Title : Lovalievable chapt 2
Author : Ineztiar
Genre : Romance, friendship, drama
Rate : T
Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Hyuuga Hinata, Tenten
Hari ini tepat seminggu setelah pesta kedatangan sahabat Sakura, dia merasa senang karena akhirnya mereka bisa bersikap seperti biasa meskipun sudah berpisah selama 6 tahun. Selama seminggu ini Sakura sering menghabiskan waktunya dengannya jika sedang tidak bekerja dan menceritakan kejadian yang sahabatnya lewatkan selama 6 tahun ini. Sahabatnya merasa bersalah padanya karena tidak pernah menghubungi Sakura selama ini, dia juga berkali-kali meminta maaf pada Sakura karena menjadi sahabat yang buruk dan mengecewakan. Sakura hanya bisa meyakinkan sahabatnya bahwa putusnya komunikasi mereka selama 6 tahun ini adalah salah kedua belah pihak, karena Sakura juga tidak pernah menghubunginya. Akhirnya sahabatnya setuju dan mereka bersahabat lagi seperti sedia kala
Hari ini Sakura bekerja seperti biasa, pekerjaannya menumpuk dan sangat membuatnya frustasi. Pasien tak henti-hentinya datang, dan penyakit yang ditanganinya tidak pernah mudah. Sakura merasa tertekan hari ini, satu pasien yang sangat dia sayangi meninggal setelah di rawat di rumah sakit selama 2 tahun. Ya, Sakura adalah dokter dan dia bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Tokyo, 30 menit berkendara dari rumahnya. Sakura sangat menikmati pekerjaannya, menolong orang memang bukan pekerjaan mudah namun dia merasa bahagia jika bisa membuat pasien dan keluarganya bisa tersenyum bahagia kembali.
Sakura kembali menghela nafasnya, dia merasa kesepian karena salah satu pasien yang dekat dengannya, teman curhatnya, meninggal. Kondisinya tiba-tiba memburuk dan membuatnya tak sadarkan diri, penyakit leukemia yang dideritanya membuatnya tidak bisa sering keluar ruangan. Namun, semangat dan keceriaan gadis itu bisa membuat Sakura bahagia.
"Sakura-chan, kau tidak ingin makan siang bersamaku?" teman kerja Sakura, Hyuuga Hinata mengajaknya makan siang. Hinata merupakan satu-satunya teman dekat Sakura di rumah sakit. Dia adalah orang pertama yang bersedia menemani Sakura menjalani masa-masa internshipnya disana.
"Baiklah Hinata, tunggu sebentar." Sakura segera melepas stetoskop yang tersampir di bahunya, kemudian mengambil dompetnya dan meletakkannya di kantong jas putih-nya. Hinata tersenyum dan menarik lengan sakura menuju kantin rumah sakit. Sakura sudah terbiasa dengan tingkah laku Hinata yang seenaknya pada orang yang dekat dengannya, meskipun jika dia bertemu dengan orang yang tidak dikenal kepribadiannya bisa berubah 180 derajat.
Sakura segera menuju kantin rumah sakit dan memesan steak, dia segera mencari tempat kosong dan menunggu Hinata menyelesaikan pesanan makan siangnya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, Sakura terlonjak kaget dan hampir tersedak jus lemonnya.
"Oh maafkan aku, aku tidak tau kalau kau sedang melamun." Terdengar suara yang menyapanya sambil menahan tawa, Sakura hanya mendengus kesal dan menginjak kaki pria itu.
"Aww.." teriaknya sambil mengelus kakinya, dan duduk di hadapan Sakura. Pria itu menatap sakura sambil meringis kesakitan dan menampilkan tatapan khasnya, senyuman dengan sudut bibir kirinya terangkat keatas, terlihat seperti smirk ala playboy yang sedang mencari mangsa. Dengan wajah tampan, tubuh tegap dan pekerjaan mapan, wanita mana saja pasti datang kepadanya tanpa dia menunjukkan senyuman khasnya itu.
"Sakura-chan, kakimu benar-benar mematikan. Aku tidak sabar menantikan saat dimana kaki indahmu itu melakukan hal yang lebih menyenangkan." Sakura memutar bola matanya dan mendengus malas, dia sudah kebal dengan rayuan gombal direktur rumah sakitnya itu. Direktur rumah sakitnya adalah anak teman lama ayah Hinata, Sakura mengenalnya secara tidak sengaja saat menjalani internshipnya.
"Aku suka melakukan hal yang menyenangkan dengan kakiku, Direktur. Kau ingin mencoba nya lagi?" kata Sakura dengan nada sarkasme dan alis mata terangkat sebelah. Direktur itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau bahkan tidak tau apa yang bisa dilakukan kaki indahmu itu Sakura. Kau mau aku mengajarinya?" Sakura menggeleng malas sambil beranjak dari kursinya, nafsu makannya sudah hilang karena Direktur menyebalkan itu.
"Oh ayolah, kau bahkan belum memakannya. Biarkan aku menemani makan siangmu!" Sakura tetap berjalan menjauh sembari melambaikan tangannya, dia menuju ke arah Hinata yang sedang bingung memesan makanan kemudian menepuk pundaknya.
"Hinata, aku kembali ke kantor dulu." Tanpa menunggu jawabannya, Sakura langsung beranjak menuju kantornya.
"Sakura-chan, kau makin cantik kalau marah begitu. Ayolah, kau belum makan siang." Sakura mendesah frustasi sambil memijat pangkal hidungnya, dia tidak percaya dengan kegigihan Direkturnya untuk terus mengganggu hidupnya.
"Direktur, aku sudah kehilangan nafsu makanku. Dan pekerjaanku masih banyak, permisi." Sebelum Sakura beranjak jauh, tangan kanannya ditarik dari belakang dan dia diberi sebuah tas plastic yang entah berisi apa.
"Makanlah, maaf aku mengacaukan nafsu makanmu." Ucapnya dengan tatapan memohon, Sakura hanya tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantornya. Sakura tidak mengerti dengan kegigihan direkturnya yang terus mengganggunya itu, dia juga tidak merasakan tanda-tanda jika direktur tertarik padanya.
Tak berapa lama, Hinata datang dengan muka cerah dan senyum menyilaukan, Sakura hanya menggeleng dan melanjutkan melihat kasus pasien yang menumpuk di mejanya.
"Sakura-chan, tadi Direktur menanyakan kabarku! Sudah lama aku tidak melihatnya dan dia terlihat semakin tampan!" kata Hinata menggebu disertai pipinya yang sedikit memerah. Sakura hanya terkikik geli dan mengelengkan kepalanya.
Hinata memang sudah menyukai Direktur mereka sejak mereka pertama kali dikenalkan. Namun sepertinya Direktur tidak menunjukkan tanda-tanda dia mengetahui perasaan Hinata, mungkin karena Hinata sedikit pemalu di hadapan orang yang disukainya.
"Hinata, kau harus menyatakan perasaanmu padanya. Yah, sebelum dia mempunyai pacar atau ada cewek yang mendekatinya." Hinata mendesah pelan mendengar pernyataan Sakura, dia tau cepat atau lambat dia harus menyatakan perasaannya.
"Aku akan mecobanya nanti malam, mungkin saja aku mempunyai kesempatan." Sakura ikut senang mendengar pernyataan temannya, Hinata pantas mendapatkan kebahagiaannya.
"Baiklah, ceritakan hasilnya padaku nanti malam." Hinata menggeleng dan menatap Sakura dengan tatapan memohon.
"Please temani aku malam ini. Shift kita habis bersamaan, bisakah kau menungguku di depan tangga atap? Aku berencana menyatakan perasaanku di atap perusahaan." Mau tidak mau Sakura harus menyetujui permintaan Hinata, dia tidak ingin sahabatnya itu merasa tidak mendapat dukungannya.
"Baiklah, tapi aku menelepon sahabatku dulu. Aku sudah mempunyai janji makan malam dengannya malam ini, aku akan membatalkan janjiku saja." Hinata membelalakkan matanya kemudian memeluk Sakura dengan heboh.
"Maksudmu sahabat yang baru saja balik dari US? Aku turut senang akhirnya kalian mau berbicara lagi satu sama lain." Sakura pernah menceritakan semua masalah tentang sahabatnya itu kepada Hinata, dan Hinata terus memaksa Sakura untuk menyatakan perasaannya kepada sahabatnya. Namun Sakura tidak pernah berani menyatakan perasaannya, dia takut persahabatannya terputus gara-gara cinta sepihaknya.
Beberapa jam kemudian shift kerja Hinata dan Sakura hampir berakhir. Hinata sudah bergerak-gerak gelisah di kursi kerjanya, dia merasa nervous dengan pernyataan cinta yang akan dibuatnya.
"Hinata, ini sudah jam 8. Ayo kita ke atap sekarang, sepertinya dia sudah menunggumu." Hinata segera memperbaiki make-up nya dan memperbaiki tatanan rambutnya, Sakura hanya melihat takjub dengan kecepatan tangan Hinata.
Tak lama Hinata dan Sakura menuju lantai teratas menggunakan lift. Hinata merasa jantungnya seperti akan meledak karena kegugupannya dan membayangkan jawaban apa yang akan diterimanya nanti. Sakura mengamati Hinata dari belakang, seperti yang dijanjikan dia menunggu di dekat pintu atap untuk menyemangati Hinata.
"Sakura, doakan aku ya." Hinata segera menjauh sebelum mendengar jawaban Sakura.
"Semoga berhasil Hinata." Gumamnya lirih, dia merasa terasing berada di tempat itu. Dia merasa tidak berhak mendengarkan deklarasi cinta sahabatnya itu, namun demi dukungan yang diharapkan Hinata, Sakura hanya bisa mendesah pasrah.
Hello! Nice to meet you again! Sorry I didn't leave author note in previous chapter I am still confuse how to use this page. Anyways, bagaimana chapter kedua dari cerita ini? Semoga gak bosenin yah? Oh terimakasih atas kritik dan sarannya, I hope I can be less sloppy writer :D hahaha oke jangan lupa tinggalkan review dan follow untuk cerita ini! Dan satu lagi, chapter selanjutnya adalah chapter terakhir jadi don't be sad and be more corious kekeke #evil laugh more drama and romance in the next chapter.
Hope you like it
love
`~author
