlip bintang itu. Luhan merasa kosong.
"Apakah Sehun akan sembuh?"
Hening cukup lama melingkupi suasanan sunyi dalam ruang kecil itu.
Tanpa perlu menunggu jawaban pemuda itu Luhan sudah lebih dulu tahu. Pertanyaannya sederhana namun Kris sepertinya tahu bahwa diri Luhan akan sangat sulit untuk menerima. Tapi ia bisa apa?
Terhitung tiga bulan lamanya Sehun menjalani rehabilitasi di rumah rehabilitas asuhan Kris, sahabat baik Luhan. tempatnya terpencil didaerah pegunungan dan jauh dari pemukiman penduduk. Kris sengaja memilih tempat ini karena sangat cocok untuk memperbaiki suasana hati pasien – pasiennya. Pemandangan sekitar rumah rehabilitas ini di dominasi dengan warna hijau segar dan padang rumput luas. Hanya saja demi mencapai tempat ini, penjenguk harus melewati hutan yang menghabiskan waktu dua jam perjalanan menggunakan mobil.
Luhan sendiri tinggal di penginapan tak jauh dari sini. Yang juga adalah milik Kris, sebagai tempat bermalam.
"Kau ini, aku hanya sedang berfikir. Makanya tidak langsung menjawab pertanyaanmu."
Tiba – tiba seseorang datang dari arah pintu.
"Gege~"
"Hai Tao. Kapan kau kemari hm?"
Kris menyambut tubrukan dari namja tinggi langsing yang baru saja menyapanya. Tak lupa kecupan kecil namja tinggi itu berikan pada bibir Kris kilat. Kris terkekeh melihat pipi namja itu perlahan memerah.
"Kau tidak menyapa Luhan?"
"Oh.. Hai Luhan ge. Maaf aku tidak melihatmu tadi. Hehe.."
"Tidak apa – apa Tao. Aku memakluminya."
"Sebaiknya kita berbincang di luar saja. Nanti Sehun terbangun."
Luhan mengangguk. Dirinya sempat memberi ciuman didahi Sehun singkat dan berbisik sesuatu ditelinga namja itu. Tao yang memandangnya lekas meremat lengan Kris.
"Ada apa?" bisik Kris pelan.
"Hanya terharu ge."
Kris lebih dulu keluar sembari membawa Tao. Memberi Luhan ruang untuk melakukan hal yang ingin ia lakukan pada Sehun. Lagipula Kris bisa menjelaskan perihal Sehun keesokan harinya. Namja itu pasti sudah sangat merindukan Sehun. Disisinya Tao memeluk lengan Kris sambil berjalan menjauh dari kamar rawat Sehun berada.
"Kuharap Sehun lekas sembuh dan Luhan ge kembali tersenyum."
"Amin. Gege juga berharap begitu, Tao."
"Ge, kau harus berusaha lebih keras lagi supaya Sehun kembali seperti dulu."
Kris berhenti sembari melepas dekapan Tao pada lengannya. Kini mereka saling berhadapan dengan Kris memegang kedua bahu Tao.
"Gege akan berusaha semampunya. Maka dari itu bantu gege menghibur Luhan. Oke?"
"Tentu saja. Luhan ge 'kan gege kesayanganku, ge."
"Yak au tidak menyayangiku eoh?"
Dari kejauhan Luhan berdiri kaku sambil memandang moment Kris dan Tao yang saling bercanda. Hatinya teriris sedikit karena kebersamaan mereka mengingatkannya akan Sehun.
"Ya Tuhan, bantu hambaMu ini."
.
.
Keesokan harinya Luhan kembali bekerja sebagai buruh pemetik buah jeruk. Kebun teramat luas ini memiliki banyak pekerja dari banyak kalangan. Pemiliknya dikenal sebagai seorang yang sangat ramah juga baik hati. Maka dari itu Luhan tidak begitu sulit untuk bisa bekerja disini.
Tak jauh dari kebun terdapat sebuah pondok besar terbuat dari bamboo beratap rumbia. Tempatnya teduh dan dekat dengan pohon besar menaungi sebagian pondok. Setelah meletakkan keranjang berisi jeruk yang ia petik, Luhan merebahkan diri bersama pekerja lainnya di lantai beralas tikar.
"Hah.. hari ini banyak sekali yang dipanen."
Karena terlalu lelah, Luhan sampai mengabaikan minumannya dan jatuh terlelap dengan wajah ditutup sebuah topi.
Salah satu ahjumma disana mendekati Luhan yang sudah terbang ke alam mimpi. Ia memperhatikan wajah tenang Luhan.
"Tinggalkan saja pemuda ini. Kalian semua boleh pulang. Buatlah minuman dingin dengan sirup. Hari ini sangat panas."
"Terima kasih nyonya Ga In.."
Para pekerja disana membungkuk bersama mengucapkan terima kasih pada ahjumma itu. Beliau menggumam sembari tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka pulang. Dan kini tinggallah dirinya seorang bersama Luhan.
"Kau mengingatkan ahjumma dengan mendiang anakku, Luhan."
"Annyeonghaseyo.."
Ahjumma itu mendongak. Sempat ia fikir pekerjanya kembali lagi tapi saat berbalik badan.
"Oh Jin Mi?"
.
.
"Kapan kemari? Kenapa tidak memberitahukanku dulu."
Ga In memeluk Jin Mi erat. Mereka masih duduk bersantai di pondok itu. Ia tidak menyangka Jin Mi akan menemuinya lagi. Setelah bertahun – tahun lamanya adik tirinya ini menghindar darinya.
"Maaf tidak memberitahukanmu dulu, kakak."
"Lesu sekali. Apa terjadi sesuatu?"
Jin Mi mengangguk berat. Tampak dahinya berkerut seperti tertimpa beban menumpuk. Ga In menuang air jeruk dari teko kecil.
"Minumlah. Ini baru saja kuperas. Siapa tahu kau menjadi lebih baik."
"Ya terima kasih kak."
Jin Mi meminum air jeruk segar itu dalam sekali teguk.
"Bagaimana?"
"Sedikit asam. Tapi aku suka sekali."
"Ah sepertinya aku harus memperhatikannya lagi supaya tidak asam."
Jin Mi menatap Ga In beberapa saat.
"Kakak, apa Sehun pernah kemari?"
Ga In mengerutkan dahinya dalam begitu mendengar pertanyaan adiknya ini.
"Apa maksudmu? Sehun di Seoul bukan?"
Jin Mi menghela nafas beberapa saat. Matanya menerawang pada hamparan luas perkebunan milik kakaknya, Ga In. Mau tak mau Jin Mi kembali bernostalgia bagaimana saat remaja dulu ia sering menjahili Ga In dengan memetik jeruk mengkal dan memakainya untuk melepari sang kakak. Mereka berdua kakak beradik tidak sedarah yang sangat akur. Namun Jin Mi amat sangat jahil.
Hingga sampai Jin Mi menikah, ia hampir tak mau berpisah dengan memilih tinggal bersama sang suami. Tapi semua bisa teratasi hanya saja satu hal yang menjadi sedikit masalah.
Jin Mi tidak bisa memiliki anak. Saat tahu sang kakak memiliki putera, Jin Mi datang dan meminta bayi sang kakak untuk ia angkat sebagai anak. Karena siapa tahu dengan begitu Jin Mi bisa memiliki keturunan. Anak itu ia beri nama Sehun.
"Sudah hampir setengah tahun Sehun menghilang, kak."
"Apa.."
Ga In terbata seketika. Ada rasa kecewa terbesit dihatinya begitu mendengar pernyataan adiknya barusan.
"Maafkan aku kakak. Ini semua salahku. Sehun terlalu kukekang supaya bisa menjadi anak yang baik dan bisa membuat kami termasuk dirimu bangga. Tapi sepertinya caraku tidak berhasil. Aku membuatnya meninggalkanku, kak. Hiks.. Hiks.. maafkan aku.."
"Sudahlah tidak apa – apa. Aku yakin Sehun tidak kemana – mana. Kita akan cari lagi bersama."
Jin Mi mengangguk untuk sekedar mengiyakan. Dirinya tahu Ga In bahkan lebih khawatir ketimbang dirinya. Tapi untuk kali ini ia biarkan dirinya menangis. Bukan hanya menangisi Sehun tapi juga menangisi kesalahannya.
"Eunghh~"
Tak jauh dari sana, Luhan melenguh pelan tersadar dari alam mimpinya. Angin berhembus membelai wajahnya yang sudah tidak tertutup topi. Rambutnya beterbangan acak sampai – sampai Luhan kesulitan membuka mata.
Jin Mi yang pertama kali sadar langsung mnegalihkan perhatian penuh pada sosok namja kecil itu. Matanya serasa familiar dengan penampilan namja itu. Sampai Jin Mi tak sadar sang kakak juga turut memperhatikan Luhan.
"Kau sudah bangun, nak?"
Luhan mengucek matanya pelan lalu balas menatap ahjumma pemilik kebun tempatnya bekerja. Belum sempat menjawab Luhan lebih dulu dikejutkan dengan keberadaan wanita yang selama ini selalu ia hindari. Bukan karena dirinya, melainkan karena sebuah keharusan.
"Oh ahjumma.."
"Xi Lu Han.."
.
.
Siang itu juga, Jin Mi bersama dengan Ga In dan Luhan bergegas menengok Sehun ditempat rehabilitasi. Ga In dan Jin Mi langsung memeluk Sehun yang saat itu tengah duduk diam diatas ranjang kamarnya. Sehun tidak banyak merespon, biarpun dua eommanya menangis sambil memeluknya erat.
Hal itu justru membuat tangis Jin Mi semakin kencang.
Luhan hanya berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu kamar Sehun. ia tidak berniat turut masuk ke dalam, dengan membiarkan suasana kekeluargaan itu hancur? Oh tidak. Luhan tahu bagaimanapun juga Sehun butuh dukungan dari orang tua kandungnya.
Lama Luhan menunggu dengan sabar, ia sampai tertidur lagi hingga menjelang malam. Jin Mi dan Ga In sempat berniat membangunkan Luhan tapi Sehun melarangnya.
"Eomma janji tidak akan menolak apapun keinginanmu selama itu yang terbaik. Maafkan kesalahan eomma dulu, Sehun – ah."
"Hm.."
Ga In kembali memeluk anaknya yang sudah cukup lama tidak ia temui. Sehun juga balas memeluk sekedarnya pada perempuan itu.
"Kami pulang dulu. Jangan patah semangat anakku. Besok kami akan kembali lagi."
"Nde.."
Jawaban Sehun singkat saja. Tapi mereka tidak memprotes. Hanya saja Jin Mi sedikit merasa tusukan benda tajam di ulu hatianya. Karena Sehun hanya membalas ucapannya dengan gumaman. Berbeda dengan Ga In. dan sekali lagi Jin Mi mengingatkan dirinya untuk tidak kembali memicu api masalah.
Jin Mi beranjak pulang sambil memandang tidak rela pada Sehun yang mulai mengangkat Luhan masuk ke dalam kamarnya.
"Sehun butuh waktu, Jin Mi."
"Aku semakin merasa bersalah, kakak."
"Kenapa?"
"Namja itulah yang selalu ada disamping Sehun saat kecil. Aku benar – benar tidak menyangka sampai saat ini masih menemukan namja yang sama disisi Sehun."
"Kurasa karena Sehun pula Luhan bekerja di kebun milikku, Jin Mi."
Jin Mi menghela nafas berat. Kembali terkenang masa dimana ia menekan Sehun dengan segala aturan yang ia buat. Termasuk menjauhkan Sehun dari pengganggu seperti Luhan yang hanya tahu bermain dan bermain. Jin Mi sangat berambisi agar Sehun sukses dikemudian hari. Apalagi usaha sang suami mengalami perkembangan pesat. Sepertinya Jin Mi sadar titik dimana ia membuat kesalahan.
"Sebaiknya kita menginap. Luhan bilang kita bisa tidur di penginapan tempat ia tinggal."
.
.
Sementara itu..
Sehun tak henti memandang Luhan yang terlelap diatas ranjangnya, disampingnya. Ia berterima kasih pada ranjang ini karena bisa memuat mereka berdua. Sebelah tangannya menangkup pipi Luhan sebelah kiri. Sedangkan pipi kanan Luhan menjadi korban ciuman Sehun bertubi – tubi. Namja dalam pelukannya ini hampir sama kurusnya dengan dirinya.
"Lu~"
Ada sesal dimata Sehun kala menemukan garis memanjang pada bagian perut Luhan. Sepertinya ia lagi – lagi membuat kesalahan dan gagal mengontrol diri. Tangannya kembali menorehkan luka pada kulit halus Luhan. Sehun merasa bodoh.
"Eungh~"
"Malam Luhanku."
Cup!
Luhan bangkit setelah merasa benda lembut bersarang beberapa saat dibibirnya. Ia melihat sekeliling dan lekas mengenali saat tahu ia berada disamping Sehun.
"Apa aku ketiduran? Dimana Oh ahjumma?"
"Mereka sudah pulang. Apa kau lapar? Tadi aku meminta Kris makanan dengan porsi lebih."
Luhan mengangguk. Karena jujur saja ia amat sangat lapar. Setelah terbangun pagi tadi, ia sempat makan sedikit bersama Ga In ahjumma. Tapi setelahnya sampai malam ini Luhan belum memasukkan apapun ke dalam perutnya. Apalagi hari ini pekerjaan Luhan begitu menguras banyak tenaga.
Sehun memperhatikan Luhan yang makan dengan begitu lahap.
"Lu, kau jarang sekali menemaniku."
Gerakan Luhan terhenti beberapa saat.
"Kau tahu? Aku jadi merindukan benda itu lagi."
Tak!
Luhan berdiri lalu memeluk Sehun dari belakang. Kepalanya ia benamkan ke ceruk leher Sehun. akhirnya pemuda ini mengatakannya setelah sekian lama Luhan mengira Sehun tidak benar – benar serius dengan terapinya. Luhan tak bisa terlalu sering menemani Sehun.
"Jeongmal mianhae, Sehun – ah. Aku harus bekerja paruh waktu untuk membiayai terapimu."
Sehun meletakkan sumpit ditangan kanannya. Sebelah tangannya memegang bahu Luhan dan mengelusnya singkat. Sehun merebahkan kepalanya dan bertumpu pada kepala Luhan dibahunya sebelah kanan. Matanya terpejam menikmati tiap detik menyenangkan ini berlalu.
"Fraksi nikmat ini begitu memabukkan.."
"Hm?"
Luhan mendongak dan langsung menatap Sehun.
"Kau. Entah kenapa aku selalu menganggap aroma tubuhmu seperti benda menyenangkan itu. Semakin dalam aku menghirupnya, semakin melayang jiwaku untuk menyesapnya lebih dan lebih. Apakah kau terbuat dari daun ganja dan rantingnya, sayang?"
"Kau ini bicara apa, Sehun."
Luhan berdesis tidak mengerti yang Sehun katakan barusan. Apa itu? Terbuat dri daun berjari lima itu? Yang benar saja. Itu amat sangat mustahil. Tentu saja ia dilahirkan dari rahim mama.
Sehun bangkit lalu meraih Luhan ke dalam pelukannya yang lebih dalam, intens dan intim -_-
"Bolehkah aku menyesap ganjaku malam ini, Lu?"
"Tunggu dulu. Aku semakin tidak mengerti, Sehun."
Mata elang Sehun tidak henti menatap keindahan paras Luhan yang terbias oleh sinar bulan. Bibirnya gatal untuk menggoda tiap helai rambut halus Luhan yang mudah melambai meski ditiup sedikit oleh angin.
Fyuh~
"Sehunnie~"
"Ya my heroin.."
"Apakah aku sudah melakukan tugasku dengan baik?"
Sehun berfikir sejenak.
"Tidak, kau belum melakukannya."
Bibir Luhan mengerucut maksimal. Ayolah ia bekerja susah payah tapi Sehun malah menjawabnya begitu. Jahat sekali.
"Tapi aku tidak bisa selalu disampingmu. Kau tahu bukan~"
"Sangat tahu. Kris sering menceritakannya padaku."
Tangan Sehun tak henti menyentuh semua yang ada pada Luhan. Hidung, pipi, pelipis bahkan jemarinya tak luput dari tangan Sehun. namja itu begitu menikmati aroma tubuh Luhan sampai – sampai Luhan bergidik takut.
"Sssh aku ingin benda itu.."
"Mwo? Sebentar. Jangan bergerak."
Luhan hendak beranjak dari kamar itu. Namun Sehun sudah lebih dulu menarik Luhan agar duduk dipangkuannya. Hidungnya dengan cepat menyesap aroma tubuh Luhan melalui ceruk leher dan bagian manapun yang bisa memberikannya heroin pengganti. Sehun lelah terus – terusan menghabiskan tenaganya untuk meronta demi sebuah pil.
"Emh.. Sehunh.."
"Ssshh.. kau begitu nikmat Lu~"
Lidah Sehun menyesap perpotongan leher Luhan intens. Sesapannya turun hingga bertemu pada dada berisi Luhan dan memainkan hidung bangirnya disana. Menggesek manja sembari tak lepas menyesap aroma tubuh Luhan yang menguar. Begitu manis, nikmat sekaligus memabukkan.
"Umhh Lu~ Sshh.."
Andai saja Sehun menyadari, Luhan tengah menggigit bibirnya kuat agar erangan nistanya tidak lolos. Bagaimanapun Luhan hanyalah manusia biasa yang memiliki nafsu. Luhan membelai kepala Sehun dan memerangkapnya didada.
"My Heroin, ungh~"
"Sehun, sebaiknya kita tidur."
Menurut. Sehun akan menurut apapun yang Luhan katakan selagi Luhan tidak meninggalkannya disaat begini.
"Lu, jangan pergi kemanapun oke?"
"Tidak akan. Kalaupun aku pergi, percayalah aku berada disisimu."
Mata kecokelatan namja albino itu menatap lurus pada sepasang mutiara Luhan. Keduanya terdiam dalam posisi berbaring miring. Dan entah siapa yang memulai Sehun mendekatkan bibirnya pada belah bibir Luhan. Melumat lembut bibir kekasih yang amat ia kasihi.
Entah berapa lama mereka saling memagut, tidak sadar akan kehadiran Ga In dan Jin Mi pada jendela kecil pintu kamar Sehun. Mereka kembali ke sana karena ingin mengucapkan selamat malam sekaligus membawa sedikit makanan untuk makan bersama termasuk Luhan.
Jika dulu Jin Mi tidak segan mengusir siapapun kekasih yang berusaha merebut Sehun darinya, kali ini ia tidak melakukannya. Sembari tersenyum memaklumi, Jin Mi menuntun Ga In untuk tidak mengganggu moment hangat mereka. Jin Mi memandang sebutir pil yang diberikan oleh Kris. Itu adalah narkoba dosis rendah yang kerap Sehun konsumsi guna mengurangi kadar candu.
"Sepertinya Sehun tidak memerlukan ini lagi, kakak."
Ga In meraih pil itu dan melemparnya sejauh mungkin.
"Ya. Aku bersyukur Luhan-lah laki – laki yang berada disamping Sehun. Dia namja yang baik."
"Aku menyesal telah melarang Luhan untuk tidak bertemu dengan Sehun lagi. Hh kuharap kakak mau membantuku untuk meluruskan hubungan mereka."
"Tidak masalah adikku. Jja, kita kembali ke penginapan untuk beristirahat."
.
.
Berkat Jin Mi dan Ga In, Luhan tak lagi bekerja paruh waktu demi membiayai terapi Sehun. Semua biaya sudah ditanggung oleh kedua orang tua Sehun dan Luhan hampir sepanjang hari menemani bayi besarnya itu. Proses detoksifikasi berjalan lancar dan pengurangan candu dengan media pil narkoba dosis rendah juga berhasil. Sebulan berjalan Sehun bahkan sudah kembali merasakan hidupnya yang normal.
Namun disinilah yang menjadi permasalahan sebenarnya.
Sehun tidak pernah melepas Luhan barang sejengkalpun. Namja itu beranggapan jika Luhan menjauh itu sama dengan membuat candunya pada sahabat lamanya kembali. Tentu saja ia tidak mau selain Sehun yang sebenarnya tidak suka Kris berdekatan dengan Luhan-nya.
"Ya tuhan Sehun! Aku mau ke kamar mandi. Tunggu saja diluar."
"Ani."
Luhan mengerang. Boleh saja ia merasa senang akhirnya Sehun sembuh dan tinggal menghitung hari untuk segera mengakhiri masa rehabilitas. Tapi kalau seperti ini rasanya Luhan sebal juga. Sehun terus menempeli kemanapun ia pergi.
"Sehun-"
Greep!
"Lu~ kau tahu bukan? Selangkah saja kau menjauhiku, aku merasa sesak. Kau heroin paling berharga milikku, dan selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak perduli kelak eomma akan kembali memisahkan kita. Tapi aku berjanji itu tidak akan pernah terjadi, Lu."
Terenyuh.
Serta – merta Luhan memeluk Sehun dengan erat. Airmatanya menetes sedikit lewat sudut matanya. Kenangan pahit itu terbuka namun Sehun baru saja menyiramnya dengan kata yang manis.
"Kau sungguh nafasku, Sehun. Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pernah menyiksaku lagi. Hiks.."
"Sesuai janjiku sebelumnya, sayang. Aku akan berusaha untuk menepatinya."
Sehun menciumi Luhan penuh cinta dibawah sinar bulan yang menyusup dibalik jendela.
"Saranghae~"
"Nado saranghae~"
'and I was already overdose to you'
.
.
END
.
.
Kok rasanya aneh ya -_- mian kalau kurg memuaskan. Tapi MAKASIH BANYAK buat yang udah koment di chapter lalu. Hukss aku ganyangka bnyak yg suka ToT
Kuharap kalian suka dg sekuel ini :3
BIG THANK's :
hanhyewon357 || alfi95 || Yeboo || niesha sha || lisnana1 || shintaelf || luludeery || Kikykikuk || 0312luLuEXOticS || KyuvilHundsome || levy,c,fivers || Bottom-Lu || manlylittledeer || Holeepink || LeeDiah || bleszynski || ShinJiwoo920202 || ani n || ruriminhaha || yemia,kim,5 || gak,aktif,lagi || chenma || luhanhan8 || vidyafa11 || guest || rikha-chan || hunhankid || niasw3ty || SehunieHunHAN || ShehoonluluLiu || hanifah || Huang Zi Lien
kemarin aku bilg gaada sekuel pan? Itu karena aku takut janjinya ada tp nyatanya -_-
mungkin karena lagi ada feel lumayan, yeun bikin deh XD tp gayakin sebagus dengan chap sebelumnya. Duh berasa ff gua bagus aja -,-
oKai
ripiu egen?
