Terimakasih yang sudah mau review cerita saya, saya balas lewat pm yaaa =)
Yosh, ini adalah Chapter 2 dari HB FT, fufufu.
Selamat membaca, minna!
DON'T LIKE, DON'T READ
Happy Birthday Fairy Tail
Chapter 2 : Erza Scarlet
Disclamer : Hiro Mashima
Pairing : Jellal&Erza
Maaf kalau jelek yaa :)
Story by : Bii Akari
"Siapa?", tanyaku kaget.
Aku tak mempunyai keluarga diluar sana, dan aku rasa aku juga tak punya teman atau siapapun yang akan mencariku jauh-jauh saat ini, jadi, siapa?.
Pria berambut pink itu mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu.
"Hanya seorang anak kecil", jawab pria berambut biru disampingnya sambil memakai bajunya, nampaknya dia sadar dia sedang tak pakai baju tadi.
"Gray-sama", ucap Juvia histeris.
"Baiklah, aku keluar dulu", aku melangkah menuju pintu gerbang Fairy Tail.
Seorang anak kecil?.
Aku celingukan mencari kesana-kemari, tapi tak kutemukan juga sosok anak kecil yang dikatakan Gray tadi, apa mereka mengerjaiku? Tidak lucu.
"Kakak kakak", aku merasakan tarikan kecil di rok biruku, kali ini aku memang tidak memakai baju zirah itu.
Aku menoleh kebawah, dan kudapati, seorang anak laki-laki berambut biru muda yang sedang tersenyum manis kearahku, Jellal?.
Bukan, hanya mirip.
"Karei", seorang anak perempuan berambut merah sebayanya memanggilnya riang sambil melambai kearahnya dari jauh.
Anak lelaki itu ikut melambai padanya.
"Erza-nee, ini dari kakak disana", anak lelaki itu memberikanku setangkai mawar merah lalu menunjuk-nunjuk pohon diseberang sungai itu.
"D-dari mana kau-", dia lalu berlari menuju kearah gadis kecil tadi yang menyambutnya riang sebelum aku sempat bertanya.
Tak ada salahnya melihat siapa yang memberikanku bunga ini kan?
Meski rasanya tak mungkin.
Tapi, hatiku terus berbisik, berbisik namamu, kau tahu?
Mungkin aku memang begitu menginginkanmu.
Aku tersenyum kecil sambil terus berjalan menyeberangi jembatan kecil ini.
Aku sampai.
Tak ada siapapun disini.
Aku agak kecewa, tapi, anak kecil tadi tak mungkin berbohong.
"Lama tak berjumpa, Erza", suara itu.
FLASHBACK
Aku sudah melakukan pekerjaanku dengan baik, seperti biasa.
Aku pun berjalan menyisiri alun-alun kota ini dengan pelan, masih pagi, aku bisa sedikit santai.
"Hei, kau dengar, katanya ada penjahat yang dibebaskan kemarin", ucap seorang pria kepada pria yang berjalan disampingnya.
Aku berjalan sedikit lebih lamban untuk mendengar percakapan mereka.
"Oh, maksudmu pria yang pernah mencoba menghancurkan dunia dengan meledakkan R-system itu?", tanya pria yang satunya.
"Iya, katanya dia sangat hebat, dialah yang menghancurkan dewan sihir, aku jadi ingin bertemu dengannya"
"Ih, kalau aku sih, tidak mau, aku takut dibunuh olehnya, berhati-hatilah, katanya dia berambut biru"
"Iya juga, berambut biru? Aku akan mengingatnya"
R-system? Rambut biru?
Jellal?
Apa mungkin kau sudah bebas?
Sedikit senyum menghiasi wajahku.
Sesampainya di guild, aku segera menyimpan barang-barangku ke dalam kamar dan mengganti baju zirahku dalam sekejap.
"Ah, senangnya sampai rumah", aku segera menghampiri bar yang dihuni oleh Mira, Lucy, dan Juvia.
"Selamat datang, Erza. Bagaimana perjalananmu?", sapa Mira ramah dengan senyumnya yang manis.
"Seperti biasa, dimana kakek? Aku ingin melaporkan pekerjaanku", inilah kewajiban kami setelah selesai melakukan pekerjaan.
"Dia masih diluar, katanya ada urusan. Duduklah dulu, akan aku buatkan minuman, kau pasti lelah", dia tersenyum lagi.
"Terimakasih", aku membalas senyumannya lalu duduk disamping Cana.
"Ada apa ini, kenapa ribut sekali?", tanyaku bingung.
"Biasa, para pria itu mulai mengacau", jawab Lucy.
"Jadi mereka bertengkar saat aku tidak ada, awas saja. Pasti Natsu dan Gray yang memulainya", padahal sudah berulangkali aku katakan, jangan berani mengacau saat aku tak ada.
"Hei, apa kalian tidak bisa diam?!", bentakku sekeras-kerasnya.
Mereka semua segera berhenti bertarung, saling memandang, lalu diam.
"Cepat bereskan tempat ini, saat aku kembali, aku mau tempat ini sama seperti saat aku tinggalkan kemarin", ancamku dingin lalu segera kembali menuju bar.
Dapat kudengar dengusan kesal mereka dari jauh.
"Kau hebat Erza", puji Lucy.
"Yaa, seandainya Juvia seberani itu untuk mengatakan perasaan Juvia", wajah Juvia mulai memerah lagi, pasti dia menghayalkan yang tidak-tidak.
"Ah, itu biasa saja", jawabku santai.
"Ini dia", Mira memberikan segelas minuman padaku.
"Terimakasih, Mira"
"Apa ada yang melihat Gajeel?", Levi muncul dari arah perpustakaan.
"Dia pasti sedang sibuk membereskan aula sekarang", jawab Lucy.
"Membereskan? Apa mungkin?", Levi kemudian duduk disamping Lucy.
"Ini perintah Erza, percayalah", Cana lalu menyingkirkan bir yang dari tadi dipeluknya, pasti sudah habis.
"Ohiya, aku selalu merasa Levi dan Gajeel itu cocok", ucap Mira semangat.
"A-aku t-tidak", wajah Levi sudah semerah tomat sekarang.
"Sudahlah, Levi. Mengaku saja, kau menyukainya kan?", goda Lucy.
"Juvia tidak menyangka Levi mencintai Gajeel"
"Aku tidak-"
"Lalu kenapa kau selalu mencarinya?", aku segera memotongnya, kali ini kau akan terjebak Levi.
"A-aku hanya-", Levi kehabisan kata-kata, dia lalu memainkan ujung jarinya dengan gugup.
"Sudahlah Levi, tak apa, kita kan sama-sama wanita", Lucy mencoba menghibur sahabatnya itu.
"Iya, jujurlah pada kami, tak ada yang akan membocorkannya", timpal Cana.
Kali ini wajahnya bertambah merah.
"Huh, aku sungguh bosan", Evergreen datang dengan tampang lesu.
"Kau sendiri? Mana kedua sahabatmu itu?", tanyaku.
"Mereka sedang berkencan", dia lalu duduk disampingku.
"B-berkencan?", Juvia lagi-lagi membayangkan sesuatu yang tak seharusnya yang membuat wajahnya memerah, lagi.
"Tidak, aku bercanda. Mereka sedang mengambil pekerjaan, aku sedang tak ingin ikut. Tolong minumannya, Mira", Eve lalu memperbaiki letak kacamatanya.
"Ayolah Carla, kita ambil saja pekerjaan itu", rengek Wendy.
"Tidak, itu terlalu berbahaya buatmu", tegas Carla.
"Duduklah kalian berdua, aku akan membuatkan kalian minuman", ucap Mira dengan senyum andalannya.
"Terimakasih, Mira", ucap mereka bersamaan sambil menunjukkan senyum terbaik mereka.
"Seandainya saja ada Lisanna, Bisca, Laki, dan Kinana, kita sudah lengkap", ujar Lucy bersemangat.
"Laki dan Kinana sedang pergi untuk membeli persediaan makanan, mungkin mereka baru akan kembali besok, sayang sekali. Sementara Lisanna sedang mengambil pekerjaan bersama Elfman. Dan aku belum melihat Bisca seharian ini", ucap Mira sambil menyuguhkan minuman untuk Eve, Wendy, dan Carla.
"Yah, jarang sekali kita berkumpul bersama seperti ini", Bisca datang lalu segera duduk disamping Wendy.
"Benar", ucap Mira. Kami semua lalu tertawa.
"Ohiya, aku tadi mendengar teriakan Levi, sepertinya kalian membicarakan hal yang seru?", kali ini Eve yang membuka perbincangan.
"Ini rahasia", ucap Mira sambil memberikan minuman Bisca.
Kami semua mengangguk setuju.
"Levi ternyata mencintai Gajeel", terang Lucy blak-blakan.
"Tidaaaak", wajah Levi mulai memerah.
"Lihat wajahmu sayang, kau pasti sangat menyukainya", ucapan Bisca benar-benar membuat wajah Levi memerah dua kali lipat.
"Sudahlah, kita semua sudah tahu", tambahku.
"Juvia pikir kalian pasangan yang serasi"
Kami semua membenarkan.
"A-aku malu", ucapan Levi membuat kami semua tertawa.
"Wendy, kau belum pantas ada disini", tegur Carla.
"K-kenapa? Aku juga bagian dari guild ini", jawab Wendy.
"Tapi kau masih kecil", lanjut Carla.
"Tak apa, sebentar lagi dia akan dewasa", Cana tersenyum kecil kearah Wendy.
"Terimakasih, Cana", semburat merah terpancar dari wajah polosnya.
"Tapi, apa Wendy pernah suka pada seseorang?", ucapan Lucy sontak membuat wajah Wendy memerah.
"T-tidak", ucapnya gugup.
"Kau masih kecil Wendy", ucap Carla dingin.
"Hanya saja, aku kagum pada seseorang", ujarnya polos.
"Kagum itu tak apa, Wendy", Carla tersenyum melihat mata gadis polos itu.
"Pada Jellal Edolas?", tebak Lucy.
Wendy mengangguk.
"Kau tentu tak akan cemburu kan, Erza?", Cana menyikut pelan lenganku.
Aku berbalik, menatapnya lembut, lalu menjawab.
"Tentu saja tidak", jawabku tenang.
"Tentu saja Cana, yang Erza cintai adalah Jellal dunia kita", Bisca mulai buka mulut.
BINGO
Aku yakin wajahku sudah merah sekarang.
"Jadi, Erza mencintai Jellal?", tanya Levi penasaran.
Lucy mengangguk-angguk.
"Juvia sudah tahu itu, karena itu, Juvia percaya, Erza tidak akan merebut Gray-sama dari Juvia", dia juga ikut mengangguk-angguk.
Cana tertawa lebar.
Sementara aku, aku masih menyembunyikan wajahku dibalik rambut merahku yang tergurai.
Levi juga ikut tertawa bersama Wendy dan Carla.
"Tak perlu malu begitu, Erza", Bisca tertawa kecil.
"Ayolah Erza, katakan sesuatu", ucap Mira disela-sela tawanya.
Aku memandang mereka bergantian, lalu tersenyum lembut, "Aku berharap dia membalas perasaanku", entah mengapa, aku mengatakan hal itu yang pasti membuat wajahku bertambah merah.
"Dia pasti mencintaimu juga", ucap Mira yakin.
Yang lain menyetujuinya.
Terimakasih, teman-teman, aku pun tersenyum.
"Astaga, aku belum pernah bertemu Jellal, bisa kau ceritakan, dia pria seperti apa? Aku penasaran", Bisca meneguk minumannya, menunggu pertanyaannya terjawab, bukan, mereka semua menunggu.
DEG
Apa yang harus aku katakan?.
Bilang saja yang sejujurnya, Erza.
"Dia, dia orang yang sangat hangat, kau akan tahu hanya dengan menatap mata onyx nya. Dan menurutku, ini hanya menurutku yah, dia itu, err, tampan, meski rambut azure nya agak berantakan, justru itu yang membuatnya terlihat seksi- ups", aku menutup mulutku yang tak sengaja mengeluarkan kata terlarang itu, sial.
Aksiku itu sukses membuatku mendapat tatapan nakal dan seruan dari mereka.
"Dan tatoo di pipi kanannya membuatnya terlihat, manis mungkin. Yah, begitulah", tambahku kikuk, mereka bertepuk tangan.
"Terlihat jelas kau sangat mencintainya, pria berambut biru itu beruntung", ucap Eve.
"Kau benar", ucap mereka serempak.
"Kalau berbicara tantang biru, aku jadi ingat-", apa? Aku memandang Mira dengan tatapan bertanya.
"Happy", ucapnya pada akhirnya, aku dan yang lainnya sweatdropped.
"Happy?", Carla lah satu satunya yang tersentak mendengarnya.
"Ehm, menurutku dia kucing yang cukup baik", ungkapku, aku harap mereka mengerti maksudku, ayolah.
"Iya, dia juga sangat rajin, dia sering membantuku", tambah Mira, nampaknya dia mengerti.
"Yah, dan dia cukup berani untuk seekor kucing", Lucy sepertinya mulai mengerti.
"Tentu saja, dia sangat riang, aku suka semangatnya itu", lanjutkan teman-teman.
"Juvia juga pikir dia cukup tampan, rambutnya biru seperti Gray-sama", ya ampun, setidaknya itu sedikit membantu Juvia.
"Dan jangan lupa kalau dia seekor kucing yang penyayang", bagus Bisca.
"Yah, meski sedikit menyebalkan. Dia cukup menyenangkan", tambah Eve.
"Dia kadang-kadang menghiburku saat sedang bosan", ucap Cana, bagus, sedikit lagi.
"Dan aku rasa, dia sangat menyukaimu, Carla", ucap Wendy polos.
BINGO
Hebat Wendy, kau memang sungguh hebat.
"A-apa?", Carla memalingkan wajahnya dari tatapan kami.
"Carla, ayolah, jujur saja", bujuk Bisca.
"Iya, kita sudah berjanji tak akan membocorkannya", lanjut Cana.
"Aku berharap kau mau menerima perasaan Happy, kasihan dia", ucap Lucy.
"Iya, aku rasa dia sudah sangat perhatian padamu, Carla", Wendy juga ikut meramaikan.
"Jadi?", Mira nampak sungguh penasaran dengan kisah cinta mereka.
"S-sebenarnya-", dia terlihat sangat gugup.
"Aah, kami mengerti", ucap kami bersamaan.
"Sudah jelas bukan", aku tersenyum geli.
"Baiklah, lalu siapa selanjutnya, bagaimana denganmu Lucy?", ucap Mira riang, bukankah sudah jelas?
"Eh, aku?", dia nampak begitu bingung.
"Ayolah, semua orang penasaran dengan hubunganmu, Natsu atau Gray? Atau mungkin Hibiki atau Loke yaa?", tanya Mira menggebu-gebu.
"Aku dengar kau pernah mandi bersama Natsu dan Gray?", Eve tampak penasaran.
"I-itu, mereka memang sering melakukannya, tapi aku tak ada disana, percayalah", Lucy membela dirinya.
"Benarkah, Lu-chan?", Levi menatapnya curiga.
"Benar, dia memang tak ada disana. Kami hanya bertiga saat itu", ucapku sambil meminum minumanku.
"Apaaa?", mereka menatapku dengan tatapan, OH GOD, lalu langsung membeku beberapa saat.
"Kenapa?", aku memandang mereka bingung.
Apa aku mengatakan hal yang salah?
"K-kau mandi dengan Gray-sama", Juvia mulai pinsan, pasti karena membayangkan hal yang aneh, untung Lucy segera menangkapnya.
"Erza, kau sadar melakukannya? Bagaimana jika Jellal tahu? Dia pasti akan marah", tegur Bisca.
Iya juga sih, tapi Jellal adalah sosok yang pengertian, dia pasti mengerti.
"Tentu saja, itu adalah hukuman karena mereka malas mandi. Lagipula tak terjadi apapun disana, tenanglah", aku mengucapkannya dengan santai, tanpa beban sedikitpun.
"J-juvia, Juvia juga mauu", Juvia sudah sadar dan mulai menghayalkan yang tidak-tidak lagi, dengan wajah yang begitu merah.
"Tenanglah Juvia", Mira berusaha menenangkannya.
"Sudah pasti itu Natsu", kali ini aku berhasil membuat mereka tercengang, lagi.
"Iya kan Lucy?", lanjutku. Semua mata tertuju pada Lucy sekarang.
"Aa-apa?", wajahnya mulai memerah.
"Yaa, Lucy, ternyata memang Natsu", goda Mira.
"Aku tak menyangka kau menyukai pinky boy itu", ledek Eve.
"Natsu cukup tangguh, dia pasti bisa melindungimu, Lucy", ucap Cana.
"Aku juga merasa kalian cocok", kata Wendy disertai anggukan Carla.
"Yah, kalian memang serasi", lanjut Bisca.
"Ini berarti Gray-sama milik Juvia, fufufu", gadis hujan itu tampak sangat bahagia.
"Cieee, Lu-chan ternyata mencintai Natsu", ledek Levi, dia sepertinya balas dendam.
Sementara Lucy hanya blushing sendiri.
"Baiklah, saatnya membahas kisah cinta Juvia dan Gray-samaa", ucapnya riang dengan mata yang berbinar-binar.
"Tidak perlu, itu sudah jelas", ucap Cana.
"Yaaah, hanya masalah waktu sampai Gray menyadari perasaannya padamu", ucapan Mira ini sukses membuat Juvia pinsan dengan wajah merah habis.
"Lalu, lalu, bagaimana denganmu Eve, aku tak pernah mendengar gosip tentangmu", terang Bisca.
"Kau tak tahu? Dia sedang dekat denga-", Eve segera menutup mulutku.
Dia lalu memperbaiki letak kacamatanya, "T-tidak ada yang aku sukai sekarang"
"Lalu, bagaimana dengan Elfman?", tanya Mira, mungkin dia benar-benar berpikir mereka saling suka.
"D-dia, mana mungkin akuu-", kali ini aku yang menutup mulutnya.
"Mereka akan segera menikah", tegasku.
"Apa? T-tidak, akuu-", aku segera menutup mulutnya, lagi.
"Dan aku rasa, Mira merestuinya", lanjutku, kami lalu memberi tatapan penuh tanda tanya pada Mira.
Dia tersenyum, "Selama mereka saling mencintai, aku ikut bahagia", ucapnya lembut.
Eve akhirnya terdiam dengan wajah blushing tentunya.
"Bagaimana denganmu, Bisca?", tanya Cana.
"Apa maksudmu, Cana?", Bisca balik bertanya.
"Kapan Asuka akan punya adik?", godanya.
"A-apa?", wajahnya sudah mulai memerah.
"Ayolah, dia sudah cukup besar untuk punya seorang adik", lanjut Cana.
"E-entahlah", jawabnya gugup.
"Kalian bahkan tak ada saat kami menikah", lanjutnya pelan.
Kami semua menunduk.
Tujuh tahun ya?
Mungkin kami memang melewatkan begitu banyak kejadian penting.
"Gomen", ucap kami pelan.
Bisca menatap kami satu persatu.
"Tak apa, kalian sudah ada disini, itu sudah lebih dari cukup", senyuman Bisca membuat kami semua ikut tersenyum.
"Jadi? Bagaimana cara Alzack melamarmu?", kali ini Mira terlihat cukup penasaran.
Kami mengangguk-angguk setuju.
Bisca menatap kami dengan lembut, lalu tersenyum kecil, "Ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan, kita berkumpul lagi nanti malam, oke?", dia mengedipkan satu matanya.
"Oke", jawab kami serempak.
"Cana", ucap Mira lirih.
"Hn?", dia menatap Mira.
"Bagaimana kencan butamu dengan pria yang dikenalkan Lucy itu?", tanya Mira antusias.
"Iya, apa berjalan dengan baik, Cana?", Lucy juga terlihat sama antusiasnya dengannya.
"Hmm, yaah, begitulah, kami masih berkomunikasi, meski susah", jawabnya.
"Kau menyukainya?", tanya Mira penasaran.
"Tentu saja, Mira. Tak mungkin dia minum begitu banyak hari ini kalau bukan karena pria itu", jawabku.
"Dia akan segera datang ke Magnolia, aku hanya merasa, agak, gugup", ungkap Cana dengan wajah blushing.
Kami semua mengangguk mengerti, lalu kembali tertawa.
"Cana, Erza, kau ingat, dulu kita masih sangat kecil, dan belum mengenal pria seperti sekarang, coba lihat kita sekarang, kita semua sudah punya kisah masing-masing", ucap Mira sambil tersenyum kecil, terlihat jelas kalau dia sedang mengkhayal.
"Aku rasa tidak juga", potong Cana.
"Yah, ada yang sudah mengenal pria lebih dulu, tapi masih menyembunyikannya", lanjutku.
"Ini akan menarik", ucap Lucy semangat.
"Siapa pria itu?", tanya Levi antusias.
"Iya, siapa, Mira?", Bisca juga sangat antusias.
"E-eh, itu-", Mira nampak kebingungan.
Dia menutup matanya, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
Sementara Lucy dan yang lainnya terus mendesaknya, aku sih sudah tahu, tapi tak enak jika aku membeberkannya begitu saja, tidak seru.
Dia tersenyum kecil.
"Hei, diamlah", suara itu mengagetkan kami semua.
"Laxus", aku kaget melihat Laxus yang begitu berantakan hari ini.
"Kau mabuk", Mira menatapnya sendu.
"Diamlah, kalian membuatku terbangun", dia lalu bangkit dari kursi dibelakang meja dipojok ruangan.
"A-apa kau mendengar pembicaraan kami?", tanya Lucy.
"Apa? Jadi kalian sudah lama disini? Aku baru saja terbangun, pirang", jawabnya ketus.
Kami langsung menghembuskan napas lega.
"Sejak kapan kau bangun, Laxus?", tanyaku.
"Sejak kalian meneriakkan nama Mira", jawabnya, nampaknya dia jujur.
Dia memegangi kepalanya dan berjalan gontai menuju kearah kami, bukan, kearah Mira.
"Kau tak apa? Mau aku ambilkan air?", tanya Mira khawatir.
Dia tidak menjawab, dia terus melangkah mendekatinya, lalu menggenggam tangan Mira dan menariknya, Mira ikut saja dibelakangnya.
"Mira", Lucy berteriak panik.
"Tak apa, biarkan saja", ucap Cana.
"T-tapi, itu, Laxus", jawab Levi takut.
"Justru karena itu Laxus", kali ini aku membuat mereka jawdropped, lagi.
"Laxus tidak akan menyakiti orang yang dia cintai", lanjuku pelan.
"APAAA?", teriakan mereka membuat semua orang guild berlarian kearah kami dengan panik.
"Ada apa?", tanya mereka.
"Tidak ada, cepat lanjutkan beres-beresnya, atau aku akan-", mereka segera berlari kembali kearah aula, untung tak ada yang curiga.
"Apa kau serius, Erza?", tanya Bisca.
Aku mengangguk yakin.
"Kapan aku pernah bercanda?", lanjutku yang langsung disambut oleh tawa mereka.
"Aku tak menyangka Mira cukup dekat dengan Laxus", ungkap Lucy.
"Begitulah", aku tersenyum kecil.
"Hei, coba lihat itu", Eve mendekati jendela yang mengarah ke taman belakang Fairy Tail.
Kami pun mengikutinya dengan segera.
Disana ada Mira dan Laxus, mereka nampak sangat akrab.
Aku tak dapat mendengar percakapan mereka sama sekali, tapi dari raut wajah mereka, nampaknya mereka bahagia.
"Apa yang mereka lakukan disana?", Lucy mencoba menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan lebih jelas.
"Sssst, mereka berciuman", ungkap Cana antusias.
"Tutup matamu, Wendy", kata Carla, Wendy menurut.
"Cukup lama, Laxus hebat juga", ujarku.
"Juvia juga ingin melakukannya dengan Gray-sama", gadis berambut biru itu memegang kedua pipinya yang merah.
"Seharusnya kita tak mengintip seperti ini", ucap Eve sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Seharusnya kau tak bilang begitu, bagaimanapun kaulah yang mengajak kami kesini.
"Kalau begitu minggirlah, dan berikan tempat itu padaku. Aku tak melihat apapun disini", keluh Bisca.
Tapi, Eve tak juga pindah, dia betah juga rupanya.
"Sampai kapan mereka akan berciuman", Levi memalingkan tatapannya.
"Sebaiknya kita tak melihat lebih lama lagi", tegasku. Ini kan privasi mereka.
Kami pun membubarkan diri.
"Tunggu", teriak Carla.
Kami pun kembali ke posisi semula, mungkin ada yang menarik.
"Apa? Mereka hanya berciuman lagi", ujar Cana kecewa.
"Tidak, lihat baik-baik", potong Lucy.
Astaga, aku tak percaya Laxus melakukannya.
"Oh, Kami-sama", ucap setengah dari kami tak percaya.
"Gray-sama, Juvia juga mauu", kali ini wajah si gadis hujan itu sudah berwarna merah sekali.
"Aku rasa itu cukup romantis", ujarku sambil melirik mereka satu persatu.
Mereka semua mengangguk setuju.
"Apa yang kalian lakukan disini?", seruan Natsu membuat kami gelagapan.
"T-tidak, tidak ada apa-apa", sergahku cepat sebelum dia menyadarinya.
"Ohiya, Erza. Ada yang mencarimu diluar", ucapnya, untung kau begitu polos Natsu.
"Siapa?", tanyaku kaget campur bingung.
FLASHBACK END
"Lama tak berjumpa, Erza", suara itu.
"J-jellal?", aku sungguh tak percaya, dimana?.
"Konyol, bahkan sekarang aku mendengar suaramu", ucapku kepada diriku sendiri.
"Ini memang aku, Erza", kau menampakkan dirimu dari balik pohon sakura itu.
Dengan senyummu yang menawan, lagi-lagi, kau membuatku nampak konyol disini.
"Jellal", aku masih ingin memastikan, ini bukan mimpi.
"Bagaimana kabarmu?", kau berjalan pelan menghampiriku.
Aku masih mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya.
Kau lalu berhenti, tepat dihadapanku.
"Kau tak merindukanku, Erza?", aku masih membeku.
"Baiklah, mungkin aku memang berharap terlalu banyak, itu sudah tujuh tahun, dan aku yakin kau pasti sudah melu-", ini bukan mimpi, aku memelukmu dalam sekejap, tak ingin mendengar kata-katamu lagi.
Aku hanya ingin, membuat diriku percaya, bahwa ini memang kau, Jellal.
Kau tersentak, dapat kurasakan tubuhmu menegang, namun dengan segera kau membalaskan pelukanku, hangat.
"Jellal, aku-, aku", aku mulai menangis sesenggukan, perasaanku keluar begitu saja.
"Sssst", kau mengisyaratkan aku yang masih dalam dekapanmu untuk diam.
"Tenanglah, aku disini, aku tak akan pergi lagi, Erza", ucapanmu membuat air mataku bertambah banyak.
Aku berusaha menenangkan diriku, namun nihil. Aku tak bisa berhenti menangis, semua perasaanku bercampur aduk sekarang.
Kau melonggarkan pelukanmu, membuat mata kita saling bertemu, aku suka mata onyx mu.
Dan tanpa ba-bi-bu, kau langsung saja mendaratkan ciumanmu dibibirku, lembut.
Terimakasih, kau membuatku berhenti menangis.
Aku segera membalas ciumanmu, cukup lama mungkin kita saling membalas ciuman masing-masing.
"Kau nampak lebih cantik jika tersenyum", kata itu bagai sihir yang membuat bibirku tertarik keatas, membentuk senyum yang belum sempat kutunjukkan padamu dari tadi.
"Itu baru Erzaku", a-apa? Kali ini wajahku pasti sudah merah, Jellal. Mungkin lebih merah dari rambut Scarlet ku.
Namun, kau juga sepertinya tak sadar akan apa yang kau ucapkan tadi, dalam sekejap semburat merah terpancar dari wajah tampanmu, dan itu membuat tingkahmu tambah gelagapan.
"A-aku, i-itu", kau menggaruk-garuk kepalamu yang nampaknya sama sekali tak gatal.
Aku tertawa kecil melihatnya, disusul dengan tawamu yang khas.
"Jadi, apa yang membuatmu datang kesini?", pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku, mungkin aku hanya ingin mendengarmu mengatakan itu.
"Kau tahu kan, aku merindukanmu", ucapmu lembut terdengar sangat jelas ditelingaku, membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Aku masih tersenyum, seakan membalas perasaan rindumu padaku.
Aku baru saja akan mengatakan 'itu' saat tiba-tiba saja kau menutup mulutku dengan jari telunjukmu.
"Kau suka bunganya?", tanyamu segera.
Aku mengangguk kecil, "Aku suka warnanya".
Kau tersenyum lagi, "Aku lebih suka warna rambutmu", kali ini kau membuatku blushing, lagi.
FLASHBACK
"Namaku Jellal, Jellal Fernandez, kau?", kau menatapku sambil tersenyum.
Aku memandangimu, melihat kedalam mata onyx mu dan aku menemukan kebaikan didalamnya, serta kehangatan yang aku cari selama ini.
"Erza, hanya Erza", ucapku gugup.
"Erza", kau tersenyum, manis.
"Tapi, kenapa hanya Erza?", lanjutmu.
"Wah, merah", kau menyentuh rambut merahku yang pendek dan itu membuatku benar-benar kaget mungkin dengan tambahan sedikit rona merah dipipiku.
"Scarlet. Bagaimana kalau, Erza Scarlet?", ucapmu riang.
"Erza.. Scarlet", aku mengulang perkataanmu, kedengarannya cukup bagus.
FLASHBACK END
"Erza", kau membuyarkan lamunanku.
"Hn?", aku menoleh sambil tersenyum padamu.
"Bolehkah, aku seperti ini? Sedekat ini denganmu?", ujarmu pelan.
"Kau berada dijalan yang berbeda denganku", lanjtmu sambil menyentuh pipiku dengan tangan kananmu.
"Dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu, meski artinya aku harus pergi dari sisimu", lanjutmu sambil tersenyum kecil.
"Baka", aku menepis tanganmu dari pipiku.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Kaulah yang membuatku menjadi seperti ini, karena kebaikan hatimu, Jellal", bentakanku membuatmu cukup kaget, lalu kembali memandangku sendu.
FLASHBACK
"Apa itu, Jellal?", aku mengamati tanganmu yang sibuk menggapai sesuatu dipagar besi itu.
"Dapat", kau tersenyum bahagia, tak memperdulikan tanganmu yang sudah berdarah-darah akibat kawat-kawat tajam itu.
"Seekor burung?", tanyaku bingung.
"Erza, bantu aku mengobati kaki burung ini, dia terlihat kesakitan", ungkapmu yang lalu berlari menuju sel tahanan kita.
"Apa kau yakin kau tak mau mengobati tanganmu dulu?", tanyaku ragu saat kau sedang sibuk mengajariku cara membalut dengan benar meski hanya dengan menggunakan kain bekas yang lusuh.
"Tugas itu nanti akan aku serahkan padamu, jadi perhatikan baik-baik", ucapmu.
Aku mengangguk senang.
"Selesai", kau tersenyum bahagia, aku juga ikut tersenyum.
"Kau sungguh baik, Jellal", pujiku.
Kau berbalik memandangku, "Kau lebih baik, Erza. Terimakasih sudah mau membalut lukaku", kau menepuk pelan kepalaku.
"Lalu, bagaimana caranya kita membebaskannya? Kita tidak bisa keluar begitu saja", tanyaku.
"Kau mau membantuku?", tanyamu balik.
Aku mengangguk yakin.
"Kalau begitu, naiklah", kau membungkukkan badanmu, lalu memberiku isyarat agar segera mengikuti perkataanmu tadi.
"Kau tak akan jatuh, Erza. Aku akan melindungimu, percayalah padaku", kata-katamu membuatku berani naik di punggungmu.
"Bagus", ucapmu dengan senyum itu.
"Berhati-hatilah, burung kecil", aku melambai pada burung yang baru saja kulepaskan dari genggamanku lewat sela-sela jendela di sel ini.
"Erza, jangan kau lepa-", karena kecerobohanku, aku terjatuh, tapi.
Tidak sakit?.
Aku membuka mataku perlahan, dan mendapati tubuh kecilku sudah menindih tubuhmu, Jellal.
"Sudah aku bilang, tak perlu takut. Aku akan melindungimu", ucapmu masih dengan senyuman maut itu.
FLASHBACK END
"Jadi? Bolehkah, aku berharap dapat menggenggam cahaya itu, Erza?", kau membuatku sedih dengan tatapan itu, Jellal.
"Ingatlah Jellal, kau adalah cahaya bagiku, dan itu tak akan pernah berubah", aku tersenyum, berharap bisa menghilangkan keraguan dihatimu.
"Karena aku me-", ucapanku terhenti, aku manatap jari manisku dengan kaget.
Sebuah cincin sudah bersarang disana, dihiasi dengan batu ruby yang indah, meski tak semerah rambut scarlet ku, tapi ini sungguh manis.
"Aku anggap itu 'iya'", wajah tampan itu tersenyum lagi kearahku, membuat buliran air mata membasahi pipiku.
"Sudah kubilang, kau lebih cantik jika tersenyum, Erza Fernandez", ucapmu dengan wajah blushing sambil mengusap air mataku dengan lembut.
Aku tersenyum, kali ini kau membuatku menjadi wanita paling beruntung didunia, Jellal.
Terimakasih.
SEMENTARA ITU-
NORMAL POV
Kedua pasang mata itu, yang satu bermata hazel dengan rambut scarlet, dan yang satu lagi bermata onyx dengan rambut azure, saling tersenyum, menikmati keindahan pasangan masing masing, dibawah guguran sakura yang menjelang sore itu.
Mereka membuat janji mereka, dalam hati mereka masing-masing.
Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata telah mengamati mereka dari jauh, yah, itu adalah para mage Fairy Tail.
"Jellal benar-benar tampan, dan romantis", ungkap Bisca.
"Kapan Gray-sama akan melakukan itu pada Juvia?"
"Erza beruntung", ucap Lucy yang dibarengi dengan anggukan mereka semua.
"Bisca", kali ini yang membuat mereka gelagapan adalah seorang pria berambut hitam.
"Alzack?", Bisca jadi tambah gelagapan.
"Bisa ikut aku sebentar?", ajak pria itu.
Mereka pun berlalu, meninggalkan beberapa pasang mata yang mengamati kepergian mereka.
Sementara itu, dari atas pohon sakura, nampak sesosok gadis yang samar, dia tersenyum manis, membiarkan helaian rambutnya bergoyang-goyang diterpa angin, dalam hati dia tertawa bahagia.
Kyaaaaaaaaaaa, saya membuat ending yang gaje lagi, gomen, minna.
RIVIEW yaaaaa
Apa yang Alzack inginkan?
Dan siapa gadis yang selalu tertawa itu?
Silahkan tebak sendiri, kekeke.
Karena itu tidak akan saya ungkap di chapter selanjutnya, sedikit clue.
Chapter depan akan diramaikan dengan NaLu *goyang-goyang*
UPS.
Sudah terlanjur bilang, fufufu.
Jadi, bagi para penggemar NaLu, nantikan chapter depan yaaaa.
Arigatou.
