Honeyween
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: America/Belarus. Genre: Supernatural/Horror/Romance. Rating: M. Other notes: AU, berdasarkan urban legend di Hawaii. rated m for slight NSFW content.
(Seharusnya liburan singkat itu menyenangkan untuk Alfred dan Natalya, tetapi, karena suatu sebab yang tak Natalya mengerti, dia diserang oleh hal-hal yang merusak perjalanannya.)
Kulit yang memerah, sisa pasir di kaki, topi pantai, dan tubuh berbau garam adalah oleh-oleh yang mereka bawa sepulangnya dari Waikiki. Wajah Natalya terlihat lebih hidup dan tenang dibandingkan hari sebelumnya, maka dari itu Alfred memutuskan untuk menambah daftar perjalanan mereka di daerah tersebut, cuma karena terlalu sayang untuk melihat wajah bahagia Natalya lenyap hanya karena satu alasan: pulang.
"Kita ke mana?" ah, Alfred belum memberitahu Natalya tentang rencananya, rupanya.
"Cuma menambah daftar jalan-jalan. Mumpung liburan, hm?" Alfred bergantian memandang jalan dan wajah Natalya, "Lembah Manoa kedengarannya menarik. Baru tadi pagi kubaca di buku panduan. Mungkin kau bisa memotret di sana."
"... Oh."
"Menuju ke destinasi berikutnyaaaa!"
Petak-petak perkampungan mereka lewati dengan mobil yang dikemudikan dengan tenang. Natalya yang pada awalnya sempat ragu untuk memegang kamera—namun diyakinkan Alfred bahwa dia tidak perlu takut lagi karena ini adalah tempat yang berbeda—akhirnya bisa mengambil banyak foto. Sedikit bagian lagi dilewati, maka mereka akan selesai mengitari tempat yang disebutkan oleh buku panduan wisata sebagai tempat yang cocok untuk dijelajahi fotografer.
"Ada aksara Mandarin di sini ..."
Alfred berhenti, "Oh, ini. Ini kuburan warga China. Penduduk China pernah datang ke Hawaii untuk bekerja di pabrik gula. Sekitar ... sekitar seabad yang lalu kalau tidak salah. Mau memotret?"
Natalya mengangguk, lalu keluar dari mobil. Ada beberapa patung di dalam komplek yang membuatnya tertarik dan langsung membidikkan lensa ke arah sana. Dia menoleh pada Alfred sebentar dengan wajah bertanya-tanya.
"Kau dengar sesuatu?"
"Apa?"
Natalya tidak menjawab namun menoleh ke beberapa arah sekaligus dengan cepat.
nyaring. Tambah keras. Dan melengking.
"Dengar tidak?!"
"Aku tidak mendengar apapun," Alfred menggeleng. "Katakan, ada apa lagi?" dia mendekat pada Natalya dan merangkul tubuh itu.
Natalya menutup salah satu telinganya dengan satu jari; tetapi suara tangisan itu semakin mendekat pada telinganya. Dia tutup telinga yang lain dengan tangan, tetap tidak mempan untuk mengusir usikan suara-suara barusan. Dan akhirnya dia menutup rapat-rapat kedua telinganya dengan tangan penuh, menunduk dan bergumam seperti igauan, "Hentikan ... hentikan ... hentikan ..."
"Nat?" Alfred mengguncang tubuh Natalya.. "Natalya, buka matamu, buka! Jangan kehilangan kesadaran—hei, buka matamu!"
Natalya melakukan apa yang Alfred minta, namun tetap menunduk dan ia menggeleng beberapa kali, "Suara itu ... suara menangis ... aku mendengar bayi menangis—dan anak-anak ... sakit, telingaku sakit ..."
Alfred segera menarik Natalya dan cepat-cepat meninggalkan Manoa dengan kecepatan tinggi.
Di sepanjang perjalanan, Natalya hanya diam dan matanya jarang berkedip. Kesadarannya mungkin separuh melayang, terbagi pada dunia khayal dan hanya sebagian hal dari dunia nyata yang bisa dia tanggapi, seperti panggilan Alfred, sentuhan sesaat, dan musik yang Alfred putarkan di mobil.
Mereka tiba kembali di hotel ketika senja sudah menidurkan matahari dan membangunkan bintang-bintang. Alfred menanggalkan makan malam sebagai bagian dari keperluan. Natalya adalah masalah utamanya, dan itu membuatnya tidak mau peduli pada barang-barang mereka yang berantakan di sudut kamar.
Natalya meringkuk dengan lutut ditekuk di atas tempat tidur ketika Alfred membawakan secangkir teh mint hangat untuknya. Alfred menawarkannya namun Natalya tidak mau acuh. Hanya menggeleng lemah, dan langsung melupakan benda itu begitu Alfred menaruhnya di atas meja.
"Sepertinya ... aku dikutuk."
Dahi Alfred mengerut, "Jangan berpikiran yang aneh-aneh."
"Tapi ini nyata, Alfred!" Natalya membentak dan meninjukan tangannya ke tempat tidur, lalu dia mengacak rambutnya frustasi. "Aku dikutuk. Aku dihantui. Aku benci semua ini!"
"Apa kita pulang saja? Akan kucari tiket ke California malam ini juga. Kalau perlu besok pagi kita check out."
"Tapi bagaimana kalau ..." Natalya terlihat ragu, dan Alfred bersumpah ini adalah kali pertama dia melihat Natalya menggigit kuku ibu jarinya karena panik. Natalya tak pernah tergoyahkan bahkan oleh kemarahan dan kegilaan macam apapun, tapi betapa mudah bagi hal-hal mistis untuk membuatnya kehilangan kendali dan kehilangan dirinya sendiri. "Bagaimana kalau ... kutukan itu akan terus berlanjut ... berlanjut sampai ... ke sana. Dan aku akan tetap dihantui seumur hidupku. Atau penerbangan kita ke California akan mengalami kecelakaan dan—"
"Berhenti," Alfred memeluk Natalya. "Diam dan jangan pernah menduga hal-hal buruk. Semua dugaan itu hanyalah hasil dari pikiranmu yang panik. Orang-orang panik cenderung menduga hal negatif, Nat, maka redakan dulu ketakutanmu."
"Omong kosong, Alfred! Itu semua bukan dugaan. Itu semua adalah kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja! Mereka semua ada, mereka semua mengintaiku, mereka semua ingin membunuhku!"
"Diam."
"Jangan berani memerintahku. Kau tidak tahu apa-apa di sini. Kau tidak mengerti penderitaanku jadi jangan menilaiku sedang panik hanya karena halusinasi dan kelelahan. Jangan sok tahu."
"Aku mengerti."
"Jangan berlagak tahu semuanya. Kau tidak tahu sebeerapa sakit dan menderitanya aku karena hal ini."
"Aku tahu, Arlovskaya."
Tidak peka terhadap sinyal yang terbaca lewat cara bicara Alfred, Natalya terus saja menghakimi, "Aku dikutuk dan kau cuma bisa mengatai kalau aku capek dan berkhayal dan—"
"Aku tidak menuduhmu berkhayal."
"Kau melakukannya—"
Alfred membungkam dengan satu kalimat tajam, "Besok kita tidak akan pulang."
"Kau gila?!" Natalya menyaringkan suaranya. "Kau ingin aku lebih menderita lagi di sini?!" dia mundur dan turun dari tempat tidur, sambil menunjuk Alfred dia menunjukkan kekejaman wajahnya.
"Kau sendiri yang berkata bahwa dengan pulang ke California pun tetap membuatmu dihantui. Kau sendiri yang menyatakannya," biru mata Alfred menggelap, berbayangan di dalam, dengan mudah dia mengembalikan Natalya ke tempat tidur. "Diam dan dengarkan kata-kataku."
"Lep—askan!" Natalya berontak.
Alfred menahan tubuh Natalya menggunakan lengan yang ditekan ke tulang selangka Natalya, "Jangan kira aku tidak mengerti. Aku peduli padamu lebih dari yang hantu-hantu itu lakukan padamu. Kalau kau mengira aku diam saja karena tidak percaya, maka kau akan kubawa ke neraka di masa depan sana untuk memperlihatkan dirimu yang terbakar oleh prasangka burukmu."
Natalya terdiam. Matanya beradu dengan mata Alfred. Hening, sesenyap mencekamnya malam tanpa nyawa.
"Kita akan mencari tahu sebelum kita pulang dengan mereka membuntuti mereka. Kita tidak akan pulang sebelum mengetahuinya. Jangan kira aku hanya diam tanpa memikirkan apapun."
"... Ch."
"Sebelumnya ..." mata Alfred melembut, "Ayo kita jalan-jalan! Aku ingin makan makanan khas Hawaii~"
Natalya menutup wajahnya. Gila. Suaminya ini gila. Dan dia ikut terbawa gila karenanya. Tetapi keberuntungan berpihak padanya; dengan rangkaian sikap Alfred sebelumnya sampai yang barusan, dia bisa sedikit lebih tenang dan lega. Setidaknya matanya sudah bisa lebih jernih dan pikirannya tidak lagi dipenuhi memori-memori sinting yang membuatnya merasa dikelilingi makhluk astral yang tertawa-tawa sambil menagih nyawanya.
Natalya pun mendongak dan menyadari Alfred belum beranjak sedikit pun. Dia menarik Alfred turun dengan mengalungkan tangan pada leher lelaki itu, "Jangan buat aku gila sendirian dengan ini semua."
"Kau tidak akan pernah gila sendirian," Alfred menggulung diri dan membuat Natalya berada di atas badannya. "Karena aku sudah lebih dulu gila. Gila gara-gara kau."
"Hentikan lelucon murahan itu atau akan kubuat kau merasakan rasanya jatuh dari lantai dua puluh."
Alfred tergelak lama, lalu dia pun tersenyum sambil menyapu rambut Natalya, "Ayo makan. Aku sedang bosan dengan hidangan restoran. Kudengar baru-baru ini ada pedagang makanan yang enak di sekitar Teater Signature di Dole Cannery. Mumpung belum terlalu malam, ayo pergi sekarang."
"... Hn."
"Jangan takut, oke? Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kalau ada sesuatu," Alfred pun bangkit dengan Natalya masih berada di pangkuannya, enggan dia lepaskan, "Bilang saja padaku. Kurasa aku sudah mulai mengerti kenapa semua ini terjadi padamu."
Natalya menatap Alfred, "Kau sudah tahu?"
Alfred tersenyum bangga, "Sedikit kurang yakin. Setelah makan akan kujelaskan. Karena aku benar-benar lapar."
Natalya sempat memukul Alfred ketika mereka meninggalkan tempat tidur. Alfred hanya tertawa dan tidak mau repot-repot membalasnya. Dia cuma bergumam, "Nat, kadang ada orang yang beruntung karena diperingatkan lebih dulu. Dan kau terlalu beruntung menjadi seorang wanita karena dua hal."
Wanita itu berhenti sebentar ketika memasang jaketnya—jaket berbahan jeans dengan beberapa motif bendera Amerika yang direkatkan dengan jahitan yang miring-miring; seni katanya—dan kening dia pun digoresi kerut bingung, "Apa yang kau bicarakan?"
"Bukan apa-apa. Mm, yakin mau pergi makan di malam-malam begini pakai hotpants?" Alfred menunjuk celana pendek merah tua Natalya yang belum digantinya sejak pulang dari pantai tadi.
"Tidak apa-apa. Ini bukan musim dingin."
Alfred sedang menunggukan dua cangkir minuman dingin dan satu porsi buah-buahan berkuah cokelat untuk Natalya di tepi jalan itu. Natalya berada di balik punggungnya dengan jemari yang berlompat cepat di atas layar, bergantian mengetik huruf demi huruf Sirilik untuk membalas pesan dari kakak perempuannya. Kau tidak menghubungiku sejak tiba, Nat, terlalu asyik bulan madu, ya? Memangnya kalian ke mana saja? Atau cuma di kamar dan berperang di tempat tidur sepuluh kali sehari? Dan Natalya membalas itu sambil menahan diri agar gerutuan kesal berbahasa Slavik tidak meluncur di tengah keramaian malam di tempat asing seperti ini.
Dia sudah selesai dengan pesannya; Cuma jalan-jalan, aku sering lupa mengisi baterai ponsel. Aku hanya berbagi tempat tidur dengan Alfred, tidak denganmu—jadi berhentilah ikut campur dengan urusan pribadiku, bodoh. Namun tidak dengan pesanan mereka, Natalya mulai bosan menunggu.
Alfred sedang asyik mengobrol dengan si penjual. Natalya sudah mengultimatum diri bahwa tidak mungkin dia bisa bergabung dalam topik monoton tentang ekonomi Amerika Serikat begitu. Oh, topik yang dibenci Natalya, walaupun mau tak mau dia tetap harus berurusan dengan hal tersebut di salah satu divisi kantor utama majalah yang dibawahinya.
Sekeliling dipandanginya. Teater di depan sana terlihat sangat sepi. Natalya tidak tertarik.
Hanya pada awalnya. Berikutnya, matanya tertuju lagi ke arah sana.
Ada banyak anak-anak. Kelihatannya usia prasekolah. Natalya berusaha untuk tidak memperhatikan, masih cukup trauma dengan hal-hal yang sebelumnya terjadi. Namun seperti ada gema di dalam kepalanya yang menyuruhnya mengarahkan mata ke sana lagi.
Dua anak ingin menyeberang. Natalya melirik. Dua orang itu terlalu lincah dan menyeberang sambil berlari lalu—
"... Ugh," Natalya menutup mata dengan cepat dan menyentakkan kepalanya ke arah lain. Tidak, aku tidak melihatnya. Tidak—
Natalya tetap tidak bisa menghentikan diri untuk menoleh. Dua anak tadi terkapar di jalan, penuh darah, lalu merangkak melintasi jalan sambil mengulurkan tangan ke arahnya, mata mereka sayu dan seperti menangis darah karena lelehan cairan itu menetes dari kening mereka, dan Natalya seperti bisa mendengar bisikan, "Kau melihat kami tapi kau tidak menolong ..."
Segerombol anak menghambur ke arah mereka sambil berteriak-teriak. Mereka menyeberang tanpa mempedulikan apapun, sebuah bus lewat dan—yeah, mereka tidak mendapatkan kesempatan—
—bus itu hilang kendali dan mengembalikan mereka ke tempat mereka berdiri dengan cara yang menyakitkan; menabrak semuanya sekaligus. Beberapa terhimpit di tembok, beberapa terjepit di dekat ban.
Suara tangis mulai terdengar mencekam. Mereka semua kelihatan masih hidup walau beberapa telah remuk tubuhnya. Salah satu anak berdiri dan menyeret kakinya yang bengkok, lagi-lagi menuju jalan, menuju dua anak yang masih merayap di jalan.
Di sisi lain, iring-iringan mobil melaju cepat.
"Jangan!" Natalya yang kehilangan kendalinya, dia berlari ke arah jalan dan mengulurkan tangannya.
"NAT!"
Deru mobil dan klakson berlalu begitu saja di depan wajah Natalya. Hanya beberapa inci dari kakinya adalah jalur yang dilewati mobil-mobil tersebut. Kalau bukan tangan Alfred yang menguncinya kuat-kuat, dia akan jadi korban sebenarnya.
Alfred segera menariknya kembali ke trotoar. Natalya baru sadar bahwa dialah pusat perhatian di sini, dan Alfred buru-buru membayar makanan yang mereka beli. Lalu membawa Natalya pergi dari situ.
Buah-buahan berkuah cokelat itu tinggal separuh porsi. Alfred memaksa Natalya memakannya sebelum menceritakan apa yang terjadi. Dan meski ceritanya telah selesai, Natalya kelihatannya tidak ingin menyentuh itu lagi.
"Kau sadar, tidak, semua ini berhubungan dengan satu hal?"
Mata Natalya beradu dengan sinar pandangan Alfred, "Anak-anak."
"Itu juga bisa disebut benar."
"Tapi asumsimu tidak menjelaskan satu hal. Hal di kejadian pertama. Tentang kau."
"Tapi kalau kau mendengar analisisku, mungkin kau akan mengerti bahwa memang semua hal itu berhubungan."
"Katakan."
Alfred berdiri dan meninggalkan meja makan untuk menuju jendela kaca. Jendela itu hampir setinggi tubuhnya, dan Alfred sengaja tak menutup tirainya walaupun ia juga tak bisa memandang bintang lewat sana. Langit agak kurang ramah malam ini.
"Ingat kata-kataku sebelum berangkat tadi?"
"... Apa hubungannya semua ini dengan teguran?"
"Kautahu arti pernikahan? Dari satu sisi, pernikahan bisa disebut sebagai waktu untuk mengubah sifat, lho. Tetapi—maaf-maaf saja ya, Nat—kau tidak melakukannya sampai saat ini. Dan ... yah, lihat saja. Kautahu kesalahanmu, 'kan? Aku tidak perlu menegaskan lagi karena kau adalah perempuan cerdas. Itulah mengapa aku menikahimu, bukan?" dia berdiri dengan dua tangan di dalam saku dan menghadap istrinya.
Natalya menarik kakinya untuk ditekuk di atas kursi. Dipeluknya dan lantai ditatapnya dengan sorot mata kosong. "Aku kurang suka anak-anak."
"Mungkin itu salah satu efek samping dari kau yang menjadi anak bungsu," Alfred berjalan mendekati Natalya. "Tapi aku juga tidak menyalahkan hal itu. Aku tidak menyalahkan apapun, hanya ingin kau memperbaikinya agar kau tidak menyalahkan dirimu di masa depan nanti."
Natalya diam saja.
Alfred berlutut di depan Natalya dan memegang kedua kaki wanita tersebut, "Hawaii adalah tempat yang masih punya banyak legenda yang berkaitan dengan mitologi mereka. Budaya tradisional di sini masih terasa, berbeda dengan di tempat asalmu atau tempatku. Ditambah lagi, ini adalah pulau terpencil. Kau tidak bisa memisahkan diri dari hal-hal mistis. Kurasa aku cukup mengatakan sampai di sini—kau beruntung untuk ketiga kalinya karena kau tidak memiliki suami seperti Arthur; atau kau akan diceramahinya panjang-panjang soal hal mistis begini."
Natalya memandang Alfred yang pergi meninggalkannya. Mendadak dia merasa kehilangan dan entah mengapa, dia begitu takut. Begitu takut sampai-sampai berdiri dan memanggil, "Mau ke mana?"
Alfred menoleh. "Mandi. Memangnya kenapa? Mau ikut, Cantik?" godanya dengan salah satu mata mengerjap.
Mungkin jika Natalya yang sekarang bukan Natalya yang sedang terhenyak karena baru disadarkan, dia akan menampar Alfred. Yang kali ini, dia diam saja sampai Alfred menyerah dan pergi ke kamar mandi sendiri.
Natalya memandang makanannya yang sudah tak terlihat enak lagi. "Ketiga kali ..."
"Aku benar-benar mengerti," suara itu mendekat ke pintu kamar mandi.
Alfred mematikan kran wastafel dan meletakkan sikat giginya, lalu membukakan pintu. "Sampai ke akar-akarnya?"
Natalya masuk, kimono mandinya dipasang ala kadarnya di tubuhnya yang dia peluk dengan tangannya, seakan mempertahankan diri dari rasa takut yang masih menghantui. "Ya."
"Jelaskan padaku agar aku tahu, seberapa hebat kau mengerti semuanya dan agar aku bisa mempertimbangkan apakah aku boleh lebih mencintaimu lagi setelah mendengar itu."
Alfred menerima pukulan pada lengannya namun setelah itu Natalya bersandar pada wastafel, tepat di depan Alfred dan pelan-pelan memeluknya dari depan. Sembari menyembunyikan wajahnya dari jangkauan pandangan Alfred.
"Aku benci anak-anak. Mereka berisik. Tetapi roh anak-anak di sekeliling bumi mengutukku. Mereka menggangguku dan mengatakan bahwa mereka bisa membenciku lebih daripada aku membenci mereka dengan cara mereka sendiri. Dan soal kau yang terikat di pohon ... kurasa itu adalah cara untuk menyadarkanku agar aku lebih menghargai apa yang kupunya."
"Ah, pintar sekali," Alfred menepuk punggung Natalya. "Kau pintar dan beruntung. Mm, aku juga orang yang beruntung, kalau begitu."
"Kau berkata-kata seolah kau baru saja menikahi malaikat, Alfred Fitzgerald Jones. Pada kenyataannya kau hanya memiliki seorang perempuan rendahan bermuka dingin yang tidak tahu kasih sayang. Yang membenci sekeliling dan terkutuk."
"Jangan bicara begitu. Kau bagus dan nyaris sempurna dengan caramu sendiri. Aku tidak perlu perempuan yang sempurna saat aku juga tidak sempurna. Jadi aku dan dia bisa saling melengkapi. Juga mengingatkan, ya 'kan, Manis?"
"... Diamlah."
"Oh, aku ingin menceritakan beberapa hal," Alfred menarik Natalya menuju sisi lain dinding dan bersandar di sana, dengan tangan yang mengayun-ayunkan Natalya pelan di hadapannya.
"Tentang pengalamanku?"
Alfred mengangguk. "Kejadian pertama memang pernah terjadi dulu. Persis seperti yang kaualami. Itu cerita yang pernah dimuat di internet tentang legenda misteri Hawaii."
"Yang kedua?"
"State Capitol? Penampakan ratu memang pernah terlihat di sana."
"... Ratu?"
"Ratu Lili'uokalani. Ratu pertama dan terakhir Hawaii. Dan kau beruntung karena ratunya langsunglah yang memberimu pelajaran," Alfred menahan senyumnya.
Natalya mengabaikan nada setengah mengejek Alfred, "Dan yang ketiga? Keempat?"
"Pemakaman di Manoa itu memang misterius. Dulu pernah terdengar suara tangisan anak-anak kecil yang dikuburkan di sana karena tidak ada yang memperhatikan makam mereka. Dan di Dole Cannery ... katanya pernah menjadi tempat kecelakaan bus yang membunuh sekelompok anak-anak sekolah di tahun delapan puluhan."
Natalya mengeratkan pelukannya dan itu membuat tali kimononya terlepas perlahan. Alfred tertawa lalu mengangkat wajah Natalya pada bagian dagu, "Mmm, sekarang bolehkah aku meminta hadiah atas bantuanku menyadarkanmu? Di sini juga tidak apa-apa. Aku suka tempat dingin."
Mata Natalya menatapnya liar. Dia lalu mundur dan sambil memicingkan mata, mencermati dari atas hingga bawah diri Alfred. Seringai kecil pada bibir tipisnya muncul, "As you wish, Sir," dia lalu menyudutkan Alfred ke dinding. Salah satu tangannya naik ke pipi Alfred, menyusurinya dan menangkup wajah Alfred sambil mencium bibirnya, dan tangan yang lain kian turun ke bawah.
Alfred, tentu saja sebagai lelaki muda yang penuh semangat, menyambut dengan senang hati dan merayapkan tangannya di punggung Natalya, mengangkat wanita itu perlahan untuk merapatkannya pada tubuhnya. Natalya mengalungkan kakinya di tubuh Alfred bagian tengah.
Bibir Alfren turun dengan cepat ke leher dan kimono mandi Natalya mulai luruh dari pundaknya, sisi demi sisi. Alfred menarik tali pengikat yang dari awal sudah melonggar di pinggang Natalya, dan melempar kain itu sembarangan. Jarak sudah tidak ada, dan kamar mandi itu mulai menghangat. Alfred membaringkan Natalya dengan lembut di lantai yang lembab. Natalya membalas, dengan tangkas dia lepas apa yang tersisa di tubuh Alfred yang menghalangi gerakannya.
Lalu mereka lupa bahwa tempat itu adalah kamar mandi, dan bukan tempat tidur yang nyaman. Tetapi, siapalah yang ingat posisi ketika mereka sudah puas dengan kontak satu sama lain, dan keberadaan yang nyata dan bisa disentuh di hadapan mereka?
Alfred terbangun pada pagi harinya (yang ketiga kali, setelah sebelumnya terbangun di lantai kamar mandi yang dingin dengan tubuh Natalya yang menggulung di bawah dadanya, lalu di jam tiga pagi karena kelaparan—salahkan banyak hal yang membuatnya lupa makan tadi malam), sendirian.
Natalya sudah bangun dan mandi, dan telah berpakaian rapi. Alfred beringsut bangun dan duduk di tempat tidur, memandangi Natalya yang sedang bercermin memastikan bahwa kemeja musim panas kotak-kotak merah-putih dan celana jeans selutut itu pas untuknya.
"Jangan bilang mau pulang hari ini."
"Kalau kau terus-terusan bertanya, kau akan kutinggal."
"Heeei, apa kita punya rencana hari ini? Kurasa kita hanya akan pergi berkeliling. Itu bisa dilakukan dua jam lagi. Aku mengantuk, Nat."
"Kalau begitu, aku sendirian saja," Natalya melihat ke arahnya lewat cermin.
"Apa yang ingin kau lakukan? Tidak takut?"
"Tidak. Karena yang kulakukan adalah untuk menghapus kutukan itu."
Satu tas permen sudah hampir habis. Natalya tidak jarang tersenyum kecil ketika salah satu anak yang menerimanya melonjak gembira karena lolipop besar diberikan gratis untuknya.
Dan Alfred hanya memperhatikan dari ujung taman—Natalya menolak untuk dibantu olehnya—dengan bangga.
That's my woman.
Tidak pernah Alfred saksikan, sepanjang waktunya mengenal Natalya, wanita itu tersenyum sesering ini dalam satu hari.
Satu orang anak duduk sendirian di bangku bandara membuat Natalya mau tak mau datang mendekat ke arahnya, mengabaikan bangku pilihan Alfred.
Bagaimanapun, dia tetaplah Natalya. Dia tidak bisa langsung mulai bicara dan suasana kikuk sempat terjadi bahkan ketika dia dan anak itu duduk bersebelahan. Alfred duduk di sampingnya dan cuma tersenyum, sengaja mematung tanpa membantu hanya karena dia ingin melihat bagaimana Natalya memulai pembicaraan.
"Sendirian?"
Alfred melirik.
Anak lelaki itu mendongak, lalu tersenyum kikuk.
"Ibumu mana?"
"Aku tidak punya ibu lagi."
Tangan Natalya terangkat pelan menutup mulutnya, lalu dia bergumam, "Maaf ..."
"Tidak apa-apa~"
Natalya membuka tasnya mencari-cari sesuatu. Ada beberapa makanan kecil yang dibawanya untuk cemilan di pesawat, tetapi dia mengalah. Dia mengambil segenggam permen dan mengeluarkannya, "Untukmu."
"Ah? Benarkah? Terima kasih, Kak!" dia memeluk semua permen itu dan tersenyum kegirangan.
"Kau dengan siapa ke sini?" karena kemungkinan seorang anak masuk sendirian ke ruang tunggu bandara adalah nihil.
"Dengan bibiku. Dia sedang sibuk bicara dengan teman-temannya."
"Ah, baiklah."
"Aku akan cerita pada Bibi soal Kakak yang baik. Dah, Kak!" dia melompat turun dan dengan langkah seribu kecilnya dia melintasi ruang ramai ini untuk mencapai bibinya yang jauh di ujung sana.
"Boleh kubilang aku bangga?" Alfred melingkarkan tangan di pundaknya.
"Terserah padamu, Mata Empat."
"Ohooo~ masih Natalya yang biasa, rupanya."
Hening sebentar, "Alfred," bisik Natalya. "Kurasa aku akan memaafkanmu kalau kau ceroboh dalam waktu dekat."
"Heh?" salah satu alis Alfred meninggi, "Ceroboh apa?"
"Ceroboh mengamankan dirimu," dan dia mendekatkan bibir pada telinga Alfred, meminimalisir kemungkinan ada yang mencuri dengar, "Kau tidak mengecek bak sampah hotel tadi pagi? Aku membuat pil pengontrol kehamilanku di sana."
Sejenak, Alfred mencernanya, dan di detik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak sampai beberapa orang memandanginya seolah dia seorang pasien rumah sakit jiwa yang harus diasingkan segera. Dia masih tertawa bahkan ketika Natalya—yang tersipu—menampar lengannya. Dia malah makin merapatkan wanita itu pada dirinya, "Baguslah. Aku suka caramu."
"Aku akan melakukannya," sanggah Natalya. "Dengan satu pengecualian."
"Aduh, terlalu banyak syarat—"
"Beritahu aku soal aku yang beruntung sebanyak tiga kali. Satu, aku mengerti itu; aku diberi peringatan di waktu yang cepat agar aku tidak lebih menyesal. Dua; aku tidak memiliki suami seperti Arthur—walaupun yang ini juga cukup menyebalkan dan tidak bisa dikendalikan hanya dengan pukulan. Lalu yang ketiga?"
Alfred tersenyum sesudah diam sebentar untuk mencoba mengingat-ingat. "Yang terakhir? Kau beruntung karena kau punya aku, babe."
Dan, hadiah untuk Alfred adalah cubitan keras pada pipi.
"Hahahaha, ternyata, secerdas apapun kau di mataku, kau tetap lamban di hal-hal tertentu, Nat," Alfred merangkul Natalya lagi dan mencium pipinya. "Terima kasih sudah menjadi lelucon yang menyenangkan pagi ini. Dan terima kasih untuk lima harinya di Hawaii. Ini bulan madu yang benar-benar berharga, 'kan? Aku menantikan hal-hal lain yang menarik di kehidupan kita yang akan datang di California. Baik yang menyenangkan atau tidak."
Natalya tidak berontak kali ini, alih-alih, dia tersenyum tipis. "Ya."
Natalya tidak dipertemukan pada kilat atau langit yang mendung bahkan sejak dia memasuki pesawat. Langit cerah musim panas, awan yang empuk, dan laut biru menemani perjalanan pulangnya ke California. Dan dia tertidur nyenyak di bahu Alfred selama penerbangan.
Alfred tidak menyesali apapun dari perjalanan itu, dan Natalya siap menerima banyak hal menarik dari hal-hal yang siap diubahnya mulai dari sekarang.
end.
A/N: tahu dari mana asal kata 'Honeyween'? Yap, Honeymoon + Halloween. Honeymoon = simbolisasi sesuatu yang manis; Halloween = sesuatu yang menyeramkan. got it? okay, thank you for reading and supporting! xoxo
