Masih segar dalam ingatannya, bagaimana sosok itu hilang kesadaran dan ambruk tepat di depan matanya sendiri. Bagaimana tak terkatakan perasaannya melihat darah yang melumuri tubuh tak berdaya itu, yang juga menempel di wajahnya. Bagaimana ia merasakan kedua kakinya yang biasanya tetap menjejak mantap di atas tanah pertempuran walau sebanyak apapun tubuh-tubuh tak berdaya yang bergelimpangan, terasa limbung melihat satu sosok itu. Masih segar dalam ingatannya bagaimana ia mengangkat tubuh sang Navigator yang berlumur darah, menyaksikan kepala sang Navigator terkulai dalam buaiannya. Bagaimana ia merasakan rasa takut yang amat besar, yang ia coba tak tunjukkan ketika ia meminta Chopper segera merawat perempuan itu. Merasakan tatapan penuh tanya para nakamanya melihat Navigator mereka terluka demikian parah padahal sang Wakil Kapten bersamanya, bagaimana ia kali ini sama sekali tidak ingin membalas tatapan tajam sang Koki Kapal saat melihatnya membawa tubuh terluka perempuan itu.
Masih segar dalam ingatan Zoro, bagaimana ia tidak sanggup melangkahkan kakinya ke Klinik Chopper untuk mengawasi bagaimana sang Dokter Kapal mengobati Nami seperti yang dilakukan nakamanya. Bagaimana lelaki berambut hijau itu merasakan rasa sakit yang berbeda dari sakit yang ia rasakan dari luka-luka pertempuran, yang membuatnya melangkahkan kakinya keluar dari Thousand Sunny untuk mencari tempat dimana ia bisa berpikir jernih akan rasa sakit yang asing itu.
Bagaimana akhirnya hujan turun, dan tetesannya yang menimpa wajahnya mengalir turun bersama setetes air mata... Dan mata sang Pendekar menatap nanar sang guntur yang menggema di atas sana, yang akhirnya mengantarkan malam di hari itu, malam yang terasa muram dalam tidurnya.
"Nami! Nami sudah sadar!"
Teriakan pengumuman penuh kegembiraan dari Sang Dokter Kapal menggema di seluruh penjuru Thousand Sunny. Menjelma sebagai sebuah suntikan semangat yang hebat di pagi hari, terutama bagi para nakama yang terhitung lambat mengumpulkan 'kesadaran' di pagi hari itu. Semua berseru penuh syukur, tertawa dan tersenyum mengetahui nakama mereka sudah pulih. Seakan pagi itu tidak bisa lebih indah dari ini.
"Aaa, Navigator kita sudah sembuh! Mari kita berpesta merayakannya! Sekaligus merayakan keberhasilan kita lolos dari Angkatan Laut kemarin! Oi, Sanji! Beri aku makan yang banyak! Porsi untuk dua perayaan!" seru Luffy paling keras dibanding yang lainnya. "Yaa! Santapan istimewa untuk merayakan kesembuhan Nami-swaan tercintaa! Begitu kuatnya cinta menggulungku, cinta bagaikan badai..." Untungnya sang Kapten berseru di saat yang sangat tepat, yaitu ketika sang Koki sedang mengekspresikan rasa bahagianya dengan melakukan Love Hurricane-nya yang biasa, sehingga sang Koki menjawab ajakan Luffy berpesta saat ia belum benar-benar kembali ke Bumi, Sang Koki Kapal pun segera berlari ke kulkas untuk mengambil lebih banyak makanan. Yang lainnya bersorak setuju dan segera menanyai Chopper kapan nakama mereka yang baru sembuh itu bisa bergabung. Namun Chopper berkata bahwa sang Navigator masih perlu bersitirahat untuk beberapa lama. Walaupun agak kecewa pada awalnya, akhirnya perayaan dilaksanakan.
Hanya sang Wakil Kapten yang tidak menunjukkan ekspresi tertentu atas berita gembira tersebut di Gym. Wajahnya yang penuh peluh tetap menampilkan ekspresi tenang dan berkonsentrasi, sepadan dengan tangannya yang mengangkat sebuah barbel yang tidak perlu diketahui seberapa besar massanya. Namun genggamannya di logam berat barbel itu terlihat semakin erat. Pemuda itu harus mengakui, bagaimanapun, akan hadirnya rasa syukur dalam hatinya.
Cintaku, 'ku mau tetap kamu yang jadi kekasihku
Jangan pernah berubah...
Bebobobo feat. Thepoetry Present
Weather
Threeshots © Bountyvocca. Chapter Two: Clemence
Disclaimer: © Eiichiro Oda
Theme Song: Jangan Pernah Berubah – Marcell
Di tengah keriuhan di dek rumput, menyaksikan Luffy melahap porsi besar daging, Usopp dan Chopper bernyanyi dan menari riang, Franky berusaha berduet dengan Brook memainkan Sake Binks dengan gagal, dengan cepat Robin menyadari bahwa sang Wakil Kapten tidak ambil bagian dalam perayaan besar pagi itu. Pelan-pelan wanita berambut hitam itu memisahkan diri dari keriuhan nakamanya dan melangkahkan kakinya ke tempat yang ia yakini sedang ditempati sang Wakil Kapten.
Benar saja. Di Gym, mata Robin menangkap sosok Roronoa Zoro sedang berlatih seperti biasanya. Robin memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu Gym yang terbuka. Zoro, hanya menatapnya dengan pandangan yang bisa diartikan sebagai 'ada perlu apa kau kesini?'
Menelengkan kepalanya untuk bisa melihat Zoro lebih jelas, Robin berkata pelan, "Kulihat kau tidak bergabung dengan yang lain, merayakan membaiknya keadaan Nami."
"Aku sudah tahu soal itu. Apakah salah kalau aku sedang lebih ingin berlatih?"
"Ini tidak seperti kau yang biasanya."
Zoro terdiam. Agaknya lelaki berambut hijau itu malas berdebat dengan Robin. Robin menghela napas panjang, dengan pemakluman besar akan sifat sang Wakil Kapten. Wanita berambut hitam itu tahu, tidak ada gunanya memperpanjang pembicaraan.
"Temui Nona Navigator. Itu tindakan yang menurutku tepat untuk kau lakukan sekarang, dibanding mengikuti perayaan." ucap Robin sebelum berbalik meninggalkan Gym.
Sekarang Zoro mendapati dirinya sedang berdiri dengan perasaan campur aduk di depan pintu kamar Nami dan Robin, yang terbuat dari kayu yang ukirannya terlihat lebih rumit dan detail dibanding pintu kamar nakama laki-laki, namun bukan itu yang Zoro perhatikan. Sang Wakil Kapten berdiri dengan sikap agak gugup, dengan kedua tangan mengepal. Ini tidak seperti diriku, mengunjungi kamar wanita seperti sang Koki Beralis Dart, gerutunya dalam hati, bercampur dengan rasa mual tak terjelaskan yang dirasakannya. Juga gemetar kecil di kepalan tangannya. Selama ini Zoro tidak pernah benar-benar memahami jalan pikiran dan perasaan wanita, jadi Zoro tidak punya gagasan apapun akan bagaimana sikap Nami kepadanya saat ia menemuinya sekarang. Walau, lelaki berambut hijau itu menyadari bahwa mungkin perempuan berambut oranye itu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Lelaki berambut hijau itu tanpa sadar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, juga mengedarkan pandangan untuk memastikan bahwa tidak ada nakamanya yang melihatnya berdiri di depan kamar Nami dan Robin. Untunglah, saat itu yang lainnya masih asyik berkumpul di dek, berpesta di bawah siraman terang matahari di siang itu. Zoro bisa mendengar sayup-sayup suara cempreng Luffy, Chopper, dan Usopp sedang bernyanyi dengan sangat tidak seirama dengan gesekan biola Brook, juga suara permainan gitar Franky yang 'luar biasa'. Zoro menghembuskan napas lega. Lelaki itu tak mempermasalahkan Robin karena wanita itu lah yang 'menyuruhnya' menemui Nami.
Sambil menggumamkan umpatan akan kegugupan aneh yang dirasakannya dan sikap aneh yang ditunjukkannya sedari tadi, Zoro mengetuk pintu di hadapannya, bagaimanapun dia masih tahu sedikit etika tentang berurusan dengan perempuan. Sebuah suara halus yang dikenalinya sebagai suara Nami mempersilakannya masuk, dan Zoro pelan-pelan melangkahkan kakinya ke dalam.
Kamar Nami dan Robin, tentu saja, rapi dan bersih. Sinar matahari menyapu kamar dengan lembut dari sebuah jendela berbingkai kayu berukir yang terbuka. Dan ruangan itu berbau campuran bau jeruk dan kopi, yang entah bagaimana menimbulkan aroma yang unik. Kamar itu tak terlampau luas, diisi dua ranjang ukuran single, lemari baju, meja rias, dan meja gambar Nami. Setelah matanya selesai mengamati isi kamar, pandangan Zoro menemukan Nami di seberang jendela yang terbuka, Nami sedang duduk di ranjangnya sambil mengupas jeruk. Perempuan berambut oranye itu tidak mengalihkan pandangannya dari jeruk mandarin yang sedang ia kupas. Zoro dengan cepat menyadari gagasannya benar. Perempuan itu membuat dirinya merasa tak nyaman.
Zoro memperhatikan nakamanya itu. Kelihatannya memang benar Nami sudah pulih, walau bekas-bekas lebam dan luka di wajah dan tubuhnya masih belum hilang, perban membungkus perutnya yang terluka, rambutnya tidak serapi biasanya, dan sorot matanya agak sayu, mungkin karena lebam di dekat matanya. Namun selebihnya Nami tampak baik-baik saja.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya lelaki berambut hijau itu pelan.
"Aku… sudah baik. Chopper menanganiku dengan tepat."
Nami masih tetap tidak mengalihkan pandangannya menatap Zoro. Jeruknya sudah selesai dikupas, dan perempuan berambut oranye itu mulai memakan daging buah jeruknya. Sekedar mengurangi perasaan tidak nyaman, Zoro mendudukkan diri di kursi meja gambar Nami yang terletak di sebelah tempat tidurnya.
"Aku harus mengakui kalau aku agak kaget mengetahui kau mendatangiku." ucap Nami memecah keheningan yang tadi sempat menggantung. Zoro mendapati dirinya merasa sedikit rikuh mendengar pernyataan Nami.
"Nami..."
"Tak apa, Zoro. Aku tidak bodoh." sela Nami.
"Aku tahu. Tapi kau terluka sekarang." gumam Zoro, lelaki berambut hijau itu entah kenapa masih belum bisa menyingkirkan rasa tidak nyaman pada perasaannya akan jawaban Nami yang terasa datar. Mengingat kebiasaannya memukul Zoro hampir setiap hari.
"Dan aku sudah bilang padamu bahwa aku sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau sesali tentang semua yang sudah terjadi. Itu salah satu prinsipmu, kan?"
Zoro memutuskan untuk tidak mengindahkan ucapan Nami tadi. Lelaki berambut hijau itu menunduk, memandang lekat sang Navigator, yang tidak bergeming. Zoro menyiapkan dirinya sebelum mengucapkan rangkaian kata yang sebenarnya terasa sangat berat untuk ia ucapkan, namun harus ia ucapkan.
"Nami, aku membuat kau terluka parah saat pertempuran itu."
Nami menyipitkan matanya, sebelum menjawab, "Perkataanmu terdengar tidak masuk akal, Zoro. Letnan wanita itu menyerangku dan aku sedang tidak beruntung bisa menghindarinya."
"Dan aku sedang bertindak tidak tepat karena tidak bisa melindungimu sebagaimana mestinya."
Zoro mulai bergerak dengan tidak nyaman di tempatnya, berulang kali membuka dan menutup kepalan tangannya dan mengetuk-ngetuk telapak kakinya di lantai kamar yang dipelitur halus. Sungguh, lelaki berambut hijau itu merasa itu sama sekali merasa tidak nyaman karena mengakui hal semacam itu, namun sekali lagi, itu harus ia ucapkan.
"Jangan pernah menganggapku sebagai orang yang selalu butuh dilindungi, Zoro..." ujar Nami lembut. Tidak seperti biasanya, Navigator cantik itu terlihat tidak terbakar emosi mendengar ucapan Zoro barusan.
Zoro menghela napas panjang, tentu saja lelaki berambut hijau itu tidak bermaksud menyiratkan itu dalam ucapannya tadi. Namun ia merasa terlalu sulit menjelaskannya kepada Nami. Keheningan pun menguak di antara mereka. Dan setelah beberapa menit berselang, Zoro memecah keheningan itu.
"Maukah kau menjelaskan kepadaku mengapa kau menghentikanku menyerang Letnan wanita itu?"
Mata onyx sang Navigator kembali menyipit. Lalu balas menatap Zoro dengan ekspresi tenang yang tak terjelaskan. Entah bagaimana wajahnya tampak menegang selama beberapa saat. Perempuan itupun menggigit bibir bawahnya, tampak ragu.
Wanita berambut oranye itu mengunyah daging buah jeruk mandarinnya sebelum menjawab, "Aku sendiri pun tak tahu mengapa kulakukan itu. Seperti gerak refleks saja." Mata onyxnya untuk sekejap tampak nanar menatap jeruk yang sedang dipegangnya. Zoro, tidak bisa memutuskan apa yang harus dikatakannya lagi.
"Samar-samar... Aku melihatmu setelah letnan wanita itu menyerangku. Aku... melihat darahku di wajahmu. Dan untuk sesaat kupikir kau terlihat berbeda."
"Memangnya apa yang berbeda?" tanya Zoro. Tatapannya pada Nami kini berubah menjadi tatapan penuh tanya.
"Ekspresimu." gumam Nami. "Aku merasa melihat rasa takut, walau sedikit, di wajahmu."
Zoro mengalihkan pandangannya kali ini, menatap laut yang menghampar yang terlihat dari jendela. Ingatannya kembali terhempas di saat ia merasakan darah Nami di wajahnya. Tak bisa disangkal, ketakutan memang menyerbunya, tidak seperti biasanya.
"Aku tak tahu mengapa, Nami." Zoro mendesah. Kembali menatap sang Navigator yang rupanya tadi mengikuti pandangannya menatap laut. Kini mata mereka kembali bertemu.
"Hei, Zoro... Aku sedang berpikir... Aku mendengarmu menyebutnya 'Kuina'. Padahal namanya bukan itu."
"Lalu?"
"Yah... aku juga mendengarmu berkata kalau jangan sampai 'Kuina' diserang."
Hening kembali datang. Tetap tak mengenakkan bagi Zoro. Tetap dalam kesulitan menemukan kata, untuk menjelaskan.
"Dia sangat berarti buatmu, ya?" ujar Nami sambil menelengkan kepalanya, memandang Zoro. Yang dipandangi tampak terkejut, membelalakkan matanya. Bukan, bukan begitu, kenapa susah sekali kau mengerti? ucap Zoro dalam hati.
"Sepertinya aku harus jujur mengatakannya padamu, waktu itu aku terlambat menyadari keterkaitan antara perasaanmu akan masa lalumu, juga Kuina, dengan letnan wanita itu kemarin. Karena kebodohanku dalam bertindak. Karena kemarin aku terlalu memforsir pikiran dan tindakanku untuk mencoba… membantumu." lanjut Nami lirih.
Dahi Zoro berkerut mengisyaratkan kebingungan. "Membantuku… apa? Kau tahu kalau dalam pertarungan justru kau yang harus mendapat bantuan."
"Kalau situasinya berbeda, kau mungkin sudah babak belur kuhajar karena ucapanmu itu." gumam Nami.
"Eh? Hei.. Jangan tersinggung.."
"Yah, tapi sayangnya hari ini kau cukup beruntung bisa 'selamat'."
"Jadi, kemarin kau mau membantuku… apa?" ulang Zoro. Cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba perempuan berambut oranye itu berubah pikiran dan menghajarnya.
"Tentu saja membantumu menghadapi letnan wanita itu. Kupikir sekali-kali aku bisa… menolongmu dalam pertempuran. Aku menyadari, di tengah pertarungan kemarin kau hanya berkejar-kejaran dengan letnan wanita itu, jadi aku berpikir, mungkin aku bisa menghadapinya…"
"Yah, saat itu mulanya aku berusaha membantumu, menghadapi Letnan wanita itu. Namun pada akhirnya... mm, seperti yang kubilang tadi, aku pikir 'Kuina' itu sangat berarti buatmu. Jadi, akhirnya... Aku menghentikanmu." Nami melanjutkan perkataannya dengan pandangan nanar. Seperti terbawa akan ingatannya di hari lalu.
Keheningan pun sejenak menyelimuti mereka. Tampaknya mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sebenarnya, Zoro kurang menyukai suasana hening seperti ini saat ia sedang berbicara dengan seseorang. Apalagi, seseorang yang ini. Ingin rasanya Zoro mengatakan sesuatu, tapi ia tak tahu apa yang sebaiknya ia ucapkan. Namun kali ini Nami memecah kesunyian itu.
"Hmph. Aku ingin bisa membuktikan kemampuanku. Namun aku terlalu... ceroboh dan tanpa pertimbangan, Zoro. Aku tidak memperhitungkan dengan baik saat aku melawan Letnan wanita itu, dan dalam beberapa saat aku sudah ditumbangkannya dengan mudah. Bodohnya aku, menjadikan Letnan itu seperti korban atas semua keegoisanku itu. Aku terlambat menyadari bahwa letnan wanita itu berarti buatmu karena keegoisanku. Mungkin seharusnya-"
Perkataan Nami tiba-tiba berhenti saat perempuan itu menyadari Zoro sedang menyentuh tangannya. Memotong ucapannya dengan tegas. Mata lelaki berambut hijau itu memandangnya serius dan dalam.
"Cukup, Nami."
Perempuan berambut oranye itu membelalakkan mata onyx-nya, sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia menepiskan perasaan itu dan termenung untuk beberapa lama, tanpa sadar ia mengusap perban yang melilit di badannya.
"Lucu juga. Betapa banyak pemahaman yang kudapat setelah aku terluka seperti ini." kata Nami diiringi tawa kecil yang merdu.
"Kau tahu, Zoro? Aku teringat waktu dimana kau menghiraukan perintahku meninggalkan Desa Kokoyashi dan memutuskan untuk tetap tinggal demi menepati janjimu kepada Luffy, untuk 'membawa'ku kembali. Padahal kau punya alasan kuat untuk meninggalkanku karena waktu itu aku mengkhianati kalian… Dan aku hanyalah perempuan pencuri jahat yang tidak perlu kau kasihani."
Nami menghela napas panjang sebelum melanjutkan,"Juga sewaktu di Arabasta, kau harus kerepotan karena harus melindungiku dan membantuku saat bertarung menghadapi Baroque Works saat kita terpisah dan berhadapan dengan Mr. 1 dan Mrs. Double Finger. Kadang aku sedikit menyesali tindakanku pergi menyelinap hingga berhadapan dengan Mrs. Double Finger, walaupun aku berhasil menang, tapi aku membuatmu kerepotan karena bisa-bisa aku terbunuh karena kemampuan bertarungku yang terhitung… lemah dan pihak musuh sangat kuat, dan kau harus melindungiku dan memastikan keselamatanku karenanya. Dan aku tahu itu bukan hal yang menyenangkan."
"Setahuku itu sudah lama sekali." gumam Zoro. Nami hanya tersenyum, lalu mengangguk menyetujui. Ya, itu adalah bagian dari petualangan yang sudah mereka lalui lama sebelumnya.
"Selama ini aku tidak—belum pernah gagal melindungimu." lanjut Zoro diiringi napas berat. "Aku… membuatmu terluka kali ini, Nami. Itu membuatku pantas mendapat amukan si Koki Bodoh kemarin."
"Hei, tapi selama ini pun kau selalu melindungiku, Zoro. Justru aku yang bertindak tak pantas karena menyerang letnan wanita itu, mungkin kalau tak kulakukan, kau tidak akan mendapat masalah dengan Sanji-kun."
"Tapi pada akhirnya kau menghentikanku menyerang Letnan wanita itu kan?"
Itulah yang dikatakan Zoro, untuk mengisyaratkan bahwa tidak perlu ada yang harus Nami sesali atau pikirkan.. Bahwa bukan perkara Letnan wanita itu yang menjadi persoalan utamanya. Entah bagaimana lelaki berambut hijau itu teringat ucapan sang Koki Beralis Dart saat mereka bertengkar kemarin. Tiba-tiba saja ucapan sang Koki Beralis Dart bergaung di kepalanya…
Memang siapa yang seolah-olah bisa membuatmu gugup dan bicara tak karuan ?
Siapa yang selama ini kau biarkan memukulmu tanpa dapat membalasnya sekalipun ?
Siapa yang berusaha selalu kau tenangkan perasaannya ?
Siapa yang akhirnya selalu ingin kau pastikan akan baik-baik saja di semua pertempuran yang pernah kita lalui ?
Keheningan kembali menggantung di antara Zoro dan Nami. Nampaknya mereka sedang sibuk dengan gejolak pikiran masing-masing.
"Tak usah kau pikirkan itu, oke?"
Walau Nami tampak bingung pada awalnya, akhirnya perempuan itu mengangguk. Tampak sepolos anak kecil saat melakukannya. Zoro memberikan senyum miring akan tingkah perempuan itu.
"Nah. Sekarang aku yakin kau baik-baik saja."
Tiba-tiba kecupan kecil dari Sang Pendekar mendarat di kening Sang Navigator. Cepat, namun bukan berarti tanpa arti.
Mata onyx Nami membulat terkejut. Dalam cahaya yang menerobos ke dalam kamar, mata onyx itu entah bagaimana terlihat berpendar indah. Zoro tersenyum tipis, mengusap rambut oranye Nami lembut,
"...Hanya ini yang bisa kulakukan... Jadi aku mohon, tanpa aku harus mengungkapkannya, mengertilah..."
Kesunyian akhirnya menyelimuti mereka sejenak...
"Baiklah..." senyuman lebar kini terpampang jelas di raut wajah Sang Navigator. Walau sempat kaget dengan reaksi yang diberikan Nami, akhirnya tetap saja Zoro ikut tersenyum.
"Kau tahu, nakama yang lain sedang berpesta merayakan kepulihanmu. Lebih baik kau segera sehat dan bergabung bersama mereka." ujar Zoro sambil bangkit dari kursi yang sedari tadi ia duduki. Nami tersenyum riang dan mengangguk.
"Tentu saja aku akan kesana."
Zoro pun menampilkan senyum sinisnya yang biasa, sebelum ia berbalik, melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar beraroma campuran jeruk dan kopi itu. Membelakangi Nami yang masih duduk di tepi ranjangnya, hendak mengupas jeruk mandarin lagi.
Kini mereka menyadari bahwa mereka telah membentuk sebuah ikatan yang lebih dari ikatan nakama di antara mereka.
Chapter two, Clemence. End.
Shall we start the S.O.S ?
"Akhirnya, Chapter Dua... Sudah bisa dibaca! Hah, betapa melelahkan membuat lanjutan, ya. Saya harap tidak mengecewakan..." –jatuh pingsan-
"Hei, Cca. Kau ternyata juga berlebihan. Ckck."
BLETAAAAKKK..
"Jangan samakan aku denganmu, Voc! Paling tidak aku hanya pingsan saat mengumumkan ini."
"Aduh! Terserah kau sajalah..."
"Baiklah, lupakan hal yang tak perlu, saatnya memulai SBSSCI..." –semangat '45-
"Oke, dari reviewe pertama, *jeng jeng jeng* eleamaya-san..."
"Pertama, untuk Sanji yang keren, memang sudah dari sananya Sanji sudah keren kok, eleamaya-san... –nosebleed- . Sebenarnya main chara mau dibuat Zoro-Sanji, tapi yah threeshots ini akan menampilkan main chara berbeda pada setiap chapternya, dan chapter kedua main chara-nya sebenarnya Nami, dan chapter ketiga..." –dibekep Voc-
"Hhe –evil smirk- . Memang terlihat OOC awalnya, tapi tentu saja Sanji tak akan menerima begitu saja dengan mudah kan tentang hubungan mereka, ya kan Sanji?"
"TENTU SAJA! MANA MUNGKIN AKU MERELAKAN NAMI-SWAAN KEPADA MARIMO SIALAN ITU!"
"Semangat yang bagus, Sanji. Nah, Kemudian, cerita 'Weather' itu masih panjang, karena nantinya ini adalah satu-satunya cerita canon dari kami. Dengan judul 'Weather' inilah semua cerita canon One Piece yang kami buat saling berkesinambungan. Jadi, semua fic canon yang akan kita buat berikutnya akan mempunyai judul uama yang sama yaitu 'Weather', dengan sub cerita yang bertemakan dari berbagai macam cuaca, dan berbagai cerita yang berbeda, namun sekali lagi, berkesinambungan..."
"Akan ada banyak variasi cerita yang akan kita buat, jadi cerita ini akan kompleks, tidak terpaku pada suatu hal saja. Jadi 'Weather' belum tentu tentang Zoro-Nami, namun mungkin memang sub-cerita kali ini menonjolkan Zoro-Nami..."
"Oke, selanjutnya untuk rewviewer kedua kita, edogawa-san..." *toet toet toet*
"Le Tonnere artinya adalah 'gemuruh'."
"Nami meninggal ? Oh, mungkin Weather sudah tamat di sini, Jadi sudah terjawab juga kan di chapter dua ini..."
"Oke, oke, hip hip hura... Terima kasih banyak atas review dari minna-san yang terhormat. Walau hanya dua kami tetap bangga menulis cerita ini dan akan tetap terus melanjutkannya, hhe..."
"Baiklah, dengan ini S.O.S kali ini ditutup! Sampai ketemu di chapter tiga, ya..." –doooonnng-
