SO, YOU'RE NOT GAY
Chapter 1
Terinspirasi dari sebuah pict, jadi tidak sepenuhnya jalan cerita punya Aoi
Cast © God, Parents, Fans, and others
. . .
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, Humor
Rate : M
Bahasa
Chaptered
. . .
Luhan menarik koper hitamnya kesana kemari selama di gedung kampus demi menyelesaikan administrasinya di kampus. Salahkan dirinya yang sejak dari Beijing menunda mencari tempat tinggal di Seoul, sebuah kota metropolitan dimana banyak orang membutuhkan tempat tinggal selain dirinya.
Luhan akhirnya duduk di bangku lobi gedung utama kampusnya. Bagaimana ini? Tidak mungkin dia kembali ke Beijing hanya untuk kembali lagi esoknya ke Korea. Gila. Bisa-bisa ibunya yang menyukai kucing itu akan membiarkan kucing-kucing kesayangannya mencakar anak yang tak berbakti dan tak berbudi baik seperti dirinya.
"Hufttt…"
"Lho? Luhan?" tanya seorang gadis dengan mata puppy yang amat imut dengan baju longgarnya. Namanya, Byun Baekhyun. Gadis ramah yang menyapa Luhan saat bersama-sama mengurus beasiswa di Seoul University.
"Hai!" sapa Luhan balik dengan senyuman manis. Baekhyun melihat ke arah sekitar. "Kau sendiri?" tanya Baekhyun yang kemudian ikut duduk di samping kanan Luhan. "Ya, begitulah." Luhan menggaruk tengkuknya karena malu.
"Kau tidak pulang?" tanya Baekhyun. Luhan menggeleng. "Kenapa?" tanyanya lagi. "Bagaimana ya… Aku… Belum mencari apartement untuk tempat tinggalku. Ini kesalahanku juga sebenarnya," jawab Luhan yang semakin merasa bodoh di depan Baekhyun. Baekhyun menganga kaget. "Kau datang ke sini, berniat untuk kembali ke Beijing setiap hari? Begitu?" tanyanya yang tak kalah kaget.
Luhan hanya cengengesan. "Kau gila!" ucap Baekhyun. Luhan memanyunkan bibirnya dan menundukkan kepala karena akhirnya ada satu orang yang mengatakan dirinya gila. Benar, Luhan tidak bisa menyalahkan orang mengatakannya gila.
"Aku rasa aku harus bertanya ke Chan," saran Baekhyun. Luhan tidak begitu mendengar karena dia sedang berpikir apa yang harus dilakukannya. Baekhyun sibuk dengan LINE-nya kepada Chanyeol—pacarnya, seorang wakil direktur perusahaan properti.
"Luhan," panggil Baekhyun dengan nada lemah.
"Hm?" jawab Luhan yang masih berpikir.
"Aku sudah menemukan apartement yang mungkin bisa menerimamu," kata Baekhyun. Luhan tersenyum. "Benarkah?" tanya Luhan. "Ya, begitulah. Tapi, kau tidak tinggal sendirian," jawab Baekhyun yang kemudian meringis menunggu teriakan Luhan setelah ini. "Maksudnya?" tanya Luhan yang makin tak paham.
"Ada satu apartement mewah yang Chan tau adalah milik Oh Sehun—sepupunya. Apartement itu tidak disewakan, hanya saja, sepupu Chan ini mencari seseorang agar mau tinggal bersamanya. Menurutnya apartementnya itu terlalu mewah dan besar. Jadi, apa kau mau tinggal dengannya?" tanya Baekhyun.
"Lelaki atau perempuan?" tanya Luhan yang curiga. Ia memicingkan matanya. "Lelaki." Jawaban Baekhyun membuat Luhan menggeleng. "Tidak. Tidak. Seumur hidupku, aku sudah bertekad menjaga diriku dari sentuhan lelaki manapun kecuali suamiku nanti! Baekhyun! Kau seharusnya tau, jika dia lelaki yang norm—"
"Sayangnya, dia gay."
Luhan diam. "Gay katamu?" tanya Luhan yang sedikit bergidik ngeri. "Ya, begitulah," jawab Baekhyun yang sedikit ragu. "Aku tidak tau pasti, begitu pula Chan. Selama ini dia sangat dingin kepada wanita. Seluruh staff yang bekerja kepadanya, kebanyakan lelaki. Selama ini dia tidak pernah kencan, pacaran atau sedang pendekatan dengan seorang wanita," jelas Baekhyun.
"Tak ada jaminan kalau dia gay, benar?" tanya Luhan lagi. Baekhyun diam. "Ta-Tapi, kami sud—"
"Tidak usah saja kalau begitu. Aku akan membeli tiket ke Beijing sekarang," tolak Luhan yang kemudian membuka laptopnya dan menyambungkannya dengan internet. Baekhyun menghela nafas berat.
"Setauku, dia memiliki pacar bernama Leonardo."
Luhan menoleh menatap Baekhyun yang sedang membuka ponselnya. "Chan memberitahuku sebentar ini. Leonardo adalah seorang pria manis yang sedang Sehun kejar-kejar. Hanya saja, Leonardo bekerja di Spanyol. Jadi, mereka tidak bisa bersama," tambahnya.
Luhan kembali memikirkan tawaran Baekhyun tentang apartement Sehun. Bagaimana jika Sehun benar-benar gay? Pasti dia tidak akan tergoda dengan Luhan. Luhan aman-aman saja tinggal bersama dengannya. Tapi, jika dia bukan gay? Luhan pasti masuk ke dalam mulut buaya nantinya!
"Oh, Sehun meminta untuk mengirimkan fotomu lewat Chan!" kata Baekhyun yang memperlihatkan ponselnya pada Luhan. "Sebaiknya kita selfie!" saran Baekhyun yang merapatkan tubuhnya dengan Luhan. "Luhan! Lihat ke kamera!"
CHEESE!
. . .
Chanyeol melihatkan foto Luhan kepada Sehun yang sedang menikmati teh hangat di ruangannya. "Bagaimana?"
"Boleh. Leonardo jauh lebih manis daripada dia," ucap Sehun yang kemudian meletakkan cangkirnya ke atas piring tatakan kembali. Chanyeol mendecih. "Seharusnya kau tergoda melihat wanita Oh Sehun! astaga! Dada mereka! Sesuatu yang rapat disana! Owh! Kau pasti akan rugi jika melewatkan semuanya!" ucap Chanyeol yang mencoba memanas-manasi Sehun.
"Kalau begitu, anus lelaki lebih rapat!"
Sehun beranjak dari duduknya. "Aku ada rapat 30 menit lagi. Bilang ke anak ingusan itu, kalau benar-benar ingin berteduh, silahkan datang. Kalau tidak, ya sudah, aku tidak akan menerimanya lagi!"
BLAM!
"DASAR LELAKI MUKA DATAR TAK NORMAL! SEBAIKNYA KAU KE RUMAH SAKIT JIWA SANA!" umpat Chanyeol yang hampir saja melayangkan ponsel terbarunya ke lantai sangking kesalnya kepada Sehun. Sedangkan Sehun tetap berjalan santai walaupun dia mendengar umpatan saudara telinga yodanya itu.
Luhan memandang gedung apartement 20 lantai di hadapannya. Rasa-rasanya, matanya bisa tertutup rapat hanya karena memandangi gedung bertingkat seperti ini di siang hari. "Luhan, Sehun sebentar lagi pulang. Sebaiknya kau makan siang saja di restaurant yang ada di lantai satu apartement ini. Lagi pula, aku sudah lama tidak makan disini," ajak Baekhyun. Luhan mengangguk setuju.
Baekhyun memilihkan tempat duduk yang strategis, dimana mereka bisa melihat taman yang luas dengan bunga warna-warni, sebuah kolam dengan anak sungai kecil beserta jembatannya dan juga berbagai wahana bermain anak-anak. Luhan melihat-lihat bagaimana mewahnya apartement ini. "Seumur hidupku, aku belum pernah ke gedung semewah ini yang digunakan sebagai tempat tinggal. Rasanya dompetku sudah berteriak minta diisi dengan tebal," gumam Luhan.
Baekhyun terkikik. "Tenang saja. Dompetmu itu tidak mungkin berteriak seperti itu. aku akan membujuk Sehun untuk memberikan harga khusus pada orang seperti dirimu," kata Baekhyun. Tak lama, sup ikan jahe dan nasi hangat muncul membuat perut Luhan yang meronta dan berbunyi meminta diisi dengan makanan hangat akhirnya sedikit tenang.
Saat Luhan sedang menyuapkan makanannya ke dalam mulut, seorang pria tampan dengan rahang tajam dan kaca mata berbingkai hitam mengambil makanan dan juga kopi pesanannya. Sehun—pria itu kemudian bertanya tentang lauk nanti malam, mereka menjawab malam ini pasta ravioli serta acar timun.
"Aku pesan dua porsi di apartement 2120." Sehun kemudian berlalu meninggalkan restaurant dan kembali ke apartementnya yang berada di lantai 10. Apartement mewahnya didominasi warna hitam, abu-abu, putih dan juga kaca bening di ruang tengah dan dapurnya. Pemandangan Seoul di malam hari akan terlihat indah dari situ.
Rak winenya tersusun rapi dan dapur, lantai dan perabotan yang bersih dari debu. Televisi berlayar lebar lengkap dengan home theater. Satu foto besar dirinya dengan warna hitam putih berukura 0.5 m tergantung apik di lorong menuju kamar. Semuanya terkesan mewah dan maskulin.
Sehun melepaskan jas kerjanya dan memasukkannya ke dalam keranjang kain kotor. Sehun mengibaskan rambutnya sedikit dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya. Ia melepaskan ikat pinggangnya dan menggulungnya, memasukkannya kembali ke dalam rak yang diletakkan di tengah-tengah walk-in-closet.
Ia menggulung lengan bajunya hingga sesiku dan segera mengambil beberapa piring untuk menyalin makanan panas ke dalam piring mengkilapnya. Sambil menunggu makanannya menjadi hangat, Sehun segera kembali ke kamarnya, membuka kemejanya dan membiarkan kemejanya terletak begitu saja.
Sehun memandangi tubuh sixpacknya sebelum kemudian mengambil pakaian santainya. Sehun melepaskan celana bahannya dan meninggalkan celana dalamnya saja yang melekat pada tubuhnya. Sehun menghidupkan shower dan kemudian melepaskan segala pakaiannya.
Ia mengusap rambutnya dengan air hangat dan membersihkan badannya dari segala kotoran yang melekat serta mencoba melepaskan semua beban pekerjaan, begitu pula dengan beban keluarganya, tuntutan agar dirinya segera menikah.
Sehun tau dirinya memiliki wajah yang rupawan. Sejak ia kecil, semua anak mencoba mendekatinya. Hanya saja, ia tak tertarik kepada mereka. Yah, walaupun pernah, Sehun tak pernah benar-benar menyukainya. Hanya suka sebatas menyukai fisik mereka saja. Karena ia tau, cintanya saat itu hanya akan berakhir di jurang perpisahan.
. . .
Luhan dan Baekhyun tiba di lantai 10 setelah menikmati makanan enak dan hangat yang dijual di restaurant lantai dasar. Baekhyun yang memiliki tubuh sedikit berisi daripada Luhan memakan banyak makanan, mulai dari sup ikan jahe hingga fruit parfait. Sialnya, Luhan harus membayar separuh dari makanan yang katanya akan ditraktir Baekhyun karena Baekhyun hanya membawa kartu kredit yang belum dikirimi uang oleh pacarnya.
Baekhyun merasa ponselnya berbunyi ketika dirinya dan Luhan berjalan menuju apartement Sehun. Ia mengangkatnya dan menjauh dari Luhan. Luhan yang mau bertanya bingung melihat Baekhyun yang semakin menjauh.
"Kau mau kemana?" tanya Luhan pada Baekhyun yang tiba-tiba berlari menuju lift. "Ma-Maaf LUHAN! Chan sudah menunggu dari tadi di bawah. Aku benar-benar merindukannya!" ucap Baekhyun sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya. Sial! Bagaimana jika Luhan dipaksa masuk ke dalam apartement itu dan… dan… sudahlah. Tak ada pilihan lagi, dia harus masuk.
Luhan membunyikan bel apartement dengan hati-hati. Tak ada jawaban. Sekali lagi. masih tak ada jawaban melalui interom. Seka—
CKLEK…
Pintu terbuka.
Luhan menarik kopernya ke dalam apartement sebelum akhirnya terperangah dengan isi apartement dan penghuninya yang ia lihat bisa mengguncang posisi Liam Hemsworth di hatinya. "Halo!" sapa Luhan yang kemudian membungkukkan badannya tanda salam pertamanya.
Sehun hanya diam. "Aku pemilik apartement. Nama, kau sudah tau, umur, ku rasa tak penting. Seperti yang kau tau, aku adalah gay. Aku menyewakan apartement ini 30.000 won per bulan jika kau mau," ucap Sehun tanpa jeda. Luhan bingung sendiri dengan kalimat-kalimat Sehun.
Karena melihat Luhan belum mengerti, Sehun akhirnya kembali menyebutkan secara singkat penjelasannya. Setelah Luhan mengerti, dia sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, "Kau menyewakan apartement semewah ini dengan bayaran 30.000 won perbulan? Kau gila? Atau karena kau gay?" tanya Luhan yang benar-benar kaget.
"Sewa atau pergi?" tawarnya lagi dengan rahang yang mengeras. Sehun paling benci jika orientasi seksualnya ini dijadikan suatu pertimbangan besar.
"DEAL. Ini uangnya," jawab Luhan sambil menyerahkan amplop putih ke atas tangan si pemilik apartement yang berasal dari dalam kantung celanyanya. "Gunakan uangnya dengan bijak. Ibuku berpesan kepada orang yang memiik tempatku tinggal agar menjaga uangnya bukan aku," ucap Luhan lagi.
"Oh, baguslah." Luhan diam menderngar respon Sehun. Sebelum akhirnya dia sadar, posisinya bukan siapa-siapa. "Baiklah. Aku akan menuju kamarku." Luhan menarik kopernya, namun dia tak tau harus kemana. "Kamar sebelah kiri. Kamar ku sebelah kanan, jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin!"
Luhan mendengus. Sepertinya pemilik apartementnya ini benar-benar orang yang sensitif terhadap wanita. Luhan membuka pintu kamarnya. Kamarnya terlalu mewah untuk satu apartement yang disewakan . Satu ranjang dengan sprai dan selimut putih, satu meja belajar, sebuah sofa berwarna putih dan juga televisi lcd dengan layar lebar. Benar-benar gila.
Luhan terperangah dengan semuanya, kemudian dia melihat satu lorong di depan lorong toilet. Sebuah walk in closet mewah semakin membuat Luhan ingin menelan ludahnya. "I-Ini bukan apartement biasa."
. . .
Sehun menerima makan malam yang baru saja diantarkan karyawan restaurant ke apartementnya. Sehun bisa mencium aroma pasta ravioli yang amat lezat bahkan sebelum pasta itu ia sajikan. Tak lama, Luhan keluar dari kamarnya menggunakan tank top hitam dan celana separuh paha. Ia juga membawa jaketnya yang berwarna putih.
Awalnya Luhan merasa agak ragu menggunakan pakaian seperti itu, tapi ia yakin kalau Sehun tak akan tergoda sama sekali jika dia menggunakan pakaian seperti itu. "Aku mau ke restaurant bawah, makan. Kau sudah membeli makanan sepertinya," ucap Luhan sambil menggaruk lengannya yang tak gatal.
Sehun memberikan isyarat agar Luhan mendekat ke arahnya dan duduk di minibar. Sehun memberikan sepasang sendok dan garpu beserta piring. "Aku tidak akan setega itu membiarkan orang berbadan kecil sepertimu kelaparan di dalam kamar itu."
Luhan mengangguk saja dan menyuapkan pasta ke dalam mulutnya. Hangat dan enak adalah sensasi pertama yang Luhan rasakan ketika pasta masuk ke dalam mulutnya. "Aku akan membelikan makanan dibawah. Jadi, kau tak perlu beli makanan ke bawah lagi," ucap Sehun yang terus menikmati makanannya tanpa menoleh ke arah Luhan sedikitpun.
Luhan mengangguk lagi. Kemudian Sehun berdiri tanpa mengucapkan apapun dan berjalan menuju kamarnya. Luhan mendengar pintu kamar Sehun dikunci. 'Dia tidak makan lagi?' pikir Luhan dalam hati. Luhan segera menuju bak cucia piring dan mencuci piringnya sambil berpikir, kenapa Sehun langsung masuk ke kamarnya?
Luhan baru saja akan merapikan piring-piring yang sudah dicuci sebelum melihat piring Sehun yang sudah kosong seperti minta dicucikan. "Dia pikir aku pembantu?" tanya Luhan kesal.
. . .
Titititit…
Luhan bangun dari tidurnya setelah mendengar suara alarm yang ia pasang jam 8 berbunyi. Luhan mengucek matanya dan berguling-guling kesana kemari sebelum akhirnya diam dan menatap langit-langit kamarnya. "Ah… Rasanya aku tidak ingin pergi ke kampus. Lelah sekali rasanya," keluh Luhan.
Luhan kemudian bangkit dari duduknya dan segera berjalan ke walk in closetnya yang masih kosong dengan jalan bungkuk. Ia menyeringai di dalam walk in closetnya. "WAHAI PENGHUNI WALK IN CLOSET! SEGERA BALUT TUBUH TUAN PUTRI INI DENGAN PAKAIAN YANG BAGUS!" perintah Luhan dengan gaya bak seorang ratu.
Luhan terkikik sendiri mendengar ucapannya di pagi hari yang terdengar gila. "Aku sudah gila karena tinggal di apartement semewah ini," ucap Luhan yang kembali terkikik hingga akhirnya dia berhenti setelah air liurnya sendiri membuatnya tersedak. "Dasar, anak bodoh," makinya pada diri sendiri.
Luhan membuka kopernya dan mengambil pakaian dalam serta pakaian gantinya. Luhan menghidupkan air hangat dan mengisi bath upnya dengan air tadi. Luhan bersenandung kecil sambil mengambil handuk di kamar mandi.
Luhan membuka pakaiannya dan menggelungkan rambutnya ke atas, ia melilitkan handuk disekitar dadanya. Kemudian Luhan mengetes suhu air dengan mencelupkan kakinya ke dalam bath up yang baru terisi sedikit. "Hangat."
Tiba-tiba air kran berhenti mengalir. "Lho? Ada apa ini?" tanya Luhan yang kaget. Luhan panik dan memutar-mutar keran agar mengeluarkan air hangat seperti tadi. Luhan memukul-mukul kran sangking paniknya. "Ayolah!"
Air tak kunjung keluar, "OH TUHAN!" pekik Luhan kesal.
BRAAAKKK!
Karena kaget, handuk yang Luhan lilitkan terlepas dari kaitannya. Luhan terkejut bukan main saat mendapati Sehun berdiri di depan pintu dengan kaus putih tipis yang basah dan celana pendek untuk olahraganya. Sehun tampak kaget karena melihat Luhan tanpa pakaian.
"KYAAAAA~~~!"
. . .
Sorry
To Be Continued
. . .
Author note again…
Ahahaha! Hahahai readersku sekalian!
Boleh timpuk Aoi sekarang karena ngeupdate ini duluan. Dumped Princessnya belum siap. *timpuk Aoi sama-sama*. Maaf semuanya!
Jumlah reviewnya fantastis banget lho. Aoi aja nggak percaya waktu baca jumlah review yang ada, dan semua respon yang Aoi terima alhamdulillah positif semua. Makanya, ini Aoi lanjutin duluan. Jadi, ada yang bilang udah ada spoilernya di teaser kemarin.
Aoi juga baru sadar ternyata ada spoiler yang nyempil. Tapi, ternyata itu belum spoiler yang sebenarnya sayang. Itu juga bukan akhir dari kisah HunHan. Pokoknya ceritanya kayaknya bakalan panjang deh. Maaf ya.
Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan. Aoi merasa chapter ini kurang memuaskan sih. Tapi, kan selera tiap orang berbeda dan pendapat juga berbeda-beda. Maka dari itu, Aoi benar-benar minta lagi review kalian untuk chapter ini. Semoga kalian bisa memberikan saran atau komentar untuk FF ini.
Sekali lagi, terima kasih untuk semua pembaca, followers, dan favs yang kalian berikan untuk SYNG. Terlebih review yang menambah semangat menulis. Gak ada tandingannya. So…
REVIEW PLEASE!
