Disclaimare
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Warning
OOC, Genderbend, Female Naruto, Typo, RTNObito, RTNMadara, RTNNaruto/Menma, RTNSasuke, RTNHinata, I sekai
"Bold" nonhuman, biiju
A/n:
Kyūketsuki : Vampire
Boruto, Mitsuki dan Sarada (15 thn)
***mulai***
Kaki jenjang Naruto gemetar. Rasanya ingin jatuh. Tapi tubuh masih berusaha untuk bertahan. Meskipun cobaan datang bertubi-tubi. Mulai dari kematian Kyuubi, sampai dirinya berubah menjadi perempuan.
Jujur saja ia masih belum percaya dengan kematian Kyuubi. Ia masih berharap ini semua adalah mimpi. Naruto mencubit tangan kirinya. Rasa sakit pun menyerang. Ia tidak bermimpi. Kyuubi hilang dan ia menjadi perempuan, sekarang bagaimana caranya ia bisa menghadapi ini semua.
Tangan yang agak besar menggenggam jemarinya yang kecil. Genggaman yang tidak kuat tapi juga tidak lemah. Ia menoleh ke sisi kiri. Dimana seseorang menggenggam tangannya. Ternyata Boruto.
Ia tak menyangka tangan anak itu lebih besar dari tangannya. Padahal sebelum menjadi perempuan, tangan Boruto tidak sebesar ini. Meskipun umur Boruto sudah menginjak angka lima belas, tangan anak kebanggaannya tidak sebesar itu.
Apa karena dirinya berubah menjadi perempuan?
Tak disangka perbedaan antara wanita dengan pria dewasa sejauh ini. Ia jadi ingat saat Hinata –istrinya- berdiri berhadapan dengan Boruto di depan cermin, anak itu terlihat hampir menyamai tinggi Hinata. Kira-kira sudah setinggi mulut Hinata.
Sepertinya pertumbuhan anak laki-laki lebih cepat ketimbang anak perempuan. Himawari yang notabene anak perempuannya saja, masih setinggi perut Hinata.
Tak perlu jauh-jauh membandingkan Hinata dan Boruto. Karena ketika ia melihat ke samping, Boruto sudah setinggi dagunya. Padahal ketika menjadi laki-laki Boruto masih setinggi dadanya. Entah kenapa miris sekali hidupnya.
"Apa Tou-san baik-baik saja?" tanya Boruto dengan wajah khawatir.
Naruto tersentak. Refleks ia mengusap rambut pirang Boruto, yang warnanya sama dengan dirinya. Rambut Boruto terasa halus di tangannya. Ia terus mengusap-usap rambut Boruto. Anak itu terpejam. Terlihat menyukai perlakukan Naruto.
Ia sadar telah membuat Boruto khawatir. Jujur ia tidak menyukainya. Ia lebih menyukai wajah marah dan tatapan tajam Boruto terhadapnya. Ketimbang tatapan sendu dan wajah khawatir yang kini ditunjukan Boruto terhadapnya. Naruto tersenyum mencoba menghibur anaknya.
"Aku baik-baik saja Boruto, aku hanya terkejut saja. Semua ini terlalu mendadak untukku," jawab Naruto.
Boruto tertunduk mendengarnya. Membuat kening Naruto berkerut melihatnya.
"Maafkan aku Tou-san. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk Kyuubi. Aku tahu Tou-san pasti sangat terpukul. Aku minta maaf."
Boruto masih tertunduk. Kening Naruto semakin berkerut.
"Kenapa kau harus minta maaf?" tanya Naruto tak mengerti dengan kata-kata Boruto.
"Karena aku lemah. Aku tidak bisa melindungi Tou-san. Gara-gara aku, Tou-san mati dan Kyuubi mengorbankan dirinya demi menghidupkan Tou-san," jawab Boruto.
Kening Naruto sudah menghilang. Tangannya sudah berhenti mengelus rambut Boruto. Kini berganti mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya.
Ia sudah mengerti maksud anaknya. Namun sekarang raut wajahnya menjadi sedih. Karena yang harus minta maaf adalah dirinya. Ia yang lemah.
Andai ia bisa mengalahkan musuh.
Andai ia tidak mati.
Ia tak akan mengalami semua ini.
Sebuah tangan yang lebih besar dari tangan Boruto, mendarat di kepala pirang anak itu. Tangan itu pucat dan membuat Boruto sontak menoleh ke belakang. Begitu pula dengan Naruto. Ia yang tadinya menatap ke arah anaknya, kini menengadahkan kepalanya. Untuk melihat siapa yang telah menepuk kepala Boruto.
Orang itu adalah Sasuke. Dalam pikiran Naruto, Sasuke yang merupakan sahabatnya, sangatlah besar. Padahal dulu ia dan Sasuke tingginya sama. Tapi sekarang ia harus mendongak, untuk melihat Sasuke. Aneh rasanya, dengan semua perbedaan ini.
"Bukan saatnya untuk meminta maaf ataupun bersedih. Jika kau merasa bersalah, maka yang perlu kau lakukan adalah bertambah kuat. Supaya bisa melindungi ayahmu. Lagipula kita tidak bisa bersantai-santai, musuh yang mengalahkan Naruto masih berkeliaran di luar sana. Kita tidak tahu apa tujuannya. Apakah sama seperti Akatsuki ataukah Kaguya atau Orochimaru. Kita tidak tahu untuk apa mereka melakukan semua ini," ungkap Sasuke.
Kepalan tangan Naruto melemah. Apa yang dikatakan Sasuke benar.
Bukan saatnya bersedih ria.
Bukan saatnya meratapi nasib.
Karena orang yang menyerangnya, masih berkeliaran di luar sana.
"Kau benar Sasuke, kita tidak tahu apa tujuan mereka, melakukan semua ini. Apalagi mereka berbeda dengan Akatsuki, Madara, Kaguya ataupun Orochimaru," balas Naruto. Sebelas alis Sasuke terangkat mendengarnya.
"Sudah kubilang aku berhasil mengalahkan mereka. Hanya saja ada banyak keanehan. Pertama diserang berapa kalipun, luka mereka cepat menutup. Mereka punya kemampuan regenerasi yang melebihi Kyuubi. Sampai aku mengira, mereka ini seperti Hidan yang tidak bisa mati, atau Kakuzu yang punya banyak jantung. Tapi ternyata bukan, saat aku memakai rasengan hitam, mereka tidak bisa beregenerasi."
Naruto berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Sasuke dan Boruto diam mendengarkan. Begitu pula dengan Sakura, Sarada dan Mitsuki yang memang sejak tadi hanya diam saja.
"Namun sayangnya orang yang mirip Madara mengeluarkan suatu aura yang membuatku tidak bisa bergerak. Itu bukan chakra. Aku tidak tahu. Setelah itu, aku tidak ingat apa yang terjadi lagi," jelas Naruto mengakhiri ceritanya mengenai pertarungan dengan orang-orang misterius.
"Aku tidak mengerti Naruto, mereka memiliki kemampuan regenarasi cepat. Makanya kau menggunakan rasengan hitam. Tapi kemudian kau bilang kau dikalahkan oleh orang yang bisa mengeluarkan aura yang bukan cakhra, yang membuatmu tidak bisa bergerak. Padahal sebelumnya kau bilang kau terkena genjutsu?" tanya Sakura yang mulai buka suara, dengan raut wajah kebingungan.
Naruto yang tadinya menghadap ke arah Boruto dan Sasuke, kini memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke arah Sakura.
"Itu benar. Jadi sebenarnya saat aura itu keluar, aku seperti berada dalam tempat yang dikelilingi api, dengan lantai berupa genangan air. Lalu dari belakang orang yang mirip Madara, keluar makhluk berjubah hitam, berwajah pucat, bermata merah, memiliki taring dan tingginya sekitar lima meter. Makhluk itulah yang membuatku kehilangan kesadaran. Rasanya seperti terkena genjutsu, aku... aku tidak mengerti sama sekali..." jawab Naruto.
"Apa itu? Aku tidak mengerti," tanya Sarada yang ikutan buka suara, dengan kening berkerut.
Reaksi yang sama diperlihatkan Sasuke, Boruto dan Sakura. Mereka berempat memasang wajah kebingungan. Beda dengan Mitsuki, ia mengusap-usap dagunya. Wajahnya seakan mengetahui sesuatu.
"Kyuketsuki," guman Mitsuki. Membuat semua yang masih berdiri di dalam hutan Amegakure, menatap ke arah Mitsuki. Merasa ditatap, Mitsuki yang tadinya melihat ke bawah jadi memandangi sekelilingnya.
Di samping kanan Mitsuki berdiri Sarada dan Sakura. Di depannya berdiri Sasuke, Boruto dan Naruto. Ia terlihat ragu menjelaskan gumamannya. Namun melihat wajah-wajah yang dipenuhi raut penasaran, akhirnya Mitsuki menjelaskan maksudnya.
"Otou-san, ehm maksudku Orochimaru saat ini sedang meneliti dunia lain. Otou-san tertarik dengan kemampuan pindah dimensinya Sasuke-ojisan. Saat meneliti hal itu Otou-san menemukan bahwa ada dunia lain, selain dunia ini. Otou-san juga mengatakan mengenai Kyuketsuki, yang merupakan penghuni dunia lain. Dia bilang, Kyuketsuki adalah makhluk abadi, makanannya adalah darah manusia. Ia sangat tinggi seperti raksasa, berjubah hitam, berwajah pucat, bermata merah dan memiliki taring. Ciri yang sama dengan, yang dikatakan Nanadaime. Ehm... yah... seharusnya aku dilarang mengatakan hal ini, karena baru tahap penelitian," jelas Mitsuki.
Hal ini membuat Sasuke, Sarada, Sakura dan Boruto tambah kebingungan. Minus Naruto yang sebelah alisnya naik ke atas. Wajahnya mengatakan seperti teringat sesuatu.
"Darimana Orochimaru mendapatkan informasi semacam itu?" tanya Naruto seraya menepuk kedua pundak Mitsuki. Membuat anak itu tersentak kaget.
"O...Otou-san mencarinya di reruntuhan klan Namikaze," jawab Mitsuki agak gagap, karena wajah Naruto begitu dekat dengannya.
Wajah Naruto yang sudah berubah menjadi perempuan, terlihat manis saat dilihat dari dekat. Itulah sebabnya Mitsuki jadi salah tingkah. Apalagi melihat baju kebesaran Naruto, karena tubuhnya mengecil. Baju itu jadi longgar dan Mitsuki jadi melihat 'sesuatu' di dalam baju itu. Tanpa sadar Mitsuki menelan ludah.
Ah, anak ini sedang dalam hormon masa pertumbuhan.
"Begitu yah... pantas saja," ungkap Naruto seraya melepaskan cengkraman tangannya di pundak Mitsuki.
Wajah anak berambut baby blue itu, terlihat lega sekaligus kecewa ketika Naruto menjauh darinya.
"Kenapa?" tanya Sasuke dengan kening berkerut mendengar kata-kata Naruto.
"Kau ingat, aku sedang mencari tahu informasi mengenai sejarah klan ayah dan ibuku. Aku juga menemukan relief di reruntuhan klan Namikaze. Aku rasa Orochimaru juga menemukannya. Tapi aku tidak mengerti apa isi relief itu. Dan kurasa Orochimaru mengetahui arti dari relief itu. Kita harus menemui Orochimaru," jawab Naruto seraya mengeratkan jubah Hokage-nya. Hingga baju oranye yang dipakainya tidak terlihat. Karena ia sadar, tadi bagian dalam tubuhnya terlihat Mitsuki, saat ia membungkuk sedikit dan menepuk pundak anak itu.
Ia sempat melihat mata menelanjangi Mitsuki. Tapi ia tidak bisa marah. Sebab Mitsuki hanya anak yang baru beranjak remaja dan hormonnya sedang tinggi. Meskipun begitu, ia merasa risih diperlakukan seperti itu. Makanya ia menggenggam erat jubahnya, seakan-akan jubah itu akan pergi, jika tidak rapatkan dengan sangat erat.
"Aku setuju, kita harus segera ke tempat Orochimaru," balas Sasuke.
"Tunggu sebentar! Aku mengerti, kita harus secepatnya mengejar orang-orang misterius itu. Tapi kita harus pulang ke Konoha dulu, Hinata dan Himawari sangat mencemaskanmu Naruto," ujar Sakura mencegah kepergian mereka ke tempat Orochimaru.
Sakura benar, mereka harus melaporkan kejadian ini. Juga kepada negara lain, bahwa orang-orang misterius yang mirip Madara dan Obito telah membuat Kyuubi mati, karena menyelamatkan Naruto. Hal ini juga sebagai bentuk pencegahan, jika orang-orang itu datang menyerang.
Mereka pun akhirnya meneruskan perjalanan ke arah Konoha. Tapi entah kenapa wajah Naruto terlihat cemas. Hatinya gelisah memikirkan Hinata yang tidak akan menerima dirinya dengan kondisi yang telah berubah ini.
Boruto yang melihat kegelisahan ayahnya, langsung memegang tangan kanan Naruto dengan erat. Matanya mengatakan, ia ada disisi ayahnya. Naruto yang melihat genggaman tangan itu menjadi lega. Kegelisahannya perlahan menghilang. Ia tidak sendiri. Ada anaknya. Jika sang anak menerima kondisinya, maka Naruto yakin Hinata dan Himawari juga demikian.
***Mirror***
Agak sulit memakai jubah yang panjangnya sampai betis dan berlengan panjang, saat sebelah tangan buntung. Tapi pada akhirnya Madara berhasil melakukannya. Tak lupa ia memakai tudung dan topeng putih.
Menma yang sedang tertidur di atas kursi kayu jadi terbangun, saat Madara mengambil pedang bersarung hitam yang disandarkan pada dinding dari anyaman bambu, yang diletakan di samping Menma.
Menma mengerjap-ngerjapkan matanya, karena pandangannya masih buram. Setelah jelas, ia melihat sosok Madara yang telah rapi dengan jubah hitam dan topeng putih yang menutupi seluruh wajahnya. Kening Menma sontak berkerut heran.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
Madara yang hendak ke pintu gubuk, tempat mereka tinggal sementara, berbalik seratus delapan puluh derajat, menghadap ke Menma.
"Berburu, Kyuketsuki lapar. Kau tetap disini jaga Obito," jawab Madara.
"Tanganmu bagaimana?"
"Tak masalah masih ada tangan lainnya. Lagipula kalau kita tidak memberi makan Kyuketsuki, kitalah yang akan dilahapnya."
Menma mengangguk mengerti. Membiarkan Madara pergi dengan sebelah tangan yang tiada. Setelah kepergian Madara, Menma melanjutkan tidurnya.
***Mirror***
Bagaimana menjelaskannya?
Gadis berambut indigo itu benar-benar bingung, saat hendak mencari penginapan, mereka malah bertemu Anbu. Gadis itu tak menyangka, Anbu di dunia ini sangat cepat dan siaga. Sampai-sampai, dihutan Konoha mereka ada.
"Hinata-sama, Sasuke-sama, apa yang kalian lakukan di tempat ini? Sasuke-sama bukankah anda sedang mencari Nanadaime? Hinata-sama bukankah anda harusnya berada di kediaman Hyuuga? Lalu yang digendong kalian itu siapa? Rasanya mirip Yondaime dan istrinya?" tanya Anbu bertopeng saru beruntun.
Gadis berambut indigo menoleh ke arah pemuda berambut raven. Pemuda berambut raven mengangkat bahunya. Ia juga sama-sama tidak tahu harus bagaimana. Gadis berambut indigo panjang dan dikuncir ekor kuda itu, menimang-nimang. Apa yang harus dilakukannya?
Akhirnya setelah berpikir selama beberapa menit, gadis dengan rambut ekor kuda itu pun buka suara.
"Aku bukan Hinata yang kalian kenal, Sasuke yang ini, juga bukan Sasuke yang kalian kenal. Nama kami memang sama, bentuk fisik kami juga, tapi kami berbeda. Kami berasal dari dunia lain. Kami datang kesini untuk meminta pertolongan. Bisakah kalian mengantarkan kami, pada pimpinan kalian?" ungkap gadis berkuncir kuda jujur.
Ia dan pemuda berambut raven tak punya alasan untuk berbohong. Kenyataannya, mereka datang ke dunia ini, untuk meminta pertolongan. Lelaki berambut seperti bokong bebek itu, juga tak merasa keberatan, dengan kejujuran gadis berkuncir kuda.
Anbu bertopeng saru, saling bertatapan dengan Anbu bertopeng kelinci dan neko. Mereka tampaknya bingung dengan jawaban pasangan yang mirip Hinata dan Sasuke. Para Anbu itu pun, mengamati mereka dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Mulai dari gadis yang mirip Hinata. Rambutnya panjang sepunggung, dikuncir kuda dan tidak memiliki poni. Pakaiannya terlihat seksi. Tanpa lengan dan perutnya terlihat, seperti baju Ino waktu remaja. Tapi gadis ini memakai celana panjang dan sepatu boot. Kesannya terlihat tomboy dan liar. Berbeda dengan Hinata, istri Nanadaime yang berambut pendek sebahu dengan pakaian feminim.
Lalu yang mirip Sasuke, rambut melawan gravitasi seperti Sasuke masa remaja. Tidak panjang dan tidak memiliki poni yang menutupi mata, karena ada rinengan. Kedua mata pemuda ini sama seperti waktu Sasuke remaja, onyx dan tanpa rinengan.
Ia juga tidak memakai jubah hitam. Tapi memakai kemeja biru lengan pendek. Kaus putih lengan panjang di bagian dalamnya. Wajah mirip tapi penampilan berbeda.
Aneh sekali, seperti kembaran. Apalagi mereka bilang dari dunia lain? Apa maksudnya itu.
"Aku mohon pada kalian, bawa kami ke tempat pimpinan kalian. Kami benar-benar membutuhkan pertolongan kalian," pinta gadis yang mirip Hinata.
Ketiga Anbu itu berembuk. Setelah pembicaraan yang cukup panjang dan membuat pemuda yang mirip Sasuke itu menguap, akhirnya diputuskan mereka akan dibawa kantor Nanadaime. Secercah cahaya harapan pun menghampiri gadis yang mirip Hinata dan pemuda yang mirip Sasuke.
Mereka pun segera ke kantor Nanadaime dengan diantarkan para Anbu Konoha.
***TBC***
