Ohayou, Minna-san! Great to see ya again… Desclaimer:
pertama-tama saya berterima kasih kepada computer OSMA (OSIS kalo di sekolah laen…) maklum saya hidup di sebuah pondok tercinta, jadi gak punya computer pribadi ^^a
terima kasih juga kepada kopi Kapal Api yang juga membantu saya agar tidak ngiler di Keyboard…
Di chap ini Ichigo baru nongol…
Bleach – Kubo Taito ^^IchiRuki^^
Beautiful Homework – Zan-Datsu Raiden
Genre: Romance, Drama, Friendship, Hurt/comfort, Humor(kayaknya…), dll.
WARNING!
Typo, Gaje, OOC, dll. …
Chapter 2 When Our Eyes Meet Each Other …
Awan gelap mengahalangi pandangan terhadap langit biru. Burung-burung lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya yang belum di berkahi kemampuan terbang. Cahaya mentari yang selalu menyambut pagi para insan kini jarang menampakkan sosoknya. Sudah dua hari ini langit terlihat mendung, namun tak satu pun tetesan air hujan yang rela mendaratkan dirinya di dataran Karakura.
seorang lelaki tengah menatap kesedihan langit tersebut dari bangku kelasnya. Sesekali ia menggaruk rambut Orange miliknya yang tak gatal. Kebosanan sudah menjalar kedalam pikirannya semenjak kerutang alis permanennya sudah tidak pernah tersinari cahaya matahari lagi. Buku pelajaran yang seharusnya berisi tentang ilmu-ilmu, kini sudah di penuhi dengan Gambar-gambar Graffity yang menunjukan suasana hatinya.
Cuaca ini mengakibatkan pelajaran pertama dan kedua tidak berjalan efektif. Tidak sedikit siswa-siswi yang menghabiskan waktunya dengan bersantai-santai. Bahkan banyak murid yang sengaja datang terlambat. Tampaknya mereka sangat menikmati suasana seperti ini.
terkecuali untuk pemuda berambut Orange bernama Kurosaki Ichigo. Menurutnya hari ini adalah hari yang paling menyebalkan yang pernah ia alami. Disamping dia benci cuaca mendung, waktu yang ia miliki pun terbuang percuma. Bukan berarti Ichigo adalah seorang yang pintar, dia Cuma tidak ingin waktu belajarnya berkurang karena kemalasan para guru.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah 9 pagi. Sudah saatnya beranjak ke pelajaran selanjutnya. Ichigo yakin, kalau di jam pelajaran ini suasananya akan sama saja. Namun untuk kali ini firasatnya salah.
seorang guru perempuan memasuki ruangan kelas 2-1 yang di dalamnya terdapat Ichigo dan teman-temannya. Dengan santai murid-murid menuju banguknya masing-masing. Ichigo bersyukur karena baginya hari ini suasananya akan berbeda. Namun dia kaget ketika melihat seorang gadis pendek yang mengikuti guru tersebut dibelakangnya. Sang amber pun mengamati gadis tersebut. Akhirnya Ichigo mengambil kesimpulan bahwa gadis itu sudah tidak asing lagi baginya.
"Ruki…" Ichigo mencoba untuk menebak apakah pandangannya tidak salah.
"KUCHIKI-SAAAAN!" potong salah satu teman dekat Ichigo bernama Asana Keigo yang membuat telinga Ichigo berdengung karena berteriak di dekat telinganya.
"Itu Rukia, dia sekolah lagi disini…"
"Kuchiki-san kembali…"
"ahh, dia tambah cantik yaa?"
itulah komentar yang keluar dari mulut para murid kelas 2-1. Ada yang mengucapkannya perlahan, ada juga yang sampai berteriak, termasuk Keigo. Rukia yang melihat tingkah laku berlebihan Keigo hanya membalasnya dengan senyuman. Keigo pingsan seketika.
"kalian pasti sudah kenal dengan Kuchiki, jadi tidak perlu di perkenalkan lagi…" kata guru yang mendampingi Rukia semenjak tadi," oke, mulai hari ini Kuchiki akan kembali bersekolah disini… have a nice day, Kuchiki!" sang guru menyemangati Rukia dengan Bahasa inggrisnya yang kebetulan mengajar mata pelajaran tersebut, kemudian meninggalkan kelas baru Rukia. Ichigo mendengus kesal karena harapannya untuk belajar seperti biasa lagi-lagi tidak terwujudkan.
Rukia berjalan menuju bangku kosong yang ada disamping kanan Keigo. Berarti bangkunya terletak di kiri belakang Ichigo. Ketika melewati bangku sang amber, Rukia sengaja menyenggol lelaki tersebut sambil tersenyum usil kepadanya. Ichigo memalingkan wajahnya yang terlihat agak jengkel itu ke arah lain. Rukia hanya tertawa kecil.
"Kau tidak rindu padaku?" Tanya Rukia kepada Ichigo sambil merapikan barang-barangnya di bangku barunya itu.
"Kenapa kau kemari?" jawab Ichigo yang malah balik tanya. Rukia menghela nafasnya karena pertanyaannya di acuhkan.
"Ukitake-san sudah memberiku tugas…" Rukia memotong kalimatnya kemudian menatap amber Ichigo,"hey, kau lihat Urahara-san tidak? Tadi aku ke rumahnya tapi tidak ada orang…"
"mana ku tahu, untuk apa aku memikirkan dia…" jawab Ichigo acuh, "lagipula untuk apa kau mencarinya? Minta modifikasi Gigai?"
"Baka! Untuk apa aku meminta yang begituan?" jawab Rukia agak blush. Maksudnya apa coba? Modifikasi Gigai?
"lalu mau apa?" Tanya Ichigo yang sebenarnya agak penasaran.
"aku mau tinggal di rumahnya…" jawab Rukia tentang alasannya mencari Urahara.
"tumben kau tidak meminta untuk di lemariku lagi…" kalimat Ichigo membuat wajah putih Rukia memerah. Dia mengingat kembali saat-saat masih tinggal di tempat yang sempit waktu di tugaskan pertama kali.
"sudahlah, jangan bahas yang itu…" Rukia tampak semakin blushing karena dirinya pernah tidur satu kamar dengan seorang cowok, walau pun tidak sampai satu kasur. Terlihat Ichigo sedang menahan tawa melihat wajah Rukia.
…
"baiklah, sudah cukup materi hari ini…" seorang guru fisika mengakhiri kegiatan belajar hari ini, "tugas rumah untuk kali ini akan sedikit rumit, jadi kalian akan di kelompokkan masing-masing dua orang…"
seluruh murid di kelas tersebut mengeluh dengan ucapan yang di lontarkan oleh sang guru. Terkecuali Ishida yang memang memiliki otak canggih.
"bapak akan membacakan kelompok…" sang guru mengambil absensi kelas 2-1, "Sado dengan Keigo…"
Keigo yang mendengar itu lang sung menatap Chad, "Chad, kita sekelompok!" sayangnya Chad tidak merespon.
"Mizuhiro dengan Tatsuki…"
Mizuhiro menengok ke arah Tatsuki yang di susul dengan senyumnya, "mohon kerjasamanya, Arisawa-san…"
"Ishida dengan Inoue…" Ishida yang mendengar keputusan tersebut langsung menatap ke arah Inoue yang pada saat itu juga Inoue tengah menatap dirinya.
"ehehe… mohon kerjasamanya, Ishida-kun…" ucap Inoue sambil melontarkan senyumannya.
eh, i-iya.." jawab Ishida yang tiba-tiba salah tingkah ketika matanya tertuju pada wajah manis Inoue.
guru pun terus membagikan kelompok sampai akhirnya…
"dan sisanya kelompok terakhir… tugasnya kerjakan Bab 2 bagian Essay nomor satu sampai sepuluh… selamat mengerjakan!" guru tersebut menutup pembicaraannya dan bergegas keluar kelas meninggalkan para murid.
Siswa-siswi pun tidak mau kalah. Mereka membereskan barang-barang mereka dan pergi meninggalkan kelas. Tampak sepasang mata amethyst tengah memperhatikan kegiatan seorang pemuda berambut Orange.
"ayo pulang…" ajak Rukia kepada Ichigo yang masih sibuk membereskan barang-barangnya.
"eh, Rukia, pasanganmu siapa?" tiba-tiba Ichigo bertanya kepada Rukia yang hamper meninggalkannya.
"pasangan? Aku masih jomblo… kenapa? Mau jadi pacarku?" kata Rukia sambil tersenyum usil.
"bodoh! Maksudku pasangan tugas!" agak kesal juga di jawab begitu. Rukia malah tertawa.
"Gomen… memangnya kenapa?" Rukia masih menahan tawanya.
"namaku tidak di sebutkan…" jawab Ichigo dengan tampang kebingungan. Tawa Rukia kembali meledak, "hey, apa yang lucu!"
Rukia kembali menghentikan tawanya, "wajahmu, jeruk…"
Ichigo mengangkat sebelah alisnya, "memangnya ada apa di wajahku?" Tanya Ichigo yang tidak tahu apa-apa.
"hahaha… haah, lupakan…" Rukia menghela nafas agar tawanya tidak keluar lagi, "namaku juga tidak di sebutkan… tapi kau ingat apa yang dikatakan sensei terakhir kali?" Ichigo hanya menggeleng. Dasar jeruk bodoh!
"sisanya kelompok terakhir… kau mengerti maksudku, 'kan?" jelas Rukia meniru gaya bicara sang guru.
"cih! Berarti kita sekelompok…" akhirnya Ichigo mengerti juga. Rukia tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.
"sudahlah, ayo kita pulang… kau ingin menginap disini?" Rukia menyimpulkan bibir mungilnya dan berjalan ke arah pintu kelas.
"hey, tunggu aku…" Ichigo pun segera menyusul Rukia yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
entah kenapa Ichigo merasa sedikit senang ketika mendengar bahwa Rukia akan menjadi teman kelompoknya.
…
"kau yakin akan tinggal di rumah Getaboshi?" Tanya Ichigo kepada Rukia ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah.
"tentu, memangnya kenapa?" Rukia penasaran dengan pertanyaan Ichigo.
"ah, tidak… hanya ingin memastikan…" kata Ichigo sambil membetulkan posisi tasnya yang membuatnya risih.
"nanti malam aku akan ke rumahmu, kita kerjakan tugasnya disana… sampai jumpa!" sapa Rukia ketika berpisah di perempatan. Seperti biasa, dia menucapkannya sambil tersenyum.
Ichigo menatap pundak mungil Rukia sampai sosoknya menghilang di tikungan.
…
"aku pulang…" Ichigo ke dalam rumahnya. Namun Ichigo kaget ketika melihat sebuah telapak kaki yang tengah menuju ke wajahnya.
DUAGH!
Ichigo terpental dan terguling-guling di lantai Rumahnya sendiri. Kemudian dia bangun dan mengelus wajahnya yang terkena tendangan, "Oyaji baka! Apa yang kau lakukan! Sakit tau!"
Kurosaki Isshin, kepala keluarga Kurosaki, menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia kira putranya akan menghindari serangannya seperti biasa, "tumben kau tidak menghindar… apa ada masalah?"
"memangnya apa urusanmu, bodoh!" segera Ichigo berdiri dan berjalan meninggalkan ayahnya yang terlihat agak cemas, "aku mau mandi!"
tanpa di sadari, kedua adik Ichigo, Yuzu dan Karin, tengah memperhatikan kelakuan ayah dan anak yang tidak wajar itu. Tapi itu sudah biasa bagi mereka.
Ting-Tong!
Bel kediaman Kurosaki berbunyi. Yuzu segera menghampiri pintu rumahnya dan membukakannya untuk sang tamu.
"ingin bertemu denga…" ucapan Yuzu terhenti ketika melihat tamu yang ada di hadapannya.
"Ichigonya ada?"
…
Ichigo P.O.V
Keringat yang mengalir di kulitku berhasil kugantikan dengan air segar yang di muntahkan oleh sebuah Shower. Gerah yang menggerogoti tubuhku kini berubah menjadi sebuah kesegaran. Kuratakan debu-debu yang bersarang di pori-pori kulitku dengan sabun. Penat dan pusing tiada tersisa di kepalaku.
setelah membersihkan diri, aku menatap diriku yang terpantul di cermin kamar mandi. Kuacak-acak rambut Orange-ku agar kembali seperti semula. Kukeringkan badanku dengan handuk yang lembut sehingga tidak tersisa lagi embun-embun sisa mandi yang menempel pada tubuhku.
kakiku berjalan ke arah pintu dan memutar knop pintu tersebut. Secara Instan, aku sudah berada di kamarku. Aku di fasilitasi kamar mandi pribadi walau pun kamarku bukan kamar yang megah seperti para pejabat tinggi, lebih terkesan sederhana karena aku hidup di tengah-tengah keluarga biasa. Tapi aku tidak pernah mengeluh atau keberatan dengan kondisi keluargaku saat ini. Bagiku, kekayaan dan kehormatan bukan segalanya, yang penting aku masih bisa menjalani hidupku layaknya manusia normal. Untuk apa memiliki harta yang berlimpah tapi selalu khawatir?
"KYAAAA!" tiba-tiba kudengar suara jeritan seorang gadis dari arah kasurku. Aku kaget ketika mata Hazel-ku benar-benar melihat gadis sungguhan disana. Tunggu, aku kenal suara ini!
"Ru-Rukia!" segera aku membetulkan posisi handukku yang saat ini sedang menjadi tameng tubuhku satu-satunya.
Ichigo P.O.V end – Normal P.O.V
"jeruk bodoh! Cepat pakai pakaianmu!" tangan Rukia berusaha untuk menghalangi pandangan amethyst-nya terhadap tubuh Ichigo. Namun entah kenapa jari-jarinya tetap saja membuat celah agar mata violet Rukia dapat melihat pemandangan itu. Lebih anehnya, tampak Rukia mencoba untuk mencuri pandangan.
Keduanya tampak blushing dengan alasan mereka masing-masing. "baiklah… eh, tunggu dulu…" Ichigo menghentikan kalimatnya dan mulai berpikir, "APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU! Cepat keluar!" jari telunjuk Ichigo mengarah ke pintu kamarnya.
Rukia beranjak dari kasur Ichigo yang selama ini menjadi tempatnya duduk dan berlari menuju pintu kamar sambil menunduk. Wajah putihnya semakin memerah ketika melewati tubih Ichigo yang hanya tertutupi sehelai handuk.
…
"sudah selesai belum, Ichigo?" Tanya Rukia setengah teriak dari luar pintu kamar Ichigo.
"sudah, kau boleh masuk…" jawab Ichigo yang berada di dalam kamarnya sambil menarik resleting celana jins-nya. Entah kenapa Ichigo memakai celana itu padahal nantinya dia akan tidur.
Rukia membuka pintu kamar Ichigo. Dia melihat Ichigo yang sudah mengenakan kaos hitam bertuliskan 'FRESH TILL DEATH' berwarna keemasan.
Ichigo membereskan buku-buku pelajarannya yang sudah ia pakai hari ini. Dia tidak sempat membereskannya ketika pulang sekolah tadi dan langsung menuju kamar mandi pribadinya, "bukannya kau bilang akan dating nanti malam? Ini 'kan baru jam 5 sore…"
"Urahara-san dan yang lainnya tidak ada di rumah, mangkanya aku kesini…" jelas Rukia sambil menatap kesibukan Ichigo.
"jadi kau akan tinggal di lemariku lagi?" Tanya Ichigo yang baru selesai merapihkan buku-bukunya. Mata Hazel-nya menatap Rukia yang tengah duduk di kasurnya.
"enak saja! Aku sudah meminta izin kepada ayahmu untuk tinggal disini sementara waktu sampai Urahara-san kembali…" jawab Rukia yang membalas tatapan Ichigo.
"lalu?" Tanya Ichigo lagi. Tangannya sedang meraih gagang laci dan menariknya.
Rukia mengambil jus kotak dari tasnya yang sempat ia beli dalam perjalanan kemari, "dia bilang aku boleh tinggal disini selama yang aku suka…" Rukia memasukkan sedotan ke dalam jus kotaknya.
"mudah sekali dia memutuskan… cih!" gerutu Ichigo karena tidak menduga ayahnya begitu mudah memutuskan, "memangnya apa alasanmu sampai kau di perbolehkan tinggal?"
Rukia menghentikan sejenak aktivitas meminumnya, "tidak ada, aku hanya bilang aku mau menginap disini…"
"oyaji bodoh!" Ichigo menggerutu lagi. Rukia tertawa kecil melihat tingkah Ichigo itu, "lalu kau mau tidur dimana?"
"di kamar adikmu…" jawab Rukia singkat dan kembali melakukan aktivitas meminumnya.
Suasana hening. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ichigo tampak sedang mencari sebuah Refill pulpen di lacinya. Sedangkan Rukia masih asyik meminum jus kotaknya. Sampai akhirnya keheningan itu pecah dengan sebuah teriakkan dari ruang makan.
"Ichigo-nee! Rukia-nee! Makan malam sudah siap!" Yuzu memanggil mereka berdua untuk turun ke bawah.
Rukia melempar kotak jus yang sudah ia habiskan ke luar jendela, "kita makan dulu, yuk, Ichigo! Perutku lapar…"
"lain kali kalau membuang sampah jangan sembarangan…" kata Ichigo merasa sedikit kesal.
"hehehe… maaf, lagian kamarmu tidak ada tempat sampahnya, sih…" ucap Rukia sambil meninggalkan Ichigo yang masih mencari Refill-nya sendirian. Namun pada akhirnya Ichigo pun beranjak dari tempatnya dan pergi menuju ruang makan.
…
"waah… kenyangnya…" Rukia puas dengan makanan yang di sediakan oleh keluarga Kurosaki.
"siapa dulu, dong, AYAH…" tiba-tiba Isshin datang dari dapur sambil membanggakan dirinya. Rukia yang mendengar itu langsung tersenyum manis kepada Isshin.
"lho, aku 'kan juga bantu, yah!" Yuzu tidak mau kalah dengan ayahnya. Mendengar itu, Isshin menggaruk kepalanya dan tersenyum.
"kau sudah selesai makan belum, Rukia?" Tanya Ichigo tiba-tiba.
Rukia mengelap mulutnya dengan serbet yang sudah disediakan, "sudah… memangnya kenapa?"
"hee, kau jangan belaga lupa ya…" Ichigo menyeringai gadis amethyst itu.
"ah, iya… aku hampir lupa…" Rukia beranjak dari kursinya dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Rukia-nee, makanan penutupnya 'kan belum…" Yuzu menghentikan langkah Rukia. Rukia kemudian berbalik dan menatap Yuzu.
"ah, benar ju…" Rukia tidak melanjutkan kalimatnya ketika mendengar Ichigo berdehem. Amber-nya menatap tajam Rukia, "apa sih, Ichigo?"
Ichigo mendekatkan mulutnya ke telinga Rukia, "tugas, bodoh…" bisik Ichigo yang membuat Rukia agak geli.
"nanti… aku mau makan es krim dulu dengan Yuzu…" Rukia membalas dengan bisikkan juga.
"makannya di kamar saja…" kata Ichigo kemudian meninggalkan ruang makan keluarganya.
Rukia mendengus kesal dengan perintah Ichigo, "eh Yuzu, aku makan es krimnya di kamar Ichigo saja, ya…"
Rukia berjalan setengah berlari menuju kamar tangga. Namun segera di hentikan dengan Yuzu, "Rukia-nee mau tidur di kamar Ichigo?"
Mendengar panggilan itu, Rukia kembali membalikkan badannya, "tidak, kok… aku Cuma mau mengerjakan tugas sekolah dulu… oh iya, Yuzu, nanti kalau sudah mau tidur, jangan kunci pintunya, ya…"
Kalimat Rukia hanya di balas dengan anggukkan Yuzu.
…
"oi, Rukia… kau punya pulpen lagi tidak?" Ichigo mulai kesal karena sudah lebih dari setengah jam ia tidak menemukan Refill pulpennya.
"punya…" jawab Rukia singkat karena masih sibuk dengan soal yang tengah ia kerjakan.
Rukia dan Ichigo sudah membuat kesepakatan untuk membagi tugas mereka menjadi dua bagian. Rukia mengerjakan 25 soal, sedangkan Ichigo mengerjakan 35 soal. Terdengar tidak seimbang memang. Tapi Ichigo tidak keberatan dengan keputusan tersebut.
"kenapa tidak bilang daritadi…" gerutu Ichigo sambil mengambil tas ungu Rukia, "dimana kau menyimpannya?" Tanya Ichigo sambil mengubrak-abrik isi tas Rukia.
"di saku yang kecil…" jawab Rukia.
Ichigo segera merogoh bagian yang disebutkan oleh Rukia sampai dia mendapatkan pulpen berwarna putih milik Rukia. Segera Ichigo mengambil buku fisikanya dan membuka halaman yang dijadikan targetnya.
Mereka mengerjakan tugasnya masing-masing dengan tenang. Tidak ada satu pun kalimat yang terlontar dari mulut keduanya. Semuanya konsentrasi dengan kewajiban mereka. Sampai akhirnya Rukia yang membenci suasana ini memecahkan keheningan.
"eh, Ichigo… tumben ya tidak ada Hollow…" kalimat Rukia hanya dijawab dengan anggukkan Ichigo. Rukia kembali mengerjakan soal-soalnya yang cukup membuatnya pusing.
Satu jam setengah mereka mengerjakan tugasnya tanpa saling berbicara. Ichigo yang tampak sedang mengerjakan tugasnya dengan serius, menyandarkan punggunnya ke kursi belajar yang sedang dia tempati. Sedangkan Rukia yang sudah mulai mengantuk beranjak dari lantai kamar Ichigo dan berpindah ke atas kasur Ichigo yang masih rapih.
"hei, jangan tidur di kasurku!" Ichigo yang sadar dengan perbuatan Rukia hanya memprotes.
"siapa juga yang ingin tidur… aku Cuma mau pindah kesini, di lantai cukup dingin…" kata Rukia yang kini sudah ada di atas kasur. Kemudian dia kembali mengerjakan tugasnya.
Keheningan kembali merasuki kamar itu. Keduanya kembali diam tak berbicara.
Tak terasa suasana ini sudah berlanjut hingga tiga puluh menit. Ichigo mulai menguap karena sudah tak tahan dengan kantuk yang bersarang di matanya. Dia menatap jam dinding yang enempel di kamarnya.
Sudah jam sebelas malam. Mungkin sudah saatnya untuk tidur. Ichigo menoleh ke arah Rukia yang sudah tertidur pulas. Namun Ichigo tidak marah ketika melihat wajah polos Rukia. Kemudian Ichigo mendekati Rukia yang tidak sadarkan diri itu. Di dekatkannya wajahnya ke wajah putih Rukia, hendak untuk menciumnya.
'tak kusangka, dia secantik ini kalau dilihat dari dekat…' batin Ichigo yang perlahan semakin dekat dengan wajah mungil Rukia. Sedikit lagi bibir mereka akan bersentuhan. Ichigo tak peduli Rukia akan marah. Namun tampaknya nafas berat Ichigo telah menjadi penghambat tujuan Ichigo dan membangunkan gadis itu.
"ngghh…" Rukia terbangun dari tidurnya. Matanya masih sayup-sayup melihat keadaan sekitar. Namun pandangannya langsung menajam ketika melihat wajah Ichigo yang berdekatan dengan wajahnya. Mereka berdua saling menatap.
"UWAAAA!" keduanya teriak hampir membangunkan tetangga. Rukia yang menyadari hal itu langsung mundur dan merapat ke tembok. Sedangkan Ichigo mundur 2 langkah sampai dia terjatuh di atas kursi belajarnya.
Rukia menatap ngeri Ichigo, "kau apa yang kau laku…" Rukia tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihat jam beker di atas meja belajar Ichigo, "ah! Sudah jam sebelas… aku mau tidur…" Rukia langsung beranjak dari kasur Ichigo dan pergi meninggalkan kamar tersebut.
Ichigo masih terdiam. Dia khawatir Rukia akan marah padanya. Dia harus meminta maaf kepadanya. Tapi mungkin tidak malam ini. Ichigo pun segera menuju kasurnya dan memejamkan matanya.
~To Be Continued~
Gimana? Bagus gak nih ceritanya? Maaf ya kalo ceritanya terlalu datar… soalnya Rai sengaja gak ngeluarin konfliknya di awal-awal, biar kalian pada penasaran *di ancem ama readers T-T sebenarnya Rai juga tiba-tiba ngerasa males buat ngetik nih Fic, gak tau kenapa padahal badan Rai sehat wal afiat… tapi ya sudahlah *apa sih… Author mengucapkan banyak terima kasih kepada para Readers yang semangat untuk membaca Fic pertama saya ini, saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali ciuman special saya *Di tabok pake motor x_x'~~
Oh iya, Minna-san… Rai minta doanya nih… Rai lagi ngumpulin duit buat di sumbangin ke kaum Dhuafa… Rai juga kaget pas denger kalo Rai di tugaskan buat nyari dana ama sekolah, padahal Rai gak berbakat dalam hal beginian…
baiklah, setelah membaca fic ini, di tunggu THR-nya… eh, maksudnya Review… hehehehe ^_^a
