Ia berlari-lari pelan ke arah taman kota di mana ada banyak orang yang biasanya juga melakukan olahraga pagi. Celana training hitam dengan sweater kedodoran bertudung milik Kiba menjadi pakaian pilihannya saat itu. Ia berlari mengelilingi taman kota sebanyak tiga putaran sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dan dilanjutkan berbaring terentang. Peluh membasahi wajahnya yang berwarna kecoklatan. Rambut pirangnya pun menjadi lepek karenanya. Tetapi ia tidak peduli. Sedikitpun tidak.
Mimpinya tadi masih menguasai pikirannya. Mimpi yang kembali hadir memenuhi hampir setiap malamnya selama hampir setahun belakangan ini. Mimpi tentang seorang gadis yang tak pernah bicara padanya. Ia hanya muncul dan tersenyum, lalu menghilang. Membuatnya sangat membenci gadis itu. Belum lagi masalah kedua orangtuanya. Benar-benar memuakkan!
Sentuhan di kakinya membuatnya tersadar. Ia segera bangun dan mendapati dua bocah berusia sekitar 5 tahun tengah memungut bola yang tadi menabrak kakinya. Kedua bocah itu tersenyum dan mengucapkan maaf padanya. "Tidak apa-apa," ujarnya pada kedua bocah itu.
"Eh? Perempuan ternyata." Bocah berambut merah pendek dengan tahi lalat di wajahnya menyahut secara spontan setelah mendengar suara Naruto.
"Ama-kun tidak sopan bicara begitu." Tegur bocah satunya lagi yang ternyata perempuan. "Terima kasih, bibi."
Sikap polos kedua bocah kecil itu perlahan membuatnya tersenyum. "Kalian sendirian?" tanyanya sambil memasangkan kembali tudung kepalanya.
"Tidak, bi. Kami bersama Chichiue, tapi dia masih lari."
"Oh. Ibu kalian tidak ikut?"
Gadis kecil itu kemudian menunduk setelah mendengar pertanyaan Naruto. Raut wajahnya tampak sangat sedih. Melihat wajah saudaranya menjadi sedih, si bocah lelaki langsung merangkulnya dan menatap Naruto dengan sikap melindungi adiknya. Meskipun dalam pandangan Naruto, ia tampak seperti menahan tangis. "Haha sudah meninggal."
Naruto langsung menyesali pertanyaannya. "Maaf."
Bocah lelaki itu menggeleng. "Tidak apa. Haha sudah bahagia di surga."
"Amaru, Karura, apa yang kalian lakukan?"
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Naruto langsung tidak nyaman. Entah di mana, ia merasa pernah mendengar suara bernada datar itu. "Maaf, mungkin kedua anakku sudah mengganggu anda."
"Chichiue, kami tidak mengganggu bibi ini, kok. Iya kan,bi?" Si sulung Amaru berbicara sembari meminta pembenaran pada Naruto.
"Ah, ya. Maaf saya harus pergi." Ucap Naruto terburu-buru dan langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu secepatnya. "Tunggu." Ayah Karura dan Amaru tanpa sadar langsung menahan lengan Naruto. Namun pegangannya pada tangan itu langsung disentakkan Naruto hingga terlepas. Ia berbalik sejenak untuk menatap pria yang menahan lengannya, suatu keputusan yang ia sesali.
Mata hijau, rambut merah, dan … tato di kening. Rasa takut langsung menguasai sekujur tubuh Naruto. Ia pun segera lari meninggalkan tempat itu, tak peduli tatapan aneh orang-orang yang melihatnya.
Sementara Gaara yang masih merasa tidak percaya pada apa yang dilihatnya hanya diam mematung. Meski hanya sekilas, ia yakin, yang ia lihat adalah sosok yang sangat ia kenali. Sosok yang seharusnya tidak lagi berada di dunia ini.
"Chichiue?"
Naruto by Masashi Kishimoto
The Happiness For You by Kyra De Riddick
Chapter 1
Trouble
Dengan napas tersengal-sengal ia melangkah memasuki rumahnya. Berjalan tanpa fokus yang jelas, ia tak menyadari kehadiran orang lain di ruangan yang baru saja ia lewati hingga,
"Naruto, dari mana saja kau? Pagi-pagi sudah menghilang."
Suaranya tegas dan lembut di saat yang bersamaan. Suara yang begitu indah bagi telinga setiap anak yang mendengarnya. Tapi tidak dengannya, Naruto. Ia berbalik, menatap sekilas pada wanita anggun berambut merah yang sedang menikmati sarapan paginya dengan elegan.
Tanpa ada keinginan untuk menyapa ia melewati sang ibu, mengambil segelas air putih dan meneguknya cepat.
"Semalam jam berapa kau pulang?" suara lembut itu bertanya lagi. Dirasakannya pandangan dari mata hijau itu menyentuhnya.
"Entah. Aku tidak lihat jam." Dia menjawab dengan cuek. Meski tahu ia tak sopan, tetap saja ia melakukannya.
"Lihat dirimu Naruto," ucap sang ibu lagi. Masih dengan nada tenangnya. "Apa kau tidak bisa mencontoh kakakmu? Dia orang yang sangat baik. Menghormati orang lain. Tahu sopan santun. Sedangkan kau?"
Ia meletakkan gelasnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi keras. Menantang tatapan ibunya yang ditujukan pada dirinya, berujar sedingin mungkin. "Lebih tidak sopan membandingkan orang lain, HAHA."
Ia segera melangkah pergi usai menyelesaikan ucapannya. Tak peduli pada perasaan sang ibu yang mungkin saja terluka. Toh, pikirnya, ia sudah lebih dulu dilukai oleh sang ibu dengan sikapnya selama ini.
Ia segera mandi dan pergi ke kampus meskipun ia kuliah siang. Baginya, rumah yang ia tinggali kini hanyalah sekedar tempat untuk beristirahat saja. Bukan rumah untuk perlindungan diri.
Di kampus, ia langsung menuju 'Taman Hijau'. Taman Hijau atau Green Park adalah taman seluas 300 meter yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk beristirahat. Mereka terkadang belajar berkelompok di tempat itu. Atau sekedar berleha-leha dari kepenatan kampus. Tempat ini adalah favorit Naruto bersama geng kecilnya. Shino dan Kiba.
"Yo!" Kiba menyapanya sambil melambaikan tangan. Naruto hanya mengangguk kecil dan langsung mengambil posisi berbaring. Shino masih setia dengan bukunya.
"Jadi, apa kabarnya Mr. EX-dosen kita?" Tanya Kiba. "Dia masih mengejarmu?"
"Che," decih Naruto tanpa jawaban.
Kiba tertawa mendengarnya sampai-sampai Shino memukul kepalanya dengan buku.
"Diamlah Inukai!" desis Naruto.
"Kau tidak sopan, Kitty."
"Kau mau mati hah?"
"Maaf, maaf…" Ucap Kiba yang tahu mood Naruto sedang buruk. "Kau tahu? Ada untungnya Uchiha-san selalu mengikutimu. Kau bisa ke kampus dengan wajah yang lebih cantik."
"Sialan kau!"
Naruto memejamkan matanya. Menikmati aroma rumput segar dengan angin semilir yang membuatnya merasa ngantuk. Dengan segera ia terlelap. Melupakan sedikit beban hidupnya dalam tidur yang lelap.
"Dasar anak ini," ucap Kiba beberapa menit kemudian. "Cepat sekali dia tidur."
Mendengar ucapan Kiba, Shino menarik diri dari bukunya. Ditatapnya Naruto yang tertidur sambil menutupi wajahnya dengan lengan kirinya. Lalu ia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar jaket tipis dan menutupi sebagian tubuh mungil yang penuh memar itu.
"Kau masih menyukainya, ya, Shino?" Tanya Kiba kemudian.
"Entahlah." Shino menjawab cuek. "'Dia' dan yang ini berbeda tapi juga sama."
"Maksudmu?" Tanya Kiba yang kurang paham dengan gaya bicara Shino.
Shino kembali merogoh tasnya. Mengambil agenda tebal yang selalu ia bawa. Lalu mengeluarkan selembar foto dan menunjukkannya pada Kiba. "Dua gadis yang kesepian, menutupinya dengan cara yang berbeda."
Kiba mengamati foto yang ditunjukkan Shino padanya. Lalu ia berpindah memperhatikan wajah Naruto yang tertidur. "Mereka memang mirip sekali, ya?" "Komentarnya. "Apa menurutmu dia ini bukan Naruto yang 'itu'?"
Shino menggeleng pelan. "Aku sudah bilang mereka berbeda. Lagi pula, Uchiha-san tidak mungkin mengejar-ngejarnya sampai begitu kalau memang dia ini Naruto yang 'itu'. Mereka kan sudah saling kenal."
"Haah~ dunia ini memang penuh misteri."
"Lho, Amaru, Karura, Kenapa kalian di sini?" sapa Sakura pada dua bocah kembar yang sedang duduk di tangga apartemen mereka. Kedua bocah itu tampak cemberut dengan tangan yang memangku dagu.
"Chichiue terlambat pulang. Padahal dia janji akan membawa kita jalan-jalan," Amaru berkomentar dengan wajah cemberut.
Sakura tersenyum simpul. "Mau jalan-jalan dengan bibi tidak?" tanyanya. Kedua bocah itu tampaklangsung hanya beberapa detik. "Tapi kami mau Chichiue."
Senyum simpul di bibir Sakura menghilang. Tergantikan ekspresi iba terhadap dua bocah kecil yang haus akan kasih sayang ini. "Bagaimana kalau nanti kita telepon Chichiue dan memintanya menyusul kita nanti?"
"Eh?" kedua bocah kembar itu berujar bersamaan. "Mau!"
Dengan segera Sakura menawarkan tangannya pada mereka yang langsung disambut dengan antusias. Dengan perlahan mereka menuruni tangga menuju mobil. Dan langsung berangkat begitu mereka sudah duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman terpasang dengan benar dan janji untuk tenang selama di dalam mobil.
Si kecil Karura terus bersenandung tidak jelas. Sementara Amaru yang jahil mengusiknya dengan menarik-narik rambut merah Karura yang sampai di punggungnya. Awalnya Karura tidak mempedulikan, namun karena Amaru terus iseng lama-lama ia jadi kesal dan akhirnya menangis.
Sakura segera menghentikan mobilnya. Membuat ekspresi wajah marah di depan Amaru dan membujuk Karura agar berhenti menangis. "Amaru-kun, cepat minta maaf pada Karura-chan. Bukankah tadi kalian janji untuk tenang, hm?"
Dengan sedikit ogah-ogahan Amaru meminta maaf. Dan Karura yang pada dasarnya sangat baik pun memaafkannya.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini jauh lebih tenang. Hingga pertanyaan Amaru mengejutkan Sakura. "Bibi kenal dengan haha?"
Sakura yang terkejut sempat menginjak rem kedua bocah di belakangnya mengaduh kesakitan. Setelah meminta maaf dan ditanya kembali oleh Amaru, Sakura tak punya pilihan lain selain menjawab.
Senyum sedih terukir di wajahnya saat ingin bercerita tentang mending ibu kedua bocah ini. "Ibu kalian seperti malaikat," ucapnya memulai. "Matanya biru seperti lautan, dengan rambut pirang cerah seperti emas yang murni. Sifatnya pun seperti malaikat. Dia orang yang sangat baik."
"Ne, jadi haha seorang malaikat?" Tanya Karura dengan polosnya.
Sakura mengangguk. "Dia sangat sabar. Baik, gigih, dia orang yang sangat baik."
"Jadi aku tidak seperti ibu karena aku nakal, ya?" si kecil Amaru tiba-tiba cemberut.
Sakura tertawa. Menggeleng pelan sebelum menjawab,"Ibumu juga sangat suka bercanda seperti tadi. Apalagi dengan Sasuke."
"Dengan tousan?"
Sakura mengangguk. "Iya. Mereka kalau bercanda sangat seru. Ayah kalian sampai pusing lho. Hehehehe…"
Aku tidak bohong, kan, Naruto?
"Gaara."
"Ada apa? Perutmu sakit?"
Perempuan berpostur mungil sesuai usianya itu menggeleng. Tangannya dengan setia mengelus perutnya yang mulai menunjukkan diri. "Sepertinya aku mengidam," ucapnya dengan senyum malu-malu.
Gaara tersenyum. Diusapnya rambut pirang istrinya dengan penuh sayang. "Kau ingin apa?"
"Aku ingin makan ramen."
Gaara menggeleng tanpa menarik tangannya yang masih mengelus kepala istrinya. "Jangan gunakan anak kita untuk mendapat izin makan makanan tidak sehat itu."
Naruto menarik kepalanya yang dielus Gaara. Mulutnya mengerucut dan pipinya menggembung. "Tapi aku ingin makan ramen!"
Tidak tahan melihat wajah memelas istrinya yang sudah merindukan makanan favoritnya itu, Gaara akhirnya menyerah. "Baiklah," ucapnya. Senyumnya mengembang saat mendapati ekspresi wajah istrinya menjadi riang. Khas anak kecil. "Tapi dengan satu syarat."
"Mo?"
Kini ia tidak dapat menahan tawanya saat melihat ekspresi bingung Naruto. "Kau harus menghabiskan susumu dulu." Gaara menunjuk susu khusus ibu hamil yang belum tersentuh di atas meja.
"Huweeee… Susunya tidak enak, Gaara. Susu biasa saja, ya?" Naruto berusaha mengajukan tawaran. Namun suaminya itu sudah kekeuh. "Minum atau tidak ada ramen."
"Ukh!" dengan berat hati, Gaara bisa melihatnya dengan sangat jelas, langkah yang dulunya selalu sangat lebar itu kini melangkah dengan hati-hati. Seolah takut dua jiwa kecil dalam tubuhnya akan rusak. Diminumnya segelas besar susu yang dibuat Gaara dengan susah payah. Bahkan Gaara bisa melihat ekspresi mual di wajah istrinya.
Belum sempat istrinya menuju tempat cuci piring untuk memuntahkan apa yang ada di dalam tubuhnya, Gaara sudah menangkap istrinya terlebih dahulu. Tanpa menantikan protes, diraupnya bibir istrinya dalam satu ciuman lembut.
"Gaara."
Tubuh itu tersentak. Keringat dingin menghiasi wajahnya. Segera ia raih gelas berisi air putih yang selalu tersedia di atas mejanya. Dihabiskannya dalam sekali minum.
Setelah menghapus jejak keringat di wajahnya, diraihnya ponselnya yang tergeletak tanpa perhatian di atas meja. Memeriksa apakah ada panggilan atau pesan masuk untuk dirinya.
Satu pesan dan satu panggilan tak terjawab. H. Sakura.
"Gaara, anak-anak ada bersamaku. Kami menunggumu di Konoha Kids Center."
Setelah menerima pesan tersebut, ia segera membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk menjemput kedua buah hatinya. Ia meninggalkan ruangannya setelah membereskan penampilannya.
"Kau mau ke tempat Amaru dan Karura?"
"Ya," Gaara menjawab sekedarnya sambil membukakan pintu untuk Sasuke dari dalam mobil. Sahabatnya ikut masuk dan mengambil posisi nyaman lalu memutar lagu. Kebiasaan lama yang tidak juga berubah.
"Bagaimana hasil rapat dengan pihak Hoshi corp?"
"Hm, biasa saja. Mereka ingin mempersulit kita, tapi presentasi dari pihak kita tidak terbantahkan."
"Baguslah." Ucap Sasuke sembari menurunkan sandaran kursinya. Bersiap untuk tidur sepanjang perjalanan.
"Akhir-akhir ini kau sering menghilang dari kantor," ucap Gaara. "Itachi-san mencarimu."
"Ada sedikit urusan."
Gaara tersenyum kecil mendengar alasan ambigu itu. "Kalau hanya 'sedikit' urusan kau tidak akan mengkonsumsi kopi lebih banyak di kantor, apalagi dengan takaran gula yang dikurangi, Sasuke."
"Che, kau selalu saja memperhatikanku rupanya. Aku tidak berminat menjadi 'ibu' mereka." Sasuke menyahut tanpa membuka mata.
"Tenang saja, aku juga tidak ingin dikutuk Naruto."
Mata hitam Sasuke langsung menunjukkan kepekatannya. Matanya menerawang saat ia teringat pada bayangan seorang gadis berambut pirang yang menjadi alasan utamanya sering mengantuk di kantor.
Gadis yang selalu ia awasi setiap malam selama beberapa bulan terakhir. Uzumaki Naruto.
"Hei, Uchiha, apa kau ingin membuat rekor baru dengan tidur tanpa memejamkan mata?"
Sasuke yang kaget refleks mengusap wajahnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya mengawasi seorang mahasiswa."
Gaara memelankan laju mobilnya. Ditatapnya Sasuke dengan heran. "Aku tidak menanyakan hal itu."
"Eh?"
"Tadi aku bilang, aku bertemu dengan seseorang yang mirip Naruto. Tapi hanya sekilas."
Sasuke menatap Gaara tajam. Kali ini dengan aura menantang. "Kalau kau bertemu dengan gadis yang mirip dengannya kau akan mendekati gadis itu dan menjadikannya pengganti?"
Gaara tidak mengerti dengan perubahan sikap Sasuke yang tiba-tiba ini. Tapi ia tahu dengan jelas pertanyaan Sasuke. Dan ia juga sudah punya jawaban yang jelas. "Tentu saja tidak."
Dirasakannya aura Sasuke melembut. "Kau sendiri yang bilang saat itu, Naruto bukan pengganti Sakura. Dalam hal ini juga sama. Siapapun dia, dia bukan pengganti Naruto. "Terlebih lagi bersama Naruto aku telah belajar satu hal," Gaara mengambil jeda sejenak. "Keberadaan seseorang tidak bisa digantikan oleh siapapun."
"…."
"Dan terkhusus olehku, dia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Karena dia telah meninggalkan harta paling berharga untukku. Amaru dan Karura."
"Yay! Aku menang!"
Suara riang si gadis berambut pirang menyaingi dentuman musik yang memenuhi setiap sudut di game center yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut. Senyum sumringahnya tampak puas melihat wajah kesal seorang pemuda berambut coklat yang masih merupakan sahabatnya sementara seorang sahabatnya yang lain hanya diam memperhatikan.
Kiba, si pemuda berambut coklat, dengan wajah tertekuk mengakui kehebatan Naruto, si gadis berambut pirang, dalam adu balap motor yang baru saja dimainkannya. Diteguknya cola yang tersisa hingga habis lalu mengambil tempat di sebelah Shino yang sejak tadi hanya diam.
"Shino, it's your turn!" seru gadis itu lagi.
Shino, tanpa melepas kaca matanya, maju untuk meladeni tantangan Naruto. Ia tersenyum penuh kemenangan seolah sudah tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dan ia memang tahu.
_ooOOoOOoo_
Kyra Yume
_ooOOoOOoo_
Naruto masih cemberut saat makanan yang ia pesan tiba di hadapannya. Sementara Kiba tertawa puas dan Shino dengan tenang mulai menikmati makan sorenya.
Naruto jelas kesal bukan kesal tanpa alasan. Tadinya, setelah mengalahkan Kiba, ia masih bergembira ria dengan kemenangan yang ia genggam di tangan. Namun setelah Shino meladeni tantangannya, secara perlahan senyum di bibirnya pupus dan tgaris bibirnya akhirnya turun ke bawah sapai sekarang.
Singkatnya, Shino mengalahkannya bahkan setelah empat kali bertanding!
Dengan gemas Naruto menyantap hamburgernya. Saus yang ia tambahkan sebelumnya pun muncrat di sana-sini. Membuat Kiba memprotesnya dengan ejekan.
"Makanmu berantakan sekali, baka!"
Naruto mendelik. Ditelannya dengan paksa makanan yang ada di dalam mulutnya, lalu berujar, "Aku tidak sudi dikatai bodoh oleh orang bodoh!"
"Sialan kau, kitty!"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, brengsek!"
"Kalian berdua sama berantakannya, bodoh!"
Singgg!
Kedua remaja berbeda kelamin ini langsung terdiam mendengar ucapan Shino yang tanpa tedeng aling-aling dan tidak dapat dibantah itu. Kalau Naruto makan dengan saus yang muncrat-muncrat, maka Kiba tidak jauh berbeda. Saus spaghetti yang dimakannya menempel di sekitar mulutnya dengan warna saus yang khas.
Mereka saling menatap, lalu,
Tawa pecah di antara mereka berdua. Dengan sesekali hinaan terlontar di sela-sela tawa yang pecah itu. Sementara Shino, yang focus matanya terhenti hanya pada satu objek yang sedang tertawa, hanya tersenyum kecil.
'Syukurlah matahari kini bersinar lagi.'
Suara gerutuan dan makian terabaikan oleh ketiga manusia yang sedang sibuk kejar-kejaran ini. Tak peduli pada rasa sakit saat mereka terjatuh di lantai yang licin atau ketika tubuh mereka bertabrakan dengan tubuh orang lain. Mereka hanya terus berlari dengan tawa yang pecah, bahagia.
"Kiba!"
Suara gadis yang berada di urutan kedua dalam lomba lari memanggil sang juara pertama. "Kembalikan jaket itu, sialan!"
Yang dikejar tidak mau berhenti. Ia hanya berbalik, dan berkata, "Ini jaketku, kitty! Kalau mau beli saja sendiri, bodoh!"
Di belakang dua orang bodoh itu, Shino berlari dengan hati-hati sambil berulang kali mengucapkan maaf pada orang-orang yang ia lewati. Berteman dengan dua manusia berisik itu membuatnya lebih banyak bicara (untuk meminta maaf akibat perbuatan kedua 'anak kecil' yang sedang ia kejar).
Kiba masih berlari mundur sampai ia tanpa sadar menabrak seseorang hingga ia terjatuh. Naruto, yang masih berlari sekuat tenanga, tidak sempat mengerem langkahnya sehingga ia ikut menindih Kiba.
'Bodoh," Shino membatin kembali lalu segera menyusul para 'bocah'.
"Aduh, maaf!" Kiba masih dalam posisi ditindih Naruto saat mengucapka hal itu. "Anak kucing, kau berat!"
Naruto sendiri masih mengaduh dan berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah kepalanya sempat beradu dengan Kiba 'walau sedetik tapi sakit' itu.
"HAHA!"
Suasana langsung senyap bagi Naruto yang dipeluk tiba-tiba.
TBC
authornya gak semangat gara2 reviews pendek...
Naru3: Yups ada Naruto yang lain. Tapi belum dijelaskan dalam chap ini…. ^^v
: errrmm…. Lama kah?
Uchiha ChucHan clyne: Hehehehehe, jawabannya belum ada! *digaplok* maaf…..
NanaMithRee: ^/^a aduh,,,,, jangan gitu ah… malu deh dipuji….. *pukul bahu Nana kuat2*
Superol: Mari kita meraba-meraba! *plakk*
Kazuki NightFlame47: Mau fav? Boleh banget! Aduh senangnya ada yang mau fav fic ini…. ^^a
Icha22madhen: Saya aja frustasi gak bias lanjutin fic ini cepat2 gara2 tugas kuliah yang begitu banyak…. *jawaban tidak nyambung!*
Ashahi Kagari-kun: ermmmmm anak saya? *digorok Naruto* gak sudi gue jadi anak loe!
Natsume Yuka: Amin! Terima kasih do'anya. Do;akan saya sehat selalu ya?
Aizawa Shiron: sama aja kok… kapasitas otak saya juga nggak mencukupi untuk mikirn lanjutan fic ini… udah penuh ama tugas… T.T
Vii No Kitsune: T.T maaf nak, mamamu lagi sibuk kuliah…..
Shiho Nakahara: Gaara ada kok. Sakura juga ada. Tapi tentang Naruto, rahasiaaaaaa….. gomen ne? *dikubur*
Shia Naru: Kayaknya masalahnya udah dikit dimunculin di sini. Yang jelas nggak mungkin saya bikin cerita dengan alur yang sama…. (mungkin). Hehehe ^^
Meg-chan: ini lama ya? O.O?
