Tubuhnya gemetar, tatapan matanya sayu seperti orang yang sedang putus asa. Kepalanya terasa berat dan dia tidak mampu memikirkan apa-apa. Bahkan tiba-tiba otaknya tidak bisa bekerja untuk memberitahu siapa namanya atau apa yang sedang ia lakukan.

Dalam hati, ia mengutuki otaknya sendiri.
Karena saat ini, benda itu hanya bekerja untuk menyadarkannya akan rasa sakit dan nikmat yang tengah ia rasakan.

Pergelangan tangannya diikat erat dengan dasi berwarna kuning, membuatnya seperti sedang memeluk leher pemuda beriris merah itu. Dasinya sendiri tengah melilit lehernya.

Punggungnya bersandar pada tembok di samping perpustakaan yang terkunci dan kedua kakinya membelit pada pinggang 'bassist' band-nya. Semua kancing kemeja hitamnya sudah terbuka, sementara rompi orange, jas dan celana putihnya menghilang entah kemana.

"Jangan tahan. Bersuaralah." Perintah itu jelas tapi Leon menggeleng pelan dan menggigit bibir bawahnya, tidak mau menuruti begitu saja. Tentu saja Lucas tidak akan berbaik hati walau keadaan Leon sudah berantakan seperti ini.

"Kh— akh—" Lucas menarik ujung dasi di leher Leon, membuat teriakan tertahan keluar dari bibir si surai jingga. "Ah- ngh–"

Senyum Lucas melebar begitu 'musik' yang ia inginkan terdengar di telinganya. Tangannya masih bekerja melakukan kocokan pada alat vital Leon sementara bibirnya sibuk mengisap leher Leon. Sesekali menggigit, memberi tanda kalau Leon sudah menjadi miliknya.

Tangan bebas Lucas melonggarkan dasi di leher Leon sedikit, memberi kesempatan bagi Leon untuk bernapas. Dia juga yakin, Leon tidak akan berani menolak sekarang.

Desahan pelan itu berubah menjadi lebih keras, mengikuti tempo pergerakan tangan Lucas yang semakin cepat. Tanpa sadar Leon mengeratkan pelukannya serta lilitan kakinya di tubuh Lucas. Hal itu tentulah membuat Lucas jadi semakin 'horny' dan tidak sabar.

"Lu—cas.. A, aku.. mau.. kelu— mnh!" Suaranya tertahan karena Lucas tiba-tiba mencium bibirnya dengan nafsu, membuat pertarungan lidah yang terpaksa harus Leon ikuti. Tubuhnya bergerak tak nyaman karena ibu jari Lucas menekan ujung 'miliknya', menahan dengan paksa klimaksnya.

"..Kau pikir aku akan membiarkanmu keluar?" Kembali ia meneruskan kegiatan adu lidah untuk beberapa detik sebelum menarik diri. "Kita baru saja mulai, kau tahu."

Paha kanan Lucas menahan berat tubuh Leon sementara ia menurunkan risleting celana seragamnya dan menurunkan boxernya hingga 'miliknya' terekspos.

Tanpa menunggu aba-aba, satu hentakan paksa menyerang dinding dalam Leon. Iris biru langit itu melebar dan tubuhnya bergetar hebat. "Ah— a, ahh— s, sakit.."

"Kau.. sempit," Lucas menyeringai sambil menarik dirinya keluar dan memaksa dirinya masuk kembali. "Jika sesempit ini.. Jadi, sebenarnya kau juga menginginkanku?"

Desahan Leon semakin terdengar intens, disertai pekikan kesakitan karena Lucas tidak menunggu dirinya untuk membiasakan diri. Tapi rasa sakit Leon justru memberi kenikmatan tersendiri bagi Lucas. Untuk saat ini, jiwa sadisnya sedang merasuki tubuhnya.

"Ah- ahh– h, hentikan– L, Lu– AHH!" Desahan yang tiba-tiba menjadi sangat keras itu terdengar saat Lucas berhasil mengenai titik paling sensitif di dalam tubuh Leon.

"..Aha." Lucas menjilat bibirnya sendiri. Kilatan nafsu semakin terlihat jelas di kedua iris merahnya. "Apa aku tepat sasaran?" Dan ia mempercepat gerakan pinggulnya, dengan kasar dan di titik yang sama.

Salah satu tangannya bermain dengan salah satu kuncup di dada Leon; menekan, menarik dan memilinnya, membuat si rambut jingga semakin kehilangan kontrol. Rasa sakit sebelumnya telah hilang, digantikan rasa nikmat karena birahi mereka berdua. Tetapi, batin Leon masih terasa sakit dan dia merasa dirinya—kotor.

"Le.. on.." Desah Lucas karena dia sudah hampir mencapai batasnya. "Aku mencintaimu.."

Dan mereka berdua 'keluar' di saat yang hampir bersamaan. Hasil klimaks Leon mengenai seragam Lucas dan sebagian milik Lucas membasahi lantai di bawah mereka.

Leon yang sudah terlalu lelah, pasrah ketika tubuhnya jatuh dalam pelukan Lucas. Kesadarannya hampir hilang tapi ia masih bisa mendengar suara Lucas yang bergetar.

"Kau hanyalah milikku, Leon.. Milikku seorang."

Satu kecupan manis di bibir Leon dan sebelum Leon benar-benar hilang kesadaran, matanya menangkap air mata terjatuh dari iris merah Lucas.

"..Je t'aime."