Their Secret
Kuroko no Basuke Fanfiction
By : Dee Cavallone
KnB © Fujimaki Tadatoshi-sensei
Rating : M
Genre : Crime
Warning: Psikopat! Gore! Bukan fic M karena adegan nganu.
Summary : Setiap orang punya rahasia masing-masing yang tidak diketahui orang. Setiap orang punya sisi gelap yang tidak dilihat orang. Ketika rahasia dan sisi gelap itu kau ketahui, akankah kau menghentikannya? Atau malah membiarkannya? Special birthday fiction #1 for CALICO.
Pairing : KiKuro (Kise Ryouta x Kuroko Tetsuya)
Chapter 2 - Kuroko's Side
Lagi-lagi Kuroko mendengarnya. Berita tentang Kise yang dikabarkan tengah dekat dengan rekan kerjanya. Entah itu dengan sesama model atau dengan lawan main di film atau pun dengan teman satu kampus Kise. Pihak wartawan memang senang memberi bumbu dengan menyangkutpautkan dan membandingkan dirinya dengan orang-orang yang tengah digosipkan dekat dengan Kise.
Kuroko menghela nafas lelah, dia tahu inilah resiko menjadi kekasih seorang model terkenal, namun lama kelamaan Kuroko muak dengan kisah dan gosip yang kembali berulang. Kali ini korban gosip dari pihak pengejar gosip adalah aktor pendatang baru, Takao Kazunari. Dan Kuroko pun kembali dibandingkan dengan Takao, siapa yang lebih pantas bersanding dengan Kise. Kadang Kuroko berpikir apa para pengejar gosip itu tidak bosan membahas hal yang sama setiap hari?
"Oi, Kurokooo!" suara panggilan seseorang menyadarkan Kuroko dari lamunannya.
"Domo, Kagami-kun." Sapa Kuroko sopan.
"Kau sudah siap?"
"Hai."
"Kalau gitu, ayo!" Kagami berjalan mendahului Kuroko. Hari ini mereka berencana memasak bersama, jadi mereka akan ke supermarket dulu untuk membeli bahan makanan. Sedang asyik menunggu bus di halte, Kagami menyadari jika Kuroko sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa, Kuroko?" tanya Kagami.
"Tidak. Aku hanya baru sadar kalau Kagami-kun punya rambut dan mata yang unik."
BLUSH
"Ka-kau ini ngomong apa, hah!?" ujar Kagami sambil mengacak rambut Kuroko. "Busnya sudah datang, ayo naik." Lanjut Kagami yang langsung masuk ke dalam bus.
"Hai." Kuroko mengikuti Kagami masuk ke dalam bus, sambil melirik ke arah café dimana kekasih pirangnya tengah berpura-pura menikmati minumannya. Senyuman tipis tercetak di wajah datarnya.
.
.
"Oi, Kuroko. Kau serius tidak mau membawa sisa daging mentah ini pulang? Kau bisa mengolahnya untuk pacarmu itu." ujar Kagami.
"Terima kasih atas perhatianmu, Kagami-kun. Tapi aku tidak akan membawanya. Di rumahku juga sudah banyak persediaan daging. Daging yang kusiapkan khusus untuk Kise-kun." Jawab Kuroko.
"Wah, beruntung sekali si Kise itu. Omong-omong, kau akan pakai daging apa nanti? Sapi? Domba? Kambing?"
"Daging spesial yang kudapatkan untuknya."
Dan Kagami melewatkan kilat antusias yang sedikit aneh dari manik sebiru langit milik Kuroko.
.
.
"Kurokocchi, bagaimana harimu?"
Di tengah makan malam mereka, Kuroko mendengar kekasihnya bertanya, lebih tepatnya kekasihnya itu sedang berusaha menggali informasi. Seperti yang Kuroko tebak, Kise memang memperhatikannya dengan Kagami tadi siang.
"Sama seperti hari-hari sebelumnya, Kise-kun." Jawab Kuroko tenang. "Ah, tapi tadi siang aku pergi bersama dengan temanku." Lanjutnya.
"Teman ssu?"
Benar dugaan Kuroko, Kise memang sedang mengorek informasi darinya. Namun Kuroko memutuskan untuk mengikuti permainan Kise.
"Hai. Namanya Kagami-kun, Kise-kun. Dia yang mengajarkanku bagaimana memasak tumis daging."
"Oooohhh…. Pantas saja Kurokocchi masak tumis daging untuk makan malam ssu…. Tapi ini enak sekali ssu…. Kurokocchi hebat ssu…"
'Tentu saja enak. Aku membuatnya dari daging spesial.' batin Kuroko.
"Yang hebat itu Kagami-kun. Dia bahkan memberiku buku resep buatannya sendiri untukku. Dengan begini aku bisa menambah variasi masakanku untuk Kise-kun."
"Hontou ssu? Ureshii ssu! Kurokocchi, daisuki ssu!"
'Kau tidak bisa menyembunyikannya, Kise-kun. Matamu berkilat marah.'
"Hai, hai. Sekarang habiskan makanannya, Kise-kun."
"Haaaaii~~~"
Dan malam itu, buku resep dari Kagami menghilang dari tas Kuroko.
.
.
"Begitu ya? Jadi Kagami-kun absen ya. Terima kasih atas informasinya." Kuroko membungkuk berterima kasih pada teman satu jurusan Kagami.
Hari ini Kagami tidak masuk kuliah, Kuroko sudah bisa menebaknya. Yang Kuroko sayangkan, masih banyak resep mengolah masakan dengan bahan dasar daging yang belum diajarkan Kagami padanya. Sepertinya Kuroko harus mencari guru masak baru untuk mengajarkannya.
"Haaah…. Semoga Kise-kun tidak pulang terlalu larut setelah menyelesaikan urusannya." Gumam Kuroko sambil menghela nafas panjang.
"Nah, saatnya mencari persediaan daging."
.
.
Aktor pendatang baru yang selalu tampil enerjik, Takao Kazunari, sedang menikmati alunan musik dari tangan lincah Disk Joker di sudut terdalam sebuah diskotik. Sebenarnya Takao dilarang keras untuk datang ke sebuah diskotik oleh agensinya, namun Takao tidak tahan dengan kepenatan dan padatnya jadwalnya. Menjadi selebritis itu tidak selamanya menyenangkan.
Takao menenggak minumannya ganas, berupaya melupakan gosip-gosip yang tengah menghampirinya. Dari gosip dia memakai narkoba, menjadi simpanan direktur agensinya, dan yang sekarang tengah dihadapinya, menjadi pihak ketiga dalam hubungan Kise Ryouta dan pacarnya. Hell! Bahkan Takao hanya bicara dengan Kise ketika mereka beradu akting. Meski pun Takao akui kalau Kise Ryouta masih single, dia akan memacari Kise.
"Boleh aku duduk di sini?"
Takao mendengar seseorang menegurnya, mendongak dan mendapati seorang remaja bersurai baby blue tengah meminta izin untuk ikut duduk di mejanya.
"Bukankah masih ada meja lain? Dan lagi kau masih belum cukup umur untuk masuk ke dalam diskotik. Atau mungkin kau salah satu 'pekerja'? Maaf, aku sedang tidak minat." Jawab Takao sembari mengibaskan telapak tangannya, gestur mengusir, pada pemuda di hadapannya.
"Hanya dimeja ini aku tidak perlu terganggu dengan jeritan-jeritan memekakkan telinga. Sekedar informasi, aku sudah berumur 20 tahun. Dan maaf, pekerja apa maksud anda? Saya masih mahasiswa."
Takao melongo mendengar jawaban pemuda di hadapannya ini. Dia mendatangi diskotik tapi tidak suka dengan hingar bingar jeritan pengunjung. Sudah berumur 20 tahun dengan tampang anak SMA? Baby face memang mengerikan. Dan apa-apaan pemuda ini, tidak tahu tentang istilah 'pekerja' tapi nekat masuk ke dalam diskotik? Kalau dia menegur orang lain dan bukannya Takao, Takao yakin besok pagi pemuda itu akan ditemukan telanjang di pinggiran distrik merah.
"Puh… Ahahahahahaha! Ya ampun, kau itu aneh sekali. Aduh, perutku sakit….." Takao memegang perutnya yang kram karena tertawa terbahak-bahak. "Oke, oke~~~ Kau boleh bergabung denganku~~~~" lanjut Takao.
"Terima kasih banyak." Ucap pemuda itu dan mendudukkan diri di hadapan Takao.
"Namamu siapa?" tanya Takao.
"Tetsuya desu."
"Ooooohhh…. Tetsuya-kun ya? Aku—"
"Takao Kazunari-san, seorang aktor yang tengah dikabarkan dekat dengan Kise Ryouta."
"Ekh? Kau tahu?"
"Hai. Siapa yang tidak tahu tentang Takao-san."
"Cheee~~~ Ternyata gosip itu cepat menyebar ya."
"Apa hal itu benar?"
"Tentu saja tidak!" Takao menenggak minumannya lagi sampai habis, kemudian membanting gelas itu ke meja. Dan pemuda itu langsung mengisi gelas kosong itu dengan minuman dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.
"Benarkah?"
"Ya! Lagipula, ayolah, Kise-san itu sudah punya kekasih kan? Tidak mungkin aku berpacaran dengannya. Prinsipku adalah, aku tidak akan pacaran dengan orang yang sudah punya pacar." Jelas Takao.
"Jadi kalau seandainya Kise Ryouta dengan pacarnya putus, Takao-san akan berpacaran dengan Kise Ryouta?"
"Hmmmm~~~~ Kemungkinan besar sih…. Habisnya siapa juga yang tidak mau menjadi kekasih seorang pria tampan dan baik seperti Kise-san… Ah, tapi jangan beberkan ini ya…. Hahahaha…." Ceracau Takao mulai mabuk.
"Begitukah? Kalau begitu, bolehkah aku memberimu toast?" pemuda itu memberikan gelas pada Takao.
"Hehehe~~~~ Makasih~~~~" Takao pun langsung menenggak minuman yang diberikan pemuda itu. Perlahan mata Takao mulai berat dan kesadarannya mulai hilang. Sekelilingnya terasa berputar, telinganya pun berdenging, membuat kepalanya semakin sakit. Sebelum semuanya menjadi gelap dan kesadarannya benar-benar menghilang, Takao mendengar pemuda itu berkata,
"Omong-omong, Takao-san. Aku belum memperkenalkan diriku secara lengkap. Aku Kuroko Tetsuya, kekasih dari Kise Ryouta."
.
.
"Ngghh…." Takao mulai membuka kelopak matanya. Kepalanya langsung terasa seperti dipukul oleh palu.
"Sudah sadar?"
Takao melirik ke arah pemuda teman minumnya tadi yang berjalan mendekatinya. Takao tidak dapat menggerakkan badannya sesenti pun, rasanya badan Takao lemas dan tidak bertenaga untuk mengangkat satu jari tangan pun.
"Ini…..dimana….." Takao bertanya lirih.
"Kamar mandi apartement-ku dan Kise-kun. Tunggu sebentar ya, sedikit lagi persiapannya selesai." Pemuda itu, atau yang lebih dikenal sebagai Kuroko, pergi meninggalkan Takao yang terkunci di kamar mandi. Samar-samar Takao mendengar suara benda bergesekan. Seperti suara besi yang digesek ke batu asah. Suara itu membuat kepala Takao semakin sakit.
Tak lama kemudian Kuroko kembali masuk ke dalam kamar mandi. Takao melirik Kuroko yang datang membawa berbagai jenis dan ukuran pisau. Mata Takao membelalak dengan pupil mengecil. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Takao merasakan alarm bahaya berdering di kepalanya, dia ingin segera lari namun tubuhnya kaku seperti ditahan dengan batu.
"Jadi, mau dipotong darimana dulu, Takao-san?" tanya Kuroko datar.
"Ja….ngan…." mohon Takao.
"Kau tahu, Kise-kun paling suka makan steak. Jadi kita mulai dari bagian paha saja ya." Kuroko mengambil pisau daging yang paling besar, menarik kaki kiri Takao, kemudian mengayunkan pisau itu ke pangkal paha Takao, memisahkan kaki kiri Takao dari tubuhnya.
"AAAARRRGGGGHHHHH!" Takao menjerit sekuat-kuatnya.
"Ternyata Takao-san suka menjerit-jerit juga ya. Untung saja ruangan apartement ini sudah dibuat kedap suara oleh Kise-kun. Tapi tetap saja, jeritan Takao-san mengganggu." Keluh Kuroko datar.
"Uuukkhhh… aaarrkkhh… uhug… guueehhh…." Takao tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, hanya bisa meratap dan menangis menahan rasa sakit pada bagian kaki kirinya yang kini tengah Kuroko kuliti.
Seakan tidak mendengar senguk sedan Takao, Kuroko dengan tenang mengkuliti kaki kiri Takao. Memotong di setiap sendi seperti lutut dan pergelangan kaki lalu jari-jari kaki. Kemudian memisahkan antara daging dengan tulang. Lalu mengiris daging itu dan mencucinya. Dan Takao menyaksikan semua itu.
"Ubhuupphh! Hoeeekksss!" Takao muntah melihat pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
"Takao-san, ini kakimu sendiri loh. Kenapa muntah melihat kaki sendiri?" tanya Kuroko heran. Takao hanya menatap Kuroko ketakutan.
"Lalu, Kise-kun juga suka dengan kroket daging. Bagian yang paling enak untuk dibuat kroket adalah lengan atas."
Kuroko mengambil pisau dapur berukuran sedang, menarik tangan Takao dan merobek lengan baju Takao. Kemudian Kuroko menyayat lengan atas Takao, secara perlahan namun cukup dalam untuk menyobek serat-serat otot lengan atas Takao. Takao kembali berteriak dan tubuhnya menggelinjang menahan rasa sakit. Namun pegangan Kuroko pada tangan Ttakao tidak mengendur, malah semakin kencang. Kuroko terus menusuk dan menyayat lengan atas Takao. Mengirisnya menjadi beberapa bagian. Kuroko baru berhenti ketika daging lengan atas Takao habis dan hanya menyisakan tulang. Takao yang sudah lemas kehilangan banyak darah, hanya bisa pasrah atas perlakuan Kuroko.
"Selanjutnya, ini." Kuroko mengelus perut six-pack Takao sebelum membelahnya. Kali ini Takao hanya bisa mengeluarkan sedikit respon, namun Takao dapat merasakan bahwa bagian dalam perutnya diaduk-aduk entah oleh apa.
"Takao-san?" panggil Kuroko yang melihat mata Takao yang nyaris kehilangan cahayanya.
"Aku tidak menyangka akan menyelesaikan ini hanya dalam waktu 30 menit. Biasanya akan selesai dalam waktu 1-2 jam loh. Takao-san sangat kooperatif, aku berterima kasih. Sebagai ucapan terima kasih, tidurlah dengan tenang, Takao-san—" Kuroko menengadahkan kepala Takao sehingga leher Takao terekspos kemudian memposisikan pisau besar bergesekan dengan kulit leher.
"—dan jangan pernah bangun lagi." dan kepala itu kini terlepas dari porosnya.
.
.
Kuroko mendengar suara pintu apartement mereka terbuka. Dan tak lama kemudian Kise memasuki kamar mereka.
"Okaerinasai, Kise-kun." Sambut kuroko.
"E-eeh? Kurokocchi kenapa belum tidur ssu?" tanya Kise sambil mendekati Kuroko dan duduk di pinggir ranjang mereka.
"Aku menunggumu, Kise-kun. Dan mana salamnya?"
"A-aahh… Tadaima ssu, Kurokocchi. Omong-omong, aku punya hadiah untuk Kurokocchi… Tadinya ingin kuberikan besok karena kupikir Kurokocchi sudah tidur ssu…" Kise mengeluarkan sebuah kotak besar dan memberikannya pada Kuroko. Tanpa membukanya, Kuroko sebenarnya sudah tahu apa isi kotak itu.
"Boneka porselen lagi, Kise-kun?" Kuroko melihat dua buah boneka di dalam kotak itu.
"Iya ssu…"
"Boneka kita sudah banyak Kise-kun…"
"Tapi ini unik dan langka ssu… Lihat, yang ini memiliki rambut dan mata sebiru lautan… Yang ini juga rambutnya unik, merah dengan gradasi hitam, matanya juga membara seperti api ssu…"
"Hm… Kau benar, mereka berdua memang unik. Akan kusatukan mereka berdua dengan yang lain. Semoga mereka bisa berteman dengan yang lainnya. Kise-kun mandi saja sementara aku akan memperkenalkan mereka berdua pada yang lain." Ujar Kuroko yang bangkit dari ranjang, kemudian berjalan menuju ruang boneka. Kise menurut dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Mattaku…. Kurokocchi lupa membereskan mainannya ssu…" Kise mengeluh kemudian mulai membereskan sisa-sisa darah yang bercecer, tulang dan rambut dari mainan Kuroko. "Yah, lumayanlah untuk menambah bahan baku boneka ssu…."
Di ruang boneka, Kuroko memandang koleksi boneka mereka, yang kini sudah bertambah 2 anggota baru. Kuroko melihat puas rak boneka meraka, sudah hampir lengkap. Boneka berambut dan mata berwarna pink, lalu ada juga yang memiliki rambut dan mata ungu, hijau, abu-abu, merah kecokelatan, cokelat tua (dengan alis yang sangat tebal), putih, hitam (ada sedikit noda di bawah mata kirinya, sehingga terlihat seperti tahi lalat), hitam kecokelatan, dan hitam kelam. Kuroko tersenyum melihat koleksi boneka mereka.
"Berteman yang baik dengan Aomine-kun dan Kagami-kun ya, Momoi-san, Murasakibara-kun, Midorima-kun, Haizaki-kun, Ogiwara-kun, Kiyoshi-san, Mayuzumi-san, Himuro-san, Kasamatsu-san, dan Nijimura-san." Kuroko beranjak meninggalkan ruang boneka dan mematikan lampunya.
"Selanjutnya, mungkin akan datang boneka dengan manik heterochrome dan cokelat susu yang menjadi teman baru kalian." Kuroko menutup pintu ruangan dengan senyuman psikopat terlukis di wajah datarnya.
— End of Kuroko's Side —
.
.
Omake
Kise kembali mendapati Kuroko berduaan dengan pemuda lain di toko buku. Pemuda bersurai merah darah dengan mata heterochrome. Mereka tengah sibuk memilih dan mendiskusikan sesuatu ketika Kise berjalan melewati toko buku kecil itu. Seringaian kembali tercetak di wajah tampannya.
"Jadi itu yang ingin dijadikan koleksi ssu…." Gumam Kise.
"Eh? Kise-san bilang apa?" pemuda kecil bersurai bumi dengan pupil kecil berwarna cokelat susu bertanya pada Kise dengan raut muka bingung.
"Tidak ada kok ssu~~~ Jadi, mau wawancara dimana, Furihata-kun?" balas Kise sambil tersenyum penuh pesona, membuat wajah Furihata merona merah.
"Ba-ba-bagaimana kalau di café itu?" tawar Furihata gugup.
"Oke ssu~~~~" Kise menarik tangan Furihata menuju café yang dimaksud.
Kuroko melihat Kise menarik tangan seorang pemuda mungil berambut cokelat dengan tubuh yang tidak bisa berhenti bergetar. Entah pemuda itu gemetar karena takut atau salah tingkah. Kuroko terus memperhatikan wajah pemuda yang menjadi merah karena Kise mengucapkan entah-kalimat-apa pada pemuda itu.
"Maaf menunggu, Kuroko." pemuda yang menemani Kuroko mencari buku sudah keluar dari toko buku.
"Tidak apa, Akashi-kun." Balas Kuroko.
"Ayo kita makan siang dulu. Kau mau dimana?"
"…..Bagaimana kalau di café itu?" Kuroko menunjuk café yang dimasuki oleh Kise dan Furihata.
"Baiklah. Ayo."
"Hai."
Kise melihat Kuroko dan Akashi menuju café tempatnya bersama Furihata. Baik Kuroko mau pun Kise melakukan kontak mata, sebelum berpaling dan mengembangkan 'senyum' mereka.
— End of Their Secret —
.
Yaaaaa~~~~ Selesai juga akhirnya fiksi permintaan Neng CALICO…. Neng, ini fiksi-nya yah…. Harus suka loh, gak terima protes!
Demi apa KiKuro ternyata pasangan psikopat!? Mana mereka sama-sama tahu rahasia pasangannya lagi…. tapi bukannya dihentikan, mereka malah saling kasih kode-kode gitu buat siapa yang bakal dijadiin 'boneka' dan 'daging spesial'. Gimana gore dan adegan psikopatnya? Masih kurang? Kalo masih kurang, tambahin bon c*be aja ssu…. (gak nyambung) *ditendang* Daaaaannnn~~~~~ Dee pengen bilang, fiksi ini tidak menerima request sequel ssu….. Biarkanlah mereka ending sampai disini saja… /plak/
PS: Tadinya mau buat ini jadi oneshot, tapi begitu liat words count-nya yang 4K+, akhirnya dee pisah jadi 2-shot deh…
Mdn15112015
