Jadi sebelumnya, entah kenapa muncul kode kode tak jelas. Entahlah. Tapi saya curiga itu karena browser saya rusak semua karena OS laptop ini nampaknya harus di install ulang. Tapi yang penting prolognya sudah diperbaiki. Semoga di chapter kali ini tidak ada masalah apapun... Ya, semoga. Review sangat diharapkan, saya sangat menghargai saran. Terimakasih banyak :) Happy reading.
Chapter 1
"Rin, Len! Cepat turun dan sarapan!" teriakan Lenka sudah terdengar dari lantai satu rumah keluarga Kagamine. Rin dan Len tengah bekerjasama mengenakan kaus berwarna kuning yang dibuat khusus untuk mereka berdua, sehingga ketika menggunakan kemeja seragam sekolah yang tidak bisa ditutupi bagian dadanya, dapat tertutupi oleh kausnya.
Len, yang sejak kecil sudah terbiasa melihat tubuh Rin. Sama sekali tidak keberatan untuk membantu saudara kembarnya mandi, atau menggunakan baju. Dan sangat beruntung sekali memiliki ukuran dada yang kecil sehingga dapat menggunakan bra dengan pengait didepan. Bayangkan betapa repotnya jika pengait itu ada di belakang.
Sambil berdiri didepan cermin. Len mengancingkan kemeja mereka, sementara Rin menyisir rambutnya.
Dengan tatapan sayu Rin memperhatikan rambut Len yang panjang sebahu, lurus, berwarna honey blond sama persis dengan rambutnya. "Kamu nggak akan potong rambut?" Tanya Rin yang diikuti dengan Len yang menegakkan kepalanya.
Keduanya menatap cermin. Mata mereka biru langit, terang, dan bening. Jika bukan karena rok yang dikenakan Rin dan celana yang dikenakan Len. Mereka sangat identik. Ya, tanpa menyebutkan kalau dada Rin benar benar rata sehingga tak terlihat sehingga tidak membedakan tubuh mereka.
Len tertawa kecil. "Hehehe. Kita sama sekali nggak ada bedanya. Terutama, karena dada-" belum selesai bicara, Rin menutup mulut Len dengan tangan kanannya, satu satunya tangan yang ia miliki. "Ssshhh.. Lenny nakal." Ucapnya sambil menatap mata Len dengan tajam.
Ia tau, Len akan terdiam. Belakangan Len selalu terdiam—nyaris tertegun seperti memikirkan sesuatu tiap kali mata mereka bertemu, atau ketika Rin mendekatkan kepalanya. Rin tau alasan dibalik itu. Di usianya yang menginjak 18 tahun di bulan Desember nanti, ia sudah mempelajari beberapa hal soal pubertas; perubahan fisik, suara, kedewasaan, cinta, dan nafsu.
Terutama nafsu.
Terutama Len.
Ya usia mereka nyaris 18 dan mereka harus mandi bersama, memakai baju bersama, tidur bersama. Dan Rin yakin jika dimalam hari ia merasakan otot Len menegang melalui tubuhnya yang terhubung. Menegang. Menagang dengan erotis. Len pasti mimpi basah saat itu. Ya, atau mungkin dia malah sedang masturbasi.
"Rin?"
Atau sebenarnya secara tidak sadar Rin sedangan menggesekkan kakinya yng ditekuk ke suatu tonjolan diantara kedua kaki Len. Atau sebenarnya dia memang sengaja.
"Rin? Wajahmu merah, tapi kita harus turun."
'Earth to Rin.' Rin menggelengkan kepalanya.
Wajah Rin memerah karena khayalnya sendiri. Khayal apa? Khayalan yang Len tidak pernah tahu. Mungkin tentang orang yang disukainya, mungkin karena dia mulai tidak nyaman dengan keadaan mereka yang mulai dewasa.
Dengan cepat Rin mengambil bando pita putih dan memakainya. "Ayo." Ujarnya dengan napas yang berat. Tentu berat. Khayalannya sudah terlalu jauh.
Kamar Rin dan Len berada di ujung lorong lantai dua. Didepannya kamar tante mereka yaitu Lilly, disamping kamar Lilly terdapat kamar ibu mereka yaitu Lenka, dan disamping kamar Rin dan Len terdapat WC dan tangga.
Rumah itu tidak begitu besar, tapi cukup untuk mereka semua. Tangga dilantai bawah terdapat disamping ruang makan dan ruang kerja milik Lenka. Ruang tamu didepan rumah, sekaligus ruang keluarga. Terdapat TV dan lemari pajangan.
"Kalian lama sekali. Ada apa?" Tanya Lenka yang langsung dijawab dengan gelengan pelan oleh Rin. "Ayo duduk." Lanjutnya.
Kursi milik Rin dan Len di meja makan bukan kursi yang sama seperti milik Lilly dan Lenka. Kursinya lebih mirip kursi taman untuk dua orang, walaupun bentuk dan warnanya dibuat sama seperti kursi yang lain. Meja makannya sendiri tidak begitu besar. Cukup untuk enam orang termasuk Rin dan Len. Walaupun sebenarnya jarang ada yang bertamu ke rumah mereka.
Suara dengkuran terdengar dari ruang tamu. Lilly tidur di sofa. Hal itu sudah biasa. Biasanya dia malah tidak pulang sama sekali. Sekalipun pulang, itupun lewat tengah malam dengan tubuh bau alcohol. Pekerjaannya dirahasiakan kepada Rin dan Len tapi sebenarnya mereka sudah tahu kalau Lilly adalah seorang pekerja seks komersial. Mereka tahu karena seorang laki laki pernah memarahi Lilly didepan rumah dan mengucapkan kata kata seperti "Dasar perempuan jalang! Tidak tahu untung! Tubuhmu saja tidak cukup untuk semua ini!" Cukup tahu saja, dan pura pura tidak tahu.
Hidup memang berat, tapi semuanya harus dijalani. Bagaimanapun hancurnya keluarga ini.
"Malam ini mama harus meliput sidang. Kalian jaga rumah ya. Bahan makanan akan mama siapkan di lemari es." Ucap Lilly ditengah sarapan mereka. "Tapi aku harus ikut latihan menyanyi." Rin mengatakannya ddengan agak panik. "Maksudnya aku dan Len" lanjutnya lagi dengan cepat.
Sebentar Lilly menatap Rin dan Len secara bergantian. "Jika Rin menyanyi, apa yang Len lakukan?" Tanya Lilly.
Oh. Inilah pertanyaan paling menyebalkan yang pernah ada dalam hidup Len. Dan mungkin Rin juga. Apapun yang Rin lakukan maka Len harus mendampinginya. Begitu pula dengan Rin. Ya tentu saja tubuh mereka kan bersatu. Apa yang bisa mereka perbuat?
Apa yang Rin lakukan saat Len sedang bermain catur? Apa yang Len lakukan saat Rin sedang latihan berdandan dengan make up? Apa yang mereka lakukan ketika hal tersebut tidak dilakukan oleh yang lainnya?
Tentu saja putar otak. Ketika Len bermain catur, biasanya Rin akan membaca komik miliknya atau bermain video game. Saat Rin berdandan, Len akan membaca buku pelajarannya.
Dengan suapan terakhir dari nasi omelet milik Len, ia menjawabnya setelah menarik napas panjang. "Akan kupikirkan nanti." Jawabnya sambil melirik Rin yang masih memakan sarapannya.
Wajah Rin yang manis tengah memakan nasi omelet. Sebutir nasi dengan setitik saus tomat menempel di ujung kiri bibir Rin yang merah muda mengkilat karena lip gloss yang ia gunakan.
Merah. Muda. Menggoda.
Tangan Lenka dengan lembut mengusap nasi dan saus di ujung bibir Rin dengan sapu tangan motif bunga lili miliknya. "Kamu ini perempuan, seharusnya lebih rapi lagi kalau makan. Bahkan Len yang laki laki saja tidak meninggalkan nasi di wajahnya!"
'Tidak ada kah yang lebih penting disbanding kerapihan makan? Misalnya, tidak kah mama Lenka yang maha mengatur segala didalam rumah ini memikirkan soal bagaimana kedua anaknya mempermalukan diri mereka masing masing ketika sedang mandi?' nyaris Len menghujamkan tatapan sinis pada mamanya sendiri. Tapi tidak boleh. Tidak sopan.
Rin tertawa kecil. "Len, ayo kita berangkat." Ujarnya.
"Ya. Nanti kuncinya ditaruh di tempat seperti biasanya saja ya, ma." Ucap Len. Lilly mengangguk. "Hati hati ya. Jangan bertengkar dan bersikaplah baik di sekolah."
Lilly masih tertidur ketika Rin dan Len melewatinya. Kancing kemeja putihnya terbuka, bau alcohol memenuhi ruangan. Mereka harus segera keluar sebelum Rin mabuk karena dia sangat sangat sangat mudah mabuk.
"Kami berangkat."
Len menghela napas panjang. 'Siksaan macam apa yang akan aku-maksudnya, kami hadapi di sekolah hari ini?'
