Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 2 : The Stalker

"Lagi-lagi aku tidak bisa tidur..." gerutu Momoka.

Momoka kembali teringat saat dirinya memberi coklat pada Switch.

"Apa kau pernah menyukai seseorang?" tanya Momoka.

"Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi" kata Switch.

Lalu, perkataan Kimiko terputar kembali di benaknya.

"Bagaimana dengan Kazu-kun? Apakah Kazu-kun sudah berpacaran dengan Sawa-chan?" tanya Kimiko.

Demi apapun, siapa itu Sawa-chan?! Apa hubungannya dengan Switch-kun?! Apakah mereka berpacaran... Justru itu yang ditanyakan Kimiko. Sebenarnya, ada apa diantara mereka?

Malam ini, Momoka sudah bertekad dalam hatinya. Besok dia akan mencari tahu siapa itu Sawa dan apa hubungannya dengan Switch. Harus.

Dan dia sudah tahu pasti siapa orang yang akan ditanyainya.


"Ada apa ramai-ramai di depan papan pengunguman?" tanya Bossun bingung.

Wajar saja. Begitu memasuki kelas, papan pengunguman yang biasanya sepi mendadak dikerumuni banyak orang. Setelah beberapa menit berdesak-desak, akhirnya Bossun berhasil membaca apapun yang merupakan sumber keramaian itu.

"Kaimei Talent Show?" gumam Bossun.

"Kaimei Talent Show. Acara tahunan Sekolah Kaimei yang baru diadakan kembali setelah 2 tahun tidak diadakan. Sesuai namanya, acara ini adalah acara menunjukkan bakat" jelas Switch yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

"Switch? Kenapa kau bisa tiba-tiba ada di sini?!" seru Bossun.

"Kudengar dari kakak kelas katanya acara ini cukup banyak juga peminatnya" kata Himeko yang juga tiba-tiba ada.

"Himeko juga?!" seru Bossun.

Ketiganya pun berjalan meninggalkan kerumunan, pergi ke kelas mereka.

"Talent show, huh? Bagaimana kalau kita iseng-iseng ikut acara itu?" usul Himeko.

"Memangnya apa yang mau kita tunjukkan?" tanya Bossun.

"Sketchbook Band" jawab Switch.

"Hie? Memangnya band diperbolehkan ikut?" tanya Bossun.

"Band itu juga merupakan bakat, bukan?" kata Switch.

"Betul juga sih..." gumam Bossun.

"Ngomong-ngomong soal band sebenarnya aku–" Apapun yang akan dikatakan Bossun, hal itu harus menunggu. Mengapa? Karena Chuuma-sensei, wali kelas mereka, sudah datang.

"Kita bicarakan nanti lagi saja saat di klub" bisik Himeko ke Bossun dan Switch. Keduanya mengangguk kecil.


"Dan pada akhirnya kita malah tetap saja bermalas-malasan di sini, tidak melakukan apa-apa" desah Bossun, tiduran di tatami. Saat ini mereka bertiga sudah ada di ruang klub.

"Siapa yang malas-malasan?! Cuman kau saja yang malas-malasan" protes Himeko.

"Ngomong-ngomong, Bossun. Apa yang ingin kau bicarakan tadi di kelas?" tanya Switch.

"Sebenarnya aku membuat lagu baru" jawab Bossun dengan bangga.

"Pasti lagu barumu itu jelek" kata Himeko. Switch juga langsung mengangguk.

"Enak saja kau bilang?! Dengar saja belum! Bagaimana kau bisa tahu jelek?!" seru Bossun, tidak terima dengan perkataan Himeko.

"Melihat dari tampangmu saja sudah hampir dipastikan lagu itu jelek, kok" jawab Himeko santai.

"Yah... Tampaknya mau diapakan juga, tetap saja tak ada yang bisa menghentikan mereka untuk saling adu mulut" kata Momoka yang kebetulan sedang ada di sana.

"Kurasa kau benar. Ngomong-ngomong ada apa ke sini, Momoka?" tanya Switch.

"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin sekadar mampir saja tidak boleh?" kata Momoka. Sedikit marah, hanya untuk menutupi kegugupannya. Gugup karena... Yah, bertemu Sket-dan bukan tujuan utamanya ke Kaimei.

"Bukan begitu maksudku. Hanya saja kedatanganmu itu cukup langka" kata Switch.

Tiba-tiba, terdengar bunyi adu mulut di luar ruang mereka.

"Sudah kubilang Mika-chan, kita tidak perlu ke sini" kata seorang gadis.

"Justru kita malah harus ke sini. Dia bahkan sampai mengirimmu barang ke sekolah tahu" kata gadis yang dipanggil Mika-chan itu kesal.

"Tapi, Mika-chan..." balas gadis itu.

"Tidak ada tapi-tapi lagi. Kalau kau tidak membuka pintu, biar aku saja yang buka" kata Mika-chan.

"Eh? Tunggu dulu!" seru gadis itu, tapi terlambat. Pintu ruang Sket-dan sudah terbuka. Memperlihatkan dua sosok gadis yang ada di luar. Semua orang di ruangan itu tertegun.

"Sumimasen. Ini Sket-dan, betul?" tanya Mika-chan.

Tapi bukan karena Mika-chan, melainkan karena gadis yang ada di sampingnya.

"Ko-Konnichiwa" sapa Kimiko.

"Kimiko-chan?!" seru orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Apa? Stalker?!" seru Himeko. Kimiko dan Mika-chan mengangguk.

"Selama seminggu ini aku mendapat banyak bingkisian ke flatku. Sama sekali tidak ada identitas pengirim di sana. Lalu 3 hari lalu, aku pulang sekolah dengan Mika-chan. Dan kata Mika-chan, ada orang yang membuntutiku. Tepat keesokkan harinya, langsung ada bingkisan ke sekolah" jelas Kimiko.

"Jadi kesimpulannya, kau sudah dikirimi barang ke rumah selama seminggu dan ke sekolah selama 3 hari terakhir ini" kata Bossun.

"Bisa kau katakan seperti itu" balas Kimiko.

"Selama 3 hari itu, apakah tetap ada barang yang dikirim ke rumahmu?" tanya Himeko.

"Masih ada. Malahan jumlahnya semakin bertambah banyak" jawab Kimiko.

"Lalu, barang-barang apa saja yang dikirimkannya?" tanya Bossun.

"Jangan terlalu khawatir. Bukan barang yang membahayakan, kok. Dia hanya mengirimkanku makanan kaleng, buah-buahan, snack, dan kadang-kadang malah voucher" kata Kimiko.

"Dan mengapa kau baru memberitahu kami sekarang?" tanya Switch kesal, yang dari awal pembicaraan hanya diam saja, "Harusnya hal-hal seperti itu kau beritahu secepatnya tahu"

"Aku baru kali ini melihat Switch kesal..." pikir Momoka.

"Gomen-ne. Lagipula selama ini barang-barang yang dikirimkan bukan barang yang berbahaya. Jadinya aku tidak terlalu memikirkannya. Dan juga aku berpikir kalau kudiamkan nantinya akan berhenti sendiri" kata Kimiko.

"Pada saat dia mengirimmu barang berbahaya, sudah terlambat untuk berbuat apa-apa" kata Switch agak ketus.

Peristiwa stalker ini terlalu mengingatkannya pada Sawa. Dan penyebab adiknya meninggal.

"Kira-kira siapa ya pengirimnya? Kau kan baru di sini selama 2 minggu. Seharusnya tidak banyak orang yang kau kenal" kata Bossun.

Switch menyadari sesuatu dari perkataan Bossun.

"Apakah orang ini juga mengirimmu barang di tempat tinggalmu yang lama?" tanya Switch.

"Ba-Bagaimana kau bisa tahu?!" seru Kimiko.

"Jadi orang ini juga mengirimmu barang di tempat tinggalmu yang lama?! Ayo, kita hajar dia!" seru siapa lagi kalau bukan Himeko.

"Berarti orang itu cukup kekeh juga mengikutimu. Yosh! Sudah kuputuskan. Hari ini kita akan ke rumahmu!" seru Bossun.

"Ka-kaian tidak perlu repot-repot sampai ke rumahku" kata Kimiko.

"Sebenarnya solusi itu cukup bagus. Kata Mika-chan dia sampai membuntutimu, bukan?", Mika-chan menangguk, membalas pertanyaan Switch, "Oleh karena itu, jika kau pulang bersama orang lain maka stalker itu pasti tidak berani mendekatimu. Kami juga perlu ke rumahmu untuk memeriksa keamanan di sana" jelas Switch panjang lebar.

"Tapi biasanya aku pulang dengan Mika-chan, kok" sanggah Kimiko.

"Eto, Kimiko-chan, sepertinya hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku ada kegiatan klub setelah ini" kata Mika-chan.

"Kalau begitu kami yang akan pulang bersamamu!" seru Bossun.

"Aku juga mau ikut!" kata Momoka.

Kimiko terlalu bingung untuk berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa pasrah saja saat Sket-dan ditambah Momoka berbondong-bondong pergi ke rumahnya.


"Maaf kalau rumahku terlalu kecil" kata Kimiko begitu mereka tiba di depan pintu flatnya.

"Justru harusnya kami yang minta maaf karena tiba-tiba saja memaksa untuk ikut" kata Momoka.

Pintu rumah pun terbuka, memperlihatkan segala isi rumah. Mereka semua melangkahkan kaki memasuki rumah.

"Rumahmu rapi juga. Kau tinggal sendirian?" tanya Himeko, menyadari betapa sepinya rumah itu.

"Yah, begitulah" jawab Kimiko.

"Orangtuamu... Sudah meninggal?" tanya Bossun menyadari meja abu di rumah itu.

"Ya. Dan juga adikku" jawab Kimiko.

"Mengapa?" Kali ini giliran Switch yang bertanya.

"Ke-ce-la-ka-an" jawab Kimiko, "Sekarang kita impas, bukan?" Switch hanya menatapnya jengkel.

"Kalian mau minum apa?" tawar Kimiko.

"Teh saja cukup" jawab Momoka.

"Lemon tea!" jawab Himeko.

"Milkshake!" jawab Bossun.

"Ice cream sundae!" jawab Switch.

"Memangnya kau pikir rumahku ini restoran apa?!" seru Kimiko menjitak kepala Switch dan Bossun, "Sudah, semuanya kukasih teh saja"

Kimiko pun pergi ke dapur, meninggalkan mereka sendirian.

"Sekarang, inspeksi rahasia kamar Kimiko pun dimulai!" seru Bossun.

"Yosh, Bossun. Pertama-tama yang harus kita periksa adalah..." kata Switch.

"Memeriksa kamar Kimiko" kata Bossun dan Switch bersamaan.

"Eh?! Memangnya kau boleh masuk ke kamar perempuan seperti itu?!" tanya Himeko. Momoka mengangguk-angguk.

"Makanya kita meunggu Kimiko pergi, kan?" jawab Bossun dengan seenaknya.

Keduanya langsung pergi menelusuri rumah. Himeko dan Momoka buru-buru menyusul mereka. Akhirnya, mereka menemukan sebuah pintu.

"Kau siap, Switch?" tanya Bossun.

"Tentu saja" jawab Switch.

"Mari kita buka bersama-sama. Satu, dua, tiga...!"

Muncul di hadapan mereka sebuah kamar klasik anak perempuan. Tempat tidur, meja belajar, lemari, rak buku. Cukup banyak warna pink yang bisa ditemukan di sana.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Kimiko dingin, muncul di depan pintu dengan membawa minuman.

"Ngg... Anu... Kimiko..." Bossun berusaha untuk merangkai kata-kata. Keringat membasahi dahinya. Kimiko mendesah.

"Apa boleh buat. Karena kalian sudah masuk terlanjur masuk aku akan tetap membiarkan kalian di sini" kata Kimiko.

"Yokatta..." kata Bossun dalam hatinya.

"Nah, bisa kau perlihatkan barang-barang apa saja yang kau dapat?" tanya Switch. Kimiko mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian, Kimiko pun muncul dengan membawa jeruk, daging kaleng, dan biskuit.

"Selain ini dia juga pernah memberiku sekotak penuh Pocky, voucher restoran, dan berbagai barang aneh lainnya" jelas Kimiko.

"Untuk ukuran stalker hadiah macam ini memang aneh..." gumam Himeko.

Sementara itu, Momoka tidak terlalu memperhatikan dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Perhatiannya malah tertuju pada dua bingkai foto di pinggir tempat tidur Kimiko. Diam-diam, Momoka memperhatikan kedua foto itu. Foto pertama adalah foto Kimiko, dengan anak laki-laki, kemungkinan adiknya, dan bapak-bapak mirip dengan sang anak laki-laki serta wanita paruh baya sangat mirip dengan Kimiko di belakang mereka. Ayah ibunya.

"Pasti foto keluarganya..." pikir Momoka.

Matanya sekarang tertuju pada foto kedua. Ada empat orang pada foto itu. Melihat dari penampilan mereka, tampaknya mereka semua masih SMP. Di tengah-tengah, terlihat jelas Kimiko. Penuh tangis bahagia sambil membawa kue ulang tahun di tangannya. Tepat di sebelahnya, ada seorang gadis yang cukup manis. Rambutnya berwarna coklat sebahu.

"Apakah mungkin dia itu Sawa-chan?" pikir Momoka.

Di sebelah Kimiko dan orang menurut Momoka adalah Sawa-chan, ada dua orang laki-laki. Harus Momoka akui, laki-laki di sebelah Kimiko cukup (ehem) tampan. Rambutnya hitam berantakan dan agak panjang. Wajahnya sedikit tirus. Dan laki-laki yang satu lagi wajahnya cukup mirip dengan laki-laki pertama, hanya saja dia rambutnya pendek, wajahnya lebih tembam, dan mengenakan kacamata.

"Sangat mirip dengan penampilan Switch. Mungkin saja dulu Switch seperti ini, ya" gumam Momoka.

"Apa yang sedang kau lihat, Momoka?" tanya Himeko.

"Ah, aku hanya sekedar melihat foto saja" kata Momoka gugup.

"Coba kulihat fotonya" kata Himeko mengambil foto itu. Bossun ikut melihat foto itu dari belakang Himeko.

"Rupanya ini foto waktu kau masih SMP ya, Switch. Benar-benar berbeda sekali dengan sekarang" kata Bossun, memperlihatkan foto itu pada Switch. Untuk sesaat, Switch tertegun melihat foto itu. Dia masih ingat jelas hari itu, hari tepat foto itu diambil...

"Pokoknya jangan mengacau ya, Switch" kata Kazuyoshi.

"Aku sudah tahu. Kau sudah berkali-kali mengingatkanku Nii-chan" balas Switch.

"Sebagai hadiah ulang tahun sekaligus perpisahan, rencana ini harus berhasil" kata Sawa-chan yang dibalas anggukan.

Saat ini mereka sedang bersembunyi di belakang sekolah, menunggu Kimiko datang. Rencananya saat Kimiko datang, Sawa muncul membawa kue sementara Kazuyoshi dan Switch bertugas mengeluarkan confetti dan melempar tepung ke Kimiko.

Seperti yang sudah bisa ditebak, kejadiannya tidak sesuai dengan rencana.

Lilin kuenya keburu padam. Confetti-nya tidak mau keluar. Dan tepung yang seharusnya ditujukkan untuk Kimiko malah...

"Hahahaha! Seharusnya kalian berdua melihat cermin sekarang. Wajah kalian itu... Hahaha" kata Kimiko tidak bisa berhenti tertawa.

Tepung yang harusnya untuk Kimiko, entah apa penyebabnya, malah mereka sendiri yang terkena.

Kimiko tertawa terbahak-bahak. Sekaligus juga menangis. Menangis bahagia dan menangis sedih. Karena sebentar lagi... Dia akan berpisah dengan mereka. Teman-teman yang sudah dari kecil menemaninya.

"Mengapa kau menangis, Kimiko-chan? Seharusnya kau tidak boleh menangis pada hari ulang tahunmu" kata Sawa-chan, yang juga sudah mulai terisak-isak.

"Bicara apa kau, Sawa-chan? Kau sendiri juga menangis, kan?" balas Kimiko penuh derai air mata.

"Ayo, tiup lilin kuemu" kata Kazuyoshi, memegang kue ulang tahun Kimiko. Setelah lilin padam, mereka semua bertepuk tangan.

"Nanti jangan lupakan kita semua, ya!" seru Switch.

"Dasar bodoh! Mana mungkin Kimiko melupakan kita" kata Kazuyoshi mengacak-acak rambut Switch.

"Jangan mengacak rambutku, Nii-chan!" protes Switch. Mereka bertiga tertawa melihat reaksi Switch.

"Ah, foto itu. Cukup mengingatkan masa lalu, huh, Kazu-kun?" tanya Kimiko, menyadarkan Switch dari kenangannya.

"Kau masih aja menyimpan foto ini" kata Switch.

"Tentu saja aku masih. Memangnya kau pikir aku sampai selupa itu? Kazu-kun?" kata Kimiko.

"Panggil saja aku Switch. Hampir semua orang sudah memanggilku seperti itu" kata Switch.

"Tidak mau. Biar semua orang memanggilmu Switch, aku akan tetap memanggilmu Kazu-kun" balas Kimiko.

"Anak keras kepala" kata Switch.

"Biarin. Lagipula aku sendiri yang membuat panggilan itu. Dan pangilan Switch itu hanya untuk Masafumi Usui. Panggilanku untuk Kazuyoshi Usui adalah Kazu-kun. Titik" kata Kimiko.

"Benar-benar sangat keras kepala" kata Switch.

"Sudah-sudah, kalian berdua. Ngomong-ngomong Kimiko-chan, apa kau akan mengikuti Kaimei Talent Show?" tanya Himeko.

"Yah, sebenarnya sih aku memang mau mendaftarkan diri ikut" aku Kimiko.

"Hontou ni? Memangnya bakatmu apa?" tanya Himeko penasaran.

"Meskipun sangat ceroboh, pelupa, dan sangat mengesalkan, Kimiko adalah seorang jenius musik. Dia hampir bisa memainkan semua alat musik yang ditemuinya" jelas Switch.

"Aku tidak tahu apa dia baru saja meledekku atau memujiku" pikir Kimiko.

"Kau bisa memainkan alat musik apa saja?" tanya Bossun.

"Hmm... Biola, gitar, piano, flute, tapi yang paling kusenangi piano" jawab Kimiko.

Kejadian berikutnya Himeko dan Bossun malah sibuk menginterogasi Kimiko. Mereka begitu larut dalam obrolan mereka. Melupakan tujuan utama mereka : menyelidiki stalker.

"Apa? Sekarang sudah sesore ini?!" seru Bossun ketika menyadari matahari sudah hampir terbenam.

"Dan kita belum sama sekali mendapat petunjuk tentang stalker" gerutu Himeko.

"Tidak apa-apa. Aku cukup senang kok kalian kemari. Aku akan memberitahu kalian jika ada perkembangan" kata Kimiko.

"Kalau begitu kita pulang dulu. Sampai jumpa besok!" kata Bossun, dikelilingi oleh Switch dan Himeko.

"Kau tidak pulang bersama kami, Momoka?" tanya Himeko.

"Ngg... Sebenarnya aku..." Momoka dengan gugup melirik Kimiko berkali-kali.

"Dia tidak boleh pulang sebelum memberiku tanda tangan" kata Kimiko merangkul Momoka.

"Ternyata kau cukup otaku juga" kata Switch.

"Urusai! Kau sendiri juga otaku tahu" balas Kimiko.

"Jaa ne!" kata Himeko.

Setelah mereka bertiga pergi, Kimiko pun menghadapi pada tamu terakhirnya.

"Sekarang, Momoka, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Kimiko.

"Eh?" Hanya itu balasan Momoka. Kimiko menggaruk kepalanya.

"Tujuanmu ingin tetap di sini karena ada yang ingin kau bicarakan padaku, bukan? Hanya antara kita berdua saja" kata Kimiko. Wajah Momoka memerah.

"Ayo. Lebih baik kita bicarakan saja di dalam" ajak Kimiko. Momoka menurut.


"Apa hubungan Sawa-chan dengan Swi–maksudku Kazu-kun?" tanya Kimiko lagi. Momoka mengangguk.

"Mengapa tiba-tiba kau bisa bertanya seperti itu?" tanya Kimiko.

"Sebenarnya..." Momoka pun menjelaskan seluruh kejadian saat hari Valentine.

"Dan karena aku menyebut nama Sawa-chan, kau jadi penasaran hubungannya dengan Kazu-kun, begitu?" kata Kimiko. Wajah Momoka merah padam.

"Tapi aku tidak pernah menyangka ''Kazu-kun bisa jua ditaksir cewek" kata Kimiko. Momoka tidak membalas apa-apa. Kimiko menarik napas panjang.

"Sawa-chan adalah teman kecil kami. Lihat foto yang itu?" Kimiko menunjuk ke arah foto yang tadi dilihat Momoka "anak perempuan yang di sebelahku itu Sawa-chan"

"Jadi itu benar-benar Sawa-chan?" pikir Momoka dalam hati.

"Anak laki-laki berkacamata itu Switch-kun dan yang satu lagi itu Kazu-kun" jelas Kimiko.

"Jadi laki-laki yang ini" Momoka menunjuk ke foto Masafumi "Bukan Switch-kun?"

"Jika Switch yang kau maksudkan di sini adalah Kazuyoshi Usui maka dia itu yang ini" kata Kimiko menunjuk foto Switch.

"Tapi, mengapa sekarang dia terlihat persis..." Perkataan Momoka langsung dilanjutkan Kimiko.

"Seperti adiknya, Masafumi? Aku sendiri juga tidak tahu. Si bodoh itu masih belum menceritakannya padaku" gerutu Kimiko. Momoka sibuk mencerna semua perkataan Kimiko.

"Lalu tentang hubungan antara Kazu-kun dengan Sawa-chan..." Momoka langsung memperhatikan.

"Bukankah lebih baik kau tanyakan sendiri saja pada Kazu-kun? Hubungan mereka berdua... Susah untuk dijelaskan. Belum lagi aku sudah tidak bertemu dengan mereka cukup lama. Jadi aku tidak tahu apa saja yang terjadi selama aku pergi" lanjut Kimiko.

"Bagaimana dengan kau sendiri? Kau menanggap Switch-kun sebagai siapa? Apakah mungkin... Kau menyukainya?" tanya Momoka. Kimiko tertawa terbahak-bahak. Momoka menatapnya bingung.

"Aku? Menyukai Kazu-kun? Darimana kau bisa berpikir seperti itu, Momoka? Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu" kata Kimiko masih tertawa.

"Habisnya kalian berdua terlihat akrab sekali..." jawab Momoka lirih.

"Bagaimana jika iya? Bagaimana jika aku benar-benar menyukainya? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kimiko balik. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi serius. Ditanya balik seperti itu, Momoka pun gelalapan.

"Betul juga... Memangnya apa yang bisa kulakukan jika Kimiko-chan benar-benar menyukai Switch-kun..." pikir Momoka.

"Aku sendiri... Juga tidak tahu" jawab Momoka. Wajah serius Kimiko berubah menjadi geli.

"Tidak perlu seserius itu, Momoka. Aku hanya bercanda saja, kok. Si bodoh itu... Aku hanya menganggapnya sebagai kakak saja" kata Kimiko. Momoka bernapas lega.

"Yah, setidaknya sekarang aku mempunyai bahan baru untuk meledeknya" kata Kimiko santai.

"Jangan, Kimiko-chan! Tolong jangan beritahu siapa-siapa!" seru Momoka panik.

Kimiko malah semakin tertawa lebar.

Dia tidak menyangka akan menemukan hal yang semenarik ini di kota lamanya.

Dan tanpa sepengetahuannya, takdir juga sudah menyiapkan hal yang sangat "menarik" baginya.

End of Chapter 2


Author's Note :
Chapter 2! Sengaja tidak terlalu lama update-nya karena... Takut mood menulis hilang *pokerface. Saat gua posting fanfic ini, jujur, I'm not expecting any review. Fanfic Indonesia dalam fandom Sket Dance itu cukup miris. Hanya tiga fanfic termasuk fanfic ini. So, when I realized that I got review, I'm really, really surprised. Sama surprise-nya ketika menyadari fanfic adik gua, yang hanya satu-satunya dalam Bahasa Indonesia di fandom Magi, juga mendapatkan review. Yah... Gua cukup sadar kalau mau fanfic ini cukup dikenal seharusnya gua membuatnya dalam bahasa Inggris. Cuman mengarang fanfic dalam bahasa Inggris itu susah, saudara-saudara. By the way, thanks for Iruyo for your lovely review! And for everything (story follower, story favorite, author follower, and author favorite).

P.S. :

Ternyata setelah membaca ulang chapter masa lalu Switch, dia sudah mempunyai nama panggilan kecil sendiri. An-chan. Kenapa bisa An-chan? Kagak tahu. Tapi karena gua sudah keburu suka sama Kazu-kun, jadi nama panggilannya kuubah jadi Kazu-kun. Terima kasih. ._.v

Review!

Lady of Gray