Disclaimer Masashi Kishimoto
Just For You
Ini semua salah dan tak seharusnya terjadi.
Saat ini tubuh Sakura gemetaran. Hatinya gelisah. Ia takut. Takut dengan perlakuan pemuda ini.
"Aku...mo-hon...lepas-kan...aku..." cicitnya lirih. Air matapun sudah tidak terbendung lagi—mengalir begitu saja dengan derasnya.
Dengan sekuat tenaga, Sakura berusaha mendorong bahu tegap Sasuke. Akan tetapi pelukan yang diberikan Sasuke terlalu erat sehingga keduanya terjungkal ke belakang bersama, dengan Sakura yang ada dibawah dan Sasuke ada diatas Sakura.
Mereka berdua kemudian terdiam—saling memandang satu sama lain. Sakura bahkan dapat mencium aroma mint yang melekat di tubuh Sasuke. Membuat pipinya yang gembul merona merah—seperti buah kesukaan Sasuke, tomat. Tubuhnya juga membeku akan tatapan dan posisi Sasuke saat ini.
Jantungnya pun memompa dengan cepat. Ingin rasanya bibirnya ditarik ke atas karena keadaan ini. Tapi toh, akhirnya keinginan itu terwujud juga.
Onyx bertemu emerald.
Lama mereka memandang. Sesaat Sakura terhipnotis akan tatapan memuja pemuda di hadapannya ini. Seakan-akan mata itu menganggap Sakura sebagai tuan putri dan miliknya—milik pemuda itu.
Tapi...
'Apakah kau sadar, Sakura? Tidak mungkin kan, Sasuke memberikan tatapan seperti itu kepadamu? Ingat, kalian tidak pernah saling mengenal! ingat itu, Sakura!'
Kembali, hati nurani Sakura berbicara. Ia pun menggeleng-gelengkan kepala dan menutup kedua emeraldnya—guna menyadarkan apa yang telah dilakukannya kini.
Akhirnya emerald itu terbuka—menampilkan giok hijau yang sudah basah akibat air mata. Sekali lagi ia memberontak—memukul dada Sasuke yang ada diatasnya.
Sasuke meringis pelan—agak sakit juga pukulan perempuan ini di dadanya. Meskipun begitu, ia tetap tidak menyerah—melepaskan gadis itu. Kedua tangannya masih setia bertumpu pada sisi kanan dan kiri kepala Sakura.
Dengan gerakan cepat—tanpa bisa dihindari Sakura—Sasuke menarik tangan Sakura yang memberontak—membuat gadis itu terduduk dengan kedua kakinya yang diduduki tubuh Sasuke.
"Jangan...tinggalkan...aku..." desis Sasuke lirih.
Tangannya mencengkram tangan mungil Sakura—membuat sang empunya meringis pelan. Sasuke seakan takut jika sedetik saja ia melonggarkan cengkramannya, perempuan dihadapannya akan pergi.
"A-aku...mo-hon, Sa-sasuke-san. Le-pas...sa-kit..." ringis Sakura. Tampak garis kemerahan terjiplak di tangan mungil Sakura.
Sakura masih tak berhenti bergerak—memberontak. Saat ini, ia sungguh(benar-benar) takut dengan pemuda yang berada dihadapannya ini.
Masih dengan kekalutan dan panik yang luar biasa, tangannya ia ayunkan ke kanan dan ke kiri—berharap cengkraman Sasuke akan terlepas. Tapi, lagi-lagi ia harus menelan ludahnya keras, tangan kekar itu benar-benar tidak mau terlepas.
"Kau...ma-mabuk, Sa-suke-san." ucap Sakura setelah mencium bau alkohol yang menguar dari mulut Sasuke.
Ternyata benar ada yang salah disini. Sasuke tengah mabuk sekarang.
"Aku...tidak...mabuk, hime." jawabnya tersendat-sendat. Wajahnya kini menunduk entah memikirkan apa.
Sakura yang sudah mempunyai firasat yang tidak mengenakkan pun mendekatkan wajahnya ke tangan Sasuke yang tengah mencengkram kuat tangannya. Air matanya sudah keluar dari sela-sela kacamata minus tebalnya.
Dengan sekali waktu, ia menggigit punggung tangan kekar itu sampai berdarah.
"Awww..."
Sontak tangan Sasuke melepaskan cengkramannya. Dikibas-kibaskannya tangannya itu—guna meminimalisir rasa sakit akibat gigitan itu.
Selagi ada kesempatan, Sakura berusaha menarik-narik kakinya yang diduduki Sasuke dan mendorong dada bidang itu.
Sasuke yang masih mengurusi tangannya, akhirnya terjengkang ke belakang karena kurangnya keseimbangan. Cepat-cepat, Sakura beranjak berdiri dan kabur dari tempat itu.
Ia tidak lagi memikirkan barang belanjaannya. Yang ia pikirkan adalah tubuhnya, keselamatannya. Tapi belum sampai ia berdiri tegak, kakinya sudah ditarik cepat oleh Sasuke. Menyebabkan tubuhnya limbung ke depan dan menimbulkan bunyi gedebum yang sangat keras. Kini tubuh bagian depannya terasa sakit akibat jatuhnya yang tidak elit diatas rumput.
Perlahan tapi pasti, desiran rasa sakit yang dialaminya menyebar ke seluruh bagian tubuhnya.
Belum reda rasa sakit yang dialaminya, Sasuke sudah membalikkan tubuh Sakura dan menarik kedua tangannya, kemudian mengikatnya dengan tali. Entah darimana Sasuke mendapatkan tali berwarna hitam itu.
Sakura yang terkejut, langsung menendang-nendang tubuh Sasuke yang ada didepannya.
"A-aku...mo-hon...lepas-kan aku...hiks..." pintanya memelas dan masih menendang-nendang tubuh Sasuke.
Sasuke pun geram. Terdengar jelas jika saat ini ia tengah menggertakkan giginya. Wajahnya pun terlihat menyeramkan.
Ia segera mencekal kedua kaki Sakura dan mendudukkan tubuhnya diatas paha Sakura sehingga wajahnya kini berdekatan dengan wajah Sakura. Tangan Sakura yang diikat juga dicengkram olehnya, agar perempuan itu tidak bisa memukulnya lagi. Wajahnya yang tampan kian mendekat dan terus mendekati wajah Sakura.
Dan...
PLAAKK!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Sakura. Wajahnya terlempar ke samping kiri dan kacamata minusnya terlepas dari hidung mancungnya.
"Ku bilang jangan tinggalkan aku..." bentaknya tajam sambil memegang dagu Sakura—menggerakkan wajah itu agar menghadapnya.
"Aku...mohon...Ka-rin..." ucapnya lirih. Tampak sebuah tatapan sakit dan sendu terlukis di mata onyxnya. Tangannya yang mencengkram dagu Sakura kini mengelus pipi kiri Sakura yang telah ditamparnya.
Perkataan Sasuke jelas menohok hati Sakura. Hatinya mencelos sakit. Rasa nyeri menyergap—menggerogoti hatinya. Tubuhnya pun gemetar menahan tangisnya yang ingin keluar dengan sekeras-kerasnya. Rasanya hancur sudah hati Sakura. Hati yang dibangunnya kini remuk—pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.
Dengan bibir bergetar, Sakura berucap pelan.
"Aku...bu-bukan...Ka—" belum selesai Sakura berbicara, Sasuke sudah menawan bibir ranum itu dibibirnya. Ia menekannya dengan lembut dan penuh perasaan.
Sakura pun membelalakkan kedua matanya. Air matanya kian bertambah deras mengaliri wajahnya. Tubuhnya kini seakan kaku.
Bukan ini yang dia mau.
Bukan ini yang dia inginkan.
'Tuhan, tolonglah hambaMu ini.' batinnya miris. Isakan demi isakan terendam akibat ciuman Sasuke.
Sase masih setia mencium Sakura. Sebentar-sebentar ia menghisapnya. Lidahnya pun ikut bermain—mengetuk-etuk bongkahan bibir ranum itu agar terbuka. Tak kunjung mulut itu terbuka, tangan kekarnya pun merayap ke bawah, meremas gundukan kenyal yang masih terbungkus kemeja dan bra.
"Enghh..." desah Sakura dimulut Sasuke karena pemuda itu telah berhasil memasukkan lidahnya ke mulut Sakura.
"Hewn...thiw...khawn..." ucap Sakura tak jelas. Kepalanya tiba-tiba pusing dan berputar-putar—mungkin karena alkohol yang masih menempel di mulut Sasuke. (Sakura akan merasa pusing jika meminum sedikit bahkan setetes alkohol)
Sasuke terus melanjutkan aksinya—mengobrak-abrik seluruh aset yang ada dimulut Sakura. Sekali-kali lidahnya mengajak bermain lidah Sakura, tapi tetap tidak ada balasan dari perempuan itu.
"Enghhh..."
Sakura hanya bisa mengerang tertahan. Tangan dan kakinya sudah tidak bisa berontak. Lagi-lagi, hanya air mata yang bisa ia keluarkan saat ini.
Karena kehabisan pasokan oksigen, Sasuke akhirnya melepaskan pagutannya. Dilihatnya sejenak wajah sang kekasih. (Ingat! Sasuke melihat Sakura sebagai Karin Uzumaki—kekasihnya).
Dibaringkannya tubuh Sakura di rumput dengan hati-hati. Perlahan ia membebaskan tangan Sakura yang diikat tadi—yang sudah lemas. Setelah terlepas dikecupnya pelan bekas kemerahan yang membekas di tangan mungil itu.
Wajahnya yang biasanya datar kini menyeringai—melihat wajah Sakura yang memerah dengan bibir bengkak dan saliva yang menetes dari mulut mungil itu.
Ia pun segera menunduk—membenamkan kepalanya di lipatan leher Sakura. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia membuka 3 kancing teratas dari kemeja yang Sakura kenakan—tidak sepenuhnya membuka kemeja itu.
Diendusnya leher itu—membuat sang empunya menggeliat pelan. Sakura sudah pasrah. Ia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tenaganya sudah habis akibat memberontak tadi ditambah dengan kepalanya yang pusing.
"Engghhhh..." desahnya lirih.
Kini Sasuke tengah mencium lehernya—membuatnya kegelian. Gigitan serta hisapan diberikan oleh Sasuke—menimbulkan ruam-ruam kemerahan diseluruh leher jenjang Sakura.
Sakura hanya diam sambil menggigit bibirnya—merendam desahan yang akan dikeluarkannya. Sasuke yang tidak mendengarkan alunan sexy Sakura langsung meremas kedua gundukan kenyal Sakura. Diremasnya dengan kuat benda itu hingga suara yang diinginkannya itu keluar juga.
Ciuman Sasuke pun merambat ke bawah—ke arah gundukan yang masih tertutup bra berwarna merah itu.
Ditariknya tali bra itu hingga ke lengan kanan, menyembulkan gundukan sebelah kanan tersebut. Dimasukkannya nipple kecoklatan itu ke mulutnya yang hangat. Dihisapnya kuat-kuat nipple itu seperti bayi yang kelaparan. Begitu juga bagian yang sebelah kiri!
Lagi-lagi Sakura mendesah pasrah.
"Enghhh...a-aku...mo-mohon...henti...akh..." Sakura memekik kencang. Ternyata jari Sasuke sudah menerobos masuk ke lorong hangat Sakura. Walaupun Cuma satu jari yang dimasukkan, tapi itu memberikan efek yang besar bagi Sakura.
Sentuhan itu bagaikan aliran listrik bagi Sakura. Ia pun menggeliat ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya seakan menikmati semua perlakuan pemuda ini.
Tapi kembali lagi dengan kenyataan yang ada. Dia hanya dianggap sebagai orang lain—Karin—kekasihnya Sasuke.
Kembali Sakura memekik tertahan karena satu jari Sasuke ditambahkan ke lorong itu dan mengocok-ngocoknya. Leguhan dan desahan kembali dikeluarkan oleh bibir ranum gadis yang sebentar lagi akan menjadi wanita itu.
Perut Sakura terasa melilit. Pikirannya melayang dan pandangannya kabur. Rasanya ia ingin pipis. Dan...
"AKH..." Sakura orgasme yang pertama kali.
Sakura yang sudah lemas tidak sadar jika Sasuke sudah memposisikan kejantanannya di depan bibir vagina Sakura.
Dengan sekali hentakan, benda keras itu menerobos masuk—memaksa pertahanan terakhir Sakura. Dan...
"AKKHHH..."
Sakura melolong keras. Darah segar pun merembes dari bibir vaginanya. Tubuhnya kini kian bertambah remuk. Rasa sakit yang dideritanya kini bertambah seakan menghancurkan semua tulang-tulangnya. Setetes demi setetes air mata mengalir jatuh—menjadi bukti kisah bercinta mereka.
Kini keprawanannya telah direnggut paksa oleh pemuda yang dicintainya.
'Cinta sepihak'
Kata itulah yang tepat untuk menggambarkannya.
Sasuke terus memaju-mundurkan pinggulnya. Mencari kenikmatan bagi dirinya dan wanita yang ada didepannya.
"Sa...suke...hen...AKH..." akhirnya Sakura orgasme yang kedua kalinya. Tetapi Sasuke belum mencapai orgasme sama sekali. Terus digerakkannya dengan cepat pinggulnya. Lagi-lagi desahan itu keluar dengan tidak teratur dan nafas wanita itu ngos-ngosan karena tidak bisa mengimbangi permainan Sasukwe.
Ia terus menggenjot. Hingga...
"Arghhhh...KA-RIN..."geramnya.
Sasuke mengeluarkan cairan cintanya ditubuh Sakura, sehingga wanita itu bisa merasakan hangat di perutnya.
Tubuhnya yang lelah pun ambruk seketika diatas tubuh Sakura. Tapi sebelum Sasuke benar-benar jatuh terlelap. Dahinya mengernyit heran.
'PINK?'
To Be Continue
Whoaaa...fic hancur abis. Maaf kalau chapter ini mengecewakan reader. Bener-bener susah ngrangkai katanya. Stress saya,,,,,,
Tapi makasih loh reviewnya gak nyangka sampai 10+..
Arigatou...
