Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Alone chapter 2

.

.

.

Dan entah kenapa sejak tadi aku terus memandangi sosok yang bernama Uchiha Sai itu…

"Hm?"

Hingga akhirnya dia beralih ke arahku. Sambil menunjukkan gesture penuh Tanya. Aku hanya tersenyum kikuk di depannya. Dia menaikkan alisnya dan berbalik. Entah apa yang dia cari. Lalu dia berbalik ke arahku.

"Aku?" tanyanya dengan polos. Ingin rasanya aku menjedukkan kepala saat itu juga. Innocent banget ya nih cowok? Emang siapa lagi kalau bukan dia?

Dia membalas senyumku. Yah, itu lebih baik karena aku sudah mulai 'berapi-api'. Dia berjalan ke arah ruang penyimpanan. Meninggalkan aku sendiri dengan ratusan perempatan yang bergelimang di kepalaku.

Beberapa menit kemudian (ketika aku merasa jenuh dan ingin cepat pulang) dia muncul lagi di depan pintu masuk gedung olahraga. Aku segera menghampirinya.

"Ba…reng!" ucapku di sampingnya. Namun tidak seperti biasanya…

Dia memandangku dari atas sampai bawah. Membuat saraf tak sadarku segera memerintahkan untuk menutupi bagian depanku dengan kedua tanganku. Untungnya tidak kulakukan.

"Kau siapa?" tanyanya dengan nada yang sangat dingin. Membuatku ingin melepaskan sepatu dan memukulnya hingga masuk ke dalam tanah sampai yang tersisa hanya kepalanya. Bukankah di kelas kita sudah kenalan? Apakah memori-mu terlalu penuh dengan pelajaran sehingga susah untuk mengingat nama orang?!

"Aku INO, I-N-O. Yamanaka Ino. Kita satu kelas dan kamu tidak ingat namaku? Oh ya, butuh waktu lama untuk ingat nama. Tapi setidaknya kamu tahu aku! Padahal kita tadi baru ketemu kan di gedung olahraga?" ucapku.

Dia hanya menunduk. Lalu berjongkok, bahunya bergetar…..

Dan tawa lepas tak terkendali akhirnya muncul…. =.=!

"Apanya yang lucu?" tanyaku. Setelah puas tertawa, akhirnya dia bangkit dan mengambil ponsel. Tekan-tekan apa…. Gitu….

Aku sudah jenuh!

Aku segera berjalan meninggalkan orang itu. Namun dia mencengkram lenganku dan menatapku dengan tatapan memohon.

"Aku sudah berkorban saat ini. jadi tolong turuti aku…."

"Kalau tidak?"

"Mau kuperkosa?" ucapnya sambil menjilat bibir atasnya.

Tuk!

Sebuah telapak tangan mengenai kepalanya (yang menurutku adalah pukulan). Dia hanya mengusap-usap kepalanya dan berbalik. Kali ini aku ikut melongok. Dan beberapa detik kemudian mataku hampir keluar dari tempatnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Hah! Temanmu yang satu ini salah mengira orang. Sudah cukup dengan yang tadi pagi. Sekarang tambah lagi…."

Aku hanya bisa melihat mereka yang sedang berdebat. Kepalaku mondar-mandir (?) dari kiri ke kanan hingga kurasa sebentar lagi kepalaku hampir terlepas dari tempatnya. Hingga sebuah tangan memegang lenganku.

"Ini Sa-su-ke. Kalau aku Sai. Tolong bedakan…."

He? Kembar?

"Kami memang kembar," ucap Sasuke. Iya kan? Aku tidak salah kan? Yang kuhapal sekarang adalah rambut mereka. Yang lain? Nanti saja!

"Sudah bisa bedakan? Kalau belum lihat saja apa yang berada di kepala kami. Untuk yang bernama Sa-su-ke, rambutnya seperti pantat ayam. Dan aku, rambutku ya begini…." Ucap Sai seraya menunjuk kepalanya.

"Bayangkan saja rambut lepek yang berminyak," timpal Sasuke. Kurasa dia ingin balas dendam…

"Oke! Aku sudah hapal! Ini Sasuke dan yang ini Sai!" ucapku sambil tersenyum puas. Namun setelah ingat kejadian tadi….

"Mengingat kejadian tadi…. Gomen ne Uchiha-san….." ucapku seraya membungkuk.

"Uchiha-san yang mana yang kamu maksud?" ucap mereka bersamaan. Membuatku ingin sekali tepok jidat.

.

.

.

Diingg….doonnnngggg….

Bel masuk telah berbunyi. Dan disini aku masih saja membayangkan kejadian kemarin. Wajahku benar-benar memerah ketika mengingat itu semua. Tak kusangka jika Sai punya kembaran. Namun kalau diperhatikan, mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Yah, selain Sai yang lebih pucat juga Sasuke yang menurutku lebih ganteng.

Namun entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Sai….

Apa aku sudah 'tidak seimbang' lagi ya?

Kali ini aku menoleh ke arah samping. Muncullah seorang Sai yang sedang sibuk menggambar. Aku tahu kalau saat ini adalah pelajaran seni. Namun yang digambar Sai justru manga. Kuperhatikan lagi sekelilingnya. Ternyata tugas yang diberikan oleh Shimura-sensei 30 menit yang lalu telah diselesaikannya.

Kami disuruh menggambar dengan tema Yin dan Yang. Yah, mengenai hitam putih dan begitulah. Dan ujung-ujungnya aku hanya bisa memandangi kertasku yang masih putih bersih tanpa dosa (?).

Kira-kira kalau kertas putih ini 'kubagi' dua dan sisi kanan kuberi warna hitam terus sisi kirinya diberi warna putih bisa enggak ya?

Kuperhatikan lagi milik Sai….

Memang masih berupa sketsa namun kurasa yang namanya Sai adalah jiwa-jiwa yang hanya mau kerja kalau ada mood. Kuperhatikan lagi manga ya digambarnya….

Ceweknya sih memang cantik-cantik…

Yah, namanya juga anak cowok. Tentu saja ceweknya dia bikin cantik-cantik dan cowoknya dibikin standar-standar. Dan dari tadi dia Cuma gambar-gambar tokoh cewek.

Dan tiba-tiba saja dia menoleh ke arahku.

Aku hanya tersenyum kikuk sambil melambai-lambai gaje.

"Kulihat gambarmu sudah hampir jadi. Boleh lihat dong…." Ucapku seraya melongok ke kertas gambar yang berada di sampingnya. Dia segera membalik kertas itu. Dasar pelit….

"Punyamu belum jadi?" tanyanya.

"Belum… dan aku mau cari inspirasi tapi belum dapet-dapet. Yin dan Yang….. huwa…. Puyeng!"

"Tugas ini akan dikumpulkan minggu depan. Jadi bersikaplah santai. Shimura-sensei tidak akan memakanmu hanya karena gambarmu jelek. Lagipula banyak sekali objek yang bisa kau jadikan sebagai tema Yin dan Yang," jelasnya. Aku hanya bisa angguk-angguk.

"Tapi aku begitu payah dalam hal menggambar…..eh, ajarin aku dong….." ucapku seraya menarik kursiku ke arah mejanya dan aku duduk di sampingnya. Ngomong-ngomong ternyata sikap dan fisik Shimura-sensei memang jauh berbeda. Dia mengijinkan kami untuk 'keluar' demi mencari inspirasi.

Sai kembali memandangku…..

Lalu dia menghela napas berat….

"Apa kau yakin kau mau minta bantuanku untuk menyelesaikan tugas itu? Kau tidak minta bantuanku untuk mendekati Sasuke?" Tanya secara tiba-tiba.

"Sasuke memangnya bisa gambar ya? Kalau dibandingkan denganmu, siapa yang paling pinter gambar?"

"Kau mau minta bantuanku apa bantuan Sasuke? Hm?"

Ya ampun. Cowok ini. kupikir dia mau menyerahkan 'tanggung jawab'-nya pada Sasuke. Namun kok ujung-ujungnya jadi begini?

Namun kurasa aku tahu maksudnya…..

"Gomen ne, baiklah. Kamu bisanya kapan?" ucapku. Dia menimbang-nimbang…

"Bagaimana kalau pulang sekolah? Di lapangan basket? Aku minggu depan ada turnamen dan aku juga belum menyelesaikan tugasku."

"Maksudmu kamu mau mengajariku menggambar sambil berlatih basket?" tanyaku. Pikiran mengenai Sai yang melakukan berbagai macam trik dalam basket mulai membanjiri pikiranku.

Dia begitu keren…

"Kalau kau mau….."

"YA! Aku mau! Pulang sekolah nanti kumpul di lapangan basket ya? Kau janji kan? Akan mengajariku?" ucapku penuh semangat. Dia hanya mengangguk sambil kembali focus ke arah manganya. Aku memperhatikan apa yang digambarnya sambil berpangku tangan.

Hm, sekarang dia mulai menggambar tokoh cowoknya….

Cowoknya cukup keren dan agak brutal. Namun kupikir dia bakalan bikin manga dengan tema 'hareem'. Yah, dengan tokoh cewek yang buaaannyyyaakk dan begitu-begitu deh….

"Cowoknya keren. Kau mau bikin manga harem ya?" tanyaku. Dia menggeleng cepat.

"Kau pikir aku mau meracuni seisi sekolah ya?" tanyanya dengan nada horror. Ups, ternyata manganya dipublikasikan to…

"Hehehe… gomen-gomen….lalu kau bikin genre apa? School life?" tanyaku. Sebenarnya aku berharap kalau dia bikin manga shonen.

"Kalau pikiranmu adalah manga shoujo, buanglah itu jauh-jauh…"

"siapa bilang kalau aku mikirin manga Shoujo? Ayolah… beritahu aku…" pintaku seraya menarik-narik lengannya. Dia hanya menghela napas.

"Manga Shounen….."

"HE?! Shounen? Kya…. Aku suka manga shounen! Cepetan selesaiin dan tunjukin ke aku ya?" ucapku seraya menarik-ulur bahunya. Dia hanya bersikap datar.

"Gomen, bisa tolong lepaskan?" ucapnya. Aku segera melepaskannya dan dia kembali ke pekerjaannya semula. Dan entah kenapa aku merasakan panas di kedua pipiku.

Tidak!

AKU!TIDAK MUNGKIN!

Aku tidak sedang blushing kan?

Dan aku hanya bisa menunduk memandangi lantai selama jam pelajaran berlangsung. Entah kenapa aku teringat sebuah mangan shoujo yang mengatakan : 'pelukanmu membuat jantungku doki-doki'.

Eh, aku enggak meluk dia lho…..

Kutengok lagi ke arah Sai. kali ini dia terlihat sedang merebahkan kepalanya di atas meja. Ya ampun, ini masih sekitar jam Sembilan dan dia sudah tidur nyenyak bak di kasur yang empuk. Dia sama sekali tidak terganggu dengan suara Ibiki-sensei yang cetar membahana (?).

Dan anehnya, tidak ada satupun siswa maupun siswi yang menegurnya. Yah, Ibiki-sensei yang aku yakin melihat ke arahnya pun tidak melontarkan komentar apa-apa. Ada apa sebenarnya?

Ctakkk!

Sebuah tutup marker mengenai kepala salah satu temanku. Dan posisinya berada tepat di depanku. Aku segera memasang pose serius sambil pura-pura memperhatikan. Namun pandanganku tepat selalu ke arah Sai yang masih saja terlelap begitu damainya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Aku segera berlari dari klub minum teh menuju ke gedung olahraga. Kuharap Sai tidak menunggu lama. Kurasa aku sudah terlambat selama lima belas menit.

"SAI! Gomen aku telat…." Ucapku pada Sai yang sedang sibuk mewarnai gambarnya dengan cat poster. Aku merasa agak tidak enak karena menurutku dia sudah menunggu cukup lama. Aku segera melongok ke arah gambar dan berikutnya aku berteriak sambil melingkarkan kedua lenganku dibahunya.

"Kya! Gambarnya keren banget! Ajarin dong!" ucapku. Gambarnya adalah sebuah tangan yang meninju ke arah cermin hingga berdarah. Lalu di bagian yang pecah akibat tinju tadi terdapat gambar setan yang cukup menyeramkan. Di bagian yang tidak pecah terlihat sosok cowok keren yang memandang penuh amarah. Jika diperhatikan, wajah setan itu mirip dengan cowok tadi.

Keren!

"Wakata! Wakata! Sekarang siapkan alat-alatmu dan kita akan cari inspirasi…"

Akhirnya setelah berpikir cukup lama, aku menyelesaikan sketsa gambarku. Meskipun tidak sebagus milik Sai, yang penting jadi. Lagian kalau gambaranku sebagus milik Sai nantinya banyak yang curiga lagi.

"Lebih baik kau lupakan garis pemecahnya. Buat kedua cewek ini saling menyatukan tangan mereka satu sama lain tanpa adanya batas. Lalu beri kesan evil pada yang satunya…."

Aku segera mengikuti apa yang dia bicarakan. Sedangkan Sai kembali berlatih dengan bola-bola orange. Kali ini dia berlatih melakukan three-pointer.

Lama-lama aku ingin sekali main basket o

Aku segera menyelesaikan tugasku dan berlari ke arahnya. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Ajari aku main basket ya…."

.

.

.

"Ulangi sekali lagi! Satu dua tiga angkat! Satu dua tiga angkat!"

Walah…. Ternyata teknik-tekniknya sulit! T_T

Berkali-kali aku salah dalam melakukan lay-up. Dan sekarang aku hanya bisa berbaring sambil terus mengeluh betapa capeknya melakukan latihan yang beginian…

"Itu masih yang mudah-mudah lho. Kenapa kau menyerah?"

"Huwa! Aku enggak mau main basket sama kamu!"

"Aku tidak Tanya…"

.

.

.

Huah! Bermain basket bersama Sai membuat seluruh tubuhku remuk!

Dan sekarang aku sedang berbaring memandangi hasil karyaku yang dibantu 'sedikit' oleh Sai. Dan saat ini aku dengan kesadaran sebanyak 70% yakin bahwa aku senyum-senyum sendiri. Ah, biarlah.

Ini kan di dalam kamar…

Dddrrrtttt…ddddrrrrttt…

Kuraih handphone yang terbaring di mejaku. Sebuah pesan masuk. Dan nomor pengirimnya tidak tercantum dalam kontak handphone-ku.

From: xxxxxxxxxxxxx

Arigatou….

.

.

.

He? Siapa sih ini? dan apa maksudnya dengan kata 'Arigatou'?

.

.

.

.

To be continued….

Author's note:

Puah, akhirnya jadi juga. Makasih buat para reviewer yang telah memberikan review-nya buat fic ini…

See you next chapter…. ^_^