"Aku Kim Taehyung atau Azazel. Pemimpin malaikat penghuni surga sayap kiri."
"Kami tercipta dari pijaran api putih yang begitu panas. Kami makan, minum, tidur, dan beristirahat di dalam surga."
"Kami memiliki materi kebajikan di dalam jiwa suci kami. Dan kami pun memiliki antimateri yang merupakan potensi dosa yang mungkin kami manifestasikan ke dalam tindakan nyata suatu hari nanti."
"Singkatnya, kami memiliki potensi hawa nafsu."
"Kami berbeda dari para malaikat penghuni surga sayap kanan di bawah kepemimpian Hong Jisoo atau Gabriel."
"Mereka malaikat yang tidak butuh makan, minum, tidur, maupun istirahat."
"Perbedaan yang paling mendasar antara klan kami berdua adalah—Klan Jisoo tidak memiliki antimateri. Yang artinya klan mereka tidak memiliki potensi untuk melakukan pelanggaran maupun dosa-dosa sepanjang hidup mereka. Bahkan hingga sampai pada saat semesta hancur berantakan ketika waktunya tiba kelak."
.
.
Blood Sweat and Tears
Title:
Blood Sweat and Tears
Author:
Elixir Edlar
Cast :
All BTS Member
Genre:
Fantasy and Romance
Rate:
PG-17
(Masih aman kok tapi ada implisit gitu-gituan scene)
Disclaimer:
All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.
This story is originally from my own mind.
Warning :
Boys Love, Typos, EYD-failed, Unbeta-ed, AU, OOC
Read on Your Own Consent! Thank You~
.
.
HEADNOTE:
Do not take it so seriously 'cause it's just a fiction.
Semua yang ada di dalam fiksi ini murni fiktif dan imajinasi yang dicampur beberapa istilah umum yang biasa dipakai.
Tidak ada tujuan blasphemy atau penghinaan terhadap agama mana pun dalam fiksi ini.
.
.
CHAPTER 2
LIE
.
Tepat setelah keenam malaikat pendamping Taehyung menyantap hidangan dalam perjamuan terakhir, antimateri mereka muncul dari inti tubuh mereka secara sekonyong-konyong.
Manik sekelam malam mereka pun memudar dan berganti dengan spektrum yang berbeda-beda. Menunjukkan bahwa para malaikat tersebut telah ternoda kemurniannya akibat percikan dosa yang mereka lakukan tanpa kesadaran dari masing-masing empunya.
Kim Seokjin, warna netra yang semula hitam pekat berganti menjadi amber atau cokelat keemasan dengan aksen bening yang mengelilingi pupilnya. Merupakan simbol dari iri hati dan rasa dengkinya terhadap Kim Taehyung yang tidak lain adalah pemimpinnya sendiri.
Min Yoongi, tidak jauh berbeda. Manik kelamnya berubah menjadi warna merah scarlet. Merupakan lambang dari amarah dan kemurkaan yang selama ini tertahan dan tersembunyi dengan baik di dalam dasar jiwanya yang paling dalam.
Jung Hoseok, kedua irisnya yang berspektrum hitam pun memudar menjadi violet lavender. Merupakan indikasi signifikan dari manifestasi lepasnya penguasaan diri terhadap nafsu perut yang tidak lain adalah hasrat berlebih terhadap makanan dan minuman.
Kim Namjoon, juga sama. Obsidian sepekat langit malamnya telah bertransformasi menjadi hijau anggur yang begitu cerah. Suatu representasi dari pudarnya ketekunan dan karakter rajin yang berubah menjadi sebuncah kemalasan beserta hilangnya daya dan semangat untuk belajar yang ada di dalam dirinya.
Jeon Jungkook, pun tidak ketinggalan. Biner barunya yang kini berwarna abu terang berkilat-kilat pun membuat penampilan wajahnya tampak begitu menggoda. Menggoyahkan iman siapa pun yang terjerat ke dalam pesona manik silver yang begitu memikat hati tersebut. Sebuah manifestasi dari hilangnya kemurnian dan kesucian jiwa yang begitu dijaganya selama ini.
Sementara di ujung meja panjang berbentuk oval tersebut—tempat di mana sang pemimpin mereka menyamankan diri di atas singgasananya—tampak seulas seringaian licik lengkap dengan kedua manik hitam yang telah berganti warna menjadi biru langit yang begitu cerah sempurna. Simbolisasi dari kerendahan hati yang telah tergerus habis menjadi sebuah arogansi berhiaskan tatapan manipulatif yang begitu memperdaya siapa pun yang menatap langsung ke dalam matanya.
Namun demikian, ada satu hal yang berbeda.
Ada satu malaikat yang masih tetap memiliki iris sekelam manik malam. Pertanda bahwa kemurnian dan kesucian jiwanya masih terjaga sepenuhnya tanpa cipratan dosa. Park Jiimin adalah satu-satunya malaikat yang masih tetap memiliki iris sekelam langit malam itu.
Alasannya?
Jimin tidak meminum cairan keemasan di gelas pialanya ketika Taehyung mengajak malaikat-malaikat pendampingnya bersulang. Ia hanya menempelkan belahan bibirnya di mulut gelas tanpa sedikit pun mengecap cairan bernama Wiski yang Taehyung katakan berasal dari salah satu mata air di taman Firdaus.
Apelnya pun masih utuh di piring emasnya tanpa mau ia sentuh sedikit pun. Hanya ia pandangi dengan penuh perhatian bagaiman bentuk dan lekuk buah berwarna merah yang kata Taehyung bisa membawanya ke dalam buai kenikmatan surga ketujuh tersebut.
Lagi pula Jimin hanya diam saja sejak pertama kali ia mendaratkan bokongnya di kursi jamuan. Ia bahkan tak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Sebuah fenomena cukup aneh apabila Jimin mendadak menjadi pendiam di acara perjamuan makan malam karena biasanya ia akan menjadi sosok yang paling cerewet di antara kawannya yang lain.
.
.
Taehyung menatap satu per satu saudaranya dimulai dari Seokjin yang duduk paling dekat di sisi kanannya. Kemudian pandangannya beralih kepada Namjoon yang berada di sisi kanan Seokjin, Jungkook di sebelah Namjoon, Hoseok di hadapan Jungkook, Yoongi di sebelah kanan Hoseok.
Dan yang terakhir adalah Jimin yang duduk persis di sebelah kanan Yoongi. Yang artinya juga berada tepat di sisi kiri Taehyung saat ini.
'Jimin, mengapa kau tidak menyantap sajian makan malammu?' Taehyung bertanya melalui telepati. Seulas senyum berbahaya terbingkai di wajahnya yang tampak menyeramkan bagi Jimin saat ini.
'Kau tidak bisa memaksaku untuk menyantap buah terlarang beserta minuman jadah ini, Kim Taehyung!' Jimin menatap Taehyung dengan tatapan garang. Menjawab pertanyaan Taehyung juga melalui telepati.
'Oh, tentu saja. Aku takkan pernah memaksamu, Jiminnie,' Taehyung menyeringai dan mengalihkan pandangannya pada malaikat termuda. Sosok yang ternyata tengah menatap satu-satunya malaikat yang masih murni, Park Jimin, dengan tatapan lapar ala predator.
Jungkook bahkan menggigit bibir bawahnya dan menjilat sudut bibirnya sekilas. Yang mana hal ini tentu saja tidak disadari oleh kelima malaikat lainnya. Kim Taehyung merupakan pengecualian. Karena setiap gerak-gerik Jungkook diawasi oleh Taehyung dengan saksama tanpa luput sedikit pun.
'Jungkook, lihatlah malaikat suci ini. Bukankah dia indah? Bukankah dia cantik?' melalui telepati, Taehyung mulai menghasut Jungkook yang manik abunya tengah berkilat-kilat penuh nafsu. Tatapannya pun seolah hanya terpasung pada satu malaikat yang duduk di sisi kiri Taehyung. Di kursi yang paling dekat dengan pemimpinnya tersebut.
'Hm, dia sangat cantik dan indah,' Jungkook menjawab dengan geraman dan seringai yang tak pernah ia tunjukkan selama ini—dalam telepati dua arahnya bersama Kim Taehyung.
'Kalau begitu, klaimlah dia. Park Jimin milikmu malam ini, Jeon Jungkook!' Taehyung melirik licik ke arah Jimin seraya menaikkan alis sebelah kirinya yang seolah memberi sinyal kepada malaikat termuda itu untuk segera menyambangi sosok cinta terpendamnya selama ini.
Sementara itu Jimin mulai gelisah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres karena telepatinya dengan Taehyung tiba-tiba terputus begitu saja. Pasti Taehyung tengah bertelepati dengan malaikat lainnya, begitu Jimin membatin. Lamat-lamat Jimin mengalihkan netranya mengikuti arah pandang Taehyung, pemimpinnya.
"Ya, Tuhan!" tiba-tiba Jimin memekik keras.
Mengetahui sosok yang tengah bertelepati dengan Taehyung adalah Jungkoook, obsidian kelam Jimin pun segera terbelalak sempurna. Terkejut bukan main karena Jungkook tengah menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapannya benar-benar tampak seperti singa lapar yang baru menemukan mangsa.
"M-maaf, a-aku harus undur diri. Aku baru ingat kalau malam ini aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan dengan para malaikat penghuni langit kelima."
Jimin yang menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi berbahaya pun segera membentangkan sayap putihnya yang masih memiliki pendar seterang sinar mentari dan terbang keluar dari paviliun Taehyung dengan begitu tergesa setelah selesai berpamitan.
.
.
Jimin terbang berputar-putar tak tentu arah. Seluruh penjuru surga sayap kiri pun telah ia sambangi. Ia bahkan telah melayang ke sana kemari hanya untuk mencari sebuah petunjuk yang dapat membuat kelima saudaranya sadar akan ancaman apa yang tengah mereka hadapi saat ini.
Namun untuk saat ini Jimin merasa lelah dan tak berdaya lagi untuk terbang. Ia butuh beristirahat sejenak. Jimin iri dengan malaikat sayap kanan surga yang tidak memiliki rasa lelah dan lapar. Dan ia sadar betul bahwa malaikat sayap kiri dan sayap kanan memang tercipta dari esensi yang berbeda meskipun pada hakikatnya mereka tampak sama.
Jimin mengesah pelan. Dari posisinya sekarang, dapat ia rasakan aura jahat berwarna hijau kekuningan yang menguar di sepanjang jalur langit surga keenam tempatnya bernaung. Hijau kekuningan, seperti warna bisa ular yang beracun. Dan Jimin tahu bahwa hewan yang bernama ular itu merupakan hewan yang cukup dekat dengan Taehyung.
Baru saja memutuskan untuk kembali terbang begitu tenaganya telah terkumpul, tiba-tiba sebuah sambaran petir yang mahadahsyat menyambarnya. Membuat kedua sayapnya mati rasa dan akhirnya ia pun jatuh tercebur ke dalam kubangan telaga suci di bawahnya. Tempat di mana ia beserta kelima saudaranya biasa mandi dan menikmati segarnya air suci yang terletak di sisi tebing tertinggi di surga sayap kiri.
Jimin yang panik pun segera naik ke permukaan untuk melihat siapa gerangan pelaku yang telah menyambarnya dengan petir barusan. Namun sebelum ia dapat bereaksi apa pun, tiba-tiba dua buah lengan yang jauh lebih besar dari miliknya memeluknya dari belakang.
Itu Jungkook. Hanya dari aroma tubuhnya Jimin dapat mengenali sang malaikat Castitas tanpa harus bertemu pandang dengan empunya.
"J-Jungkook. A-apa yang kau lakukan?" Jimin terkejut bukan main karena malaikat termuda dari klannya itu mengungkung tubuh mungilnya dengan begitu erat seakan takkan pernah mau melepasnya lagi. Memeluknya posesif dengan tatapan dominatif.
"Hmm, Park Jimin.." Jungkook berbisik seduktif di telinga kanan Jimin. "Kau pernah cerita pada Taehyung bahwa dirimu takkan pernah puas sebelum kau berhasil mendapatkan cintaku, benar?" menjilat telinga kiri Jimin dengan lidahnya yang kini berwarna biru.
Biru—merupakan perlambangan dari nafsu berahi, pusat gairah, hasrat seksual, dan simbol dari erotisme beserta sensualitas yang bercampur aduk dengan sekumpulan dosa. Biru adalah manifestasi dari warna dosa-dosa yang dilakukan oleh sesosok malaikat.
"Ahh.." Jimin melenguh. Sepanjang penciptaannya, ia belum pernah merasakan sensasi menggelitik seperti tersengat listrik yang menjalari seluruh tubuhnya selama ini. Rasanya begitu mendebarkan sekaligus nikmat di saat yang bersamaan.
"Kalau begitu, aku akan memberikan sesuatu yang kau dambakan selama ini. Akan kutunjukkan bagaimana perasaanku yang sebenarnya kepadamu, Park Jimin," bisik Jungkook dengan napas panas dan suara berat yang sedikit serak pada malaikat cantik yang tengah berada di dalam pelukannya.
"T-tidak Jungkook. I-ini salah. Jangan lakukan apa pun. A-aku mohon padamu," pinta Jimin dengan memelas. Di tengah kewarasan yang semakin tergerus akibat perlakuan Jungkook yang semakin menggoda iman dan menggoyahkan keyakinan yang dipegangnya dengan teguh selama ini.
"Aku mencintaimu, Park Jimin. Malaikat indahku," ucap Jungkook. Diikuti dengan pagutan mendadak yang dilakukan oleh belahan bibir tipisnya pada bibir penuh Jimin yang diliputi oleh gairah dan hasrat seksual yang begitu meletup-letup.
Jungkook menggigit bibir bawah malaikat yang lebih kecil. Meminta akses lebih jauh ke dalam mulut si cantik untuk saling berperang lidah, bertukar saliva, dan mengeksplor keseluruhan rongga mulut sosok malaikat yang ia cintai secara diam-diam selama ini.
"Mmmhhh.." Jimin melenguh sebagai respon di tengah lumatan dan pagutan yang dilakukan oleh malaikat yang lebih muda.
Hati nuraninya sejatinya menolak seluruh perlakuan Jungkook—namun tubuhnya mengatakan sebaliknya. Ia paham bahwa tubuhnya menginginkan lebih dan ia tak kuasa untuk menolak. Padahal hati nuraninya tengah berperang mati-matian melawan hawa nafsunya saat ini.
Antara menyambar Jungkook dengan kekuatan petirnya dan segera mengakhiri kegiatan panas mereka atau malah semakin terhanyut ke dalam pusaran permainan cinta si malaikat Castatia yang tengah mengerjai tubuhnya saat ini.
Seulas seringai licik terkembang di sudut bibir Jungkook begitu mengetahui bahwa sosok malaikat yang berada dalam penguasaan tubuh kekarnya tampak hilang kendali dan akhirnya memilih menyerahkan seluruh kendali permainan pada Jungkook sepenuhnya.
Dan kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Jungkook begitu saja.
Di antara ciuman yang begitu panas dan memabukkan itu—Jungkook menyalurkan cairan keemasan yang sengaja disimpannya di sudut mulutnya untuk dimasukkan ke dalam mulut Jimin. Memastikan bahwa cairan keemasaan itu mengalir sepenuhnya ke dalam kerongkongan si cantik hingga sampai ke inti lambungnya.
'Jungkook, simpanlah sebagian Wiski yang kau minum di sudut mulutmu. Biarkan Jimin menikmati manisnya cinta yang akan kau berikan kepadanya,' begitu telepati yang dikatakan Taehyung kepadanya di ruang perjamuan.
Begitu ciuman panas keduanya usai. Si malaikat Castitas lagi-lagi menampilkan seringaian penuh kemenangan tatkala melihat Jimin membuka kelopak matanya yang tadi sempat tertutup di tengah-tengah ciuman mereka. Menampilkan sepasang manik dari sosok yang memiliki tempat spesial di hati malaikat termuda itu.
"Sekarang kita memiliki warna iris yang serupa, Jiminnie," seloroh Jungkook bangga. Segera dikecupinya kedua obsidian malaikat Caritas yang irisnya berubah warna menjadi abu terang yang berkilat-kilat. Persis sama dengan warna mata Jungkook saat ini.
.
.
Dan setelahnya, telaga suci itu pun ternoda oleh dosa-dosa. Tak lagi suci dan murni seperti awalnya. Airnya yang semula bening berkilauan berubah menjadi beberapa spektrum warna yang kerapkali berubah-ubah dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu secara sekonyong-konyong begitu tercemari dosa.
Spektrum warna pelangi—merupakan manifestasi dari dosa sepasang malaikat yang tengah menyalurkan hasratnya satu sama lain dalam sebuah perhelatan panas yang jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran keras aturan langit. Perbuatan dosa yang tidak seharusnya dilakukan oleh makhluk suci bernama malaikat.
Malaikat seharusnya mampu mengendalikan hawa nafsunya dan selalu melakukan kebaikan. Bukannya malah menyerah terhadap hasrat dan lepas kendali seperti ini. Namun hal seperti tidak berlaku lagi ketika nurani terdalam mereka telah terselubungi oleh gelapnya dosa. Pada akhirnya membuat sang nurani kehilangan binar dan kilau cahayanya hingga tak ada pendar cahayanya sama sekali.
.
.
.
'Min Yoongi, sang malaikat Patentia. Lihatlah ke luar jendela, saksikanlah pertunjukan menarik yang tengah berlangsung di tengah telaga suci,' Taehyung bertelepati. Mempersilakan Yoongi untuk beranjak dari tempat duduknya dan memandang ke arah telaga suci.
'Huh? Telaga suci? Memangnya ada apa di telaga suci?'
Yoongi yang merasa penasaran akhirnya menuruti perintah sang pemimpin untuk melihat ke luar jendela. Yang mana hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanda besar di antara ketiga malaikat lain yang tersisa.
Dan Yoongi hanya bisa membolakan kedua netranya lebar-lebar dan menggeram marah begitu penglihatannya menangkap dua sosok malaikat yang begitu dikenalnya selama ini.
Itu Jimin dan Jungkook. Tengah berpelukan, berpagutan, saling memberi cupang di ceruk leher dan sekitar bahu—seraya berbasah-basahan di tengah telaga suci. Bahkan torso kedua malaikat itu pun telah luput dari selubungnya. Tanpa sehelai benang pun yang membalut tubuh atasnya. Bertelanjang dada.
Yoongi memang heran dengan tindakan Jimin yang tiba-tiba terbang saja keluar paviliun di saat perjamuan makan malam belum usai. Berikut Jungkook yang ikut berpamitan dengan dalih yang sama dengan alasan yang dikemukakan oleh Jimin.
Tapi Yoongi tidak pernah menyangka bahwa kedua malaikat itu akan melakukan tindakan sampai sejauh ini. Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa Jungkook yang selama ini selalu menghindari Jimin malah tengah bergumul dengan penuh gairah dengan malaikat Carita, sang simbol cinta kasih itu.
Munafik. Hipokrit. Pendusta.
Begitu pikiran Yoongi mulai meracau.
'Lihatlah Yoongi. Park Jimin, malaikat Caritas kesayanganmu yang begitu kau jaga dan kau sayangi dengan segenap hatimu tengah dinodai kemurniannya oleh Jungkook si malaikat Castitas—sang representasi dari simbol kemurnian itu sendiri. Bukankah ini adalah sebuah ironi?' Taehyung menghasut Yoongi dalam telepatinya.
Kedua iris Yoongi yang semakin memerah seiring amarah yang begitu membuncah dan bergemuruh di dalam dadanya—hanya membuat Kim Taehyung semakin bahagia karena berhasil memprovokasi malaikat yang dikenal dengan kesabarannya selama ini.
'Four deadly sins have been committed. Superbia, Ira, Avarice, and Luxuria!' batin Taehyung.
Yoongi mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jemari tangannya yang begitu putih menjadi semakin pucat dan cetakan tulangnya pun tampak jelas terlihat.
Ctaaaarrrr!
Yoongi menembakkan kilatan petir ke salah satu paviliun yang berada dalam jangkauan penglihatannya. Membuatnya seketika dipenuhi oleh kobaran api hitam dan langsung terbakar habis dalam sekejap. Itu paviliun kelima, paviliun Namjoon yang sebagian besar ruangannya berisi koleksi buku-buku yang tak terhingga jumlahnya—yang sayangnya harus musnah dalam satu kedipan mata saja.
.
.
Park Jimin—si malaikat Caritas hanya bisa mendesah dan mengerang dengan suaranya yang begitu seksi di bawah kungkungan sang malaikat termuda. Ia bahkan sudah tidak mampu berpikir jernih lagi. Akal sehatnya mampet total dan nuraninya seolah telah tercemar lumpur hitam.
Ia bahkan tidak sadar perbuatan apa yang tengah dilakukannya bersama Jungkook saat ini.
Yang Jimin tahu, ia hanya tengah merasakan bagaimana lezatnya sensasi kenikmatan surga ketujuh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di sepanjang penciptaannya.
Lagi pula, bukankah ini yang diinginkan oleh Jimin?
Mendapatkan cinta kasih dari sang malaikat Castitas yang terkenal akan kemurniannya itu? Ya, kemurnian yang saat ini telah ternoda oleh nafsu seksual dan berganti menjadi sebuah Luxuria. Sebuah lambang erotisme dan sensualitas yang mencemari kesucian cinta kasih.
Lain Jimin lain Jungkook. Jungkook sadar dan mengerti betul bahwa perbuatan yang tengah dilakukannya bersama Jimin saat ini adalah sebuah dosa besar. Namun tampaknya ia tidak terlalu peduli dan tidak mau ambil pusing sama sekali. Barangkali kabut nafsu telah memburamkan seluruh akal sehat dan menggelapkan nuraninya seluruhnya.
Untuk saat ini, Jungkook hanya menginginkan seorang Park Jimin. Sosok malaikat cantik yang kerapkali mengganggu pikiran dan hatinya di sepanjang penciptaannya sebagai malaikat.
Ia mencintai Jimin dan ia sadar benar akan hal itu. Jungkook hanya menahan perasaan cintanya terhadap Jimin selama ini.
Pada awalnya Jungkook memang begitu takut akan terjerumus ke dalam kubangan dosa apabila dirinya harus berdekatan dengan sosok Park Jimin. Ia sengaja menjaga jarak aman dari Jimin agar kemurniannya tetap terjaga. Mengingat perannya sebagai malaikat penyandang gelar Castitas, tentu saja ia harus menjaga kemurnian dan kesucian tubuh dan jiwanya.
Namun tampaknya seluruh pertahanannya akhirnya hancur berantakan dalam satu malam saja. Ketika Kim Taehyung sang Azazel, menawarkan jamuan makan malam berupa buah terlarang beserta air jadah yang mampu membangkitkan antimateri dari kualitas kebajikan yang masing-masing dimiliki oleh keenam malaikat pendampingnya.
Sehingga akhirnya Apel dan Wiski pun membangkitkan sisi tergelap yang bersemayam di dasar palung jiwa mereka yang terdalam. Membuat potensi dosa yang telah berada dalam antimateri mereka termanifestasi menjadi sebuah tindakan nyata. Yang tentu saja tindakan tersebut merupakan sebuah pelanggaran aturan langit yang menghasilkan dosa dan menimbulkan murka Tuhan yang begitu besar.
Telaga suci sejatinya merupakan pondasi yang membentang di seluruh penjuru surga sayap kiri. Telaga itu pulalah yang menaungi surga-surga yang berada di bawahnya agar tetap kukuh berdiri. Sebuah penopang yang begitu kuat selama kemurnian dan kesuciannya terjaga.
Apabila telaga suci telah tercemar dan terkotori oleh dosa-dosa maka surga sayap kiri beserta seluruh penghuninya akan runtuh dan berjatuhan ke dunia yang fana. Dan sepertinya malam ini seluruh malaikat sayap kiri pun harus menerima malapetaka yang diciptakan oleh sepasang malaikat yang tengah memadu cinta berbalut kumparan dosa di tengah telaga tersebut.
Dan semua ini tidak lepas dari ulah sang Serafi, Kim Taehyung.
Sementara Taehyung yang mengetahui hal ini pun hanya tertawa penuh kemenangan di dalam hatinya. Ingat, dia masih berada di ruang jamuan bersama keempat malaikat pengiringnya yang lain saat ini. Mencoba menghasut dan memprovokasi empat malaikat yang masih bergeming di kursinya masing-masing.
Seven Deadly Sins. Baru terkumpul empat. Kim Taehyung, Park Jimin, Jeon Jungkook, dan Min Yoongi. Masih kurang tiga lagi. Hanya perlu melengkapi tiga dosa pokok lainnya dan surga pun akan hancur seluruhnya. Begitu Taehyung bermonolog dalam hatinya.
Ya, Taehyung berniat untuk menghancurkan surga sayap kiri. Dan Tuhan tampaknya sudah tidak mau peduli lagi dengan Taehyung dan seluruh rombongan malaikatnya karena sudah terlalu murka terhadap perilaku durhaka Kim Taehyung dalam forum perkumpulan para malaikat tatkala ia membangkang dan tidak mau bersujud kepada Adam.
.
.
Kelima malaikat yang tersisa di ruang jamuan makan malam itu pun menampakkan raut terkejut terhadap satu sama lainnya. Termasuk Yoongi sendiri yang notabene sang pelaku pembakaran sekaligus pemusnahan paviliun milik Namjoon.
Taehyung tersenyum penuh arti lalu mengalihkan pandangannya pada Namjoon, "Kim Namjoon, malaikat Industria. Kau baru saja kehilangan tempat tinggal sekaligus koleksi buku-buku berhargamu yang merupakan kecintaan dalam hidupmu. Apa kau akan baik-baik saja dengan semua ini?"
Tae Be Ce
.
Bagaimanakah reaksi Namjoon selanjutnya?
Ini part 2 of 3 dari chapter LIE.
.
Thank you so much untuk para reviewers, I LOVE YOU MA FRIENDS muaaah.
Untuk yang udah fave and follow juga tentunya ^^
.
.
Aku berterima kasih banyak atas dukungan, saran dan kritik yang membangun.
IT HELPS ME SO MUCH REALLY.
.
TAPI ADA SATU HAL YANG MAU KULURUSKAN
Fiksi ini bener-bener imajinatif. Dan mungkin gak sesuai dengan ekspektasi teman2 yang biasanya baca Devilangel!AU.
Aku sengaja nulis ini dengan model freestyle.
Cause it helps me exploring my imaginations.
Konsep malaikat sayap kanan dan kiri beserta antimateri itu ide orisinil dari aku.
Jadi, kalau gak masuk akal—mohon dimaafkan (karena ini fantasi dan bukan sci-fi)
.
.
LAST BUT NOT LEAST
REVIEW ^^
