Tittle : Uzumaki's Prodigy
Genre : Adventure/Friendship/etc
Rate : T
Mainchar : Naruto U.
Disclaimer : Naruto punya MK. Fanfict ini punya saya :v
Summary : Apabila Naruto menemukan jalan pintas ke Uzushio. Apabila dia mempelajari banyak fuuinjutsu. Apabila dia salah segel dan termakan segelnya sendiri sampai berubah gender, Kyuubi berhasil didekatinya sebelum genin, apa yang akan terjadi dengan jalan cerita?
Warning : OOC(maybe), AU semi Canon atau sebaliknya(?), ide pasaran, fem!Naru smart!Naru and other standard warnings
NB :
"BIJUU BERBICARA"
"-telepati-"
Chapter 2 : Uzumaki Naruto da!
"Boosaaaaaan!"eluh Naruto.
Yang lain sempat memperhatikannya, sebelum asyik dengan kegiatan masing-masing lagi. Kelas benar-benar ribut-sekarang. Belum ada satupun guru yang masuk ke kelas mereka hari ini. Padahal biasanya guru akan datang beberapa menit yang lalu. Ini sih Naruto terlampau jahil sampai walikelasnya mundur dan terus berganti~
"Aha! Aku harus memberi penyambutan pada guru baru fufu!"
Naruto berjalan perlahan mendekati papan tulis. Ia mengambil sebuah penghapus blackboard yang penuh bekas kapur. Nyengir lebar membayangkan jika guru barunya tertimpuk benda ini. Jahil tetap jahil bukan? Biar sudah ganti gender sekalipun. Segera ia berjalan vertikal ke dinding, lalu meletakkan penghapus itu di atas pintu geser. Melompat turun dan menepuk tangannya puas.
"Apa?"tanya Naruto heran melihat semua mata memandangnya dan kelas kembali hening.
"Kau...berjalan di dinding?"
"Memang kenapa?"
Sebagian pura-pura tak peduli dan asyik lagi dengan teman masing-masing. Naruto cuek-cuek saja dan kembali ke tempat duduknya.
Jika saja pintu geser tak menunjukkan tanda akan bergerak, mungkin kelas akan kembali ribut. Semua diam dan duduk manis menanti guru baru mereka. Ketika pintu tergeser sepenuhnya...Puk! Penghapus yang Naruto buat untuk bahan kejahilan jatuh ke lantai begitu saja.
Tap...Tap...
"Siapa yang menyiapkan sambutan ini untukku?"ujar pria yang memakai Chuunin-vest yang baru saja masuk itu.
Dia menghela nafas saat semua telunjuk mengarah pada gadis berambut pirang di ujung sana. Berdeham sedikit, ia tak mau memberi kesan buruk pada hari pertama.
"Aku Umino Iruka. Walikelas pengganti kalian mulai sekarang. Kalian bisa memanggilku Iruka-sensei. Oh ya, hari ini aku minta kalian mengenalkan diri satu-per-satu."
.
.
.
"Kyaa Sasuke-kun!"
Naruto berusaha keras menulikan telinganya dari jeritan histeris para fans Uchiha Sasuke. Biarpun tak terlalu dekat, tapi jeritan itu cukup membuatnya merasa tergganggu. Ia lebih memilih bersama keheningan dan kesendirian yang membesarkannya dari kecil. Daripada ikut bergabung dan malah di'cap' monster disertai tatapan tak suka yang seakan menusuk sanubarinya secara live.
"MEREKA SEMUA BEGITU KARENA ORANGTUA MEREKA. CIH! AKU JADI MERASA BERSALAH. GARA-GARA AKU DIKENDALIKAN UNTUK MENYERANG KONOHA 7 TAHUN YANG LALU, KAU JADI BEGINI."
Naruto memejamkan matanya untuk masuk ke mindscape-nya di depan jeruji besi milik Kyuubi.
"HEY GAKI! KAU BENCI PADA MEREKA?"
"...Tidak."
"JANGAN NAIF. AKU BERADA DI DALAM TUBUHMU 7 TAHUN INI. DAN AKU TAHU PERASAANMU YANG SEBENARNYA."
"Hmm..."
"BAKA! AKU BENCI DIABAIKAN! AKU SEDANG BERBICARA PADAMU!"
"Apa ini segel...Hakke Fuin?"
Kyuubi yang semula menggeram marah, kini diam. Ia melihat Naruto sedang memandang ke jeruji besi-ahh tidak! Bocah laki-laki yang berubah jadi gadis itu tengah memperhatikan segel yang tertempel pada jeruji besi. Keningnya berkerut, tanda ia sedang berfikir keras. Ia semakin mendekati kandang Kyuubi itu. Menapaki jeruji dan berhenti tepat di depan kertas berkanji 'segel'.
"HEY GAKI. APA YANG MAU KAU LAKUKAN?"
"Kau tahu? Aku merasakan sebuah...ahh mungkin dua chakra berbeda yang melekat pada fuuin ini. Hmm..."
"KAU TIDAK MENJAWAB PERTANYAANKU! GRR!"
"Ah...sepertinya aku harus kembali. Dagh!"
"MAU KEMANA KAU?!"
Naruto mengukir sebuah cengiran ketika sudah kembali ke dunia nyata. Sepertinya ia kembali membuat Kyuubi kesal diabaikan. Ahh indahnya dunia ketika dirimu membuat kesal seseorang(inimah author).
"Apa yang membuatmu nyengir heh?"
"Eh?"
Naruto hampir saja jatuh dari tiang yang didudukinya jika tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Matanya memicing menatap sesosok bocah berambut emo pantat ayam yang sedang bersidekap angkuh. Ya, dialah idola di Academy, Uchiha Sasuke.
"Mau apa kau?"dengus Naruto.
Sasuke menatapnya dalam diam. Mata onyx kelamnya berkilat tajam. Menilai Naruto yang mencoba mengabaikannya.
"Kau...laki-laki 'kan? Bagaimana...kau bisa berubah?"
"Huwaa! Jangan mengingatkanku soal ini!"
Naruto lompat ke bawah dan membenturkan kepalanya ke tiang besi yang semula ia duduki. Bibirnya terus menggumamkan hal-hal yang bahkan samar terdengar oleh telinga Sasuke.
"Aku belum pernah dengar ada orang bisa rubah gender. Apa yang terjadi?"
"Ish! Kau ini mau tahu saja urusan orang -ttebayo!"
Naruto meleletkan lidahnya dan berlari meninggalkan Sasuke yang angkat bahu tak perduli.
.
.
.
"Uchiha Sasuke!"
"Ayo berjuang Sasuke-kun!"
"Kau pasti bisa Sasuke-kun!"
"Kyaa Sasuke-kun!"
"Berisik."
Uchiha Sasuke maju ke depan dengan jari-jari yang mengapit sembilan Shuriken yang diberikan Iruka. Hari ini Iruka mengajak kelasnya mengadakan praktek melempar Shuriken. Tersisa dua orang yang belum melempar, Sasuke dan Naruto.
"Mulai!"
Syuut Syuut Syuut
Tak Tak Tak
Kesembilan Shuriken yang dilempar Sasuke bersarang di kayu sasaran. Hanya ada satu yang melenceng sedikit dari titik tengah sasaran. Semua FG-nya berteriak histeris.
"Well done Sasuke-kun! Selanjutnya..."
"Uzu...maki Naruto..."
Naruto mengepalkan tangannya dengan erat. Walau samar, ia bisa menangkap adanya kebencian dalam perkataan Iruka. Tepat seperti dugaannya, hampir semua langsung menatapnya remeh, bahkan ada yang menghinanya dengan ucapan pelan.
Tatapan itu. Semua menatapnya sama. Semua sama saja! Menatapnya seakan ia adalah penderita penyakit menahun. Giginya bergemelatuk.
'Kutunjukkan apa yang kubisa!'
Shuriken yang diterimanya terlihat berpendar kehijauan. Iruka yang melihatnya hanya mampu berkedip tak percaya.
Syuut! Trak!
Semua berhasil mengenai inti dari sasaran, bahkan melubanginya. Awalnya Naruto pikir ia akan dipuji atau apalah itu. Tapi nyatanya, tidak.
"Ayo anak-anak! Kita ke lapangan sparring."
Semua mengikuti Iruka ke lapangan sparring. Tidak menoleh sedikitpun padanya yang masih diam menunduk.
"Well done Sasuke-kun!" Komentar Iruka terngiang-ngiang dalam otaknya. Padahal Iruka mengomentari yang lain juga. Kenapa tidak padanya? Tidak adil!
"Cih!"
Dunia memang selalu tak adil padanya! Iri. Rasa itu kembali muncul dalam diri Naruto. Ia iri pada semua orang. Mereka selalu menatapnya begitu. Menganggap bahwa ia adalah jelmaan dari iblis. Mencapnya sebagai seorang pembunuh. Menjauhkannya dari pergaulan. Mengucilkannya, tidak menerima dirinya. Memandang semuanya hanya menurut mereka saja.
"Kalian semua...menyebalkan!"
Bukannya menyusul yang lain, Naruto lebih memilih kabur ke tempat yang kini rutin dikunjunginya, Uzushio. Ia mengurungkan niatnya untuk menjejal fuuin portal ketika ia merasakan dua chakra mengikutinya dari jauh.
"Dua Anbu Root. Mau apa mereka!"
Naruto memutar haluan. Memilih kembali ke apartemennya daripada harus berurusan dengan kecurigaan yang pasti ia dapatkan jika tertangkap basah ke rumah peninggalan Yondaime Hokage.
Cklek...
Ketika pintu terbuka, Naruto dihadiahkan pemandangan bak kapal pecah. Biasanya sih ia akan tak peduli dan masuk begitu saja. Tapi kali ini, pertama kalinya, ia merasakan sebuah perasaan aneh yang menyuruhnya untuk membuat semuanya tampak bersih. Mendesaknya untuk benar-benar merapikan apartemen kecilnya itu.
.
.
.
"SEPERTINYA KAU MENJADI SEORANG GADIS SEPENUHNYA."
"Berisik! Aku tetaplah laki-laki! Biarpun badanku jadi perempuan sekalipun!"
"BENARKAH? LALU KENAPA KAU MAU MEMBERESKAN APARTEMENMU SAMPAI MENGKILAT SEPERTI INI? BAHKAN KAU MEMASAK? AH!"
Naruto mendengus sebal. Ia jadi semakin bingung dengan dirinya. Setelah menyulap apartemennya jadi benar-benar rapi sampai sore, entah apa yang merasukinya sampai-sampai mau mencoba memasak. Ia mulai takut jika dia memang benar-benar tak bisa kembali seperti semula. Lalu-jadi-sesosok-gadis-sejati.
"KENAPA TADI KAU TAK MEMBIARKANKU MENCABIK-CABIK PEMILIK TOKO ITU HEH?"protesan Kyuubi sukses membuat Naruto langsung moodie mengingat saat ia diusir oleh semua pemilik toko.
Beruntung Naruto diberi bahan makanan oleh Ayame saat berpapasan di jalan. Gadis itu memang tidak pernah menganggapnya sebagai monster. Bahkan ia tidak menganggapnya aneh ketika mengetahui Naruto berubah gender. Tak seperti penduduk lain yang memiliki tatapan dan cemoohan baru untuknya gara-gara perubahan ini.
"GAKI...KAU BENCI PADA MEREKA 'KAN? KITA BUAT MEREKA SEMUA JERA."
"..."
"GAKI?"
"Hfffthaha!"
"GAK-" "-Pernahkah aku bilang padamu aku takkan tergiur rayuanmu, Kyuu-chan?"
Naruto tertawa lepas melihat Kyuubi tampak merengut kesal. Dengan santainya, Naruto mengacungkan jari tengah pada Kyuubi yang tentu semakin tersulut emosi.
"Oh ya Kyuu-chan! By the way biarpun kau adalah bongkahan kebencian, aku akan mengimbasnya! Aku janji!"
Kyuubi terdiam ragu sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, mengejek perkataan tulus pengukir janji yang Naruto buat. Rubah raksasa itu berhenti tertawa dan menatap Naruto tajam saat gadis pirang itu menggulingkan jempol yang ia angkat menjadi tertuju ke bawah. Mengejek Kyuubi.
"GRRR KEMARI KAU BOCAH TENGIK!"
"Aku bukan monster...dan kubuktikan kau hanyalah rubah imut-"Kyuubi semakin menggeram emosi. Saat mendengar lanjutan Naruto, Kyuubi hanya diam."-juga temanku."
'Teman?'batin Kyuubi ambigu. Rubah itu terdiam mengingat semua manusia yang pernah menemuinya. Mulai dari Ginkaku dan Kinkaku yang menantangnya bertarung, ke Madara yang menganggap dirinya adalah monster yang seharusnya jadi budak kekuatan, lalu Uzumaki Mito dan Uzumaki Kushina sebagai Jinchuurikinya sebelum Naruto yang menganggapnya monster. Tapi apa ini? Bocah ingusan di depannya mencap dia sebagai teman? Bahkan memanggilnya dengan embel-embel chan? Ia mulai takut, sekarang.
"HEY GAKI!"Naruto yang hendak keluar dari mindscape langsung berbalik menghadap Kyuubi lagi."KEMARILAH!"
"K-kau mau mencakar dan menggigitku 'kan?"lirih Naruto parno.
"YA."
"Kalau begitu aku tid-" "-TENTU SAJA TIDAK, BAKA! CEPATLAH ATAU AKU BERUBAH PIKIRAN!"
"Baiklah..."
Dengan takut-takut Naruto melangkahkan kakinya mendekat, sampai dirinya tepat satu langkah dari jeruji besi keemasan itu. Dapat dilihat olehnya Kyuubi duduk bersidekap. Dengan mata rubahnya yang tak henti menatap Naruto tajam.
"GRRRH!"
Rubah itu menggeram, membuat Naruto reflek terjungkal karena takut sekaligus kaget.
Bruk!
"FFTH..."
"KAU MENAKUTIKU KYUU!"
"HANYA BERCANDA. CEPAT MASUK!"
"Humph! Kejam! Menakutiku seenaknya..."
"SUDAH DIAM, BAKA."
Naruto merinding melihat Kyuubi menjulurkan tangan besarnya ke badan Naruto. Sempat terlintas dalam benaknya kalau Kyuubi akan menindihnya dengan tangannya itu. Namun persepsinya salah. Nyatanya Kyuubi hanya menggunakan jari telunjuknya untuk mengusap pelan kepala pirangnya. Tentu saja Naruto langsung diam mematung.
'K-k-k-kyuubi...TERSENYUM! I-ini pasti mimpi!'
"K-kyuu-" "KURAMA."
"...Hah?"
"PANGGIL AKU KURAMA. ITU NAMAKU. JIKA KAU MEMANG BERNIAT MENJADI TEMANKU, PANGGIL NAMAKU. KYUUBI MENDESKRIPSIKAN PANDANGAN SESEORANG YANG MENGANGGAPKU MONSTER."
"Jadi...kau mau jadi temanku?"
"TIDAK SECEPAT ITU, GAKI. INI HANYA PERMULAAN JIKA KAU MEMANG BERNIAT MEYAKINKANKU. PANGGIL NAMAKU."
"A-a...Baiklah, Kurama!"
"SEKARANG KAU ENYAH DARI HADAPANKU."
"H-hey! Kau mengusirku!"
"MEMANG KENAPA?"
"Ini badanku! Kenapa kau mengusirku heh!"
"AKU MAU TIDUR. CEPAT SANA PERGI!"
"Rubah menyebalkan!"
"CEPATLAH!"ucap Kyuu-eum Kurama sembari mendorong Naruto keluar dari segel.
"Iya bawel!"
Kurama kembali tersenyum tipis ala rubah(karena dia emang rubah). Menggeram rendah ketika Naruto sudah tak ada di hadapannya. Masih bersidekap, rubah itu menggumam tidak jelas.
'Jiji...apa ini anak yang kau maksud? Apa kami benar-benar akan bebas berbaur?'
.
.
.
"Rubah menyebalkan."
"Rubah tak tahu malu."
"Rubah jelek."
Dan berbagai umpatan lain terus Naruto utarakan sepanjang jalan. Ia bahkan mengabaikan tatapan dan hinaan(seperti biasa) dari para penduduk untuknya. Ia terlalu kesal dengan rubah berekor sembilan yang ada di dalam tubuhnya untuk sekedar menanggapi tatapan tajam para penduduk. Ia kesal pada rubah yang seenaknya mengusir dirinya begitu saja. Didorong sampai jatuh pula! Ckckck...Poor you, Naru-chan...
Tanpa terasa, ia berhenti di dekat sebuah danau alami tak jauh dari mansion Uchiha. Tak menyadari ada seonggok pantat ayam*plak* yang sedang duduk di pinggir danau. Dengan memusatkan chakranya di kaki, ia melompat jauh ke tengah danau dan berdiri tanpa berbuat apapun. Hanya berdiri di atas air dan diam seperti boneka. Tapi sebenarnya, ia sedang memantau keadaan sekitar dengan sensor. Barulah ia sadar jika di dekat danau bukan hanya dirinya saja. Tapi Uchiha Sasuke, juga tiga sosok yang tengah bersembunyi di antara pepohonan.
"Keluarlah!"ucap Naruto lantang.
Tiga sosok melompat dan berdiri tak jauh dari Naruto dengan sosok dewasa yang bertepuk tangan tak jelas.
"Tak kusangka kau memiliki sensor, Uzumaki. Fuu!"
Bocah sepantaran Naruto yang berambut ke-oranye-an maju selangkah dan memasang kuda-kuda bertarung. Naruto mendengus sebal, sebuah alarm pertarungan ada di depannya.
"MENGETES KEMAMPUANMU, LUMAYAN GAKI..."
"-Apa katamu-lah Kurama!-"
"Hiruzen tidak menyadari kemampuanmu. Seharusnya kau masuk ke Root, bukan malah di Academy."
'Aku tak sudi ikut bersama pak tua itu. Hokage-jiji sudah memberitahuku semuanya.'
"Bagaimana? Bocah rubah?"
"Tidak akan pernah!"
Naruto memasang sebuah segel tangan. Di air yang ia pijaki mulai tergambar liuk-liuk kaligrafi khas fuuinjutsu. Danzo menyeringai kecil.
Sraaak! Rantai-rantai hitam keluar dari rangkaian segel itu. Bergerak meliuk-liuk mengikuti pergerakan jari Naruto.
"Aku bukan bocah rubah! Aku Uzumaki Naruto!"
~Bersambung ke chapter 3~
Balesan Review~ yang gak log-in
Lefyya : Wahaha iya gitu? Sip deh! Chap ini gimana? Iya nih udah lanjut! Semoga memuaskan ^^
Guest : Syukur deh! Nih gimana? Masih like this gak? XD
Hyull : Waduh aku dipanggil kakak XD serasa di pramuka deh! Ini udah lanjut. Kilat gak? :D
RYU NO KAMI : Ini udah lanjut ^^ Review lagi yaa
0706 : Udah lanjut nih ^^ Review lagi ya~
Guess : Nih udah di lanjut ^^ Review lagi ya~
Yang log-in udh dapet balesan PM kan?
Spesial thanks to all reader, khususnya buat reviewers dan yang udah mau cape-cape fav n foll ff Chic ini. Domo arigatou ne, minna!
Chapter depan mulai ada battle-nya :D
Oh ya... Berhubung banyak yang nanyain pairnya, um... lihat entar aja deh! XD Untuk sekarang kalian bebas berimajinasi Naruto sama siapa. Romance mungkin ada, tapi gak kental n baru lewat doang. Chic mau fokusin ke adventure-nya
Untuk yang mau boleh usul FemNaru mau dikasihin sama siapa. Atau...Narutonya balikin jadi cewek? XD
So...
RnR again?
