Cerita Cinta si Bodoh

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Friendship

Warning : AU, OOC, abal, membosankan, ide pasaran, typos, gaje, EyD yang buruk dan tidak benar, alur kecepetan, dan lain-lain.

Summary : Mereka memang sangat berbeda. Yang satu si 'Cerdas' dan yang satu lagi si 'Bodoh'. Yang satu 'Pangeran Es yang Sempurna' dan yang satu lagi 'Putri Toa yang Cerewet'. Apa perbedaan itu bisa menyatukan mereka?

.


.

.

Chapter 2 : Orang Baik?

"Mataku ... periih!"

"Kau tak apa-apa?"

"Ya, aku tidak baik-baik saja," jawab gadis yang tertidur di lantai dengan jawaban yang tidak menyambung.

Pemuda itu pun mengulurkan tangannya.

"Te-terima kasih," ujar Ino —gadis pirang– sembari mencoba untuk berdiri. Ia melirik ke arah pemuda raven yang duduk di ujung kantin itu.

'Sasuke sama sekali tidak menengok ke sini?' batin Ino kecewa.

BRAKK

Ino kembali jatuh. Tapi kali ini ia sengaja.

"AWWWW! SAAKIITT!" Ino mengeraskan suaranya daripada yang tadi.

Tapi, apa yang diharapkannya tetap tidak ia dapatkan.

"Kau masih butuh tanganku atau kau ingin menjatuhkan dirimu sendiri lagi?"

DEG

Jantung Ino rasanya akan copot mendengar suara dingin dan datar pemuda berambut merah itu.

Ino secepat kilat bangun dari posisinya yang terjengkang itu. "A-aku tidak menjatuhkan diriku, kok. Sumpah!"

"Ck." Hanya dua konsonan yang meluncur dari mulut pemuda bermata jade itu. Sangat tidak menarik jika berinteraksi dengan wanita, pikirnya. Setelah itu, ia pun melangkahkan kakinya menuju sebuah mesin minuman kaleng.

Ino kembali mengarahkan pandangannya menuju tempat Sasuke duduk.

'Sasuke sepertinya sangat menyambung jika berbicara dengan gadis merah muda itu,' batin Ino pesimis. 'Ah! Tidak! Tidak! Sasuke menyambung berbicara dengannya karena ... ah! OSIS. Ya! OSIS. Aku yakin, jika percakapan itu tentang romantisme dan cinta, Sasuke-kun akan sangat menyambung berbicara denganku. Hahahaha!'

"Yamanaka Ino."

Ino menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilnya itu. "Huh?"

"Kau Yamanaka Ino, 'kan?"

"Iya … uhmm…."

"Kin. Panggil aku Kin-senpai. Aku kelas dua belas-satu." Gadis berambut hitam panjang itu pun memampangkan senyum termanisnya kepada Ino.

"Dari mana kau mengenalku?" tanya Ino.

"Tentu saja aku mengenalmu. Kau anak dari Yamanaka Inoichi, 'kan? Perdana mentri itu."

Dengan ragu, Ino mengangguk. "Memangnya … ada apa, Senpai?"

Kin mendekati Ino dan membisikkan sesuatu ke telinganya, "Kau menyukai ketua OSIS itu, nee Ino-chan?" Kin menunjuk ke arah Sasuke yang masih berbincang serius dengan gadis berambut merah muda tadi.

Pipi putih Ino langsung merona. "Da-dari mana Senpai tahu?"

"Dari gerak-gerikmu saja sudah jelas. Bagaimana kalau kita membicarakannya di taman sekolah? Ini rahasia antara kita berdua saja." Kin mengedipkan sebelah matanya.

'Sepertinya Kin-senpai sangat baik,' batin Ino.

"Baiklah!" jawab Ino mantap sambil tersenyum manis.

"Ayo!" Kin menggandeng tangan Ino. Setelah itu, mereka berdua pun meninggalkan kantin.

.

.

.

.

"Kaumengerti, Sakura?" tanya Sasuke kepada gadis merah muda yang duduk tepat di hadapannya sembari menyusun beberapa dokumen yang ada di depannya.

"Ya, aku sangat mengerti, Sasuke-kun. Lalu … program ini dimulai kapan?"

"Ya … kurasa lebih cepat, lebih baik." Sasuke mengambil salah satu dokumen yang ada di tangannya dan memberikannya kepada Sakura –gadis berambut merah muda tadi.

Sakura mengambil dokumen yang diberi Sasuke tadi dan membacanya. "Sa-sasuke-kun … kenapa aku dengan Naruto?"

"Hanya kau orang yang didengarnya."

"Sasuke, aku mau saja dipasangan siapapun, asalkan jangan Naruto." Sakura sedikit meninggikan suaranya.

"Hn…," jawab Sasuke dengan jawaban yang ambigu. Ia memungut dokumen yang terletak di depannya, setelah itu ia pun bediri dan bersiap pergi dari sana.

"Sasuke…."

Sasuke menghentikan langkahnya karena mendengar panggilan Sakura.

"Aku … menyukaimu," ujar Sakura

Sasuke kembali melangkahkan kakinya —mengabaikan kata-kata Sakura tadi.

.

.

.

.

.

"Benarkah seperti itu, Kin-senpai? Senpai dari mana tahu?"

"Ya ampun Ino-chan … dari mata saja, sudah jelas kalau Sasuke orangnya seperti itu. Ya … walaupun kata teman-temanku, aku punya sedikit kemampuan khusus, menebak sifat seseorang dari tatapan matanya," ujar Kin panjang lebar.

"Wahh … benarkah, Senpai? Kereeeen~ Bisakah Senpai menebak sifatku?" tanya Ino dengan sangat antusias.

"Tentu saja! Ummm … kau itu…." Kin menatap mata Ino beberapa detik. "Kau itu, orangnya ceria, mudah bergaul, umm … maaf, tapi ini sejujurnya, kemampuan akademismu … bisa dikatakan rendah. Hehehe…." Kin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal —tanda bahwa ia sedang merasa tidak enak.

"Waahh … kereeen~ Semuanya benar, Senpai! Senpai tidak usah merasa tidak enak padaku. Aku memang rendah sekali di bidang akademis. Bahkan, ujian tengah semester kemarin, aku mendapat nilai terendah. Dan bahkan lagi … aku diancam akan dikeluarkan dari sekolah jika aku tidak memperbaiki nilaiku pada ujian akhir semester nanti oleh Orochimaru-sensei," ujar Ino panjang lebar.

"Ah Ino-chan~ Jangan patah semangat, ya? Aku yakin kalau kau bisa menghadapinya." Kin pun memeluk Ino.

"Terima kasih dukungan semangatnya, Kin-senpai." Ino membalas pelukan Kin. "Aku yakin, nanti, kelas sebelas aku bisa mendapatkan kelas unggul dan pastinya, sekelas dengan Sasuke-kun!"

"Jadi, bagaimana? Rencana tadi, jadi kita lakukan?"

"Yup! Tentu saja, Kin-senpai. Ide Kin-senpai itu sangat cemerlang. Omong-omong, nanti Kin-senpai menemaniku untuk menjalankan rencana itu?"

Kin tersenyum melihat ekspresi Ino yang begitu bersemangat itu. "Tidak, Ino-chan. Sepulang sekolah nanti aku ada kelas tambahan. Maklum, aku sekarang kelas tiga. Kau saja sendiri, ya? Aku juga tidak mau mengganggumu." Kin menghentikan ucapannya sejenak. "Baiklah! Nanti, pulang sekolah kau langsung ke ruang musik, ya?"

"Siap, Komandan!"

'Kin-senpai … orang yang sangat menyenangkan.'

.

.

.

.

.

'Ah! Mau berapa lama lagi Yamato-sensei berbicara? Hutan? Alam? Global warming? Pohon pinus? Pohon jati? Geezz! Pelajaran ini sangat membosankan!' batin Ino kesal.

Berkali-kali Ino mencoret buku bagian belakangnya. Ya, ia selalu menjadikan buku sebagai pelampiasannya jika sedang bosan. Ia pun menopang kepalanya dengan tangan kanannya sehingga kini posisinya menghadap ke jendela.

'Kenapa setiap sekolah sama saja, ya? Selalu saja pakai sistem yang pintar di kelas unggul dan yang bodoh di kelas yang bodoh. Kalau begini caranya, siapa yang akan menjadi tutor sebaya jika isi semua otak di kelas itu sama saja? Haha! Aku lebih berpikiran dewasa daripada guru-guru.'

"Yamanaka…."

'Kalau saja semua kelas itu dicampura saja, aku pasti sekelas dengan Sasuke-kun. Dengan begitu … dia bisa menjadi tutor sebayaku. Hihihi….'

"Yamanaka….."

'Pasti nilaiku bisa melesat tinggi jika yang mengajarkanku Sasuke-kun.'

"Yamanaka..."

'Apalagi … jika Sasuke-kun mengajarkanku dengan servis plus-plus(?). Hehe! Bisa-bisa aku menjadi juara kelas dan nilaiku setara dengan nilai Uchiha Sasuke.'

"Yamanaka..."

'Ya! Pemuda yang pintar itu hanya untuk gadis pintar. Kalau aku pintar, maka Sasuke-kun bisa menjadi milikku.'

"Yamanaka…."

'Ayah pasti sangat bangga jika mendapat menantu seperti Sasuke-kun.'

"Yamanaka…."

'Dari tadi ada yang memanggilku. Mengganggu saja!'

Ino pun menoleh ke arah kiri dan—

"KYYAAAAAA!"

BRAAAKK

Ino terjengkang kembali dengan posisi yang tidak jauh beda dengan yang di kantin tadi. Bagaimana ia tidak terjengkang? Ketika ia menoleh ke arah kiri, yang ia dapati wajah Yamato dengan ekspresi sangat seram. Ino terkejut dan karena sangat terkejut, ia kehilangan keseimbangan kemudian terjengkang.

"Yamanaka … apa yang kau lamunkan di kelasku, huh? Melamunkan anak dan suamimu di rumah yang belum makan?" tanya Yamato dengan nada yang dibuat-buat.

Ino pun bangun dan meletakkan kursinya pada posisi semula. "Ah! Sensei bercanda, ya? Suami saya saja sekarang di sekolah, bukan di rumah. Kalau Sensei ingin tahu siapa, lihat saja ke sepuluh-satu dan panggil seseorang yang bernama Uchiha Sasuke. Itu suami saya, Sensei!" ujar Ino panjang lebar.

"UUUUUUU!" teriak semua siswa yang ada di kelas itu.

"Apa sih? Syirik?" ucap Ino dengan nada sinis

"Hahahaha! Jadi kau suka si Teme itu?" teriak Naruto.

"Jangan panggil Sasuke-kun dengan panggilan buruk itu!" balas Ino denga teriakan juga.

Kepala Yamato rasanya ingin meledak karena kelakuan gadis pirang pucat yang merupakan anak didiknya itu. Gadis pirang yang sudah membuat kekacauan di kelasnya. Pertama, ia melamun di kelasnya. Kedua, ia membuat keributan karena 'cita-cita'nya itu. Bukan ide yang bagus mengajar di kelas sadis ini, pikirnya. "Yamanaka … bisakah kau berdiri di koridor sampai jam pelajaranku usai? Kurasa … kaubisa merenung di sana untuk beberapa saat."

"Ta-tapi Sensei—"

"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang, cepat keluar dari kelasku dan merenung di koridor! Pikirkan apa saja kesalahan yang sudah kau perbuat!"

"Baiklah, Sensei…." Dengan lunglai, Ino pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kelas itu.

SLAAMM

Ino sedikit membanting pintu geser itu. Ia pun berdiri koridor dan menyandarkan punggungnya ke dinding koridor.

"Selalu saja aku kena hukum," umpat Ino.

Lelah, Ino pun duduk di koridor itu dengan punggung masih menyender ke dinding. 'Kenapa aku tidak ke kelas sepuluh-satu saja! Di sana kan aku bisa melihat Sasuke-kun!'

Ino pun bangun dan melangkahkan kakinya menuju kelas Sasuke —kelas sepuluh-satu.

.

.

.

.

.

Dengan hati-hati, Ino memelankan langkahnya supaya tidak ketahuan sedang mengintip.

'Wooaaa … kelas sepuluh-satu memang sangat bagus. Dan … apa itu? Gurunya tidak mengajar sama sekali? Kyaaa! Mereka juga punya kafe di belakang kelasnya. Kelas ini begitu sempurna. Eh? Tapi … mana Sasuke-kun?' Ino pun mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas itu.

'Ooohh … jadi si Merah Muda itu juga di kelas ini. Heh! Lihat saja kelas sebelas nanti. Aku juga bisa sekelas dengan gadis itu dan juga Sasuke—'

"Hei! Apa yang kaulakukan di sini?"

Ino pun membalikkan badannya untuk melihat siapa pemilih suara datar itu. "Sa-sasuke-kun?"

"Sudah kubilang, jangan sok akrab denganku! Aku tak mengenalmu! Mau apa kau di sini?"

"Aku … aku … aku disuruh Yamato-sensei untuk … untuk … untuk meneliti kelas sepuluh-satu. Ya! Meneliti kelas sepuluh-satu."

Sasuke mengerinyitkan keningnya. "Heh! Kaupikir aku anak kecil yang bisa dibodohi dengan alasan macam itu? Kau pasti diusir dari kelas Yamato-sensei dan mengintip kelas sepuluh-satu, 'kan?"

"Anoettoano … tidak seperti itu."

Sasuke langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kelasnya dan masuk ke dalamnya tanpa mendengarkan Ino.

"Maksudku … kau benar, Sasuke-kun," ujar Ino dengan nada murung.

.

.

.

.

.

"Baiklah semua, PR kalian latihan uji kompetensi dua bab delapan. Kerjakan semua, ya?"

TTEEETT….

"Sepertinya sudah jam pulang. Sampai jumpa besok, semuanya."

"Beri salam!" aba-aba dari ketua kelas sepuluh-sepuluh.

Semua siswa pun membungkuk —memberikan salam untuk guru mereka.

'Hahahaha! Sudah jamnya pulang. Lebih baik aku cepat-cepat ke ruangan musik,' batin Ino. Dengan cekatan, ia pun memasukkan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya dengan asal-asalan.

Setelah selesai memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas, Ino pun melangkahkan kakinya menuju pintu kelas.

GREEB

Ino pun menoleh ke belakang melihat siapa yang menggenggam tangannya.

"Naruto-kun?" Ino sedikit heran dengan kelakuan sepupunya yang sekarang sedikit aneh itu.

"Apa kau … benar-benar menyukai Sasuke?"

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" Ino sedikit menelengkan kepalanya karena sekarang ia benar-benar heran dengan tingkah sepupunya yang satu itu.

"Kalau kau benar-benar menyukainya … berusahalah untuk mendapatkanya. Aku mendukungmu," ujar Naruto lembut.

Ino terdiam sejenak. Begitu banyak orang yang mendukunganya dengan Sasuke, pikirnya. "Tentu saja, Naruto! Aku akan berusaha sejuat tenaga untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!"

"Baiklah, aku lega kalau begitu," ujar Naruto. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dari Ino.

"Aku duluan, ya Naruto-kun. Salam untuk Minato-jichan dan Kushina-bachan, ya?"

"Hmm," gumam Naruto sembari mengangguk.

"Ya sudah. Jaa, Naruto-kun." Ino pun meninggalkan Naruto.

"Berusahalah mendapatkan Sasuke, Ino-chan. Bersama-sama kita berjuang mendapatkan orang yang kita cinta."

.

.

.

.

KRIEET

Ino membuka pintu ruang musik itu. Ia pun meletakkan tasnya yang lumayan berat di atas sebuah meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Haahh … Sasuke-kun ternyata rapat OSIS. Jadi terpaksa menunggu," ujar Ino lesu.

Ino melihat benda-benda yang ada di ruang musik itu. Gitar, terompet, drum, begitu banyak alat musik dalam ruangan ini. Bisa dikatakan, lengkap. Ino mengambil sebuah gitar.

"Bentukmu menarik, sayangnya aku tidak bisa memainkanmu." Ino pun menaruh gitar itu kembali.

"Kalau kau tidak bisa, pelajarilah!"

Ino menoleh ke belakang melihat siapa yang berbicara. Ia tidak sadar kalau ada orang lain dalam ruangan itu.

"Kau orang yang menolongku di kantin tadi, 'kan?"

Pemuda berambut merah itu hanya mengangguk.

"Sekali lagi, terima kasih banyak." Ino membungkukkan badannya sembilan puluh derjat. "Omong-omong … namamu siapa? Dan kau kelas berapa?"

"Sabaku Gaara, kelas sepuluh-satu," jawab pemuda itu singkat.

"Huh? Benarkah? Aku tidak melihatmu di kelasmu tadi."

Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Ino. Ia pun berjalan menuju pintu ruang musik. "Ini! Jika kau memang ingin mempelajari gitar." Pemuda itu pun melemparkan sebuah buku pada Ino.

Sialnya, buku itu bukannya tertangkap oleh Ino, melainkan mendarat di hidung Ino. "AWW!" teriak Ino.

Pemuda itu pun mengambil sebuah tas besar yang jelas sekali berisi sebuah gitar dan menyandangnya.

Ino mengelus hidungnya yang sedikit berdarah karena benturan keras dari buku yang dilempar oleh Gaara —pemuda berambut merah tadi. "Hei! Berhati-hatilah sedikit! Kau kasar sekali!" teriak Ino yang tangannya masih bertengger pada hidungnya.

Pemuda itu mengabaikan Ino. Ia pun keluar dari ruangan musik itu tanpa menoleh ke arah Ino sedikit pun.

"Geezzz … pemuda yang menyebalkan dan kasar!" Ino menghentakkan kakinya kesal. "Tenang Ino! Sekarang bersihkan saja lukamu supaya Sasuke-kun tidak tergenggu dengan penampilan jelekmu!"

Ino pun mengambil sebuah sapu tangan dari dalam tasnya lalu membersihkan lukanya dengan sapu tangan itu.

.

.

.

.

Dua jam kemudian….

"Arrgghh! Sasuke-kun kenapa lama sekali? Apa dia tidak lewat ke sini, ya?" Ino berpikir sejenak. "Tidak mungkin! Ruangan ini dekat dengan pintu keluar sekolah ini. Jadi, Sasuke-kun pasti lewat ke sini."

TAP…. TAP….

'Apa itu Sasuke-kun?' Ino pun melangkahkan kakinya menuju pintu ruang musik. 'Ah! Bingo! Itu Sasuke-kun!'

Ino pun bersembunyi di balik pintu ruang musik.

KRRIEETT

GRREEB

Dengan secepat kilat, Ino membuka pintu dan menyambar Sasuke, lalu ia memasukkan Sasuke ke dalam ruang musik.

"Apa-apaan kau? Lepaskan tanganku!" ujar Sasuke dengan nada sinis.

'Astaga! Aku lupa dialognya!' Ino pun mengambil secarik kertas dari dalam kantong roknya. Ia pun membaca tulisan yang ada di sana dengan sembunyi-sembunyi.

.

.

Sementara itu, di balik jendela….

'Heh! Aku akan mendapatkan gambarnya. Dengan ini, tugasku selesai!' Gadis manis itu menyeringai. Ia pun mengambil sebuah kamera dari dalam saku roknya.

"Jangan suka mencampuri urusan orang lain!"

GREB

Pemuda itu pun mengambil kamera yang ada di tangan gadis itu. "Kamera yang bagus, boleh aku meminjamnya?"

"Kuso! Kembalikan!"

Pemuda itu mengabaikan gadis manis itu. Ia pun melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah.

"Kuso!" umpat gadis itu.

.

.

Kembali ke ruang musik….

"Sasuke-kun~ Aku tahu kau menginginkanku, tapi … kau malu mengakuinya, 'kan~" Ino pun melangkah mendekati Sasuke. Ia pun meraih tengkuk Sasuke dan mendekatkan kepala Sasuke dengan kepalanya. Persis sekali seperti peran seorang pelacur.

GREB

Sasuke pun mengunci pergerakan Ino. "Jangan bergerak! Ada orang yang mengintai dan memotret kita!" perintah Sasuke dengan nada dingin.

Ino hanya mengangguk ragu.

Sasuke mengamati seseorang yang di balik jendela itu dengan ekor matanya. Setelah merasa gadis yang di balik jendela itu pergi, ia pun melepaskan tangannya dari Ino.

"AWW!" Ino meringis kesakita karena cengkraman tangan Sasuke sangat kuat.

"Jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi! Kaubisa merusak namaku dan nama ayahmu!" Setelah berkata seperti itu, Sasuke pun melangkahkan kakinya menuju pintu ruang musik.

Sasuke membuka pintu ruang musik itu dan meninggalkan Ino sendirian.

"Apa aku salah? Tapi … Kin-senpai mengatakan kalau Sasuke-kun akan sangat senang jika diperlakukan seperti itu."

.

.

.

.

"Kau sudah mendapatkan foto atau videonya?" Laki-laki bertubuh besar itu pun mengisap rokok cerutunya.

"Belum, Tuan. Tadi tiba-tiba saja ada pengganggu. Lalu … pemuda yang bersama anak Inoichi itu sangat peka. Dia menyadari keberadaanku," uajr gadis itu tanpa melihat ke arah majikannya itu.

"Cih! Kau tak berguna! Memalukan!"

"Aku berjanji akan membuat Inoichi itu malu melalui anaknya, Tuan." Gadis manis itu pun membungkukkan badannya. "Setidaknya … aku mengetahui informasi penting, Tuan."

Lelaki bertubuh besar itu pun menatap gadis manis itu. "Apa?"

"Anak dari Yamanaka Inoichi itu sangat bodoh dan sangat tidak peka. Dia sangat mudah untuk dibodohi."

"Haa … hahahaha! Info yang bagus. Jadi … dengan kebodohannya itu, kau bisa lebih tenang bekerja? Perempuan licik."

Gadis manis itu pun mengangguk. "Ya. Dia juga mengatakan, karena kebodohannya di bidang akademis, ia diancam akan dikeluarkan dari sekolah oleh Orochimaru-sensei."

"Hahahaha! Itu informasi yang bagus. Tapi … bagaimanapun, kita butuh bukti. Buatlah anak bodoh itu lebih cepat dikeluarkan dari sekolah! Bukan alasan nilainya tidak memenuhi standar. Tapi, karena kenakalannya. Kau mengerti?"

"Mengerti, Zabuza-sama."

"Hahahaha! Bagus! Yamanaka Inoichi! Bersiaplah untuk pembalasan! Kalau memang aku tidak bisa membalaskannya padamu, anakmu juga bagus untuk dijadikan pelampiasan!"

.

.

.


.

"Hei Ino-chan! Bagaimana dengan rencana kemarin? Lancar?" Kin mengambil duduk tepat di sebelah Ino.

"Tidak, Senpai. Kenapa dia seperti marah padaku, Senpai?" tanya Ino sembari mengaduk-aduk soda float-nya.

"Heh! Masih saja jual mahal si Ketua OSIS itu, ya?" Kin pun mengelus dagunya sehingga tampak seperti seseorang yang sedang berpikir. "Bagaimana dengan ini?" Kin pun mendekati Ino dan membisikkan sesuatu padanya.

"Apa benar Sasuke-kun suka dengan hal seperti itu?" tanya Ino ragu.

"Aku sedikit tidak yakin, sih. Tapi … apa salahnya mencoba," ujar Kin.

"Benar juga, ya? Apa salahnya mencoba."

Kin hanya mengangguk sebagai responnya.

"Baiklah! Aku akan mencobanya nanti, Kin-senpai!" Ino tersenyum penuh kemenangan.

.

.

.

.

'Jadwal kelas sepuluh-satu pada jam kelima dan keenam olah raga. Kalau begitu … aku harus ke sana sekarang.'

"Jika sin sudut empat puluh lima adalah setengah aka—"

"Aduuhh … sakit sekali…." Ino memegangi perutnya.

"Yamanaka Ino! Kau kenapa?" tanya Kurenai —guru matematika Ino.

"Se-sensei … pe-perutku sakit sekali. Bo-bolehkah aku ber-beristirahat di ruang UKS?" ujar Ino dengan tangannya masih di perutnya.

"Ya, silahkan! Ami, tolong Ino pergi ke UKS," perintah Kurenai.

"Ti-tidak u-usah, Sensei. A-aku bisa sendiri, kok." Ino masih berbicara terbata-bata karena menahan rasa sakitnya —pura-pura.

Ino pun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Setelah sampai, Ino berkata kepada Kurenai, "Permisi, Sensei."

Kurenai menganggukkan kepalanya. "Hn."

SLAAMM

Beberapa langkah, Ino masih memegang perutnya. Tetapi, ketika ia sudah berada cukup jauh dari kelasnya, ia pun berlari menuju tempat Sasuke berolah raga.

.

.

.

.

"SASUKE! DI SINI!" Terdengar beberapa siswa yang sedang asyik bermain basket itu.

Dengan cekatan, Sasuke men-dribble bola basket yang ada di depannya. Setelah itu, ia pun mengopor bola itu kepada teman se-timnya.

"STOOOOOPPP!"

Semua siswa-siswi menghentikan aktifitas mereka masing-masing mendengar sebuah teriakan itu. Mata mereka pun tertuju pada seseorang gadis dengan rambut pirang yang berdiri di atas kursi penonton yang paling atas.

Gadis berambut pirang pucat itu pun menghidupkan toa yang digenggamnya. "PERHATIAN PERHATIAN, SEPULUH-SATU! SAYA, YAMANAKA INO DARI KELAS SEPULUH-SEPULUH, AKAN MENYAMPAIKAN SESUATU KEPADA KALIAN."

Semua orang tercengang melihat kelakuan gadis pirang pucat itu.

'Kuso! Apa yang dilakukannya di sini?' umpat batin Sasuke.

"SAYA AKAN MEMBACAKAN SEBUAH PUISI UNTUK KALIAN."

"UUUUUU!" teriak semua siswa yang ada di sana.

"PUISI INI, KHUSUS UNTUK SESEORANG YANG PALING TAMPAN DI DUNIA, UCHIHA SASUKE!"

"UUUUU!" teriak semua siswa —lagi.

"PUISIKU BERJUDUL…." Gadis itu sepertinya lupa lagi dengan dialognya. Ia pun mengambil secarik kertas dari saku roknya. "PUISIKU BERJUDUL, PANGERAN TAMPANKU."

"Segitu tampannyakah kau Sasuke? Sampai-sampai seoang gadis nekat melakukan itu?" goda Sai —teman Sasuke yang berdiri di sebelahnya.

"Diam kau!"

"PANGERANKU … MATAMU SETAJAM PISAU YANG ADA DI DAPUR RUMAHKU."

"UUUUUU!" teriak siswa itu lagi.

"HIDUNGMU … SETAJAM SEGITIGA SIKU-SIKU."

"Hahahaha! Gadis gila!" komentar salah satu dari siswa kelas sepuluh-satu.

"RAMBUTMU … SEPERTI—HHMMPPHH!"

Tiba-tiba, gadis berambut pirang itu menghilang.

"Kemana dia?" Para siswa kelas sepuluh-satu bertanya keheranan karena gadis berambut pirang itu tiba-tiba menghilang.

"Siapa yang tadi mengacau di kelasku?" Tiba-tiba, seorang guru berwajah sangar masuk ke dalam ruangan itu.

"…"

Tak ada jawaban dari semua siswa kelas sepuluh-satu. Mereka terlalu takut jika sudah berurusan dengan Ibiki-sensei.

"Sekarang, LANJUTKAN OLAH RAGA KALIAN!"

Semua siswa pun menuruti apa yang dikatakan oleh Ibiki.

.

.

.

.

"HHMMPPHH!" Ino berkali-kali berusaha melepaskan tangan pemuda itu dari mulutnya.

"Diamlah kau!"

"HMMPPHH!" Ino pun menggigit tangan pemuda yang membekapnya itu.

"AWW!" Pemuda berambut merah itu pun meringis kesakitan karena tangannya digigit sangat keras. "Apa yang kaulakukan?"

"Kenapa kau membekapku, huh?" tanya Ino denga nada yang sangat kesal.

"…"

Pemuda itu tidak menjawab sama sekali. Ia pun membalikkan badannya dan bersiap untuk meninggalkan Ino.

"Hei! Sabaku Gaara! Kenapa kau membekapku?"

"Suaramu menggangguku," ujar pemuda itu singkat. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan Ino.

"ARRGGHH! Kau menjengkelkan! Rencanaku gagal lagi!" umpat Ino.

Andai Ino mengerti, jika ia melanjutkan rencananya, ia pasti akan kena pasal berlapis. Yang pertama, berbohong kepada Kurenai-sensei yang merupakan salah satu guru sangar di sekolah. Dan mengacaukan kelas seorang Ibiki-sensei yang merupakan guru terganas.

.

.

.

.

"Ahahaha! Gadis tadi nekat sekali? Tapi … kalau aku yang ia buatkan puisi, pasti akan kuterima," ujar salah satu teman Sasuke.

"Sayangnya tidak untuk pangeran kita yang satu ini," tambah Sai yang membuat emosi Sasuke meningkat.

"Diam kalian!" bentak Sasuke.

Sakura menatap Sasuke dari tempat duduknya. 'Siapa Yamanaka Ino? Dia pasti menyukai Sasuke.'

"Dengarkan semua!"

Semua siswa kelas sepuluh-satu itu pun mengarah ke depan —ke arah ketua kelas mereka, Neji.

"OSIS mengadakan sebuah program khusus untuk kelas sepuluh-satu dengan sepuluh-sepuluh."

Semua siswa pun mulai serius mendengar setiap kata-kata ketua kelas mereka.

"Program ini semacam tutor sebaya. Kalian, kelas sepuluh-satu, harus menjadi tutor untuk kelas sepuluh-sepuluh."

"HUUU! Tidak asyiiikk!" teriak semua murid.

"Jika kalian tidak suka, silahkan protes kepada Orochimaru-sensei. Saya akan membacakan pasangan kalian masing-masing. Yang pertama, Hyuuga Neji dengan Rock Lee. Kedua, Haruno Sakura dengan Namikaze Naruto. Tiga, Shimura Sai dengan Hotaru. Empat, Aburame Shino dengan Sakon…."

Beberapa menit kemudian….

"Sembilan belas, Uchiha Sasuke dengan Ukon. Dan terakhir … Sabaku Gaara dengan…."

SLAAMM

"Dari mana saja kau, Gaara? Kau sering cabut kelas akhir-akhir ini," omel Neji tiba-tiba ketika pemuda berambut merah itu masuk ke dalam kelas.

"…"

Tak ada jawaban dari pemuda berambut merah itu.

"Dan terakhir, Sabaku Gaara dengan Yamanaka Ino."

.

.

TBC


Yo! Akhirnya, aku update juga fic satu ini. Yah … ceritanya tambah lama tambah gaje, ya? Maafkan aku T.T

Lagi, aku buat gentong pasir yang Gaara sandang, aku rubah dengan gitar. Maafkan saya, mas Masashi….

Aku minta concrit-nya, minna. Supaya chapter depan bisa aku perbaiki.

R&R minna :3