Title : Uchiha 1002
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: CANON. Sequel. This is an Indonesian translation of angel puppeteer's story with the same title.
Summary:
Berapa kali kau akan mengatakan 'aku mencintaimu'?
.
.
"Haruno Sakura, apa kau—"
"Sakura."
Kaget, pasangan itu berbalik untuk melihat ke arah pintu masuk. Di sana, Uchiha Sasuke berdiri, merengut dalam, memakai pakaian gelapnya.
Matanya tajam. Tidak… dingin namun sangat tajam. Wajahnya membersut jelas membuatnya terlihat seperti gunung berapi yang siap meletus dan menyemburkan lava. Para tamu undangan menatapnya ingin tahu.
Wow.
Uchiha yang antisosial sudah meninggalkan habitatnya untuk berbaur dan melihat kedua mantan rekan satu timnya menikah.
Dia berjalan menuju mereka, langkahnya pelan namun pasti. Sepasang mata hijau Sakura melebar cemas.
Apa… apa yang dia lakukan di sini?
Sang Uchiha berdiri di depannya seperti bayangan hitam yang menjulang, melihat wajahnya merah menyala penuh ekspresi. Di sebelah pengantin perempuan itu, Naruto menatap ninja bersurai gelap, alis pirang itu menyatu.
"Yo, Sasuke," kata Naruto, "apa—"
Sasuke membersihkan tenggorokannya. "Maaf," wajahnya menggelap, "aku terlambat."
Kerumunan kecil tamu undangan menaikan alis mereka. Benar- benar hal yang akan dilakukan Kakashi. Tapi dia lebih telat dari Kakashi kali ini.
Naruto berhasil mengatasi rasa terkejutnya. "Yah…" dia mengucap pelan, mengedikan bahu bidangnya, "…tidak masalah."
Tapi Sasuke tidak bergerak. Matanya tetap terkunci dengan sepasang mata bingung Sakura.
"Uh…?" Naruto kembali bersuara, bingung.
"Sakura."
Sakura berkedut.
Ini menakutkan baginya. Cara Sasuke menatapnya.
Alis sempurna Sasuke perlahan menyatu saat dia menurunkan kepalanya mendekati Sakura, helaian hitam kebiruan jatuh menutupi matanya. "Kita perlu bicara."
"APA!" seru sang pemuda pirang, "kami sedang dalam sebuah upacara di sini!"
Kali ini, Sasuke meliriknya angkuh. "Lalu?" tanyanya sambil mengangkat satu alis, "aku akan tetap bicara padanya bahkan jika kita sedang ada di tengah perang." Dia menjeda sebelum menyeringai, "Dobe."
Rambut pirang Naruto bergoyang seiring gelengan kepalanya, "Kau—"
Sakura segera memotong. "Kita akan bicara, Sasuke. SETELAH pernikahan."
"Tidak," mata Sasuke kembali pada Sakura, "kita akan bicara SEKARANG." Dengen begitu, Sasuke menggenggam pergelangan tangan Sakura.
"HEY! Dia tunanganku! Kau tidak boleh menggenggam tangannya di hadapanku!" kerumunan tamu mulai cemas. Di barisan belakang kerumunan, Kakashi tersenyum melihat adegan di hadapannya.
Sasuke menyeringai. "Kita akan bicara sekarang." Dia menarik Sakura namun Naruto menahan lengan satunya dan menarik gadis itu padanya.
"Dia tidak akan pergi ke manapun, Teme!"
"Naruto…"
Bibir Sasuke merengut semakin dalam. "Lepaskan, Dobe."
"Kau yang lepaskan, Sasuke!" Sakura teriak, mencoba menarik tangannya.
"Iya, benar! KAU yang lepaskan, Teme!"
Cengkeraman di tangannya semakin mengerat. "Aku bersumpah. Jangan membuat aku memaksamu melepaskannya."
Alis Naruto terangkat. Lalu, dia meringis dan melepaskan lengan Sakura penuh dramatis.
"Baiklah."
Kerumunan itu menatap tak percaya. APA YANG SEDANG TERJADI?
"APA YANG KAU LAKUKAN NARUTO!" teriak Tsunade.
Di sebelahnya, Ino melompat berdiri, taringnya seperti memanjang.
"IYA! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, BODOH!" gadis pirang itu berteriak sambil mengibaskan kepalan tangan.
Sakura menatap Naruto dengan pandangan horor. Wajahnya pasi seperti yang lainnya, rahangnya jatuh. "N-Naruto, apa yang kau lakukan?" dia tersentak. Naruto tersenyum lebar dan melipat tangannya di belakang kepala.
"Melepaskanmu."
.
.
Mata hijau Sakura semakin melebar. "Naruto… jangan lakukan ini padaku! Jangan—" dia memekik ketika Sasuke mulai menariknya keluar dari ruangan.
"NARUTO!" teriak Sakura, menggapaikan tangan lainnya untuk menggapai Naruto.
Namun Naruto hanya melambai ceria padanya. "Semoga bahagia, Sakura-chan!"
"Naruto!"
Marah, Sakura berpaling menatap Sasuke, menatap tajam punggung tegap yang terus menariknya ke suatu tempat. Di sekeliling mereka, penduduk desa menatap penuh rasa keingintahuan. Sakura mencoba menancapkan sepatu hak tingginya ke tanah untuk menghentikan Sasuke namun pemuda itu terlalu kuat.
Frustasi, Sakura berteriak, "Lepaskan aku! LEPASKAN AKU!" pekiknya.
"Sasuke—"
"Diam."
"Lepaskan aku!"
"Tidak," mereka berbelok di satu sudut dan mulai berjalan di jalan bebatuan dengan pepohonan memagari sepanjang jalan.
"Sasuke, aku benar- benar marah!" Sakura berteriak, "hentikan ini!"
Namun Sasuke tiba- tiba berbalik dan menarik Sakura pada tubuhnya. Sakura tersentak saat dia bertabrakan dengan dada Sasuke sebelum menyeimbangkan tubuhnya.
"Sasuke—"
"Pembohong," desisnya gelap.
Dengan sentakan paksa, Sakura melepaskan pergelangan tangannya. "Kau bicara apa?" tangan satunya mulai memijat bekas cengkeraman Sasuke.
"Kau bilang…saat kau menikah, menikahlah dengan orang yang kau cintai."
Mata hijau cerah itu melebar. "Um…" dia menelan ludah dan menghindari tatapan Sasuke. "Itu benar," Sakura melirik Sasuke was-was, "lalu?"
Sakura melihat perubahan ekspresi di wajah tampan Sasuke. Jantungnya berdegup keras saat dia melihat tangan Sasuke merogoh saku celananya.
"Lalu, ini apa?" Sasuke menaikan tangannya, di sela jemarinya adalah—
Sasuke memberikannya pada Sakura. Dia menunduk untuk melihat benda itu dan udara serasa membeku di paru- parunya.
Tidak…
Aku mencintaimu.
Airmata mulai memenuhi matanya.
"Bagaimana…" Sakura membisik, menunduk menatap kertas itu, "bagaimana…kau…mengetahuinya?" poni merah muda jatuh menutupi matanya.
Wajah Sasuke melembut melihat pemandangan gadis di hadapannya. Surai merah muda berjatuhan di sekitar wajahnya, poni menutupi mata dan pundaknya. Dengan lembut, Sasuke meraih tangannya.
"Ikut aku," katanya dengan suara rendah. Sakura menggigit bibir, matanya masih memproduksi hasil emosi yang dia rasakan. Lelah, gadis itu membiarkan pemuda Uchiha membawanya ke—
"Apa—"
Pandangan Sakura mengabur saat airmata mulai mengalir di kedua pipinya. Tubuhnya bergetar, jantungnya berpacu dalam kecepatan yang tidak wajar. Sasuke merasakan detakan itu dalam genggaman tangannya. Untuk seorang gadis sekecil dia, detak jantung Sakura terasa sangat kuat. Perlahan, Sasuke meremas lembut tangan Sakura sebelum melepaskannya.
"Aku berbohong." Sasuke mengaku simpel, mengantongi kepalan tangannya untuk menyembunyikan kegelisahannya. Sakura tidak merespon dan hanya menatap ke belakang tubuh Sasuke. Pada perahu- perahu kertasnya. Sasuke berkedut tidak nyaman saat pandangan Sakura beralih menatapnya.
"Kenapa…k—kenapa kau menyimpannya?" tanya Sakura, bingung, "aku…aku… kau bilang—"
"Aku tidak tahu," jawab Sasuke dengan pandangan menyipit, "saat aku pergi dari Konoha, perahu kertasmu adalah satu-satunya yang aku bawa bersamaku."
"…?"
"…karena, aku—"mata Sasuke menyipit, "aku menyukainya."
Sakura merengut penuh airmata menatap Sasuke. "Kau… kau menyukainya? Hanya itu?"
Hanya itu.
"Sakura—"
Sakura menyeka matanya dengan lengan gaunnya. "Kau… m—membuang waktuku..." Sakura berbalik cepat namun Sasuke meraih bahunya dan kembali membalikan tubuh Sakura menghadapnya.
"Aku tahu," kata Sasuke kaku, "kalau kau benar- benar ingin menikah dengan Naruto, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi… aku—aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyimpan semuanya," tambah Sasuke pelan, hampir terdengar sedih.
Airmata kembali mengalir mendengarnya. Isakkan keluar dari bibir Sakura walau dia berusaha menutupi mulutnya dengan satu tangan. Sasuke menatapnya dengan pandangan menyipit, dadanya terasa sangat hangat dan… menyakitkan. Sasuke mengigit bibir, tangannya melepaskan bahu Sakura. Kebahagian Sakura…apakah dengan Naruto?
Pemikiran itu membuat isi perutnya memutar menyakitkan. Matanya menatap air mata Sakura, ekspresi mata hijau brilian itu.
Sasuke kemudian menyadari bahwa surat- surat itu… itu adalah surat cinta bertahun-tahun yang lalu.
Tahun- tahun di mana Sakura masih mencintainya. Dan tahun- tahu itu sudah pergi.
Hari ini adalah masa sekarang untuk Sakura.
Masa depan. Masa lalu.
Di mana Sasuke berada?
Sasuke melangkah mundur, berpaling dari hadapan Sakura dengan raut wajah terluka. "Maaf," bisiknya di antara gemeretuk gigi. Di dalam saku celana, tangannya mengepal. "Sakura…aku—" Sasuke menunduk, rambut hitam kebiruannya jatuh menutupi matanya, bibirnya menggatup kuat.
"Aku pikir—" Sasuke menggelengkan kepalanya dan menatap Sakura, poni merah muda menempel di pipinya. Mata Sasuke menunjukan kesedihan saat melihat tangisan Sakura.
Sasuke menghela nafas dalam kemudian pundaknya jatuh, menunjukan cara berdirinya yang biasanya. Keegoisan ini, hasrat egoisnya—harapan yang aku jaga selama bertahun-tahun.
"Aku suka tawamu."
.
.
"Aku ingin mendengarnya setiap hari."
.
.
"Jadi, menikahlah denganku suatu hari nanti."
.
.
Itu hanya akan menjadi sebuah harapan.
Bukan kenyataan.
Hanya sebuah hasrat hati.
Sebuah khayalan.
Sasuke menundukan kepalanya. "Maafkan aku," katanya dengan suara rendah, "aku mengacaukan hari ini."
Jeda.
"Aku pikir… ya, aku bodoh sudah membuat asumsi bahwa—"
Jeda.
Menarik nafas.
"—kau mencintaiku," gumam Sasuke. Nafasnya tercekat, "Sakura." Sasuke menatap Sakura, alisnya turun. Satu tangan pucatnya meraih rambut Sakura. Pelan, Sasuke mengelus kepalanya, surai merah muda menyelip jemarinya,
Perlahan, Sakura mengangkat pandangannya, bulu matanya menyatu karena airmata.
Sasuke menyapukan jemarinya lembut sepanjang rambut Sakura. "Apa kau… membenciku?" tanya Sasuke.
Sakura mendongak menatap Sasuke, terperangah dengan pertanyaannya. "Tidak."
Sudut bibir Sasuke mengangkat namun matanya tetap jauh. Sayu. Menderita. Dalam diam berharap. Merindukan.
"Bagus."
Sasuke melepaskan usapan tangannya dari rambut Sakura dan menawarkan tangannya. "Ayo," Sasuke membersihkan tenggorokannya, "…dia menunggumu."
"Sasuke-kun…"
Jantung Sasuke diremas.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"…"
Kenapa?
"Sasuke—"
"Aku tidak tahu."
Sakura memiringkan kepalanya, bingung.
"Tapi aku yakin," Sasuke meraih tangan Sakura dengan kedua tangannya, "denganmu, aku bisa bahagia."
"…!"
"Hanya denganmu."
Jantung Sakura hampir berhenti, kemudian berdetak lebih kencang.
"Aku ingin menjadi orang paling penting untukmu."
Tangan Sasuke mengerat memeluk tangan kecil Sakura.
"…"
Kepalanya menunduk, poni raven menutupi matanya, dan perlahan, Sasuke membawa tangan Sakura pada wajahnya. "Atau setidaknya, menjadi cukup penting untukmu."
Sakura yang tidak jua merespon seperti menaburkan garam pada luka Sasuke yang sudah berdarah. Tangannya mengerat di tangan Sakura, bibirnya menekan keras.
"…Sasuke."
Rahang Sasuke bergerak.
"Aku mencintaimu seribu kali."
Ekspresi Sasuke melembut di balik rambut hitamnya.
"Aku mengatakannya seribu kali."
Sasuke tidak melihat ekspresi Sakura. Matanya membuka saat dia merasakan bibir selembut bulu menekan punggung tangannya. Sasuke menatap wajah Sakura, ekspresi lembut tergambar di sana, mata hijau terpejam. Sepasang bibir yang telah lama ingin ia sesap berada di kulitnya, menghangatkannya.
Kelopak matanya perlahan membuka, menunjukan kehijauan iris Sakura. Rasanya seperti mata hijau itu tersenyum padanya, bibirnya bergerak untuk tersenyum di kulitnya.
Perlahan kehangatan bibir itu meninggalkannya dan Sasuke rindu akannya. Sasuke ingin untuk diselamatkan, untuk dimaafkan, untuk bahagia. Tapi hanya dengan wanita ini, dia bisa mendapatkan semua itu, semua keinginan itu.
Sakura menunjukan senyum lembut, matanya kering dari airmata sekarang. Namun jejak masih tersisa di sudut matanya, bulumata masih menempel. Sakura melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke dan dia melepaskannya. Mata indah Sasuke menatap Sakura yang berjalan menuju tepi danau. Dia menatap punggung Sakura, menunggu.
Tangan Sakura merogoh saku gaunnya.
"Dan aku akan mengatakannya lagi."
"…"
Sakura melirik Sasuke dan tersenyum cantik.
"…"
Sakura menyodorkan tangannya. Di antara jari tengah dan jari telunjuknya adalah sebuah perahu kertas.
Sasuke perlahan tersenyum.
.
.
Berapa kali kau akan mengatakan aku mencintaimu?
.
.
Sakura berbalik menatap Sasuke, sinar matahari merembas melewati bunga merah muda, membungkusnya, membuat rambutnya bersinar dan matanya berkilau seperti permata.
Sasuke memberikan sebersit senyum kecil.
Dengan kepala dimiringkan sedikit, Sakura mengatakan kalimat itu.
.
.
"Aku mencintaimu."
.
.
1001 kali.
.
.
Satu tahun dan lima bulan kemudian.
Sasuke menatapnya dari kejauhan. Dia duduk di sebuah ayunan yang Sasuke buat dua bulan lalu untuk hadiah ulangtahunnya. Ayunan itu menggantung pada dahan tebal dari pohon besar di dekat danau, memberikan Sakura pemandangan sempurna danah dan perahu- perahu kertas.
Untuk sesaat, Sasuke ragu, melihat Sakura tengah menggeretakan gigi pada sulaman jeleknya. Bunga berguguran dari pohon, beberapa menyelip di rambut dan rok Sakura. Angin berhembus pelan, membawa beberapa helai rambut menyapu wajah jelitanya.
Alis Sasuke menyatu saat menyadari bahwa Sakura tengah menyulam kaos kaki hitam dengan pola tomat di sana. Sasuke memutar bola mata melihat tingkah kekanakan Sakura dan tersenyum sombong saat melihat Sakura terlalu keras menekan jarum hingga melukai jarinya.
Bodoh.
"Mou—sakit!" pekiknya dan menyesap jarinya sambil memelototi jarum di tangannya.
Seringai Sasuke melebar. Kekasihnya tidak pernah cakap dalam kerajinan tangan. Bahkan masakannya buruk.
Mengingat alasan dia mencari Sakura, Sasuke mendekat, postur membungkuk, satu tangan masuk ke dalam saku.
"Oi," panggilnya saat sudah sampai di hadapan Sakura. Mata hitamnya mengamati wajah putih Sakura di bawah sibakan poni merah muda, giginya memainkan bibir bawah.
"Mm?"
"Sakura," kata Sasuke, nadanya sebal. Sakura masih tidak juga menatapnya, tenggelam dalam pekerjaannya. Bulumata Sasuke menyatu sambil mendesah, sebal.
"Lihat aku," perintahnya, nada terganggu masih dalam suaranya. Dengan sebuah kerucutan bibir, Sakura mendongak.
"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura manis.
Sasuke berkedip, pipinya merona tipis. Sekarang atau tidak sama sekali.
Berhati- hati agar tidak menyakiti Sakura, Sasuke mendorong sesuatu mendekati wajah Sakura. Terkejut, Sakura memundurkan tubuhnya dan menatap. "Apa—"
Tidak bisa dipercaya. Sasuke-kun memberinya sebuah—
"…boneka beruang!" Sakura berteriak senang, menjatuhkan kaos kaki. Lengannya memeluk boneka berukuran sedang berwarna coklat. Pita merah melingkari lehernya, ditali menyimpul pita.
Mata hijaunya bersinar dengan rasa terimakasih dan Sakura menatap Sasuke dengan senyum lebar. "Terimakasih!" katanya sambil terkekeh, memeluk boneka itu erat, menekannya erat pada lehernya.
Saat lengannya memeluk boneka itu semakin erat, sebuah suara rekaman, jelas, seperti dikatakan secara langsung, mengatakan:
"Aku mencintaimu."
Sakura melompat kaget dan memegang boneka beruang itu sedepa lebih jauh, seperti berpikir boneka itu akan meledak. "Ehhh?" penasaran, Sakura menekan perut boneka itu dengan ibu jari.
"Aku mencintaimu."
Alis mata Sakura terangkat. Suara itu… rendah, solid, tenor dan berat… familiar, sangat familiar.
Sakura menekannya lagi.
"Aku mencintaimu."
Sakura mengedip dua kali. "Sasuke…kun?" katanya tidak yakin, "Sasuke-kun?" ulangnya, berbicara pada boneka beruang itu. Setelah beberapa kali mengedip, Sakura akhirnya yakin.
"Sasuke-kun!"
Sakura mendengar gerutuan dari atasnya. Mata hijaunya mendongak menatap mata obsidian—mata yang amat dia cintai. Sasuke menggerutu seperti anak kecil yang keras kepala, memalingkan kepala ke samping, pipinya merona merah muda dan alisnya menyatu.
Perlahan Sakura tersenyum memamerkan gigi dan dari sudut matanya, Sasuke melihat senyum indahnya. Akhirnya… setelah satu tahun dan lima bulan, Sasuke mengatakan padanya. Tidakkah itu menakjubkan? Dan cara Sasuke mengatakannya sangat modern. Dan Sakura menyukainya. Butuh waktu satu tahun bagi Sasuke mengatakannya…
Senyum Sakura melebar dan tangannya erat memeluk boneka itu.
Wow.
Kekehan kekanakan kembali keluar dari bibirnya. Sakura tidak bisa menahan diri. Kekehannya semakin jelas.
"Hentikan…" kata Sasuke, sebal.
Sakura menutup bibir dengan tangannya untuk menahan tawa. "Aku tidak tahan…"
Sakura meringis. "Ini sangat…lucu."
Sasuke memicingkan mata padanya.
"Tapi," sambung Sakura cepat, "aku menyukainya."
Sasuke menggerutu dan melipat lengannya. Dia menatap Sakura dari balik bulu mata lebatnya dengan pandangan masam. Ekspresi lucu Sakura sebenarnya membuat dia terhibur. Dengan sebuah senyuman, Sakura menatapnya dan mengatakan, "Terimakasih."
Mata hitam Sasuke menyipit tidak nyaman. Ekspresi di wajahnya, menurut Sakura sangat manis. Sasuke menggerutu pelan sebelum berbalik, alisnya datar dan ekspresinya menggelap.
Tanpa sadar, Sasuke menunggu sesuatu yang lebih. Lebih dari sekedar ucapan terimaksih. Karena dia sudah mengorbankan harga dirinya dengan mengatakan kalimat itu… dan kini dia merasa telanjang.
Sial.
Setidaknya dia bisa mendapat sebuah ciuman, kan?
Sasuke menggerutu lagi dan menekuk wajahnya, cemberut.
Dia merasakan pergerakan di belakangnya. Sasuke menaikan sebelah alis kemudian wajahnya melembut merasakan lengan Sakura memeluk tubuh bagian tengahnya, boneka masih dia genggam.
Sudut bibir Sasuke terangkat, merasakan Sakura menekan sisi wajahnya di lengan Sasuke. Surai merah muda menari di pandangannya dan beberapa helai bergabung dengan helai hitamnya.
"Ne, Sasuke-kun," mulai Sakura, "aku juga mencintaimu," bisiknya lembut. Seketika, seringai puas muncul di wajahnya.
…Dia bahkan mendapatkan lebih.
"Kalau begitu," kata Sasuke datar, "menikahlah denganku."
Seringainya melebar saat lengan Sakura jatuh dan melepaskan pelukannya. Sasuke berbalik untuk menatap Sakura dengan jelas dan seringainya berubah menjadi senyuman lebar menyebalkan saat dia melihat wajah Sakura.
"Apa…itu sebuah lamaran?" tanya Sakura lembut, pipinya merona.
Sasuke mendengus dan menegakan tubuhnya sambil melipat tangan, "Bukan."
Alis Sakura terangkat, "Bukan?" ulangnya, bingung, "lalu apa?"
Sasuke mendongak sebelum menunduk menatap Sakura dengan tatapan angkuh, "Perintah."
Sakura mengedip sebelum berkedut menghadapi arogansi Sasuke.
"Kenapa?"
Sasuke merengut, "Kenapa apa?"
"Kenapa kau mau aku menikah denganmu?" tanya Sakura, sangat tajam.
Sasuke menaikan alisnya sambil menatap Sakura dalam diam. Adegan saling tatap mereka berlanjut untuk beberapa saat. Tanpa mengalihkan pandangan dari Sakura, Sasuke mengambil boneka itu dari tangan Sakura, menaikan sampai sejajar dengan wajahnya dan menekan perutnya, menahannya di depan mata Sakura.
"Aku mencintaimu."
Sakura mengedip dan terlihat terkejut untuk beberapa saat, pipinya kembali merah. Kemudian dia tertawa lepas.
"…dan itu."
"Huh? Itu… apa?"
"Hn," Sasuke menunduk, "tawamu."
Sakura menatap Sasuke, bingung. "…tawa…ku?"
"Hn."
Dan Sakura mengingatnya.
"Aku suka tawamu."
.
.
"Aku ingin mendengarnya setiap hari."
.
.
"Jadi, menikahlah denganku suatu hari nanti."
.
.
Sakura tersenyum lembut. "Oh, Sasuke-kun," dia terkekeh dan merangkulkan lengannya pada bahu Sasuke. Sakura menghela wangi tubuh Sasuke dan menekan dirinya semakin dekat padanya. Sasuke memeluknya dengan satu tangan masih memegang boneka beruang, dagunya ia istirahatkan di atas kepala Sakura.
"Sempurna!" Sakura berkata penuh semangat. "aku sedang merajut sepasang kaos kaki untuk kau pakai di hari pernikahan kita!"
.
.
.
.
.
.
Tekan saja.
Dan kau akan tahu.
.
.
Tekan sebanyak 1002 kali.
Kau akan tahu bagaimana perasaanku padamu.
.
.
Kau kalah.
Mou!
Aku mengatakannya sekali. Tapi kau bisa mendengarnya lebih dari 1001 kali. Kau kalah.
Kau jahat!
Aa.
Tapi… kau benar.
Hn.
Aku kalah padamu. Kau sangaaaaaaat pintar, Sasuke-kun!
Aku tahu.
Dan sombong.
Hn.
Aku bisa melipat seribu surat cinta lagi untukmu!
Kau membuang-buang kertas.
Dengan uangmu, kau bisa membelikan aku seribu kertas.
Akan aku belikan.
(Sakura tersenyum)
Aku bisa memberikan apapun yang kau mau di dunia ini.
ThanksTo : ryouta sakura, evjnrs, shiraisi mai, echaNM, ann, Guest, undhoot, Kuro Shiina, sofi asat, chappo, Nurulita as Lita-san, UchiHaruno Misaki, ferrish0407, saradaya, Yuie, si kupret, Bang Kise Ganteng, fansanime, Guest, Hyemi761, yazura, Liana Na, Kodel, adora13, zeededzly. clalucindtha, t-chan, Uchiha Pio, Guest
AN : Untuk yang suka ini, baca juga Everyday dan A Day yap! Itu sama-sama dari angel puppeteer.
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
