Chapter #2

.

Disclaimer

Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.

Terdapat adegan dewasa. Diharapkan pembaca bijak dan tidak dibawah usia 17 tahun.

Warning

Cerita ini hanya fiksi semata, segala yang tertulis hanya untuk tujuan semata.

Note

Cerita ini terinspirasi dari Sugar Daddy yang sempat trending di Twitter. Penulis tidak bermaksud apapun dan sekali lagi ini merupakan hiburan semata.

Perhatikan

Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda.

Sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda.

Last

Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis berdasarkan tagar yang sempat trending di twitter. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.

Selamat membaca.

.


.

Aku hanya seorang anak dari keluarga kecil.

Namun kehidupanku terlalu disorot, mereka hidup dengan pandangan orang lain berkutub padaku, keluargaku.

.


.

Setiap pukul enam sore Baekhyun meninggalkan sekolahnya dan berlari menuju mobil hitam mengkilap yang selalu siap didepan gerbang sekolah.

Dengan nafas terengah serta semangat yang menggebu didada, Baekhyun berujar pada supir untuk mengantarnya ke pusat kota.

Sebuah hari yang selalu menjadi puncak dari tiap tahunnya.

Sorot cahaya keunguan dari sebuah toko di pinggir jalan jadi tujuan Baekhyun berlari setelah turun dari mobil. Bahkan teriakan supirnya tidak bisa menghentikan langkah Baekhyun berlari.

Toko yang menjadi saksi bisu kehidupannya.

"Aku ingin yang ini! Berikan aku ukuran besar dengan lilin pelangi tolong!"

Wanita berseragam merah muda itu mengangguk dan tersenyum lembut, "Juga pita ungu?" Tanyanya memastikan.

Baekhyun menangguk semangat dengan senyum lebarnya, "Apa saja yang agar itu terlihat bagus!"

.


.

"...apa saja..." Suara kecil dan gemetar, membuyarkan lamunannya.

"Apa saja apanya," Baekhyun mendecih pelan dengan sanyum tipis. Kepalanya ia sandarkan pada dinding, tubuhnya lemas serta wajahnya memuucat. Baekhyun benar-benar berantakan.

Jiwanya seolah telah pergi sedang setengah lagi berusaha bertahan. Mata Baekhyun sayu, tak bersinar seperti biasanya.

Seorang yang satu-satunya menjadi harapan terakhir hidup baginya telah tiada. Baekhyun seolah tak memiliki kesempatan bahagia.

Jika masa kecilnya ia diberi harta berlimpah, maka ia sadar ketika dewasa, masa kecilnya bahkan lebih suram dari yang ia pikirkan.

Semua dunianya seperti hancur. Tuhan sekali lagi mengambil hal favoritnya. Seakan-akan Tuhan membenci Baekhyun dan ia tidak bisa bahagia.

Jika ditinggal seseorang yang begitu ia cintai bisa sesakit ini, maka Baekhyun memilih menyesali semua perbuatannya.

Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang membuatnya kini menderita.

Seharusnya, Baekhyun berlari menembus deras hujan maka ia bisa menerima suapan pertama di hari ulang tahun Ibunya.

Jika Baekhyun tidak menuruti rasa kantuknya, maka ia akan lebih lama bersama Ibunya.

Jika Baekhyun tidak duduk disana, dan memilih pulang dengan keadaan basah sekalipun, maka semua tidak akan terjadi seperti ini.

Jika dan masih banyak jika lainnya.

Jika bukan karena pria itu...

Namun tidak ada yang rasanya ia pantas sesali. Wanita yang menjadi sumber bahagianya telah tiada. Membuat Baekhyun semakin mengingat sosok pria yang sangat ia benci. Ayahnya sendiri.

Lebih dari lima jam Baekhyun memeluk lututnya, mata yang sudah tenggelam dalam bengkak tangisnya. Semua kenangan indah Baekhyun bersama Ibunya seakan berputar terus menerus dikepalanya.

Kehilangan sosok wanita paruh baya itu benar membuat Baekhyun merasa jika hanya ia benar-benar sendiri. Tak memiliki siapapun, dan tidak siapapun menunggunya.

"Aku akan menemanimu disini." Suara berat berasal dari pintu lorong. Kemudian Baekhyun mendongak dan mendapati sosok pria tinggi yang ia temui kemarin.

"Chanyeol..." Baekhyun menatap Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya. Pria itu lalu berjalan denga kedua tangan yang dilipat didada. Menghampiri Baekhyun yang sedang duduk, dan mengambil posisi serupa disebelahnya.

"Aku disini Baekhyun, semua akan baik-baik saja." Chanyeol membawa Baekhyun menuju dekapnya. Tidak ada penolakan, Baekhyun hanya diam dan membiarkan Chanyeol memperlakukannya.

Namun itu bukannya menenangkan Baekhyun dari kesedihannya. Semakin ia tenggelam dalam hangat lingkar tangan Chanyeol, semakin menjadi rasa sakit yang ia hadapi.

Hidup bersama Ibunya sedang mereka telah dicampakkan. Semua itu adalah disebabkan oleh Ayahnya. Kondisi Ibu Baekhyun kian memburuk hari demi hari sejak mereka diusir.

Andai saja, Baekhyun mengingat paras wanita yang menatapnya licik saat Ayahnya menendang mereka keluar. Namun Baekhyun ingat jelas tubuhnya, rambit sebahu dengan pinggang mungil. Wajahnya terlihat jauh lebih muda dari Ibu. Mungkin saat itu usianya masih 21 tahun.

Dan sekarang wajahnya sudah hancur akibat operasi plastik.

Itu yang Baekhyun pikirkan. Dan memikirkannya saja, meloloskan air dari pelupuk matanya. Nyatanya, Baekhyun hanyalah seorang anak yang gidak bersalah dan harus menerima kenyataan bahwa perselingkuhan Ayahnya yang terekam jelas adalah trauma terburuk Baekhyun.

Tapi kini, setelah sekian lama Baekhyun kembali merasakan lebar dada seorang pria dewasa. Jauh lebih dewasa darinya, dan jauh lebih hangat dari Ayahnya. Namun realitanya adalah dia sosok yang baru saja Baekhyun temui kemarin malam.

Mengingat namanya, Baekhyun ingat Chanyeol pernah berucap jika ia selalu bersama Chanyeol, maka pria itu akan memberikan apapun yang ia mau.

"Eum... Chanyeol?" Sikecil membuka suara sedang wajahnya tertunduk.

"Hm? Ada apa?" Kemudian Chanyeol balas sambil mengusap rambut Baekhyun lembut.

Dengan ragu-ragu, Baekhyun menarik nafasnya pelan. Memberanikan dirinya sendiri sedang Chanyeol menjadi sosok hangat didepannya. "Bukankah kau mengatakan jika aku selalu bersamamu, maka aku..."

"..akan mendapat apapun yang kau mau. Tentu Baekhyun." Chanyeol menyambung ucapan Baekhyun yang hampir berhenti di tengah.

Raut lesu tak bisa Baekhyun hindari. Wajahnya menunduk sedang Chanyeol mengernyit. Baekhyun tampak sangat kacau, juga lelah.

Chanyeol menunduk, "Kau baik-baik saja?"

Tidak, sepertinya tidak sedang baik-baik saja. Sebuah pertanyaan yang Chanyeol loloskan dari mulutnya membuat Baekhyun meringsut lebih dalam pada tubuh Chanyeol.

Disatu sisi, seorang pria dengan jantung yang tak karuan mencoba menenangkan diri sendiri. Sudah cukup mudah baginya untuk menyampingkan perasaan apapun dan mementingkan keadaan.

Maka semakin munafik pula jika Chanyeol mencoba mengubur degup jantungnya. Takut jika Baekhyun sadar, sadar jika sesuatu yang berdetak keras tersengar hingga ke telinganya.

Chanyeol membiarkan Baekhyun bersandar pada dadanya, sedang degup jantung miliknya berdetak semakin brutal.

Keadaan hening kemudian. Tidak ada suara apapun bahkan jantung Chanyeol yang sempat menggila kini berhenti seketika.

Juga Baekhyun, tak terdengar lagi sisa isakan darinya. Chanyeol tertegun, menunduk melihat menuju Baekhyun.

Dalam tenang, ia memejamkan mata. Chanyeol mencoba memaklumi, anak ini pasti diradang lelah serta kondisi tubuh yang mulai memburuk.

Namun tidak baik pula jika mereka berdua berada di rumah duka dengan keadaan seperti ini. Chanyeol tidak ingin dikatakan pedofil yang memanfaatkan situasi.

Pria jangkung itu mencoba berdiri tanpa suara, namun Baekhyun mengerang pelan sedang tangannya menggenggam kemeja Chanyeol.

Kini Chanyeol berada dalam dilema. Jika bangkit maka ia akan membuat Baekhyun terjaga. Namun, terlalu lama disini pula juga bahaya.

Tak banyak yang bisa Chanyeol lakukan. Keheningan menghujam kepalanya hingga membawanya kealam bawah sadar miliknya.

.


.

Baekhyun terbangun dalam keadaan nikmat dengan tidurnya. Mencoba membuka mata yang berat lalu mengusapnya lembut.

Mata sipitnya menangkap buram pandangan didepan. Lalu kedua tangan ia arahkan pada mata dan kembali mengusapnya sedikit kuat.

Masih berada di tempat yang sama. Baekhyun berada di peristirahatan terakhir Ibunya. Sendirian, tanpa siapapun termasuk Chanyeol.

"Ternyata dia hanya bagian dari mimpiku." Baekhyun mendecih, dan mendapati tubuhnya di balut selimut berwarna coklat muda. Sebuah kain tebal yang menghangatkannya.

Baekhyun menoleh, matanya gusar mencari ke tiap sudut ruang dan berhenti pada sisi kiri. Mendapati sosok yang tak asing baginya.

"Chanyeol..?" Seorang pria bertubuh tinggi tertidur pada dingin lantai tanpa beralaskan apapun. Jas yang ia kenakan telah menjadi alas kepala Baekhyun dan membiarkan dirinya tidur beralas dingin hawa lantai.

Emosi sensitif yang sedang melanda Baekhyun membuat satu tetes lolos dari pelupuknya. Kemudian menghapusnya diam-diam. Tak ingin siapapun tahu betapa lemah dirinya akan sesuatu yang kecil.

Baekhyun menyukai hal kecil dan manis.

Teringat bahwa mereka telah menghabiskan banyak waktu disini. Baekhyun berusaha bangkit dan mencoba untuk membangunkan Chanyeol dari tidurnya. Wajah tenang Chanyeol benar-benar membuat Baekhyun urung.

Namun, Chanyeol terbangun saat merasakan seorang sedang berada di depannya. Dan itu adalah Baekhyun.

Chanyeol bangun, lalu mengusap matanya, "Maaf, aku tertidur." Dengan suara rendahnya Chanyeol berujar. Sedang Baekhyun disana bersumpah, ia tak bisa munafik bahwa Chanyeol sangat tampan saat ia bangun dari tidur.

"Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf." Baekhyun menunduk, menenggelamkan semua rasa bersalahnya karena membuat seorang yang baru ia kenal harus ikut merasakan kelam hidupnya.

"Ini salahku Baek, jangan meminta maaf hm?"

Dan Baekhyun terdiam saat rendah suara Chanyeol mulai berubah sedikit tegas. Chanyeol yang hangat menjadi dingin seketika, dan tentu dengan aura khas miliknya.

Satu hal yang belum diketahui adalah waktu. Bersamanya benar-benar membuat Baekhyun lupa akan masa yang terus berjalan. Dan sialnya, ia tak memiliki akses apapun tentang waktu.

Satu-satunya jalan hanya bertanya pada Chanyeol. Tapi dia terlalu takut, nyalinya berubah ciut saat terakhir kali dia berbicara. Baekhyun hanya bisa menunduk sambil sesekali mencuri tatap padanya.

Chanyeol sedang menggulung kemeja putihnya sebatas sikut. Sehingga memperlihatkan lengan kekarnya serta sebuah tato ditangan kanan.

Tahu apa seorang remaja seusiaku tentang tato? Yang pasti, itu adalah sebuah tato monyet dan juga gitar.

Tak lama, Chanyeol berdiri dan berjalan kebelakangku. Sungguh, aku sangat ingin menoleh namun rasanya udara dingin menusuk punggungku dari belakang. Suara kecil dari belakangku membuat ribuan pertanyaan makin menggebu dibenakku.

Tentang apa yang Chanyeol sedang lakukan.

Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat, dan aku masih tak berani menoleh sedikitpun.

"Kau pasti lapar, ayo pergi dan makan sesuatu." Oh Tuhan, sungguh, kupikir ia akan marah padaku.

Aku mengiyakan sedang Chanyeol masih berdiri membawa semua barangnya yang telah kugunakan.

Aku meminta untuk membiarkan aku membawanya namun Chanyeol menolak, tegas diiringi tatapan matanya membuatku urung seketika.

.


.

Chanyeol memintaku menunggu didepan dan berkata ia akan segera kembali untuk mengambil mobilnya.

Cukup lama, mengingat Chanyeol membawa selimut dan harus berjalan sendirian menuju parkiran.

Dan lagi-lagi, ia menolak permintaanku saat meminta untuk menemaninya dan berkata untuk tetap menunggu disini.

Sebuah mobil mewah berwarna kehijauan. Kacanya sedikit gelap, dan aku tak tahu pasti apakah itu Chanyeol sedang kemarin mobilnya tidak seperti ini.

Sosok tinggi yang familiar turun dari sana, dan tentu saja itu ternyata Chanyeol dengan membawa mobil yang berbeda dari kemarin.

Baekhyun melongo, matanya seperti itu. Ekspresi kaget mendatanginya tiba-tiba hingga membuatnya mematung seketika.

Tidak heran saja, jika pria seperti Chanyeol bisa memiliki banyak barang mewah.

Chanyeol lalu menuntun Baekhyun untuk naik ke mobil meski sedikit sulit bagi Baekhyun dengan tubuh kecilnya sedang kendaraan itu tinggi dan cukup sulit menaikinya.

Namun Chanyeol tentu tidak diam dan membantu Baekhyun dengan kekehn kecil yang Baekhyun sadari.

Selama di perjalanan, Chanyeol tidak berkata apapun, begitu dengan Baekhyun yang memilih diam mematung.

Chanyeol lalu mengajak Baekhyun dengan menarik lengannya. Sedikit kasar, namun tidak membuat Baekhyun risih.

Dan pada akhirnya, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun lembut, seolah menebus dosa karena menarik tangannya kasar.

"Kita akan ke mana?" Baekhyun spontan bertanya. Lalu Chanyeol menjawab dengan tatapan yang menunjukkan untuk tetap diam dan ikut dengannya.

Baekhyun bungkam dan menuruti langkah Chanyeol didepan.

Ia berhenti tepat di depan sebuah toko. Dengan huruf lima huruf dan abjad ketujuh sebagai awalan keempat belas sebagai akhir. Mengingat itu adalah toko terdekat dari pintu masuk, Chanyeol membawa Baekhyun masuk.

"Pilih yang kau suka," Chanyeol melepas genggamnya dengan nada memerintah. Namun, Baekhyun tak menganggap itu apapun dan mematung ditempatnya.

"Aku akan menunggu disini." Lalu pria tinggi itu duduk disalah satu sofa berwarna merah.

Baekhyun berjalan menuju rak baju. Ini mungkin toko dengan berdominasi pakaian wanita, namun seorang pegawai membantu Baekhyun membawanya kebagian pria.

Dengan gugup, Baekhyun mengambil sebuah hoodie putih dengan tulisan hitam di depannya, serta sebuah celana jeans biasa.

Baekhyun lalu keluar, pegawai tadi sibuk memuji pakaian yang Baekhyun kenakan sangat cocok padanya.

Namun mungkin akan berbeda dengan Chanyeol.

Ribuan pertanyaan keraguan muncul, apakah ia harus bertanya tentang yang ia kenakan? Dan hal lain yang pasti membuat Baekhyun ragu setengah mati.

Namun Baekhyun mencoba memantapkan diri sendiri, dan berjalan menuju Chanyeol yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Perhatiannya teralih seketika saat Baekhyun berdiri didepannya. Tatapan Chanyeol seolah menelanjangi Baekhyun.

Kedua ujung bibirnya terangkat, Chanyeol tersenyum seolah bibirnya akan sobek.

Pria itu berdiri lalu mengangkat bawah hoodie Baekhyun. Mata Baekhyun melotot kaget saat Chanyeol mengangkat setengah pakaiannya tanpa permisi.

Ternyata Chanyeol sedang mencopot label harga di celananya juga Hoodie. Memberikannya pada pegawai untuk di totalkan.

Baekhyun tidak hanya diam dan mengikuti Chanyeol yang sedang melakukan transaksi di kasir.

"Totalnya 350.000won." Sang kasir menotalkan. Dengan wajah biasanya, Chanyeol merogoh saku dan mengambil sebuah kartu dari dompetnya.

Sepasang celana dan baju telah menghabiskan 350.000won? Chanyeol bersungguh-sungguh membayar sebanyak itu?

Dan ribuan pertanyaan lain menghujam kepala Baekhyun.

Pria itu selesai, dan mengajak Baekhyun ke tempat lain.

"Chan, kita akan kemana?" Lalu Baekhyun kembali bertanya. Ia lupa bahwa tadi Chanyeol menatapnya aneh setelah bertanya.

Baekhyun menunduk dan mencoba menenggelamkan semua pertanyaannya.

"Pertama, jangan panggil aku Chan, Baek." Akhirnya Chanyeol berbicara setelah mematung cukup lama.

"B-baik," Dengan gugup Baekhyun mengiyakan.

"Panggil aku Daddy, mengerti?" Suara berat Chanyeol menyapa Baekhyun lagi. Matanya menyipit namun tidak dengan suaranya. Jelas sekali bahwa Chanyeol tidak ingin Baekhyun memanggilnya dengan sebutan nama.

Mengapa Daddy? Baekhyun juga bingung.

Entah apa yang Chanyeol pikirkan, ia sangat sulit ditebak.

Chanyeol kemudian berhenti pada salah satu restoran sushi. Baekhyun menelan ludahnya melihat betapa lezatnya ikan segar yang sudah lama sekali ia tak rasakan.

Bukankah ikan salmon pada sushi memiliki harga jual tinggi? Meraskannya setahun sekali juga itu merupakan keberuntungan baginya.

Chanyeol memilih tempat duduk di pojok, lalu memesan beberapa makanan. Sedang Baekhyun hanya terfokus pada Chanyeol yang sedang berbicara dengan waiter.

Dan baru sadar bahwa Chanyeol sewangi ini.

Diam-diam Baekhyun mengendus wangi Chanyeol dan mencoba mengingat baunya lekat.

Selesai memesan, Chanyeol menoleh dan spontan membuat Baekhyun kaget seolah baru saja tertangkap basah.

Chanyeol tekekeh pelan dan menggeleng.

"Bukankah kau lapar? Seharusnya aku mengajakmu makan terlebih dahulu."

"Tidak apa-apa, Chan."

Astaga.

"Daddy, Baek." Chanyeol dengan cepat membenarkan perkataanku sedang aku dilanda keringat dingin disekujur tubuh.

"D-daddy.."

"Begitu."

Aku ingin tahu, mengapa. Tapi seolah Chanyeol tidak mengizinkan dan lagi-lagi aku urung dengan ribuan tanya yang siap menghujamnya kapan saja.

Berselang lima belas menit, pesanan Chanyeol datang.

Dan sungguh, itu bahkan lebih bangak dari yang Baekhyun kira. Seperti pesanan untuk lima orang.

Baekhyun tak yakin bisa menghabiskannya sendiri. Tapi ini adalah makanan yang jarang sekali bisa ia rasakan.

"Makanlah, Baek. Kau butuh makan bukan?" Chanyeol lalu menyodorkanku sepirinh salmon sushi beserta antek-anteknya.

Namun aku yang sudah sangat lapar, tidak dapat menahan nafsuku dan langsung menerima pemberian Chanyeol.

Benar-benar menghabiskan semua piring yang Chanyeol beri dan setahuku, Chanyeol hanya makan sepiring saja.

Dan selama aku makan, wajahnya tak pernah berhenti memperhatikanku. Dengan senyum yang terlukis diwajahnya hingga aku lupa wasabi ternyata semanis ini jika dengan senyuman Chanyeol.

Pria itu terkekeh pelan lalu menawarkanku segelas air.

Benar, bahkan aku lupa untuk melenan air hingga membuat diriku sendiri tersedak.

"Pelan-pelan.." Chanyeol berucap lembut.

Baekhyun mengambil tisu namun Chanyeol merebutnya dari tangan Baekhyun.

Dengan spontan yang kesekian kalinya Baekhyun bertanya, "Mengapa aku harus menanggilmu Daddy?" Dan untuk itu Baekhyun menyesali dirinya.

Chanyeol yang tadinya sedang membersihkan noda di bibir Baekhyun terdiam seketika.

"Kita memang terlihat seperti itu."

Singkat kata. Chanyeol tak lagi melanjutkannya. Alih-alih memanggil waiter dan meminta bill.

Sedang Baeknyun masih terdiam disana dan menyesali tiap kata yang keluar tanpa pengontrolan darinya.

Kali ini tidak ada penotalan langsung dari waiter. Namun Baekhyun dapat melihat jelas struk yang Chanyeol taruh di meja.

Itu sekitar 89.000won atas semua yang Baekhyun dan Chanyeol makan.

Bukankah itu jumlah yang cukup besar? Mengingat gaji Baekhyun tidak semahal sepasang pakaian yang ia kenakan.

Chanyeol berjalan keluar disusul Baekhyun dengan tangan yang selalu tertaut dengan Chanyeol.

"Kau lelah?" Chanyeol bertanya. Baekhyun menggeleng lemah.

Itu hanya formalitas. Sungguh, Baekhyun lelah setelah menghabiskan hari dengan menangis.

Dan disana ia bersama Chanyeol. Pria yang mengatakan akan memberikan apapun jika ia bersamanya.

Bertepatan di mall yang mereka kunjungi memiliki hotel didepannya. Chanyeol langsung menggiring Baekhyun yang masih menurut mengikutinya.

Bukankah jika ke hotel dan memesan kamar yang kau lakukan adalah reservasi? Namun Chanyeol tidak, dan dengan sangai berjalan menuju lift.

Menekan tombol angka 6 kemudian pintu lift menutup.

"Baekhyun.." Chanyeol tiba-tiba membuka.

"Iya?" Jawab Baekhyun penuh ragu.

"Bukankah aku telah memberikanmu yang kau butuhkan. Dan aku memiliki sebuah permintaan." Dengan suara rendahnya Chanyeol berujar.

Namun Baekhyun diam. Tidak tahu tanggapan apa yang harus diberi. Baekhyun juga belum meminta apapun padanya tapi Chanyeol memang sudah memberi kebutuhannya mulai dari pakaian hingga makanan yang Baekhyun butuhkan.

"Aku..." Baekhyun berusara.

"Kenapa?" Lagi dengan tone seriusnya Chanyeol bertanya.

"...tidak tahu..."

"Kau harus, Baekhyun."

Lalu pintu lift membuka. Baekhyun keluar terburu, sedang Chanyeol dibelakang terus mengikutnya.

Baekhyun mencoba melangkah cepat namun tangannya berhasil Chanyeol raih.

Lagi pula, kemana Baekhyun akan pergi? Iya bahkan tidak tahu sedang berada dimana.

"Tenang, Baekhyun. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."

Dan genggaman tangan Chanyeol untuk kesekian kalinya berhasil meyakinkan Baekhyun.

Mereka berhenti tepat disebuah kamar bernomor 5719. Chanyeol kemudian memutar kenop tanpa kunci lebih dulu.

"Ini milikku Baek. Kuharap kau tidak bingung."

Dan sebuah kamar luas dengan ranjang berukuran KingSize di tengahnya membuat Baekhyun kaget.

"Temani aku mandi, Baekhyun."

Apa? Menemaninya mandi?

"Ayo," Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Dan membawanya pada sebuah kamar mandi dengan sebuah bathup didalamnya.

"Kau hanya perlu menurutinya Baek. Aku takkan melakukan apapun."

Bisakah Baekhyun percaya itu? Mungkin bisa kali ini.

Pertama Chanyeol mulai membuka kemejanya dan menyisakan kaos berwarna putih. Lalu membuka resleting celananya menyisakan celana dalam miliknya.

Dari sana Baekhyun dapat melihat kejantanan Chanyeol bukan main besarnya. Baekhyun membuang wajahnya dirinya dan mengalihkan pandangannya kearah manapun.

"Jangan begitu, Baek. Kemari, biar ku bantu kau melepas pakaianmu."

Dan Baekhyun kaget bukan main. Chanyeol bilang ia takkan melakukan apapun padanya bukan? Apakah ini melanggar perkatannya?

Chanyeol hanya membantunya melepaskan pakaian, tidak lebih.

Ayolah Baekhyun, jangan berfikir yang tidak-tidak...

Pakaian mahal itu ia lempar sembarangan. Baekhyun tidak memakai dalaman apapun dan seluruh dada hingga pingganya terekspos.

Kemudian tangan Chanyeol turun kebagian bawah. Membantu Baekhyun melepas jeans ketatnya kemudian bokong berisi Baekhyun menyapa matanya terlebih dahulu.

"Chan... aku malu."

Chanyeol seolah tak peduli dan masuk kedalam bathup yang memiliki ukuran cukup lebar.

"Aku tidak akan memaksamu Baekhyun, jika kau mau kau bisa masuk dan mandi disini."

Mungkin kalian lupa bahwa Baekhyun adalah remaja berumur 16 tahun dengan wawasan seadanya. Pergaualannya yang sempit tentu membuatnya terbuka pada siapapun, termasuk... Chanyeol.

Dengan ragu Baekhyun masuk kedalam bathup. Kedua tangannya ia mencoba menutupi tubuhnya yang sudah dari tadi Chanyeol tatapi.

"Kenapa kau malu, Baekhyun?"

Apakah itu sebuah pertanyaan gila? Tentu jelas Baekhyun malu, sangat malu.

"Aku tidak berani mandi sendirian disini. Dan ini adalah kali pertamaku." Chanyeol menjelaskan.

Baekhyun lalu menenggelamkan tubuhnya dalam air hangat. Ketenangan menyelimuti keduanya. Hingga membuat Baekhyun perlahan mulai mengantuk.

Apakah ini yang Chanyeol maksud dengan beristirahat?

Saat Baekhyun mulai memejamkan matanya perlahan, Chanyeol dari tadi sibuk dengan selatannya yang sudah menegang.

Bokong padat dan berisi Baekhyun terus terngiang dikepalanya.

"Aku juga pria dewasa yang tidak dapat menahan diriku dengan hal seperti itu."

Chanyeol kemudian menarik kedua kaki Baekhyun hingga selangkangan mereka bertemu. Chanyeol meraba kaki Baekhyun dalam air mencoba menemukan milik Baekhyun pula.

Sedang disana Baekhyun tidak berkata apapun tapi wajahnya penuh protes.

Chanyeol mendapatkan penis Baekhyum dan memainkannya sebentar lalu kemudian membalikkan tubuh Baekhyun.

Kini ia bertemu dengan santapan sesungguhnya.

Chanyeol menampar pantat Baekhyun seiring dengan percikan air. Memainkan jarinya dalam lubang hangat Baekhyun tanpa peduli protes pria mungil didepannya.

Chanyeol semakin binal dan memasukkan semua jarinya pada lubang Baekhyun dan itu refleks membuat Baekhyun mengeluarkan desahan pertamanya.

"Ahhhh!" Desahan sekaligus pekikan.

Chanyeol benar menyakitinya.

"Mari mulai dengan yang lebih mudah dulu, Baekhyun."

To be continued...

.


.

Sampah :

Selamat tanggal 7 Juli!

Ingat dua hari lalu? 5 Juli 2019...

Pasti tau deh ya, kalo tau kasih ripiw nya dibawah boleh dong..? Canda.

Silahkan keluarkan gundah gulanamu dibawah ini dan selamat tujuh juli-an!

Terima kasih.

potato, kentang.


SUGAR DADDY