A Naruto Fanficion..
Freedom Alliance (FA) present..
GIFT from HEAVEN
Rate: T
Genre: Romance, drama, friendship, Shonen-ai/Yaoi
Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto
Warning: AU, Shonen-ai/YAOI, typos, DON'T LIKE DON'T READ!
Insert Song: "The Red Carpet Day" by Versailles -Philharmonic Quintet-
Author: Schezcha
Author's Note: Cerita ini merupakan versi Naruto dari fanfic MY BABY oleh: Minoru_666 (FA). Selamat menikmati..
.
.
Summary: Sasuke keras kepala ingin mengantar Naruto pulang walau sudah ditolak berulang kali. Akhirnya dia mengatur siasat untuk kabur dari Sasuke. Berhasilkah Naruto?
Lyric 2: Kirigakure Bakery
"Ka..kau?"
"Hn, bocah."
Naruto menatap sosok pemuda di hadapannya itu dengan tatapan intens. Kedua alisnya mengernyit heran. Sedangkan pemuda itu terdiam di tempatnya berdiri. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Kau siapa?" tanya Naruto dengan polosnya.
Dia tidak mengenaliku? Tanya pemuda itu dalam hati.
"Dasar bocah," sindir pemuda itu lirih.
Bocah..?
"Hei Pak Tua! Siapa yang kau panggil bocah? Aku bukan bocah tahu! Umurku sudah 22 tahun!" seru Naruto tidak terima.
Pak Tua? Berani sekali dia memanggilku seperti itu.
"Aku bukan 'Pak Tua'. Usiaku baru 28 tahun. Aku lebih tua darimu bocah."
"Hanya beda enam tahun saja memanggilu bocah! Aku sudah dewasa, dasar kakek-kakek!"
"Dobe."
"Teme!"
"Anak kecil."
"Pak tua!"
"Kepala durian!"
"KAU! Kau benar-benar orang asing yang menyebalkan! Lagipula kau ini siapa?"
"Kau benar-benar tidak ingat padaku?" tanya pemuda itu sedikit heran.
Naruto menggeleng. Pemuda itu tersenyum kecil lalu duduk di samping Naruto tanpa permisi.
Dasar Dobe, batin pemuda itu.
"Kenapa kau tertawa? Kau menertawaiku?" tanya Naruto kesal.
"Aku hanya tersenyum," jawab pemuda itu datar.
"Kalau begitu..beri aku petunjuk!"
Memangnya ini kuis?
Naruto dan pemuda itu hanya berjarak tiga puluh centimeter. Penerangan di halte itu cukup terang, Naruto bisa melihat wajah pemuda tampan itu dengan jelas. Pemuda itu bersandar pada sandaran bangku halte dan melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan Naruto yang ada di sampingnya. Padahal jelas-jelas dia duluan yang mengajak Naruto bicara tadi. Naruto menghela nafas kesal tidak mendapat jawaban dari pemuda itu. Naruto mengamati tiap inchi wajah tampan pemuda berambut hitam kebiruan itu dengan seksama. Tiba-tiba kedua matanya melebar.
"Kau yang tadi siang!" teriak Naruto tiba-tiba. "Uchiha Sasuke kan?"
"Hn. Akhirnya kau ingat juga. Tunggu, bagaimana kau tahu namaku?" tanya Sasuke seraya menoleh ke arah Naruto.
Pemuda itu adalah Sasuke, pemuda yang tadi siang berpapasan dengan Naruto di jalan.
"Aah..itu..aku menemukan dompetmu terjatuh di jalan," ucap Naruto seraya mengambil dompet coklat dari saku celananya. "Ini.."
Naruto memberikan dompet itu pada Sasuke. Sasuke memeriksa dengan teliti isi dompetnya. Tidak ada yang hilang, semuanya masih pada tempatnya. Sasuke memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya.
Ternyata dompetku terjatuh, kata Sasuke dalam hati.
"Siapa namamu?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Aku Uzumaki Naruto!" jawab Naruto dengan cengiran khasnya.
Naruto ya? Nama yang aneh.
"Kau tidak berterima kasih padaku? Setidaknya ucapkan 'terima kasih', aku kan sudah menemukan dompetmu."
"Pentingkah?"
"Tentu saja.."
"Hn, arigato," ucap Sasuke dengan terpaksa.
Tidak ada pembicaraan di antara dua pemuda tampan itu. Mereka hanya terdiam di sana. Naruto yang biasanya banyak bicara juga mendadak menjadi diam. Angin dingin tiba-tiba berhembus menerpa mereka. Naruto mendekap kedua lengannya erat. Jaket putih tanpa lengannya membuatnya masih merasakan kedinginan. Sasuke melirik ke arahnya.
"Kau yakin ingin menunggu bus di sini?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Tentu saja, ini kan halte bus," jawab Naruto santai.
"Kau sadar? Sudah lebih dari sepuluh menit kita di sini dan tak satupun bus yang lewat."
"Memang benar sih.."
"Bagaimana kalau kau kuantar?"
"Eh? Ti, tidak perlu," tolak Naruto seraya menoleh ke arah Sasuke. "Lagipula kita kan baru saling mengenal," tambahnya.
"Kau takut?"
"Bukan itu! Lagipula kau mau mengantarku dengan apa?"
"Mobil. Aku bisa menelpon sopirku sekarang juga kalau kau mau."
Mobil? Sudah kuduga dia orang kaya! Tapi..wajahnya, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat..pikir Naruto.
"Tidak, terima kasih."
"Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih."
Orang ini keras kepala! Teriak Naruto dalam hati. Apa yang harus kulakukan?
Sasuke mengeluarkan ponsel hitam dari saku kemeja kotak-kotaknya. Sepertinya dia serius ingin mengantar Naruto pulang. Sementara itu Naruto memperhatikan sekelilingnya dengan gelisah. Diliriknya jam tangan hitamnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Naruto memutar otaknya memikirkan cara menghindari Sasuke. Siapa yang tidak mau diantar pemuda setampan Sasuke? Banyak gadis yang menginginkannya dan akan menerimanya dengan senang hati. Tapi bagaimana dengan Naruto? Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia normal. Dia masih suka wanita, setidaknya sampai saat ini.
"Ah! Oya iya! Aku baru ingat! Aku harus belanja keperluan di rumah," ucap Naruto tiba-tiba.
Sasuke menatapnya curiga.
"A, aku pergi ke minimarket dulu ya. Jaa.."
Grep!
Tiba-tiba pemuda berkulit putih pucat itu menarik tangan Naruto. Sasuke mencegahnya pergi. Naruto menoleh ke arahnya. Mereka saling menatap.
"Aku ikut," ucap Sasuke singkat dan jelas.
"Ba, baiklah..hehe.."
Rencanaku gagal..gerutu Naruto dalam hati.
Sasuke melepas tangan Naruto. Naruto berjalan di trotoar mendahului Sasuke. Sasuke beranjak dari bangku halte dan mneyusul berjalan di samping kanannya. Rencana Naruto telah gagal. Dia tidak bisa kabur dari Sasuke. Mau tidak mau mereka harus berjalan bersama menuju minimarket yang ada di ujung jalan. Naruto melihat langit di angkasa. Tidak ada bintang. Lalu mengalihkan perhatian ke arah Sasuke.
Kalau dipikir-pikir dia tampan juga. Kulitnya putih, kedua matanya hitam sekelam malam, dan rambutnya juga stylish.
Kalau aku wanita mungkin aku akan jatuh cinta padanya.
Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya. Terdiam. Lalu dia menjambak rambutnya sendiri. Merutuki apa yang telah dipikirkannya tadi.
Apa yang kupikirkan..? Kenapa kau berpikiran seperti itu pada laki-laki! Ini pasti karena kau terlalu lelah bekerja! Ya! Malam ini aku akan istirahat!
"Hei, sedang apa kau?" tanya Sasuke pada Naruto.
"Eh?"
"Kita sudah sampai."
Ternyata mereka telah berdiri tak jauh dari minimarket itu berada. Naruto tidak menyadarinya gara-gara sibuk melamun tidak jelas. Sasuke berjalan memasuki minimarket itu dengan Naruto di belakangnya. Dengan langkah lebar-lebar Naruto melangkahkan kedua kaki jenjangnya memasuki deretan rak-rak yang berderet rapi. Menghiraukan Sasuke begitu saja.
Lebih baik aku pura-pura tidak kenal, pikir Naruto.
Sasuke menatap punggung Naruto yang semakin jauh. Dia berjalan mengikuti langkah Naruto. Diperhatikannya pemuda blonde itu dengan seksama. Naruto mengambil beberapa snack di atas rak. Kemudian beralih menuju deretan cup ramen instan. Dengan cepat diambilnya beberapa dari mereka dan menaruhnya ke dalam keranjang belanjanya.
"Kalau kau makan ramen instan sebanyak itu, kau bisa sakit," ujar Sasuke datar.
Sok perhatian, gerutu Naruto dalam hati.
Tanpa memperdulikan Sasuke, Naruto beralih menuju tempat berbagai macam minuman dalam botol. Diambilnya sebotol jus jeruk ukuran jumbo. Dia suka jeruk, wajar saja kan kalau membelinya ukuran jumbo?
Sementara itu Sasuke berjalan sendiri menuju sebuah vending machine. Dimasukannya sebah koin pada lubang mesin itu. Sasuke menekan tombol untuk sekaleng kopi. Seorang gadis berambut hitam panjang berdiri di dekat mesin minuman itu. Gadis itu terkesima akan ketampanan Sasuke. Dia terus memperhatikan pemuda itu dengan tatapan takjub. Merasa diperhatikan, Sasuke menoleh ke arah gadis itu dan manatapnya tajam. Wajah gadis itu memerah. Dia langsung menunduk malu.
"Hei kau," panggil Sasuke datar.
Gadis itu menganggkat wajahnya dan memandang Sasuke. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"I, iya," jawab gadis itu sedikit tergagap.
"Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu. Membuatku muak!"
Sasuke berjalan meninggalkan gadis berambut hitam itu begitu saja. Gadis itu meremas kemeja merah jambu yang dipakainya. Hatinya merasakan sakit mendengar ucapan Sasuke. Memang ucapan itu terlalu kejam untuk diucapkan pada seorang gadis. Gadis itu menatap tajam punggung Sasuke. Tersirat rasa amarah dan kekesalan dalam dirinya.
Sementara Sasuke menghilang dari sekitar Naruto, pemuda blonde itu telah selesai membeli keperluannya. Dengan santai Naruto berjalan menyusuri lorong rak-rak. Dia melihat Sasuke berjalan ke arahnya dengan sekaleng minuman di tangan kanannya. Di belakang Sasuke terlihat ada tumpukan kaleng minuman yang disusun rapi membentuk sebuah piramid. Gadis berambut hitam itu mendorong tumpukan kaleng itu. Keseimbangan piramid kaleng runtuh. Kaleng-kaleng soda itu akan jatuh beruntutan. Naruto berhenti berjalan dan menatap hal itu tidak percaya.
"TEME AWAS..!" teriak Naruto seraya berlari ke arah Sasuke.
Sasuke menoleh ke belakang. Dia melihat tumpukan kaleng itu akan jatuh menimpanya. Gadis berambut hitam itu menyeringai penuh dendam. Naruto berlari dan mendorong Sasuke supaya pemuda itu tidak kejatuhan kaleng-kaleng itu.
Rasakan itu pemuda brengsek! Ucap gadis itu dalam hati.
"BRUAK! KLONTAK..BRUK! KLONTANG..KLONTANG..!"
Tapi Naruto terlambat. Tidak ada kesempatan untuk mereka menghindar. Kaleng-kaleng soda itu berjatuhan menimpa Sasuke dan Naruto. Dua pemuda itu terjatuh ke lantai. Kaleng-kaleng itu menggelinding ke segala arah. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam terpaku. Mereka tak menyangka dua pemuda itu akan menjadi korban kejatuhan kaleng-kaleng soda. Gadis berambut hitam itu berlari menuju pintu keluar. Melarikan diri.
Para karyawan minimarket itu bergegas menolong Sasuke dan Naruto. Dua pemuda itu terbaring di atas lantai dalam keadaan kepala Naruto berada di atas dada bidang Sasuke. Kedua tangan Sasuke melingkar di pinggang Naruto.
"Egh.."
Naruto mengerang kesakitan. Dipeganginya kepalanya bagian belakang. Sasuke membuka kedua matanya. Dia melihat kepala pirang Naruto berada di atasnya. Tersenyum kecil.
"Dobe, daijobu ka? (kau baik-baik saja?)" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Eh?"
Naruto melihat ke arah Sasuke. Wajah mereka hanya tinggal beberapa centi saja. Kedua mata mereka bertemu. Saling manatap dalam diam. Refleksi bayangan mereka bisa dilihatnya melalui kedua bola mata mereka. Cukup lama mereka saling memandang.
DEG!
Jantung Naruto berdegup dengan kencang.
"Daijobu ka?"
"Eh? Ah! Gomen nasai, Teme."
Naruto menyadari posisinya. Dia segera mendudukan diri di atas lantai. Muncul semburat-semburat merah pada wajahnya. Sasuke mendudukan diri di samping Naruto. Dipijatnya kening kepalanya yang terasa sakit. Sepertinya kepalanya sedikit terbentur kaleng-kaleng itu.
"Teme, da..daijobu ka?" tanya Naruto sedikit tergagap.
"Hn. Bagaimana denganmu sendiri?"
"Aku tidak apa-apa."
"Maaf Tuan, bagaimana kalau kami obati dulu?" tanya salah seorang karyawan minimarket.
"Maafkan kami yang sudah ceroboh dan membuat Tuan berdua terluka," ucap sang manager minimarket.
"Ah, tidak apa-apa. Kami juga salah karena tidak berhati-hati," ucap Naruto dengan senyuman manisnya.
"Kalau begitu..izinkan kami mengobati kalian."
Naruto melirik ke arah Teme seolah meminta persetujuan. Yang dilirik hanya memasang wajah stoic andalannya.
"Sepertinya tidak perlu. Kami baik-baik saja."
Naruto memunguti belanjaannya yang terjatuh ke lantai dan mengembalikannya ke dalam keranjangnya. Para karyawan itu tidak enak hati. Mereka merasa bersalah pada Sasuke dan Naruto. Tapi Naruto malah tersenyum pada mereka.
"Aku mau ke kasir dulu, Teme," ujar Naruto.
Tapi lagi-lagi pemuda keren itu mencegahnya pergi. Dia berdiri di depan Naruto, menghalangi jalannya.
"Biar aku yang membayarnya," ujar Sasuke singkat seraya merebut keranjang belanja Naruto.
Sasuke berjalan menuju kasir dengan santai. Naruto mengikutinya dari belakang.
"Aku bisa membayarnya sendiri."
"Hn."
"Kembalikan belanjaanku!"
"Setelah dibayar di kasir akan kukembalikan."
"Biar aku yang membayar belanjaanku sendiri."
"Hn."
"Teme!"
"Dobe."
Mereka berdua sepasang kekasih? Pikir para pelanggan dan karyawan minimarket itu sama.
Mereka heran melihat interaksi dua pemuda itu. Sesampainya di kasir Naruto masih saja bersikeras membayar belanjaannya sendiri. Tapi Sasuke dengan cepat mencegahnya. Mereka masih saja saling beradu mulut.
"Ehem! Maaf mengganggu. Sebagai permintaan maaf kami bagaimana kalau belanjaan Anda tidak perlu dibayar," usul sang manager yang sudah lelah melihat dua pemuda itu beradu mulut.
"Gratis?" tanya Naruto memastikan.
"Ya. Bagaimana?"
"Arigato gozaimasu.."
Karyawan pada bagian kasir itu memasukan barang belanjaan Naruto ke dalam kantong plastik putih. Naruto bergegas menerima kantong belanjaannya sebelum Sasuke mendahuluinya. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar. Sasuke mendengus kecil dan mengikutinya. Naruto berjalan di pinggir jalan. Berjalan dan terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya. Dia bermaksud kembali ke halte tempatnya menunggu bus tadi.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Sasuke memecah kesunyian malam.
Naruto berhenti berjalan. Dia berbalik dan melihat ke arah pemuda itu. Sasuke juga berhenti berjalan. Mereka saling berhadap-hadapan dengan jarak kurang lebih dua meter.
"Namaku bukan 'hei'," ujar Naruto.
"Rumahmu dimana? Biar kuantar."
Naruto menggeleng.
"Aku bisa pulang sendiri. Rumahku tidak jauh dari sini. Kalau kau mau pulang, pulang saja sana."
Kalau rumahmu dekat mana mungkin kau naik bus. Dasar Dobe. Kau tidak pandai berbohong.
"Ya sudahlah. Terserah apa maumu. Tapi.."
Tiba-tiba Sasuke melepas mantel hitamnya. Dia berjalan menghampiri Naruto dan memakaikan mantel itu padanya. Naruto menatapnya tidak mengerti.
"Ini sudah malam, cuaca di luar dingin. Dengan pakaianmu yang seperti itu kau bisa sakit."
"Teme.."
"Hn. Jaga dirimu baik-baik."
"Arigato."
"Jaga mantelku baik-baik. Akan kuambil saat kita bertemu lagi. Jaa."
"Jaa."
Sasuke mengacak pelan rambut pirang Naruto. Pemuda itu sedikit blushing mendapat perlakuan seperti itu dari pemuda setampan Sasuke. Naruto tersenyum pada Sasuke. Lalu pemuda blonde itu berlari kembali ke halte bus. Sasuke menatap kepergian Naruto. Tanpa sadar dia mengulaskan sebuah senyuman. Sebuah mobil sport hitam berhenti di samping Sasuke. Hayate telah datang menjemputnya pulang.
.
.
.
Malam semakin larut. Suasana semakin sepi senyap. Naruto duduk dengan santai di halte bus. Jam tangannya sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam. Tak nampak tanda-tanda bus malam akan melewati tempat itu. Naruto semakin cemas. Bagaimana kalau dia tidak mendapat bus? Itu artinya dia harus berjalan kaki untuk pulang walau jarak apartmentnya cukup jauh.
Angin dingin sudah mulai berhembus. Cuaca semakin dingin. Naruto merapatkan mantel hitam yang dipakainya. Untunglah berkat mantel hitam Sasuke kini Naruto tidak perlu merasa kedinginan. Naruto mencium bau mantel itu. Bau mint. Khas seorang Sasuke.
Dia pemuda berhati baik, sayang..dia dingin pada orang lain. Dia seperti es.
Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi ya?
"ARGH! Aku mulai lagi!" seru Naruto tiba-tiba.
Naruto mengacak rambutnya pelan. Tiba-tiba sebuah bus malam berhenti di depan halte. Terlihat penumpangnya hanya beberapa orang saja. Naruto bergegas masuk ke dalam bus itu. Sementara itu tanpa disadarinya sebuah mobil sport hitam sedari tadi mengawasinya dari kejauhan. Pemuda dalam mobil itu mengawasi setiap gerakan Naruto.
"Ikuti bus itu."
"Baik, Sasuke-bocchama."
Mobil hitam itu mulai melaju di belakang bus yang ditumpangi Naruto. Bus melaju dalam kecepatan tinggi di jalanan yang sepi. Di dalam bus itu Naruto duduk di samping jendela. Dia merasa lelah, tapi tidak ingin tertidur di sana. Dia terus terjaga. Menatap pemandangan kota malam hari di luar jendelanya. Tak terasa bus itu telah sampai di tempat tujuannya. Naruto turun di sebuah halte tak jauh dari apartmennya.
Selangkah demi selangkah pemuda blonde itu menyusuri pinggir jalan. Dia memperhatikan kanan dan kirinya lalu menyeberang jalan. Naruto tersenyum ketika gedung apartment-nya telah terlihat di depan mata.
"Tadaima.."
Mobil sport hitam Sasuke berhenti di dekat halte tempat Naruto turun. Sasuke melihat Naruto memasuki sebuah gedung apartment.
Jadi dia tinggal di sini.
.
.
Gift from Heaven -Schezcha-
.
.
Mentari telah bersinar dengan indah kembali. Burung-burung terbang dan menyanyi di angkasa sebagai pertanda pagi telah tiba.
"Pipip..pipipipip..pipip.."
Ponsel Naruto berdering. Tangan tan Naruto meraih ponsel di saku celananya.
[1 message receive]
Dibukanya email itu.
[From: Gaara -Shukaku-
Time: 07.01 AM
Berkumpul di 'Kirigakure Bakery'. Sekarang juga. Jangan terlambat!]
Ada apa lagi ya? Pikir Naruto.
Diapun mengambil jaket berkerah dengan lengan panjang miliknya. Jaket putih beraksen hitam itu digantung tepat di samping mantel hitam Sasuke. Pemuda blonde itu mengusap mantel hitam itu perlahan. Senyum manis menghiasi paras imutnya. Dipakainya jaket putihnya itu lalu Naruto melangkah keluar dari apartment-nya.
Jauh dari suasana hiruk-pikuk ibu kota sebuah mansion megah di perumahan elite. Halamannya yang penuh dengan bunga-bunga indah terlihat terawat dan bersih. Mansion itu adalah mansion keluarga Uchiha. Pemiliknya sendiri adalah Uchiha Sasuke. Di dalam mansion itu Sasuke duduk di atas sofa ruang tamunya dengan santai. Di atas meja kacanya terdapat secangkir darjeeling tea yang masih hangat. Di telinganya terdapat sepasang earphone hitam. Dia tengah menikmati paginya yang cerah dan tenang..
"Sasu-kun..!" teriak seorang pemuda dari luar mansion.
Atau tidak.
Pagi Sasuke telah terganggu oleh kedatangan pemuda itu. Dilihat dari wajahnya sepertinya usianya tak jauh berbeda dengan Sasuke. Rambutnya coklat panjang diikat kuda. Parasnya tampan dan kulitnya putih. Kedua matanya berwarna ungu muda hampir putih, sehingga membuatnya terlihat tidak memiliki pupil mata. Pemuda itu berjalan masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di samping Sasuke tanpa dipersilahkan. Sasuke melepas earphone-nya.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Sasuke dingin.
"Tentu saja untuk menemui sahabatku yang paling baik. Kau, Sasu-kun!" jawab pemuda itu dengan cerianya.
"Jangan memanggilku 'Sasu-kun'."
"Ya..ya..kau memang tidak bisa diajak bercanda."
Pemuda itu adalah Hyuuga Neji, sahabat Sasuke sejak kecil. Wajar saja, kedua keluarga mereka adalah sahabat. Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari balik mantel coklat mudanya. Sebuah majalah mingguan bernama 'Suna Time' yang baru saja terbit. Pemuda itu membuka halaman demi halaman majalah itu. Lalu berhenti pada sebuah halaman dengan foto lumayan besar. Sebuah artikel berjudul "Siapa kekasih baru Uchiha Sasuke?". Pemuda berambut coklat panjang itu menunjukkan artikel itu pada Sasuke.
"Kau benar-benar playboy."
"Apa maksudmu, Neji?"
"Setelah model bernama Karin itu, sekarang kau mengincar Sakura?"
Sasuke melihat artikel yang dimaksud Neji. Pada artikel itu telihat sebuah foto lumayan besar. Foto Uchiha Sasuke terpampang jelas tengah bersama dengan seorang gadis. Sasuke memegang tangan gadis berambut pink itu dan mereka saling menatap dengan posisi Sasuke sedang duduk di sofa dan gadis itu berdiri di sampingnya.
"Ini hanya gossip," ucap Sasuke datar dan cuek.
Dilemparnya majalah itu ke atas meja. Sepertinya dia memang tidak peduli dengan berita yang ditulis pada artikel itu.
"Kalau kau menyukai Sakura, berhentilah memberi harapan pada gadis lain."
"Aku tidak menyukai Sakura, kami hanya sahabat."
"Aku jadi ingin tahu bagaimana pendapat Sakura kalau membaca artikel ini."
"Kalau kau datang hanya untuk mengganggu hariku, lebih baik pergilah."
"Calm down Sasuke. Sebenarnya aku datang kemari karena aku membutuhkan bantuanmu."
"Hn?"
"Tolong kau jaga adikku, kumohon..hanya sehari ini saja."
"Hinata?"
"Bukan. Adikku yang satu lagi, Hanabi."
"Ada pelayan di rumahmu kan?"
"Hari ini aku harus keluar kota. Aku tidak tega meninggalkannya di rumah. Kau tahu? Zaman sekarang ini banyak orang yang berpura-pura menjadi pelayan dan akhirnya menjual atau menculik anak dari majikannya sendiri. Hinata sedang pergi berwisata dengan teman-temannya. Ayah dan ibu juga sedang ada urusan hari ini, tidak ada yang menjaganya. Hanya kaulah harapanku satu-satunya..," papar Neji seraya berlutut pada Sasuke.
Sasuke mendengus dan menyingkir dari Neji. Dia berjalan menuju ruang dalam. Neji berjalan mengikutinya.
"Kumohon Sasuke. Kau sahabatku yang paling kupercaya. Hanabi anak yang manis dan penurut, aku yakin dia tidak akan merepotkanmu."
"Pertama, aku tidak suka anak kecil. Kedua, aku sibuk," ujar Sasuke seraya mengambil mantel biru tuanya di sandaran kursi.
"Tunggu! Kemana mantel hitam kesayanganmu?" tanya Neji penasaran.
Sasuke suka warna hitam dan selalu memakai mantel hitam kesayangannya saat pergi keluar rumah. Tapi kali ini dia justru memakai matel biru tua. Sungguh tidak biasa.
"Bukan urusanmu."
"Dibawa Sakura ya..?" tebak Neji.
Sasuke langsung menoleh dan memberinya death glare. Neji menelan ludah dengan paksa.
"Pergilah. Aku terlalu sibuk untuk meladenimu."
"Lalu bagaimana dengan Hanabi-chan?"
"Minta saja Sakura menjaganya. Dia kan wanita, pasti lebih mengerti."
Sasuke keluar dari mansionnya lalu berjalan menuju mobil hitamnya. Di samping mobil itu berdiri Hayate, sang sopir dengan setia menunggu sang majikan. Lalu Hayate membukakan pintu mobil bagian belakang. Sasuke masuk ke dalam mobil. Sementara itu Neji kembali ke mobil silvernya. Di samping kursi kemudinya terlihat seorang anak kecil duduk dengan tenang. Neji bergegas menuju tempat Sakura berada.
.
.
.
Di pusat pertokoan yang cukup ramai berdirilah sebuah gedung kecil. Gaun-gaun indah terpajang pada etalase toko. Gedung berdinding merah jambu itu adalah sebuah boutique. Papan nama boutique itu terpajang di atas pintu masuk, "Haruno Boutique". Di dalam boutique itu terlihat berbagai macam gaun dan pakaian modis lainnya.
"BRUAK! BUG!"
Terdengar suara gaduh dari sebuah ruangan kecil di boutique itu. Seorang gadis berambut pink melempar dua majalah Suna Time ke dinding dan menginjaknya dengan kasar. Kedua iris hijau emerald itu menyiratkan kemarahan.
"Menyebalkan! Beraninya wartawan itu menyebarkan gossip murahan seperti ini!" serunya seraya mengambil dua majalah itu.
Gadis berkulit putih itu mulai merobek-robek dua majalah itu dengan sadisnya. Majalah itu terbelah-belah menjadi banyak bagian. Robekan-robekan kertas itu berjatuhan dan mengotori lantai. Para karyawannya yang melihatnya hanya bisa menggeleng kepala pelan.
"Sakura tenanglah..ini kan hanya gossip. Jangan dianggap serius," ujar seorang gadis berambut pirang pucat panjang yang duduk di sofa merah.
Gadis blonde dengan poni sedikit menutupi matanya sebelah kanan itu duduk di sofa merah pada ruangan itu. Rambut panjangnya diikat kuda ke atas. Kedua iris biru aquamarine itu sibuk membaca majalah Suna Time di hadapannya. Sakura menoleh dan menatap gadis blonde itu.
"Aku kesal mereka selalu menggosipkan Sasuke."
"Wajar saja, Sasuke kan artis dan penyanyi solo terkenal. Apalagi dia punya wajah yang tampan."
"Ino, jangan katakan kau tertarik padanya."
Gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu memutar kedua bola matanya. Ino adalah teman baik seperti Sakura, Ino juga membuka sebuah boutique yang berada di sebuah pusat perbelanjaan.
"Tidak boleh?"
"Kau kan sudah punya Sai."
"Haah..dasar nona pink ini. Katakan saja kalau kau dan Sasuke itu memang menjalin hubungan."
"Kami hanya sahabat!"
"Sahabat menjadi cinta?"
Sakura mendelik tajam ke arah Ino. Ino tersenyum senang melihat Sakura kesal. Tiba-tiba seorang pemuda berambut coklat masuk ke dalam boutique itu. Dia adalah Neji. Pemuda itu berjalan ke arah Sakura tanpa menyadari kekesalan yang sedang dirasakan gadis bermabut merah muda itu.
"Sakura..," panggil Neji memelas.
"Apa?" tanya Sakura datar.
"Kau adalah dewi penyelamatku. Kumohon, bantulah aku," pinta Neji seraya berlutut pada Sakura.
"Huh?"
"Bisakah aku menitipkan Hanabi-chan padamu? Hanya sehari saja."
"Ini boutique, bukan tempat penitipan anak."
"Hari ini aku harus keluar kota. Aku tidak tega meninggalkannya di rumah. Kau tahu? Zaman sekarang ini banyak orang yang berpura-pura menjadi pelayan dan akhirnya menjual atau menculik anak dari majikannya sendiri. Hinata sedang pergi berwisata dengan teman-temannya. Ayah dan ibu juga sedang ada urusan hari ini, tidak ada yang menjaganya. Hanya kaulah harapanku satu-satunya..," papar Neji.
"Apa boleh buat. Baiklah aku bersedia."
"Sungguh?"
"Ya."
"Benarkah?"
"Kalau kau bertanya sekali lagi aku akan berubah pikiran."
Neji terdiam mendengarnya. Sedangkan Ino hanya terkekeh pelan melihat interaksi dua orang mantan personel Sharingan itu. Ya, dulu sebelum Sharingan bubar, Sakura dan Neji adalah dua di antara personel band yang diketuai Sasuke itu. Tiba-tiba seorang gadis kecil memasuki boutique itu dan berlari ke arah Neji.
"Nii-chan..!" panggil gadis kecil berambut coklat tua itu.
"Hanabi-chan? Kenapa tiba-tiba kemari?" tanya Neji seraya berjongkok. "Tadi kan kusuruh menunggu di dalam mobil."
"Aku bosan..," jawab Hanabi manja.
"Wah..Hanabi-chan sudah besar ya. Terakhir kali kita bertemu kau masih kecil. Berapa usiamu sekarang?" tanya Sakura ramah.
"Sembilan tahun," jawab Hanabi seraya terseyum ke arah Sakura.
"Dia anak yang manis."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Hanabi, Nii-chan pergi dulu. Baik-baik ya dengan Sakura-neechan," pesan Neji seraya memeluk adik kecilnya itu.
"Hai' Nii-chan. Nii-chan cepat kembali ya."
"Hai', begitu pekerjaan selesai Nii-chan akan segera pulang."
Neji berjalan menuju pintu keluar dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Tidak lama kemudian sebuah mobil sport hitam berhenti di depan Haruno Boutique. Seorang pemuda berkulit putih keluar dari dalam mobil itu. Tangan kirinya dimasukan ke dalam saku mantelnya. Pemuda bermantel biru tua itu berjalan memasuki boutique itu dengan santainya.
"Sakua-neechan, aku bosan..," keluh Hanabi yang duduk di sofa merah bersama dengan Ino.
"Bagaimana kalau kita bermain? Nee-chan punya mainan bagus lho," usul Sakura.
"Main apa Nee-chan?"
"TARAA..!"
Sakura menunjukkan sebuah kunai pada Hanabi. Lalu memberikannya pada gadis kecil itu. Sakura melempar sebuah kunai ke arah papan dart yang ada di lima meter di depannya. Kunai itu menancap tepat di tengah papan dart.
"Plok..plok..plok.."
Hanabi bertepuk tangan untuk Sakura.
"Sakura, kenapa kau memberinya kunai? Kau tahu kan kalau itu benda tajam?" protes Ino.
"Tidak apa-apa. Aku bisa melatihnya bela diri."
"Jangan memberikan benda yang berbahaya pada anak kecil!"
Ino merebut kunai itu dari Sakura dan Hanabi. Saat itulah pemuda bermantel biru tua itu berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Ino terdiam melihat pemuda itu, begitu pula dengan Hanabi. Sakura mengalihkan pendangannya ke arah Ino dan Hanabi melihat.
"Ohayou..," sapa Sakura dengan senyum ramahnya.
"Ohayou," balas pemuda itu datar.
"EHEM! Orang yang baru dibicarakan sudah datang. Hanabi-chan, kita pergi saja yuk. Daripada nanti kita hanya menjadi nyamuk," sindir Ino pada dua orang itu.
"Kita mau kemana Ino-nee?" tanya Hanabi polos.
"Ke dapur. Ada banyak kue lho di dalam. Ayo.."
Ino menatap Sakura sekilas lalu menggandeng tangan kecil Hanabi. Merekapun masu ke dalam boutique bagian dalam. Meninggalkan Sakura bersama dengan pemuda itu. Pemuda itu berjalan mendekati sofa lalu duduk di atas sofa merah itu.
"Kau harus menjelaskan pada mereka tentang kita. Mereka semua salah paham dan itu semua salahmu!" ujar Sakura kesal.
"Tidak mau," jawab pemuda itu singkat.
"Sejak tadi pagi banyak orang yang menelpon kemari dan bicara aneh padaku. Inilah yang paling kubenci dari gossip."
"Hn."
"Hentikan 'Hn' tidak berguna itu Sasuke!"
Seorang karyawan Sakura datang dengan sebuah nampan. Dia membawakan secangkir kopi untuk Sasuke. Meletakkannya di atas meja lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
"Kenapa kau mau saja mengasuh Hanabi?" tanya Sasuke to-the-point.
"Kenapa tidak? Dia anak yang manis," jawab Sakura sekenanya.
"Anak kecil itu merepotkan."
"Suatu saat nanti kau juga akan menikah dan punya anak. Apa kau akan tetap membenci anak kecil?"
"Aku tidak mau memiliki anak dulu."
"Susah bicara denganmu. Kau keras kepala seperti batu."
"Hn."
"Kau tahu apa itu cinta?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Salah satu emosi manusia," jawab Sasuke.
"Bukan. Cinta adalah sebuah kata. Tapi hubunganlah yang membuatnya menjadi bermakna," jelas Sakura. "Setiap manusia memiliki hubungan satu sama lain, benang-benang takdir yang menyatukan semuanya. Dan membawanya dalam pertemuan dan perpisahan."
.
.
Gift from Heaven -Schezcha-
.
.
- Kirigakure Bakery -
Naruto, Gaara, dan Kiba duduk di depan sebuah meja persegi empat berwarna putih. Di ruangan berukuran 6x4 m itu terdapat dua lemari kaca dengan beraneka jenis kue yang terlihat lezat. Poster-poster macam-macam kue terpampang pada dinding-dinding toko. Seorang pemuda berambut hitam panjang membawa sebuah nampan dengan tiga gelas orange-juice. Di dada kirinya terdapat sebuah name tag bertulisan 'Yuki Haku'.
"Maaf lama," ucap pemuda itu seraya meletakkan tiga orange juice itu ke atas meja.
"Haku, kau berbeda sekali saat di sini," ujar Naruto jujur.
"Maksudmu soal apron ini? Apa boleh buat, kalau membuat kue kan harus memakainya."
Haku duduk di salah satu kursi putih yang masih kosong.
"Jadi, kenapa kita berkumpul?" tanya Kiba sambil bermain dengan seekor anjing mungil berbulu coklat.
"Anjing baru?" tanya Haku.
"Bukan..namanya Shiromaru. Dia anjing kecil yang baru dilahirkan bulan lalu di toko."
Shiro itu kan putih, ucap Naruto dalam hati.
Perasaan bulu ajing itu coklat muda, pikir Haku.
Lagi-lagi nama yang tidak sesuai dengan keadaan, kata Gaara dalam hati.
"Sebenarnya..akulah yang meminta kalian untuk berkumpul di sini," ucap Haku memulai pembicaraan.
Ketiga rekan Haku melihat ke arah pemuda cantik itu.
"Aku membutuhkan bantuan kalian," tambahnya.
"Kita kan teman, kami pasti akan membantumu," sahut Kiba.
"Katakan saja," tambah Gaara.
"Hari ini dua dari karyawan kami sakit dan tidak bisa bekerja. Zabuza-san ada di dapur mengurusi pesanan kue bersama dengan Deidara-senpai. Padahal kami ada pesanan delivery ke beberapa tempat hari ini. Karena itulah..kumohon bantu aku mengantar pesanan kue-kue itu..," kata Haku dengan wajah sendu.
Raut wajahnya menyiratkan keputus asaan. Naruto, Gaara, dan Kiba tidak tega melihatnya. Mereka sudah bersahabat bukan hanya satu-dua tahun. Tidak mungkin mereka meninggalkan sahabat mereka saat ada masalah. Mereka tipe yang setia kawan. Seperti apapun masalah yang datang, akan mereka hadapi bersama.
"Serahkan saja pada kami," ujar Gaara tiba-tiba.
"Kami akan membantumu mengantar pesanan-pesanan itu," tambah Naruto.
"Sudah pasti kan?" sahut Kiba.
"Kalian memang sahabatku yang paling baik!" seru Haku bahagia.
Dari arah dalam toko itu muncul seorang pria tinggi-besar berkulit gelap. Wajahnya terlihat sangar. Haku menoleh ke arah pria itu, lalu tersenyum. Pria itu membawa beberapa kardus kue dengan hiasan pita-pita. Diletakkannya kardus-kardus kue itu di atas meja yang kosong.
"Perkenalkan. Dia adalah Zabuza-san, pemilik toko kue ini," ujar Haku dengan cerianya.
"Namae wa Momochi Zabuza. Yoroshiku," ucap laki-laki bernama Zabuza itu.
"Ore wa Uzumaki Naruto. Yoroshiku Zabuza-san."
"Sabaku Gaara. Yoroshiku."
"Ore no namae wa Inuzuka Kiba. Yoroshiku."
"Arigatou kalian bersedia membantu kami. Kue-kue ini harus segara tiba di tempat pelanggan tepat waktu. Untuk selengkapnya kalian bisa bertanya pada Haku."
"Baiklah, aku akan membagi tugas kalian. Kue-kue dengan kardus pink ini harus dikirim ke TK Kumo dan yang kardus putih diantar ke rumah di jalan Raikiri. Kebetulan tempatnya searah, Gaara kau yang mengantarnya. Kiba mengantar kue ulang tahun ini. Ingat, harus sampai sebelum jam setengah sembilan pagi. Kue berkardus berwarna-warni ini pesanan khusus, Naruto kau yang mengantarnya ya."
Haku memberikan secarik kertas berisi alamat tujuan kue itu diantar pada Gaara dan Kiba.
"Lalu dimana aku harus mengantarnya?" tanya Naruto, karena dia satu-satunya orang yag tidak mendapat kertas alamat.
"Haruno Boutique. Tempatnya tidak jauh dari tempatmu bekerja kan?"
"Wah..boutique itu!"
Naruto terlihat bahagia mendengar Haruno Boutique.
"Kenapa?"
"Setahuku pemiliknya adalah seorang gadis cantik dan masih muda. Aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi aku yakin dia gadis yang benar-benar cantik."
"Kau menyukainya?" tebak Gaara curiga.
"Ti, tidak..bukan seperti itu. Aku hanya mengaguminya."
"Ya sudah, kalau begitu tolong segera diantar," ucap Haku menginterupsi.
Ketiga pemuda itu membawa kardus-kardus kue itu keluar dari Kirigakure Bakery. Di depan toko kue itu terparkir tiga sepeda motor dengan box di belakangnya, tempat menaruh kardus-kardus kue. Sebuah stiker 'Kirigakure Bakery' tertera pada masing-masing motor. Mereka meletakkan kardus-kardus itu ke dalam box belakang sepada motor. Memakai helm dan berangkatlah tiga pemuda itu ke tempat pesanan kue.
"BROOOOOOM..!"
Naruto melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Di bahagia bisa membantu sahabatnya. Walau hanya hal kecil, hal itu sangat bermakna untuknya. Sepeda motornya berhenti di sebuah perempatan lalu berbelok ke kanan. Toko-toko berdiri dengan rapi di sebelah kanan dan kiri jalan. Para pejalan kaki memenuhi trotoar. Naruto melihat papan nama Haruno Boutique dari kejauhan.
Sebuah sepeda motor terpakir di depan Haruno Boutique. Sasuke melihat sepeda motor itu. Dia mengernyit heran.
"Kau pesan kue?" tanya Sasuke. "Kau tahu kan aku tidak suka kue."
"Kue? Bukan aku yang.."
"Permisi..!" seru Naruto masuk ke dalam boutique itu.
Suara ini..? Tidak mungkin..
"Ya. Ada apa?" tanya Sakura ramah seraya berjalan menghampiri Naruto.
Naruto terkesima melihat gadis berambut pink itu. Dia terdiam untuk beberapa saat. Menatap gadis beriris hijau emerald itu.
Dia cantik..
"Ah! Saya dari Kirigakure Bakery, saya mengantarkan kue pesanan Anda."
"Tapi aku tidak memesan kue. Mungkin ada kesalahan."
"Apa? Tapi tadi ada telpon dari Haruno Boutique."
Sasuke mengintip dari balik tirai ruang kerja Sakura. Kedua matanya terbelalak. Dia tidak percaya akan melihat pemuda itu di tempat ini.
Dobe.. Rupanya kalau siang hari dia bekerja di toko kue.
"Tap..tap..tap.."
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Naruto dan Sakura.
"Aku yang pesan," ujar Ino menginterupsi.
"Ino? Kenapa tidak bilang-bilang?"
"Tadi Hanabi-chan ingin strawberry short cake, tapi di dalam kulkas tidak ada. Makanya aku langsung memesannya."
"Dasar."
"Jadi berapa semuanya?" tanya Ino pada pemuda blonde itu.
"Err..dua ribu yen," jawab Naruto seraya menyerahkan kardus kue itu pada Ino.
"Ini.."
Ino memberikan dua lembar seribu yen pada Naruto. Tugas Naruto selesai. Diapun segera beranjak dari Haruno Boutique.
"Pemuda itu manis juga kan, Sakura?" bisik Ino.
"Iya, dia manis. Kawaii.. Coba saja aku mengenalnya," ucap Sakura.
"Hm..kau tertarik padanya?"
"Ya. Dia uke yang manis. Kurasa Sasuke cocok menjadi seme-nya."
Sasuke yang tidak sengaja mndengar ucapan Sakura itu langsung menyemburkan kopinya.
Seenaknya saja dia bicara seperti itu.
"Sasuke kan pacarmu."
"Bukan!"
.
.
Gift from Heaven -Schezcha-
.
.
Kendaraan-kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Saling menyalib satu sama lain. Di antara kendaraan-kendaraan itu ada seorang pemuda berambut coklat jabrik mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Pada sepeda motornya terlihat ada sebuah stiker bertuliskan 'Kirigakure Bakery'. Di belakangnya ada seekor anjing kecil berwarna coklat duduk dengan manisnya. Pemuda pecinta anjing itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kiba. Kiba melewati kendaraan-kendaraan di depannya satu demi satu.
"Guk..guk..!"
Tiba-tiba anjing kecil itu menggonggong kecil ketika melintasi toko daging. Seolah memberitahu pemuda itu kalau dia lapar.
"Aku tahu kau lapar. Tunggu sebentar ya," ujar Kiba menenangkan si anjing.
"Guk! Guk!"
Sepeda motor yang dikendarai Kiba berbelok ke arah jembatan. Tiba-tiba anjing kecil itu melompat dari atas sepeda motor ke pinggir jalan. Kiba melihatnya dari kaca spion motor itu. Dia terkejut.
"CKIIIRT!
Sementara itu di sisi lain jalan terlihat sebuah mobil sport silver melaju dengan kecepatan tinggi. Suara musik terdengar dari dalam mobil itu dengan kerasnya. Mobil sport itu dikemudikan seorang pemuda. Dia mendengarkan lagu itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama. Tangannya mengetuk-ketuk setir kemudinya sesuai ketukan irama. Terlihat jelas kalau dia menikmati lagu itu.
.
"Ah..tashika ni nozonda towa ni ikiru koto wo
Watashi no kono karada ga yami ni okasarete demo
Ah..saigo no negai wa "tomo ni shiniyuku koto" to
Kanojo wa nozondeita onaji kami to shinjite
kagami wa kumo no su to natte kieteyuku tomoshibi wo
Ah..habatsu ni wakareta madoromu jidai no naka
Arasou hitobito wo kamigami ga azawarau
Kagami wa kumo no su to natte kieteyuku tomoshibi wo
Akai BEDDO no ue anata no kubisuji ni
Afuredasu inochi wo watashi ni sosogu
Motto soba ni ite to anata wo dakishimete
Doushite hito wa kami wo shinjiru no darou?
Akai kono yuka wo hau you ni
Amai sono kaori ni tsutsumarete
Akai BEDDO no ue anata no kubisuji ni
Afuredasu inochi wo watashi ni sosogu
Motto soba ni ite to anata wo dakishimete
Doushite hito wa kami wo shinjiru no darou.."
(THE RED CARPET DAY by Versailles -Philharmonic Quintet-)
.
Pemuda berambut hitam dengan model seperti nanas itu membelokkan mobilnya ke arah jembatan. Diamatinya pemandangan di luar jendelanya. Terlihat ramai kendaraan berlalu-lalang. Dari kejauhan terlihat seorang pemuda mengerem sepeda motornya mendadak lalu memarkirkannya di pinggir jembatan. Melepas helm-nya. Tiba-tiba pemuda itu berlari melintasi jalan dan berdiri di samping pagar pembatas jembatan. Lalu dia menaiki pagar itu, bersiap untuk terjun ke bawah.
"Bunuh diri, eh?"
"CKIRRT..!"
Pemuda berkulit putih mengerem mendadak. Meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Diapun keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan menghampiri pemuda berambut coklat itu dengan santainya.
"Hei anak muda!" seru pemuda itu memanggil Kiba yang ada di atas pagar jembatan.
Kiba menoleh ke arah pemuda yang terlihat lebih tua darinya itu.
"Jangan menggangguku!" bentak Kiba kesal ada yang menghentikan aksinya.
Kiba bersiap untuk melompat kembali.
"Hei tunggu! Jangan melompat!" teriak pemuda itu menginterupsi. "Manusia memang memiliki banyak masalah, tapi kau bisa membicarakannya dengan orang lain. Misalnya teman, sahabat, atau orang tua."
"Huh?"
"Jangan melompat. Itu tidak akan menyelesaikan masalah."
"Masalahku akan selesai kalau aku turun ke bawah."
Tiba-tiba pemuda itu berlari lalu menarik Kiba dari atas pagar jembatan. Memeluk Kiba dari belakang. Tubuh Kiba terasa kaku. Dia terdiam membeku mendapat perlakuan seperti itu. Tubuhnya terasa panas. Jantungnya berdegup dengan kencang. Semburat-semburat merah muda mulai muncul menghiasi wajah manisnya.
"Le, lepaskan aku!" bentak Kiba.
"Kalau kulepaskan kau akan melompat kan? Jawabanku tidak," ucap pemuda asing itu.
Deg..! Deg..! Deg..!
Jantungku terasa melompat-lompat. Aku tidak terkena serangan jantung kan? Pikir Kiba dalam hati.
Wajah Kiba semakin memerah.
Tidak ada cara lain!
Kiba menginjak kaki kanan pemuda itu. Reflek pelukan pemuda itu lepas dan dia menjauh dari tubuh Kiba. Pemuda itu memegangi kaki kanannya. Meringis kesakitan. Kesempatan bagus! Kiba segera naik ke atas pagar dan melompat ke bawah. Kedua mata pemuda itu terbelalak.
"HEI..!" panggil pemuda itu tak percaya.
.
.
-To be Continued-
Author's Note: Chapter 2 akhirnya selesai. Di sini Neji, Ino, dan Zabuza telah muncul.
Sampai jumpa chapter depan. Jangan lupa review ya..! Please..
