Sakura dan Sasuke tidak lagi seperti biasanya, mereka tidak saling berbicara, jika mereka berdua berpas-pasan disekitaran kantor, mereka hanya menunduk tidak saling menatap atau menegur. Semuanya menjadi tidak seperti biasa lagi, seperti ada yang berubah pada diri Sasuke.
Bertepatan pada saat Sasuke melepas ciuman yang mereka lakukan tadi pagi, disaat itu jugalah Sakura menyadari bahwa Sasuke tidak menginginkannya lagi, bahwa Sasuke tidak memiliki perasaan yang sama dengan Sakura. Dia mengerti mengapa Sasuke juga menghindarinya sejak kejadian tadi pagi, itu karna Sakura tidak lagi sama seperti yang dulu.
Kenyataan bahwa Sasuke mulai menjauh darinya, membuat hati Sakura perih, seperti tersayat dalam. Membuat Sakura ingin meringis lalu menangis, tapi dia tidak bisa menangis sekarang, saat dimana Sasuke masih berada disekitarannya.
Kini dia tau jawaban dari segala pertanyaan yang akhir-akhir ini selalu menganggu pikirannya. Ya, akhirnya dia tau jawabannya, akhirnya dia tau segalanya. Tau bahwa Sasuke memang tidak lagi menginginkannya. Dan mulai detik ini, semuanya benar-benar berakhir. Tidak ada lagi harapan untuknya.
Haruno's Home
20.18
Setibanya dirumah, Sakura segera mengunci pintu kamar lalu membanting tubuhnya diatas ranjang. Tidak perduli jika Ibunya mulai mengetuk pintu dengan kekuatan penuh untuk mengetahui apa yang terjadi dengan anak gadisnya.
Sakura memang mengabaikan seluruh sapaan yang terlontar untuknya. Baik dari Ibu, Ayah, dan Ino sekalipun yang sedang berkumpul diruang keluarga. Dia tidak berselera untuk bersuara, yang dia inginkan hanya berbaring diranjang dan tertidur lalu berharap besok pagi saat dia terbangun, apa yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi, tidak pernah terjadi agar hubungannya dengan Sasuke tidak sekacau hari ini.
Sakura memejamkan matanya, berusaha untuk tidur namun gagal. Berkali-kali dia mencoba untuk tertidur namun selalu gagal. Pikirannya masih saja memaksanya untuk tetap terjaga dan mulai mencerna apa yang dia lakukan hari ini.
Sakura tidak lagi mengingat apa yang terjadi sebelumnya, yang dia tau kini hanyalah, bahwa Sasuke menghindarinya.
Setetes airmata lolos dari sudut matanya, semakin memperburuk keadaan karna Sakura mulai terhanyut dalam rasa sakit itu dan mulai mengeluarkannya melalui airmata. Betapa miris kisah percintaannya. Menangisi sesuatu yang bukan miliknya.
Ino memakan cemilan yang berada dipangkuannya sambil menunggu sebuah panggilan masuk pada ponselnya. Menanti kekasihnya tiba dirumah untuk mengajaknya pergi jalan-jalan. Itulah yang sudah dijanjikan kekasihnya.
Tepat setelah memasukkan sepotong cokelat kedalam mulutnya, ponselnya berdering dan menampilkan nama seorang pria dilayar ponselnya. Dengan cengiran lebar, Ino cepat-cepat menelan cokelat yang masih sibuk dikunyahnya dari tadi lalu menerima panggilan itu.
"Hai, kau sudah sampai? Baiklah."
Kata-kata Ino menjadi pusat perhatian Ayahnya yang masih duduk disampingnya.
"Kekasihmu?" Tanya pria paruh baya itu setelah Ino memutus sambungan telponnya dengan sedikit senyuman.
"Hmm." Ino mengangguk penuh semangat. "Dimana Ibu?" Tanyanya sambil bangkit dari sofa yang dia duduki.
"Ibu disini." Ujar Ibunya saat mendengar Ino memanggil dirinya. Dengan lesu sang Ibu menghampiri Ino dan sang Ayah. Tidak perlu ditanya apa yang membuatnya tidak bersemangat seperti itu, pasti ini mengenai Kakak perempuan Ino, yaitu Sakura.
"Kakak bagaimana?" Tanya Ino mengikuti ekspresi Ibunya yang telrihat menyedihkan.
"Dia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau berbicara dengan Ibu." Tampak jelas kekecewaan diwajah Ibunya. "Kekasihmu datang? Keluarlah, jangan biarkan dia menunggu."
Ino mengangguk dan meninggalkan Ibunya yang kini berada dalam dekapan Ayahnya.
"Hai," Sapa Ino saat dia telah berada dihadapan kekasihnya.
Kekasihnya tersenyum lemah, terlihat lelah karna pekerjaannya yang menumpuk akhir-akhir ini, begitulah yang Ino tau.
"Hai." Balasnya. "Apa aku terlambat?"
"Tidak. Jam berapapun kau datang kerumahku, aku akan tetap menunggu." Ino tersenyum gembira, sangat gembira. Pasangan kekasih ini memang tidak terlalu sering bertemu, namun mereka tetap berkomunikasi lewat telepon. Karna itulah, Ino selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya saat kekasihnya menyempatkan diri datang menemuinya.
"Kita pergi sekarang?" Tanya pria itu yang dibalas anggukan kepala bersemangat Ino sebagai tanda setuju.
Keduanya diam dalam perjalanan, seperti tidak ada yang bisa dibicarakan. Sebenarnya Ino memiliki banyak pertanyaan, namun dia tidak bisa menanyakannya hari ini karna kekasihnya terlihat berbeda dari biasanya, tidak seperti biasanya.
Wajahnya yang pucat terlihat murung, tidak ada senyuman sama sekali hari ini, dan dia menjadi sedikit pendiam. Ino ingin bertanya, tapi dia sudah tau alasannya. Pasti karna lelah.
Ino harus memaklumi apa yang terjadi, dia tidak boleh bertingkah seperti gadis normal seusianya, karna yang dia jadikan kekasih saat ini usianya jauh diatasnya. Kekasihnya berusia hampir 30 tahun, sedangkan dirinya baru beranjak 21 tahun. Ditambah kekasihnya memiliki kedudukan penting diperusahaan, jadi semakin banyak juga beban yang diterima. Ino tidak ingin egois, dia ingin mengerti keadaan kekasihnya apapun yang terjadi. Apalagi sejak mereka memutuskan untuk bertunangan, lalu menikah setelahnya. Dia harus menjadi dewasa untuk kekasihnya.
Mereka hanya mengitari kota Tokyo, menikmati indahnya nuansa malam di Tokyo yang tak pernah terlihat sepi. Namun, didalam mobil kekasihnyalah justru yang terasa sangat sepi. Sang pengendara pun hanya diam, menikmati keindahan yang ditangkap matanya sendirian tanpa mau berbagi. Padahal Ino siap menampung segala keluh kesah pria itu, namun sayangnya pria itu justru tidak ingin membagi masalahnya.
Tidak terasa mereka telah tiba kembali didepan rumah Ino, Ino tidak ingin mengakhiri hari ini dengan cara seperti ini, dia tidak ingin berpisah, dia tidak ingin kekasihnya pulang secepat ini.
"Sasuke-kun, kau ada masalah?" Tanya Ino hati-hati.
Kekasihnya menoleh, ekspresi wajahnya seperti menyiratkan bahwa dia baru tersadar jika ada Ino disampingnya.
"Astaga," Gumam pria itu pelan namun tetap terdengar oleh Ino. "Maafkan aku." Ucapnya penuh rasa penyesalan.
"Tidak apa-apa." Ino tersenyum walau hatinya merasakan sakit.
"Apa kau ingin berkeliling sekali lagi?"
Ino tersenyum lagi, kali ini menyiratkan kegelian. "Tidak apa-apa, aku tau kau pasti lelah. Kau ingin pulang?" Tanya Ino yang sedetik kemudian disesalinya karna jawaban dai pria itu adalah anggukan kepala. Itu berarti mereka harus berpisah.
"Besok kita akan makan malam bersama keluargaku, kan?" Tanya Ino sambil melepas sabuk pengamannya.
"Tentu." Pria itu tersenyum.
"Ah, Kakak perempuanku sudah kembali ke Jepang, kau harus bertemu dengannya juga."
"Ah, benarkah? Baiklah, sampai besok." Pria itu mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Ino lembut.
Ino turun dari mobil, menyaksikan mobil Audi hitam itu mulai bergerak menjauh darinya. Ino mendengus lelah, apakah pria itu tidak merindukannya? Setidaknya katakan sesuatu yang bisa membuat gadis itu merasa tenang.
"Aku masih merindukanmu.. Sasuke-kun."
Publishing Building, Tokyo, Japan.
07.15
Sakura baru saja tiba dikantor, dan menemukan keanehan saat semua tim kerjanya telah berada diruangan namun dia tidak bisa menemukan Sasuke didalamnya. Sasuke bahkan tidak masuk kerja hari ini karna kejadian kemarin pagi. Apakah seburuk itu reaksi dari ciuman yang mereka lakukan kemarin?
Sakura duduk dikursinya, ingin bertanya pada salah satu rekan kerjanya namun dia kembali mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat sebuah berita yang keesokan harinya akan menyebar luas. Mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak jika Sakura menanyakan keberadaan atasannya, ditambah Sakura hanya karyawan baru ditempat ini.
Jadi Sakura memutuskan untuk mengaktifkan komputernya lalu mulai bekerja, mengecek satu persatu data yang baru masuk kedalam database-nya. Saat masih sibuk berkutat dengan komputernya, segerombolan wanita yang lewat didepan ruangannya tengah ribut membicarakan Sasuke yang tentu saja membuat Sakura berhenti bekerja.
"Benarkah? Sasuke-san akan segera menikah? Astaga, siapa wanitanya?"
Hanya serentetan perkataan itu yang tertangkap oleh telinga Sakura, selanjutnya yang didengarnya hanya dengungan kencang yang memekakan telinganya. Membuat suasana sekitarannya menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Sasuke… Akan menikah?
Haruno's Home, Tokyo, Japan
19.35
Keluarga ini terlalu sibuk mengurusi segala sesuatu yang akan mereka hidangkan di meja makan. Menyediakan hidangan terbaik diatas meja makan sebelum tamu kebanggan hadir dirumah mereka. Ya, Ino akan mengajak kekasihnya untuk makan malam bersama.
Ibunya masih sibuk menata makanan-makanan yang telah siap dihidangkan, Ayahnya larut dalam bacaan majalah politik diruang keluarga, Ino sendiri masih sibuk memoleskan sesuatu pada wajahnya agar tampat terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Kakak belum pulang juga? Dia akan ikut makan malam bersama, kan?" Ino menghapiri Ibunya didapur setelah selesai dengan make up nya. Ino tampak anggun malam ini dengan dress berwarna ungu lembut dengan tataan rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai indah dan diberi sedikit penghias rambut yang berkilau.
"Dia akan tiba sebentar lagi." Sedetik setelah itu, pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sosok lesu Sakura yang tampak lebih pucat dari pagi tadi.
"Kak!" Sapa Ino riang dan berlari menghampirinya. "Kakak ikut makan malam dengan kami, kan?" Tanyanya penuh semangat.
"Tentu. Tapi aku harus mandi dulu, nanti aku menyusul." Sakura memberikan senyum lemahnya lalu meninggalkan Ino begitu saja menuju kamarnya.
Ino menoleh kearah Ibunya untuk menyanyakan apa yang terjadi pada Kakaknya, namun Ibunya justru memasang wajah lesu yang berarti dia juga tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Sakura. Pasti sesuatu telah terjadi, karna sifatnya benar-benar berubah.
Suara ponsel Ino mengalihkan segalanya, dengan cengiran lebar Hyojin menerima panggilan itu lalu menutupnya kembali.
"Dia sudah datang." Ino dengan gembira memberitahukan pada Ayah dan Ibu.
Sakura membanting tubuhnya diatas ranjang. Dia butuh istirahat, tapi keadaan tidak mengizinkan karna dia harus hadir dimeja makan sepuluh menit lagi, karna dia telah berjanji pada Ino akan ikut makan malam bersama kekasihnya.
Kekasihnya.
Seketika Sakura kembali teringat dengan kata-kata wanita yang sempat didengarnya tadi. Yang mengatakan bahwa Sasuke akan menikah sebentar lagi. Jadi karna itulah Sasuke menghindarinya. Tapi mengapa Sasuke tidak pernah mengatakan apa-apa padanya? Mengapa Sasuke akhir-akhir ini seakan memberikan harapan pada Sakura bahwa mereka memiliki kesempatan untuk bersama kembali?
Hatinya sakit, terluka terlalu dalam. Seharusnya dia memang menanyakan terlebih dahulu pada Sasuke mengenai status hubungannya, tidak bertindak konyol seperti kemarin dan berakhir dengan akhir yang tidak menyenangkan.
Dia masih menginginkan Sasuke, sangat menginginkan pria itu. Bahkan kalung itupun masih tetap disimpan dan selalu dikenakan. Dia sama sekali tidak bisa melupakan sosok Sasuke Uchiha yang dulu dan hingga saat ini masih selalu berada dihatinya.
"Selamat malam." Sapa pria itu sopan saat Ayah dan Ibu kekasihnya ikut menyambut kedatangannya.
Ibu Ino tentu tersenyum senang melihat ternyata pilihan anaknya tidak pernah mengecewakan. Pria itu tampan, memiliki sopan santun yang patut dihargai, dan juga terlihat dewasa dan siap jika diminta untuk segera menikah.
"Silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri." Ucap Ibunya sambil merangkul Ayah menuju meja makan yang telah di setting sedemikian rupa hingga terlihat mewah.
"Ayo." Ino merangkul lengan kekasihnya dan menuntunnya hingga ke meja makan. Menarik satu kursi untuk kekasihnya dan satu lagi untuk dirinya.
"Dimana Kakak?" Tanya Ino saat Kakaknya tak kunjung datang padahal acara makan malam akan dimulai sebentar lagi.
"Sebentar lagi dia akan turun, tunggu saja." Ibunya tersenyum kearah Sasuke. "Ah, siapa namamu?"
"Sasuke Uchiha."
"Ah, Sasuke Uchi…" Ucapan Ibunya terhenti saat merasa tidak asing dengan nama tersebut.
Dan seketika mata Ibunya melebar karna terkejut ketika mengingat dimana dia pernah mendengar nama Sasuke Uchiha.
"Seseorang yang memberikan kalung inilah yang akan ku perkenalkan pada Ibu."
"Kalian sudah bertemu kembali? Benarkah? Secepat itu?"
"Ternyata dia atasan ditempatku bekerja."
"Astaga, benar-benar seperti kebetulan, kan? Siapa namanya?"
"Sasuke Uchiha."
Terlalu terkejut dengan apa yang didengar, Ibunya sontak berdiri, mendorong kursi kebelakang dengan cepat hingga menimbulkan bunyi berdecit yang membuat semua orang diruangan ini menoleh. "Maaf, Ibu permisi sebentar." Ucapnya terburu-buru.
Dia harus mencegah Sakura agar tidak bertemu dengan mantan kekasih yang masih dia harapkan, dan gawatnya adalah Sasuke, mantan kekasih yang masih sangat dicintai Sakura akan menjadi suami adiknya sebentar lagi.
Sakura yang saat itu baru menyelesaikan make up nya, membenarkan posisi kemeja putihnya yang sedikit berantakan. Dia tidak boleh mengacaukan acara makan malam ini dengan kondisinya yang sangat mengerikan sejak kemarin, dia harus tampil sempurna didepan adiknya dan calon tunangan adiknya.
Setelah merasa sempurna, Sakura menuruni anak tangga secara perlahan, sedikit mendengarkan percakapan yang terjadi diruang makan. Sepertinya dia terlambat, calon tunangan adiknya pun telah tiba dimeja makan, jadi dia mempercepat langkahnya namun tiba-tiba terhenti saat dia mendengar percakapan antara pria itu dan Ibunya.
"Sebentar lagi dia akan turun, tunggu saja. Ah, siapa namamu?"
"Sasuke Uchiha."
Deg!
Spontan langkahnya terhenti diikuti bersamaan dengan napasnya yang juga ikut terhenti beberapa detik. Kakinya gemetar, tidak sanggup lagi menopang berat badan tubuhnya sendiri, jantungnya menggila, kepalanya menjadi pusing mendadak.
Apa dia tidak salah dengar?
Mencoba memastikan apa yang didengarnya tadi, Sakura mengintip dari balik dinding yang langsung memberi pemandangan kearah meja makan, dimana telah duduk empat orang disana tengah bercengkrama hangat.
Sakura segera menarik diri kembali saat melihat Ibunya bangkit. Itu dia, benar-benar dia. Sasuke, Sasuke-nya yang telah duduk manis berdampingan dengan adik perempuannya. Tidak. Apa-apaan ini? Skenario macam apa lagi yang telah Tuhan tulis untuk perjalanan cintanya? Tidak, demi Tuhan tidak! Ino adiknya sendiri!
Sakura kembali menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, bahkan hampir terjatuh saat kakinya berpijak pada anak tangga terakhir jika dia tidak buru-buru berpegangan pada penyanggah. Matanya mulai buram, tidak dapat melihat pandangan kedepan dengan jelas karna airmata yang menggenang dipelupuk matanya.
Sakura panik, tidak tau harus melakukan apa lagi. Dia bahkan lupa dimana letak kamarnya sendiri, kini justru dia masuk ke kamar adiknya. Sakura buru-buru mengunci pintu saat mendengar suara langkah kaki menaiki anak tangga, itu pasti Ibunya yang ingin mencegahnya agar tidak turun kebawah.
Awalnya gadis itu tetap tenang, dia masih bisa mengatur napasnya untuk kembali normal. Dia tidak boleh menangis, dia tetap harus turun kebawah, menemui adiknya dan juga… Sasuke untuk makan malam bersama. Ini pernikahan impian adiknya, dia tidak boleh merusaknya.
"Jangan menangis, jangan menangis… Jangan menangis." Tepat kali ketiga kata itu terucap, airmatanya jatuh.
Akhirnya gadis itu menangis, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang menghujam sekitaran dadanya. Sesak, dia sulit bernapas, dia ingin terisak, dia ingin menumpahkan semuanya, dia harus menangis sekencangnya untuk meringankan rasa sesak itu namun dia tidak bisa, karna Ibunya sudah berada disini. Tau bahwa Sakura berada dikamar Ino dan dia mulai memainkan knop pintu agar pintu itu terbuka.
"Sakura, Ibu tau kau didalam. Tolong buka pintunya." Ucap Ibunya dengan nada penuh kekhawatiran.
Sakura merosot, tidak kuat lagi berdiri dengan kaki yang terus bergetar. Dia menutup mulutnya kuat-kuat dengan kedua tangan, berharap isakannya tidak terdengar.
Pria yang selama ini masih dicintainya habis-habisan, pria yang masih selalu dia mimpikan untuk menjadi seseorang yang paling special didalam hidupnya, pria yang masih menjadi nomor satu dihatinya untuk dijadikan pasangan seumur hidup, pria yang masih selalu ada didalam hatinya ternyata bukan lagi miliknya.
Bukan seperti ini, bukan cerita seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin semuanya berakhir bahagia, dia ingin memiliki Sasuke, dia ingin menjadi istri untuk Uchiha Sasuke, dia ingin menjadi Ibu dari anak-anak Sasuke kelak, dia ingin… Dia ingin semua yang bersangkutan dengan Sasuke.
Dan adiknya, bagaimana bisa mereka saling mengenal bahkan telah memutuskan untuk bertunangan? Bagaimana caranya mereka bertemu? Bagaimana mereka bisa saling jatuh hati? Bagaimana Tuhan bisa membalikkan takdirnya sebegitu cepat, bagaimana bisa Tuhan ternyata menggariskan takdir Sasuke untuk Ino?
"Sakura, tolong buka pintunya sebelum semua orang mulai curiga. Ibu ingin mendengar sesuatu yang seharusnya kau jelaskan." Kembali terdengar suara Ibunya, dan sekali lagi Sakura abaikan.
Apakah Ino tau seberapa besar rasa cintanya pada pria yang sebentar lagi akan dinikahinya? Apakah Ino tau bahwa Sasuke pernah berpacaran dengan Kakak perempuannya? Bagaimana perasaan Ino nanti setelah mengetahui bahwa Kakaknya pernah menjalin hubungan dan bahkan akhir-akhir ini kembali dekat dengan pria yang akan dinikahinya itu?
Pikiran Sakura teralihkan saat melihat ponsel Ino yang menyala karna baterai ponsel telah selesai di charge. Ponsel itu hidup, menampilkan sebuah wallpaper yang menarik minat Sakura untuk melihatnya.
Sakura menghampiri nakas kecil yang terletak disamping ranjang, karna dia kehabisan tenaga, Sakura mulai merangkak mendekati ranjang, kaki dan tangannya masih gemetar, tangisannya pun masih pecah, airmata tak kunjung berhenti mengaliri dan membasahi pipinya.
Setelah melihat tampilan awal ponsel itu, Sakura menyesal setengah mati. Seharusnya dia tidak memiliki rasa penasaran yang berlebihan, karna setelahnya dia akan semakin kesakitan, dia akan semakin hancur. Lebih dan lebih hancur lagi.
"Sakura, Ibu mohon…"
"Ibu? Dimana Kakak?"
Sakura terkejut setelah mendengar suara Adiknya yang ternyata ikut menyusul Ibu. Buru-buru dia menghapus airmatanya yang tentu saja sudah menghancurkan make up dan membuat matanya sembab.
Dengan sekuat tenaga dia bangkit, mencoba berdiri dengan kakinya yang masih terasa seperti jelly, namun berhasil. Setelah membereskan gaunnya Sakura memutar kunci dan pintu kamarpun terbuka, menampilkan Ibunya yang berada tepat dihadapannya, sedangkan Adiknya berada dibelakang Ibu, tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kakak sedang apa dikamarku?" Ino menghampiri Sakura, melirik sebentar kearah kamarnya yang terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu menjadi pusat perhatian.
"Hmm.." Sakura melirik sekilas kearah Ibunya dengan gugup. "Aku kehilangan chargeponselku, jadi aku berniat meminjamnya tapi sedang kau pakai." Sakura tersenyum kaku.
"Ah, sepertinya sudah selesai, nanti ku pinjamkan." Ino tersenyum, menunjukkan senyum yang terlihat seperti senyuman malaikat, membuat Sakura semakin merasa bersalah. Seharusnya dia tidak pernah mendekati Sasuke lagi, seharusnya dia tidak merusak hubungan yang telah dijalin baik-baik oleh Adiknya. Tapi bagaimana dengan perasaannya yang masih begitu kuat? Masih ingin memiliki pria itu.
"Ayo kita turun, akan ku perkenalkan pada kekasihku." Tanpa peringatan, Ino menarik tangan Sakura dan membawanya menuju ruang makan.
Ibunya tampak panik, berusaha menghentikannya namun terlambat. Ino telah menarik Sakura hingga anak tangga terakhir yang dituruninya. Dan setelah berbelok ke kiri, mereka akan saling bertemu. Sakura, Sasuke, dan Ino.
Sasuke yang masih berbincang ringan dengan ayah Ino, tiba-tiba membulatkan matanya selebar yang dia bisa setelah melihat Sakura dan Ino datang dengan bergandengan tangan. Sasuke bahkan tidak bisa menutup mulutnya rapat-rapat setelah melihat… Sakura?
"Sasuke-kun, ini Kakakku yang baru kembali dari Seattle. Namanya Sakura Haruno." Ucap Ino memperkenalkan Kakaknya pada Sasuke yang tentu saja sudah saling mengenal, bahkan lebih dari sekedar kenal.
Sakura ingin mengalihkan tatapannya dari mata Sasuke, ingin melihat kearah lain, kearah mana saja selain kearah pria itu. Namun dia tidak bisa mengalihkannya, dia tidak bisa memerintahkan otaknya untuk berhenti menatap Sasuke.
"Kak, dia Sasuke. Kekasihku." Ino masih dengan gembira memperkenalkan keduanya, tidak bisa membaca ekspresi wajah keduanya yang terlihat sama-sama sakit.
Sakura mencoba tersenyum, tentu saja senyum yang dipaksakan dan terlihat sangat tidak normal. Dia mendekati Sasuke dan menawarkan jabatan tangan pada Sasuke, memberi isyarat bahwa mereka harus saling membohongi satu sama lain demi adiknya. Mereka harus bersikap seolah-olah mereka memang baru saling mengenal hari ini.
Sasuke menerima tangan Sakura dan mereka bersentuhan, lagi-lagi sentuhan ringan yang berhasil membuatnya kehilangan otak jernihnya, sama seperti saat Sakura menciumnya dikantor beberapa hari yang lalu, rasanya gila, seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan ribuan giga.
Sakura lah yang pertama melepaskan jabatan itu, dan seketika Sasuke merasa kehilangan. Mungkin ini bisa disebut karma, mungkin seperti ini rasanya saat dia melepas ciuman yang tengah mereka lakukan begitu saja. Ternyata seperti ini rasanya. Seperti kehilangan.
Sakura memilih kursi yang jauh dari Sasuke, dan berharap Sasuke tidak dapat melihatnya karna terhalang oleh Ino. Lebih baik seperti ini, kan? Suasana meja makan menjadi lebih hening dari sebelumnya, memberikan pertanyaan-pertanyaan tersendiri pada otak Ino mengapa menjadi secanggung ini setelah Kakaknya datang.
Ibu tiba, memilih duduk berhadapan dengan Sakura dan terus mengamati ekspresi wajah anaknya. Ibu nya tidak sungkan melakukan hal itu, dia bahkan tidak perduli dengan tatapan Ino yang menatapnya bingung karna terus-terusan menatap Kakaknya yang tidak pernah balas menatap Ibunya.
"Ayo kita mulai makan malamnya." Suara Ayah memecahkan segala keheningan yang terjadi.
Ino mengangguk setuju sambil terus menyunggingkan senyuman lebarnya, sedangkan Ibu dan Sakura sama sekali tidak bersuara. Sakura terus menatapi piring, sendok, garpu, beserta gelas berisi air putih yang berada dihadapannya, tidak berniat mengalihkan pandangannya padahal jelas-jelas dia merasa risih dengan tatapan Ibunya yang tak lepas menatapnya.
"Kau juga makan." Ibunya mengambil piring yang berada dihadapan Sakura dan mengambilkan makanan untuk anaknya, karna dia tau, jika dibiarkan begitu saja Sakura tidak akan menyentuh apapun, dia hanya akan diam dan itu akan menimbulkan kecurigaan.
Sakura melirik sekilas kearah Sasuke yang ternyata juga diam, dia hanya menerima apa yang Ino berikan untuk dimakan. Apakah ini nyata? Apakah dia tengah bermimpi? Ini memang seperti impiannya, makan malam dengan Sasuke dan bersama keluarganya, tapi tidak seperti ini alurnya, Sakura hadir bukan sebagai calon Kakak ipar pria itu, melainkan sebagai calon istri pria itu.
"Dimana daging steak nya?" Ayah menoleh kearah Ibu, menanyakan makanan yang tadi dibuat namun tidak hadir dimeja makan.
"Ah, masih didapur, sebentar aku am…"
"Aku saja." Sakura memotong ucapan Ibunya, dengan segera bangkit dari kursi yang lagi-lagi membuat semua orang yang berada diruang makan menoleh kearahnya, termasuk Sasuke.
Sakura ingin pergi dari meja makan, dia ingin kembali kekamar dan meratapi kisah percintaannya yang sebegitu mirisnya Tuhan tuliskan. Dia ingin berada jauh dari Sasuke, dia tidak ingin lagi melihat Sasuke. Lalu bagaimana dengan besok? Besok mereka akan bertemu kembali dikantor. Sikap seperti apa yang harus Sakura tunjukkan besok?
Sakura menemukan daging steak yang dimaksud diatas meja dapur, dan sedikit mengernyit saat melihat taburan lada hitam diatas daging tersebut. Sasuke tidak bsia memakan makanan apapun yang diatasnya ditaburi lada hitam, karna pria itu memiliki alergi dengan lada hitam, jika dia tetap memakannya maka tenggorokan pria itu akan terasa gatal dan terus terbatuk bahkan makanan yang telah dia telan akan kembali keluar. Seharusnya Ino tau apa yang bisa dan tidak dimakan oleh calon suaminya.
Sakura kembali dengan sepiring besar daging steak dan meletakkannya ditengah-tengah meja makan –yang dimaksud dengan tengah adalah, daging itu diletakkan disekitar keluarganya saja- Sakura seolah tak mengizinkan Sasuke menyentuh daging itu.
"Eiy, seharusnya kau menawarkan untuk Sasuke juga." Ayah mendorong piring besar itu kearah Sasuke, namun sangat tak terduga karna Sakura langsung menariknya kembali dan meletakkan ditempat semula.
"Dia tidak suka lada hitam." Ucap Sakura yang berhasil membuat semua orang mematung termasuk Sasuke, bahkan nyaris membuat Ino tersedak oleh makanan yang baru saja dikunyahnya.
Ibunya terlihat menutup mata meihat kebodohan Sakura yang sangat cepat memberikan kode pada Ino bahwa mereka memang saling mengenal. Dia tidak ingin teradi pertengkaran antara Ino dan Sakura jika semua ini terbongkar.
"Benarkah?" Ino menggumam pada Sasuke, namun sebelum Sasuke memberikan jawaban Ino telah mengalihkan tatapannya pada Sakura.
"Kakak… Bagaiamana bisa tau?"
Dan sekarang Sakura terdiam, dia belum memikirkan jawaban apa yang harus dia lontarkan pada Adiknya. Haruskah dia mengatakan "Sasuke adalah mantan kekasihku yang masih sangat ku sayangi, dan jika kau tidak tau tentang Sasuke, enyahlah, dan berikan Sasuke padaku." Pikiran gila, kan? Namun Sakura berharap dia benar-benar bisa mengatakan hal itu.
"Kami bekerja disatu kantor yang sama, dan satu team." Sasuke akhirnya membuka suara dan membuka semua kartu yang tadinya masih mereka tutup rapat.
"Apa? Jadi, kalian sudah saling mengenal? Bagaimana aku bisa tidak tau." Ucap Ino yang justru kini menunjukkan ekspresi bahagia. Bahagia ternyata Kakaknya telah mengenal Sasuke, karna dia sedikit khawatir jika Kakaknya ternyata tidak merestui hubungannya dengan Sasuke karna belum saling mengenal. Jadi, kekhawatiran itu seharusnya tidak ada, kan?
Banyak yang tidak kau tau. Gumam Sakura dalam hati.
"Kalau begitu sangat bagus, kan?" Ino kembali tersenyum, yang kali ini diikuti oleh Sasuke.
Publishing Building, Tokyo, Japan
09.15
Sakura menggigit bibirnya gugup saat dia telah duduk dimeja kerjanya, tepat dihadapan Sasuke berada. Suasana tentu saja menjadi canggung setelah kejadian tadi malam, saat Sasuke dan Sakura berada disatu meja makan dengan tema acara keluarga yang membahas masalah pertunangan. Pertunangan antara Sasuke dan Ino.
Sakura merasa seperti orang bodoh, ditambah dengan ciuman yang dia lakukan tempo hari, dia benar-benar terlihat seperti wanita putus asa yang tidak bisa melupakan masa lalunya dan dengan tidak tau malunya masih mengejar pria itu, pria yang telah menjadi kekasih adiknya sendiri.
Sakura tidak ingin muncul lagi di hadapan Sasuke sebenarnya, rasa malunya telah sampai taraf paling maksimal, dia ingin menyembunyikan wajahnya agar Sasuke tidak melihatnya lagi. Bisakah bumi menelannya sekarang juga? Harapan bodoh yang sejak tadi malam selalu diucapkan Sakura agar bisa terkabul.
Walaupun besar keinginannya untuk meninggalkan dan melupakan Sasule, tetap saja didalam hati kecilnya Sakura tidak ingin pergi, dia ingin tetap berdiri dihadapan Sasuke dan melewati semuanya, menyaksikan segalanya. Dia hanya ingin melihat Sasuke-nya bahagia. Apakah pria itu akan bahagia? Sakura berharap Ino sama sekali tidak bisa membuat Sakura bahagia. Jika memang Ino benar-benar tidak bisa membahagiakannya, Sakura masih bersedia menggantikan posisi Ino untuk membuat Sasuke bahagia. Karna Sakura mengerti bagaimana cara membuat Sasuke bahagia.
Dan Ino tidak bisa mencintai Sasuke seperti Sakura mencintai Sasuke
Sasuke sama sekali tidak berbicara pada Sakura, menolehpun tidak dia lakukan sepagian ini, membuat Sakura merasa diasingkan karna Sasuke tidak merubah sikapnya pada karyawan lain, hanya pada Sakura. Sakura ingin menyapa Sasuke, terus-terusan dia berusaha mendekati Sasuke namun pria itu seperti menjauh, menolak adanya interaksi hari ini, apakah segalanya memang salah Sakura?
Dan tanpa terasa, sudah waktunya untuk kembali kerumah. Sudah 10 jam mereka berada disatu ruangan yang sama, dan 10 jam juga mereka tidak saling bertegursapa. Sasuke tampak lelah, seperti menahan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Sakura terus memerhatikan gerak-gerik Sasuke. Saat pria itu memasukkan beberapa dokumen kedalam tasnya, mengecek ponselnya, mengetikkan sesuatu diponselnya, dan mengambil beberapa barang dalam laci meja kerjanya. Semuanya tampak mengagumkan, bagaimana bisa dia terlihat luar biasa tampan seperti itu? Mengapa dulu Sakura tidak menyadari kalau dia telah mensia-siakan pria tertampan yang pernah singgah didalam hidupnya? Apakah ini karma? Tapi mereka berpisah dengan cara baik-baik, tidak bisakan Tuhan mengembalikan mereka dengan cara baik-baik juga?
Sakura tersenyum miris. Seharusnya dia tidak mengharapkan Sasuke lagi, dia tidak boleh menginginkan Sasuke lagi. Sasuke telah memiliki orang lain, Sasuke bahkan akan menikah sebentar lagi. Cukup dia menjadi wanita brengsek yang meninggalkan kekasihnya, jangan menjadi wanita penghancur hubungan orang lain.
Sakura memasukkan kembali barang-barangnya kedalam tas, bersiap untuk pulang kerumah dan melanjutkan lagi tangisnya yang masih belum terasa puas sama sekali. Sakura membentuk sebuah jadwal untuk dirinya sejak kemarin. Bangun, bekerja, pulang, menangis, dan tidur. Bahkan dia melupakan kata makan didalam jadwalnya.
Ponsel adalah benda terakhir yang akan dimasukkannya kedalam tas, namun sebelum tangan gadis itu sempat meraih ponselnya, sudah terlebih dahulu ada tangan lain yang merebutnya. Gadis itu terkejut, saat dia menoleh, Sasuke telah menarik tangannya menuju entah kemana.
"Aw, lepaskan!" Jerit Sakura kesakitan saat Sasuke semakin mencengkram pergelangan tangannya ketika Sakura berusaha melepaskan tangan pria itu dari tangannya.
"Sebenarnya mau kemana." Suaranya merendah, namun tangannya tetap berusaha melepaskan cengkraman Sasuke.
Sasuke sama sekali tidak bicara, Sakura hanya bisa melihat ekspresi wajahnya dari belakang, setidaknya dia bisa melihat sedikit dari wajah tampan itu sedang muram, kesal, dan sedih dalam satu ekspresi. Sakura berhenti memberontak, dia mengalah karna merasa bersalah. Oh, terkutuk dengan rasa bersalahnya! Memangnya kesalahan apa yang telah dia perbuat?
Sasuke melepas cengkraman tangannya saat merasa bahwa tidak mungkin ada karyawan digedung ini yang melewati tempat ini. Sasuke masih membelakangi Sakura, tidak berani menoleh kebelakang dan menatap wajah gadis itu. Sudah cukup dia merasa terhina dengan acara makan malam paling memalukan yang pernah dia lewati tadi malam. Ino adalah adik Sakura? Apakah ini lelucon?
"Kenapa kau membawaku ketempat ini?" Sakura membuka pembicaraan, jika menunggu Sasuke yang berbicara terlebih dahulu, mungkin mereka tidak akan pernah mengatakan apapun sekarang. Dia sangat mengerti sifat Sasuke. "Kalau tidak ada aku mau pulang." Ancam Sakura
Sakura menunggu sedetik, menunggu Sasuke berbalik dan menghadapnya, membicarakan sesuatu yang seharusnya mereka selesaikan. Namun Sasuke tak kunjung beranjak dari tempatnya, jadi Sasuke memutuskan berbalik untuk pergi.
Baru dua langkah kaki Sakura meninggalkan Sasuke tangannya tiba-tiba ditarik paksa lalu tubuhnya dihempaskan kedinding. Sasuke menyudutkan Sakura, menjaga dengan kedua tangannya agar Sakura tidak dapat bergerak.
"Kau tidak pernah mengatakan soal Ino. Kalian menjebakku?" Tanya Sasuke dengan nada frustasi.
Sakura mendengus tak percaya. "Menjebak? Seharusnya aku yang berkata seperti itu." Sakura menegakkan kepalanya, jelas-jelas menantang Sasuke untuk beradu mulut.
Sasuke mengerutkan keningnya, menatap wajah itu lekat-lekat. Wajah yang hanya berada beberapa inchi dari jarak wajahnya, dia dapat melihat kesempurnaan wajah wanita itu dengan jarak sedekat ini, wajah yang telah membuat hatinya berpaling akhir-akhir ini, hingga membuatnya melupakan posisi Ino dihatinya.
"Kau tidak memberitahu Ino tentang kita?" Pertanyaan kedua Sasuke yang berhasil membuat Sakura terkekeh pelan, reaksinya meremehkan. "Kenapa tertawa?" Lanjut Sasuke dengan kening berkerut.
Sakura terkekeh mendengar Sasuke menggunakan kata kita untuk perumpamaan dirinya dan Sasuke. Kata-kata yang menurut gadis itu terlalu manis, dan lagi-lagi menghantam hati Sakura. Bisakah pria ini berhenti membuat Sakura kehilangan akal?
"Kau takut jika aku mengatakan semuanya pada Ino? Sebegitu cintanya dengan Ino, ha?" Sakura mengejek, terdengar mengejek, namun lagi-lagi dia terluka dengan apa yang diucapkannya.
"Lebih baik urusi Ino-mu dari pada mengurusiku. Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga rahasia ini baik-baik." Bertepatan dengan berakhirnya kata-kata terakhir yang diucapkan, gadis itu mendorong tubuh Sasuke kuat-kuat dan dia berhasil, tubuh Sasuke terdorong cukup jauh hingga memudahkan Sakura melepaskan diri dari Sasuke.
Sakura cepat-cepat meninggalkan Sasuke, dia setengah berlari kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal dimeja kerja, lalu setelah itu dia akan kembali kerumah, menikmati rasa kesakitannya yang semakin dalam.
Namun apa yang telah direncanakannya, tidak semudah itu untuk dilaksanakan, karna Sasuke telah berhasil menyusulnya dan ditutup kembali pintu ruangan kerja mereka, membuat Sakura lagi-lagi terkurung berdua saja dengan Sasuke.
"Apa lagi?!" Sergah Sakura jengkel. "Aku sudah bilang aku tidak akan mengatakan apapun pada Ino mengenai hubungan kita, apakah belum cukup? Kau mau apalagi?"
Sakura memundurkan langkahnya berbarengan saat Sasuke memajukan langkahnya. Ada aura gelap yang terpancar dari pria itu, dan Sakura tau akan terjadi sesuatu yang buruk sebentar lagi. Oh, astaga, Sasuke membuatnya takut. Pria itu sudah tau jika Sakura memiliki ketakutan tersendiri saat dia berdekatan dengan pria, dan ini adalah kali pertama Sasuke membuatnya takut, dan itu artinya reaksi Sakura tak lagi sama seperti dulu.
"Seharusnya kau mengatakan tentang Ino." Sasuke berbicara dengan nada menyeramkan.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya, kita memang tidak pernah menyinggung soal keluarga, kan? Aku tidak tau jika akan berakhir seperti ini. Tolong berhenti, kau menakutiku!" Sakura sedikit berteriak, membuat Sasuke akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Sakura dengan eskpresi yang tak terbaca.
"Kau… Takut?" Sasuke terperanjat, memunculkan ekspresi kekecewaan diwajahnya.
"Kau tidak mencintaiku lagi?" Lanjut Sasuke masih dengan tatapan sendu.
"Aku mencintaimu! Aku masih mencintaimu, Sasuke! Tidakah kau bisa merasakannya sejak kemarin? Aku berusaha terus-terusan mendekatimu, bertindak bodoh, melakukan apapun agar aku bisa mencuri perhatianmu lagi. Dan kau memberiku harapan! Kau menerimaku seakan kau juga masih menginginkanku. Kau mau mencoba balas dendam karna aku meninggalkanmu ke Amerika?" Suara gadis itu pecah, hampir mengeluarkan isakan pelan namun berhasil dia tahan.
Sasuke termenung mendengar jawaban Sakura. Sebenarnya tanpa diberitahupun Sasuke sudah tau bahwa gadis itu menginginkannya, sama dengan dirinya, Sasuke juga masih menginginkannya. Namun dia tidak bisa merubah keadaan begitu cepat, dia telah terikat dalam suatu hubungan serius dengan Ino.
Sasuke mencintai Ino, tentu saja. Jika dia telah membuat keputusan hingga sejauh itu, Sasuke tidak lagi main-main dengan pilihannya. Sasuke memang meneirma begitu saja saat Ino meminta untuk meneruskan hubungan mereka ketingkat yang lebih serius lagi, Sasuke tidak bisa menolak, lagipula mereka telah sama-sama matang dalam hubungan yang terjalin singkat, lalu apalagi? Tentu saja dia akan mengikuti alur yang semestinya. Setelah berpacaran, tentu saja mereka akan menikah.
Namun Sakura kembali, menawarkan cinta yang lama, membawa kembali kenangan-kenangan indah yang ingin dia lupakan. Gadis itu kembali bersama dengan dirinya yang dulu, tidak ada perubahan, dan gadis itu terang-terangan menawarkan kembali jalinan kasih yang sangat didambanya dulu.
Sasuke hanya bisa menundukkan kepalanya lalu menarik Sakura kedalam pelukannya. "Maafkan aku." Hanya dua buah kata namun sukses membuat keduanya meneteskan sebutir airmata. Apa Tuhan tidak mengizinkan mereka bersama? Jika memang tidak, tolong pisahkan mereka dengan cara baik-baik, tidak seperti ini.
Sasuke mulai menggerakkan tangannya dibahu Sakura, membuat gerakan berulang hingga Sakura terhanyut dalam kelembutan pria itu. Lagi dan lagi Sakura menyerahkan dirinya pada Sasuke, jelas-jelas dia tau bahwa sebentar lagi, dia akan dihempaskan pada kenyataan yang menusuk hatinya dalam. Namun Sakura seakan tak perduli pada beberapa menit kedepan, dia hanya ingin menikmati detik-detik ini, menikmati saat Sasuke memeluknya. Bisakah waktu berhenti sebentar saja?
Keduanya masih hanyut dalam pelukan itu, saat sebuah ketukan pada kaca besar yang melapisi ruangan tempat kerja mereka dengan ruangan lain terdengar ditelinga mereka, sontak Sasuke dan Sakura saling melepaskan, dan berdirilah Ino ditengah-tengah mereka diluar ruangan.
Ino!
TBC
Sorry banyak typo. Saya sedikit malas memeriksanya lagi kwkw
