Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

"Di sekolah," jawab Sasuke. Ia memindahkan telepon genggamnya ke telinga kiri. "Ada yang harus aku lakukan. Hah? Kalian mau ke sini? Terserah."

Ia mematikan telepon genggamnya, memasukkannya ke saku belakangnya, kemudian memanjat pagar besi yang terkunci. Sekolah memang dikunci setiap hari Sabtu dan Minggu, kecuali dari hari Senin sampai Jumat. Walaupun sedang liburan musim panas, kegiatan klub masih tetap berjalan. Kolam renang sekolah juga diizinkan untuk dipakai. "Merepotkan," ujarnya, meniru trademark salah satu temannya.

Setelah berhasil melewati pagar yang tingginya sekitar dua kali tinggi badannya, ia pun berlari menuju ke lapangan basket. Napasnya terengah-engah ketika mencapai tempat tujuannya. Sasuke mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu, atau seseorang. "Ino!" panggilnya.

Tapi tak ada jawaban. Lapangan itu kosong. Sepi. Hening. Langit pun gelap, awan hitam mulai bermunculan, sepertinya akan hujan. Sasuke mengarahkan kakinya menuju tribun penonton di samping lapangan dan duduk. Duduk di tempat Ino biasa duduk saat ia dan teman-temannya bertanding atau sekedar berlatih basket. Ia memejamkan matanya untuk sejenak, mengingat siang itu.

Flashback

Ia dan timnya sedang bertanding melawan tim basket Suna High School ketika tiba-tiba saja terjadi kericuhan di tribun penonton. Sakura berteriak histeris, Tenten berlari mencari guru UKS, dan Hinata mematung, pucat. Sasuke, Neji, Shikamaru, Naruto dan Kiba meninggalkan lapangan dan menghambur ke arah tribun.

Wajah Ino pucat pasi, tangannya gemetaran mencoba meraih lehernya, napasnya putus-putus dan susah payah. Di sebelahnya tergeletak segelas jus yang sudah tumpah.

Menurut penuturan Sakura, mereka sedang tertawa-tawa ketika tiba-tiba saja Ino mengatakan bahwa penyakitnya kambuh lagi. Hinata menambahkan bahwa Ino sedang meminum jus, dan tersenggol oleh penonton yang lain. Ino terbatuk-batuk, kemudian jatuh dengan tubuh kejang-kejang ke belakang. Sakura berasumsi kalau Ino mungkin saja tersedak, dan jalur pernapasannya bisa saja terhambat. Ino bisa mati.

Sasuke berjongkok, hanya untuk mendapati Ino yang sudah di ambang nyawa. Ia berteriak-teriak meminta semua orang menyingkir—penonton langsung mundur dan ada yang berlari berhamburan. Wajahnya panik, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia bukan seorang dokter. Juga tak berani mengangkut gadis itu, ia pernah diberitahukan dokter kalau hal itu dapat membahayakan komposisi tulang si penderita apabila dalam kondisi kambuh, seperti sekarang ini. Jadi, ia memeluk dan menyandarkan tubuh Ino di tubuhnya, dengan perlahan.

Yang Sasuke bisa lakukan hanyalah menatap pilu Ino di pelukannya, memanggil nama gadis itu sambil terisak. Hinata dan Sakura sudah banjir air mata, takut kehilangan sahabat mereka. Naruto dan Kiba berlari pergi menyusul Tenten yang tak kunjung muncul. Sementara Shikamaru menelepon rumah sakit, Neji menjelaskan perihal musibah yang terjadi dan meminta penundaan pertandingan.

Ino di-diagnosa menderita penyakit 'Spinocerebellar Ataxia' atau SCA sejak usia 13 tahun. Namun, gejalanya baru dimulai saat ia berumur 16 tahun. Ia memang menjalani terapi, karena ia ingin hidup lebih lama seperti ibunya yang juga meninggal akibat penyakit ini. Ia masih menjalani aktivitasnya sehari-hari, termasuk berenang—meskipun pernah tenggelam beberapa kali saat penyakitnya mendadak kambuh. Namun, kali ini dirinya tak tertolong lagi. Penguncian saluran pernapasan akibat tak sinkron-nya otak serta keinginannya untuk bernapas, membuatnya mengembuskan napas terakhirnya. Tepat di saat Orochimaru-sensei datang, diikuti Tenten, Naruto, dan Kiba di belakang.

Sakura menangis histeris, terus meneriakkan kata 'tak mungkin' setelah Orochimaru menjelaskan keadaan Ino. Hinata sudah menghambur ke pelukan Kiba. Tenten menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat membawa Orochimaru. Naruto berusaha tegar, dan menenangkan Sakura. Shikamaru tak dapat berkata apa-apa, dan Neji hanya mematung dengan ekspresi kosong. Orang-orang lain hanya terdiam menyaksikan kejadian itu.

Sasuke? Ia tak percaya. Tak percaya kalau Ino sudah meninggal. Di tempat seperti ini? Tak mungkin! Ino pernah bilang jika dirinya meninggal, maka ia akan meninggal terbaring di ranjang putih bersih yang bertaburan bunga.

Tapi hal itu tak terwujud. Gadis itu meninggal dalam pelukan Sasuke.

###

"OTANJOUBI OMEDETOU!"

BYUR!

Sasuke jatuh terjengkang dari duduknya, tubuhnya basah kuyub. "Kalian..."

Di depannya berkumpul lima pemuda, temannya, yang tertawa terbahak-bahak. Masing-masing memegang balon berisi air. Hanya Naruto yang memegang ember. "Kurang ajar."

CPROOOT!

Sasuke dilempar habis-habisan dengan balon itu, hantaman jarak dekat itu serasa menampar wajahnya. "Woy! Jahitan di jidatku belum kering!" Ia berdiri, mengambil ancang-ancang untuk menghajar kelima pemuda itu.

"LARI!" Naruto melemparkan embernya ke sembarang arah dan berlari turun dari tribun. Keempat temannya berhamburan ke segala arah di lapangan. Ada yang memanjat pagar, ada juga yang memanjat tiang ring basket.

"Argh! Rambutku!" jerit pemuda Neji. Rambutnya dijambak oleh Sasuke dengan beringas.

Kiba tergelak, dan hampir terjatuh dari posisinya. "Ah sial. Tahu tadi tak manjat pagar. Enak sekali kau, Shika!"

Shikamaru menyeringai, ia menatap Neji yang dianiaya oleh Sasuke dari atas ring basket. "Benar-benar mendokusei."

Baru saja Sasuke hendak menendang Suigetsu—yang tiba-tiba muncul untuk menolong Neji—ia dikagetkan oleh deheman seseorang di belakang. Ia berbalik dan mendapati Sakura, Tenten, Hinata, Temari, dan Karin menenteng kue ulang tahun. "Kalian ini... merepotkan diri kalian sendiri." Tangannya satu lagi sekarang menarik-narik hidung Suigetsu.

Sakura terkikik. "Kau kan sahabat kami."

Sasuke terdiam, jambakannya lepas, Neji langsung berlari dan berlindung di belakang punggung Tenten. "Kalian..."

"Selamat ulang tahun, Sobat." Shikamaru—yang entah sejak kapan turun dari tiang—menepuk bahu Sasuke. Naruto yang tadi sembunyi di dalam keranjang bola basket di pinggir lapangan pun sudah merangkul Sasuke. Kiba dan Suigetsu berurutan menerjang Sasuke dari belakang.

"Buat permohonan, Sasuke," ujar Temari.

Sasuke—yang kini menggendong Suigetsu di punggung—menghela napas sebentar, kemudian memejamkan mata dan mengucapkan permohonan dalam hati. Setelah beberapa menit, ia membuka mata dan langsung meniup lilin bertuliskan angka 18. Tepat di saat api lilin padam, petir menyambar tiang basket yang langsung patah kemudian.

"Wha... untung aku sudah turun," pungkas Shikamaru. Matanya terbelalak lebar, kaget. Sama halnya dengan teman-temannya.

"Kita harus pergi dari sini," ujar Sasuke.

"A—"

"Pergi dari sini sekarang juga! Lari!"

Tanpa tahu apa yang terjadi, lima pasangan itu berlarian ketika petir kedua menyambar tanah tak jauh dari mereka. Kue tadi pun sudah jatuh tak berbentuk.

"Kau mau membunuhku? Jangan harap!" Sasuke berlari, memanjat pagar keluar. Begitu ia melompat turun, pagar itu jatuh disambar petir. Ia mendecih kemudian berlari pergi.

"Sasuke!"

"Aku tak apa! Selamat tinggal, semua!" teriak Sasuke dari kejauhan. Dan semoga kita bisa bertemu lagi, batinnya.

Kelima pasang anak muda itu ternganga melihat petir menyambar-nyambar, seakan mengejar Sasuke.

"Kenapa dia mengucapkan selamat tinggal, seolah-olah akan pergi selamanya," ucap Naruto lirih.

Anak-anak muda itu memang pernah melihat kematian. Namun, tak seorang pun dari mereka pernah dikejar oleh kematian.

Terkecuali Sasuke.

###

"Wooo. Kau dikejar siapa, Sasu-chan?"

Sasuke menoleh. Hampir saja ia jatuh terguling melihat siapa yang berbicara dengannya. Kakeknya, si hantu bertopeng itu melayang-layang di sebelahnya, dalam pose tiduran dan bertopang dengan satu tangan.

"Wohoo! Lagi maraton, ya? Ikut!"

Kali ini si hantu berambut oranye berlari di belakangnya. Sasuke tak ada waktu mengomentarinya, ia harus lari. Lebih cepat!

"Eh? Pada ngapain sih?"

Mendadak muncul sebuah skuter matik merah yang dikendarai si hantu berambut merah. Sumpah, Sasuke tak ingin bertemu dengan mereka sekarang!

BRAK!

Sasuke tetap berlari, tak menghiraukan si rambut merah yang menabrakkan motor ke dinding halte. Si hantu bertopeng tetap mengikutinya, sedangkan si rambut oranye sudah berhenti di halte.

"Lebih cepat, Sasu-chan! Tuh di belakangmu!" tunjuk si hantu bertopeng ke belakang. Sasuke refleks menoleh ke belakang, dan sukses jatuh terjengkang beberapa meter.

Sekujur badannya basah berlumuran air genangan. Hujan pun mulai turun membasahi bumi, juga dirinya. Tak ada petir, tapi bayangan hitam bermata merah itulah yang mengejarnya. Sasuke bangkit dan melanjutkan larinya. Kali ini ia benar-benar percaya bahwa yang dilihatnya di tangga rumahnya bukanlah si hantu bertopeng, melainkan makhluk hitam yang di belakangnya sekarang.

Sumpah ia tak mengerti kenapa harus mengalami semua ini. Dan kalau boleh jujur, selama ini ia tak pernah percaya hal-hal seperti ini. Sasuke yang selalu percaya dengan ilmiah, sekarang terpaksa mempercayai bahwa hal non-ilmiah itu ada. Di sekitarnya. Di sini. Sekarang. Mengejarnya di tengah-tengah kota. Untung saja tak ada orang—bagaimanapun juga dalam cuaca begini tak akan ada yang mau keluar barang sejenak—kalau tidak bisa-bisa orang-orang akan menganggapnya gila.

Kenapa harus memusingkan itu? Ia bahkan tak tahu apakah dirinya bisa selamat atau tidak, masih saja memikirkan harga diri. Sekalipun harga diri takkan bisa menyelamatkan nyawanya, setidaknya ia bisa mati terhormat. Ia kan Uchiha Sasuke.

Tapi daripada memikirkan itu, sebaiknya ia mempercepat larinya. Tak peduli sudah berapa ekor kucing yang tertendang olehnya, berapa tong sampah yang ia tabrak, dan berapa kali ia jatuh tersungkur. Pokoknya Sasuke harus segera melepaskan diri dari makhluk hitam itu. Makhluk hitam bermata merah dengan sabit.

"Ma... ti..."

Tengkuk Sasuke meremang. Suara yang terdengar benar-benar dingin, dan berat. Terdengar suram, dan menyeramkan. Suara kaset rusak saja masih lebih bagus!

BRUK!

Ia jatuh lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tapi kali ini ia terjatuh saat mencoba menyeberangi jalan, kaki kanannya tersangkut sebuah lubang di aspal jalan. Sasuke tak dapat menarik kakinya keluar!

Si hantu bertopeng sudah panik tak karuan melihat kondisi Sasuke. Dan tambah panik begitu bayangan hitam itu telah mendekat. Ia berteriak-teriak, di satu sisi tak tega melihat pencabutan nyawa cucunya—ia sudah berulang kali melihat hal seperti itu. Di sisi yang lain ia sedikit senang akan mendapatkan teman baru. Karena tak dapat memutuskan akan senang atau sedih, ia menghilang begitu saja.

Kondisi Sasuke berantakan. Sekujur tubuhnya basah, campuran antara air hujan juga lumpur. Rambutnya yang biasanya mencuat pun tak berbentuk lagi. Ekspresi wajahnya juga tak terbaca. Pucat pasi. Antara ketakutan, kengerian, dan juga penasaran. Takut akan kematian, ngeri akan sosok si bayangan, dan penasaran akan siapa sebenarnya bayangan itu.

Pertanyaannya terjawab begitu bayangan hitam itu mendekat, mengarahkan sabit ke arahnya, dan memamerkan gigi-gigi runcing dan hitam. Insting Sasuke mengatakan kalau makhluk itu adalah malaikat pencabut nyawa. Bukankah kata 'malaikat' itu terlalu suci? Ia menggantinya dengan 'iblis'. Iblis pencabut nyawa.

Tepat ketika iblis pencabut nyawa mengayunkan sabit, sebuah truk melintas menggilas tubuh Sasuke. Mematahkan tulang, tangan-kakinya, dan kepalanya. Hilang. Jiwanya hilang begitu saja. Hilang begitu cepat.

.

.

Tubuh itu hancur berantakan, bahkan tengkorak kepala pun rusak. Tak ada bagian tubuh yang masih utuh, setiap bagian tubuh terpisah dan terpotong, berhamburan kemana-mana. Sebagian daging ada yang menempel di ban truk.

Pengemudi truk ditahan akibat tuduhan pembunuhan karena kelalaian, mengemudi dalam kondisi mabuk. Tuntutan dari keluarga korban sempat dilayangkan ke pengadilan, tapi setelah beberapa lama tuntutan itu dicabut. Tak ada yang tahu mengapa, dan proses hukum tetap berjalan dengan atau tanpa tuntutan.

Seluruh keluarga merasa kehilangan, juga para sahabat. Kenapa harus meninggal dengan cara seperti itu? Pertanyaan itu selalu dilontarkan setiap teringat akan si mendiang.

Kematian adalah hari yang ditakuti sebagai hari yang terakhir, tapi kematian juga adalah sebuah kelahiran yang abadi. Kematian seseorang yang disayangi akan selalu mengingatkan kita bahwa kita masihlah hidup.

Kematian adalah hal yang umum terjadi, sebanding dengan kelahiran. Jiwa yang diambil di saat mati akan diberikan kembali di saat lahir, itu adalah sebuah siklus mengenai jiwa untuk orang yang mempercayainya. Ada juga yang mengatakan bahwa ada kehidupan setelah kematian, bukan di dunia tempat kita tinggali. Itu juga adalah suatu kepercayaan.

Tapi percayalah, saat kita memilih untuk terlahir, kita harus siap untuk mati. Kematian adalah pilihan, terkadang juga datang begitu saja. Hidup itu tak panjang, nikmatilah.

###

Mikoto menyusuri ranjang anaknya dengan tangan kanannya. Disentuhnya perlahan setiap jengkal yang ada. Ranjang di mana anaknya biasa tidur, sekarang kosong. Bantal guling kesayangan anaknya, sekarang tak akan dipeluk lagi. Selimut berwarna biru tua dengan corak tomat itu juga tak akan menghangatkan tubuh anaknya lagi. Anaknya sekarang sudah menjadi abu, yang kemudian ia taburkan sendiri di nisan gadis yang dicintai anaknya.

Ia berpindah menuju lemari baju, membukanya, dan mengamati isinya. Seragam sekolah, kaus, kemeja, celana, dan beberapa setelan formal—semuanya didominasi warna gelap, kecuali seragam tentunya. Diraihnya kaus hitam kesayangan anaknya yang sudah agak lecek karena keseringan dipakai. Harum citrus tercium dari baju itu, wangi kesukaan anaknya.

Ia beranjak menuju meja belajar anaknya. Duduk di kursi anaknya, memandang ke luar jendela. Pertengahan musim panas, tapi hujan saat ini sedang turun, seolah mengerti akan kesedihannya. Air mata menetes dari kedua sudut matanya, merembes jatuh menetesi meja itu. Saat ia menunduk, ia melihat sebuah kertas menyembul keluar dari laci meja. Maka ia pun membuka laci itu, menarik keluar secarik kertas yang kedua sisinya ditulisi. Ia mengenal tulisan itu. Itu tulisan tangan anaknya. Tulisan Uchiha Sasuke.

.

.

Siapa pun yang membaca surat ini, ketahuilah bahwa aku pasti sudah meninggal. Bagaimana aku bisa tahu dan yakin akan meninggalnya diriku sendiri? Aku melihatnya. Aku melihat bayangan hitam itu lagi tadi sore di bus yang akan Itachi dan aku tumpangi. Aku tak yakin itu apa, tapi dari buku yang akhir-akhir ini kubaca, itu adalah kematian. Di saat seseorang akan mati, maka dia dapat melihat. Dan aku melihat. Awalnya aku belum menyadarinya, tapi setelah kejadian hari ini aku sangat yakin sekali, walau ada sisi dalamku yang tak ingin mempercayainya.

Selain itu aku juga melihat Ino. Aku melihatnya meski bentuknya tak jelas. Aku yakin dia ingin memberitahukanku sesuatu di pemakaman tadi, tapi aku tak melihatnya lagi.

Orang-orang menganggapku gila karena itu. Keluargaku, dan sahabatku, semuanya tak tahu apa yang kulihat. Seandainya saja mereka melihat apa yang kulihat, kurasa mereka akan langsung menawarkan diri untuk dikurung di rumah sakit jiwa.

Selain itu, di rumah ini juga ada. Saat ini, makhluk tak jelas itu sedang berlarian di halaman belakang sambil berteriak-teriak. Berisik sekali, menggangguku saja.

Kuharap yang membaca ini bukan Ibuku, aku yakin kertas ini akan basah karena air matanya. Dia itu cengeng, tapi dia Ibu terbaik untukku. Aku juga tak ingin kertas ini dibaca oleh Ayahku ataupun Kakakku yang alay itu, bisa-bisa kertas ini ditelan mereka.

Besok adalah hari ulang tahunku, dan perasaanku tak enak. Entah mengapa rasanya aku yakin sekali kalau besok aku akan mati. Tapi kuharap sebelum itu terjadi aku dapat bertemu dengannya sekali saja. Aku ingin bertemu dengan Ino. Sekalipun hanya dapat melihat wajahnya, aku rela mati setelah itu. That's my birthday wish.

Musim panas tahun ini adalah musim panas paling menegangkan seumur hidupku. Kurasa banyak kejadian yang kualami setiap musim panas. Meninggalnya Ino adalah musim panas yang paling berat untukku. Suatu saat nanti, aku ingin pergi berdua dengannya. Pergi melihat kembang api, tahun lalu kami tak sempat melihatnya. Kuharap, musim panas akan selalu menjadi musim yang indah suatu saat nanti. Saat di mana aku melihat orang-orang yang kusayangi berbahagia.

Aku menyayangi keluargaku, sahabatku, dan juga Ino. Aku menyayangi kalian.

22 Juli 20xx

Uchiha Sasuke

~Owari~

Surat Cinta dari Author:

# SCA: Penyakit rusaknya jaringan otak kecil dan saraf tulang belakang, menyebabkan lumpuhnya sistem motorik secara bertahap. Kasus SCA pada umumnya karena faktor keturunan, atau mutasi gen. Belum ada obatnya, baru ada terapi sesuai dengan gejala yang dialami. Biasanya gejala dimulai saat beranjak dewasa.

Buat yang udah pernah baca, ini saya re-publish sebenernya. En yang ga tau why saya re-publish, check out di bio profile saja ;)

Silakan dibaca! Sebelumnya, mind to RnR?

Ps. Menerima concrit!

~Epilogue~

"Sad men made angels of the sun, and of the moon they made their own attendant ghost. Which led them back to angels, after death."

Seorang wanita berambut indigo menengok ke belakang. "Sasu-kun, sedang membaca apa?"

Bocah berusia 4 tahunan itu mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pegang. "Puisi 'Evening Without Angels' karangan Wallace Stevens!" jawabnya riang. "Tou-chan, sudah sampai belum, sih?"

Seorang pria bertato segitiga di pipi yang sedang berada di balik kemudi menoleh sebentar pada anaknya. "Tinggal belok di sana kita sudah sampai, Sasuke."

Sasuke melompat-lompat kegirangan di jok mobil belakang. Buku puisinya sudah jatuh tergeletak di lantai mobil. Begitu mobil berhenti, ia segera melompat turun dan berlari melewati ayah ibunya.

"Eits! Inuzuka Sasuke! Tidak boleh berlari-larian di Rumah Sakit!" bentak sang ayah, sambil menjewer telinga Sasuke.

Sasuke menggembungkan pipinya, mata onyx-nya berkilat-kilat. "Sasuke kan mau lihat bayinya Sakura-bachan!"

Wanita berambut indigo itu terkikik geli, kemudian menggendong Sasuke. "Ayo, biar Kaa-chan gendong."

Keluarga kecil itu pun masuk ke dalam rumah sakit, dan menuju ruang pasien tempat Sakura berada. Setelah sampai di depan pintu, Sasuke meronta-ronta meminta diturunkan.

Sasuke berlari masuk, dan menabrak kaki seorang pria berambut kuning di hadapannya. Ia mendongak sambil mengusapi hidungnya yang memerah. "Gomen, Naru-jichan! Sasuke tidak sengaja," ujarnya sambil memasang wajah tak berdosa.

Naruto berjongkok agar menyamai tinggi bocah berambut hitam mencuat-cuat itu. "Sasuke, mana Ayah dan Ibumu?" Sasuke menunjuk ke arah pintu. "Hoy, Kiba! Hinata!"

Sasuke melanjutkan larinya menuju ranjang pasien, di sana seorang wanita berambut soft pink berbaring santai. Ia memanjat kursi dan mencolek-colek pipi wanita itu. "Sakura-bachan~"

Sakura menoleh. "Eh, Sasu-kun. Datang melihat bayi Ba-chan?" Sasuke mengangguk. Ia mengacak-acak rambut Sasuke dengan tangan kirinya, kemudian menyuruh Sasuke agar jangan terlalu berisik karena bayi sedang tidur di sampingnya.

Sasuke mengangguk lagi, ia membentuk tanda 'X' dengan kedua jari telunjuknya di mulutnya. Sakura tertawa kecil melihat tingkahnya dan memindahkan bayi mungil yang berbalut kain biru ke hadapan bocah kecil itu.

Mata Sasuke membulat demi menatap bayi perempuan berkulit putih susu dengan sedikit rambut pirang. Ia semakin takjub begitu bayi mungil itu mendadak membuka mata, menatapnya dengan iris aquamarine cemerlang itu. Rasa-rasanya ia seperti tersihir. "Malaikat..." gumamnya. Sakura, Naruto, Kiba, dan Hinata menatapnya dengan heran.

"A-ano. Adik bayi... cantik. Seperti malaikat," ujar Sasuke sambil tersipu-sipu.

"Nama adik bayi siapa, Ba-chan?"

"Ino. Namikaze Ino." Sasuke langsung memekik. "Kenapa, Sasu-kun?" tanya Sakura bingung.

"Sepertinya aku pernah dengar nama itu, tapi dimana, yah?" Sasuke memasang wajah bingung, digaruknya kepalanya yang sengaja ia miringkan ke samping sambil menggumam tak jelas.

"Aku tak tahu kalau anakku jadinya seperti itu," kata Kiba, curhat. Ia duduk bersebelahan dengan Naruto, sementara Hinata baru saja beranjak untuk melihat Ino. Naruto hanya tertawa.

.

.

"Ugh, toilet di mana, ysih?" ringis Sasuke, menahan pipis. Ia sedang berada di lorong rumah sakit. Tadinya ia dengan percaya diri mengatakan bahwa ia bisa ke kamar mandi sendiri. Sekarang ia malah tersesat. "Adududuh. Sasu tak tahaaaaan lagi." Ia melompat-lompat kecil, sampai membentur tembok.

"Adik kecil mau ke toilet?"

Sasuke berbalik—kedua tangan tetap memegang bagian pahanya. Seorang wanita berambut hitam panjang dengan iris mata merah tersenyum lembut padanya. "Uh, iya."

"Ayo, Tante antar. Daripada ngompol di sini, bisa gawat."

Maka Sasuke pun menurut. Ia dituntun menuju toilet. Begitu sampai, ia langsung masuk setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Setelah selesai, ia keluar dan tak mendapati siapa pun di luar. Tak mau ambil pusing, ia berlari-lari kecil kembali ke ruang Sakura dirawat.

"Sudah selesai pipisnya?" tanya Hinata begitu Sasuke menginjakkan kaki ke dalam ruangan. Sasuke mengangguk. "Cuci tangan, tidak?" Dan Sasuke mengangguk, lagi. "Anak Kaa-chan memang pintar."

Sasuke kembali ke tempatnya semula, berdiri di atas kursi dan memandang Ino berlama-lama. Tiba-tiba Ino mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali, membuatnya bingung. Ia celingukan kesana kemari. Orangtuanya sedang berbincang dengan Naruto, sedangkan Sakura tiduran.

"Egh. Ba-chan yang tadi!" Sasuke melambai-lambaikan tangannya dengan girang ke arah pintu. Ino sepertinya tertawa senang.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Kiba, ia melihat arah yang ditunjuk Sasuke. Tak ada siapa-siapa.

"Itu Ba-chan yang tadi mengantar Sasu ke kamar mandi. Orangnya baik deh!"

Kiba menajamkan mata, tetap tak ada siapa-siapa. Ia menoleh pada Hinata. "Istriku, kurasa sebentar lagi aku akan pingsan."

Sasuke sepertinya mendapatkan teman baru, yang tak bisa dilihat oleh orang biasa. Ino, mungkin bisa melihat.

Memangnya kau tak bisa melihatnya?

~The End~