Chapter 1 : The Beginning

DREAM ON

Rate : T

Genre : Fantasy, Adventure

Character : Naruto U.

Author : Marsilea2510

Desclaimer : I don't own anything, its Masashi Kishimoto's

Warning : Typo(s), Oc, dll

Summary :

Bukannya mundur dari pertempuran, Madara Uchiha atau Tobi kembali menyerang usai penyegelan dan Kekkei diruntuhkan, lalu berusaha mengambil bayi Naruto. Namun kesalahan terjadi dan Naruto terkirim ke dimensi lain.

.

.


The Beginning

Napasnya memburu, otot-ototnya mengejang dengan antisipasi. Mata azurenya terfokus hanya pada satu titik, lawannya. Orang yang ia benci dengan segenap jiwa dan raganya, seseorang yang telah merusak hari spesialnya. Momen spesialnya. Momen ketika ia menjadi seorang ayah.

Selama ini Hokage keempat dikenal sebagai sosok pemimpin yang tenang, tegas, dan berwibawa. Namun tidak kali ini. Saat ini, di pertempuran ini, hanya ada Namikaze Minato, seorang shinobi terpilih yang menjadi pemimpin desa, kuat dan tak pandang bulu membunuh siapa saja yang mengancam keselamatan desa, bukan hanya ayah dan suami yang mendedikasikan hidupnya untuk melindungi keluarganya dan rela mati karenanya. Untuk kali ini tidak ada kata lain selain Konoha dalam benaknya. Ya, Konoha, desa yang telah memberinya hidup, identitas, dan keluarga.

Seorang laki-laki berjubah hitam dan bertopeng dengan celah kecil untuk mata di bagian kanan muncul begitu saja dari udara kosong dengan pusaran kecil yang sama dengan motif topengnya. Laki-laki itu berdiri tak jauh darinya sementara ia memikirkan berbagai kemungkinan, resiko dan jalan keluar untuk mengalahkannya secepat mungkin dengan otak jeniusnya. Tentu saja, ia juga memperhatikan bagaimana serangannya barusan dapat menembusnya seperti bayangan, tapi tiba-tiba saja tubuh musuhnya itu kembali memadat. Jurus yang efektif, tapi jurus apa itu?

"Takkan kubiarkan lolos."kata laki-laki bertopeng itu.

Saat itu, barulah Minato menyadari satu fakta penting yang benar-benar jelas ia saksikan , bahwa dia,-orang bertopeng itu, menguasai jurus ruang dan waktu, dan ia menyadari bahwa itu adalah jurus yang sama yang dipakainya untuk membawa Kushina dan teleportasi. Dia juga mengalahkan ANBU pilihan Hokage ketiga, menembus kekkai rahasia yang mereka bangun, dan tahu soal segel Kyuubi yang melemah. Dan lagi, dia juga melepas dan mengandalikan Kyuubi, suatu hal yang shinobi biasa tidak mampu melakukannya.

Kekkai, ya, jangan lupakan fakta penting itu. Diantara serentetan hal-hal mustahil yang dilakukan musuhnya ini, menembus kekkai rahasia Konoha mungkin yang paling mustahil. Tidak, tidak mustahil. Setelah melihat orang tadi mesuk dengan mudah melewati kekkai sekuat itu, Minato tidak dapat lagi mengatakan bahwa itu mustahil. Dan seingatnya, shinobi yang bisa keluar masuk kekkai Konoha dengan mudah hanya satu. Jangan-jangan...

"Madara Uchiha, ya?" gumamnya saat ia berdiri dengan perlahan dan melihat musuhnya itu menurunkan tudung jubahnya. "Tapi itu tidak mungkin. Dia sudah mati." Lanjutnya.

"Wah, bagaimana ya?" ucap 'Madara' dengan entenganya, seakan pertarungan mereka ini hanyalah sebuah permainan kecil tidak berarti.

Tapi Minato menghiraukannya. "Aku tidak peduli siapa dirimu. Tapi, kenapa mengincar Konoha?" Sebenarnya ia tahu betul jawabannya, Madara adalah seorang mantan shinobi Konohagakure no sato yang memberontak melawan Shodaime Hokage, tentu saja pertarungan legendaris mereka telah di tulis dengan bebas di berbagai buku sejarah shinobi di sekolah akademi Konoha. Tapi, apakah alasannya masih sama?

Madara mengeluarkan rantainya dengan kedua tangannya. "Bisa dibilang keisengan sekaligus bagian dari rencanaku. Demi peperangan sekaligus perdamaian."

Minato terdiam dan menatap tajam musuhnya itu. 'Peperangan dan perdamaian...dia serius.'

Apa pun alasannya, dia bukan orang biasa. Dengan kemampuan mengendalikan Kyuubi, jurus dimensi yang lebih hebat darinya dan Hokage Kedua, lalu ideologi berbahayanya itu. Kalau tak segera ia cegah waktu itu juga, dia bisa lebih membahayakan dari Kyuubi.

Kemudian ia mulai menimbang-nimbang cara untuk mengalahkannya. Kalau ia melakukan teleportasi ke desa dia pasti mengikutinya dan akan memperparah pertempuran di sana. Kalau ia memang Madara, dia takkan bisa menahan Kuchiyose Kyuubi terlalu lama. Masalah soal desa, ia bisa menyerahkannya pada Hokage Ketiga. Madara lebih berbahaya, pikirnya. Dia harus dihentikan di sini! Pikirnya dengan menggenggam kunai Hiraishin di tangan kanannya dengan erat.

"Kau tak punya harapan lagi!"

Dan mereka pun bertarung.


Kacau, mungkin adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan tempat ini. Tempat yang sebelumnya tenang dan damai-, baik,mungkin tidak sepenuhnya damai, paling tidak untuk penduduk biasa, iya-dipenuhi oleh senyuman. Apalagi setelah berakhirnya perang Shinobi Ketiga, tempat ini terlihat jauh lebih baik dan hijau, bagi mereka yang telah lelah akan pertempuran, waktu seperti itu adalah surga yang tak boleh dilewatkan. Semua sebelumnya begitu tenang paling tidak selama dua tahun, sebelum ini terjadi, tentu saja.

Kali ini, semua bertarung dengan mengorbankan harta dan nyawa mereka, sekaligus berusaha melindungi penduduk desa. Hilang sudah semua ketenangan dan kedamaian yang akhir-akhir ini mereka rasakan. Tempat ini seperti medan pertempuran, namun berbeda dengan pertempuran lainnya karena lawan mereka bukanlah manusia, tapi monster yang kini mengamuk dan menghancurkan apa yang ada disekitarnya menjadi rata dengan tanah. Raungan, pekikan, teriakan kesakitan terdengar dari segala arah. Bangunan bangunan runtuh, hancur berkeping-keping tanpa ada yang tersisa kecuali debu yang berterbangan tertiup angin malam yang terasa lebih dingin hingga membekukan hati mereka.

Ratusan ninja berkumpul di sekitar sosok monster berwujud serigala ekor sembilan dalam radius aman. Semuanya bersiap menyerang, walau mereka tahu usaha mereka akan sia-sia belaka melihat apa yang menyerang mereka tak sedikit pun terganggu dengan serangan yang sebelumnya mereka luncurkan. Namun mereka tetap berdiri tegap dan menghadapi rasa takut mereka. Mereka tahu mereka akan mati, namun mereka tetap mencoba dengan raungan doa dan harapan yang mereka kumandangkan dalam hati mereka.

Satu demi satu ninja berguguran. Terlempar oleh chakra dahsyat Kyuubi atau tertimpa reruntuhan yang berjatuhan akibat dari serangan monster itu. Berbagai cara pun dilakukan, namun semuanya semata-mata untuk mengeluarkan monster Kyuubi dari desa. Setidaknya, dengan keluarnya Kyuubi, desa dapat dilindungi dari kehancuran fatal meskipun nyawa yang dikorbankan tidaklah sedikit. Pada saat genting seperti ini, semua klan bersatu tanpa memedulikan perbedaan maupun misi yang ada, semuanya bertarung bersama melindungi apa yang berharga bagi mereka di balik tembok megah Konohagakure.

Tiba-tiba seekor katak raksasa muncul dan menindihi tubuh Kyuubi; Gamabunta, hewan Kuchiyose milik Hokage Keempat. Sejenak, kelegaan melanda mereka. Akhirnya pahlawan mereka datang, meyelamatkan mereka, dan menjauhkan mereka dari kematian. Lalu, setelah ini berakhir, ia akan kembali dengan senyum khasnya sebagai orang terhebat se-Negara Hi.

Tapi tidak ada satupun yang memperhatikan ekspresi frustasi Hokage Keempat mereka saat itu.

"Hokage Keempat!" seorang Junin di samping Hokage Ketiga berseru.

Sementara itu, Hokage Ketiga, Sarutobi Hiruzen bersiap intuk membantu Yondaime untuk mengalahkan Kyuubi, orang tua itu telah memikirkan berbagai cara dengan melihat kemampuan Kyuubi, salah satunya adalah bola chakra hitam seperti yang ada di depannya ini. Ia pun bersiap mengambil posisi kuda-kuda untuk menghindar, namun sebelum ia sempat melakukan sesuatu, Minato beserta Kyuubi menghilang dari hadapannya, meninggalkan Gamabunta di tempat Kyuubi semula berada.

Ia terpaku, memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan bingung. "Minato melakukan teleportasi bersama Kyuubi?"gumamnya dengan nada khawatir. Ia sangat tahu tentang Hokage muda itu, sebagai murid dari murid geninnya sendiri, ia mengenali taktik bunuh diri itu dengan sangat baik.

'BLAR!'

Terdengar suara ledakan besar dengan radius yang sangat besar di kejauhan. Tak salah lagi, itu pasti tempat Minato memindahkan Kyuubi.

"Disana!" Ia berseru menunjuk ke arah ledakan. Kemudian, dengan cepat ia berlari bersama beberapa Jounin yang sedari tadi bersamanya untuk menghampiri asal ledakan itu. Namun betapa kagetnya ia ketika menemui penerusnya itu menggunakan jurus Shiki Fujin. Jurus yang berfungsi untuk memanggil Shinigami, jurus yang kuat, tapi tentu saja ada alasannya kenapa hanya sedikit shinobi yang mau menggunakan jurus itu. Karena dengan mengambil nyawa musuh dan menguncinya di tubuh Shinigami, si pemanggil juga harus membayarnya dengan nyawanya sendiri, ikut terperangkap dalam kurungan jiwa dan bertarung satu sama lain sampai waktu yang tak bisa dipastikan. Intinya adalah, Shiki Fujin adalah jurus bunuh diri paling cepat dan menyiksakan entah itu masih hidup atau sudah mati. Benar-benar penyiksaan tanpa akhir.

"Itu Shiki Fujin!" ia menatap dengan pandangan tak percaya. Di belakangnya beberapa Jounin mulai datang menyusul.

"Hokage Ketiga, apa yang terjadi?"

Sandaime Hokage itu mengulurkan tangannya ke udara kosong di hadapannya, namun seperti yang sudah ia duga, sebuah dinding tembus pandang menghentikannya. "Aku tak bisa masuk karena ada kekkai yang menghalangi Kyuubi keluar!" jelasnya kepada para bawahannya di belakangnya. Ia berhenti sejenak untuk berpikir, ia punya banyak perkiraan tentang apa yang akan dilakukan Minato, tapi ada satu yang pasti. "Mereka berniat melakukan sesuatu pada Kyuubi."

Kemudian ia melihat dengan jelas Minato mengaktifkan segel Shiki Fujin dan mulai menyedot chakra Kyuubi. "Jadi, dia benar-benar menggunakan Shiki Fujin."gumamnya.

"Tapi," seorang jounin menimpali,"Kyuubi belum tersegel? Walau ukurannya megecil?"

Sandaime Hokage terdiam. Tentu saja, ia tahu jawabannya. Chakra bijuu terkenal sangat kuat dan belum lagi jumlah chakra yang dimiliki oleh Kyuubi. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana chakra itu dimasukkan ke tubuhnya secara paksa. Pasti menyakitkan, pikirnya dengan sedih. Tapi apa yang akan mereka lakukan dengan sisanya?

Rantai chakra yang mengekang Kyuubi tiba-tiba saja mengendur, menandakan bahwa Kushina-,istri Yondaime Hokage sekaligus mantan jinchuriki Kyuubi,-sedang berada di sana. Ia melihat bagaimana Kyuubi yang menggunakan kesempatan itu untuk menyerang sesuatu yang tak jauh dari tempat Minato dan Kushina yang langsung saja mereka lindungi dengan tubuh mereka sebagai tameng. Saat itulah Sandaime Hokege melihatnya dengan jelas.

Sesosok makhluk kecil dengan segumpal rambut pirang terang seperti rambut Hokage Keempat, yang sedang terbaring di atas sebuah altar kecil yang dikelilingi oleh lilin yang menyala.

"Itu anak mereka!"

"Mereka melindunginya!"

Setelah itu, Minato memanggil seekor katak dan mengambil sebuah gulungan dari Minato sebelum akhirnya pergi dalam kepulan asap putih.

"Jadi begitu!" katanya tiba-tiba, "Minato berniat menyelamatkan desa dengan menjadikan anaknya Jinchuriki."

Di belakangnya terdengar hentakan napas pelan orang-orang yang mendengarnya. Tentu saja, mana ada ayah yang sanggup mengorbankan darah dagingnya sendiri untuk dikorbankan? Anak yang selalu dinantikan sejak lama, yang lahir dari rahim istri yang dicintainya dan belum sempat menikmati hari berbahagia sebagai seorang ayah, ia harus mengorbankan anaknya itu untuk menjadi tempat penyegelan monster paling ditakuti.

'Minato,' pikirnya dengan pilu, 'Kau sudah melakukan terlalu banyak bagi desa ini.' Mungkin, mungkin ia tahu bagaimana perasaan Minato saat ini. Semua ayah tahu perasaan itu.

Sakit.

Perasaan amat sakit yang menyayat hati, bahkan sakitnya lebih buruk dari luka fisik. Rasanya seperti mau mati.

'Begitukah yang kau rasakan Minato? Belum lagi perasaan bersalah yang akan kau bawa sampai mati. Rasanya pasti tak tertahankan. Dan Kushina, sebagai seorang Ibu, dia akan melakukan segalanya untuk keluarganya, dia akan rela mati demi kebahagiaan anaknya. Bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana perasaan Kushina sekarang, terlalu menyakitkan untuk dirasakan.'pikirnya sedih.

Setelah penyegelan selesai, kekkai yang menghalangi mereka pun lenyap. Dengan cepat, Hokage Ketiga beserta Jounin yang mengikutinya menerjang masuk ke area penyegelan. Mereka segera mengerumuni Hokege Keempat dan keluarganya itu. Beberapa mengecek keadaan Naruto,-nama bayi itu, yang stabil namun tak sadarkan diri. Dan Kushina yang tak lagi bernyawa karena chakranya yang telah habis.

"S-san-daime-sama..."bisik Minato dengan suara serak, memanggil Hokage Ketiga dengan segenap kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Ia ingin memohon sesuatu kepada orang tua itu, sebagai permintaan terakhirnya. Ia menatap mata teduh milik seniornya itu dengan penuh keyakinan dan tekad api yang membara walaupun nyawanya telah berada di ujung tanduk. "Kumohon...lindungilah Naruto. Aku ti-ti-dak i-ingin dia hidup seperti jinchuriki lain. Jadikanlah dia sebagai pahlawan h-hari i-ini," bisiknya dengan tatapan lembut yang dilemparkannya kepada sosok mungil anaknya satu-satunya.

"Akan kulakukan." jawab Hokage Ketiga dengan mantap.

Minato menutup matanya dan mendesah lega, terukir senyum damai di bibirnya yang mulai membiru. Di belakangnya, bayangan Shinigami mulai mengayunkan pedang mautnya ke chakra penghubung yang mengekang roh Minato di dunia.

"Sampai jumpa lagi, musuko..."bisik lirih Minato seiring dengan kepergian rohnya yang mulai terhisap masuk ke dalam mulut Dewa Kematian itu.

Keheningan menyambut mereka begitu kata-kata terakhir Yondaime Hokage, Namikaze Minato terucap dalam bisikan lirih penuh kepedihan yang kini hilang ditelan angin malam. Semuanya menunduk, menghormati pengorbanan dan kematian dari pemimpin mereka dengan mengenang jasa-jasanya dengan khidmat. Perasaan kagum, sesal, marah, bangga, dan bimbang menyeruak dalam benak mereka. Minato memang pantas disebut sebagai Hokage, Hokage terkuat yang pernah mereka lihat. Bukan karena jurus-jurus yang dikuasainya. Bukan. Tapi mental sekuat baja dan pengorbanannya yang besar itu yang membuatnya dihargai dan dihormati oleh para shinobi lainnya.

Ya. Minato memang pantas mendapat gelar tertinggi sebagai seorang Hokage.

'tap tap tap'

Samar-samar, keheningan mulai terpecahkan dengan suara langkah kaki seseorang yang tak jauh dari mereka. Spontan saja, tiga orang Jounin penjaga Hokage segera membentuk formasi melingkar mengelilingi Hokage mereka yang tengah menggendong bayi Hokage Keempat. Dalam genggaman mereka kunai telah siap dan tangan lain yang siap melakukan gerakan tangan ninjutsu atau genjutsu yang diperlukan. Tubuh mereka menegang saat menatap satu orang yang berdiri di depan mereka dengan menggunakan jubah hitam polos bertudung, topeng bermotif pusaran dan membawa rantai di satu tangannya yang terluka.

"Ah, akhirnya Hokage Keempat sudah mati. Sekarang berikan bayi itu padaku." Orang itu mengulurkan tangannya yang tidak terluka ke depan.

"Siapa kau?" seru seorang Jounin.

Lelaki bertopeng itu tertawa pelan. "Tidak perlu. Serahkan saja anak Hokage Keempat itu padaku."

"Tidak akan." Hokage Ketiga menggeram dan memeluk bayi Naruto semakin erat.

"Kalau begitu," laki-laki bertopeng itu memegang rantainya dengan kedua tangannya." Kubunuh saja kalian."

"Tak kan kubiarkan kau menyentuh anak Yondaime!"

Seorang Jounin mulai berlari ke depan dengan kunai di tangan kanan dan tangan kirinya dengan sigap melampar puluhan shuriken ke arah musuh.

"Cih." Dengan gerakan sempurna dan akurasi yang tepat, laki-laki bertopeng itu melemparkan rantainya seperti cambuk dan mengenai dada jounin itu hingga membuatnya terlempar jauh menubruk pepohonan. Tak terlihat sedikit pun rasa sakit dari luka yang ada di lengannya maupun rasa takut karena kalah jumlah atau pun karena lawannya adalah seorang Hokage. Entah dia pandai menyembunyikannya atau karena musuh mereka ini jauh lebih kuat dari yang semula mereka duga.

Sepuluh kunai melayang ke arahnya, namun seperti pertarungan sebelumnya dengan Hokage Keempat, kunai itu melewatinya begitu saja, seakan tubuhnya hanyalah ilusi atau bayangan belaka.

Salah satu Jounin yang lain berlari mendekat dalam jarak aman sementara tangannya mulai melakukan segel untuk ninjutsu dengan cepat dan berseru, "Doton: Doryuu-." Ia terhenti, sebuah kunai tertancap di lehernya yang secara instan memutus tenggorokannya dan merusak pita suara, sehingga ia tak lagi dapat melanjutkan kata-katanya dan pingsan kalau tidak mati karena kehabisan darah.

Sementara itu, Hokage Ketiga mengawasi dengan hati-hati dan penuh kesiagaan. Dia tidak boleh ikut terlibat dalam pertarungan, tidak dengan Naruto yang ditargetkan ada dalam rengkuhannya. Dia harus pergi menjauh selagi bisa, membawa Naruto dalam lindungan ketat ninja Konoha lainnya.

Ia berbalik dan mulai berlari ke arah gerbang Konoha begitu ia mendengar teriakan di belakangnya. Ini tidak bagus, musuh mereka bukan ninja biasa. Ia harus membawa Naruto ke Konoha segera.

"Hokage Ketiga, kau pikir kau bisa lari dariku?"

Hiruzen berhenti, menatap pusaran yang muncul di udara dengan mata terbuka lebar. Ini benar-benar tidak bagus. Apalagi jika musuh dapat menggunakan jurus ruang dan waktu. Siapa sebenarnya orang ini? Tidak banyak orang yang dapat melakukan jurus semacam itu tanpa segel maupun fuuinjutsu. Ini gawat.

Ia mulai berpikir cepat, tak ada waktu yang dapat digunakan dengan sia-sia. Ia menoleh sedikit ke arah beberapa ninja yang mesih mengikutinya.

"Cepat tangani yang teluka dan cari para korban selamat! Panggil bantuan segera! Dan katakan pada Nara Shikaku untuk mengambil alih kendali untuk sementara waktu sampai aku kembali! Capat laksanakan!" titahnya dengan tegas. Ia mengawasi dari ujung matanya beberapa ANBU dan Jounin yang tadi mengikutinya mulai menyebar melaksanakan perintahnya meninggalkan beberapa ninja tetap berdiri di sekitarnya.

"Hokage-sama apa itu tidak apa-apa? Musuh kita bukanlah ninja sembarangan!" Seorang Jounin bernama Akira Yuuza berseru kapadanya dengan khawatir.

Ia tidak menjawab, pandangannya kali ini hanya terfokus pada musuh mereka di depannya dan gumpalan hangat di lengan kirinya. Dengan gerakan mulus terlatih, ia mengangkat tongkat besar yang tangah di bawanya dengan satu tangan, memanggil kuchiyosenya yang setia, Enma, kera legenda di antara hewan kuchiyose lainnya.

"Sarutobi,"sapa Enma padanya begitu ia berubah kembali menjadi wujud keranya.

"Enma, bantu aku melindungi Naruto."kata Hokage Ketiga itu dengan cepat.

Enma hanya mengangguk sekilas ke arahnya sebagai jawaban. Ia mulai menyerang lelaki bertopeng itu yang hanya menghindar dengan satu gerakan kecil. Rantai hitam panjang terulur ke arah Sandaime yang langsung dihalangi oleh Enma. Sementara itu, Sandaime Hokage menggunakan tangan kanannya membuat segel untuk Kege Bunshin untuk membantu Enma menyerang dengan ninjutsu.

"Katon: Housenka no Jutsu!" seorang ANBU di samping kanannya meluncurkan jurus apinya ke arah musuh bertopeng mereka bersamaan dengan Kege Bunshinnya yang mengeluarkan jurus Doton; Doryuukatsu. Di sisi lain, Enma mendekat dengan lincah ke arah musuh, bersiap melakukan penyerangan dengan serangan jarak dekat taijutsu.

Namun, tiba-tiba saja, saat Enma dan jurus elemen api dan tanah yang diarahkan ke musuh itu dengan cepat memperkecil jarak ke target, musuh bertopeng mereka itu kembali menghilang. Sedangkan pada saat yang sama, Hiruzen merasakan pergerakan udara di belakangnya dan ia pun segera berbalik. Dan benar saja, laki-laki bertopeng itu berada tepat di belakangnya dengan tangan terulur cepat ke arah tubuh naruto di lengannya. Selama sepersekian detik ia berdiri membeku, memperhatikan bagaimana orang itu menyentuh ujung kain yang menyelimuti Naruto dan mulai menyedotnya masuk dalam pusaran aneh seperti pada saat dia muncul dan menghilang tadi.

'Dia ingin membawanya pergi!', pikir Hiruzen dengan gusar dan berusaha mencegahnya. Di sudut matanya ia melihat Enma mulai menyerang dengan berubah menjadi tongkat panjang yang keras melebihi kerasnya baja dan meluncur di udara dengan ninja bertopeng itu sebagai targetnya. Di sisi lain, seorang ANBUnya ngeluarkan Katon; Housenka no jutsu, dan seorang Jounin di sisi kirinya mengeluarkan Doton; Doryuu Jouheki, sementara ia sendiri berusaha menarik Naruto keluar dari jangkauan puasaran itu dan menjauh.

Burung-burung Phoenix dari api segera menyerang musuh mereka itu. Namun burung-burung api itu justru ikut terhisap bersama Naruto dan jurus tanah yang diluncurkan oleh Jounin tadi kontan membuat ninja bertopeng itu hilang konsentrasi dan melakukan kesalahan dalam jurus ruang dan waktunya.

"Sial." Lelaki bertopeng itu mengulurkan tangannya dengan maksud untuk merebut bayi pirang itu secara paksa dari tangan Hokage Ketiga, yang langsung saja dipukul menjauh oleh Enma yang berwujud tongkat.

Tiba-tiba saja, muncul cahaya putih terang menyilaukan diantara Hiruzen dan orang bertopeng itu, membuat mereka terlempar dan memperbesar jarak di antara keduanya.

Ketika cahaya itu mulai redup, orang bertopang itu segera berdiri. "Kali ini aku tidak mendapatkannya, tapi aku akan tetap mengambilnya lain kali. Kau ingat itu, Sandaime Hokage." Dan dia pun kembali menghilang dalam pusaran warna merah.

"Sarutobi! Apa yang terjadi?" Enma yang telah berubah ke wujud keranya berjalan mendekati."Dimana anak itu?"

"Aku tidak tahu,"jawabnya singkat. "Tapi kupikir orang bertopeng itu juga tidak mendapatkannya." Ia mengalihkan pandangannya ke arah desa, "Ayo kembali, Konoha membutuhkan kita. Kalian!" Ia menoleh menatap para ANBU yang dari tadi menjaganya," Sisir daerah di sekitar sini dan cari dimana keberadaan bayi itu dan langsung bawa dia kehadapanku, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui ini selain kalian!" perintahnya dengan tegas sebelum mulai berlari menuju desa yang sebagiannya telah hancur menjadi reruntuhan. Di dalam pikirannya, ia yakin bahwa bayi spesial itu sudah tidak ada di sekitar mereka, dan ia tak akan melihatnya lagi dalam waktu yang sangat lama atau tidak sama sekali. Terbesit rasa sesal yang mendalam di hatinya saat merasakan bayi mungil itu sudah tak lagi berada di bawah lindungannya.

'Aku bisa merasakannya ada di tempat lain. Maafkan aku, Minato. Kupikir aku tidak dapat menjaganya seperti yang sudah kujanjikan. Tapi aku tahu bahwa dia akan kembali suatu hari nanti. Karena dia adalah anakmu, Namikaze Naruto'

Ya. Ia bisa merasakannya.

'Anakmu akan kembali'.


'BLAR!'

Ohara Saki, seorang pemilik Panti Asuhan Himawari di bagian utara kota Kyoto. Seorang wanita berumur 55 tahun dengan karakteristik khas orang Asia Timur, kulit pucat, rambut dan mata hitam, serta perawakan yang kecil. Berjiwa sosial tinggi sebagai pendiri dan pemilik panti itu. Wanita yang terkenal akan ketegasan dan kelembutannya terhadap anak kecil.

Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini ia merasakan sesuatu yang aneh yang membuatnya kehilangan kharismanya di depan anak-anak asuhnya. Secercah rasa takut dan khawatir menyelubungi hatinya saat ia memandang gejala alam di luar jendela kantornya. Tak lama sebelumnya, langit masih cerah tak berawan dengan cahaya senja kuning oranye yang bersinar lembut di ufuk barat, namun tiba-tiba saja langit menggelap dan mulai mengguyurkan hujan deras dengan kilat yang menyambar-nyambar.

Badai

Sesaat ia melirik jam kecil di atas meja kantornya dan mendesah palan. Saat ini waktunya bagi beberapa anak panti pulang dari sekolah, jika diperkirakan jarak dan waktunya, seharusnya mereka sedang dalam perjalanan pulang dan terjebak oleh badai besar ini. Ia ingin mengirimkan beberapa bawahannya untuk menjemput mereka, tapi di luar terlalu berbahaya.

'BLAR!'

Cahaya kuning yang berasal dari kilat yang menyambar menyinari ruang kerjanya, segera saja ia menutup jendelanya dengan kain gorden hijau toska miliknya.

"Sebaiknya aku turun,"gumamnya. Ia beranjak dari tempatnya lalu keluar dan menuruni anak tangga ke ruang makan. Di sana, anak-anak yang berusia sekitar tujuh tahun kebawah saling memeluk satu sama lain, malindungi mereka dari gambaran buruk yang muncul dalam benak mereka karena suara guntur dan ranting-ranting kayu yang menggedor atap. "Anak-anak, ayo masuk ke kamar kalian masing-masing dan berlindung di balik selimut kalian. Kalian akan merasa tenang di sana,"usulnya dengan suara penuh wibawanya.

Serentak anak-anak itu berdiri dan beranjak pergi kecuali seorang anak laki-laki berambut hitam jabrik yang saat itu memaksa keluar.

"Aku ingin keluar! Yuna dan Yuiki ada di luar!" rengeknya.

"Kaito...tenanglah."seorang pengasuh berusaha menenangkan.

"Tapi mereka di luar!"

"Kaito...mereka akan baik-baik saja. Nah ayo, kita pergi ke kamarmu."bujuk pengasuh lain.

Namun kata-kata itu tidak digubris oleh Kaito kecil yang dan kaki kecilnya berusaha berlari menuju pintu ganda besar yang mengarah keluar panti. Dengan sigap, Kaito melompat dan meraih gagang pintu lalu menariknya dengan seluruh tenaganya, membuat angin kuat dari luar berhembus masuk dan butiran-butiran air hujan membasahi sekujur tubuhnya. Belum sempat ia menapakkan kakinya keluar, tangan-tangan kuat itu telah menariknya mundur tanpa memberinya kesempatan untuk meronta.

Ia ingin keluar karena khawatir dengan temannya, semua tahu itu. Semua anak di sana adalah keluarga dan mereka tak mau kehilangan satu sama lain. Apakah itu salah?

Beberapa anak mulai menangis, memanggil nama teman mereka yang masih berada di luar. Para pengasuh pun mulai bingung menenangkan tangisan mereka yang semakin menjadi. Tangan mereka terulur ke sana sini, menjangkau anak terdekat untuk ditenangkan.

"Shh...tenanglah."

"Aiko, jangan menangis!"

"Meraka akan baik-baik saja."

Melihat sibuknya pengasuh lain, Kaito manggunakan kesempatan itu untuk berlari keluar. Namun, sama seperti sebelumnya, tangan-tangan itu masih saja menjeratnya. Dengan berat hati, ia melihat tangan-tangan para pengasuh itu menutup pintu yang tadi sempat terbuka.

Ia kembali meronta.

Ia ingin keluar! Ia ingin-.

'BLAR!'

Cahaya kuning terang menyinari seluruh ruangan diiringi dengan suara guntur yang sangat keras. Spontan, semuanya terdiam, anak-anak yanng tadinya menangis, kini menangis dalam diam, seakan takut bila suara mereka akan mengundang suara guntur itu lagi. Semua hening, diam membeku.

"Oeek! Oeek!"

Apa?

"Oeek!"

Semua kepala berputar mencari sumber suara tangisan bayi yang mungkin ada di sekitar mereka.

"Oeek!"

"Di luar,"bisik Kaito. "Chibi-chan di luar!" Ya, ia yakin tadi ia mendengarnya dengan jelas. Dengan seluruh tenaganya, Kaito keluar dari cengkraman tangan-tangan itu dan berlari menuju celah kecil di antara kedua daun pintu. Ia tidak peduli dengan pekikan panik anak-anak dan para pengasuh panti, yang ia pikirkan hanya suara tangisan kecil itu, yang kini berada di bawah kerasnya badai.

"Oeek!"

"Kaito!" Seseorang mengejarnya.

"Oeek!"

"Kaito!" Dan ia mengenali suara itu, suara milik Ohara-san.

Namun Kaito tetap berlari. Di sana. Di bawah pepohonan berdaun lebat, ia tahu bayi itu ada di sana. Ia terus berlari, membawa kaki kecilnya untuk mendekat, menembus derasnya air hujan. Dan suara itu semakin keras hingga ia dapat melihat suatu benda berwarna kuning bulat yang bergerak perlahan.

Eh? Kuning?

Ia terus mendekat dan mendapati bahwa bayi mungil itu tergeletak di atas dedaunan di bawah pohon Oak tua yang besar. Dan yang membuatnya kaget adalah kepala bayi itu ada rambut dengan warna tercerah yang pernah ia lihat. Baginya itu sangat aneh-,tentu saja, mengingat semua orang Asia yang selalu ia lihat memiliki warna rambut gelap seperti hitam atau coklat. Ini? Kuning.

"Kaito! Astaga!"

Kaito berbalik, menatap pemilik pantinya itu memegangi dadanya dengan ekspresi terkejut. Namun ekspresi itu langsung menghilang dan digantikan oleh ekspresi khawatir yang sangat dikenalinya. Ia melihat Ohara-san melepas jaketnya lalu mendekati bayi itu dan menyelimutinya.

"Kaito,"panggil Ohara-san padanya. "Cepat. Masuk. Sekarang."

Wajah Kaito memucat seketika. "Ba-ba-baik, Ohara-san!"

Sementara itu, Saki menatap bayi di rengkuhannya dengan seksama. Rambut pirang, kulit tan, dan tiga garis horizontal di kedua pipinya. Sekilas, dia terlihat seperti bayi orang asing, namun bila dilihat lebih teliti, bayi itu mempunyai wajah yang oriental. Jelas-jelas orang Asia. Saki juga memperhatikan, orang tua anak ini tidak meninggalkan barang apa pun untuk bayinya. Nama pun tidak.

Aneh.

'BLAR!'

Kilat kuning menyambar-nyambar di atas mereka. Hujan sudah mulai mereda, tinggal rintik-rintik kecil yang jatuh di atas kepalanya. Saki tersenyum. Ia punya nama yang tepat. Ya. Rambut kuning cerah, seperti kilat yang baru saja menyambar.

Kiiro Senko.

Yellow Flash.

Kilat Kuning.

Sempurna.

TBC


Daftar jurus & kata-kata asing

Doton : Doryuukatsu (Elemen Tanah: Pembelah Aliran Tanah)

Doton : Doryuu Jouheki(Elemen Tanah: BentengAliran Tanah)

Katon: Housenka no Jutsu (Elemen Api: Jurus Api Abadi Phoenix)

Kage Bunshin no Jutsu (Jurus bayangan)

Ninjutsu = teknik ninja Taijutsu = teknik tubuh

Fuuinjutsu = teknik segel

Genjutsu = teknik ilusi

Musuko = anak laki-laki

Chibi = kecil

Author Note~

'BRUAK!' *dilempar meja sama tsunade*

Lea: Hua~ gomen ne~ author lagi terkena virus Nara gara-gara terlalu lama nongkrong di kandang rusa...
dan lagi kemarin juga ada sedikit masalah sama tangan author, kalau yang ini karena terlalu lama main sama Kimimaro...

okeoke...review cuma 5...:(

ah tapi tak apalah, namanya baru prolog...

Chaos Seth: Untuk Seth-san, harus kuakui kau memang pembuat CHAOS! (ing;kekacauan), tapi yah...tetap saja, jika kau tak punya pendapat atau saran yang membangun, lebih baik kau SHUT UP! mengerti Seth-san?

Hyde sasunaru: hoh...nanti kalau bilang namanya bocorin plot dong Hyde-san? oke oke,di usahain akan terus menulis, ini tadi minta obat dari Tsunade buat penangkal virus Nara...hehe

Dark Flash: kau sehati denganku, Darku-san...arigatou...

Mysteryown: wowowow! Matte! ini bukan tempat komplain atau pun Chatting! tapi...oh okelah...

Tomat: Tomat-san, arigatou...*bungkuk2*

oke...chapter ini didedikasikan untuk Yasu-chan, nee-chan, dan Ochi-chan!

Arigatou!

Review Please?