The Wind that Blows
Disclaimer :Naruto Masashi Kishimoto
Rating : T+
Genre : Romance, Friendship, Drama
Ruang kepala RS ternama di Tokyo itu begitu hening setelah sang kepala RS tersebut mengusap wajahnya dengan gusar. Sang tersangka hanya dapat menampakan sederet Gigi putihnya. Sedangkan sang korban dengan pasrah menepuk jidat sambil menggelengkan kepala pirangnya. Tak ada lagi Kata yang bisa menggambarkan kemarahan ayah dari Haruno Sakura tersebut. Dan Tak habis pikir dimana rasa tanggung jawab Dan profesionalitas yang selalu ia tekan kan pada putrinya tersebut, tanggung jawab serta profesionalitas hilang hanya karena sebuah mood sang putri yang turun derastis.
Tok Tok
Ketukan pintu membuat 3 kepala berbeda itu menoleh secara bersamaan. Setelah mendapat jawaban dari sang empunya ruang, masuklah seorang perempuan dengan beberapa kertas di tangannya.
"Shizune-nee, kau menyelamatkanku..."
Perempuan berambut pink tersebut hendak memeluk perempuan berambut hitam sebahu tersebut, namun sebelum ia dapat merengkuh tubuh sepupunya tersebut Sakura mendapatkan sebuah jitakan kencang-kencang dari Shizune.
"Lain Kali Aku tidak akan membantumu. Aku akan membiarkan pasienmu mati." Sewot Shizune
"Aku tidak akan melakukannya lagi Aku berjanji!" Salam Dua jari ia berikan pada sang sepupu.
"Sakura, Ino kalian boleh kembali." Pria baya itu memperbolehka kedua perempuan itu untuk kembali bekerja.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, Sakura mendapat beberapa kertas dari Shizune 'catatan medis'. Memutar bolamatanya Sakura kembali melangkah.
Seharusnya ia tahu betul apa yang akan terjadi jika ia melakukan hal tersebut, namun mau bagaimana lagi, ia sudah begitu pusing beberapa bulan terakhir, masalah pasien dan masalahnya dengan sang kekasih-mantan kekasih. Melamun membuatnya tidak sadar bahwa ia telah mengabaikan teman-sahabat sekaligus asistennya. Ia harus membayar gaji Ino dengan gajinya yang juga telah dipotong ayahnya untuk tiga bulan kedepan. Menghela napas, ia berhenti yang membuat Ino juga ikut berhenti.
Ada apa? Ino bertanya dengan wajah aneh.
"Hubungi pria yang menabrakmu kemarin. Dia harus bertanggung jawab. Ujar Sakura sambil memainkan jari telunjuknya di depan wajah Ino .
"Aku baik-baik saja, jadi tidak perlu menghubunginya.
"Tapi aku tidak, aku tidak bisa makan selama tiga bulan kedepan Ino. Ino terbengong mendengar penuturan Sakura. Hei yang benar saja gaji yang di potong itu sudah cukup membuatnya kenyang selama tiga bulan, dan dia masih belum puas juga?
Menepuk jidatnya Ino menggelengkan kepala sambil berlalu meninggalkan Sakura yang meneriaki namanya berkali-Kali. Ino tidak habis pikir dia bisa mempunyai teman yang gila, tapi sayangnya ia punya otak cemerlang bahkan otaknya tersebut dapat menuntunnya hingga diposisi saat ini .
The Wind That Blows
Sakura nampak memutar-mutar kursi kerja miliknya, terlihat sebuah bolpoin terselip diantara bibir dan hidungnya yang mungil. Matanya nampak mengamati atap gipsun putih tersebut. Terkadang matanya terlihat terpejam, napasnya teratur.
Beberapa saat setelahnya ia terlihat merogoh saku jas putih miliknya. Ia menemukan sebuah phonecell miliknya dan mengetik sebuah pesan pada seseorang. Tak lama ia menerima sebuah balasan. Ia terduduk tegap dan meletakkan bolpoin yang sempat ia mainkan sedari tadi. Ia berdiri Dan bergegas meninggalkan ruangannya.
Sebuah ruang yang di penuhi oleh beberapa alat medis disana nampak terbuka dengan otomatis, itu menandakan seseorang telah memasuki ruang tersebut. Nampaklah sang putri tunggal Haruno dengan setelan baju oprasi khas berwarna biru miliknya dan milik timnya Ia mengangguk pertanda dimulainya oprasi sekaligus permintaan maaf darinya yang terlambat keruang oprasi. Disini bisa dilihat Ino tengah memelototinya dengan memegan pisau bedah ditangannya. Jika saja mereka (Tim) menunggu Sakura lebih lama lagi, Ino akan memastikan bahwa pisau itu akan membelek perut Sakura. Melupakan rencananya barusan Ino memilih menyerahkan pisau tersebut pada sang akhli. Sebelum membedah pinggang sang pasien Sakura memastikan keadaan pasien dengan bertanya pada timnya. Setelah dirasa aman Ia mulai membelek pinggang sang pasien dengan hati-hati. Bagaimanapun juga Ia tidak mau membuat pasiennya itu kehilabgan nyawanya. Salah satu dari Tim tersebut memberitahunya bahwa sang pasien adalah seorang CEO di sebuah perusahaan terkemuka, jadi tidak ada alasan untuk Sakura untuk tidak berhati-hati bukan? Jika sang pasien meninggal di tangannya apa yang akan di katakan oleh media masa tentangnya? Dan itu menyangkut nama keluarganya. Bisa jadi masalah yang besar bukan?
Sakura nampak sangat serius melakukan oprasi kali ini, ia sedikit heran, kenapa terdapat pecahan kaca di pinggang sang pasien. Salah satu alisnya masih terangkat ketika Ino memberikan jarum untuk menjahitnya. Ia melakukan dengan teliti. Setelah serasa semua telah beres ia mulai meninggalkan ruangan dengan jas biru berlumur dara. Disusul oleh Ino yang masih setia menggunakan masker diwajahnnya.
Ada apa dengan pasien? Sakura membuang sarung tangan yang melekat di kedua tangannya kedalam tong sampah, sambil menghirup udara dalam-dalam.
Ino membuka maskernya dan melakukan sama persis apa yang Sakura lakukan. Membuang masker dan kedua sarung tangannya.
"Aku tidak begitu mengerti, tapi ada yang bilang bahwa dia ditusuk pecahan kaca oleh rekan bisnisnya. Ino memang selalu mendapat informasi entah dari siapa.
"Jika saja ia banyak bergerak, dan tidak ditangani segera, aku khawatir pecahan kaca tersebut akan mengenai tulang belakangnya.
"Iya kau benar.""
Setelah Ino berhenti mengucapkan kalimat tersebut terdengarlah ribut-ribut yang menyita perhatian kedua perempuan tersebut. Kemungkinan besar mereka adalah keluarga dari sang pasien. Semakin mendekati dirinya dan Ino semakin pelan mereka berbicara. Seorang perempuan berambut indigo dengan raut wajah khawatir dan mata berkaca-kaca menatap Sakura. Dari sorot matanya ia tahu bahwa perempuan tersebut ingin menanyakan keadaan keluarganya.
"Dia akan baik-baik saja setelah melewati oprasi ini. Jika kondisinya semakin baik beliau bisa dipindahkan ke kamar rawat. Senyum Sakura membuat sang perempuan indigo tersebut bernapas lega.
"Aku berpikir bahwa aku akan kehilangan kakakku. Syukurlah. Terimakasih dok.
Sakura hanya menaggapinya dengan sebuah senyum dan berlalu dari hadapan perempuan tersebut disusul dengan Ino yang mengekorinya. Keduanya masih asik bercakap saat seseorang menyenggol bahu kecilnya. Hampir saja mulutnya bersuara kasar jika ia tidak mengingat ia sedang berada di lorong Rumah Sakit. Ia pun melempar senyum kepada setiap orang termasuk orang yang menabraknya. Matanya memicing saat melihat sang penabrak. Ia berpikir sepertinya ia pernah melihat pria berbadan tegap dan rambut raven tersebut. Senyumnya hilang Saat seorang pria menghampirinya.
"Sasuke apa kau sudah mengetahui dimana kamar Neji berada? Apa Dia sudah di oprasi?" Pria lain menepuk Bahu seseorang yang di panggil Sasuke barusan.
"Aa... kau?" Ino mengarahkan telunjuknya pada sang pria yang barusan berbicara. Mendengar suara Ino barusan membuatnya menoleh padanya.
"Aaah kalian yang kemarin. Kalian harus bertangging jawab, karna kalian Aku Dan Ino harus bertahan dengan gaji Kami yang di potong!" Ah sepetinya perempuan cerdas tersebut telah mengingat siapa mereka.
"Kenapa harus Kami yang bertanggung jawab?" Pria bernama Sasuke menyahuti perkataan Sakura.
"Karna kalian menyebabkan Ino sulit berjalan dan kami terlambat datang bekerja" oh kau pintar sekali dalam membohongi orang yang barusan kau temui nona Haruno.
"Ah bisa bicara lain waktu saja? Sekarang teman Kami sedang dirawat." Pria berambut klimis menanggapi kemarahan Sakura sambil tersenyum.
"Berikan phonecelmu!" Pria berambut raven menyodorkan tangannya pada Sakura.
"Untuk apa?!"
Pria berdarah Uchiha tersebut mulai kesal. Ia mnampak mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Bukannya kau meminta Kami bertanggung jawab?!"
Mulut Sakura terbuka dan ia mulai merogoh saku jas dokternya. Matanya membulat saat ia tidak menemukan benda tersebut berada.
Ia merapakan tubuhnya pada Ino dan berbisik pelan.
"Aku tidak meninggalkan phonecellku ditubuh pasien barusan kan?"
Mata Ino melotot sempurna mendengar penuturan barusan, bagaimana bisa ia bercanda seperti itu.
"Aku akan membunuhmu jika itu terjadi."
Sakura mengedipkan kedua matanya dan kembali pada posisi semula.
"Sepertinya Aku meninggalkannya di ruanganku, kau bisa ikut denganku?"
Lagi Sasuke membuang napas. Ia merogoh saku jas hitamnya dan memberikan Sakura sebuah kartu nama.
"Kau bisa mendatangiku kapanpun!"
Setelahnya ia dan Sai meninggalkan Sakura dan Ino yang terbengong. Sedetik kemudian Sakura mengangkat sebelah alisnya, sambil berjalan bibir gadis tersebut tidak berhenti mengucap nama 'Uchiha' seperti tak asing. Ia segera menuju ruangannya dan tentu saja Ino masih mengekorinya. Sesampainya di ruangannya ia menghidupkan layar komputer dan mulai mencari nama Uchiha Sasuke di kolom pencarian. Matanya terbuka lebar saat ia membaca informasi yang ia dapatkan.
"Apa yang kau lakukan?" Ino mendekatinya dan ikut membaca informasi yang disuguhkan dilayar monitor. Setelah membaca dan menscrol kebawah, ia berhenti kemudian menatap Sakura yang masih saja terdiam.
"Informasi ini tidak benar kan?" Ino menatap monitor dan Sakura bergantian.
"Bagaimana kalau Kita memanfaatkan mereka? Lumayankan, gaji yang dipotong ayah dapat kutabung untung jalan-jalan ke Eropa." Ia nampak tersenyum bahagia.
"Kau sudah Gila? Aku tidak akan memanfaatkan mereka. Mereka memang kaya, tapi Aku rasa mereka terlalu berbahaya untuk dimanfaatkan. Dan terlebih lagi-menggigit bibir- mereka berdua tampan." Sakura menatap Ino tidak percaya. Masih saja berpikir mereka berdua tampan? Yah memang sangat tidak gampang untuk menolak pesona mereka, oh tapi ayolah ini kesempatan bagus untuk mereka bukan?
Dengan sedikit kencang Sakura memukul kepala Ino dengan sebuah bulpoin yang tergeletak di mejanya tadi. Sedetik kemudian bisa didengar suara rintihan Ino sambil menggosok-ngosok kepalanya Ino mulai meninggalkan ruangan Sakura.
Sepeninggalan Ino, Sakura nampak tersenyum, sepertinya perempuan berambut pink tersebut tengah memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuknya. Uchiha Sasuke... bibir tipisnya menyeringai. Dia terlihat tidak sedang patah hati jika dilihat seperti itu,
The Wind That Blows
Sakura nampak keluar dari Rumah Sakit tempatnya bekerja, make up tipis masih setia menempel pada kulitnya yang pada dasarnya putih. Senyumnya mengembang saat mengetahui sosok berjas hitam tengah menunggu di atas kap mobil hitam miliknya. Kaca mata hitam bertengger manis pada hidung mancungnya. Tanpa membuang waktu pria itu turun dari kap mobil dan kemudian membuka pintu kemudi dan memasuki mobil tersebut, tidak lupa Sakura juga memasuki mobil yang sama dengan sang pria.
Aku tidak percaya bahwa tuan Uchiha mau menungguku, aku terkesan. Ocehan Sakura membuat sang Uchiha segera menginjak pedal gasnya.
Apa kau mau memerasku? pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir bungsu Uchiha barusan.
Aku tidak akan memerasmu, tenang saja. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab memberiku makan selama 3 bulan. Mata hijaunya menyala dalam gelapnya mobil dan memang hari sudah malam.
Setelah beberapa saat berlalu mereka sampai di sebuah restoran. Mereka memesan dan makan, ah ralat Sakura yang memakan semua makanan sedangkan Sasuke hanya mengamatinnya dengan pandangan terheran. Apa permpuan itu tidak memiliki sopan satun atau bagaimana? Dia makan seperti tidak pernah makan bertahun-tahun.
Kau tidak mau makan tuan? Sakura menawarkan sebuah lopster padanya. Gelengan Sasuke membuat Sakura mengarahkan sumpitnya pada mulut tuan muda tampan tersebut.
Jika kau sedang bersamaku, kau harus makan. Mau tak mau mulut Sasuke membuka. Senyum mengembang Sakura mampu membuat Sasuke terpukau, ada apa tuan muda? Anda terbius oleh kemanisan yang dipunya oleh putri tunggal tuan Haruno eh? Saat Sakura akan menyuapi Sasuke(lagi), Sasuke menolak.
Untuk mu saja. Sediki kecewa Sakura membawa makanan tersebut kedalam mulutnya sendiri.
Selesai makan kedua orang tersebut segera meninggalkan restoran menuju mobil hitam itu berada. Namun Sasuke tidak berpikir untuk mengantarkan Sakura pulang. Ia memasuki mobilnya dan tidak sadar bahwa Sakura juga mengikutinya memasuki mobil miliknya.
Apa yang kau lakukan? Sakura nampak santai memakai sabuk pengaman di tubuhnya.
Kau akan mengantarku pulang tuan. Kedipan mata Sakura mampu membuat Sasuke menaikan alisnya.
Bukankah aku hanya membayarimu makan selama 3 bulan kedepan? mereka nampak bertatapan.
Apa kau tidak pernah diberitahu oleh ibumu, bahwa tidak baik seorang perempuan pulang sendirian , dan kau bisa lihat? Diluar sudah sangat gelap. Oh baiklah tuan sepertinya perempuan berambut pink itu akan menguras kesabaranmu selama tiga bulan kedepan.
Tidak usah banyak protes dan jalankan mobilmu, ke jalan Green Line no 23. Sakura mengalihkan pandangannya kearah jalan sedangkan Sasuke hanya dapat menelan dalam-dalam emosinya, jika dia buakanlah seorang permpuan dia sudah dari tadi menendangnya keluar dari mobilnya.
Perempuan ini benar-benar...
Yahooo mina-sama kyori is back wkwkwk
Mengenai Chapter 1 The Wind thah blows, yang penulisannya Italic itu unsur ketidak sengajaan kyori, berhubung malas untuk membuka suami saya alias laptop jadi nulisnya hanya melalui Phonecell butut saya dan alhasil seperti itu
Gomennasai minna-sama huwaa #nangis bombai.
Dan maaf juga untuk keterlambatannya Chaptrer 2 ini rasa mager sedang sangat menyelimuti kyori. Wahahah
Oky sampai berjumpa di next chapter
Salam cinta
kyori
