KLANG KLANG.
Suara itu terus mendesah dengan keras di dalam kapal pirate itu. Marlina yang sudah masuk ke kabin bersama Roxy, sudah bukan kepalang kesal. Di hari-hari yang bertopan seperti ini, ia seharusnya sudah diberi izin untuk menyingkirkan topannya bersama Koris dengan Cannon Attack-nya. Namun ini? Bukannya disuruh membasmi sosok raksasa naga itu, ia malah disuruh masuk ke dalam kabin, mana bersama wanita tegas dan sadistis itu lagi.
"Cén fáth go raibh tú ag iarraidh mé a leanann tú?" Marlina bertanya dengan loyo dan sedikit merengut. (1)
"Toisc dhíth orm tú." jawab Roxy singkat. (2)
Marlina hanya bisa terdiam dan menghela napas pasrah. Kapten Roxy ini bukan saja keras kepala, namun juga tegas dan berpikiran jauh lebih cermat dan penuh logika, berbeda dengan dirinya yang paling andal kalau mengurus insting bertarungnya. Marlina jelas saja bukan anak gadis sembarangan; ia merupakan satu dari sedikit awak kapal pirate di seluruh dunia yang memiliki bakat sihir yang alami.
Kapten Roxy lalu berkata dengan lirih selagi ia membuka pintu kamarnya, "Marlina, níl an t-aon bhealach amháin chun glaoch ar an duine ar an ré éagsúla… Chun an fhadhb a réiteach na d-Treabh Naofa." (3)
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Legend of Emperors
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, ada karakter dari game lain (Marlina, Roxy dan Koris / Hero Dream © Efunen Company) dan menggunakan surname khas Irish, OC, banyak pembicaraan menggunakan bahasa Eropa Barat (kemungkinan Old-English / Middle-English, Irish), etc.
A/N (Mun) : Halo! Datang lagi dengan chapter pembuka! Yang kemarin itu… Semacam prolog, selamat membaca! Serius, gue sampai banting PC cuma gara-gara pusing cariin situs yang menyediakan translator bahasa Old-English / Middle-English, mengingat setting-nya di masa abad 14 sampai 15, di mana kala itu masih menggunakan Old-English dan bagi yang sudah berpendidikan tinggi seperti bangsawan selevel Lord sampai Earl sudah mempelajari Middle-English. GHFSAHDJSHLKF! QAQ okeh selamat membaca~
.
.
.
[ Sepulang sekolah, di gym klub basket SMA Seirin ]
TAP TAP.
Kuroko dan Kagami berjalan bareng menuju gymnasium di mana kegiatan berlatih basketnya selalu digelar. Kagami dengan wajah malas seperti biasa, namun lain lagi dengan Kuroko. Beberapa saat sebelum memutuskan untuk berjalan bareng ke markas kedua mereka itu, Kuroko sempat pamit ke perpustakaan. Tidak diketahui apa yang akan dipinjamkan ke Kuroko, mengingat si surai biru langit itu begitu tertutup menyangkut buku favoritnya.
Dan kini ia berada di samping Kuroko yang sedang membaca buku asing lagi. Lagi-lagi buku terjemahan luar negeri yaaa…Kagami mengernyitkan dahi ketika mengintip isi buku bersampul putih keperakan tersebut. Tidak heran ia disebut-sebut sebagai kutu buku nomor satu di sekolah Seirin itu. Kuroko bahkan menjadi ketua pengurus perpustakaan, hebat kan?
Kuroko yang tahu bahwa Kagami tertarik pada buku terjemahan yang dibacanya, lalu menjelaskan sambil melirik Kagami, "Ini adalah buku kumpulan legenda Eropa… Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam legenda itu. Entah itu nyata atau bohong…"
"Ah, kamu ini." Kagami dengan malas menegurnya.
"Coba aku belajar bahasa Inggris lebih baik… Semoga aku bisa belajar Old-English…" Kuroko menambahkannya dengan suara sedikit serak.
"Elo itu rakus ternyata. Pantes aja mirip sama Akashi." Kagami dengan sinis menyindirnya.
"Itu bukan pujian, Kagami-kun."
"Itu emang pujian!"
"Nggak."
"Iya."
"Nggak"
"Iya."
"Ngg–."
PLAK PLAK PLAAAAKKKKKK.
Tampaknya Tuhan sedang mempermainkan nasib Kagami hari ini, setidaknya bagi Kuroko.
Di luar dugaan Kuroko dan Kagami, sosok yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek plus bersurai hitam dengan poni dipotong mirip sama Akashi, kedapatan sedang melempari Kagami dengan bola basket yang dibawanya. Tidak lupa seorang perempuan uhuk-pendek-uhuk dan uhuk-cupA-uhuk juga turut berpartisipasi melempari si ace klub basket itu dengan sejumlah map panduan menganalisis strategi, sehingga Kagami dengan suksesnya pingsan untuk sementara.
"Doh, belon juga terbiasa sama Kuroko kale… Kuroko, masuk saja. Omelannya kusimpan ntar." Si cowok berkacamata pelaku pelemparan Kagami dengan bola basket itu berkacak pinggang sehabis berpuas-puas ria melihat sosok Kagami yang menjadi sangat tidak elit.
Kuroko yang mengenalinya sebagai Hyuuga Junpei, sang kapten klub basket Seirin yang sadistis plus tidak mengenal ampun, menggangguk singkat dan berjalan melewati mereka berdua, "Hai. Gomen untuk kejadian sebelumnya."
Begitu Kuroko hendak masuk ke dalam lapangan indoor di gymnasium itu, tiba-tiba terdengar…
…Tá tú, an duine ar an ré is faide ... (4)
NYUT.
Tanpa disadari Kuroko, tubuhnya mulai bergerak sempoyongan, walaupun tidak disadarinya. Berusaha menghiraukan rasa sakit yang aneh itu, ia lalu masuk ke gymnasium tersebut. Di sana terlihat senpai-senpainya sedang pemanasan. Beberapa dari mereka menyapa Kuroko, dan ia membalasnya dengan senyuman standarnya. Setelah meminta izin kepada para senpai untuk berganti baju, tiba-tiba suara aneh itu menyerangnya lagi,
Le do thoil teacht … Tá siad ag fanacht leat, Mo Thighearna... (5)
NYUT. NYUT. NYUT.
Semakin terganggu oleh suara aneh itu, langkahnya semakin berat. Berjuang setengah mati, ia lalu celingak-celinguk ke lapangan indoor itu, memastikan bahwa para senpainya sibuk mengurus kesenangannya terhadap basket. Benar saja, setelah bertukar sapa dengan mereka, mereka kembali asyik berlari dan merebut bola orange itu. Pokoknya… Aku harus bertahan!
Ia lalu bergerak masuk ke ruang ganti dengan langkah sedikit sempoyongan. Beruntunglah tidak ada yang melihat ia berjalan dengan super sempoyongan seperti itu, jika sampai ketahuan, maka Hyuuga pasti akan melapor ke guru atau bahkan Akashi untuk menjaganya. Maklum, sejak Winter Cup tahun lalu yang di mana Seirin akhirnya menang tipis-coret-super tipis melawan Rakuzan, Akashi dengan seenak jidatnya mendeklarasikan bahwa Kuroko adalah miliknya sehingga membuat GoM menjerit-jerit tidak percaya.
NYUT. NYUT. NYUT.
"Haahhh… Haaahhh… Sei-kun…" Dengan suara super serak dan lemah ini, Kuroko akhirnya bisa meraih gagang pintu ruang ganti.
Tanpa basa-basi, ia langsung membuka pintu tersebut, namun di luar dugaan, ada suatu skenario tak terduga yang sedang menungguinya.
NYUT! NYUT! NYUT! NYUT!
Pusingnya semakin menyerang cowok itu, seiring dengan suara aneh tersebut. Napasnya memburu, dan langkahnya semakin berat. Dari dalam ruang ganti itu, ada siluet berupa lingkaran seperti black hole berwarna hitam menghiasi tengah-tengah ruang tersebut. Seketika itu juga, serangan suara aneh dan rasa sakit pusingnya makin menghebat.
Dia duit… Cúirtéis don roghnófar... (6)
NYUT NYUT.
Sialan…Kuroko tak kuasa melawan rasa sakit itu, yang berakibat ia berlutut di mulut pintu itu dengan lemas.
TAP!
"…A ligean arteacht le chéile..." Seorang gadis bersurai oranye tiba-tiba muncul dari lubang hitam yang sangat pekat di depan Kuroko yang hampir kolaps dengan wajah yang susah dilukiskan sembari berkomat-kamit merapalkan sesuatu dengan suara yang benar-benar asing dan sulit dikenali bagi seorang Jepang seperti Kuroko. (7)
Tidak… Sumber suara itu…Itu…!
BRUK.
NYUT NYUT. NYUT NYUT NYUT. NYUT NYUT NYUT.
Kepalanya semakin pening, dan membuat ia ingin mengebom sumber rasa pusingnya itu. Ia akhirnya pingsan tak berdaya di depan gadis itu. Dengan wajah sedikit tidak rela, gadis itu akhirnya mengangkut Kuroko yang pingsan. Tapi sialnya, begitu gadis itu celingak-celinguk memastikan keadaan, ia mendapati Kagami yang selesai menjalani hukuman singkatnya melihatnya membawa Kuroko yang tidak sadarkan diri begitu Kagami hendak mendatangi ruang ganti itu. Gawat…!
"Roinn...!" Gadis itu menggerutu kesal, langsung memutar tubuhnya dan berlari masuk ke lubang hitam itu sambil menggotong Kuroko dengan gesit. (8)
"Oi tunggu…!" Kagami segera berlari mengejarnya.
TAP TAP!
Kagami segera memasuki ruang ganti baju itu dan menyaksikan gadis itu sudah menghilang ditelan lubang hitam itu. Gawatnya, lubang hitam itu mulai mengecil dan sebentar lagi akan hilang. Tahu bahwa Kuroko sedang dalam bahaya, ia langsung berlari memasuki lubang itu dengan tangan kanannya. Malahan, lubang itu memberikan sengatan listrik yang dahsyat ketika tangan Kagami menerobos masuk dimensi yang berbeda itu. Ugh…!
"S-Sh*t… KUROKOOO!"
HAP!
Tanpa diduga oleh Kagami, lubang hitam itu ternyata justru menyedotnya masuk ke dimensi itu. Saking syoknya, Kagami tidak sempat berteriak panik. Begitu Kagami sudah benar-benar masuk ke situ, lubang itu langsung menghilang, meninggalkan tas Kuroko yang tergeletak di dekat pintu ruang ganti itu dan kepanikan yang melanda anggota basket SMA Seirin itu beberapa menit setelahnya…
-xXx-
[ Suatu kapal pirate di Samudra Atlantik, era yang jauh dari era Kagami dan Kuroko ]
(text = bahasa asing yaitu Irish dan Old-English, text = bahasa Irish yang sudah diterjemahkan)
BRUK!
Tubuh Kagami dengan keras jatuh di atas lantai kayu yang kuat dari langit yang sangat mendung. Kagami yang masih tidak connect pikiran dan tindakannya, lalu mengedarkan perhatian pada sekelilingnya. Betapa terkejutnya Kagami ketika melihat bahwa di sekelilingnya benar-benar terjadi badai yang luar biasa menakutkan, dan juga tubuhnya mendadak merasakan sensasi basah kuyup. Tambahannya lagi, ia benar-benar terombang-ambing di dalam kapal tersebut.
"U-UWAHHH! ! ! !" Kagami dengan paniknya mencoba bertahan dari pergerakan kapal yang benar-benar miring ke kanan dan kiri secara bergiliran.
"Coinnigh an t-uisce amach as an long!" Terdengar suara memerintah dari salah satu awak kapal dalam bahasa Irish sambil mengeluarkan air yang masuk ke kapalnya dengan ember yang berbentuk seperti ember berbahan kayu khusus untuk menampung bir. (9)
Bahasa apa ini lagi? ! Kagami benar-benar bingung akan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kapal tersebut!
ZRUGH!
Mendadak leher Kagami seperti disentuh dengan sebilah pedang yang sangat tajam. Kagami lalu dengan takut menoleh ke belakang, mendapati bahwa di belakangnya ada seorang wanita dewasa yang berpakaian tanktop berwarna cokelat dengan gambar pirate plus mengenakan bandana dan bersenjatakan pedang itu dan bat besar yang tersarungkan pada pinggang sebelah kirinya. Tambahannya, ada beberapa awak kapal lainnya yang ikut mengeluarkan senjata.
"Cé go bhfuil tú? ! Tá tú MHAIRBH! Tá ag gach duine, a mharú dó!" Wanita itu lalu memberi isyarat kepada awaknya untuk menodongkan senjatanya masing-masing ke Kagami. (10)
Merasa terdesak, Kagami segera berteriak dalam bahasa Inggris dengan serak dan parau, "Wa-Wait everyone! Wa-WAIT!"
PIK.
Wanita itu menyipitkan matanya, mencurigai Kagami. Sedangkan yang dilirik wanita itu hanya bisa memasang wajah enggan. Ya Tuhan, bunuh aja gue asal Kuroko kembali… O-Oi, memangnya ini di mana? Ugh…Kok aku merasa sangat mabuk ya? Dan lagi…Ini di kapal, 'kan? Oi, memangnya aku sedang mengarungi time travel kali? Jadi serba salah gue ini…
"Hwa biþ đu?" Wanita itu kembali mengulang, kali ini dengan versi Old-English (11)
A-Aku nggak ngerti omongan mereka! Kagami diam-diam mengutuki timingnya yang benar-benar kelewat kurang ajar mempermainkan nasibnya.
Curiga, salah satu awaknya lalu mendekati wanita dewasa yang tegas itu dengan napas memburu dan bertanya dengan khawatir, "Đu scolde þeódend in Englisc, Roxy." (12)
Perkataan salah satu awaknya segera saja menyambar pikiran Kagami dan wanita dewasa yang disebutnya 'Roxy' itu. Dari dalam hati, Kagami dengan segenap hati mengdumel, kesal karena baru ngeh kalau mereka tidak tahu bahwa Kagami benar-benar tidak bisa berbahasa Inggris versi jaman yang sangat baheula tersebut. 'Roxy' sendiri langsung mengutuki dirinya, tidak menyadari bahwa kendala bahasanya benar-benar mengganggu interaksi mereka.
"Yeah, yeah, fuair tú pointe ann." Roxy itu lalu menjentikkan jari telunjuk sebelah kanannya setelah menyarungkan pedangnya. (13)
CTIK.
Tiba-tiba di sekeliling mereka muncul cahaya terang yang datang dari diri mereka sendiri tak terkecuali Kagami dan Roxy. Kagami sendiri lalu berdiri sambil berpegangan pada tiang kedua dengan wajah masih takut-takut.
"Teanga Uilíoch." Roxy lalu melafalkan mantranya dengan dingin. (14)
SYUUUSSSHHH.
Perlahan cahaya itu mulai lenyap menyerap tubuh mereka. Kagami yang merasakan ada sensasi aneh, di mana ada beberapa pengetahuan asing yang menyusupi kepala dan memorinya, lalu mulai bertanya dalam bahasa Irish, "Anu… Apa mau kalian? Di mana Kuroko itu? Dan apa-apaan itu yang tadi?"
Sontak saja semua awak kapal yang mengancam Kagami, ber-ooohhh ria begitu menyadari bahwa cowok kekar dan bersurai merah gelap itu ternyata sudah bisa berbahasa Irish setelah disihir oleh Roxy itu. Wanita berbandana itu lalu menjelaskan sambil kembali menodongkan pedangnya ke Kagami meski diguyur hujan sekalipun, "Justru itu yang ingin aku tanyakan. Siapa kau? Berani-beraninya kemari ke sini dari langit."
"A-Aku… Aku Kagami Taiga." Kagami dengan singkat menjawab.
"Aku tidak butuh nama itu, hai anak asing. Apa maumu?"
"Mencari si anak bersurai biru langit musim panas yang diculik oleh gadis bersurai orange! Dia temanku!" Kagami membentak dengan kesal.
Mengetahui bahwa gadis itu yang menculik anak bersurai biru langit musim panas yang dibicarakan oleh Kagami, Roxy itu lalu menyeringai tipis. Tak memberikan kesempatan bagi Kagami untuk menyanggah maksudnya, wanita itu menjawabnya dengan enteng, "Anak itu akan dipersembahkan untuk menenangkan ketidakseimbangan ini."
Sialan kau, wanita jalang! Kagami mendadak marah mendengar jawaban wanita itu.
Mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga berdarah, Kagami menaikkan volume suaranya, "Brengsek kalian! Sudah menculik orang, dibuang hanya untuk persembahan? ! Ketidakseimbangan apanya? ! JANGAN BERCANDA! Katakan, di mana Kuroko? ! Jika kalian telanjur membuangnya ke lautan yang mengamuk di san–mmppfff… U-Ugh… Huek!"
BYUURR! BYUUUR!
Ternyata kapalnya kembali bergoyang dahsyat, sehingga membuat Kagami dan semua awaknya terpaksa berpegangan lagi pada benda terdekat mereka. Kagami kembali berpegangan pada tiang kedua kapal tersebut, sedangkan Roxy bergantung pada tali yang terhubung dengan jaring pengaman yang diikat di antara tiang kedua dengan tepi sisi kanan kapal tersebut. Awak-awak yang lain berpegangan pada sesuatu yang dekat dengan targetnya.
"Sial! Koris, belum kelar doa-doanya nih? !" Roxy lalu beralih perhatian ke sosok wanita yang juga berbandana dan berpakaian khas pirate, yang sedang berdiri di depan kapal sembari mengangsurkan kedua tangannya di atas langit, seolah ia hendak menggunakan sihir dan doa-doanya dalam waktu bersamaan.
"Belum, Captaen! Masih mengamuk dia kayaknya!"
BYUUUR!
Sontak saja semua orang kembali tindih-menindih begitu goyangan dahsyat pada kapal itu kembali terjadi. Roxy segera memanjat jaring pengaman itu, sedangkan awak yang lain segera menangkap dan mengikat Kagami yang benar-benar lengah. Benar-benar bukan saatnya buat bertengkar dengan anak asing itu, Roxy segera memberi perintah ke seseorang yang sedang stand by di atas tiang kedua, "MARLINA! TEMBAKKAN ANAK ITU KE TOPAN ITU!"
"A-Aye-aye Sir!" Marlina yang ternyata ada di sana, menggangguk sambil berpegangan pada tiang keduanya.
"Secepatn–mppff… SEMUANYA! KELUARKAN AIR CEPAAAATTTT! ! ! EMBER MANA EMBERRRRR!" Roxy mendadak panas kepalanya, kesal karena tak kunjung dapat menenangkan pikirannya yang berantakan antara mau menghajar anak asing itu dengan melawan topan kali ini.
Saat keadaan di atas kapal itu masih kacau balau dengan sebagian awak kapal yang berjuang mengeluarkan air dari kapalnya, Marlina yang tengah berdiri di atas tiang kedua, langsung mengambil posisi berjongkok dengan tubuh Kuroko yang tidak sadarkan berada dalam posisi hendak dilempar dengan semacam roket ukuran kecil. Ugh… Mestinya gue bawa Pfjødir…(*)
"Saatny–."
BYUUURRR! ! !
"KYAAHHH! ! !"
Marlina segera mengeratkan pelukannya pada tiang kedua itu, tetapi sialnya… Kuroko malah terlepas dari dekapannya. Kapal itu segera oleng ke kiri, menyebabkan sejumlah barang ikut tercebur masuk ke laut Samudra Atlantik itu, dan tragisnya Kuroko ternyata ikut menjadi korban terjatuh ke laut yang ganas tersebut. Para awak kapal yang menyaksikan terceburnya anak berkulit pucat pasi itu ke laut, ternganga syok.
BYUUURRR. Kuroko benar-benar sukses tercebur ke laut Atlantik tanpa ada aksi perlawanan darinya.
Roxy melongo.
Marlina menjerit ngeri.
Koris masih sibuk mengeluarkan air dari kapalnya plus topan yang bakal mendekatinya.
"MARLINAAAAAA! ! ! KENAPA KAU MALAH MENJATUHKAN ANAK ITU, HAAAAHHH? ! HARUSNYA KE DEPAN, BUKAN KE SAMPING WOY! ! ! !"
.
.
.
Di mana ini…?
BLUB BLUB BLUB.
Tubuhnya masih terasa berat untuk bergerak, dan begitu kedua matanya dibukakan… Mata biru langitnya bertemu dengan kumpulan air garam dalam jumlah sangat melimpah. Ia segera melindungi matanya sekali lagi, takut kalau ada apa-apa dengan matanya kalau terkena air garam seperti itu. Anak bersurai biru langit musim panas itu langsung memeluk sekujur tubuhnya, sekedar untuk menenangkan pikirannya yang sangat berantakan.
A-Ada apa ini? !
BLUB!
Tubuhnya kini semakin tenggelam lebih ke dalam dan persediaan oksigennya juga sangat terbatas.
Gawat… Aku a-akan mati di sini! T-Tidak–.
Hei.
Anak laki-laki itu sadar bahwa ada suara lain yang menyapanya dari dalam laut. Ia berusaha menangkap suara yang menyapanya, namun tekanan dari luar yang tinggi telah menyebabkan paru-parunya ikut mengembung. Sambil berjuang mempertahankan jiwanya agar tetap di dalam tubuhnya, ia berusaha membalas sapaan itu dengan cara melalui pikirannya.
Su-Suara siapakah itu…?
Aku adalah The Chosen. Nak… Pilihlah, hidup atau mati?
BLUB BLUB BLUB.
Sial, aku tidak bisa mati sekarang! A-Aku masih ingin pulang! La-Lagipula, ini di mana…? Anak bersurai biru langit itu lalu memutar tubuhnya, berusaha membentengi dirinya dengan punggungnya. Napasnya semakin menipis, tekanannya semakin kuat, membuatnya makin lemah dan hampir dipastikan akan mati saat itu juga. Aliran air yang keras juga menyeretnya menjelajah dunia air dalam keadaan sangat kepayahan seperti itu.
A-Aku… AKU TIDAK MAU MATI! A-Aku ingin pulang…!
Baiklah. Kau sudah terpilih…
Suara itu perlahan menghilang, digantikan dengan setitik cahaya kebiruan yang terang benderang di antara air garam yang gelap tersebut. Cahaya itu makin besar, dan mendekati Kuroko yang sudah masuk titik nadir. Cahaya itu mulai memasuki diri anak bersurai biru langit itu, dan membentengi tubuhnya dari air garam yang menenggelamkannya. Anak itu perlahan merasakan kehangatan yang sangat familiar pada dirinya selagi cahaya itu merasukinya.
Gunakanlah kemampuan itu… Wahai anak Suku Langit…
Anak itu yang perlahan mampu memulihkan kesadarannya, kemudian memegangi dadanya yang terasa panas karena dirasuki oleh cahaya itu. Panas dan hangat… Apa ini…? Aneh sekali…
"…ROAAAAAARRRRRR! ! ! !"
.
.
.
[ To be Continued… Atau END? *digaplok* ]
(1) Why did you request me to follow you?
(2) Because I need you.
(3) There is the only one way to call the person of the different era… To solve the problem of the Sacred Tribes…
(4) You, the person of the farthest era…
(5) Please come… They are awaiting you, My Lord…
(6) God bless you... Salute for the Chosen...
(7) Let's come together…
(8) Goddamnit!
(9) Keep the water out of the ship!
(10) Who are you? ! You are DEAD! Everyone, kill him!
(11) Who are you? – Old English
(12) You should translate with English – Old English
(13) Ya, ya, you got a point there.
(14) Universal Language.
(*) Pfjødir adalah nama meriam mini milik Marlina.
