I'm really really sorry for taking so long to post the next chapter. There was something came up so I can't post the 2nd chapter. And I'm doing my best here to write the sequel, so I hope you guys enjoy it. I really thank you guys for giving me the supportive review, you guys have been so nice to me :)

The next chapter also will be posted soon. So, please keep looking forward for this FF and give me more review and your comment, feel free to criticize as long as it's constructive ;)

Xiexie ni men...

.

.

.

Luhan menunggu Sehun di dalam karavan sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang terapit di jarinya, udara dingin membuat ia membutuhkan kehangatan ekstra. Bosan dengan kesunyian disekitarnya, ia pun memutar lagu seadanya. Empat buah lagu telah mengalun saat Sehun kembali dengan kantung makanan memenuhi tangannya.

" Lama sekali." Gerutu Luhan yang hanya dibalas senyuman oleh Sehun yang kini sudah duduk dibalik kemudi. " Aku akan makan di belakang." Luhan mengambil sekotak makanan dan sekaleng minuman lalu pergi ke bagian belakang karavan meninggalkan Sehun sendiri di kursi depan. Tidak ingin sendiri, Sehun pun menyusul Luhan. Kini mereka berdua ada di sebuh meja makan kecil di dalam karavan Sehun.

"Apa yang kau lakukan disini?" Luhan yang melihat kehadiran Sehun merasa tidak senang.

" Aku juga ingin makan, hyung. Aku tidak mau sendirian di depan." Luhan kesal karena tidak ada alasan untuk menyuruh Sehun pergi dari hadapannya, ia pun hanya bisa menggerutu, " Manja". Lagi-lagi hanya dibalas senyuman oleh Sehun. Mereka pun makan dalam diam. Sehun tidak tahan dengan keheningan diantara mereka, ia pun berusaha memulai percakapan.

" Hyung.." panggilnya, namun Luhan tidak menghiraukan.

" Hyung..." Luhan masih tidak mengalihkan perhatian dari makanannya.

" Lu..." Sehun ingin melanjutkan namun ragu, dan itu sempat membuat Luhan terhenti dari aktifitasnya. "..ge. Lu-ge..!" panggil Sehun dengan nada manja. Luhan yang tengah menelan makanannya tersedak begitu mendengar kata yang keluar dari mulut Sehun. Ia pun kini terbatuk-batuk, wajahnya memerah menahan sakit di tenggorokannya. Sehun pun tertawa puas melihat reaksi Luhan dan memberikannya minum.

" Kenapa kau begitu terkejut hyung? Merasa familiar dengan panggilan itu? Hahahahah."

" Dari mana kau dengar yang seperti itu?" Luhan masih terengah akibat tersedak tadi.

" Dari mana lagi, hyung? Kau pasti sudah tau. Hanya ada satu orang yang memanggilmu begitu dengan tidak wajar." Sehun kembali memberikan senyum jahilnya dan memainkan alisnya naik turun. Luhan pun mendengus kesal, ingin rasanya ia menjambak Sehun saat ini.

" Hyung, apa aku boleh memanggilmu seperti itu juga?" tanya Sehun, kali ini nada bicaranya datar dan dengan suara yang direndahkan seperti ia benar-benar serius menanyakannya.

" Tidak." Jawab Luhan ketus tanpa menatap balik Sehun yang kini tengah memandanginya.

" Kenapa?" Namun Luhan tidak menjawab. Buru-buru Luhan menghabiskan makanannya lalu meninggalkan Sehun yang masih terdiam mengira Luhan akan menjawab pertanyaannya. Hingga Luhan menghilang dari pandangannya, Sehun baru melanjutkan makannya. Luhan segera mengambil posisi di kursi kemudi, tak perlu waktu lama ia pun segera menyalakan mesin mobil dan menancapkan gas. Yang Luhan inginkan saat ini hanyalah segera sampai di rumahnya dan merayakan natal berasama keluarganya, tanpa Sehun.

Di bagian belakang, Sehun yang sudah menyelesaikan santapannya sedang menyandarkan tangannya di tepian wastafel dan memandang lurus ke luar jendela. Di pikirannya kini berputar-putar berbagai pertanyaan yang ia ingin ajukan pada Luhan. Namun baru satu saja pertanyaan yang ia lontarkan pada Luhan ia tidak mendapat jawaban sama sekali. Ia fikir, ia harus mengajukan pertanyaannya ke orang yang bersangkutan juga selain Luhan. Tapi ia habis akal memikirkan cara bagaimana menghubungi orang tersebut. Muncul sebuah ide, ia berniat meminjam telepon genggam milik Luhan untuk mendapatkan kontak orang itu. Tapi ada sedikit masalah, ia tidak yakin Luhan mau meminjamkan telepon genggamnya begitu saja untuk Sehun, ia pun mulai mencari-cari alasan.

Tatapan Luhan lurus ke depan memperhatikan jalan, kakinya dengan konsisten menginjak gas sedang kedua tangannya memegang kemudi. Ia sadar akan kehadiran Sehun di sebelahnya, namun tidak ia hiraukan. Luhan sama sekali tidak ingin berbicara pada Sehun saat ini, jadi lebih baik ia berkonsentrasi mengemudi. Sehun sendiri menyadari hawa dingin menyelimuti udara di sekitar Luhan. Beberapa kali ia melirik pada Luhan mengira-ngira kapan waktu yang tepat untuk melancarkan niatnya. Cukup lama waktu yang tersita namun Sehun masih belum bisa mencari celah untuk memulai pembicaraan, yang ia lakukan hanyalah berusaha mengeluarkan suara-suara seperti berdehem atau mengeluarkan batuk kecil.

Tiba-tiba, dari Luhan timbul gerakan-gerakan kecil. Sekali, dua kali, lalu menjadi terus-terusan. Luhan menggaruk-garuk tubuh sebisanya. Ia merasa sangat gatal sekali hingga ia merasa tidak sanggup menyetir lagi dan menepikan kendaraannya. Sehun pun heran melihat apa yang terjadi, ia tidak segera mengambil alih kemudi namun menyusul Luhan yang sedang mencari sesuatu di kabinet.

" Kau kenapa, hyung?" tanya Sehun khawatir.

" Apa kau punya bedak gatal? Badanku gatal sekali." Jawab Luhan sambill terus berusaha menggaruk sekujur tubuhnya. Sehun pun mulai melihat bintik-bintik merah muncul di wajah Luhan.

" Hyung, apa kau alergi terhadap sesuatu?" tanya Sehun mulai panik.

" Ya, aku alergi udang. Memangnya ke.." Luhan menghentikan kalimatnya karena sepertinya ia menyadari sesuatu. Luhan dan Sehun pun saling melempar tatapan ngeri. " Apa yang ada di makan malamku?" tanyanya sedikit berteriak.

" Hyung, maafkan aku. Aku bersumpah aku tidak tahu kau alergi udang. Tadi yang kau makan itu shrimp roll. " Sehun menjelaskan juga setengah berteriak. Mereka berdua kini panik, Luhan tidak memiliki obat khusus alerginya sedangkan Sehun tidak pernah menangani orang yang terkena alergi. " Hyung, apa kau tidak tahu itu shrimp roll? Apa kau tidak bisa merasakannya di mulutmu?"

" Mana ku tahu Sehun, aku tidak makan udang. Aku ini kan alergi jadi dari kecil orang tuaku tidak pernah membiarkan aku mencicipi udang."

" Apa sebelumnya ini pernah terjadi padamu?"

" Ya pernah, aku tidak sengaja memakan bakso udang yang kufikir bakso ikan karena rasanya mirip. Aku lantas segera dilarikan ke UGD, tapi itu sudah lama sekali."

Luhan maupun Sehun kini frustasi. Mereka saat ini jauh dari rumah sakit karena mereka sedang berada di perbatasan antar dua povinsi. Sehun mencari cara agar setidaknya Luhan aman sampai mereka menemukan rumah sakit.

Luhan terus menggaruk-garuk tidak berhenti. " Berhenti menggaruk, hyung!" pinta Sehun tegas yang membuat Luhan tak berkutik dan menghentikan garukannya walaupun sulit sekali menahan dirinya karena tubuhnya terasa gatal sekali. " Hyung, cepat berbaring di kasur. Aku akan melakukan penanganan sebisaku." Luhan menurut dan mengambil posisi senyaman mungkin di kasur di bagian belakang karavan. Sehun mengotak-atik telepon genggamnya, lalu menghubungi seseorang.

" Eomma!" Serunya pada seseorang di sebrang telepon. Sepertinya yang di sebrang kesal mendengar suara Sehun yang mengejutkannya dan kini sedang memarahi Sehun yang hanya memasang muka tidak sabar mendengar ocehan dari sana.

" Eomma, aku cuma mau bertanya.. Ya eomma, iya aku dengar..eomma kumohon dengarkan aku" Sehun kesal karena ucapannya terus terpotong sedang yang disana seperti kesulitan menangkap suara Sehun, mungkin karena sulit jaringan. Luhan yang tengah bergemul di kasurnya sedang berusaha menahan diri untuk tidak menggaruk lagi.

" Eomma, apa yang harus aku lakukan jika terkena alergi makanan?...bukan..eomma bukan aku...iya aku tidak alergi...eomma jawab saja kumohon! " Kali ini Luhan sedikit terkekeh melihat tingkah laku sunbae-nya itu terhadap ibunya. Sehun pun membuka kulkas segera setelah ia menutup teleponnya. Ia pun memanaskan air di sebuah panci dan menuangkan madu di sebuah mug besar. Tidak lama, Sehun menghampiri Luhan dengan mug yang sudah terisi penuh oleh campuran air hangat dan madu.

" Apa aku harus meminum semuanya?" Sehun mengangguk penuh keyakinan.

" Dan setelah ini kau tidur lah hyung, biar aku yang menyetir."

" Baiklah." Luhan pun meneguk sedikit demi sedikit minuman itu. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman walaupun badannya masih terasa gatal. Hingga tegukan terakhir dari Luhan, Sehun tidak melepaskan pandangannya dari Luhan. Luhan sedikit risih dengan sikap Sehun itu tapi ia tahu kali ini Sehun bukan bermaksud mengganggunya tapi sedang khawatir dengan dirinya. Sehun mengambil mug kosong dari tangan Luhan lalu menyuruh hyung-nya untuk berbaring kemudian menyelimuti seluruh tubuh Luhan hingga menyisakan kepalanya saja yang tengah memakai topi berbulu.

" Selamat istirahat hyung, sekali lagi aku minta maaf. Tenang saja, aku akan segera membawamu ke rumah sakit sesampainya kita di kota Jinan." Sehun mengucapkan kata per katanya dengan lembut dan diakhiri dengan senyuman yang berbeda dari senyum jahilnya yang biasa.

" Ya, tidak apa-apa." Luhan ragu mengucapkan kalimat berikutnya tapi, " terima kasih, Sehun." Luhan merasa perlu menghargai usaha Sehun yang merawatnya. Jujur karena saat ini Luhan merasa nyaman dan lebih baik dari sebelumnya, gatal-gatal ditubuhnya pun serasa berkurang. Sehun mengangguk menanggapi ucapan Luhan lalu pergi, Luhan pun tidur dengan nyaman.

Sambil mencuci mug bekas Luhan Sehun mengarahkan pandangannya ke luar jendela yang gelap. Disana ia mendapati pantulan dirinya yang sedang tersenyum. Mengapa rasanya malam ini manis sekali? Pikirnya. Setelah selesai, ia pun mengemudikan karavannya menembus kegelapan malam.

.

.

.

TBC