Chapter dua update~! Terima kasih atas review-review dichapter pertama. Balasan review kalian sudah aku balas lewat PM, dan ini bagi kalian yang tidak login~

Lynn Sasuke: Ini udah lanjut kok~

Kalau begitu silahkan membaca chapter dua ini.

::

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

The Power of Six Sense: My Love Story © Hikaru-Ryuu Hitachiin

Pairing: Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

Genre: Supernatural & Romance

Warning: OOC, Typo(s), Gaje, Abal, Judul dan genre tidak nyambung dengan cerita, Alur kecepatan, dan lain lain.

Rated: Teen

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Ternyata, Sasuke-kun yang itu adalah ketua OSIS sekolah ini? Kenapa sifatnya jadi berubah seperti itu? Dirinya yang dulu bertampang ceria dan murah senyum, sekarang jadi berwajah dingin dan jutek. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sisi baiknya pasti tidak ada yang berubah sama sekali, kan?

'Kamu tidak apa-apa?' dengan nada bertanya, ia melihat ke arahku. Aku senang saat ada orang yang mau menghampiriku. Karena setiap orang yang lewat, pasti akan mengabaikanku bagai tidak melihat apapun. Mereka menganggapku tidak ada, mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mungkin mereka sedang sibuk, atau mereka tidak peduli denganku.

Terkecuali Sasuke-kun~ Hanya Sasuke-kun lah orang yang menghampiriku, orang pertama yang bertanya dikala aku menangis.

'Kamu siapa?' saat itu aku tidak mengenalnya, tapi saat itu aku jadi sedikit senang karena akhirnya ada juga yang mau menghampiriku.

'Kamu nangis ya? Habis jatuh?' Haha~ Dia bertanya, padahal dia sudah tahu apa yang terjadi padaku saat itu.

Sebenarnya, aku menangis bukan hanya karena rasa sakit saat jatuh saja. Tetapi saat itu aku merasa sangat kesepian, makanya aku menangis. Rasa kesepian yang terjadi saat itu, sangat tidak kusukai.

Tapi aku tidak menjawab pertanyaannya, aku malah balik bertanya pada diriku sendiri. Didalam hati, aku bertanya. Apakah ia mengkhawatirkan aku? Kalau diingat-ingat, sepertinya ia memang mengkhawatirkanku. Dari sana lah, aku mulai menyukainya.

Aku mengangguk, saat itu ia melihat permen yang di pegangnya dengan tampang sendu. Awalnya, aku tidak mengerti apa yang mau dilakukannya. Melihat permen itu, dan memberikannya untukku?

'Ini untukmu,'

Biasanya, kalau seorang anak permen atau makanannya direbut pasti akan langsung nangis. Tapi, ia memberikan permennya padaku. Walaupun ia terlihat seperti tidak suka, tapi ia tetap menyerahkan permen itu padaku. Saat itu juga, rasa sakitku hilang seketika. Aku sebenarnya juga sedikit heran. Kenapa semua kenangan dua jam itu teringat sangat jelas ya?

'Namamu siapa?' mulai dari sini kami berkenalan, sebuah pertemuan yang singkat tapi dapat membuatku tersenyum.

'Sakura,'

'Sakura-chan sendiri?' awalnya aku memang sendiri, tapi sudah tidak lagi karena ada dia disampingku.

'Tidak,' jawabku sambil menggeleng. Ia pasti tidak mengerti apa maksudku saat itu, namanya juga masih anak-anak.

Jadinya ia langsung melihat sekeliling, pasti mencari seseorang yang bersama denganku. Tapi, yang bersama denganku adalah dia. Mana mungkin ia mencari orang lain kalau dirinya sendiri yang dimaksud, kan? Dialah jawaban yang aku maksudkan saat itu.

'Mana orang yang menemanimu?' Ia langsung bertanya seperti itu karena tidak menemukan siapa-siapa disana. Dalam sekejap, aku menunjuk dirinya. 'Kamu,' kataku.

Aku melihat dirinya yang tersenyum, senyuman manis seperti itu membuatku terhanyut. Walaupun aku masih kecil, entah kenapa aku dapat merasakannya.

Haa~ Sebaiknya aku tidak usah mengingatnya lagi, karena semuanya tidak akan seperti dulu. Aku dengannya, ikatan kami sudah sangat renggang. Tidak sedekat yang dulu, tidak akan pernah seperti dua jam saat itu. Bagaikan sahabat yang tidak dapat dipisahkan.

Lagian, mungkin saja dia sudah melupakanku. Apalagi saat itu hanyalah pertemuan yang tidak tersengaja. Pasti dia lupa~ Tidak mungkin ada orang yang mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Apalagi kejadiannya hanya berlangsung selama dua jam.

Ternyata, pertemuan kami memang bukan sebuah takdir ya. Dia salah~

"Sakura-chan! Kita sekelas~!" teriakan Ino-chan membuat aku sadar dari lamunanku.

Aku dan Ino-chan berada di kelas yang sama, kelas 1-A. Aku dengar, kelas A adalah kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki kemampuan tersendiri. Wah~ Beruntung sekali ya, berarti bakatku diakui oleh sekolah ini.

"Ayo ke kelas~!" seru Ino-chan sambil menarikku untuk berjalan ke kelas kami yang keberadaannya entah dimana.

Ternyata kelas kami tidak terlalu jauh dengan tempat yang kami pijaki sekarang. Jadi kami langsung saja menyerbu kelas yang sudah mulai dipenuhi murid-murid kelas itu.

Aku melihat wajah-wajah baru disana, tidak ada yang kukenal sama sekali. Sampai aku melihat seorang gadis manis berambut indigo yang sedang sendirian didekat jendela. Apa yang dilakukannya ya? Rasanya wajah yang satu ini tidak terlalu asing. Bisa dijadikan teman baru nih!

"Ino-chan~" aku memanggilnya kembali, ia pun menengok ke arahku setelah ia selesai meletakkan tas-nya diatas meja.

"Ya?" tanyanya.

"Kamu lihat gadis yang disana?" tanyaku sambil mengarahkan pandangan pada gadis yang kumaksud.

Ia pun melihat ke arah yang kupandang, "Yang berambut indigo itu?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk, "Ada apa?" tanyanya kemudian. Saat ini, Ino-chan banyak sekali bertanya. Padahal menurutku ia dapat mengerti apa gerak-gerik yang kumaksudkan.

"Dijadikan teman lah~ Diapain lagi?" Aku benar-benar heran dengan Ino-chan yang lagi tidak memiliki pemikiran saat ini.

"Boleh tuh!" Ino-chan yang terbiasa berteriak dengan keras terdengar sampai keluar kelas.

Orang yang ada diluar sampai menengok ke kelas ini, anak-anak didalam kelas juga melihat kami sebentar dan melakukan aktivitas mereka kembali.

"Ada sms~"

"Tunggu bentar Ino-chan," aku mengambil ponsel yang tadi diletakkannya didalam kantung rokku. Aku pun membaca sms yang belum lama ini dikirim oleh Inu-chan.

Hei~ Baru saja aku mendapatkan kelas baru. Aku melihat ada gadis manis berambut panjang, mungkin dia anaknya pendiam. Tapi, aku mendapatkan kelas yang terbaik lho. Bagaimana denganmu Haru-chan?

"Wah~" aku turut ikut senang karena Inu-chan mendapatkan kelas yang baik dan juga bertemu orang yang sepertinya baik.

Aku pun membalas sms dari Inu-chan~

Kalau begitu berjuang di kelas barumu ya, Inu-chan. Kalau aku, tentu saja sama sepertimu.

"Sudah?" Ino-chan yang sepertinya melihatku tersenyum sendiri itu pun bertanya. Mungkin karena dia penasaran.

"Iya," balasku. Setelah kulihat ada tulisan terkirim, aku pun menaruh kembali ponselku.

"Hei~ Kiba! Ayo kita main!" pandanganku dan Ino-chan teralih pada dua orang yang tidak kalah ributnya dari kami.

"Ayo!" seseorang yang diajak main pun tidak kalah semangat dengan yang lainnya. Sempat aku melihat orang yang dipanggil Kiba tadi memasukkan ponselnya ke dalam saku, sempat juga aku berpikir.

'Tidak mungkin,' sempat juga aku berpikir bahwa Inu-chan itu Kiba. Karena belum lama ini Kiba memegang ponsel, sama seperti yang dilakukan Inu-chan.

"Dia namanya Inuzuka Kiba, aku sempat sekelas dengannya waktu SD. Dia benar-benar kekanakan," pemberitahuan dari Ino-chan ini sungguh membuatku mencap kelas ini sebagai..

Kelas yang dipenuhi dengan bocah-bocah~

"Permisi," kembali pada tujuan awal. Aku yang pertama memulainya, karena aku yang sudah berada didepan dia duluan.

"Ya?" Wah, suaranya halus dan manis sekali. Cocok dengan sikap dan wajahnya yang terlihat manis dan dewasa.

"Salam kenal, namaku Haruno Sakura." dan akhirnya aku pun memperkenalkan diriku.

"Aku Yamanaka Ino, salam kenal ya!" dilanjutkan dengan Ino-chan, ia mengarahkan tangannya untuk bersalaman.

Gadis itu pun menerima tangan Ino-chan, "Iya, aku Hyuuga Hinata~" gantian dia yang memperkenalkan dirinya.

Kemudian setelah itu aku yang gantian berjabatan tangan dengan Hinata. Tapi kalau tidak salah, aku pernah lihat gadis ini deh. Di suatu tempat, entah dimana.

Ah!

"Kamu pacarnya Naruto-senpai ya!?"

Aku ingat sekarang! Gadis ini adalah pacar Uzumaki Naruto, kakak kelasku saat aku masih SMP. Pantasan saja aku merasa pernah melihatnya, dia juga satu sekolah denganku. Tapi kenapa aku sempat tidak ingat ya? Ingatanku ini memang payah banget~

Kulihat dirinya bersemu, ternyata memang benar.

"Benar ya?" tanya Ino-chan, sepertinya selain masalah tentang mitos-mitos, ia juga tertarik dengan masalah percintaan.

Gadis bernama Hinata itu mengangguk untuk memberikan jawabannya pada Ino-chan.

"Kalau tidak salah, yang namanya Narutoitu wakil ketua OSIS, kan? Aku belum lama ini melihatnya di blog sekolah. Dia juga temannya ketua OSIS loh~ Di blog itu terdapat foto mereka berdua, ada tulisan 'Kamilah teman sejati' didalam fotonya. Sedikit berlebihan, tapi kalau diisi oleh ketiga pria keren tidak apa lah. Tapi aku tidak kenal yang satunya lagi sih,"

"APA!?" teriakkanku yang kini menggelegar didalam kelas itu, tapi sepertinya mereka tidak peduli.

"Lho, kenapa kamu kaget?" tanya Ino-chan, sepertinya ia heran. Apa yang salah dengan itu? Tidak harus untuk dikagetkan, kan? Mungkin itu yang dipikirkannya sehingga ia bertanya padaku.

Sebenarnya ini memang membuatku kaget. Ternyata Sasuke-kun temanan sama Naruto-senpai.

"Ini hanya cerita masa kecil selama dua jam, tidak terlalu penting." balasku sambil tersenyum singkat dan menggoyangkan sebelah tanganku ke atas dan ke bawah. Sebenarnya, bukan tidak terlalu penting. Hanya saja, jawaban itu yang dapat kuberikan saat ini.

Tapi, jawaban itu malah membuat mata kedua orang itu berbinar. Sepertinya, mereka menyukai kisah kenangan masa kecil. Seperti kisah-kisah di komik sih, semua akan berakhir dengan bahagia. Tapi itu berbeda dengan kisahku~

"Baiklah~" aku pun pasrah, dan kuceritakan semua kisah-kisah yang kujalani bersama dengannya selama dua jam. Walaupun belum semuanya kuceritakan, tapi cerita itu dapat membuat Ino-chan menangis.

"Ternyata kamu punya pengalaman kecil yang seindah itu. Aku juga mau deh," isaknya sambil mengelap sedikit air mata yang keluar dari matanya. Menurutku, itu sedikit berlebihan.

"Enak ya~ Punya teman masa kecil. Walaupun bertemu hanya dua jam saja, tapi itu sudah membuat kita bahagia." pendapat Hinata-chan tentu membuatku sedikit bersedih.

Tidak semuanya akan berakhir bahagia seperti di komik-komik, kan?

"Aku tidak tahu apakah masih akan sama seperti dulu atau tidak." lanjutku dipengakhiran.

Aku tahu apa yang kuceritakan ini sedikit berlebihan. Aku terlalu banyak bercerita, sampai-sampai aku tidak tahu kalau saat ini sedang ada pemilihan ketua kelas.

"Sakura-chan~" kali ini Hinata-chan memanggilku, ia tersenyum. Benar-benar terlihat manis dan dewasa, pantaslah Naruto-senpai menyukai gadis seperti Hinata-chan.

"Aku akan membantu Sakura-chan," tiba-tiba gejolak kebahagiaan mengalir dalam tubuhku. Langsung aku melompat dan memeluk Hinata-chan yang ada didepanku.

"Makasih Hinata-chan!" seruku, ia hanya menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum seperti biasanya.

"Sama-sama," balasnya.

Tapi, kenapa aku sesenang ini ya? Benarkah aku pantas menyukainya? Sepertinya tidak~

"Tidak melupakanku, kan?" Aku melepaskan pelukanku dari Hinata-chan, dan menghadap ke Ino-chan.

"Tidak," jawabku sambil menggelengkan kepala, Hinata pun menggelengkan kepalanya.

"Aku juga akan membantumu, walau aku harus melepaskan orang seperti itu. Mungkin, suatu saat aku akan mendapatkan yang lebih baik dari pada itu. Yang pastinya, jago melukis. Aku memiliki impian, suatu saat pria yang kusukai akan melukis aku. Tentu saja itu tidak akan pernah terwujud ya, aku terlalu banyak berharap.

Yah~ Yang seperti itu hanya ada di komik-komik saja. Tapi aku akan tetap mendukungmu Sakura-chan!" dari ucapan yang panjang lebar itu, aku jadi mengetahui kalau seperti itulah kriteria pria yang diidamankan oleh Ino-chan.

Walaupun ia bicara tidak ada seperti itu, tapi sebenarnya ada. Pasti Hinata-chan juga tahu, orang yang seperti itu ada. Lelaki yang merupakan teman SMP Naruto-senpai, ia juga bersekolah disini. Pastinya kelas 2-A juga, sama seperti Naruto-senpai dan dirinya.

Sai-senpai~

Dia jago melukis, kan? Saingan beratku saat SMP tuh! Pasti sampai sekarang masih menjadi saingan terberat. Tapi, ya sudah lah~

"Makasih semuanya," sepertinya aku mendapatkan teman-teman yang baik.

"Oh ya, kalian percaya tentang mitos yang ada di sekolah ini?" setelah itu Hinata-chan bertanya tentang sesuatu yang tentu membuat Ino-chan jadi bersemangat.

"Aku percaya! Aku bawa bukunya, ayo kita baca mitos yang pertama."

Kami mengangguk, Ino-chan berlari menuju tas-nya dan mengambil buku yang lumayan tebal itu. Kami pun membacanya,

Mitos I ~ Bayangan Kekasih

Tempat: Atap sekolah

Waktu: Matahari Terbenam

Mitos: Dua orang dengan jenis kelamin berbeda saling berpelukan.

Hasil:

A. Tidak ada bayangan yang terpantul.

B. Ada bayangan yang terpantul disamping kalian.

Arti:

A. Bukan jodoh, sebaiknya kalian putus kalau tidak mau ada hal buruk yang terjadi.

B. Bayangan kekasih, kalian adalah pasangan kekasih yang telah ditakdirkan. Selamat! Berbahagialah dalam jangka waktu yang kalian bisa.

Woaaah~ Sudah dipastikan mata kami bertiga berbinar juga saat itu. Mitos pertama, sudah disuguhi yang berbau romance. Ini, sungguh menarik perhatian kami bertiga.

"Aku akan mencobanya~!"

:

::

:::

The Power of Six Sense: My Love Story

Chapter 2

:::

::

:

Hari-hari terus berjalan, hingga akhirnya mereka sudah menginjak bulan ketiga bersekolah disana. Lalu, sedikit ada masalah pada orang ini.

Uchiha Sasuke, ia adalah lelaki yang jutek, kasar, dan dingin. Tatapan matanya saat marah bagaikan elang yang menerkam santapan. Walau begitu, ia populer di kalangan gadis-gadis sekolahnya maupun gadis-gadis di luar sekolah. Ia memiliki kemampuan, tidak ada yang mengetahuinya selain dirinya sendiri dan kepala sekolah.

Kemampuan jenis apa itu? Ia memiliki kemampuan Six Sense. Six Sense bagian yang mana? Jika ada yang menyentuhnya, maka ia dapat membaca isi hati orang tersebut. Bahkan membaca masa lalu dan masa depan. Tapi kadang-kadang, ia juga dapat menghipnotis orang dan menghapus ingatan. Kemampuan yang itu hanya dapat dilakukan olehnya setahun sekali. Tapi ia tidak pernah menggunakan kemampuan yang itu, karena ia tidak suka. Menghapus ingatan orang, seperti tidak memiliki perasaan saja.

Karena ia tidak suka membaca isi hati orang dan masa depan sekaligus masa lalu orang tersebut serta yang lainnya, akhirnya ia tidak pernah menyentuh seseorang pun. Tapi karena ketidaksukaannya itu, ia pun jadi belajar dengan sekuat tenaga cara untuk mengunci kemampuannya. Di ulang tahunya yang ke delapan, akhirnya ia dapat menguncinya sendiri. Kalau ada yang mau menyentuhnya, ia akan mengunci kemampuannya agar ia tidak dapat membaca isi hati sekaligus masa lalu dan masa depan mereka.

'Sakura-chan ya? Aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Gara-gara mencoba menyelamatkannya, aku jadi membaca masa lalunya. Masa lalu itu, kenapa harus terjadi?' batin Sasuke, saat ini ia dalam keadaan rapat OSIS.

Nah~! Inilah masalah yang sedang dihadapi olehnya. Karena selalu memikirkan Sakura, Sasuke jadi tidak fokus terhadap pekerjaannya. Ia jadi kurang teliti dan kurang bersemangat melakukan sesuatu.

Karena melihat Sasuke seperti itu, akhirnya Naruto menghentikan lamunan Sasuke. "Hei ketua OSIS~! Saat rapat jangan ngelamun napa, masih ada yang harus dirapatkan nih~" seru Naruto.

Itu berhasil membuat Sasuke berhenti melamun, ia merapikan berkas-berkas yang ada diatas mejanya. "Kita lanjutkan rapat besok pagi," Sasuke memutuskan untuk berhenti rapat, karena bel masuk sudah berbunyi.

Tapi Naruto dan Sai yang melihat itu malah jadi ada tanda tanya besar diatas kepalanya.

Setelah semua anggota OSIS keluar, Sai yang sudah selesai mencatat anggaran yang dikeluarkan OSIS bulan ini pun langsung bertanya. "Ada apa denganmu? Sepertinya ada yang kamu pikirkan," itulah yang dapat disimpulkan oleh Sai setelah ia melihat tingkah laku Sasuke.

Seperti yang sudah kita ketahui, ketiga sahabat ini memiliki posisi di OSIS. Sasuke sebagai ketua OSIS, setengah murid di sekolah itu memilih Sasuke sebagai ketua OSIS. Naruto sebagai wakil ketua OSIS, ia memiliki suara terbanyak yang kedua. Lalu Sai sebagai bendahara sekaligus sekretaris pelaksanaan kegiatan di OSIS. Ia mencalonkan dirinya sendiri, karena tidak ada yang niat menjadi kedua bagian itu.

Sasuke menatap datar Sai setelah mendapatkan pertanyaan itu, "Tidak ada," katanya singkat. Sasuke pun keluar meninggalkan kedua sahabat yang sekelas dengannya itu. Padahal ia kan bisa jalan menuju kelas bersama.

"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" karena tidak mendapatkan jawaban yang dapat di terima oleh Sai, kini ia bertanya pada Naruto. Tapi Naruto hanya dapat mengangkat bahunya seakan-akan itulah jawaban yang diketahui olehnya. Naruto malah tidak mengetahui apa-apa.

Naruto dan Sai berjalan berdua, mereka sudah tidak melihat Sasuke disekitar sana. Mungkinkah Sasuke sudah masuk kelas terlebih dahulu? Biasanya sih habis rapat Sasuke beli minuman kaleng dulu, jadi tidak mungkin ia sudah masuk kelas. Tidak peduli jam pelajaran sudah dimulai apa belum, ia tidak peduli karena otaknya sudah encer.

GLEK~ GLEK~

Semuanya sedang belajar, sedangkan Sasuke enak-enaknya minum minuman kaleng di atap sekolah. Ia membuang kaleng kosong itu ke tempat sampah, dan berjalan menuju tempat yang ada bayangannya. Supaya saat ia bersantai, tidak ada sinar matahari yang membuat badannya kepanasan. Tapi saat itu, masih matahari pagi. Jadi apa yang harus di khawatirkan?

"Sakura-chan, kenapa harus satu sekolah sih? Bukannya aku tidak suka bertemu dengannya, tapi aku hanya belum siap saja."

Kini Sasuke tiduran di tempat itu, memandang langit yang belum terlalu silau. Saat itu ia tidak punya niat untuk kembali ke kelas, jadinya ia tertidur selama beberapa jam. Selama tiga bulan ini, ia selalu saja memikirkan itu. Tiga bulan itu juga sikapnya berubah drastis, kerjanya jadi setengah-setengah. Tapi selama tiga bulan itu juga, ia tidak pernah bertemu apalagi berpas-pasan dengan Sakura. Padahal satu sekolah, tapi tidak pernah bertemu.

Ia tetap saja tidur sampai jam istirahat, mungkin ia ketiduran selama itu karena terlalu lelah. Banyak pikiran~

"Hei~ Kalian bawa bekal?" tanya Sakura, ia mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam tas sekolahnya.

"Aku bawa," Hinata ternyata juga membawanya, ia meletakkan kotak bekalnya di dalam tas kain yang berukuran sedang.

"Aku juga~!" Ino pun membawa bekal, ia mengeluarkan bekal miliknya dan di pegangnya dengan sebelah tangan.

"Jadi, sekarang mau makan dimana?" tanya Sakura setelah semuanya sudah mengeluarkan kotak bekal masing-masing.

Semua diam, kemudian tersenyum. "Seperti biasa, atap~!" seru ketiga gadis ini, kemudian diselingi ketawa karena mereka memiliki pendapat yang sama.

"Baiklah. Ayo~!" seru Ino dan jalan terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lainnya.

Saat jalan menuju atap, Sakura bertanya-tanya pada Hinata. Kalau jam istitahat seperti ini kan biasanya sepasang kekasih makan bekalnya bersama, kan? Kenapa Hinata tidak ya? Selalu saja makan bersama dengan mereka berdua.

"Hinata tidak makan sama Naruto-senpai?" tanya Sakura sambil melihat Hinata sebentar dan kembali ia melihat arah depan agar tidak tertabrak sesuatu.

"Tidak, Naruto-kun sama teman-temannya kalau istirahat." jawab Hinata tenang, Sakura sama Ino sampai heran kenapa Hinata bisa setenang itu. Padahal kan kalau dilihat-lihat dari kata-kata Hinata, Naruto adalah tipe yang tidak peduli dengan pacar.

"Wah~ Orangnya tidak peduli ya?" akhirnya Ino mengeluarkan pendapatnya tentang Naruto. Tapi pemikiranmu salah Ino, bukan itu yang dimaksudkan oleh Hinata.

"Tidak, hanya saja Naruto-kun itu tipe orang yang tidak meninggalkan teman hanya karena ada pacar." jelas Hinata agar kedua temannya itu lebih mengerti lagi. Ia tidak suka kalau Naruto dijelek-jelekkan seperti itu walau hanya ada kesalahpahaman saja.

"Wah~ Dia tipe yang tidak meninggalkan sahabat ya!" seru Sakura, senang sekali rasanya kalau Sasuke seperti Naruto.

Pasti terjadi sesuatu sehingga sifat Sasuke bisa berubah seperti itu. Waktu kecil, sifat Sasuke sama seperti Naruto. Kalau tidak terjadi apa-apa, pasti Sasuke akan sama seperti Naruto.

"Itulah yang membuatku menyukainya," Hinata tersenyum tulus saat menyebutkan kalimatnya itu. Sakura dan Ino jadi terkagum-kagum. Karena menyukai seseorang, kita akan menerima apapun yang dilakukan olehnya. Minus hal-hal yang buruk.

"Hinata sangat menyukai Naruto-senpai ya," entah ini bermaksud membuat Hinata jadi malu atau tidak. Tapi wajah Hinata jadi memerah karena ucapan Sakura tadi.

"Suatu saat aku juga mau menemukan yang seperti itu," sambung Sakura setelah wajah Hinata berhenti memerah.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kan kamu sudah ada Sasuke." jelas-jelas kata-kata Ino membuat Sakura sakit hati. Satu sekolah, tapi tidak pernah bertemu sama sekali. Itu sudah pasti kalau mereka tidak di takdirkan untuk bersama, kan?

"Dia? Kalau sama dia, hanya akan menjadi cinta yang tidak terbalaskan," Sakura menundukkan kepalanya, tapi ia masih tetap berjalan. Tidak takut menabrak sesuatu apa?

"Jangan bicara seperti itu dong!" Ino menahan Sakura yang terus berjalan, mereka berhenti di tangga pertama untuk menaiki atap.

"Kami kan akan membantumu, apalagi Hinata-chan kan pacaranya teman Sasuke. Ya, kan?" tanya Ino pada Hinata, ia melakukan itu untuk memastikannya kembali. Tapi tanpa dipastikan juga, jawabannya pasti akan selalu sama.

"Iya," jawab Hinata.

"Ya sudah, ayo kita makan. Tapi berani sekali kamu memanggil nama orang tanpa pakai embel-embel senpai, dia kakak kelasmu loh."

Mereka pun menaiki tangga itu, jalan menuju atap memang memiliki dua tangga. Yang pertama yang mereka naiki, tangga itu lumayan dekat dengan kelas mereka walau terkesan jauh. Tangga ke dua, tangga yang dekat dengan ruang OSIS. Disebelah tangga itu juga ada mesin penjual minuman kaleng otomatis. Jadi tadi Sasuke beli minuman disana dan langsung berjalan menuju atap melewati tangga yang tepat berada disebelahnya.

Sampai di atap, Sakura, Ino, dan Hinata langsung menyerbunya.

"Huaaaa~ Di atap memang sepi!" seru Sakura sambil berputar-putar disekitar sana.

"Bisa tenang jadinya~" seru Sakura kembali setelah ia selesai berputar-putar. Kini ia duduk di tempat yang ada bayangannya, pemikirannya sama seperti Sasuke saat itu. Ia tidak mau badannya jadi panas karena terkena langsung sinar matahari.

"Iya," Hinata juga ikutan duduk di sebelah kanan Sakura. Sedangkan Ino duduk didepan Sakura dan Hinata agar bisa saling hadap-hadapan dan melihat satu sama lain.

Mereka pun membuka kotak bekal mereka, bekitu kagumnya mereka semua saat melihat isi bekal masing-masing.

"Woaaah~ Terlihat bersinar bekal Hinata-chan," seru Ino, "Bikin sendiri ya?" tanyanya kemudian.

Hinata mengangguk, "Hebat~" seru Sakura dan Ino bersamaan. Selalu saja mereka seperti itu, padahal sudah tiga bulan terlewatkan.

"Bekalnya Sakura-chan imut-imut," kata Ino kemudian. Bagaimana tidak imut-imut? Bekal itu seperti bekal untuk anak SD. Ada muka panda di dalamnya, dan sejenis yang imut-imut lainnya.

"Ibuku yang bikin," kata Sakura sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk tangan kanannya.

Kali ini mereka melihat bekal Ino, kali ini berbeda dengan bekal yang lainnya. Ino membawa bekal kue, bukan nasi seperti kedua yang lainnya.

"Wah~ Kue bentuk bunganya indah-indah," nilai Hinata, kue dengan bentuk bunga yang berbeda-beda itu tentu sangat menarik perhatiannya Hinata dan Sakura.

"Mamaku yang bikin juga. Maklumlah, rumah kami membuka usaha toko bunga. Jadi, setiap membuat sesuatu pasti selalu berhubungan dengan bunga." cerita Ino, dari sana Sakura dan Hinata jadi tahu kalau orang tua Ino adalah sebuah pengusaha toko bunga. Padahal sudah tiga bulan terlewatkan~

"Selamat makan~" setelah mengucapkan itu, mereka semua pun mulai melahap bekal masing-masing. Saling berbagi dan menerima yang telah diberikan.

"Mitos pertama itu, disini ya tempatnya?" tanya Sakura. Selama tiga bulan ini, mereka benar-benar lupa tentang mitos pertama itu. Padahal saat hari pertama mereka sekolah, mereka sudah bersemangat sekali. Ino dan Hinata mengangguk secara bersamaan, akhirnya mereka ingat karena Sakura bertanya.

Dalam ketenangan memakan bekal, tiba-tiba ada suara yang membuat ketiga gadis ini kaget. "Hoi Teme! Ternyata tidur disini!? Pantasan saja tidak ada di kelas daritadi!"

Hinata yang mengenal suara itu pun langsung menyebutkan namanya. "Naruto-kun?" tanyanya tidak percaya.

Kalau dari posisi mereka bertiga, posisi dimana keberadaan Naruto dan kawan-kawannya ada di sebelah kotak yang lumayan besar yang mereka duduki. Sebuah kotak yang terselimuti oleh cat tembok dan ada tangga lagi. Diatas kotak itulah yang merupakan puncak dari sekolah itu. Tapi disana juga bisa dipakai untuk tiduran~

"Pacarmu ada disini rupanya," bisik Ino setelah ia mengetahui kalau ada orang lain di atap itu. Ia jadi tidak bisa berteriak-teriak lagi, karena tidak mungkin ia membuat keributan di depan orang yang tidak mengetahui kalau mereka ada disana.

"Berisik~ Lagi enak-enakan tidur juga," omel Sasuke, ia pun merubah posisi tidurannya menjadi duduk. Gara-gara teriakan Naruto, Sasuke jadi seutuhnya bangun.

"Haa~ Murid-murid lain lagi seriusnya belajar, sedangkan kamu enak-enaknya tidur." kali ini Sai yang berkomentar. Sasuke hanya bisa mendecih mendengar komentar Sai.

"Oh, ayolah Sai. Jangan bersikap seperti itu," kata Naruto sambil menepuk-nepuk pundak Sai yang berada disampingnya.

"Disana ada Sasuke juga lho," kata Ino saat mendengar suara Sasuke disana, "Tapi Sai itu siapa? Orang yang satu lagi ada di foto itu bukan ya?" tanyanya kemudian.

"Teman Naruto-kun dan Sasuke-senpai," jelas Hinata, Ino pun mengangguk-angguk setelah mendapatkan jawabannya. Ternyata perkiraannya memang benar~

"Mau kesana!?" tanya Ino setengah berbisik.

"Jangan!" teriak Sakura, teriakkannya tidak terlalu besar, mungkin dapat diartikan seperti teriakan berbisik.

"Kenapa?" tanya Ino, padahal disana kan ada pacarnya Hinata dan Sasuke maupun orang yang bernama Sai. Mungkin kalau kesana, mereka bisa berteman dan Sasuke dan Sakura bisa seperti saat itu lagi.

"Ada dia," Sakura menunduk saat menyebutkan dia, mungkinkah Sakura masih belum siap bertemu dengan Sasuke? Atau, bisa saja kan Sasuke sudah melupakan kejadian itu.

Kejadian selama dua jam, janji yang pernah dibuat, sebuah ucapan yang membuat Sakura jadi bersemangat hingga sekarang. Nanti, Sakura malah jadi malu sendiri karena hanya dia yang mengingat kejadian itu.

Ino menghela napasnya, "Baiklah~" ia pun duduk kembali setelah itu. Akhirnya pun mereka hanya bisa mendengar percakapan di sebelah sambil makan bekal.

"Kamu kenapa Sasuke?" tanya Sai kembali. Pertanyaan pertama pada Sasuke, tidak dijawab. Pertanyaan kedua pada Naruto, hanya jawaban tidak tahu lah yang didapatkan olehnya. Bagaimana dengan pertanyaan yang ketiga ini?

"Tadi siapa itu? Yang satu lagi?" tanya Ino kembali. Ia berpikir, mungkin saja ia bisa dekat dengan orang yang satu lagi. Hinata dengan Naruto, Sakura dengan Sasuke, mungkin saja ia dengan yang satunya lagi.

"Sai-kun, temannya Sasuke-senpai dan Naruto-kun." jawab Hinata untuk yang kedua kalinya.

"Sepertinya Hinata-chan dekat sama mereka ya," ucap Sakura setelah ia merasa sedikit lebih tenangan.

"Tidak, aku tidak terlalu dekat sama Sasuke-senpai." balas Hinata kembali, ia pun kembali melanjutkan memakan bekalnya itu.

"Ngomong-ngomong, Sai itu orangnya seperti apa? Apakah sifatnya sekeren wajahnya?" Ino yang sedari tadi penasaran akhirnya bertanya juga.

"Iya~ Kulitnya lumayan pucat, dia juga mudah tersenyum." Jelas Hinata lebih men-detail.

"Aku sudah tahu itu, dari fotonya sudah terlihat. Ada yang lain?" tanya Ino lagi, ia ingin mengorek informasi lebih dalam lagi. Ia ingin lebih mengenal orang yang bernama Sai.

"Dia jago melukis, dia sainganku saat masih di SMP." mata Ino berbinar saat mendengarkan penjelasan tambahan dari Sakura.

"Benarkah?" tanyanya setelah itu.

"Iya," jawab Sakura.

"Saingan menggambar ya?" kini Hinata yang bertanya.

"Iya," jawab Sakura kembali.

"Haha, saat itu aku senang melihat Sakuraberapi-api saat melawan Sai-kun." ternyata selama ini Hinata selalu memperhatikan Sakura saat SMP.

Melihat Sakura yang berapi-api seperti itu, jadi membuat Hinata semangat juga untuk melihat siapakah yang jadi pemenangannya.

"Hah?"

"Aku mencoba untuk dekat denganmu, tapi baru kesampaian sekarang." cerita Hinata diakhiri dengan helaan napas yang lumayan panjang.

"Hinata-chan" tanpa sadar, saat mendengar cerita dari Hinata, Sakura jadi memeluk Hinata.

"Enak ya yang SMP-nya satu sekolah~" Ino yang merasa terasingi pun tanpa sadar mengucapkan kata-kata itu.

"Jangan sedih seperti itu Ino-chan~" Sakura yang merasa tidak enak pun langsung memeluk Ino. Ino tersenyum kembali saat itu, "Iya," katanya.

Kembali pada Sasuke, Naruto, dan Sai. Mereka masih saja menanyakan hal yang membuat mereka penasaran.

"Benar kata Sai, sepertinya ada yang kamu pikirkan." mencoba untuk meyakinkan Sasuke, Naruto juga ikut-ikutan menjadi Sai. Karena itu, ia juga penasaran apa yang telah terjadi pada Sasuke. Tidak biasanya seperti itu loh~

"Memang ada," mendengar itu, Naruto dan Sai jadi kaget. Ternyata benaran ada!? Ternyata selama ini memang ada yang disembunyikan olehnya.

"Apa? Tidak biasanya seperti ini," Sai yang dari tadi berdiri akhirnya duduk juga di depan Sasuke.

"Masalah kecil," jawab Sasuke dan kembali merubah posisi duduknya menjadi tiduran. Ia kembali menatap langit-langit walau matanya tertutup.

"Ayolah~ Kami kan temanmu," rayu Naruto agar Sasuke dapat menceritakannya ke mereka berdua. Naruto pun duduk bersandar pada tembok disebelahnya.

"Iya~ Jangan menutupi apapun dari kami," ditambah dengan Sai yang ikutan membujuk Sasuke agar bercerita. Akhirnya, tidak ada pilihan lain yang dapat diambil Sasuke kecuali bercerita. "Baiklah~"

Dari sinilah semua orang yang berada diatap pada tegang, mereka akan mendengar masalah yang sedang dialami oleh Uchiha Sasuke gitu loh! Ketiga gadis yang berada disebelah sana pun juga sedang menyiapkan telingannya untuk mendengarkannya.

"Ini masalah seseorang yang pernah bertemu denganku waktu kecil,"

:::

::

:

To Be Continue

:

::

:::

Huaaaa~ Chapter dua akhirnya selesai juga. Bagaimana? Apakah masih ada kekurangannya? Apakah sudah lebih baik dari chapter sebelumnya? Atau malah lebih buruk? Apakah aneh atau sebaliknya? Berikan pendapat kalian ya.

Gomen kalau akhir chapter dua ini terkesan

ngegantung. Terima kasih atas review kalian di chapter satu.

Thanks To:

- Kaoru-Kagami Yoshida

- hanazono yuri

- Racchan Cherry-desu

- marukocan

- Lynn Sasuke

- Maruyama Harumi

Bertemu lagi di chapter tiga~

V

V

V