Katakan Sejujurnya
.
.
.
.
Disclamer ©Sukitte Innayo by Kanae Hazuki
Sebetulnya Yuka-chan ingin membuat fanfic barunih akan tetapi karena Yuka-chan belom mendalami banget karakter tokoh anime yang akan kubuat fanfic ini jadi Yuka-chan tunda dan memutuskan untuk melanjutkan fanfic yang masih bersambung ini.
Nah, akhirnya Yuka-chan memutuskan untuk melanjutkan chapter kedua "Katakan Sejujurnya" ini deh. Udah lama sih Yuka-chan belom melanjutkan chapter fanfic ini, sebetulnya Yuka-chan capek habis acara tetapi Yuka-chan sering dipaksa Mei sama Yamato untuk membuat fanfic sampai sering dikirimi SMS ancaman beruntun, ADUEH.
Itulah penjelasan awal singkat dari saya, semoga kalian menikmati alur cerita fanfic karya saya hahahaha. Oke Good Reading Nak
.
.
.
Peringatan : TYPO, Cerita Karakter Gaje, Cerita Gaje, Kata kata Author yang nyelip, Salah Kata, OOC, Salah EYD, dsb
.
.
Aku berada di situasi gawat, lebih gawat dibanding kebakaran di daerah kemayoran. Rasanya ingin keluar dari lingkup panas dan gugup di dekat makhluk jangkung mirip slenderman ini. Ia berbicara sok akrab denganku seperti teman saja tapi aku malah risih dengannya meskipun dia memiliki wajah tampan bak pangeran.
"Dia lumayan tampan sih tapi sungguh menyebalkan"batinku sambil memandanginya yang memiliki badan lebih tinggi dariku, aku terasa cebol disini
Diriku juga heran, entah kenapa dia selalu tersenyum seperti tidak ada hal berat yang membebaninya. Padahal orang disamping ini, sedang stress menanggung beban hidup yang terjadi pagi ini. Jika dia bertanya padaku beberapa pertanyaan yang tidak membuatku menarik, aku hanya menjawab dengan jawaban ya dan sesekali dengan senyum terpaksa.
Rasanya ingin melepaskan diri dari rantai situasi menjengkelkan ini, untung saja hanya sedikit murid yang berlalu lalang di sekitar kami kalau tidak kami akan menjadi pusat perhatian mereka. Apalagi cowok jangkung cerewet tapi tampan ini disampingku yang menurutku dia pasti salah satu cogan di sekolah ini dan dia berjalan berdua dengan mahkluk sial dan hina sepertiku. Pasti mereka yang melihat kami akan berpikir yang aneh aneh tentang kami.
Tapi dia tidak terlihat canggung maupun jijik denganku malah dia santai dan mengobrol denganku menganggapku seperti teman. Perasaan apa ini, aku jengkel dengannya sekaligus senang. Aku merasakan kehangatan dan kenyamanan berada di dekatnya sesuatu yang belom kurasakan selama hidupku.
Kuingin ikut berbicara dengannya apalagi jujur aku baru pertama kali mengobrol lama dengan seseorang kecuali dengan keluargaku namun entah kenapa mulutku tidak terbuka ditambah dengan perasaan malu dan gengsiku ini.
"Ehm, apakah kau lapar?" tanya Yamato menghentikan langkah dan bertanya padaku. Aku juga menghentikan langkahku dan aku berdiri disampingnya
"Ya lumayan, tadi aku habis sarapan di rumah" jawabku kembali mengingat nasi goreng sisa kemarin yang kumakan buat sarapan pagi tadi.
"Kalau kau masih lapar, mau tidak kau ikut denganku makan ke kantin, aku belum sarapan tadi pagi masalahnya" ajaknya sambil tersenyum, apa ikut makan bersama dengannya berdua, ya ampun apa yang harus kulakukan, sudah cukup mengobrol bersama berdua sekarang makan, padahal aku baru mengenalnya dan aku tidak menyukainya tapi kenapa hatiku berdegup kencang sekarang
"Boleh, Yamato-san" jawabku pelan sambil menunduk diikuti dengan anggukan Yamato.
Kemudian kami berdua berjalan menuju kantin, aku melihat baru dua kantin yang buka karena jam masih pagi. Aku berharap dia mentratikku makan melihat uang sakuku sekarang memakai uang tabunganku. Tapi itu cuman angan anganku belaka saja karena dia bilang bayar sendiri ya katanya lagi bokek. Aku berpikir cowok macam apa ini, tapi kurasa aku disini bukan siapa siapanya dia jadi mungkin aku tidak punya hak untuk ditraktir olehnya.
Kami memandangi roti roti hangat baru diangkat dari pemanggangan terjejer di atas meja, aroma lezat apalagi rasanya membuat siapapun yang menghirupnya menjadi mendadak lapar. Yamato mengambil sandwich isi daging sapi ukuran sedang dan keripik singkong balado sedangkan aku mengambil roti coklat dan keju. Setelah kami juga mengambil minuman dan membayar di kasir, kami memutuskan duduk di bangku yang ada mejanya dekat taman tidak jauh dari situ
Sambil menenteng tas plastik berisi roti, kami berdua duduk saling berhadapan. Yamato tersenyum padaku dan aku membalasnya dengan muka cuek. Lalu ia mulai makan, lahap sekali ia makan, ia benar benar lapar sekali.
Ia cepat sekali makan sampai ia selesai makan aku yang baru saja menghabiskan roti coklatku.
"Kau mau ini" ia menawari keripik kentangnya, aku tidak sanggup menolak dan aku diam diam mengambil tiga saat pandangannya teralih sesuatu, lumayanlah lagipula harga keripik kentang ini lumayan mahal
"Ayo beritahu namamu siapa, aku tidak nyaman memanggilmu dengan kalimat kamu, kau sekarang" ucapnya tiba tiba sambil mendekatkan wajahnya di hadapanku yang sedang makan roti keduaku membuatku sedikit kaget
"Tidak mau, lagipula kita baru ketemu, juga kalau aku kasih tahu, kamu pasti akan lupa dengan namaku" tolakku tanpa ekspresi, ternyata laki laki ini masih tidak menyerah ingin mengetahui namaku.
"Aku tidak akan lupa, lagipula kau unik dan aku baru pertama mengobrol dengan gadis pendiam dan cuek sepertimu" katanya sambil menyilangkan tanganya tandanya ia tidak lupa denganku. Selama ini dia juga mengangapku diam dan cuek juga.
Aku masih tidak mau menjawab pertanyaan Yamato meskipun dia memaksaku, aku berpikir apakah dia hanya main man denganku. Lagipula aku tidak tertarik dekat dengannya dan aku baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu jadi tidak alasan aku memberi tahu namaku yang berharga di depannya.
"Oh ya kebetulan sahabatku ada di kelasmu, aku ingin tahu, dia bagaimana di kelas?" tanya setelah dia menyerah untuk mengubah keputusanku.
Jujur saja aku bingung harus menjawab apa, aku tidak terlalu tahu soal Si Kenji sahabat Yamato ini jangankan tahu tentangnya bahkan aku tidak tahu orangnya yang mana. Aku orangnya cuek dengan teman teman sekelasku bahkan aku tidak ingin mengingat nama mereka. Aku enaknya jawab apa adanya atau berbohong ya.
"Dia di kelasku, biasa saja orangnya, aku tidak terlalu dekat dengannya" akhirnya aku bisa menjawab meskipun dengan sedikit kebohongan
"Aku tidak percaya itu" tolaknya dengan tegas dan memandangku tanpa senyum yang selalu muncul, seketika aku langsung membeku ketakutan, apakah aku salah bicara
"Dia orang nakal dan paling cerewet yang pernah aku tahu, masak dia orang biasa di kelas, aku jamin dia adalah preman di kelasmu" jawabnya membuatku terheran heran, jangan salahkan aku, aku tidak tahu apapun tentang temannya itu.
Aku cuman pura pura nyengir di depannya dan bersalah di hadapannya, diikuti dengan tawanya. Lalu aku melihat sesosok laki laki berambut cokelat,memakai seragam tanpa jaket sekolah, muka standar, menatap Yamato dengan api api berkobar di sekitarnya. Aku melihat Yamato terlihat ketakutan dan merasakan hawa aneh.
"Halo, Yamato-kun aku sudah mencarimu dimana mana, ternyata kau disini rupanya" ucapnya dengan nada mengancam dan senyum seramnya. Ia memukul Yamato tepat di kepalanya. Yamato meraung kesakitan sampai guling guling di tanah.
"..dan lagi kau membicarakan tentang aku, dibelakangku lagi, sahabat macam kau ini" sambungnya lagi kali ini dia menendang tubuh Yamato sampai seragamnya penuh dengan bekas tendangan kaki.
"Haaa, maaf maaf Kenji, aku tidak tahu kau ada disini, jangan kau tendang lagi" mohon Yamato setelah ia cepat cepat pergi dari sergapan Kenji. Oh jadi dia yang bernama Kenji, aku tidak menyangka cowok bermuka standar ini sahabat Yamato. Aku cuman diam memandang pertengkaran dua sahabat ini bahkan aku punya pikiran untuk pergi meninggalkan tempat daripada aku menjadi saksi pertengkaran mereka di ruang BK.
"Kau ini Yamato" ia menghentikan menendangnya dan mengalihkan pandangannya ke arahku lalu dengan muka sirik.
"Yamato kau jalan bersama wanita lagi, apakah kau tidak bosan bosannya" apa maksudnya bersama wanita lagi, aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan tapi yang kutangkap dan kupikirkan apakah tidak cuman aku cewek yang pernah ia ajak makan seperti sekarang ini.
Ya menurutku wajarlah dia cowok tampan pasti orangnya bebas'kan bersama siapapun. Pasti kujamin mana ada wanita yang menolak ajakannya, tapi jangan samakan aku dengan gadis lainnya, aku menerima ajakannya karena aku merasa bersalah telah membuatnya hampir terjatuh dari gedung lantai 3 kalau bukan karena itu, dibayarpun aku tidak mau .
Yamato menanggapi dengan senyuman lalu bangkit dan duduk di bangkunya kembali, dia menanggapinya begitu pasti ucapan Kenji tidak salah.
"Siapa lagi kali ini Yamato?" tanya Kenji duduk disamping Yamato
"Kau jangan ngomong begitu di depan dia, aku benci kau selalu menjelekkan kalau ada kesempatan, di depan gadis yang sedang mengobrol denganku" marahnya sambil memukul meja, dia marah seram juga
"Kau itu yang jelek, hampir semua cewek kau dekati, apakah kau tidak memberi kesempatan bagi kami cowok cowok SMA ini untuk mengobrol atau PDKT dengan cewek cewek disini" kesalnya membalas ucapan Yamato membuat Yamato hanya senyum senyum usil.
"Aah, sudahlah, kau kenal dengannya, Yamato?"
"Belom, aku baru ketemu dengannya tadi pagi"
"APA?! belom, hey kau jangan kau dekati buaya satu ini, hampir semua cewek digaet sama dia, bahkan sales aja kalah dengannya"
"Jangan sebut aku buaya tahu, kau tidak tahu apa apa, jangan samakan aku yang biasanya bersama gadis gadis itu, aku bersama dengannya karena dia telah menyelamat nyawaku"
"Wah, benarkah itu, gadis kecil seperti ini menyelamatkan tiang listrik sepertimu" jujur aku terasa tersinggung ia menyebutku kecil tapi aku juga ngakak dia mengatai Yamato tiang listrik.
"Bisa kau berhenti mengejekku, Kenji" marah Yamato dengan nada keras
"Iya itu benar" jawabku sambil menyomot rotiku lagi
"Lha, seharusnya kau membiarkan buaya ini mati saja, jadi kami cowok cowok yang masih jomblo ini bisa mendekati cewek cewek yang rata rata sudah menaruh hati padanya tahu" ujar Kenji kesal karena sahabatnya diselamatkan olehku, orang ini aneh
"Kau jahat sekali, Kenji-kun" kata Yamato sambil menangis
"Aku ingin segera pergi"mereka dua sahabat gila bahkan mereka tidak peduli salah satu temannya mati malah mereka senang dengan kepergian sahabat mereka, dunia ini benar benar gila, itu sebabnya aku tidak mau punya sahabat karena mereka pasti saling menyakiti satu sama lain seperti ini.
"Biarin, Oh ya siapa namamu, kamu cewek satu satu yang kulihat tidak langsung terpesona dengan laki laki mesum disampingku ini" tanya Kenji sambil bertopang dagu membiarkan Yamato yang masih menangis dengan ucapan kasarnya
"Percuma aja Kenji, dia bahkan dari tadi tidak mau memberi tahu namanya padaku, apalagi kamu yang baru bertemu beberapa menit yang lalu" ucap Yamato mengejek, dia cepat banget berhenti nangisnya
"Tachibana Mei" jawabku diikuti dengan Yamato yang jatuh pingsan
"Tachibana Mei, aku pernah mendengarnya, Hah, apa kau satu kelas denganku" tanya sambil mendobrak meja dan memajukan badannya ke depan. Jadi dia baru sadar aku sekelas dengannya, sungguh apa aku benar benar diabaikan sampai seperti ini. Aku menjawab dengan anggukan
"Benarkah, aku dari kelas 2-D juga lho, namaku Kenji, salam kenal"
"Hey, kenapa kau memberi tahu namamu padanya, padahal aku sudah susah payah bertanya padamu tapi kau masih tidak ingin memberitahunya" marah Yamato setelah beberapa detik bangkit dari pingsannya
"Itu karena kau menjengkelkan Yamato" ejek Kenji dengan muka nakal disambut dengan tamparan di punggungnya
"Tidak apa apa dia sekelas denganku, sedangkan kau beda kelas denganku, kurasa itu alasannya" jawabku dengan wajah polos
Seketika wajahnya langsung berubah muram dan pundung di pojokan menunjukkan aura sedih dan putus asa, aku sweatdrop memandangnya.
Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi, sudah saatnya kami kembali ke kelas mengikuti pelajaran. Aah sialan hari ini ada pelajaran Bahasa pasti ngantuk nih. Aku melihat Kenji menggendong Yamato yang masih bermuka murung karena aku telah menyakitinya dengan perkataanku tapi aku tidak terlalu perduli dengan itu.
"Tachibana-san, jujur baru pertama kali ini ada gadis yang membuat Yamato seperti ini, andai saja kau terus melalukan hal ini pasti lucu, baiklah kami pergi dulu ya, sampai bertemu di kelas" pamitnya lalu ia pergi membawa Yamato kembali ke kelas sambil dadah dadah aku juga membalasnya dengan dadah dadah.
Aku menghelas nafas, sudah saatnya aku kembali ke kelasku yang pasti sudah banyak murid murid datang disana. Hilang sudah kesempatanku jalan jalan melihat sekeliling sekolah sendirian.
.
.
.
.
Entah baru nonton anime romance jadi pengen lanjutin nih fanfic sampai air mata Yuka-chan menetes tak tentu arah ( Yang pasti kebawahlah )
Nah cerita fanfic disini tidak tahu kenapa langsung memberi tahu Yamato sifat playboy padahal seharusnya di anime Mei baru menyadari agak lama, tapi tenang saja Mei itu orangnya agak sableng dan tidak tahu istilah seperti itu bahkan ia tidak tahu maksudnya punya pacar itu apa.
Mei : Hey Yuyu Kang Kang kenapa kau mengataiku sableng?
Yuka : Eh kenapa kau muncul di depanku
Mei : Dari tadi tahu saat kau menjelaskan bagian akhir ini
Yuka : Hehehehe, tapi beneran'kan kamu gak tahu istilah playboy'kan?
Mei terlihat masih mode berpikir, Yuka-chan sweatdrop melihat
Okelah sambil menunggu Mei-chan berpikir, Yuka-chan akan menjelaskan tadi Mei dan Yamato jalan jalan bersama sampai makan di kantin berdua, nah Kenji sahabat Yamato datang dan terus terusan mengejek dan memberitahu aib aib Yamato yang tidak dimengerti Mei.
Itu saja yang bisa Yuka-chan jelaskan, jangan lupa favorite, follow, review nih fanfic, sudah ya Yuka-chan tutup dulu sebelum Mei selesai berpikir, Sayounara Arigatou Minna.
