-The Past 2: Hujan-
-CelestyaRegalyana-
-T-
-Mystery, Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort, Sci-Fi, Friendship, Tragedy, Horror, Humor, and Suspense-
-Kuroko No Basuke hanyalah milik Tadatoshi Fujimaki, Yana hanya punya Seijuuronya#PLAK-
-OOC, Typo, Typo(s), GaJe, idenya udah pasaran, abal, dan lain-lain. Ah, ya, disini Yana buat warna mata, warna rambut, dan lain-lain gak sama dengan Anime aslinya. Yah, masaan ada, sih, manusia dengan rambut warna biru, kuning, dan merah di dunia ini? (Kalau di cat, sih beda itu) Intinya sesuai dengan dunia nyata-
Suara mesin memenuhi indra pendengaran Seijuuro. Kamar serba putih, dengan aroma khas itu tampak sunyi, kecuali suara mesin-mesin itu.
Seijuuro masih tertunduk dalam duduknya. Di atas ranjang, tampak seorang gadis yang dipenuhi dengan alat-alat medis.
Sudah 3 minggu, gadis manis itu tidur, dan Seijuuro mulai bertanya-tanya. 'Apakah Yuura ingin kembali lagi ke dunia ini?'
Seijuuro masih ingat bagaimana ia dihajar habis-habisan oleh Pamannya ketika Seijuuro mengungkapkan segala perbuatannya. Bahkan, Seijuuro harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
Yuura sekarang sedang koma, dan Seijuuro tidak tau apa yang harus ia lakukan. Dokter mengatakan bahwa 100% gadis itu akan mengalami kebutaan, kebisuan, dan kelumpuhan. Kecelakaan itu membuat beberapa saraf di kepalanya tidak berfungsi. Mendengar hal itu, Seijuuro merasa sangat terpukul, dan berdosa. Yuura masih berumur 15 tahun, ia masih terlalu kecil untuk diberikan cobaan seperti itu.
Anak-anak nakal yang waktu itu ikut untuk membully Yuura dikeluarkan dari sekolah –Sekolah Seijuuro dan Yuura adalah milik Kakek dan Neneknya- Memang, sikap mereka di sekolah tampak baik-baik, tetapi ternyata diluarnya sangat nakal. Dan sialannya, mereka tampak tidak tau dan merasa bersalah ketika mengetahui keadaan Yuura.
Hampir semua orang membenci Seijuuro. Kakek dan Neneknya. Paman dan Bibinya. Sepupunya, Shintarou. Gadis yang ia sukai, Momoi Satsuki, dan sahabat-sahabat Yuura, Nagisa Takahashi, Rin Nohara, Riko Aida, Yuuki Hiira, Aira Todoki, Shun Izuki, dan Yukio Kasamatsu. Dan sahabat-sahabat Seijuuro, Tetsuya Kuroko, Ryota Kise, dan Daiki Aomine. Semuanya tampak membencinya.
Dan jujur, sekarang Seijuuro merasa kesepian. Bohong kalau ia mengatakan dirinya kuat, dan Absolut. Nyatanya, air mata sekarang mengalir di pipinya.
Krieet…
"Ano… Akashi-San?"
Suara lembut mengalun di indera pendengaran Seijuuro. Cepat-cepat ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Miki Kagari, tampak berdiri di depan pintu ruang rawat Yuura. Bahkan Seijuuro sendiri tidak menyadarinya.
Seijuuro tersenyum palsu, dan menyambut Miki, teman sekelasnya itu. "Ah, maaf Kagari-San. Masuk saja."
Miki berjalan ke dalam dengan gerakan yang canggung, matanya memperhatikan sekeliling ruangan, dan ia tampak shock ketika melihat Yuura.
"Begitulah keadaan Yuura setelah kejadian itu. " Ucap Seijuuro, mengerti dengan maksud pandangan mata Miki. "Aku… Merasa sangat kasihan pada Yuu-Chan…" Entah mengapa, Miki selalu memanggil Yuura dengan panggilan itu.
(Tanpa mereka sadari, setetes air mata mengalir jatuh ke pipi Yuura)
Seijuuro hanya diam. "Anu, aku hanya ingin memberikan ini saja. Aku tau bahwa Akashi-San ingin ketenangan. Tolong diterima, Akashi-San." Miki memberikan Seijuuro sebuket bunga… Bunga Asphodel? Penyesalanku padamu sampai akhir?
(Tanpa mereka sadari –Lagi-, jari-jari kurus Yuura bergerak)
Seijuuro mengurutkan keningnya, apa maksudnya? "Terima kasih banyak atas bunganya, Kagari-San."
Miki mengangguk pelan. "Semoga saja… Yuu-Chan cepat sembuh… Dan ia tidak pernah mengetahui tentang…"
(Kelopak mata gadis yang berbaring di atas ranjang putih itu mulai bergerak-gerak, begitu juga dengan jari-jarinya)
Dan jujur Seijuuro benar-benar penasaran dengan kata-kata ke terakhir dari Miki. "Tentang? Tentang siapa?" Miki hanya tertunduk diam. "Yuu-Chan… It-!" Ada suara gaduh dari arah ranjang Yuura.
Mata itu terbuka lebar. Manik biru itu menatap tepat ke arah Miki. Tatapannya sangat tajam.
Semua mesin yang berada di dekat ranjang Yuura berbunyi panik. Tubuh kecil itu sedikit kejang. Matanya masih menatap Miki dengan sangat tajam. Bibir mungilnya terbuka, dan mengatakan beberapa buah kata.
"Pe… Pem…"
Seijuuro terkejut dan secepat mungkin melesat ke depan Yuura. Gadis itu masih mencoba untuk berbicara, tidak peduli dengan tubuhnya yang kejang. Miki membeku, dan ketakutan di depan pintu. Seijuuro menekan-nekan tombol emergency di atas kepala Yuura.
Langsung saja beberapa dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Yuura. "Maaf, Tuan. Anda harus keluar dari ruangan ini!" Perintah salah satu dari suster itu. Yuura masih kejang-kejang, tetapi anehnya matanya masih terfokus pada Miki. Seijuuro didorong paksa, begitu juga dengan Miki untuk keluar dari ruangan tersebut.
Dan selamanya, sampai akhir hayatnya, Seijuuro tidak akan pernah melupakan kata-kata yang berhasil Yuura ucapkan.
'Pembunuh.'
Setelah kejadian itu, Miki langsung pulang dengan muka yang pucat. Seijuuro tak tau mengapa, tetapi ia yakin bahwa gadis itu sangat shock. Beberapa lama kemudian, dokter tersebut keluar dari ruangan Yuura. Seijuuro langsung berdiri dari duduknya.
"Bagaimana keadaan Adik saya, Fukuo-San?" Tanyanya panik. Fukuo, dokter itu, menghembuskan nafasnya. "Lebih baik kita membicarakan hal ini di ruangan saya saja, Akashi-San." Seijuuro menurut, dan mengikuti Fukuo ke ruangannya.
"Jadi, bagaimana keadaan Yuura?" Tanya Seijuuro lagi.
"Ini… Sangat aneh…" Ungkap Fukuo. "Aneh? Maksud Fukuo-San apa?"
"Ada hal yang tidak wajar dari tubuh Adik Anda. Padahal, beberapa saraf di otak Adik Anda sudah tidak berfungsi lagi, dan seharusnya ia mengalami kebutaan, kebisuan, dan kelumpuhan. Ajaibnya, saraf-saraf tersebut kembali berfungsi. Adik Anda hanya seperti mengalami kecelakaan biasa, padahal ketika kecelakaan itu terjadi, Adik Anda sampai terpental beberapa meter hingga berada di depan kaki Anda." Jelas Fukuo. Seijuuro terhenyak di tempat.
"Jadi… Maksudnya… Adik Saya pulih begitu saja, bagian dalam tubuhnya sama sekali tidak terluka, hanya bagian luarnya saja?!"
"Begitulah. Saya juga merasa sangat bingung dengan kejadian ini…" Fukuo tampak sangat bingung dengan kejadian ini. Seijuuro terdiam.
"Ah, ya, apakah sebelumnya Adik Anda pernah mengalami amnesia?"
"Eh?"
Gadis itu masih duduk di kursi rodanya, mata kosongnya menatap ke luar jendela. Seijuuro memandangi Adiknya itu diam-diam. Yuura yang ia pandangi sekarang bukanlah Yuura yang dulu.
Yuura yang sekarang seperti robot. Sudah seminggu sejak Yuura keluar dari rumah sakit, Seijuuro belum pernah melihat satupun ekspresi yang tercipta di wajah gadis itu, ataupun kata-kata yang terucap dari bibir mungilnya. Maupun tersenyum, tertawa, dan lain-lain. Ia hanya diam, duduk di atas kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Raut wajahnya selalu datar, pandangan matanya kosong, benar-benar seperti robot.
Seijuuro bingung, begitu juga dengan keluarganya. Ada apa? Mereka sudah memeriksakan kondisi rohani Yuura, dan semuanya tampak normal-normal saja. Hah… Belum selesai misteri mengapa Yuura bisa sehat begitu saja, sekarang ia tampak seperti robot.
Pemuda itu berjalan mendekati Yuura yang sedang melamun, ia berjongkok di hadapan Yuura.
"Hei," Tak ada satupun jawaban dari Yuura. "Kau tidak bosan terus-terusan menatap ke luar jendela ini, hmh?"
"…" Yuura masih sibuk dengan urusannya. Seijuuro menghembuskan nafasnya, tangannya bergerak untuk mengusap-usap pucuk kepala Yuura.
"Kenapa kau menjadi seperti ini? Ada apa? Kau… Masih trauma karena ku?" Tanya Seijuuro lagi. "…"
Apa mungkin… Ini semua karena kejadian itu? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yuura sepuluh tahun yang lalu? Entah mengapa, suara Seijuuro berkata seperti itu.
Yah… Kejadian sepuluh tahun yang lalu… Sebenarnya, ada beberapa rahasia mengenai Yuura.
Akashi Seiyuura, lahir 15 tahun yang lalu. Hari itu, tepat hari dimana salju turun.
Beberapa hari setelah Yuura lahir, kedua orangtua Seijuuro hilang. Tak ada satupun kabar mengenai mereka. Kedua orangtua Seijuuro hanya meninggalkan sebuah catatan, dan tak pernah ditemukan lagi.
Kumohon, tolong jaga mereka berdua. Jangan sampai mereka memilih jalan yang sama seperti kami. DIdik mereka menjadi anak yang hebat, kuat, dan pintar.
Dari Akashi Masaomi, dan Akashi Megami.
Itulah kata-kata terakhir dari mereka. Dan jujur, Seijuuro masih penasaran apa maksud dari "Jangan sampai mereka memilih jalan yang sama seperti kami."
Nyatanya, Paman dan Bibinya gagal dalam menjaga Yuura. 3 bulan kemudian, Yuura menghilang. Sama seperti kedua orangtuanya, tanpa kabar.
(Dan tanggal di hari itu sama persis dengan tanggal hilangnya kedua orangtua Seijuuro)
Bibinya –Midorima Megurine-, merasa sangat terpukul. Jelas saja, ia adalah adik dari ayahnya. Ia dan suaminya diberikan amanah dari Masaomi, dan Megami untuk menjaga Seijuuro dan Yuura. Begitu juga dengan Pamannya –Midorima Yuuma-
Yuuma, dan Megurine mencoba untuk mencari Yuura dimanapun, bahkan mereka harus menyewa detektif terkenal. Tetapi, hasilnya… Tetap sia-sia.
Dan hal yang lebih menyedihkannya lagi, Midorima Shiina, dan Midorima Rei juga… Menghilang… Mereka bertiga seperti diculik. Megurine menjadi despresi, bahkan ia sempat masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Ketika Shiina dan Rei diculik, ada sebuah catatan kecil yang berbunyi; "Maaf, tetapi aku juga membutuhkan mereka."
Megurine membutuhkan waktu dua tahun untuk kembali sembuh.
8 tahun kemudian, disaat buih-buih salju kembali turun, Yuuma, Megurine, Seijuuro, dan Shintarou menemukan gadis kecil yang pingsan di depan rumah.
Mereka jelas terkejut. Ada sebuah catatan kecil di samping tubuh mungil gadis itu.
"Aku kembalikan harta terakhir dari Masaomi dan Megami. Semoga kalian senang dengan perubahannya."
Masaomi? Megami? Itu adalah nama orangtua Seijuuro. Tetapi…
Apa maksud dari "Semoga kalian senang dengan perubahannya."?
Tiba-tiba saja, gadis kecil yang tergeletak di lantai itu membuka matanya dengan perlahan-perlahan. Manik matanya yang bewarna biru sebening kristal itu menunjukkan diri. Persis seperti manik mata mendiang ibu Seijuuro.
Dia beringsut mundur. Gadis itu tampak ketakutan melihat mereka. Bibir bergetar, seperti menggigil. Dia pasti kedinginan karena telah lama berada di luar.
Yuuma mencoba menenangkan gadis kecil itu. Mengatakan bahwa Yuuma tidak bermaksud jahat.
Akhirnya, gadis kecil itu tenang dan menurut ketika Yuuma menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, Megurine mengambil beberapa pakaian hangat, makanan dan minuman hangat, dan selimut untuknya.
Seijuuro dan Shintarou yang saat itu masih berumur 12 tahun terdiam melihatnya. Begitu juga dengannya, walaupun dia sedang menunduk, matanya sesekali melirik ke arah mereka berdua. Tentunya dengan sorot mata yang sedikit ketakutan. Entah kenapa, Seijuuro merasakan rindu yang luar biasa pada gadis kecil itu. Entah mengapa… Ia merasa itu adalah Yuura.
Setelah Megurine mengganti pakaiannya, dan memberikan minuman hangat, Yuuma menginterogasinya.
"Siapa namamu, hm? Jangan takut. Kami tidak akan melukaimu, kok." Tanya Yuuma.
Dia menunduk, sebelum menjawab dengan sedikit ragu; "Sei… Se-Seiyuura…"
Saking terkejutnya mendengar jawabannya, Megurine sampai menutup mulutnya. Yuuma juga sempat terpana mendengar jawabannya. Seijuuro juga jelas terkejut.
"Be-Berapa umurmu?" Dia menggeleng. "Tempat tinggalmu?" Dia kembali menggeleng.
"Mengapa kau bisa berada di sini?" Kali ini, Megurine yang memberikan pertanyaan.
"Aku… Aku tidak tau… Yang aku tau… Aku terbangun, da-Dan sudah berada di sini…"
Mereka terdiam. Gadis kecil ini pasti amnesia. Pasti.
"Da… Dan… Aku hanya mengingat na-Nama ku…"
"Sama sekali?" Ia mengangguk.
Setelah hari itu, ia mulai tinggal di rumah Seijuuro. Yuuma dan Megurine juga sudah membawa Yuura ke rumah sakit untuk cek darah, dan hasilnya… Sama dengan golongan darah Masaomi.
Mereka semua bahagia, Yuura yang mereka rindukan sudah kembali. Walaupun ia amnesia atau apapun, Seijuuro dan keluarganya tetap bahagia.
Di awal-awal ketika ia tinggal di rumah Seijuuro, Yuura adalah anak yang pendiam dan penakut, juga mempunyai hobi menunduk. Yuura sangat canggung dengan mereka semua, terutama Seijuuro.
Namun, seiring dengan waktu, Yuura mulai berubah. Ia masih tetap pendiam, tetapi pendiam yang lebih 'menyenangkan' Dan Seijuuro sangat suka melihat sifat polosnya itu.
Itulah rahasia dari keluarga Akashi. Rahasia yang masih memiliki rahasia yang mungkin payah untuk dikuak.
"Yuura-Chan! Akhirnya Kau kembali bersekolah!"
"Yuura-San!"
"Baby, I miss you so much!" Yang Seijuuro tau, kata-kata (laknat) itu pasti berasal dari Izuki.
Setelah beberapa hari kemudian, Yuura diperbolehkan untuk kembali beraktifitas seperti biasanya. Ketika Seijuuro mendorong kursi roda Yuura menuju kelasnya, teman-teman Yuura langsung menyerbunya.
"Yuura-Chan, gimana keadaanmu?" Tanya Momoi sambil berjongkok di depan kursi roda Yuura. Gadis itu hanya diam dan menatap ke depan dengan tatapan yang kosong. Nagisa, sahabat Yuura yang paling misterius, dan pendiam, mengernyit. Tatapan matanya tertuju pada Seijuuro. Pemuda itu berbisik pelan.
"Huhuhu… Hiks… Baby, you are sangat menyedihkan. Must berapa lama you sit in this kursi roda?" Si Kasamatsu, yang bahasa Inggrisnya masih dibawah KKM (Sama seperti Izuki), bertanya dengan nada lebay, dan membuat Seijuuro menatapnya datar.
"Ihh… Yuura kok diam aja, sih? Apa perlu kita nyanyikan lag- Auwww!" Si empu bicara, Izuki, langsung berteriak kesakitan ketika merasakan lengannya dicubit oleh si gendut Aira. "Diam, ah! Bising, kali!"
Seijuuro tersenyum simpul (Yang mampu membuat fans-fansnya klepek-klepek), dan berkata; "Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku titip Yuura."
"Tenang saja, Senpai. Kami bakalan menjaga Yuura seperti pengawal menjaga seorang princess, kok!" Ucap Rin, yang membuat satu kelas menyorakinya.
-Yuura POV-
Rintik-rintik hujan mulai turun ke bumi. Udara menjadi dingin.
Terdengar beberapa keluhan, bukan karena lapangan yang basah karena hujan atau bagaimanapun, karena lapangan sekolah ini memiliki atap yang sangat canggih. Ketika hujan turun, atap ini telah teraplikasi untuk langsung menutupi lapangan sekolah. Tetapi, karena udara menjadi dingin dan membuat mereka menjadi malas bergerak. Aku hanya diam saja, dan kembali menatap pemandangan di luar jendela.
Hujan…
Beberapa memori terlintas di pikiran ku. Memori menyedihkan itu…
Dan dia telah kembali, di bawah sana. Ia berdiri diam, membiarkan dirinya diguyur oleh hujan, menatapku dengan pandangan yang sendu. Tatapannya sama persis seperti kejadian itu terjadi. Rasanya aku ingin menangis. Kenapa hatiku justru terasa tersayat ketika melihat tatapan itu?
Pemuda di bawah sana masih menatapku, samar-samar aku melihat bibirnya mengucapkan sebuah kata-kata.
Tanpa terasa, air mata menetes melewati pipi pualamku. Hatiku terasa sakit. Kata-kata yang ia ucapkan sangat mennyakitkan, dan menusuk hatiku.
Tanpa terasa, aku terisak dan aliran air mataku semakin kencang mengeluarkan liquid bening itu.
-Yuura POV END-
-Nagisa POV-
Aku membaca buku di hadapan ku dengan santai. Suara bising memenuhi ruangan kelas ini. Tentu saja, hari ini Flower-Sensei mengambil cuti hamil selama seminggu.
Hujan membuat udara menjadi dingin, dan membuatku memeluk tasku untuk menghilangkan rasa dingin yang menjalar.
Tiba-tiba saja, aku mendengar suara isakan tangis dari sampingku. "Yu-Yuura?"
Bahunya bergetar hebat. Aku yakin bahwa Yuura sedang menangis! Aku menyentuh pundaknya, dan…
PLAK!
Ia menampar tanganku yang berada di lengannya. Aku terkejut, dan memegang tanganku yang tadi ia tampar.
Momoi yang berada di depan mejaku (Aku dan Yuura duduk di kursi paling belakang), menyadari bahwa ada suara tangisan yang cukup kencang.
"Yuura-Chan?! Ada apa?!" Momoi berseru cukup kencang, dan membuat satu kelas memfokuskan perhatiannya pada Yuura.
Rin dan sahabat-sahabatku langsung mendekati mejaku dan Yuura, "Yuura-Chan ada apa? Kenapa kau menangis?!" Tanyanya panik.
"PERGI! PERGI KALIAN SEMUAAA!" Suara teriakan Yuura menggelegar. Saking terkejutnya, Momoi sampai terlunjak di tempat dari tempat duduknya.
"PERGI! PERGI! PERGI!" Yuura memberontak liar, melemparkan semua barang-barang di atas meja. Aku berdiri menjauhinya. "Panggil Seijuuro-Senpai! Cepat!" Aku menyuruh Yuuki dan Aira untuk memanggil Kakak dari gadis yang sedang kesurupan ini.
"KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI KEPADAKU?! PERGI! MATI SAJA KALIAAN!" Yuura tidak mungkin kesurupan, karena aku tidak ada melihat satupun roh jahat yang berada di sekitar sini –Aku juga dapat melihat hal-hal seperti itu- Yuura memberontak makin liar, bahkan ia menarik-narik rambutnya.
"Yuura! Yuura! Tenanglah!" Aku menahan tangannya yang sedang menarik-narik rambutnya sendiri. "PERGI! JANGAN GANGGU AKU!" Aku memberikan isyarat pada Riko untuk membantu ku.
"ARGHH! PERGIIIIII!"
-Nagisa POV END-
"SENPAI! SENPAI!"
Suara nyaring Aira terdengar di depan kelas Seijuuro. Sensei yang berada di kelas Seijuuro, Akashi Hibiki –Ia juga sepupu Seijuuro, merupakan anak dari Kakaknya Masaomi- Terkejut.
"Kenapa kalian berteriak-teriak seperti itu?!" Tanya Hibiki. Aira menghela nafasnya yang ngos-ngosan, begitu juga dengan Yuuki. "Itu… Itu…"
"Itu apa?"
"Yuura…" Tubuh Seijuuro langsung menegak ketika mendengar nama Yuura. Ia berdiri dari duduknya.
"Ada apa dengan Yuura?!" Dan jawaban selanjutnya membuat Seijuuro langsung lari dan menubruk tubuh Aira dan Yuuki yang berdiri di depan pintu kelasnya.
"Yuura… Ia tiba-tiba saja… Menangis dan berteriak seperti orang gila! Dia bahkan melemparkan semua barang-barang di mejanya!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bukankah cinta kita sama seperti hujan yang turun disaat ini? Hanya sebentar, tidak abadi, menyakitkan, dan memiliki luka dalam yang membekas di hati kita?"
Halo~
Akhirnya, bisa update juga:D
Setelah mengalami hari valentine sebagai JONES, dan mengalami semua tantangan PR dari guru, Yana bisa update juga!
Yana gak banyak-banyak bicara deng!
RNR, Please?
