Terima kasih untuk semua reviews yang masuk^^ maaf untuk typo yang bertebaran dan yah~ ada nama yang terlewat untuk di edit xD

yosh~ ini chapter duanya

Blank Space

Chapter 2~

Happy Reading...

.

.

Screaming, crying, perfect storms

Menjerit, menangis, badai sempurna

I could make all the tables turn

Aku bisa mengubah keadaan

Rose garden filled with thorns

Taman mawar penuh duri

Keep you second guessing like oh my god

Membuatmu terus menerka-nerka

Who is she? I get drunk on jealousy

Siapakah gerangan dia? Aku kepayang dengan rasa cemburu

But you'll come back each time you leave

Tapi kau kan kembali tiap kali kau pergi

Cause darling I'm a nightmare dressed like a daydream

Karena kasih, aku adalah mimpi buruk yang berdandan bak lamunan

.

.

.

"Jungkook sudah tidur ?"

"Ya..."

Kamar Jungkook tidak begitu besar, mereka memang biasanya tidur bersama, tapi di kamar Yoongi. Tempat tidur Jungkook sempit, hanya muat untuk si kecil belum lagi tempat tidurnya di penuhi semua koleksi boneka-bonekanya dari Jimin, bukan cuma Bunny, Jungkook suka boneka, action figure juga ia suka sebenarnya tapi Jungkook lebih suka tidur di temani koleksi bonekanya.

"Besok kau ada jadwal pagi ?" Jimin bertanya hati-hati, tidak berharap juga sebenarnya Yoongi mau menuruti keinginannya malam ini. Ia tau Yoongi terlihat cukup lelah dengan kuliahnya. Memasuki semester akhir memang seperti itu, dulu ia juga sama.

"Tidak, kenapa ? Kau ingin meminta jatahmu ? Aku heran kenapa kau tidak meminta pada Jisoo saja ? Kukira kau normal."

Yoongi merebah di samping Jimin, memejamkan matanya tapi tidak berniat tidur.

"Entahlah... sejak aku melakukannya denganmu aku tidak tertarik lagi dengan wanita. Jisoo hanya tunanganku bukan seseorang yang aku inginkan, lagipula aku bertunangan dengannya hanya karena bisnis."

Jika sudah begini Jimin tidak akan mendiamkan Yoongi begitu saja, ini salah Yoongi sendiri kenapa ikut merebah disana, padahal ia tau seekor singa tengah lapar dan ia adalah mangsanya yang siap di terkam, seperti menyerahkan diri saja.

Jimin memeluk pinggang Yoongi, memaksa namja manis itu untuk menghadap ke arahnya, menghirup leher Yoongi, baunya tetap sama. Bau vanilla.

Sudah lama ia tidak pernah menyentuh temannya itu. Padahal dulu mereka sering melakukannya, Jimin sibuk dengan bisnis dan Yoongi sibuk dengan belajarnya. Keduanya sama-sama rindu, tapi rindu Jimin jauh lebih besar jika soal begini.

"Eungh~" Yoongi melenguh, lidah Jimin mulai bermain di leher mulusnya bukan menghirup lagi.

"Nantihh~ Jungkook... bangunhh.. eummhh~" posisinya berubah sekarang, mereka tidak tidur menyamping sambil berpelukan, Jimin memutar posisinya menjadi ia yang menindih Yoongi, jika sudah begini menolakpun tidak bisa, karena Yoongi juga menginginkannya.

"Tidak akan. Kita sering melakukannya saat Jungkook tertidur, jangan merusak suasana, Min Yoongi !" hasrat Jimin sudah tidak mampu di tahan lagi, persetan jika nanti Jugkook terbangun lalu menangis, toh pintu kamar sudah ia kunci, anaknya itu bisa menunggu sebentar sambil menangis di luar saja, dulu juga begitu sampai saat mereka klimaks Yoongi menendangnya lalu berlari membuka pintu dan menggendong Jungkook.

Jika terulang, kejadiannya juga pasti akan sama seperti itu tidak ada yang perlu di khawatirkan, bukan ?

"Manis."

"Eummhh~" Jimin mengecup bibir Yoongi berkali-kali, ia penasaran kenapa rasa manisnya tidak pernah hilang, semakin sering ia kecup rasanya semakin manis, jadi ia terkam saja, ingin merasakan lebih rasa manis itu.

Bibir mereka saling berpagut basah, decakan saliva terdengar nyaring, tangan mereka juga ikut mengambil peran masing-masing. Tangan Yoongi meremas kedua lengan Jimin, menyalurkan rasa nikmat akibat permainan tangan Jimin sendiri di dadanya.

Yoongi tidak tau kenapa dulunya ia menawarkan diri untuk menjadi partner sex Jimin, kenapa juga ia tidak mau ketika Jimin mengajaknya menjalin hubungan yang lebih serius, ia lebih nyaman seperti ini, dulunya. Tapi melihat Jimin yang nyaman sekarang entah kenapa hatinya menolak, ia tidak mau Jimin terlalu menganggap santai hubungan seperti ini. Lama-lama hatinya terasa nyeri juga.

Meski ia tau Jimin juga menjadi gay karenanya, tapi kenapa harus bertunangan dengan Jisoo ?

Alasan bisnis tidak bisa diterima sepenuhnya oleh Yoongi tapi tidak juga diprotes Yoongi, entahlah maunya Yoongi itu apa. Ia sendiri tidak mengerti apalagi orang lain.

Lalu maunya Jimin apa ? Jimin sendiri sama tidak mengertinya seperti Yoongi. Kadang melihat senyum Jungkook, membuatnya yakin jika ia harus memiliki Yoongi secara utuh sebagai pasangan hidupnya, tapi terkadang Jimin juga ragu, takut Yoongi menolak seperti dulu. Siapa juga yang mau hidup dengan seseorang yang sudah merusak segalanya. Biar saja seperti ini dulu, sampai hatinya benar-benar yakin.

Semakin malam permainan mereka semakin panas, maklum saja mereka hanya bisa menyalurkan perasaan lewat acara malam mereka. Tidak usah banyak kata, tindakan saja sudah lebih dari cukup.

"J-jiminnnn~ assshhh~"

Meleburkan rasa lewat peluh, keduanya menyatu, mengungkapkan apa yang selama ini mereka simpan, Jimin bermain lembut. Tidak seperti malam yang sudah-sudah sebelumnya. Lebih posessif, mengajak Yoongi untuk mencapai puncak kenikmatan bersama.

"Aaaaarggghhh~ Jimin !"

"Aku mencintaimu." terlalu lirih dan Yoongi terlalu lelah untuk sekedar mengingat bisikan Jimin di telinganya, matanya sudah terpejam hanya mulutnya saja yang terbuka mengais udara. Entahlah~ besok ia mengingatnya atau tidak.

.

.

.

"Aku tidak mau sekolah, Yoongi ! Kalian jahat, meninggalkan aku tidur dengan Bunny, padahal aku rindu tidur dengan kalian, hiks~"

tadi pagi saat terbangun Jungkook sempat menangis sambil membentak Holly, ia kira Holly benar-benar menculik Yoongi dan Jimin melihat bagaimana Holly tidur dengan nyenyaknya di sudut kamar tidur Jungkook.

Tangisannya semakin kencang ketika Holly tersentak bangun dan menggonggong, tidak keras juga tapi Holly sepertinya sakit hati, selalu di salahkan oleh Jungkook untuk suatu hal yang mustahil bisa dia lakukan.

Jungkook kira Holly mengejeknya, jadi ia melempar semua boneka-bonekanya ke arah Holly, tangisannya lebih kencang lagi dan gonggongan Holly juga tak kalah kencang setelah di lempar banyak benda seperti itu.

Yoongi yang terlalu sensitif dengan bunyi sekecil apapun terbangun, memakai kemeja Jimin lalu berlari cepat ke arah kamar Jungkook sambil sesekali mengaduh. Pinggangnya sakit, selangkangannya juga, dan pelakunya masih terlelap dalam tidur nistanya.

Saat Yoongi kesana, Jungkook berhenti menangis, turun dari tempat tidur dan menerjang tubuh Yoongi hingga terjatuh ke lantai. Yoongi berteriak keras tentu saja, bokongnya sakit sesakit-sakitnya. Ia ingin menangis, tapi malu. Dan anak manisnya itu semakin menambah sakitnya saja, terus berlari di ruang tamu menolak untuk mandi pagi, ceritanya si kecil merajuk tidak mau pergi sekolah hari ini. Takut jika ia di tinggalkan lagi oleh kedua orang tuanya.

Yoongi tertatih sambil memegangi pinggangnya yang sakit, sudah seperti nenek-nenek saja ia sekarang. Jungkook tidak mau berhenti, tidak mau juga Yoongi menyerah mengejarnya.

"Aku tidak mau, Yoongi !"

"Jungkook ! Auw~" Yoongi pasrah, bokongnya benar-benar terasa sakit setelah terjatuh di terjang Jungkook tadi, bisa berdiri saja sudah untung, lalu mengejar Jungkook ? Ia tidak sanggup lagi.

Mendudukan dirinya di sofa dengan hati-hati, Yoongi kemudian memijat pinggangnya. Belum lama, tapi Jungkook sudah mendekat padanya lalu menarik lengannya untuk berdiri.

"Yoongi, ayo kejar aku ! Ayo, Yoongi ! Jangan duduk !" maunya bocah itu apa sih ? Bokongnya semakin sakit gara-gara siapa ? Ayah dan anak menyusahkan saja.

"Terserah~ terserah. Kau tidak mau mandi, terserah. Kau tidak mau sekolah juga terserah. Terserah kau !"

"Kau marah ? Hueeee~ jahat... kau jahat~ hiks~"

"Yak ! Yak ! Jungkook !" si kecil terus memukul dadanya dengan brutal, sekarang seluruh tubuhnya terasa sakit. Remuk.

"Eh ? Yoongi, lehermu kenapa ? Pahamu juga memar, kau kenapa ? Hiks~"

Ouh~ sial... Yoongi juga baru sadar banyak bekas kissmark yang di buat Jimin di tubuhnya, kenapa juga Jungkook harus melihatnya ? Sekarang bagaimana ia menjelaskannya pada Jungkook ?

"Tidak usah peduli padaku, anak nakal."

"Hiks~ kau marah ? Jangan marah, Yoongi ! Hueeeee~"

Cklek~

Hhh~ Jimin bangun juga, setidaknya Yoongi tidak akan menderita lebih lama. Tangis Jungkook terhenti, ia melepaskan tangannya yang sedari tadi menarik lengan Yoongi untuk berdiri, si kecil berlari ke arah Jimin lalu memeluk kaki ayahnya yang hanya berbalut boxer saja.

"Hey, ada apa ? Kau membuat kesal Yoongi lagi ?" meraih Jungkook dalam gendongannya, Jimin menghapus airmata di pipi si kecil. Anaknya itu pasti tidak mau mandi pagi lagi. Jungkook tidak suka mandi pagi, sama sepertinya.

"Hiks~ Yoongi marah padaku, Jimin. hiks~"

Yang di tuduh diam saja sambil terus memijat pinggangnya, Jimin kasian juga. Ia berjalan ke sana lalu ikut duduk di samping Yoongi dengan Jungkook dalam gendongannya. Jungkook sembunyi di dada telanjang Jimin, takut Yoongi benar-benar marah padanya.

"Kau tidak kasihan pada Yoongi, hmm ? Pantas saja temanmu hanya Taehyung, tidak ada yang mau berteman dengan anak pemalas. Kau mau Taehyung tidak berteman denganmu lagi ?"

"Aku tidak mau, hiks~ aku suka Taehyung, Jimin !" Jungkook menggeleng lalu mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembab, hidung kecilnya memerah, pasti sudah lama anaknya itu menangis.

"Kalau begitu kau harus rajin mandi pagi, tidak usah di suruh Yoongi lagi. Nanti badanmu bau kalau tidak mandi, Taehyung tidak akan suka anak bau."

"Benarkah ?"

"Tentu saja. Kau pikir punya wajah manis saja sudah cukup ? Tidak, Jungkook. Kau juga harus membiasakan hidup bersih." Yoongi yang tadi diam akhirnya ikut bicara juga, Jungkook hanya mengangguk kecil lalu turun dari pangkuan Jimin.

Ia melipat kedua tangan kecilnya di dada, matanya menyipit tajam ke arah Yoongi dan Jimin.

"Baiklah~ aku akan pergi mandi lalu berangkat sekolah, tapi nanti kalian harus menjemputku, ya ? Jangan tinggalkan aku lagi !"

Jungkook menghentak kakinya kesal, pokoknya seharian ini ia harus dapat jatah jalan-jalan bersama kedua orang tuanya. Lengkap. Bukan hanya satu pihak saja. Ada Yoongi tak ada Jimin, ada Jimin tak ada Yoongi. Ia mau ada keduanya. Jangan ada Hoseok, jangan ada Jisoo, meskipun dua orang itu cukup baik tapi Jungkook tetap tidak suka.

.

.

.

"Ingat ! Jangan nakal dan belajar yang rajin, okay ?"

"Dan jangan terus mengganggu Taehyung, Jungkook !"

"Aku tidak mengganggunya, Yoongi ! Aku hanya ingin ikut Taehyung kemana saja, aku suka bau Taehyung, seperti anak-anak."

Jimin terkekeh sementara Yoongi memijat pelipisnya pelan, anaknya itu menurun pada siapa ?

Bau anak-anak katanya ? Lalu dia sendiri apa ?

Dasar bocah~

"Ya.. ya.. terserah kau saja. Pergi sana !"

"Tidak mau. Kalian belum mencium aku."

Keduanya tersenyum kecil lalu berjongkok mensejajarkan tubuh mereka dengan Jungkook, Yoongi cukup kesulitan karena bokongnya masih sangat sakit, untung saja Jimin mau membantunya.

Chu~

"Aku mencintaimu, Jungkook." Jimin mengecup pipi kiri dan kanan Jungkook, kening lalu bibir. Jungkook membalas melakukan hal yang sama di akhiri dengan sebuah pelukan kecil.

Chu~

"Aku mencintaimu, Jungkook." giliran Yoongi sekarang melakukan hal yang sama seperti Jimin, dibalas sama juga oleh Jungkook tapi pelukannya lebih lama.

"Maafkan aku, Yoongi. Aku janji tidak akan membuatmu marah lagi, asal kau jangan pergi dengan Hoseok, ya ? Aku mencintaimu."

Yoongi hanya tersenyum lembut lalu membetulkan letak topi sekolah Jungkook. Si bocah balas tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rata.

"Aku mencintai kalian, nanti jemput aku ya ? Lalu kita jalan-jalan, makan es krim dan beli teman untuk Bunny. Holly tidak usah di belikan teman, tidak ada yang mau berteman dengannya, dia bau."

"Kkkkk~ iya... nanti aku belikan banyak teman untuk Bunny, okay ?"

"Janji ya, Jimin ? Jangan bawa Jisoo, bawa Yoongi saja."

"Iya."

Jungkook puas dengan jawaban Jimin, tidak usah mendengar jawaban Yoongj karena jawaban 'ibunya' pasti ketus apalagi ia sudah mengait-ngaitkan Holly, Yoongi pasti akan marah lagi. Jadi cukup dengarkan Jimin saja.

"Anak itu. Jangan terus memanjakannya, Jimin !"

"Tidak apa-apa. Lagipula, untuk siapa aku bekerja jika bukan untuk Jungkook ?"

"Terserah kau saja."

Jimin memeluk pinggang Yoongi menuntun namja manisnya untuk masuk mobil kembali.

"Soal ucapanmu... kau benar tidak akan pergi dengan Jisoo lagi ?" Yoongi mengutuk bibirnya, kenapa juga ia jadi seperti Jungkook ? Menanyakan suatu hal yang cukup gila.

Tapi ia memang berharap Jimin benar-benar serius ketika mengucapkannya, bukan sekedar menenangkan Jungkook saja.

"Entahlah~" lagi. Jimin tidak pernah memberi suatu kepastian. Jadi untuk apa Yoongi terus berharap ? Jungkook ?

Yoongi rasa anak kecil lama-lama juga akan mengerti jika pada akhirnya ia harus tidak bersama Jimin.

"Jisoo wanita yang baik, aku tidak mau menyakitinya." jawaban Jimin cukup jelas. Cukup juga membuat hati Yoongi terasa nyeri. Kenapa ?

Jimin memilki kehidupannya sendiri, jangan terus beranggapan jika Jungkook bisa mengikat hubungan mereka ke arah yang lebih dari sekarang. Tanpa hubungan yang pasti pun Jungkook sudah cukup senang, mungkin. Jungkook sendiri tidak pernah mengatakan dengan jelas apa keinginannya. Tidak bersama pasangan masing-masing bukan berarti Jungkook mau keduanya menikah, bukan ?

Ouh~ Yoongi tidak tau, itulah yang Jungkook inginkan. Sebuah ikatan pernikahan antara Yoongi dan Jimin, tentu saja.

.

I'm dying to see how this one ends

Aku tak sabar mengetahui bagaimana hal ini akan berakhir

So it's gonna be forever

Jadi ini kan abadi

Or it's gonna go down in flames

Atau kan sekejap saja

You can tell me when it's over

Kau boleh memberitahuku saat semuanya telah berakhir

If the high was worth the pain

Andai kesenangan ini senilai dengan penderitaan

.

.

.

.

Jimin tau jika Yoongi pasti akan banyak mengeluh sakit setiap kali mereka berhubungan badan seperti semalam, tapi tidak pernah separah ini. Ya... mungkin sudah lama mereka tidak melakukannya jadi kejadiannya sama seperti pertama kali mereka melakukan.

Yoongi tidak berhenti mengeluh sakit pinggang dan bokong sepulang dari mengantar Jungkook tadi, Jimin berniat pulang dan berangkat ke kantornya, tapi Yoongi menolak di bawa pulang, alasannya jika di rumah ia sendirian tidak ada yang membantunya berjalan jadi ia ingin pulang ke rumah Jimin saja.

Jimin tidak keberatan ia khawatir juga pada Yoongi. Tapi setelah sampai Yoongi merengek tidak mau ditinggal.

"Lebih keras, Jimin !"

"Kau ini, tanganku mati rasa jika terus memijat pinggangmu."

"Kau pikir siapa yang membuatku jadi begini, huh ? Ini sakit Jimin, sakit. Lain kali kau juga harus diposisi seperti aku supaya kau tau bagaimana rasanya, auw~ pelan-pelan, Jimin !"

"Ck~ tadi katamu lebih keras sekarang pelan-pelan."

"Iya tapi tadi itu sakit, kau sengaja kan ? Kalau tidak mau memijatku ya sudah, antar aku pulang saja."

"JANGAN !"

"Eh ?"

Hey, siapa yang berteriak ? Itu bukan suara Jimin, lagipula suara keras itu berasal dari luar kamar Jimin.

Keduanya menoleh ke arah pintu, pantas saja pintunya tidak di kunci dan tersangka utama yang berteriak tadi itu ibunya Jimin.

Seokjin. Ibu muda itu tengah mengintip anak dan calon menantunya. Calon menantu ? Tapi Yoongi sudah memberinya cucu yang lucu, calon menantu mana yang memberinya cucu terlebih dahulu tanpa menguatkan statusnya dulu menjadi menantu ?

Hhh~ tidak apa. Lagipula ia sudah lama mengenal Yoongi, dan ia juga menyukai Yoongi terutama Jungkook, cucunya.

Ia sangat senang jika Yoongi dan Jungkook menginap di rumahnya, Jimin jarang pulang ke rumah suaminya juga sama, mereka sibuk dengan bisnis. Jadi dengan adanya Yoongi dan Jungkook rumahnya tidak sesepi hari biasa, ia juga cukup terhibur. Sebenarnya ia pernah meminta Jimin agar mau membujuk Yoongi tinggal di rumahnya saja, tapi Yoongi menolak. Yoongi sadar diri siapa dia dan siapa Jimin. Jika Jungkook yang dipinta tinggal disana, tidak masalah Yoongi pasti mengijinkan saja. Tapi anaknya itu tidak mau, Jungkook lebih suka tinggal di apartemen sederhana Yoongi daripada harus tinggal di rumah mewah tanpa Yoongi.

Makanya sejak kedatangan Yoongi tadi pagi, Seokjin tidak mau jauh-jauh dari Yoongi, merayu juga supaya calon menantu cantiknya itu mau tinggal disini saja. Tapi sang calon menantu lebih suka berada di kamar Jimin. Bukan apa-apa Yoongi hanya tidak mau merepotkan ibunya Jimin kalau Jimin yang repot sih tidak apa-apa, anggap saja balas dendam.

"Mom~ kau sedang apa disitu ?" Jimin heran kenapa ibunya selalu mau tau urusan dia dan Yoongi. Seokjin disini seperti ibunya Yoongi bukan Jimin, terus mengawasi Yoongi dari jarak berapapun, Yoongi berteriak sedikit ibunya pasti mengomel pada Jimin. Di anggap tidak becus mengurus calon istri. Seokjin sendiri tau Jimin sudah memiliki tunangan tapi ia tidak peduli, baginya calon istri Jimin ya Yoongi.

"Heheh~" Seokjin nyegir ditanya begitu oleh anaknya, seperti maling yang tertangkap basah. Malu juga.

"Yoongi, bukankah kau masih sakit ? Tinggal saja disini lebih lama, ya ? Setidaknya sampai sakitmu sembuh. Mommy tidak keberatan jika harus mengasuh Jungkook, tidak apa-apa sungguh !" terlanjur malu, jadi ya sudah tidak perlu sembunyi lagi, ungkapkan saja keinginannya sejak tadi.

"Tapi Jimin tidak mau aku disini, mom. Dia sengaja membuat pinggangku lebih sakit. Padahal aku begini karena dia juga."

"Jika Jimin tidak mau kau tinggal disini tinggal mengusirnya saja, kau tidak perlu khawatir !"

"Mom~ kau tega mengusirku ?"

"Tentu saja. Memangnya kau siapa ?"

"Yang anakmu disini aku, mom bukan Yoongi."

"Terserah aku."

Ibunya selalu begitu, menganaktirikan dia yang notabene adalah anak kandungnya sendiri, Jimin tidak bisa melawan, dosanya sudah banyak tidak ada niat untuk menambahnya lebih banyak lagi. Biarkan saja apa mau ibunya.

"Jimin, ajak Yoongi makan !"

Jimin lupa fakta itu, dari tadi pagi Yoongi belum makan nasi, hanya roti waktu sarapan tadi bersama dia dan Jungkook.

"Tidak usah, mom. Aku mau tidur saja, badanku sakit semua. Jimin, bangunkan aku saat menjemput Jungkook nanti, ya ? Dan jangan pergi kemanapun, diam disini temani aku tidur !"

"Kkkkk~ kau tenang saja chagie, mommy akan mengunci pintunya, selamat tidur !"

"Hhh~ kau sudah punya seorang anak, ingat itu ! Tapi sifat manjamu tidak pernah hilang."

"Terserah. Ayo tidur ! Peluk aku !"

Jimin enggan, tapi merebah juga di samping Yoongi. Si manis menggeser posisi tidurnya lebih merapat pada Jimin, sedikit meringis juga, bokongnya masih perih.

"Jimin !"

"Hmm~ ?"

"Tidak jadi."

Yoongi semakin menenggelamkan kepalanya di dada Jimin. Yoongi juga sama seperti Jungkook, ia suka baunya Jimin. Ia nyaman berada dalam pelukan Jimin, ia ingin terus seperti ini.

Jimin hanya tersenyum dengan tingkah Yoongi, ia memeluk tubuh kecil calon istrinya, menaruh dagunya di kepala Yoongi, lalu mengelus punggung Yoongi lembut. Tertidur juga, biar ibunya saja yang jadi alarm nanti untuk mengingatkan mereka menjemput Jungkook.

.

.

.

"Jungkook, kau belum pulang ?" si kecil yang di panggil Jungkook menoleh, ada raut sedih dan raut kebahagiaan juga di wajahnya. Ia sedih karena Yoong idan Jimin belum juga menjemputnya tapi ia bahagia karena hal itu Taehyung mau menghampirinya dan duduk di sebelah Jungkook

Biasanya Jungkook yang akan mendekati Taehyung dan mengekor kemanapun Taehyung pergi, sebelum Taehyung menangis dan mengadu pada gurunya Jungkook tidak akan berhenti, jika sudah begitu mereka berdua akan sama-sama menangis.

"Jimin belum menjemputku. Yoongi juga." Jungkook menekuk wajahnya, kakinya tidak mau berhenti memainkan gundukan tanah. Wajahnya sudah memerah, ia ingin menangis tapi malu ada Taehyung di sebelahnya.

Padahal tadi siang mereka saling kejar-kejaran lalu Jungkook terjatuh dan menangis, Taehyung juga ikut menangis, kaget mungkin. Ajaibnya Jungkook malah berhenti menangis lalu menepuk punggung Taehyung, bermaksud menenangkan Taehyung untuk tidak menangis.

"Mau aku temani ? Supirku bisa menunggu."

"Boleh ? Ya sudah~ temani aku ya Taehyung ? Kalau begini Jimin dan Yoongi lama juga tidak apa-apa. Tidak usah menjemput saja sekalian, heheh~"

Jungkook menggeser tubuhnya lebih dekat pada Taehyung, mengapit lengan Taehyung lalu meletakkan kepalanya di bahu Taehyung.

"Aku suka Taehyung."

"Aku juga suka Jungkook, tapi Jungkook menyebalkan, aku tidak jadi suka Jungkook aku suka Bo Gum saja."

"Tidak boleh, Bo Gum itu jelek. Taehyung tampan, Jimin bilang orang tampan tidak boleh dengan orang jelek. Nanti Taehyung juga jadi jelek. Kalau Taehyung jelek aku tidak suka Taehyung lagi, aku tidak mau hueee~ aku suka Taehyung."

"Tapi Taehyung tidak suka Jungkook."

"Taehyung jahat, aku akan lapor polisi. Yoongi bilang orang jahat akan di penjara."

"Benarkah ? Aku tidak mau jadi orang jahat. Aku suka Jungkook saja."

Jungkook puas dengan jawaban Taehyung. Sebenarnya Jungkook sendiri tidak tau penjara itu apa, ia hanya meniru yang sering Yoongi ucapkan padanya ketika ia bertingkah nakal.

"Jungkook ?" itu suara Yoongi, Jungkook senang mereka menepati janjinya untuk menjemput dia di sekolah. Tapi mengingat Taehyung ada disebelahnya kini, raut wajah Jungkook berubah.

"Yoongi ! Jimin ! Kenapa kalian datang ?" dua orang tua di depannya saling berpandangan heran, apa Jungkook terbentur sesuatu lalu hilang ingatan ?

"Apa maksudmu, huh ? Siapa yang tadi pagi merengek ingin kami jemput ?"

"Aku tau. Ck~ kalian menyebalkan." Jungkook mempoutkan bibirnya kesal, ia bangkit lalu mendekat ke arah orang tuanya.

"Jungkook, aku pulang ya ?" Jungkook kembali mendekat pada Taehyung lalu memeluk lengan Taehyung sambil terisak.

"Jangan pergi, hiks~ ikut aku pulang saja, ya Taehyung ? Ayo~" si kecil menarik lengan temannya menuju mobil Jimin. Jungkook masih ingin berduaan dengan Taehyung, jika supinya tadi bisa menunggu, harusnya supir Taehyung juga bisa menunggu sampai nanti malam Jungkook tidur di temani Taehyung.

"Aku tidak mau, Jungkook. Nanti eomma ku marah."

"Hiks~ tidak boleh kau harus pulang ke rumahku. Jimin kau jangan diam saja, bantu aku mambawa Taehyung pulang, ayo Jimin bawa Taehyung pulang, hiks~ kau juga Yoongi bawa Taehyung pulang, ayo !"

"Aku tidak mau Jungkook, hueeee~ eomma..."

"Aku mau Taehyung, aku mau Taehyung, hueeeeee~ bawa Taehyung pulang..."

"Taehyung bukan boneka yang bisa kau bawa seenaknya Jungkook."

"Aku tidak mau tau, Yoongi, hiks~"

Jimin terpaksa menggendong Jungkoook lalu memasukkannya ke mobil, ia juga mengantar Taehyung yang masih terisak ke mobilnya, menunduk hormat pada supir keluarga bocah itu, meminta maaf atas tingkah anaknya. Sang supir hanya tersenyum maklum, anak-anak memang seperti itu.

Dan sekarang Jungkook lupa dengan ucapannya tadi pagi, ia tidak mau lagi jalan-jalan, ia tidak mau lagi makan es krim bahkan ia juga tidak mau membelikan teman baru untuk Bunny. Ia hanya ingin Taehyung. Taehyung. Taehyung. Dan Taehyung. Terus itu yang dia racaukan di kursi belakang kemudi.

Yoongi tidak sudi menggendongnya, bukan apa-apa badannya masih terasa serba sakit. Dan Jungkook bukan tipe anak pendiam ketika menangis, terlalu hyperaktif. Membuat badannya semakin sakit saja.

"Jungkook ! Bisa kau diam ? Jika kau terus menangis, aku akan membuangmu disini."

"Hueeeee~ Jimiiinnn... Yoongi jahat !"

.

.

.

"Jungkook, kau mau es krim rasa apa ?"

"Aku tidak mau."

"Sudah ku bilang Jimin tadi seharusnya kita buang saja dia, lalu kita bisa membuat anak yang baru."

"Hueeeee~ jangan ! Aku mencintaimu Yoongi, aku juga mencintaimu Jimin. Jangan membuangku !"

"Kkkkk~ kalau begitu berhenti menangis ! Aku dan Yoongi sudah menepati janji, bukan ? Ouh~ hatiku sakit kau lebih memilih Taehyung daripada kami." Jimin memasang wajah pura-pura sakitnya, ia meringis pelan lalu meremas dadanya sendiri.

Jungkook memang mau di ajak keduanya mampir di toko es krim, tapi tetap saja anak itu tidak mau berhenti menangis bahkan tidak mau memesan apapun, padahal biasanya si kecil paling bersemangat jika sudah di bujuk dengan es krim.

"Maafkan aku, Jimin. Jangan sakit !" si kecil mengangkat kedua tangannya bermaksud ingin di gendong Jimin, sang ayah tersenyum lalu menggendongnya juga. Jungkook memeluk erat leher Jimin ia juga menoleh pada Yoongi dan tangan kecilnya mencoba merangkul leher Yoongi tapi tidak bisa, jadi Jimin mengarahkan tubuh Jungkook lebih dekat barulah si kecil bisa memeluk leher ibunya.

"Maaf ya, Yoongi ! Jangan marah, marahnya nanti saja, ya ? Aku mau es krim coklat."

Yoongi tersenyum, ia tidak bisa benar-benar marah pada anaknya. Ia terlalu menyayangi Jungkook.

"Yosh~ itadakimasu !" Jungkook berteriak dengan aksen Jepangnya yang lucu. Anaknya itu masih lebih dominan dengan budaya Jepang daripada Korea.

Jimin mengerti, Jungkook lahir dan cukup lama tinggal disana.

"Jimin~ aku mau menginap di rumahmu, ya ? Yoongi juga kau harus ikut ! Aku rindu Seokjin mommy, kau tau Yoongi kemarin dia menangis waktu aku di bawa Jimin pulang, aku kasian. Kita tidak pernah menginap disana lagi ya, Yoongi ?"

Jungkook sudah kembali ke mode cerewetnya, terus mengoceh sambil memakan es krim. Jimin dan Yoongi hanya mengiyakan saja, mumpung Jungkook lupa masalah Taehyung.

Dddddrrrttt~

"Ya, Jisoo ? Ada apa ?"

"..."

"Tidak bisa di tunda nanti saja ?"

"..."

"Baiklah~ aku akan kesana !"

Pip~

"Siapa ?"

"Jisoo, dia bilang ada rapat penting yang tidak bisa ditunda, jadi aku harus kesana sekarang."

Yoongi ingin mencegah, tapi ia siapa ? Jisoo lebih berhak atas Jimin daripada dirinya. Lagipula Jimin harus menghadiri rapat bukan ? Tidak akan pergi bersama wanita itu. Tapi tetap saja hati Yoongi berdenyut nyeri lagi, jika bukan Jisoo yang menelpon mungkin tidak akan sesakit ini, keadaannya seolah Jimin pergi karena lebih memilih Jisoo daripada dirinya dan Jungkook.

"Kau mau kemana, Jimin ?" Jungkook yang menyadari sang ayah akan pergi meremas ujung kemeja Jimin, noda es krim membekas disana.

"Aku harus pergi. Kau dengan Yoongi saja, ya ?"

"Tidak mau. Kau tidak boleh pergi."

"Tidak bisa. Aku janji akan menjemput kalian, okay ?"

"Aku tidak mau, Jimin. Aku ikut kau saja, ya ?"

"Jungkook ! Biarkan Jimin pergi, kita sudah terbiasa tanpa Jimin, bukan ? Jangan terus bertingkah manja padanya."

DEG~

Dadanya Jimin terasa sakit, kenapa Yoongi harus berkata dingin dan ketus seperti itu ? Apa dia memang tidak di butuhkan untuk Yoongi dan jagoan kecilnya ?

Selama ini ia berusaha mengganti peran Yoongi untuk Jungkook, membayar untuk semua penderitaan Yoongi selama di Jepang membesarkan Jungkook sendirian, nyatanya ia masih tidak bisa. Tetap saja menjadi seorang ayah yang tidak bertanggung jawab.

Lalu haruskah ia terus seperti ini ?

Hatinya tidak mau. Ia ingin selalu ada untuk Yoongi dan Jungkook, ia ingin selalu melindungi keluarga kecilnya. Keluarga ? Benarkah mereka pantas di sebut sebuah keluarga ?

Jimin ragu, ia menatap Yoongi. Mencium kening Yoongi cukup lama, ia memandangi onyx kelam Yoongi sekali lagi, pandangannya kemudian beralih pada bibir. Jimin mengecupnya, lebih manis dari es krim yang di makan Jungkook.

"Maaf, aku harus pergi !"

.

.

.

tbc?!

Nah~ aku udah lanjut dan maaf kalo ada typo lagi ya^^ karena besok aku mulai masuk kerja jadi chapter selanjutnya agak ngaret yak itu juga kalo ada yang nungguin sih -,-

Ah~ ya! Ini bukan ff angst kok jadi tenang aja gak kan sad ending xD meskipun endingnya belum kepikiran tapi aku pastiin ini akan happy ending^^

Terima Kasih.