.
.
.
Kuroko's Basketball © Fujimaki Tadatoshi
Warning! Typo, OOC, bahasa tidak sesuai EYD, AU, bisu reader, dan lain-lain
Genre : Romance, Drama
Character : Akashi Seijuro
Note : Saya membuat fic ini atas pemikiran sendiri, kalau ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu adalah ketidaksengajaan.
"Colorful World (美しい世界)" – Andrea Sky
.
.
.
Chapter 1 : "Kita"
.
.
.
Aku mengerutkan alisku. Membolak-balikkan halaman novel yang sedang kubaca, kemudian, aku menoleh pada Satsuki. Tau bahwa aku sedang melihatnya, gadis itu tersenyum sambil menelengkan kepalanya, "ada apa, (Name)-chan?"
Aku merogoh ponsel-ku yang ada di tas sekolah, kemudian mengetik sesuatu disana.
"Satsuki, kau pernah jatuh cinta?"
Ia tersentak, kemudian mengangguk antusias.
"Iya! Tetsu-kun! Dia itu keren sekali, kan? Ia tidak terdektesi keberadaannya, bisa tiba-tiba muncul, dan gentle pada gadis! Tidak seperti Da–Aomine-kun yang seenaknya," ia mengembungkan pipinya, lalu lanjut berbicara, "Tetsu-kun itu keren. Meski tidak mendapat ranking tinggi seperti Akashi-kun maupun Midorin, tapi tetap saja, ia berhasil masuk 20 besar. Tetsu-kun sebagai anggota komite perpustaan, karena ia sangat menyukai buku. Aku ingin tau, bagaimana warna rambut Tetsu-kun bisa biru seperti itu..."
Aku mendengus, tapi kemudian memasang senyum. Satsuki memang selalu antusias jika itu menyangkut Kuroko. Aku bukannya tidak tau ia menyukai Kuroko, ia selalu bertindak seperti itu didepan kami semua, jadi menurutku, semua orang akan menyadarinya. Aku bertanya bukan berarti aku tidak tau, sih. Tapi...
"Satsuki, kenapa kau menyukainya?"
Aku mengetik sesuatu lagi, memintanya membacanya. Ia mendongak, menaruh jari telunjuknya di bawah dagu lucu, kemudian berucap, "kurasa karena ia.. sangat baik pada gadis. Ia bersih, tidak seperti Aomine-kun. Ia juga tidak serampangan seperti orang itu. Tetsu-kun pemuda yang bisa dibilang pintar, ia juga lihai mengarang, terlihat dari lomba mengarang novel 200 halaman waktu itu yang ia menangkan… kalau Aomine-kun, ia tidak bisa melakukan itu. Bahkan aku ragu, apa, sih, yang ia bisa?" Satsuki terkekeh kecil di akhir kalimat panjangnya.
"Ngomong-omong, kenapa bertanya?"
Aku tadinya ingin mengeluarkan apa yang kupikirkan. Tapi sekarang, aku hanya menggeleng, memasang senyum iseng, aku mengetik lagi, lalu kusodorkan padanya agar dia melihat.
"Tidak, kok. Pengen tau saja,"
Setelah itu, dia tertawa. Manis sekali. Tapi, aku tidak tau. Ia tertawa karena membicarakan Kuroko atau Aomine. Karena setelahnya, ia terus mengeluh soal Aomien yang ini dan itu.
Kupikir, seharusnya menyukai seseorang tidak memiliki alasan. Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang. Karena tau-tau saja, orang itu sudah menjadi istimewa. Aku selalu berpikir. Apa yang manusia sebut suka. Aku suka Satsuki. Suka Kuroko, Kise, Aomine, Midorima, Murasakibara, dan Akashi, aku suka teman-teman sekelasku yang baik padaku dan tidak memandang rendahku, aku suka Myaa-sensei yang membantuku dalam matematika. Tapi suka dalam hal apa? Aku suka mereka, suka melihat dan berbicara dengan mereka–rasanya menyenangkan–karena ada hal yang kusuka dari mereka. Bukan berarti…
aku suka mereka dalam artian, hm, spesial dan punya tempat tersendiri di hatiku. Itu berbeda, kan? Dulu, aku juga pernah merasa 'suka' itu adalah sesuatu seperti yang Satsuki rasakan. Aku menganggap diriku suka dengan seseorang hanya karena senang melihatnya, ia baik padaku, dan ada suatu bakat didalam dirinya yang kusuka. Padahal... itu gak bisa disebut suka, kan...
Ah, kalau ada yang bertanya kenapa tiba-tiba aku memikirkan seperti ini… jujur saja, aku baru saja membaca sebuah novel dengan tema romance klasik. Ya, jangan ngomong, aku tau agak sedikit… uh, bagaimana menyebutkan, melankonis? Pada intinya, aku sedang sangat-teramat bosan kali ini sehingga memilih novel sebagai pengisi waktu.
Kriiiing–!
Akhirnya bel pulang. Haha, baguslah. Ya ampun… aku sungguhan gak betah di kelas hari ini. Ngantuk banget… dan juga, aku nanti ingin membantu Okaa-san untuk membuat kue... yah, mengingat sebentar lagi akan Natal. Memasukkan buku milikku kedalam tas, aku tersenyum kecil dan mengangguk saat Satsuki berucap tidak bisa menemaniku pulang karena hari ini waktunya latihan basket. Oh, ya, mereka sedang dalam penyisihan Winter Cup, kan? Yah… meski sudah terlihat sih siapa yang menang, sebulan sekolah disini membuatku tau, kok.
"Ah, kalau begitu, sampai jumpa besok, (Name)-chan!"
Aku mengangguk, melambaikan tanganku. Um, mata ashita, Satsuki. Sampai akhirnya punggung Satsuki tidak terlihat lagi, aku menghela napas. Ukh, besok hari Sabtu, ya… itu artinya aku harus les matematika… huh, payah. Kemudian mulai berjalan, menyusuri lorong sekolah, aku tersenyum tipis saat melihat lukisan yang terpaut di dinding, sepanjang tangga sekolah.
Ini milik siapa, ya, siapa yang melukisnya…? Ini sangat cantik, kau tau. Setiap kali pulang sekolah, aku selalu memandang lukisan yang ada di dinding ini. Terutama lukisan dengan judul, "under the sky of stars" ini. Didalam lukisan itu, terlihat punggung seorang gadis dan seorang lelaki. Mereka bergandengan, sedang mendongak, dan menatap langit. Didepan mereka terhampar pantai yang luas, dengan ombak yang menggulung, tapi tidak terlalu besar. Detail-detail yang ada cantik sekali. Haha, kadang saja aku sedikit malas untuk menggambar detail pada lukisanku…
Ah, aku harus segera pulang! Berlari sedikit cepat menuruni tangga, di pikiranku sekarang hanyalah rumah.
.
.
.
"(Name)-san?"
Aku tersenyum, memiringkan kepalaku ke kanan. Ada apa, ya? Ia mengukir senyum tipis di bibirnya. Menepuk pundakku pelan, ia berkata, "(Name)-san mau masuk ke kelompokku? Kami kekurangan orang, nih!"
Oh, iya. Aku sudah harus menentukan kelompok untuk tugas Biologi. Eh, tunggu–aku menoleh ke kanan dan kiri-ku. Aku menemukan Satsuki sudah berbincang ria dengan beberapa teman sekelasku yang lainnya. Sepertinya Satsuki sudah menemukan kelompok, ya… yah sudahlah, kalau begitu.
"(Name)-san? Kau melihat apa?"
Aku berbalik melihat gadis yang mengajakku bicara tadi. Aku mengangguk pelan, menyatakan aku mau. Ia terlihat senang, menepukkan kedua tangannya, "thanks! Kalau begitu, hari Sabtu ini datang ke rumah Aa-chan, ya! Nanti ku-email alamat rumahnya. Nah, dag!" dan berkata seperti itu sebelum bergabung dengan orang-orang yang lain.
Sabtu ini, kah…
.
.
.
Ting –tong!
Beberapa saat setelah menekan bel, aku mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Ketika langkah kaki itu terdengar semakin dekat, pintu pun terbuka. Ah, itu Akane. Yah, yang Kurumizawa sebut 'Aa-chan' adalah dia.
"Eh, selamat datang, (Name)! Ayo masuk!"
Aku mengangguk, tersenyum. Menganggukan kepalaku sopan saat melihat kedua orang tua Akane, lalu kami berdua berjalan kearah kamar gadis itu. Kelompok kami ada 3 orang, termasuk aku. Ini hanya kerja kelompok membuat makalah, sih. Kami mengerjakannya bergantian, menggunakan komputer milik Akane. Kadang, kami berbincang bersama, aku menggunakan kertas atau terkadang ponselku, tentunya.
Tapi mendadak, topik-nya berubah.
"Huh. Kalian tau Momoi Satsuki, kan?"
"Iya, tentu saja. Dia kan manager tim basket sekolah, gimana, sih…"
"Haa! Dia hanya beruntung karena teman sejak kecil-nya Aomine Daiki… padahal aku juga ingin jadi manager.."
Sungguh. Aku merasa… agak tidak enak. Kenapa mereka membicarakan Satsuki sampai seperti itu, sih…
"Iya, tau deh yang suka sama Akashi Seijuro… karena itu kau ingin jadi manager, kan."
"Ya ampun, Aa-chan!" Kurumizawa terlihat kesal, mencubit lengan Akane keras. "Ne, ne, (Name)-san! Bagaimana menurutmu? Satsuki itu menyebalkan! Aku tau ia ramah dengan semua orang, tapi dia sangat sombong!"
Aku menghela napas. Menggerakkan tanganku yang menggenggam pensil dengan ragu diatas kertas. Kemudian, kusodorkan kertas itu pada mereka berdua.
"Kurasa, Satsuki bukan orang yang seperti itu… menurutku."
Aku tersenyum tipis. Kuharap mereka mengerti. Aku tidak melihat Satsuki dengan cara seperti itu. Hanya karena Satsuki orang pertama yang menyapaku waktu aku masuk, bukan berarti aku melihatnya lebih baik dari orang lain–bukan. Tapi pada nyatanya, dia bukan orang yang seperti itu. Orang yang memamerkan apa yang dipunyanya.
Ya…
"Oh, gomen," Kurumizawa terkekeh kecil, "iya, kami tau. Satsuki memang sangat baik padamu. Nah, ayo lanjut buat makalah-nya!"
Aku tersenyum. Mengangguk pelan, kami sama-sama mengerjakan tugas ini lagi. Yokatta.. mereka mengerti.
.
.
.
"Kemarin… Kurumizawa dan Akane membicarakanmu."
Itu yang kutulis di i-phone-ku. Tapi, Satsuki tidak terlihat terkejut. Ia malah hanya tersenyum tipis, "yah… biar kutebak. Membicarakan bahwa aku sombong dan mentang-mentang berteman sejak kecil dengan Aomine-kun jadinya kesempatan itu kuambil untuk mendekati sebuah tim basket terkemuka di Jepang dengan julukan Miracle Generation?" ada kekehan pelan di akhir kalimatnya.
Aku menghela napas, mengangguk. Tepat sekali, Satsuki.
"Satsuki sudah biasa, hiraukan saja…" Aomine menguap, sehabis itu, melahap 1 dari 5 burger yang dibelinya. Whoa, sugoi na. Perutnya sebesar apa, sebenarnya. "Maksudmu, aku yang dihiraukan atau mereka, A-o-mi-ne-kun~" Satsuki, kenapa kau pasang kuda-kuda ngajak berkelahi begitu dengan Aomine.
"(Name)-cchi masih polos, ya–ssu!" Kise tertawa kecil melihatku. Aku mengembungkan pipiku. Maksudmu apa, Kise?
"Ambigu, Kise."
"Otakmu yang ambigu, Aominecchi!"
"Sudah, sudah," Midorima menghela napas. Ahaha. Mungkin dia berpikir seperti biasanya semacam, 'kenapa setiap kali makan siang harus ribut begini'.
"Memangnya ada apa dengan Momoi? Bu–bukan berarti aku peduli, nanodayo!"
Uwah… kawaii… aku menggerakan tanganku, terkekeh kecil. Si tsundere yang 1 ini memang, ya.
"Kata (Name) kamu itu kawai, Midorima…"
"Akashi!" Midorima menepuk dahinya. Aku tertawa, kemudian menghembuskan napas.
"(Name)-cchi. Bukan berarti dengan kita adalah Miracle Generation maka semua orang akan menyukai kita." Kise tersenyum padaku. Ah… sejak kapan sikap dan aura kekanakkan yang tadi hilang, ya? "Jika ada yang tidak menyukai kita, kurasa itu wajar–ssu. Tidak semua orang menyukai kita dan ingin jadi teman kita. Tapi satu hal yang pasti–ssu…"
Kise menepuk puncak kepalaku, membuatku menutup mata walau hanya sejenak. Ketika membuka mata lagi, kulihat Kise dengan senyumannya. Ah, dia memang suka nyengir. Entah hobi entah kemampuan.
"Kita pemilih dalam memilih teman, ssu! Kalau ada seseorang yang boleh masuk ke ruang lingkup kami, artinya dia lolos seleksi–adawww!"
"Cepet makannya, Kise! Berisik tau!"
"Mou–Aominecchi jahat!"
"Bodo!"
Meskipun ucapannya abstrak, sepertinya aku sedikit mengerti… ya…
Aku mengekeh.
"… Kau murah senyum,"
Menoleh ke asal suara, aku tersenyum, lagi, begitu kusadari. Menggerakan tanganku, aku menatap pemilik manik scarlet itu.
"Thanks. Kuanggap sebagai pujian, Akashi."
"Kau tau. Kise tidak salah," dengan ucapan yang ditujukan padaku itu, Akashi berdiri dari tempat semulanya duduk, kemudian berucap lantang, "ayo balik ke kelas. Sudah bel,"
Kise tidak salah, huh...
aku boleh geer kalau kuanggap diriku bagian dari mereka, kan?
.
.
.
"(Name)-chan! Ayo ikut shooping yuk!"
Aku ingin menghela napas, tapi tidak jadi. Aku takut mereka merasa tidak enak. Lagipula, kenapa Kurumizawa dan Akane jadi gencar mengejarku ke sana ke mari akhir-akhir ini... menolak seseorang itu tidak enak, tapi memaksakan diri untuk ikut juga aku tidak suka... hhh... payah...
"Uhm, gommena, Akane, Kurumizawa. Aku ada urusan..." mengetik cepat melalui ponselku, kemudian mereka mengangguk mengerti sambil berucap sayang sekali dan sebangsa itu. Aku pun bersiap untuk pulang sekolah.
Saat menemukan Satsuki dan yang lainnya di gerbang, aku tersenyum. Mereka menungguku seperti biasanya, huh?
Hehe. Terima kasih.
.
.
.
"(Name)-chaaan! Ayo ikut, kita akan karaoke!"
"Maaf, Kurumizawa. Aku buru-buru!"
.
.
.
"(Name)-chan!"
"Lain kali, ya, Akane to Kurumizawa!"
.
.
.
"(Name)-chan, mou! Ayo jalan-jalan! Ajak Satsuki juga yuk!"
"Kalau aku bisa, ya! Dadagh!"
.
.
.
"(Name)-chaaaan!"
.
.
.
Aku menghentak-hentakan kakiku, kesal. Ya ampun! Aku seperti di kerjar-kejar oleh renteiner! Memang sebanyak apa utangku, sih?! Grrh, aku tau, Kurumizawa dan Akane bermaksud baik. Tapi aku juga tidak suka kalau gini caranya! Pagi siang malam sampai pagi lagi ada aja email atau telepon! UKH! Mereka itu maunya apa, sih... jujur saja, aku agak lelah seminggu ini dan malah minggu depan sudah Natal. Aku harus mengerjakan tugas musim dinginku secepatnya!
"(Name)-chan!"
Shimatta–! Aku memacu laju kakiku secepat yang kubisa, tidak peduli meski aku sehabis makan. Jam istirahatku pun jadi terbuang sia-sia, please deh...
Setelah ada belokan, aku berbelok, kembali berlari sepanjang koridor sekolah–
Bruk!
Kh–aku mengusap keningku yang sempat bertubrukan dengan sesuatu, membuatku terjatuh seketika. Siapa? Aku mendongak, menyingkirkan telapak tanganku dari wajahku–
AKASHI! Mampus! Awawawa, aku akan dimarahi!
"(Name)-chan... dimana, sih?"
Sialllll, Kurumizawa! Aku berdiri secepatnya, menepuk kedua tanganku diatas kepala sambil menunduk–menyatakan permintaan maafku pada Akashi, kemudian saat hendak berlari lagi, aku merasa pergelangan tanganku digenggam–eh...?
"Kau sepertinya di kejar, yah."
Eh... kenapa ia.. tersenyum–chigau yo... lebih tepatnya, ia menyeringai. Apa jangan-jangan dia menganggap ini permainan ya? Huh, payah–
Syut!
Detik berikutnya, aku merasa tubuhku terayun, pandanganku terasa terbalik–AKH! Akashi, turunkan aku! Akashhiiiii! Ya ampun, haruskah ia menggendongku seperti beras di pundaknya begini? Memukul-mukul pelan punggungnya, aku mendengus. Tuan Akashi, perhatian semua orang terpusat pada kita!
"Nah, mari lari," dia mengeratkan pegangannya pada kakiku, memastikan aku tidak jatuh. Dan...
UWAA! Jangan berlari secepat itu, Akashi! God!
.
"Ya ampun... lupakan tentang tadi dan thanks udah nolongin..."
Sembari menggerakan tanganku didepan Akashi, Akashi mengangguk, meneguk isi botol kemasaan air.
"Mereka ngapain?" Akashi bertanya, mendelik padaku. Iris ruby-nya berkilat terkena cahaya matahari dan itu... mengintimidasiku. Eh, kenapa–loh... kenapa kesannya aku jadi kena marah... apa aku melakukan sesuatu yang salah, ya..?
"Entahlah... seminggu yang lalu ini dimulai, kurasa. Karena kita 1 kelompok untuk tugas makalah, dan sejak itu mereka jadi gencar mengikutiku dan mengajakku ke sini-situ... meski selalu kutolak, sih,"
Ah... payah. Tanganku sampai kaku bergerak. Sebenarnya kenapa ia terlihat begitu marah...? Kami saling terdiam sebentar. Sampai napas Akashi mulai teratur, ia berkata, "Souka. Wakatta. Ja ne," dia berdiri, melambaikan tangannya padaku. Aku balas melambaikan tangan padanya, singkat
"Oh ya," dia melihatku melalui bahu-nya, "hati-hati."
'Hati-hati'?
Ada apa, sih... hhh, sulit ditebak. Abstrak. Berwarna-warni. Saking berwarna-warni-nya, jadi sulit ditebak.
Manusia itu... rumit. Aku memang menginginkan teman, sih. Hanya saja, sedikit lelah dengan sikap mereka berdua yang sangat agresif. Kurasa, besok aku akan minta maaf dan mengajak mereka jalan-jalan, deh...
hh...
.
.
.
"Well, tadi dia lari menghindariku ketika kupanggil."
"Ehh~ sungguhan, Kurumi? Ah, ternyata (Name) juga sama seperti yang lainnya ya. Sombong, kok ya."
Aku tersentak. Jangan berbelok, jangan berbelok–demi apapun kenapa aku harus bersembunyi di balik loker sepatu! Oh, lagipula aku tidak membenci kalian! Ukhh, kenapa aku tidak segera keluar dan meluruskannya saja–
"Kesempatan emasmu hilang untuk mendekati Akashi, deh, Kurumi. Ahahaha, ya ampun, kasihan sekali!"
Degh–
Eh... apa?
"Berisik, Akane! Si tengil satu itu, benar-benar... kalau dia sedikit lebih dekat dengan kita, kurasa Akashi akan tertarik padaku,"
Aku menahan napasku begitu kusadari. Entah sejak kapan, karena rasanya sesak sekali sekarang.
"Yah… dia kan bisu, gak bisa apa-apa. Gak usah khawatir meski dia dekat dengan Miracle Generation, kurasa."
Aku tau. Aku sudah tau. Kalau hal itu…
aku sudah tau sejak lama.
"Cewek cacat. Mati aja deh. Tadi kulihat dia di pundak Akashi, tau. Sepertinya Akashi yang mengendongnya, sih.."
"Ehh? Kayak jablay, dong! Hahaha! Di gendong di pundak? Ampun dah parah amat tuh cewek... nge-godain-nya sampe begitu!"
Aku bersandar pada dinding loker. Seharusnya, aku sudah tau. Kenapa aku bodoh sekali…
"Haha! Bisu, bisu! (Name) si bisu!"
.
"Yah, maaf ya! Air bekas cuciannya kena kamu, ya? Aduuh, kasihan!"
.
"Kamu gak pantes hidup, tau! Bikin susah semua orang!"
Shimatta… aku ingin menangis… bagaimana, ini… ukh–aku sudah tau! Aku tau, aku tau, aku tau! Mou–yamete kudasai…
"Kita bully aja yuk besok?"
Ah...?!
"Nah! Bagus, Akane! Kau memang sahabatku!"
"Mau diapain, nih?"
"Bikin dia pingsan. Buka bajunya, trus foto, sebarin."
"Jahat…"
"Peduli? Haha,"
Kakiku bergetar, tidak bisa bergerak. Jahat… bagaimana kira-kira wajah kalian saat membicarakan itu? Sial! Aku lebih baik segera kabur–… kakiku… tidak bisa bergerak. Ah. Lemah sekali… kenapa, ya? Sejak dulu, aku tidak pernah berani melawan…
"Hng–"
Aku mengerjap saat ada sesuatu yang menarik pergelangan tanganku ke belakang, membuat tubuhku limbung. Alasan kenapa aku tidak jatuh adalah karena punggungku bertubrukan dengan sesuatu dan hal tersebut menahan tubuhku, sebuah lengan melingkar di pundakku. Aroma mint menyerbu masuk ke dalam indrea penciumanku, yang entah bagaimana menenangkan seluruh syaraf-ku. Aku mendongak, kemudian membelalak lagi, untuk kesekian kalinya.
Akashi–kamu tuh ada dimana-mana, ya?
Tapi, anehnya… aku merasa lega bertemu dengannya. Mungkin karena itulah sekarang air mataku bergulir dengan deras, membasahi lengannya.
"Ughu... hungg... hik.."
"Eh, siapa sih dibelakang itu berisik–A-a-a-kashi-… sama?!"
'Sama'? Duh, itu pasti Kurumi. Jangan sampai dia melihatku, hiks…
"Sepertinya tadi ada yang membicarakanku, ya," suara bariton ini jelas milik Akashi. Apa dia mendengar semuanya dari awal? Apa dia marah? Suaranya... berat sekali dan lebih mengancam.
"Ma–maaf menganggumu," itu suara Akane, "ka-kami pergi dulu, Akashi!"
Dengan cepat, suara langkah derap kaki perlahan menghilang dari pendengaranku. Aku menghela napas lega. Arigatou, Akashi… hh… hontouni.. arigatou.
"Aku pernah melihat mereka mem-bully murid sekolah," ucapnya, tiba-tiba, "dan rumornya hanya karena orang yang mereka bully itu memutuskan pertemanan di akun sosial. Cukup jelas, Nona (Name)?"
Aku mendengus. Memukul lengan Akashi, dengan tenaga yang pelan sekali. Ayolah, aku tidak ada mood untuk bertengkar sekarang, serius. Aku sudah cukup lelah, kau tau. Hm-mnn. Meskipun begitu, aku berterimakasih kok...
"Kalau berterimakasih harus melihat ke orangnya kan?"
Sekali lagi, aku mendengus. Melepaskan lengan Akashi di bahuku, aku berbalik, sembari mengembungkan pipiku. Wajahku pasti acak-acak-an sekali. Aku membuka mulutku, bibirku kubentuk gerakan.
"Te-ri-ma-ka-sih, A-ka-shi."
"Momoi dan yang lainnya menunggumu di gerbang,"
Aku tersenyum lebar, "iya!" aku mengangguk. Dipikir-pikir lagi, manusia memang lucu. Mereka berwarna-warni. Mungkin, warna hitam pekat kadang memenuhi kertas. Tapi dibawah warna itu, tersembunyi begitu banyak warna yang cantik dan berbeda. Akashi seperti ini. Ada juga kertas yang terlihat cantik dan menarik, tanpa tau, dibawah warna itu, tersembunyi warna hitam pekat yang tidak bisa dihapus lagi. Kurumizawa dan Akane adalah salah satunya. Seperti 2 sisi koin yang berbeda–perumpaan yang mana pun sama saja.
Seharusnya, aku sudah tau bahwa manusia memang seperti itu. Tapi kenapa aku masih berharap bahwa aku bisa menjadi teman semua orang dan semua orang akan baik padaku… aku ini… bodoh.
"Kau memang benar-benar bodoh," ia menghela napas. Huh! Dia ini…
"(Name)-cchi! (Name)-cchi, sini–ssu! Ayo, cepat!"
"(Name)-chan! Mou, kau bikin khawatir! Kita cari ke kelas gak ada, dibelakang gym juga gak ada!"
"(Name)-san jajanin vanilla milkshake ya?"
"(Name)-chin… aku lapar, ayo cepat…"
"Kemana saja, nanodayo? B–bukan berarti aku peduli, kau tau…"
Aku mengerjap. Berbagai suara datang menyerbu telingaku, membuatku terkekeh kecil. Hatiku hangat. Ah… mereka memang temanku.
"Kita temanmu, (Name)-chan. Jangan pedulikan Kurumizawa dan Akane, ya?" Satsuki berucap, mendekapku. Eh, darimana dia tau?
"Aku yang memberitahu," ucap Akashi, cepat. Oh, begitukah...
"Intinya, itu gak penting–ssu. Yang penting, (Name)-cchi tidak boleh lagi memperdulikan anggapan orang lain, ya kan?"
"Ya sudah, intinya begitu. Aku lapar nih, ayo makan ah!" Aomine mendengus, berjalan duluan. Menimbulkan protes dari Kise dan Momoi. Aku tertawa kecil. Ayo, ayo!
"Mau kemana memangnya?" tanya Murasakibara, memasukkan permen lollipop ke dalam mulutnya yang baru saja ia pisahkan dari bungkusnya. Ah, iya, kemana ya… Hm-mnnn… ah! Maji Burger saja!
"Maji burger," celetuk Akashi, "katanya." Lanjutnya, mengarahkan jempolnya padaku.
"Oke–ssu! Diputuskan, Maji Burger!"
"Pft–"
"Kenapa kau tertawa, nanodayo?"
Aku menggeleng. Aku hanya senang berada disini. Mungkin pilihan ayah pindah kesini tidak buruk. Malah baik sekali.
Ahh, kuharap besok semakin baik lagi.
Lalu... aku bahkan tidak menyuarakan keinginanku tadi, kan? Kenapa Akashi bisa tau?
Ya sudahlah.
.
.
.
TBC
.
.
.
Well… romance-nya masih belum berasa ya X"D ini masih friendship dulu /dibunuh/ kita pelan-pelan sajaaa~ /digrebek/
Guest-sama : Terima kasih review-nya! XD aduh, makasih dipuji keren, jadi malu…. uvu /ditampar/
Review?
