Ektós Elénchou

(εκτός ελέγχου)

Cast :: Junhui, Minghao, Wonwoo dan sisanya temukan sendiri ya xD

Genre :: Thriller, romance

Rate :: T+

Warning :: Yaoi. BxB. Typo(s). AU!School-life.

Summary :: Petaka apa yang akan terjadi jika seseorang tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi?

Disclaimer :: Cast disini semuanya milik Tuhan YME, orangtuanya, dan diri mereka masing-masing. Yang milik saya cuma ceritanya aja.

Kalau ada kesamaan, itu murni karena ketidaksengajaan.

ddideubeogeo17 present

.

.

.

Hana

Dul

Set

Enjoy it~

.

.

.

Lagi –lagi Jun menjadi topik pembicaraan terhangat di seluruh penjuru Pledis High School. Bagaimana tidak, secara kebetulan sudah dua orang teman perempuannya menjadi korban pembunuhan sadis tepat setelah mereka menghabiskan waktu terakhirnya bersama Jun.

Belakangan ini Jun cenderung menjadi pendiam dan terlihat sangat murung. Jika diingat-ingat lagi, ia baru menyadari suatu hal yang janggal. Di saat masih kecil, setiap Jun menemukan teman baru khususnya perempuan, baik karena bertemu di taman sekitar rumah ataupun teman baru di sekolah lalu mereka menjadi dekat, tidak berapa lama pasti tersiar kabar bahwa anak tersebut menghilang. Berita seperti itu membuat orangtuanya langsung protektif dan melarangnya bermain keluar rumah, maka yang menjadi teman Jun hanyalah Minghao seorang –ingat jika mereka adalah tetangga.

"Ya!" Jun terkaget karena merasakan dingin di pipi sebelah kanannya. Ia pun tertarik dari alam bawah sadarnya.

"Hehehe kaget ya? Lagipula sedang apa gege duduk sendirian sambil termenung di taman belakang sekolah yang sepi ini? Hiii… seram" celetuk Minghao. Ternyata Minghao lah yang menempelkan sebotol minuman dingin di pipi Jun. Tanpa menunggu respon sang lawan bicara, Minghao segera mendudukan dirinya di sebelah kanan Jun.

"Hah~ Ada keperluan apa kau kesini? Jika tidak ada apa-apa, tinggalkan aku sendiri. Ku mohon." Jun berusaha memasang wajah semelas mungkin.

"Hmm tidak. Aku akan menemani gege saja. Lagipula sebentar lagi bel pulang berbunyi. Aku bosan di kelas."

"Mwo?! Yak! Jangan bilang kau membolos, aigoo apa yang akan Xu ahjussi katakan jika tahu anak semata wayangnya yang berimage polos ini memb-hmpphh" belum selesai Jun menyelesaikan kalimatnya, Minghao sudah membekap mulut Jun dengan tangan kanannya yang menganggur –karena tangan kirinya masih memegang botol yang niatnya diberikan untuk Jun.

"Tenanglah sedikit ge, jangan berisik! Kelas ku sedang jam kosong, Cha saem sedang izin karena sakit. Oh ini ambillah, aku sengaja membelikannya untukmu ge."

"Ish sembarangan membekap bibir seksi ku. Ngomong-ngomong, terima kasih ya." Mereka pun menikmati kesunyian di taman sore itu. Minghao tidak mempermasalahkan mengapa Jun bisa ada di taman -apakah dia bolos atau tidak, karena Minghao tahu betapa buruknya suasana hati Jun saat ini. Terlarut dalam keheningan, tiba-tiba Jun menyenderkan kepalanya di bahu kiri Minghao dan memejamkan mata. Secara refleks tangan Minghao mulai mengusap lembut rambut Jun, Minghao pun menyanyikan lullaby berbahasa China. Tanpa mereka sadari, mentari sudah mulai bergulir dari singgasananya.

.

"Eungh~ hoammm~ pegal sekali." Sambil mengerjapkan mata, Jun mulai mengumpulkan kesadarannya dan saat itulah matanya terbelalak kaget mengetahui langit sudah gelap. Dengan segera ia mengecek jam tangan rolexnya.

"Omona! Jam 7 malam!"

JDUK!

"Aw! Appo!"

"Eh? Minghao-ya? Mianhae, gege lupa tadi bersandar padamu. Pasti sakit ya?" sesal Jun sambil mengelus pelipis kiri Minghao yang terbentur karena ulahnya. Jadi saat Jun bersender di bahu kiri Minghao dan mulai terbuai ke alam mimpi, ternyata Minghao pun tertidur hingga kepalanya mengarah ke kiri bertumpuk dengan kepala Jun di bahunya.

"Huh? Sudah gelap ya ge? Ah.. gara-gara menemani gege aku jadi pulang terlambat." Minghao menyalahkan Jun dengan memasang wajah tanpa dosa yang seketika membuat tangan Jun gatal ingin menjitaknya.

CTAK!

"Ish! Kenapa kau senang sekali menyiksaku sih ge?" Minghao benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang setahun lebih tua darinya itu.

"Itu karena kau suka bicara seenaknya. Siapa yang menyuruhmu menemaniku? Seingat ku tadi aku mengusirmu." Minghao hanya mampu mengeluarkan cengiran polosnya.

Jun dan Minghao akhirnya mengambil tas mereka di kelas masing-masing dengan berbekal omelan penjaga sekolah. Karena bagaimanapun juga, pintu tiap kelas pastilah sudah dikunci jadi mereka berdua harus berhadapan dengan penjaga sekolah untuk bisa pulang dengan membawa tas.

oOo

Malam ini entah kenapa terasa cukup sepi. Jun dan Minghao yang sempat berdebat –lagi- di halte bis karena meributkan 'akan membeli makanan apa' untuk camilan di rumah mereka masing-masing pun harus terhenti ketika bis datang. Selama perjalanan suasana canggung melingkupi dua anak adam yang duduk di bangku bis paling belakang. Mereka duduk di sisi yang berlawanan.

Karena tidak tahan dengan suasana tersebut, setelah turun dari bus Jun langsung menggenggam tangan kiri Minghao dan menyeretnya menuju kedai es krim langganan mereka.

Setelah beberapa menit berlalu, Jun mulai meminta maaf karena ia sadar bagaimanapun juga mereka berdua sama-sama keras kepala dan bersikukuh merasa paling benar jelaslah bukan ide yang bagus. Padahal sungguh mereka saling mendiamkan satu sama lain hanya karena berdebat tentang makanan yang –sangat- tidak penting. Terlarut dalam suasana nyaman di kedai es krim tersebut membuat mereka tanpa sadar sudah menghabiskan waktu disana selama sejam lebih.

Saat Minghao mengajak Jun untuk pulang, tanpa diduga, "Tunggu!" Jun bicara dengan nada tinggi yang cenderung seperti membentak.

"Eoh? Wae? Ada apa ge? Jangan bilang kau mau pesan lagi? Ewh rakus sekali." Ledek Minghao sambil memeletkan lidahnya.

"Bukan. Enak saja. Begini, aku. . . ehem a-aku. ." Jun menelan salivanya, ia merasa begitu gugup. Oh ayolah, Minghao adalah teman sejak ia masih kecil sampai sekarang, bagaimana bisa ia bicara tergagap seperti itu, memalukan. Kurang lebih begitulah inner seorang Wen Junhui.

"Kau? Kau apa? Ayolah gege kalau kau berniat mengerjaiku lebih baik hen-"

"akumenyukaimumakajadilahkekasihku!"

"Huh? Apa? Kau sedang belajar ngerapp? Tidak cocok tahu!" Minghao tercengang dibuatnya, apa-apaan Wen Junhui itu. Bicara secepat kilat mengalahkan kereta shinkansen.

"Aku. . . me- me-" Jun masih tergagap, ia menggulirkan kedua bola matanya ke segala arah asalkan bukan ke namja manis di hadapannya.

"Me- apa? Menagih buku komik yang pernah ku pinjam? Tenang saja, nanti ku kembalikan. Kan kita bertetangga tidak us-"

"Ya Tuhan!" Jun mengusap wajahnya frustasi. Kenapa ia harus menyukai orang sepolos Minghao. Memang bukan sepenuhnya salah Minghao sih, tapi kan bagaimana ya…

"Oh? Lalu apa?" tanya Minghao kalem.

"Aku.. aku menyu- ani, aku mencintaimu. Jadilah kekasihku!" ucap Jun dengan lantang setelah menghembuskan nafasnya. Hah rasanya segala beban yang menghimpit dadanya, terangkat sudah.

". . ."

". . ."

"Jun gege? Kau tidak bercanda kan? Sungguh bercandamu tidak lucu." Minghao masih belum percaya sepenuhnya akan apa yang baru saja ia dengar.

"Tidak! Aku sungguh ini sudah sejak dulu tapi mengatakan, aish!" Jun mengacak rambutnya frustasi karena gugup membuat kata-katanya berantakan. Disaat sibuk dengan pikirannya sendiri, Jun tidak menyadari bahwa Minghao yang semula duduk di depannya sudah pindah tempat ke sampingnya. Jun baru sadar ketika merasakan sebuah pelukan lembut dari tangan kurus di sampingnya.

Tiba-tiba Minghao sudah mengecup pipinya lalu berbisik "Aku juga mencintaimu ge" untuk kemudian beranjak pergi meninggalkan Jun yang terbengong dengan tidak elitnya.

oOo

Sejak pernyataan cinta yang sangat tidak romantis dari Jun –ini kata Minghao, mereka berdua pun makin sering terlihat bersama di sekolah. Bahkan ketiga sahabat Minghao yang terdiri dari Seokmin, Jungkook, dan Bambam ikut bahagia. Tentu bahagia, karena mereka memaksa Minghao untuk memberikan mereka PJ a.k.a 'pajak jadian'.

Siapa sangka bahwa Jun –ia termasuk anak populer di Pledis High School- akan melabuhkan hatinya pada adik kelas yang selama ini orang-orang kenal sebagai sahabatnya. Walaupun perdebatan diantara mereka tidak terelakkan, justru di mata orang lain interaksi mereka itu terlihat sangat menggemaskan dan menjadi daya tarik tersendiri. Begitu lucu dan serasi disaat bersamaan.

Jun memilih Minghao bukan tanpa alasan tapi karena memang Jun merasa 2/3 waktu di hidupnya sudah ia lalui bersama Minghao. Berbagai macam suka dan duka telah terlewati seiring berjalannya waktu. Minghao adalah satu-satunya orang –selain keluarga- yang selalu setia berdiri disampingnya dan memberinya kekuatan dalam keadaan apapun. Jun menyadari bahwa perasaan sayangnya terhadap Minghao mulai berubah dan berkembang yang akhirnya baru Jun akui belakangan ini jika ia mencintai Minghao.

.

.

.

Mengulik kembali kejadian pembunuhan sadis dua siswi di Pledis High School beberapa bulan lalu yang menimbulkan atensi dari berbagai pihak, mulai mereda. Pengecualian bagi keluarga korban yang ditinggalkan, mereka tidak menyerah untuk mencari tahu pelaku yang sebenarnya demi menegakan keadilan.

Tak terasa kejadian tersebut sudah berlalu dan sekarang sudah mulai memasuki musim dingin. Di pagi hari yang indah ini Minghao pun memutuskan untuk ke taman di dekat rumahnya. Entah apa yang ia pikirkan, ia hanya ingin menikmati hari minggunya. Minghao memutuskan duduk di salah satu ayunan. Termenung untuk beberapa saat.

Prok! Prok! Prok!

Mendengar suara tepuk tangan, Minghao mengalihkan pandangan ke sumber suara dan membulatkan matanya kaget ketika melihat seniornya yang terkenal misterius, Jeon Wonwoo.

"Wonwoo sunbaenim?" Minghao segera bangkit dari duduknya untuk kemudian membungkukan tubuh.

Wonwoo dengan tampang datar andalannya perlahan berjalan menghampiri Minghao dan duduk di ayunan sebelahnya. Dengan tampang bingung Minghao pun ikut mendudukan dirinya.

"Kau senang?" tanya Wonwoo dengan atensi yang terarah lurus ke depan. Tidak fokus, tidak juga melamun, hanya tatapan kosong.

"Ah? Huh? Maaf, maksud sunbae apa ya?" dahi Minghao secara otomatis mengerut tanda ia tersesat dalam obrolan ini. Ia tidak dapat menangkap maksud apapun.

Wonwoo hanya mendecih. Beberapa menit berlalu penuh kecanggungan –bagi Minghao saja, mungkin- namun tetap tidak ada percakapan yang berarti dari kedua orang yang berada di taman itu. Bahkan Minghao cukup merasa aneh karena kebetulan pagi ini taman sangat sepi. Tidak ada keramaian seperti yang seharusnya.

"Statusmu sekarang adalah kekasih Jun, apa kau senang?" tanya Wonwoo begitu datar.

"I- iya. Tentu aku senang. Sangat malah." Dengan refleks Minghao menatap Wonwoo dengan mata berbinar dan raut wajah polosnya yang begitu memancarkan kebahagiaan.

"Benarkah?" nada Wonwoo terdengar meremehkan. Minghao yang tidak mengerti sama sekali maksud pertanyaan Wonwoo pun hanya mampu terdiam menunggu kelanjutan kalimat Wonwoo.

"Sangat disayangkan. Padahal aku sudah berekspektasi tetapi sepertinya kejadiannya tidak akan semenarik seperti yang sudah-sudah."

"Huh?" alis Minghao menyatu dengan dahi berkerut –lagi- pertanda ia tengah kebingungan. Tanpa aba-aba Wonwoo berdiri untuk menepuk bahu Minghao dan meninggalkannya sendirian, tidak lupa dengan seringaian yang terpampang di wajah datarnya.

oOo

Sudah berlalu beberapa hari namun kejadian di taman ketika bertemu Wonwoo sungguh membuat hati Minghao resah. Ia jadi sering tidak fokus belakangan ini. Hal ini pun tidak luput dari pandangan Jun. Maka sebagai kekasih yang baik dan pengertian, Jun mengajak Minghao untuk pergi menikmati indahnya malam di Seoul.

Sebagai siswa sekolahan yang uang jajannya bahkan masih ditanggung orangtua, maka Jun dan Minghao memilih untuk berkencan sederhana. Mereka hanya pergi berwisata kuliner dari kedai satu ke kedai lainnya untuk mencoba berbagai makanan yang ada.

.

Malam semakin larut dan dingin memaksa Jun dan Minghao menyudahi acara kencan mereka. Minghao yang berada dalam mode manja pun meminta digendong oleh Jun. Tentu saja dengan senang hati Jun menuruti keinginan kekasih manisnya.

"Gege~~~" Minghao berusaha keras mengeluarkan jurus aegyo yang ia punya, berharap Jun akan merespon dengan baik.

"Hm. . ." Jun hanya berdehem tanpa melihat Minghao barang sedikitpun.

"Jun gege~~~" Berusalah Minghao, innernya.

"Neee~" Jun membalas dengan suara dibuat mendayu-dayu dan menengok sedikit untuk menatap Minghao yang menjulurkan kepalanya ke bahu kanan Jun.

"Jun gege~~"

"Apaaaa? Hm? Ada apa?"

Bukannya menjawab, Minghao malah menyandarkan kepalanya di bahu kanan Jun dan menghadap ke kiri sehingga ia bisa melihat lebih jelas wajah tampan Jun dari samping.

"Jun-ie gege~~"

CUP!

". . ."

". . ."

"Hehe jangan memasang wajah seperti itu jika tidak ingin aku memikirkan yang 'iya-iya'." Jun hanya cengengesan.

PLETAK!

"Yak! Berhenti memukul kepalaku! Sekarang aku ini kekasihmu." Karena kaget –dan sakit- Jun menghentikan langkahnya sebentar sambil memasang wajah cemberut.

"Hehe mianhae ge~" Minghao pun mengusap sayang bagian kepala Jun yang dipukulnya tadi.

"Ck!" Jun hanya mampu berdecak sambil menahan senyum, mana tega dia marah sungguhan pada kesayangannya, ups.

"Habis gege bicara frontal sekali. Lagipula siapa tahu jika dipukul, kadar kemesuman gege bisa berkurang." Dengan wajah innocentnya Minghao berkata dengan nada enteng.

"Siapa yang tidak berpikir yang 'iya-iya' jika kekasih manisnya memanggil dengan nada manja dan memasang wajah manis begitu, hm?" Jun bersikukuh membela diri.

"Ish gege!" dengan malu-malu Minghao malah melesakkan kepalanya lebih dalam ke lekuk leher Jun untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Seiring menit berlalu, langkah Jun pun berhenti tepat di depan pagar rumah Minghao. Dengan perlahan Jun menurunkan Minghao dari gendongannya, kemudian mereka saling berhadapan. Jun merengkuh bahu Minghao untuk dipeluknya, lalu dikecupnya dahi Minghao secara lembut guna menyalurkan kasih sayangnya. Minghao pun refleks memejamkan matanya. Ketika kedua pasang mata itu bertubrukan, tanpa sadar jarak keduanya sudah terkikis membuat kedua belah bibir tersebut bertemu.

Jun yang terbawa suasana mulai mengisap bibir atas dan bawah Minghao secara bergantian. Minghao yang masih polos pun hanya mengikuti alur yang Jun buat. Merasa tidak ada balasan, Jun melepaskan ciumannya sebentar dan menaikan sebelah alisnya, bertanya "Kenapa diam saja?" dengan wajah yang sudah sangat memerah Minghao mengerjapkan matanya lucu dan tanpa sadar menggigit bibir, "A-aku tidak mengerti harus apa ge." Sungguh Jun sudah bersusah payah menahan tawa, sesungguhnya inipun adalah ciuman pertamanya. Namun Jun bukanlah lelaki polos yang bahkan tidak mengerti cara berciuman. Tidak, Jun tidak sepolos Minghao.

"Ikuti saja, oke?" tawar Jun pada Minghao. Setelah mendapat anggukan kecil, Jun mulai mencumbu bibir Minghao, seiring detik bergulir membuat ciuman tersebut semakin intens. Minghao yang masih sangat amatir pun hanya mampu membalas sebisanya hingga terdengar lenguhan tertahan, "Hmmpp ah~" dengan brutal Minghao pun memukul bahu Jun mengisyaratkan bahwa ia sudah kehabisan napas.

Keduanya terengah dengan wajah yang memerah. Sekali lagi Jun mengecup kening Minghao dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah.

CUP!

"Sudah malam. Langsung tidur dan jangan lupa nyalakan penghangat ruangan ya. Aku mencintaimu." Jun melambaikan tangan dan mulai berjalan menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah dari rumah Minghao.

"Ne~ Ppai gege.. Selamat malam, semoga mimpi indah." Dengan senyum cerianya Minghao bergegas memasuki rumahnya yang hangat.

Tidak ada yang menyadari bahwa ada siluet hitam yang memerhatikan keduanya dari balik pohon yang tidak terjamah cahaya.

"Sial!" umpat sosok misterius tersebut sambil mengepalkan tangannya.

oOo

Hari berlalu namun ada yang terlihat aneh belakangan ini. Karena Jeon Wonwoo, siswa pendiam dari kelas 3-4 yang tidak pernah terlihat kenal dekat dengan Jun, justru selalu bersama Jun beberapa waktu belakangan ini. Sebagai kekasih yang baik, meskipun terbesit rasa cemburu namun Minghao mencoba mengerti kedekatan mereka. Karena seperti yang Jun katakan, kedekatannya dengan Wonwoo hanya karena mereka ditugaskan oleh Choi saem untuk belajar bersama dalam menghadapi ujian akhir. Kenapa tidak sesama teman sekelas mereka saja? Choi saem beranggapan bahwa kelemahan Jun di pelajaran matematika namun ia begitu unggul di pelajaran biologi, sedangkan Wonwoo kebalikannya, sehingga Choi saem yakin kelemahan dua anak didiknya akan teratasi jika mereka belajar bersama. Hah~ memang terkadang tidak ada yang mengerti pola pikir Choi saem.

Ironi sekali disaat kekasih berada dalam jarak pandang setiap hari namun tidak ada waktu untuk berinteraksi, bahkan hanya untuk sekedar bertegur sapa. Sekarang Jun hanya akan melakukan kontak mata dengan Minghao lalu pergi begitu saja. Walau mereka tetap saling mengabari melalui ponsel, tetap saja terasa ada yang kurang.

.

.

.

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga sekarang sudah terdengar bel pulang, yang tentu saja langsung disambut penuh suka cita oleh seluruh siswa.

"Ya baiklah anak-anak, cukup sampai disini pertemuan kita hari ini. Jangan lupa kita akan mengadakan ulangan di pertemuan berikutnya. Selamat sore."

"Selamat sore, saem!" ucap anak-anak di kelas tersebut kompak dengan nada suara penuh antusias.

Setelah Han saem keluar kelas, Seokmin yang notabene teman sebangku Minghao pun menepuk pundaknya guna mendapat atensi dari sang lawan bicara.

"Hm? Apa?" tanya Minghao dengan alis berkerut.

"Kau hari ini pulang sendiri lagi?" tanya Seokmin, retoris.

"Sepertinya iya. Tapi aku juga tidak tahu, karena Jun gege belum mengirim pesan apapun padaku. Memangnya kenapa?" Minghao menjawab dengan tangan yang sibuk membereskan meja belajarnya.

"Ah~ padahal tadinya aku, Jungkook, dan Bambam akan mengajak mu untuk menonton film bersama di rumah Bambam. Sekalian bertanding games."

Minghao terdiam seperti sedang berpikir, Jungkook dan Bambam yang duduk tepat dibelakang meja Seokmin dan Minghao hanya diam menunggu jawaban Minghao.

"Hm.. Sepertinya hari ini aku tidak ikut. Hehe nikmatilah waktu kalian!" ucap Minghao.

"Yah sayang sekali, padahal ibuku akan membuat masakan China khusus untukmu." Bambam berkata dengan raut wajah sedikit kecewa.

"Sudahlah tidak apa-apa Bam, tidak usah takut tidak termakan. Kau seperti tidak tahu teman kita yang satu ini." Ledek Jungkook sambil menatap jenaka ke arah Seokmin.

"Sialan!" umpat Seokmin.

"Ck! Mulutmu ini!" Bambam berkata sambil tangannya mencubit bibir Seokmin.

"YAK! Kurang ajar!" bentak Seokmin tidak terima. Ketiga temannya yang lain hanya terkekeh, sudah sangat maklum mendengar teriakan Seokmin yang melengking.

"Eh baiklah kalau begitu kita duluan Minghao-ya, kalau kau sudah selesai langsung pulang, oke?" Pamit Jungkook.

"Ne, kalian hati-hati ya!" setelah kalimat Minghao dibalas dengan acungan jempol oleh ketiga temannya, Minghao pun duduk termenung di kelas sendirian. Memikirkan hubungannya dengan Jun yang dianggapnya semakin merenggang. Hatinya hampa, jujur saja dia cukup sedih. Apalagi terakhir kali Jun mengirim pesan padanya tadi pagi dan hanya mengingatkan Minghao untuk berhati-hati dan tidak lupa membawa mantel karena cuaca cukup dingin. Minghao merasa semenjak Jun dekat dengan Wonwoo, hubungannya dengan Jun jadi semakin terasa hambar. Apa Jun sudah berpaling hati darinya? Apa Jun sudah tidak mencintainya lagi? Atau malah dari awal memang Jun salah mengartikan perasaan sayangnya pada Minghao sebagai perasaan cinta?

Daripada terlarut dalam pikirannya dan berpikiran yang tidak-tidak, Minghao pun akhirnya lebih memilih mencari Jun gegenya.

Minghao benar-benar tidak tahu dimana Jun berada, tapi entah kenapa langkah kakinya dengan sendirinya menuntun ia menuju ruang perpustakaan. Karena walaupun Minghao termasuk jajaran murid yang cerdas, ia tidak begitu suka perpustakaan. Membosankan, katanya.

Hal pertama yang ia lihat adalah jajaran rak yang penuh berisi buku dengan aroma khasnya dan penjaga perpus yang sudah berusia paruh baya tengah melemparkan senyum dengan begitu ramah yang dibalas dengan senyuman tak kalah ramah oleh Minghao.

Minghao pun mulai menikmati suasana tenang dan sepi di perpustakaan. Niatnya untuk mencari Jun terlupakan dan ia mulai mencari buku-buku yang mungkin saja menarik perhatiannya.

Namun sangat miris, bukan buku yang menarik perhatiannya. Melainkan pemandangan dua orang yang sangat dikenal Minghao yang berhasil menarik penuh atensinya. Sampai tanpa sadar Minghao meneteskan air mata seraya memanggil salah satu dari mereka yang tengah membelakanginya, "Ju- Jun gege?" lirihnya dengan suara tercekat.

Seakan tersadar dari dunia mereka berdua, yang dipanggilpun menolehkan kepalanya ke belakang dan membelalakkan matanya terkejut saat tahu bahwa Minghao memergokinya sedang dalam posisi yang tidak patut dilihat.

"Ming-Minghao? Se-sejak kapan kau disana ?" tanya Jun terbata-bata.

"hiks. . . " bukannya menjawab, Minghao malah membalas dengan tetesan air mata yang tanpa sadar sudah jatuh dari kedua matanya dan sedetik kemudian dia berlari meninggalkan Jun dan Wonwoo, ya benar. Sosok yang tengah bersama Jun adalah Wonwoo, sunbae yang menimbulkan perasaan cemburu dalam diri Minghao beberapa hari terakhir.

"Hei! Minghao-ya! Tunggu dulu!" dengan panik Jun bersiap untuk mengejar Minghao. Sebelum ia merasakan tarikan di tangan kirinya dan mendapati Wonwoo yang menatapnya dengan tatapan yang penuh permohonan tersirat.

"Mianhae. Jeongmal mianhae Wonwoo-ya. Aku.. aku.. argh! Kau bisa membenciku setelah ini, tapi maaf. Aku benar-benar mencintai Minghao." Lalu Jun pun sudah tenggelam dibalik rak buku yang menjadi sekat dalam perpustakaan itu.

Meskipun Wonwoo selalu menampilkan wajah dingin dan ekpresi yang begitu datar, namun percayalah, ia hanyalah manusia biasa yang bisa menangis juga. Seperti saat ini, tanpa disadarinya air mata sudah berlinangan menganak sungai di wajahnya yang menampilkan gurat penuh kelelahan dan kesedihan. Namun di detik berikutnya ia sudah menyeka air mata tersebut dan bergumam, "Tidak bisa dibiarkan!"

.

.

.

TBC

*Hai! Selamat malam minggu xD Terima kasih buat yang sudah berkenan membaca.

**Kalau berkenan, bisakah tinggalkan jejak? hwehehe see you!